cover
Contact Name
Sandy Theresia
Contact Email
sandytheresia.md@gmail.com
Phone
+6285350877763
Journal Mail Official
journalmanager@macc.perdatin.org
Editorial Address
Jl. Cempaka Putih Tengah II No. 2A, Cempaka Putih, Central Jakarta City, Jakarta 10510
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Majalah Anestesia & Critical Care (MACC)
Published by Perdatin Jaya
ISSN : -     EISSN : 25027999     DOI : https://doi.org/10.55497/majanestcricar.xxxxx.xxx
Core Subject : Health,
We receive clinical research, experimental research, case reports, and reviews in the scope of all anesthesiology sections.
Articles 313 Documents
Hubungan Waktu Intubasi terhadap Tingkat Mortalitas Pasien dengan COVID-19 Berat: Sebuah Tinjauan Sistematis Riyadh Firdaus; Sandy Theresia; Ryan Austin; Rani Tiara
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 39 No 2 (2021): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (566.547 KB) | DOI: 10.55497/majanestcricar.v39i2.223

Abstract

Pendahuluan. Severe acute respiratory syndrome coronaviruses 2 (SARS-CoV-2) yang dikenal dengan coronavirus disease 2019 (COVID-19) mulai menginfeksi manusia pada akhir tahun 2019. Orang yang terinfeksi dapat menunjukkan keadaan asimtomatik hingga keadaan mengancam nyawa. Keadaan acute respiratory distress syndrome (ARDS) merupakan kondisi berat pada infeksi COVID-19 yang membutuhkan penanganan lebih lanjut, di antaranya adalah pertimbangan untuk dilakukan intubasi. Penelitian ini bertujuan membandingkan hubungan waktu dilakukannya intubasi terhadap tingkat mortalitas dari pasien COVID-19 yang terintubasi. Metode. Penelitian tinjauan sistematik ini dibuat berdasarkan panduan PRISMA-P. Data dikumpulkan dari basis data Pubmed, Cochrane Library, dan ProQuest dengan kriteria inklusi berupa penelitian randomized control trial dan studi kohort yang meneliti tindakan intubasi pada pasien dengan COVID-19. Dari sebanyak sebanyak 8.297, didapatkan 3 artikel yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi pada tinjauan literatur. Hasil. Dari ketiga literatur yang kami lakukan analisis, didapatkan hasil bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan mengenai kapan dilakukannya intubasi dengan angka kejadian mortalitas pasien COVID-19. Baik pada intubasi yang dilakukan lebih awal ataupun pada intubasi yang lebih lambat. Karakteristik pasien usia tua dan memiliki komorbiditas dapat memperburuk keadaan yang membuat angka mortalitas pada kelompok tersebut lebih tinggi. Kesimpulan. Berdasarkan penelitian yang kami lakukan, intubasi lebih awal (<8 jam) tidak menurunkan angka mortalitas pada pasien COVID-19, sehingga masih diperlukan penelitian lebih lanjut terkait faktor prediktif lainnya.
Syok Sepsis Pada Fasitis Nekrotikans Regio Colli Pasca Servikotomi Debridemen Disertai Gangren Radik Multipel Pasca Ekstraksi Gigi Multipel: Laporan Kasus Lila Irawati Tjahjo Widuri
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 40 No 1 (2022): Februari
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (669.437 KB) | DOI: 10.55497/majanestcricar.v40i1.224

Abstract

Fasiitis nekrotikans, sering disebut bakteri pemakan daging, adalah nekrosis progresif pada lemak subkutan dan fasia. Fasiitis nekrotikans tipe II yang disebabkan oleh Acinetobacter baumannii jarang ditemukan tetapi menimbulkan infeksi yang serius. Infeksi ini terjadi melalui luka yang menyebar sangat cepat, serta melepaskan zat berbahaya yang menghancurkan jaringan di sekitarnya dan masuk ke aliran darah sehingga menimbulkan syok sepsis. Faktor risiko pada penyakit dapat terjadi pada golongan lanjut usia atau geriatri, kondisi immunocompromised, sakit kronis, trauma, dan alkoholisme. Laki-laki, 61 tahun, dengan fasiitis nekrotikans yang menjalani tindakan servikotomi, debridemen, pemberian antibiotik, serta perawatan luka dengan Negative Pressure Wound Therapy (NPWT).
Perbandingan Efektivitas Penggunaan Vibration Anesthesia Device (VAD) dengan Krim Campuran Eutektik (EMLA) dalam Mengurangi Nyeri Pemasangan Peripheral Intravenous Catheter (PIVC) Anas Alatas; Irfan Meison Hadi; Eddy Harijanto
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 39 No 2 (2021): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (404.777 KB) | DOI: 10.55497/majanestcricar.v39i2.225

Abstract

Latar Belakang: Pemasangan Peripheral Intravenous Catheter (PIVC) merupakan salah satu prosedur invasif terbanyak yang dilakukan di rumah sakit dan sering menyebabkan rasa nyeri pada pasien. Berbagai cara diterapkan dalam mengurangi rasa nyeri yang ditimbulkan saat pemasangan PIVC, antara lain dengan penggunaan Vibration Anesthesia Device (VAD) dan krim campuran eutektik (EMLA). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas VAD dibandingkan dengan pemberian EMLA untuk mengurangi nyeri pada saat pemasangan PIVC. Metode: Penelitian ini adalah uji eksperimental tidak tersamar pada pasien yang akan direncanakan menjalani pembedahan mata di kamar operasi Kirana RSUPN dr. Cipto Mangunkusumo selama bulan September – Oktober 2018. Sebanyak 56 subjek diambil dengan metode consecutive sampling dan dibagi ke dalam 2 kelompok. Pasien secara acak dilakukan pemasangan PIVC dengan bantuan Vibration Anesthesia Device (VAD) atau dengan krim campuran eutektik (EMLA). Keefektifan akan dinilai dari skala nyeri visual analog scale (VAS) dan perbedaan frekuensi nadi sebelum dan sesudah dilakukan tindakan. Analisis data dilakukan dengan uji T dan Mann Whitney. Hasil: Tidak terdapat perbedaan bermakna dalam skala VAS yang dilaporkan oleh subjek dari kelompok VAD 13.65 (10.25 -18.17) dan EMLA 12.57 (8.97 – 17.61) dengan nilai p=0.706. Perubahan frekuensi nadi antara kedua kelompok tidak menunjukkan adanya perbedaan signifikan (p=0,557). Didapatkan peningkatan frekuensi nadi yang lebih tinggi pada kelompok VAD 2 (-3 – 19) dibandingkan kelompok EMLA 2 (-3 – 16). Simpulan: VAD sama efektif dibandingkan dengan EMLA dalam mengurangi nyeri pada pemasangan Peripheral Intravenous Catheter (PIVC).
Perioperative Anesthetic Management of Molar Pregnancy Patients with Hyperthyroidism and COVID-19 Underwent Suction Curettage Bagus Fajar Rochman; Mahendratama Purnama Adhi; Iwan Nuryawan
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 39 No 3 (2021): Oktober
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (513.448 KB) | DOI: 10.55497/majanestcricar.v39i3.227

Abstract

Background: The incidence of molar pregnancies has increased during the COVID-19 pandemic. Molar pregnancy can cause hyperthyroidism and if not treated immediately can worsen the patient’s condition. A molar pregnancy with hyperthyroidism infected with SARS-CoV-2 poses a challenge for anesthesiologists in perioperative management to prevent complications of thyroid crisis and worsening of COVID-19. Case presentation: A 38-year-old woman was referred to our hospital with a gestational age of 11-12 weeks with vaginal bleeding. Since 2 weeks before being admitted to the hospital the patient complained of fever and the last 3 days had a cough and runny nose. She had no history of contact with COVID-19 patient. On physical examination, her blood pressure was 160/90 mmHg, heart rate was 114 beats per minute, respiratory rate was 18 times per minute, SpO2 was 97% on room air, and body temperature was 37.4oC. Laboratory tests revealed hemoglobin level of 9.2 g/dl, hCG levels > 1,000,000 mIU/ml, and thyroid function tests showed hyperthyroidism. Obstetric ultrasound examination revealed a molar pregnancy. A Burch-Wartofsky score was 20. The real-time transcription-polymerase chain reaction (RT-PCR) test were positive for SARS-CoV-2. In the pre-operative period, the patient was treated with 100 mg of propylthiouracil (PTU) orally every 8 hours and 20 mg of propranolol orally once a day. We performed the curettage suction on the next day under spinal anesthesia using 10 mg of 0.5% hyperbaric bupivacaine. Surgery lasted 75 minutes and performed uneventfully. Evaluation up to 30 days after curettage we found no complications of thyroid crisis and worsening of COVID-19. Conclusion: Innate immune dysregulation due to hyperthyroidism may worsen the clinical course of COVID-19 patients, and conversely, SARS-CoV-2 infection can cause thyroid hormone disorders. Spinal anesthesia can be safely performed in patients with molar pregnancy accompanied by hyperthyroidism and COVID-19
Perbedaan Efektivitas Iodine Povidone 1% dan Listerine® sebagai Preparat Perawatan Mulut terhadap Pencegahan Ventilator Associated Pneumonia Indra Chuandy; Ardana; Bambang Novianto Putro
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 39 No 3 (2021): Oktober
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (756.644 KB) | DOI: 10.55497/majanestcricar.v39i3.229

Abstract

Pendahuluan: Ventilator associated pneumonia (VAP) merupakan pneumonia yang muncul dalam waktu 48 – 72 jam setelah intubasi. Insidennya mencapai 9 – 27% dengan tingkat mortalitas lebih dari 50%. Perawatan mulut merupakan salah satu cara mencegah VAP pada pasien yang menggunakan ventilasi mekanik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi VAP dan efektivitas preparat antiseptik pada perawatan mulut pasien terintubasi terhadap pencegahan VAP. Metode: Penelitian uji klinis acak tersamar tunggal dilakukan terhadap 36 pasien dengan ventilasi mekanik. Sampel dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu kelompok iodine povidone 1% dan Listerine®. Awalnya dilakukan penilaian kebersihan mulut dengan Simplified Oral Hygiene Index. Setelahnya, dilakukan perawatan mulut menggunakan salah satu preparat. Setelah 48 jam, dilakukan penilaian ulang kebersihan mulut dan skor CPIS. Timbul VAP bila skor CPIS ≥ 6. Hasil: Kelompok iodine povidone 1% memiliki perubahan skor kebersihan mulut dengan selisih yang lebih kecil (0,195) dibandingkan Listerine® (0,3605). Hal ini menunjukkan bahwa Listerine® lebih efektif dalam menjaga kebersihan mulut (p = 0,024). Listerine® secara signifikan lebih efektif dalam mencegah VAP bila dibandingkan dengan iodine povidone 1% (p = 0,001). Tidak ada perbedaan signifikan pada subjek yang meninggal akibat VAP positif maupun negatif (p = 0,280). Kesimpulan: Listerine® memiliki efektivitas lebih tinggi dalam mencegah VAP dibandingkan dengan iodine povidone 1%.
Korelasi Kadar ScVO2 dengan Skor Sequential Organ Failure Assesment (SOFA) pada Pasien Sepsis di Intensive Care Unit (ICU) RSUD Dr. Moewardi Surakarta Swanita Woyka; Purwoko; Ardana
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 39 No 3 (2021): Oktober
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (644.425 KB) | DOI: 10.55497/majanestcricar.v39i3.230

Abstract

Pendahuluan: Sepsis merupakan disfungsi organ yang mengancam jiwa yang disebabkan disregulasi respons host terhadap infeksi. ScVO2 telah dipertimbangkan sebagai faktor prognosis yang sesuai di berbagai situasi klinik pada pasien dengan sakit kritis. Skor SOFA adalah penilaian disfungsi organ yang terjadi pada sepsis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis korelasi kadar ScVO2 dengan skor sequential organ failure assessment (SOFA) pada pasien sepsis. Metode: Dilakukan penelitian potong lintang terhadap 32 sampel darah dan data klinis pasien sepsis yang dirawat di ICU RSUD Dr. Moewardi di Surakarta pada bulan April-September 2018, kemudian dianalisis menggunakan program komputer dengan analisis univariat dan analisis bivariat melalui uji pearson. Hasil: Korelasi kadar SCVO2 dengan skor SOFA mendapatkan nilai r=-0,389 dan nilai p =0,028 yang menunjukkan terdapat hubungan negatif dan signifikan antara kadar SCVO2 dengan SOFA Skor. Kesimpulan: Terdapat korelasi antara kadar SCVO2 dengan skor Sequential Organ Failure Assesment score (SOFA score) pada pasien sepsis.
Video Laryngoscope: To Be or Not (Yet) To Be Used? Mayang Indah Lestari
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 39 No 2 (2021): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (356.032 KB) | DOI: 10.55497/majanestcricar.v39i2.231

Abstract

In the June/July issue of MACC magazine, an article titled “Comparison of C-MAC® video laryngoscope and Macintosh conventional laryngoscope for nasotracheal intubation convenience in adult Malay race population”, wishes to present to readers, specifically anaesthesiologists, three main points. First, the authors show their outstanding contribution to anaesthesiology research and intensive therapy in Indonesia, particularly regarding airway management. On this occasion, the authors explicitly want to show a comparison of convenience between video laryngoscopes and conventional laryngoscopes in adults, which in reality has not been widely studied.
Pemakaian Toculizumab Anti IL-6 pada Tatalaksana COVID-19: Sebuah Serial Kasus Hutagalung, Albert Frido; Debora, Fania
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 40 No 1 (2022): Februari
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (550.623 KB) | DOI: 10.55497/majanestcricar.v40i1.232

Abstract

Pendahuluan: Angka kematian pada pasien Corona Virus Disease (COVID-19) masih tinggi di Indonesia, tetapi belum ada terapi baku emas yang bisa digunakan untuk mengobati pasien COVID-19. Salah satu pilihan terapi yang dapat digunakan adalah Anti IL-6 Tocilizumab (TCZ). Ilustrasi Kasus: Pada laporan kasus ini, dilakukan pengamatan sejak Mei hingga Juli 2020 terhadap tujuh pasien terkonfirmasi COVID-19 dengan onset sakit bervariasi, yang baru dirawat setelah 3-7 hari dari timbulnya gejala. Terapi yang diberikan adalah terapi standar COVID-19 sesuai pedoman gugus tugas COVID-19 ditambah dengan anti-IL-6 Tocilizumab 80 mg intravena, dengan waktu mulai pemberian bervariasi antara hari ke 1-9 hari perawatan di rumah sakit. Fase perjalanan penyakit COVID-19 sebelum diterapi mulai dari fase II sampai fase III, dengan jumlah pasien meninggal 3 orang dan selamat 4 orang. Simpulan: TCZ memberikan hasil perubahan klinis dan laboratorium penurunan kadar C-Reactive Protein (CRP) pada beberapa pasien tetapi angka luaran untuk selamat masih perlu ditingkatkan lagi dan juga dipengaruhi oleh waktu yang tepat untuk pemberian TCZ, dukungan organ seperti oksigenasi, bantuan ventilator, dan terapi standar COVID-19 lainnya.
Blok Pleksus Servikal Superfisialis sebagai Analgetik Adjuvan pada Operasi Tiroidektomi: Sebuah Laporan Kasus Walujo, Albertus Medianto; I Gde Agus Shuarsedana Putra; Nova Juwita
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 40 No 2 (2022): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (460.444 KB) | DOI: 10.55497/majanestcricar.v40i2.234

Abstract

Pendahuluan: Berbagai macam teknik anestesi regional sudah banyak dikembangkan guna memfasilitasi pengendalian nyeri selama operasi maupun paska operasi, blok pleksus servikalis superfisialis (BPSS) merupakan salah satunya. Penulis mempresentasikan kasus, pasien laki-laki berusia 53 tahun yang menjalankan operasi tiroidektomi. Dilakukan anestesi umum pada pasien dengan adjuvan BPSS guna mengendalikan nyeri intra maupun paska operasi. Dari laporan kasus ini dapat disimpulkan bahwa BPSS adalah teknik anestesi regional yang mudah aplikasikan dan secara efektif dapat menjadi adjuvant pada pembedahan tiroidektomi serta dapat mengurangi penggunaan opioid selama operasi.Ilustrasi Kasus: Pada laporan kasus ini, dilakukan pengamatan pada pasien laki-laki berusia 53 Ilustrasingan keluhan benjolan pada leher sejak 1 bulan yang lalu, yang menjalani pembedahan tiroidektomi. Pasien mendapatkan premedikasi dan setelah prosedur intubasi, dilakukan blok pleksus servikalis superfisialis dengan menggunakan ropivakain 0.75% sebanyak 10 cc dengan teknik mengipas dan anestesi lokal diberikan sepanjang batas posterior muskulus sternokleidomastoideus. Selama operasi berlangung, tanda-tanda vital dalam batas normal. Simpulan: Blok pleksus servikalis superfisialis adalah teknik anestesi regional yang mudah aplikasikan dan secara efektif dapat menjadi adjuvant pada pembedahan tiroidektomi serta dapat mengurangi penggunaan opioid selama operasi.
Perbandingan Tanggapan Kardiovaskular dan Kemudahan Intubasi dengan Menggunakan Laringoskop McCoy dan Macintosh pada Ras Melayu di Indonesia Riyadh Firdaus; Nur’aini Alamanda; Aries Perdana
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 39 No 3 (2021): Oktober
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (387.338 KB) | DOI: 10.55497/majanestcricar.v39i3.235

Abstract

Latar Belakang : Intubasi endotrakeal dan laringoskopi direk merupakan standar baku emas dalam tatalaksana jalan nafas baik pada keadaan gawat darurat ataupun tidak. Peningkatan tanggapan kardiovaskular karena rangsangan simpatis merupakan komplikasi tersering saat intubasi. Tanggapan kardiovaskular ini dapat berbahaya bagi pasien-pasien yang berisiko, terutama yang memiliki masalah gangguan jantung. Metode pemilihan bilah merupakan salah satu teknik non farmakologi yang digunakan untuk mengurangi tanggapan kardiovaskular yang timbul akibat intubasi. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan tanggapan kardiovaskular dan kemudahan intubasi antara laringoskop McCoy dan Macintosh. Metode : Uji klinis acak tersamar tunggal, dengan 78 pasien yang akan menjalani anestesia umum dengan intubasi endotrakeal dan dibagi ke dalam 2 kelompok, yaitu McCoy dan Macintosh. Kriteria inklusi adalah 18-65 tahun dengan status fisik ASA 1 dan ASA 2 tanpa penyulit jalan nafas. Midazolam 0,05mg/kgBB dan fentanyl 2mcg/kgBB diberikan 2 sebagai agen koinduksi. Induksi anestesia menggunakan propofol 2mg/kgBB, dilanjutkan dengan pemberian rocuronium 0,6mg/kgBB setelah dipastikan hilangnya refleks bulu mata. Tanggapan kardiovaskular yang diukur (tekanan sistolik, diastolik, tekanan arteri rerata, dan laju denyut nadi). Intubasi dikatakan mudah bila dilakukan dalam waktu kuang dari 10 menit dan tidak lebih dari 3 kali percobaan. Hasil : Pada menit pertama pasca intubasi, tekanan darah sistolik, diastolik, dan lau denyut nadi kelompok McCoy lebih tinggi dibandingkan Macintosh, dengan perbedaan tekanan sistolik -2,38 (-9,93-5,16), tekanan diastolik -1,07(-7,313-5,15 95%IK), laju denyut nadi 2,79(-2,69 – 8,28). Pada menit ke-3 pasca intubasi, tekanan sistolik, diastolik, tekanan arteri rerata, dan laju denyut nadi kelompok McCoy tetap lebih tinggi dibandingkan dengan Macintosh, dengan perbedaan tekanan sistolik -1,23 (-8,51-6,05), tekanan diastolik -0,97(-6,69-4,75), tekanan arteri rerata -0,65(-6,27-4,97), dan laju denyut nadi 0,89(-3,99-5,78). Kesimpulan : Intubasi dengan laringoskop McCoy tidak mampu menekan tanggapan kardiovaskular yang timbul akibat rangsang nyeri dan stimulasi simpatis.