cover
Contact Name
Sandy Theresia
Contact Email
sandytheresia.md@gmail.com
Phone
+6285350877763
Journal Mail Official
journalmanager@macc.perdatin.org
Editorial Address
Jl. Cempaka Putih Tengah II No. 2A, Cempaka Putih, Central Jakarta City, Jakarta 10510
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Majalah Anestesia & Critical Care (MACC)
Published by Perdatin Jaya
ISSN : -     EISSN : 25027999     DOI : https://doi.org/10.55497/majanestcricar.xxxxx.xxx
Core Subject : Health,
We receive clinical research, experimental research, case reports, and reviews in the scope of all anesthesiology sections.
Articles 313 Documents
Shoulder Interfascial Plane Blocks as sole Anaesthesia for Frozen Shoulder Manipulation Syahrul Mubarak Danar Sumantri
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 38 No 3 (2020): Oktober
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (472.33 KB) | DOI: 10.55497/majanestcricar.v38i3.196

Abstract

Passive manipulation for patients with frozen shoulder may enable fast recovery of shoulder symptoms. For the concern of many clinicians that deep anaesthesia and sedation for frozen shoulder manipulation may carry certain difficulty in identifying pericapsular structures damage during the procedure, we proposed a novel shoulder interfascial plane blocks for awake frozen shoulder manipulation.
De-resusitasi Dini dengan Target Balans Negatif pada Pasien Pediatrik dengan Demam Berdarah Dengue untuk Mencegah Disfungsi Organ Multipel Lukas Handoko; Yohanes George
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 38 No 3 (2020): Oktober
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (370.131 KB) | DOI: 10.55497/majanestcricar.v38i3.199

Abstract

Resusitasi cairan adalah langkah awal untuk mengimbangi kebocoran plasma pada demam berdarah dengue. Ketika resusitasi cairan tercapai, cairan resusitasi yang masuk kedalam tubuh akan di redistribusi ke jaringan dan berakhir dengan edema jaringan. Disfungsi multi organ dapat terjadi akibat edema jaringan. Dalam konsep ROSE, Malbrain mengemukakan konsep evakuasi cairan untuk mencegah gangguan multi organ. Konsep ROSE terdiri dari tahapan-tahapan resusitasi, optimalisasi, stabilisasi, dan evakuasi. Pada kasus ini, anak laki - laki 5 tahun, keluhan demam dengan diagnosis demam berdarah dengue. Masuk ICU dengan penurunan kesadaran dengan disertai efusi pleura kanan. Balans kumulatif +2089 ml dengan persen fluid overload 11,7% setelah resusitasi cairan di IGD. Furosemid diberikan dalam rangka deresusitasi dini untuk mencapai balans cairan negatif. Sebagai kesimpulan, pemberian diuretika dini sebagai de-resusitasi merupakan intervensi yang dilakukan untuk membatasi perkembangan balans cairan positif yang dapat memperbaiki luaran pada pasien DBD. Strategi balans negatif dapat digunakan dalam managemen cairan untuk mencegah disfungsi organ multipel.
Perbandingan Keberhasilan Insersi Kanul Intravena Antara Penggunaan dan Tanpa Penggunaan Pemindai Vena pada Pasien Pediatrik Aries Perdana; Sidharta Kusuma Manggala; Astari Karina
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 38 No 3 (2020): Oktober
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (414.065 KB) | DOI: 10.55497/majanestcricar.v38i3.200

Abstract

Latar Belakang: Pemasangan akses intravena pada pasien pediatrik memiliki kesulitan tersendiri. Pembuluh darah yang lebih kecil, lebih rapuh, dan jaringan subkutan yang lebih tebal pada pasien pediatrik mempersulit visualisasi vena. Pasien pediatrik yang tidak dalam pengaruh anestesi sering kali tidak kooperatif karena takut dan trauma akibat tindakan sebelumnya. Hal ini berdampak pada rendahnya angka keberhasilan upaya pertama insersi kanul intravena pada pediatrik. Alat pemindai vena dapat membantu visualisasi vena, namun efektivitasnya pada pasien pediatrik masih kontradiktif. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan angka keberhasilan insersi pertama kanul intravena pada pasien pediatrik menggunakan pemindai vena dan tanpa pemindai vena. Metode: Penelitian ini merupakan uji klinis, acak, tidak tersamar pada pasien pediatrik usia 0-5 tahun yang mendapat layanan anestesi di ruang diagnostik magnetic resonance imaging, computed tomography scan, dan radioterapi di Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo. Sembilan puluh dua subjek dikelompokkan menjadi 2 kelompok yaitu kelompok insersi kanul intravena dengan bantuan alat pemindai vena (Accuvein AV400) dan kelompok kontrol, insersi tanpa alat bantu. Data keberhasilan insersi pertama, waktu pemasangan, total jumlah upaya, serta status demografi subjek dicatat dan dianalisa untuk melihat hubungan penggunaan pemindai vena dan faktor lain yang mempengaruhi dalam keberhasilan upaya pertama insersi kanul intravena. Hasil: Angka keberhasilan insersi pertama lebih tinggi pada kelompok pemindai vena (76,1%) dari pada kelompok tanpa pemindai vena (52,2%) dengan cOR 2,92 (p 0,017). Warna kulit gelap memiliki angka keberhasilan yang lebih tinggi dibandingkan warna kulit terang (74,5% dibandingkan 53,5%, dengan nilai p sebesar 0,035). Faktor lainnya tidak berhubungan dengan keberhasilan insersi kanul intravena. Kelompok pemindai vena memiliki rerata waktu insersi yang lebih singkat yaitu 133,5 detik (55-607) dibandingkan tanpa pemindai vena 304,5 detik (65-1200). Simpulan: Kelompok pemindai vena memiliki angka keberhasilan upaya insersi pertama yang lebih tinggi dibandingkan tanpa pemindai vena. Faktor yang mempengaruhi keberhasilan insersi hanya warna kulit.
Analgesia pada Pasien Pediatri Aida Rosita Tantri
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 38 No 2 (2020): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (282.271 KB) | DOI: 10.55497/majanestcricar.v38i2.202

Abstract

Anak bukanlah miniatur orang dewasa. Kalimat ini menunjukkan adanya perbedaan yang nyata antara pasien dewasa dan anak. Anak-anak, terutama bayi yang baru berusia beberapa bulan, sangat berbeda dari orang dewasa. Perbedaan anatomi, fisiologi, dan psikologi antara dewasa dan anak-anak perlu dipahami dengan baik agar dapat memberikan pelayanan medis yang baik terutama untuk pasien pediatri. Anak-anak yang belum bisa berkomunikasi dengan baik membuat dokter terkadang hanya bisa menebak yang dirasakan dan dialami oleh pasien. Mitos yang menyatakan bahwa bayi dan anak tidak merasakan nyeri atau merasakan nyeri yang mebih ringan dibandingkan pasien dewasa. Pemahaman ini membuat deteksi dan penanganan nyeri pada pasien pediatri menjadi tidak adekuat. Penanganan nyeri yang efektif dan adekuat dapat meminimalisir respon stress akut dan sensitasi sistem saraf pusat yang dapat menyebabkan peningkatan persepsi nyeri, dan gangguan tingkah laku di kemudian hari. Faktanya, bayi yang dirawat di Neonatal Intensive Care Unit (NICU) rata-rata menjalani 75 tindakan yang menimbulkan rasa nyeri selama dirawat di NICU dengan rerata 10 tindakan per hari, dimana 79,2% tindakan dilakukan tanpa menggunakan analgetik. Fakta ini membuktikan bahwa masih banyak kesalahan pemahaman konsep nyeri pada pasien pediatri. Tatalaksana nyeri dapat berupa tatalaksana farmakologi dan non-farmakologi. Tatalaksana nyeri pada pediatrik memerlukan kerjasama tim dari berbagai disiplin ilmu untuk melakukan asesmen rutin dan mendiskusikan program tatalaksana nyeri yang terbaik untuk pasien.
Kanabis dan Penggunaannya dalam Terapi Nyeri Kronis Madonna Damayanthie Datu; Jokevin Prasetyadhi
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 39 No 2 (2021): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (944.393 KB) | DOI: 10.55497/majanestcricar.v39i2.203

Abstract

Nyeri kronis adalah "nyeri tanpa nilai biologis nyata” yang bertahan hingga lebih dari 3 bulan. Pasien yang menderita nyeri kronis sering kali memiliki penyakit biologis yang tidak dapat dipisahkan dari faktor kognitif, afektif, perilaku, dan sosial sehingga memiliki dampak negatif terhadap kualitas hidup. Banyak penelitian telah dilakukan untuk menemukan cara penanganan nyeri yang adekuat dengan efek samping seminimal mungkin. Bunga dari tanaman kanabis (Cannabis sativa) telah mulai digunakan sebagai analgesia nyeri kronis, namun efikasinya masih kontroversial. Konstituen utama kanabis seperti delta 9-tetrahydrocannabinol (THC), cannabidiol (CBD), dan cannabinol (CBN) telah diketahui memiliki kontribusi terhadap mekanisme mengurangi nyeri. Sediaan kanabis bervariasi dengan rasio THC/CBD yang berbeda-beda, disertai dengan potensi efek samping pada berbagai sistem organ. Rute pemberian yang paling umum adalah inhalasi dan oral. Walaupun kanabis dapat digunakan sebagai salah satu penanganan nyeri kronis, namun dalam penggunaannya dapat berpotensi disalahgunakan hingga menyebabkan efek psikotik. Oleh karena itu, diperlukan pemahaman yang baik mengenai farmakologi kanabis agar dapat digunakan sebagai alternatif pengobatan nyeri kronis.
Efek Efedrin 10 mg atau Ondansetron 4 mg Sebagai Profilaksis Hipotensi Pasca Anestesi Spinal pada Seksio Sesarea: Sebuah Uji Acak Tersamar Tunggal Albertus Magnus Mario Holiwono; Hisbullah; Syamsul Hilal Salam
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 39 No 2 (2021): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1358.017 KB) | DOI: 10.55497/majanestcricar.v39i2.204

Abstract

Latar Belakang: Persalinan melalui Seksio Caesaria (SC) merupakan prosedur operasi yang semakin sering digunakan di negara berkembang saat ini. Hipotensi pasca anestesi spinal pada pembedahan Seksio Sesaria sering terjadi dan dapat menyebabkan gangguan kesadaran dan kolaps kardiovaskular. Efedrin dan Ondansetron telah dilaporkan dapat mencegah hipotensi setelah anestesi spinal. Namun, hingga saat ini masih terdapat kontroversi mengenai penggunaannya. Studi ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Efedrin atau Ondansetron profilaksis terhadap hipotensi pasca anestesi spinal pada pembedahan Seksio Sesarea. Metode: Penelitian ini merupakan uji klinis acak tersamar tunggal tiga kelompok, dilakukan pada pasien yang menjalani SC pada bulan Maret hingga Juni 2020 pada RS afiliasi. Kelompok intervensi mendapatkan Efedrin 10mg atau Ondansetron 4mg intravena, dan NaCl 0.9% sebagai pembanding. Pengukuran data hemodinamik (sistol, diastol, MAP, dan laju nadi) dilakukan setiap 2 menit dalam 18 menit pertama dan dilanjutkan setiap 10 menit sampai prosedur pembedahan selesai. Kejadian efek samping mulai dicatat setelah anestesi spinal hingga 24 jam pascabedah. Jumlah rescue dengan Efedrin antar kelompok juga dicatat. Uji t berpasangan dilakukan untuk melihat perbedaan antar waktu. Uji ANOVA dilakukan untuk melihat perbedaan antar kelompok pada unit waktu dengan tingkat kepercayaan 95% Hasil: Penurunan profil diastol dan MAP lebih sedikit pada kelompok Efedrin dan Ondansetron dibandingkan kelompok kontrol. Laju nadi lebih rendah secara umum pada kelompok Efedrin dan Ondansetron. Enam sampel pada kelompok efedrin dan ondansetron, dan sepuluh sampel pada kontrol mendapatkan rescue vasopressor. Total rescue pada kelompok efedrin, odansetron dan kontrol adalah 75mg, 110mg, dan 145mg. Total sampel yang mengalami mual pada kelompok efedrin, ondansentron, dan kotrol adalah 4 sampel, 2 sampel, dan 6 sampel. Simpulan: Pemberian Efedrin 10mg atau Ondansetron 4mg profilaksis mengurangi hipotensi pasca spinal, mengurangi kebutuhan rescue terutama pada pemberian Efedrin, dan mengurangi kejadian mual muntah terutama pada pemberian Ondansetron.
Perbandingan Efektivitas Analgesik Oral Controlled Release Oksikodon 10 Mg dan Parasetamol 1000 Mg dengan Tramadol 50 Mg dan Parasetamol 1000 Mg dalam Mengatasi Nyeri Pascaseksio Sesarea Darto Satoto; Rahendra; Mujahidin; Imai Indra; Rifky Jamal
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 38 No 3 (2020): Oktober
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (622.1 KB) | DOI: 10.55497/majanestcricar.v38i3.206

Abstract

Latar Belakang. Teknik multimodal analgesia dengan menggunakan dua atau lebih obat analgesik yang berkerja pada dua atau lebih jalur nyeri yang berbeda merupakan rekomendasi teknik manajemen nyeri akut pasca seksio sesarea. Teknik yang paling sering dipakai adalah dengan menggunakan analgesik intravena diikuti dengan penggunaan analgesik oral. Penelitian ini bertujuan membandingkan efektifitas analgesik oral controlled release oksikodon 10 mg dan parasetamol 1000 mg dengan tramadol 50 mg dan parasetamol 1000 mg untuk mengatasi nyeri pascaseksio sesarea dalam 24 jam pertama. Metode. Penelitian ini menggunakan metode uji klinis prospektif acak tersamar ganda pada 58 pasien yang menjalani operasi seksio sesarea dengan anestesi spinal. Pasien dibagi menjadi dua kelompok sama besar untuk penanganan nyeri pascabedah. Kelompok oksikodon sebanyak 29 orang diberikan oksikodon controlled release 10 mg oral setiap 12 jam dan parasetamol 1000 mg oral setiap 8 jam sedangkan kelompok tramadol sebanyak 29 orang diberikan terapi tramadol 50 mg oral tiap 6 jam dan parasetamol 1000 mg oral tiap 8 jam. Penilaian nyeri pascabedah menggunakan Numerical Rating Scale (NRS) dalam posisi duduk, istirahat, menarik napas, dan interval waktu yang berbeda yaitu jam ke-1, 6, 12, 18, dan 24 pascapemberian obat pertama. Data yang terkumpul dianalisa lebih lanjut dengan secara statistik. Hasil. Oksikodon controlled release 10 mg dan parasetamol 1000 mg lebih efektif dibandingkan tramadol 50 mg dan parasetamol 1000 mg dalam mengatasi nyeri pascaseksio sesarea dengan NRS kelompok oksikodon lebih rendah secara signifikan dibandingkan kelompok tramadol pada tiap posisi pengukuran (P < 0,001). Kesimpulan. Oksikodon 10 mg CR oral ditambah dengan parasetamol 1000 mg lebih efektif untuk mengatasi nyeri pascaseksio sesarea dibandingkan dengan tramadol 50 mg oral ditambah dengan parasetamol 1000 mg.
Perbandingan Keefektifan Adjuvan Inhalasi Lidokain dengan Spray Lidokain Sebagai Obat Anestetik Lokal pada Pasien Endoskopi Saluran Cerna Atas Aldy Heriwardito; Eddy Harijanto; Taufik Asri Utomo
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 39 No 1 (2021): Februari
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (332.005 KB) | DOI: 10.55497/majanestcricar.v39i1.207

Abstract

Latar Belakang: Teknik multimodal analgesia dengan menggunakan dua atau lebih obat analgesik yang berkerja pemeriksaan endoskopi saluran cerna merupakan prosedur untuk mengevaluasi berbagai gejala saluran pencernaan, namun sering ditolak pasien karena menimbulkan efek samping nyeri dan rasa tidak nyaman karena gag reflex. Penggunaan adjuvan inhalasi lidokain sebagai obatanestetik lokal dapat menurunkan angka kejadian gag reflex sehingga dapat menjadi pilihan untuk sedasi pada endoskopi saluran cerna atas. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan keefektifan dari spray lidokain dan inhalasi lidokain sebagai adjuvan pada endoskopi saluran cerna atas. Metode: Penelitian ini menggunakan metode uji klinis acak tersamar tunggal pada150 pasien yang menjalani endoskopi saluran cerna atas dengan sedasi di RSUPN Cipto Mangunkusumo. Pasien dibagi menjadi dua kelompok sama besar untuk adjuvan inhalasi yang berbeda. Sebanyak 75 orang pada kelompok pertama diberikan 0,5 mg/kgBB spray lidokain sedangkan 75 orang pada kelompok kedua diberikan 1,5 mg/kgBB inhalasi lidokain. Penilaian efek sedasi diukur menggunakan Skala Sedasi Ramsay. Data yang terkumpul dianalisa lebih lanjut secara statistik. Hasil: Gag reflex terjadi sebanyak 1,3 % dari total subjek pada kelompok inhalasi lidokain dan 30,7% subjek pada kelompok spray lidokain (P<0,001). Rerata rescue dose propofol yang didapatkan pada kelompok inhalasi lidokain adalah 0,67 ± 5,77 mg/kgBB dan pada kelompok spray lidokain adalah 11 ± 17,9 mg/kgBB (P < 0,001). Simpulan: Inhalasi lidokain lebih efektif sebagai anestetik lokal dibandingkan spray lidokain sebagai adjuvan pada endoskopi saluran cerna atas.
Efek Pemberian Lidokain Intravena Kontinu Intraoperasi terhadap Kebutuhan Isofluran dan Pemakaian Fentanil pada Operasi Dekompresi dan Stabilisasi Posterior Vertebra Taufik Anshori; Andi Muhammad Takdir Musba; Ratnawati
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 39 No 1 (2021): Februari
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (786.422 KB) | DOI: 10.55497/majanestcricar.v39i1.208

Abstract

Latar Belakang: Mual muntah dan nyeri pasca operasi menyebabkan ketidaknyamanan dan ketidakpuasan pasien setelah menjalani pembedahan dengan anestesi umum. Kejadian ini meningkat dengan penggunaan gas anestesi dan opioid dosis tinggi. Lidokain intravena perioperatif pada hewan dapat mengurangi minimum alveolar concentration (MAC) gas anestesi dan konsumsi opioid intraoperatif. Hingga saat ini belum ada penelitian mengenai pengaruh pemberian infus Lidokain kontinyu selama operasi terhadap penggunaan gas anestesi Isoflurane dan total konsumsi opioid intraoperatif pada operasi orthopedi. Tujuan: Menilai pengaruh pemberian bolus lidokain intravena 1,5 mg/kgBB sebelum intubasi endotrakeal diikuti dengan infus lidokain intravena 1,5 mg/kgBB/jam selama operasi dengan anestesi umum, terhadap jumlah penggunaan gas anestesi Isoflurane dan total konsumsi opioid intraoperasi dekompresi dan stabilisasi posterior vertebra. Metode: Penelitian uji klinis acak terkontrol secara acak tersamar ganda. Sebanyak 40 subyek penelitian yang memenuhi kriteria inklusi dibagi secara acak menjadi dua kelompok: kelompok Lidokain, yaitu kelompok yang mendapatkan bolus Lidokain 2% intravena 1,5 mg/kgBB pada 1 menit sebelum intubasi endotrakeal dan diikuti dengan infus Lidokain intravena 1,5 mg/kgBB/jam/syringe pump secara kontinyu selama operasi; kelompok kontrol, yaitu kelompok yang mendapatkan plasebo NaCl 0,9%. Selama operasi dilakukan pemantauan tekanan darah, laju jantung, elektrokardioram, dan saturasi oksigen dan nilai qNOX-qCON pada monitor. Tekanan arteri rata-rata dan laju jantung diukur setiap 3 menit. Hasil: Laju jantung tidak menunjukkan perbedaan yang bermakna kecuali pada menit ke 60. Tekanan darah sistolik, diastolik, dan tekanan arteri rata-rata tidak menunjukkan perbedaan bermakna antara kedua kelompok. Terdapat perbedaan bermakna pada nilai qNOX dan qCON. Jumlah total penggunaan gas Isoflurane dan Fentanyl pada kelompok Lidokain secara signifikan lebih rendah dibandingkan pada kelompok kontrol. Simpulan: Lidokain intravena 1,5 mg/kgBB sebelum intubasi dilanjutkan infus Lidokain 1,5 mg/kgBB/jam menurunkan kebutuhan gas Isoflurane serta opioid intraoperatif selama operasi dekompresi dan stabilisasi posterior vertebra.
Comparison of C-MAC® Video Laryngoscope and Macintosh Conventional Laryngoscope for Nasotracheal Intubation Convenience in Adult Malay Race Population Aldy Heriwardito; Rahendra; Ananto Wiji Wicaksono
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 39 No 2 (2021): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (592.923 KB) | DOI: 10.55497/majanestcricar.v39i2.209

Abstract

Background: Nasotracheal intubation is a widely used airway management method, especially in oral surgeries. Various devices were found to perform intubation techniques, such as video laryngoscopes. C-MAC® video laryngoscope enables better glottis visualization compared to the Machintosh conventional laryngoscope. C-MAC® demonstrates higher success rates of orotracheal intubation especially in difficult airway cases. However, this device has not been commonly used in nasotracheal intubation yet. Methods: A single blinded randomized clinical trial study of 86 subjects were done to compare the use of C-MAC® video laryngoscope and Macintosh conventional laryngoscope with reference to their success rates of intubation and duration of nasotracheal intubation in adult Malay patients. Patients with difficult airway, pregnancy, acute ischemic heart disease, heart failure, second- or third-degree block, uncontrolled hypertension, Guillen Barre syndrome, Myasthenia Gravis, and contraindications to nasotracheal intubation were excluded. Results: C-MAC® demonstrated a higher success rate at first attempt of intubation (RR 1,265, 95% CI (1,084-1,475)) and required a shorter duration of intubation (p value <0.001) compared to the Macintosh conventional laryngoscopes in adult Malay. Conclusion: In adult Malay patients, nasotracheal intubation is better performed with the C-MAC® video laryngoscope compared to the Macintosh conventional laryngoscope. High rate of successful first attempt and shorter duration of the process indicate more convenient and easier intubation.