cover
Contact Name
Sandy Theresia
Contact Email
sandytheresia.md@gmail.com
Phone
+6285350877763
Journal Mail Official
journalmanager@macc.perdatin.org
Editorial Address
Jl. Cempaka Putih Tengah II No. 2A, Cempaka Putih, Central Jakarta City, Jakarta 10510
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Majalah Anestesia & Critical Care (MACC)
Published by Perdatin Jaya
ISSN : -     EISSN : 25027999     DOI : https://doi.org/10.55497/majanestcricar.xxxxx.xxx
Core Subject : Health,
We receive clinical research, experimental research, case reports, and reviews in the scope of all anesthesiology sections.
Articles 313 Documents
Interfascial Plane Blocks: Chasing The Unseen Raden Besthadi Sukmono
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 38 No 3 (2020): Oktober
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (264.848 KB) | DOI: 10.55497/majanestcricar.v38i3.210

Abstract

Ultrasound has revolutionized anesthesia practice towards a better and safer technique. Regional anesthesia and pain medicine is one of the fields in anesthesiology that ultrasound has changed in so many ways. One of the main goals of regional anesthesia is to provide analgesia and immobility of certain parts of our body. In the early days of regional anesthesia, local anesthetics (LA) were injected blindly through a needle towards the biggest nerve responsible for innervating the surgical field. As technology advances, especially in image quality department, identification of deeper and smaller structures has become possible. We are now able to differentiate layers of neural structure (epineurium, perineurium, and endoneurium) with ultrasound image and manage to pinpoint the exact location for LA deposition. This translates as faster onset of blocks, enhancement of block quality, and safer blocks in terms of neurotoxicity and systemic toxicity. Regional anesthesia has long been employed as means of intraoperative and postoperative analgesia. Interfascial block works on a principle that by injecting local anesthetics in large volumes between two layers of fascia will create a potential space that bathe numerous neural targets residing in between these layers. This eventually block a certain area based on the extent of the space created. Multiple planar endpoints may exist for the same neural target due to the contiguous connection of fascial planes around the body. The knowledge of interconnecting potential space and multiple neural target opens the question that needed to be answered with studies and research about interfascial block. Are these minimally invasive blocks are as good as the real block? Will the clinical parameters and the future studies show that? We’ll look forward to see them in the near future.
Perbandingan Efek Kombinasi Levobupivakain 0,1% 2 mg Fentanyl 25 μg dengan Bupivakain 0,1% 2 mg Fentanyl 25 μg Intratekal Terhadap Hemodinamik, Intensitas Nyeri dan Durasi Persalinan pada Persalinan Normal Albert Winata; Alamsyah Ambo Ala Husain; Andi Muhammad Takdir Musba
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 39 No 1 (2021): Februari
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (314.924 KB) | DOI: 10.55497/majanestcricar.v39i1.211

Abstract

Latar Belakang: Nyeri pada proses persalinan merupakan masalah yang kompleks. Respons fisiologis ibu terhadap nyeri persalinan dapat memengaruhi kesejahteraan ibu dan janin serta kemajuan persalinan. Regional analgesia dengan menggunakan kombinasi anestesi lokal dan opioid merupakan teknik yang paling populer. Penggunaan levobupivakain intratekal untuk manajemen nyeri persalinan mulai mengalami peningkatan karena memiliki efek samping minimal terhadap sistem saraf pusat, kardiovaskular dan blok motorik, namun efeknya masih kontroversial. Metode: Penelitian uji klinis tersamar tunggal. Sebanyak 38 subyek penelitian dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu kelompok bupi1 yang mendapatkan analgesia persalinan intratekal dengan bupivakain 0.1% + fentanyl 25 µg dan kelompok levo1 yang mendapatkan levobupivakain 0.1% + fentanyl 25 µg. Penilaian hemodinamik (tekanan arteri rerata dan laju nadi), nyeri dengan menggunakan visual analogue scale (VAS), dan blok motorik dengan menggunakan skala bromage dilakukan sesaat sebelum diberikan analgesia intratekal dan 30 menit setelah diberikan analgesia intratekal. Pada kedua kelompok dilakukan pencatatan waktu lama persalinan yang dimulai dari sesaat dilakukan analgesia spinal hingga bayi lahir. Hasil: Perubahan tekanan arteri rerata tidak berbeda secara signifikan antara kedua kelompok. Pada kedua kelompok terjadi penurunan signifikan pada nilai rerata VAS, dimana perubahan VAS pada kelompok levo1 lebih besar secara signifikan dibandingkan pada kelompok bupi1. Bromage akhir 1 hanya ditemukan pada kelompok bupi1, sedangkan bromage akhir 0 ditemukan lebih banyak pada kelompok levo1, perbedaan ini signifikan secara statistik. Durasi persalinan tidak berbeda secara signifikan antara kedua kelompok. Simpulan: Levobupivakain 0,1% 2 mg dan fentanyl 25 µg intratekal dapat menjadi alternatif bupivakain pada analgesia persalinan karena memiliki efek perubahan hemodinamik yang sama, analgesia yang baik dengan blok motorik yang lebih rendah.
Emboli Paru pada COVID-19 Arie Zainul Fatoni; Nasywa Florean Dzakiyyah; Christian Ambrosius Soeiono
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 39 No 3 (2021): Oktober
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1317.659 KB) | DOI: 10.55497/majanestcricar.v39i3.212

Abstract

COVID-19 adalah sebuah penyakit menular yang disebabkan oleh severe acute respiratory syndrome coronavirus-2 (SARS-CoV- 2) dan telah dinyatakan sebagai pandemi oleh WHO. Spektrum klinis penyakit ini begitu luas, mulai dari asimtomatik hingga Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS). Pada penyakit COVID-19, terdapat keadaan gangguan hiperkoagulabulitas dan hiperinflamasi/ cytokine storm, yang dapat menimbulkan komplikasi berupa emboli paru (EP). Gejala yang muncul biasanya berupa sesak, batuk, dan nyeri pleuritic; dengan tanda berupa takipneu, takikardi, dan sianosis pada keadaan yang parah. Penegakkan diagnosis emboli paru dilakukan berdasarkan temuan klinis dan pemeriksaan penunjang. Sampai sekarang belum ada bukti yang cukup terkait penggunaan marker tertentu sebagai acuan diagnosis klinis dari EP. Berbagai ssistem skoring pun dibuat sebagai panduan untuk diagnosis dan juga sebagai upaya dalam melakukan stratifikasi risiko. Manajemen emboli paru pada COVID-19 dibagi menjadi dua, yaitu terapi profilaksis dan terapeutik, baik secara farmakologis maupun non farmakologis. Prognosis EP COVID-19 lebih baik apabila dilakukan diagnosis dini dan tatalaksana dini berhasil dilakukan.
Hubungan Neutrophil – Lymphocyte Ratio (NLR) Terhadap Mortalitas Pasien Sepsis di Unit Perawatan Intensif RSUP Haji Adam Malik Pada Tahun 2018 Bastian Lubis; Ahmad Yapiz Hasby; Alvin Oktomy Putra; Gema Nazri Yanni; Putri Amelia
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 39 No 1 (2021): Februari
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (315.521 KB) | DOI: 10.55497/majanestcricar.v39i1.213

Abstract

Sepsis adalah keadaan disfungsi organ yang mengancam jiwa yang disebabkan karena disregulasi respon tubuh terhadap infeksi. Sepsis juga merupakan penyebab kematian utama di antara pasien kritis unit perawatan intensif non-koroner di Amerika Serikat. Tahun 2010 tercatat prevalensi pasien rawat intensif yang menderita sepsis di Rumah Sakit Dr.Cipto Mangunkusumo adalah 25% dengan derajat mortalitas sebesar 77,3%. Untuk menilai seberapa berat respons inflamasi digunakan biomarker. Salah satu biomarker yang digunakan adalah neutrophil-lymphocyte ratio (NLR). Sampai saat ini masih belum digelar konsensus untuk melihat hubungan antara NLR dengan prognosis pasien sepsis. Melihat hubungan neutrophil-lymphocyte ratio terhadap mortalitas pasien sepsis di ICU RSUP Haji Adam Malik.Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan desain penelitian berupa cross-sectional. Data penelitian ini menggunakan data sekunder berupa rekam medis dan metode pengumpulan data berupa total sampling. Dari hasil penelitian, didapatkan insidensi sepsis di Intensive Care Unit (ICU) Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Haji Adam Malik sebanyak 97 pasien dan didominasi oleh pasien lansia dan laki-laki dengan jumlah pasien masing-masing sebesar 58 orang. Analisis bivariat menggunakan uji Fisher’s Exact Test didapatkan tidak adanya hubungan yang signifikan secara statistik dengan nilai p value 0,371 antara NLR terhadap mortalitas pasien sepsis. Tidak didapatkan hubungan neutrophil-lymphocyte ratio terhadap mortalitas pasien sepsis.
Prediksi Kesulitan Penempatan Jarum Spinal Berdasarkan Gambaran Radiologis dan Penanda Anatomis pada Pasien Bedah Urologi Adhrie Sugiarto; Madeline Marpaung
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 39 No 2 (2021): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (447.976 KB) | DOI: 10.55497/majanestcricar.v39i2.215

Abstract

Latar belakang: Penyuntikan berulang pada prosedur anestesi spinal berkaitan dengan tingginya angka komplikasi dan ketidaknyamanan pasien. Sistem prediksi pra-operatif yang akurat terhadap kesulitan penempatan jarum spinal dapat mengurangi insiden penyuntikan berulang sehingga mengurangi risiko komplikasi pada pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ketepatan memprediksi kesulitan penempatan jarum spinal berdasarkan gambaran radiologis dan penanda anatomis pada pasien bedah urologi. Metode: Penelitian ini bersifat observasional analitik terhadap pasien bedah urologi yang menjalani anestesi spinal di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo pada bulan April-Mei 2015. Sebanyak 109 subjek diambil dengan metode consecutive sampling. Data pasien (usia, jenis kelamin, indeks massa tubuh, status fisik, gambaran radiologis vertebra lumbal, dan kualitas penanda anatomis tulang belakang), jumlah penusukan kulit, dan re-direksi jarum spinal, serta angka kesulitan penempatan jarum spinal dicatat. Kesulitan penempatan jarum spinal ditentukan berdasarkan jumlah penusukan kulit dan re-direksi jarum spinal. Variabel yang signifikan ditentukan melalui uji Pearson’s Chi-square dan uji Fisher, kemudian dilanjutkan analisis multivariat dengan metode regresi logistik untuk melihat hubungan antara kesulitan penempatan jarum spinal dengan variabel-variabel yang signifikan. Hasil: Faktor usia memiliki hubungan yang bermakna pada analisis bivariat (p=0,028). Kualitas penanda anatomis dan gambaran radiologis vertebra lumbal memiliki nilai prediksi terhadap kesulitan penempatan jarum spinal (p=0,000 dan p=0,006). Hasil uji kalibrasi menunjukkan kualitas prediksi yang baik. Dari uji diskriminasi didapatkan AUC sebesar 0,84 (IK 95% 0,751-0,929). Simpulan: Kualitas penanda anatomis dan gambaran radiologis vertebra lumbal mampu memprediksi kesulitan penempatan jarum spinal dengan tepat pada pasien bedah urologi.
Perbandingan Keberhasilan dan Kemudahan Intubasi dengan Bonfils antara Teknik Pendekatan Midline dan Retromolar pada Maneken Anas Alatas; Adhrie Sugiarto; Shendy Meike Sari
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 39 No 1 (2021): Februari
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (424.703 KB) | DOI: 10.55497/majanestcricar.v39i1.216

Abstract

Latar belakang. Bonfils adalah alat fiberoptik kaku yang dapat digunakan untuk intubasi baik pada jalan nafas normal maupun sulit. Penelitian ini membandingkan teknik pendekatan midline dan retromolar dalam melakukan intubasi dengan Bonfils pada suatu pelatihan dengan subjek penelitian adalah PPDS Departemen Anestesiologi dan Terapi Intensif FKUI/RSCM tahap mandiri dan paripurna. Pelatihan pada maneken ini dilakukan di SIMUBEAR IMERI. Subjek tidak terbiasa menggunakan Bonfils, sehingga pelatihan ini menjadi kesempatan yang baik. Terdapat 10 langkah DOPS yang harus dikerjakan oleh setiap subjek untuk masing-masing teknik. Penelitian ini menilai DOPS, lama waktu intubasi dan jumlah upaya yang dilakukan untuk melakukan intubasi dengan Bonfils. Metode. Penelitian ini merupakan uji eksperimental, acak, tidak tersamar, crossover yang dilakukan pada bulan September 2018. Subjek penelitian sebanyak 45 orang yang diambil dengan metode total sampling, dibagi menjadi dua kelompok yang berbeda dalam sekuens. Kelompok 1 terdiri dari 23 orang yang melakukan intubasi dengan Bonfils pendekatan midline terlebih dahulu kemudian pendekatan retromolar dan kelompok 2 terdiri dari 22 orang yang melakukan sebaliknya. Uji statistik data kategorik berpasangan menggunakan uji McNemar dan data numerik berpasangan dengan uji Wilcoxon Signed Ranks Test. Hasil. Keberhasilan intubasi dengan Bonfils melalui pendekatan midline pada DOPS 1, DOPS 2 dan pada kasus jalan nafas sulit sebesar 71,1%, 86,7%, 88,9%, sedangkan pada pendekatan retromolar adalah 68,8%, 68,9%, 64,4%. Lama waktu intubasi yang diperlukan untuk pendekatan midlinepada jalan nafas normal dan sulit adalah 59 (18-224) detik dan 55 (24-146) detik, sedangkan pada pendekatan retromolar adalah 64 (38-200) detik dan 74,5 (26-254) detik. Kemudahan melakukan intubasi dengan Bonfils dinilai dari jumlah upaya yang dilakukan oleh subjek sebanyak 1x, yaitu pada pendekatan midline 64,4% dan retromolar 35,6% pada jalan nafas normal, dan 66,7% serta 46,7% pada jalan nafas sulit. Simpulan. Keberhasilan dan kemudahan intubasi dengan Bonfils melalui pendekatan midline lebih baik dibandingkan dengan pendekatan retromolar pada maneken.
Tatalaksana Jalan Napas pada kasus Mukopolisakaridosis tipe II : Kasus Serial Anas Alatas; Budi Pratama
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 39 No 3 (2021): Oktober
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (631.724 KB) | DOI: 10.55497/majanestcricar.v39i3.217

Abstract

Mukopolisakaridosis tipe II atau di kenal dengan nama sindrom hunter adalah kumpulan kelainan metabolik yang diturunkan secara resesif dan bersifat progresif yang disebabkan oleh defisiensi enzim lisosom yang diperlukan untuk degradasi glikosaminoglikans. Hal ini menyebabkan berbagai kelainan anatomi dan keterlibatan sistemik yang merupakan tantangan bagi seorang anestesiologis. Laporan kasus ini merupakan kasus serial dengan 3 pasien yang akan menjalani prosedur operasi dan penunjang diagnostik dengan tatalaksana jalan napas yang berbeda pula.
Penggunaan Milrinon pada Pasien dengan Sindrom Eisenmenger yang Menjalani Operasi Seksio Sesarea Anggara Gilang Dwiputra; Ratna Farida Soenarto
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 39 No 1 (2021): Februari
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (354.289 KB) | DOI: 10.55497/majanestcricar.v39i1.218

Abstract

Sindrom Eisenmeger adalah kelainan jantung dengan karakteristik hipertensi pulmonal yang disertai pirau kanan ke kiri ataupun dua arah, akibat jangka panjang defek septum interventrikel atau patent ductus arteriosus (PDA) yang tidak diterapi. Kehamilan sulit ditoleransi pada pasien dengan sindrom Eisenmenger dimana mortalitas ibu mencapai 30-50%. Perubahan fisiologis menurunkan tahanan vaskular sistemik yang memperburuk pirau. Seksio Sesarea merupakan pilihan teknik persalinan pada kondisi tersebut. Kami melaporkan dua pasien dengan sindrom Eisenmenger yang berhasil menjalani seksio sesarea dengan anestesi umum. Anestesi umum dilakukan dengan teknik titrasi dan menggunakan obat dengan pengaruh minimal terhadap sistem kardiovaskular. Selama operasi pasien diberikan milrinon yang dikombinasikan dengan agen katekolamin. Pascaoperasi pasien dirawat di ICU. Selama perawatan di ICU tidak ada komplikasi signifikan yang terjadi. Pasien pertama berhasil pindah ke ruang rawat pada hari ke-3 pascaoperasi, sedangkan pasien ke-2 pindah pada hari ke-7 pascaoperasi. Tujuan manajemen anestesi pada pasien sindrom Eisenmenger adalah mempertahankan SVR, menjaga kecukupan volume intravaskular dan mencegah peningkatan lebih jauh PVR. Penggunaan milrinon yang dikombinasikan dengan agen katekolamin dapat membantu tercapainya tujuan tersebut sehingga dapat memperbaiki oksigenasi dan mempertahankan hemodinamik pasien. Walaupun kehamilan pada pasien Eisenmenger tidak dianjurkan, namun persalinan melalui seksio Sesarea masih dapat dilakukan dengan manajemen yang baik.
Hubungan Kejadian Tromboembolisme Vaskular Terhadap Mortalitas COVID-19: Sebuah Studi Literatur Raihanah Anwar; Fitri Agustina Huspa; Yulianti Bisri
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 39 No 1 (2021): Februari
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (361.305 KB) | DOI: 10.55497/majanestcricar.v39i1.220

Abstract

Latar Belakang: COVID-19, infeksi virus akibat SARS-CoV-2, menampilkan berbagai gambaran klinis dari gejala asimtomatik hingga kematian. Respons inflamasi pada COVID-19 menyebabkan fase hiperkoagulasi dan mengakibatkan lebih dari 25% kejadian tromboembolisme pada pasien rawat inap COVID-19. Pada tromboembolisme, terjadi elevasi level D-dimer, hal ini berasosiasi dengan perburukan prognosis dan mortalitas pasien COVID-19. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi penelitian yang menganalisis hubungan kejadian tromboembolisme pada COVID-19 dan mortalitas. Diharapkan, penelitian ini dapat menjadi dasar bagi para klinisi untuk mengevaluasi penatalaksanaan COVID-19. Metode: Penelitian menggunakan pendekatan studi literatur dengan kata kunci “Thromboembolism” atau “Venous Thromboembolism”, “COVID-19”, “SARS-CoV-2” atau “Coronavirus Disease 2019”, dan “Mortality” melalui database PubMed dan disaring berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan. Hasil: Dari 4 artikel yang sesuai dengan kriteria inklusi, dua artikel menyatakan adanya hubungan kejadian tromboembolisme dengan kematian pada pasien COVID-19 dan dua artikel menyatakan tidak ada hubungan. Untuk mengklarifikasi dua pernyataan yang kontradiktif tersebut, peneliti mencari lebih dalam penelitian yang mendukung. Simpulan: Keempat artikel yang dianalisis melaporkan tingginya kejadian tromboembolisme pada pasien COVID-19. Dua di antaranya menyatakan asosiasi antara tromboembolisme dan kematian pada COVID-19 dan sisanya menyatakan tidak ada asosisasi. Namun, pertanyaan penelitian untuk mengetahui hubungan kejadian tromboembolisme pada COVID-19 dengan kematian masih belum dapat diketahui.
Anestetik Lokal dan Prosedur Endoskopi Saluran Cerna Aida Rosita Tantri
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 39 No 1 (2021): Februari
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (216.371 KB) | DOI: 10.55497/majanestcricar.v39i1.222

Abstract

Prosedur endoskopi saluran cerna adalah prosedur yang saat ini sudah rutin dikerjakan dengan menggunakan sedatif dan analgesik intravena. Tujuan penggunaan kedua zat tersebut selama prosedur endoskopi adalah untuk mengurangi kecemasan dan ketidaknyamanan pasien, meningkatkan kualitas dari hasil endoskopi, dan mengurangi ingatan pasien terhadap tindakan endoskopi.1 Tindakan endoskopi umumnya dilaksanakan dengan sedasi sedang, yang dapat dicapai dengan pemberian agen sedasi secara titrasi agar tindakan endoskopi dapat berjalan lancar dan aman bagi pasien.2 Walau sudah mencapai level sedasi sedang, gag reflex masih seringkali terjadi pada pasien. Untuk mengatasi hal tersebut, ahli anestesi dapat menambahkan fentanyl atau remifentanyl. Penambahan opioid juga dapat diberikan, namun perlu berhati-hati karena dapat mengakibatkan depresi napas dan pergeseran level sedasi. Pasien dapat jatuh pada level sedasi yang lebih dalam sehingga membutuhkan bantuan jalan napas, respirasi atau bahkan kardiovaskular.3 Kebutuhan metode dalam mengurangi nyeri dan gag reflex selama tindakan endoskopi sangat diperlukan. Penggunaan anestetik lokal yang benar dan efektif dapat mengurangi dosis sedasi dan komplikasi yang ditimbulkan. Salah satu jenis anestetik lokal yang sering digunakan adalah lidokain.4 Lidokain, sebelumnya juga disebut sebagai lignokain, adalah agen anestesi lokal golongan amida yang pertama kali disintesis pada tahun 1940-an oleh Nils Löfgren dan Bengt Lundquist, dengan mengembangkan turunan dari xylidine. Selain jenisnya, pemberian anestetik lokal pada prosedur endoskopi harus dipastikan memiliki sebaran yang merata pada struktur jalan nafas atas untuk mencegah gag reflex yang diduga berasal dari reseptor yang terdapat pada lipatan palatoglossal dan palatopharyngeal, dasar lidah, palatum, uvula, dan dinding faring bagian belakang.6 Penggunaan lidokain dalam bentuk spray dan inhalasi dapat dimanfaatkan pada prosedur endoskopi saluran cerna atas, namun tentu saja pemilihan cara pemberian lidokain harus memperhatikan tingkat efektivitas dan kenyamanan pasien. Pada edisi ini, Heriwardito dkk7 membandingkan kedua cara pemberian lidokain tersebut dalam mengurangi kejadian gag reflex dan rerata rescue dose propofol yang diperlukan.