cover
Contact Name
Sandy Theresia
Contact Email
sandytheresia.md@gmail.com
Phone
+6285350877763
Journal Mail Official
journalmanager@macc.perdatin.org
Editorial Address
Jl. Cempaka Putih Tengah II No. 2A, Cempaka Putih, Central Jakarta City, Jakarta 10510
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Majalah Anestesia & Critical Care (MACC)
Published by Perdatin Jaya
ISSN : -     EISSN : 25027999     DOI : https://doi.org/10.55497/majanestcricar.xxxxx.xxx
Core Subject : Health,
We receive clinical research, experimental research, case reports, and reviews in the scope of all anesthesiology sections.
Articles 313 Documents
Manajemen Hemodinamik pada Pasien Syok Septik : Osmond Muftilov, Nurita Dian Kestriani, Erwin Pradian Journal Manager MACC
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 38 No 1 (2020): Februari
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (393.645 KB)

Abstract

Manajemen hemodinamik pada fase awal dan lanjut dari syok septik adalah komponen penting terapi. Sindrom penyakit kompleks seperti syok septik memerlukan pendekatan diagnostik dan terapeutik multimodal. Selain diagnosis syok septik dan terapi kausal, tantangan utama dalam perawatannya adalah resusitasi serta penanganan disfungsi kardiovaskular dan pernapasan. Laporan kasus ini bertujuan untuk melaporkan pasien dengan syok septik akibat perforasi duodenum. Seorang wanita berusia 32 tahun dirawat di ruang resusitasi dengan diagnosissyok septik karena peritonitis difus. Resusitasi hemodinamik dilakukan dengan terapi cairan dan pemberian obat vasopresor dan inotropik. Setelah stabilisasi dan optimalisasi, pasien menjalani laparotomi eksplorasi dan ditemukan perforasi pada duodenum. Selama perawatan di ICU, hemodinamik pasien dimonitor menggunakan perangkat PiCCO. Pasien mengalami perbaikan kondisi dan pindah ke bangsal bedah pada hari ke 7. Penilaian serial status hemodinamik pasien dengan syok septik sangat penting untuk menentukan pilihan terapi dalam mengoptimalkan tekanan perfusi dan aliran darah global sehingga dapat mengoptimalkan perfusi jaringan. Kompleksitas dan heterogenitas pasien dengan syok septik menunjukkan bahwa diperlukan pendekatan individual untuk manajemen hemodinamik.
Tata Laksana Sepsis Bundle pada Pasien Syok Sepsis dengan Perforasi Gaster: Budi Hartanto, Ardi Zulfariansyah Journal Manager MACC
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 38 No 1 (2020): Februari
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (422.803 KB)

Abstract

Perforasi gaster adalah kondisi yang membutuhkan tindakan bedah emergensi. Komplikasi tersering pada kasus ini adalah sepsis dan syok sepsis. Seorang pria datang dengan keluhan nyeri seluruh perut sejak tiga hari sebelum masuk rumah sakit. Nyeri dirasakan mula - mula di ulu hati dan menyebar ke seluruh perut. Pasien diketahui sering mengkonsumsi obat - obatan dan jamu anti nyeri sejak 3 tahun yang lalu. Pasien datang dengan kondisi syok dan gagal napas, dilakukan penatalaksanaan sepsis bundle di ruang resusitasi serta intubasi sebelum pasien dilakukan operasi laparotomi eksplorasi. Selama operasi ditemukan perforasi gaster dan dilakukan jahit primer serta omental patch. Pascaoperasi pasien dirawat di Intensive Care Unit (ICU) dengan support hemodinamik dan ventilator selama beberapa hari. Setelah hari ke 3 perawatan kondisi pasien stabil dan dapat dilepas dari ventilator. Setelah hari ke 5 perawatan pasien dikeluarkan dari ICU. Tindakan resusitasi dengan target penurunan laktat adalah tujuan dari resusitasi sesuai sepsis bundle .
Myasthenia Gravis dan Tuberculosis: Nur Arafah Pane, Reza Widianto Sudjud Journal Manager MACC
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 38 No 1 (2020): Februari
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (464.383 KB)

Abstract

Myasthenia gravis adalah salah satu karakteristik penyakit autoimun yang disebabkan oleh adanya gangguan dari synaptic transmission atau pada neuromuscular junction. Hal ini ditandai oleh suatu kelemahan abnormal dan progresif pada otot rangka yang dipergunakan secara terus menerus dan disertai dengan kelelahan saat beraktivitas. Sebelum memahami tentang myastenia gravis. Pengetahuan tentang anatomi dan fungsi normal dari neuromuscularjunction sangatlah penting. Membran presinaptik (membran saraf), membran post sinaptik (membran otot), dan celah sinaps merupakan bagian-bagian pembentuk neuromuscular junction. Mekanisme imunogenik memegang peranan yang sangat penting pada patofisiologi myastenia gravis, dimana antibodi yang merupakan produk dari sel B justru melawan reseptor asetilkolin. Penatalaksanaan myastenia gravis dapat dilakukan dengan obat-obatan, thymomectomy ataupun dengan imunomodulasi dan imunosupresif terapi yang dapat memberikan prognosis yang baik pada kesembuhannya. Pada beberapa kasus banyak terjadi myastenia gravis setelah pasien mengalami penurunan imun yang sebabnya belum diketahui. Boleh jadi pada kasus ini TB salah satu penyebabnya menjadi penurunan imun sehingga terjadi myastenia gravis tapi bukan semua penderita Tuberculosis akan menjadi myastenia gravis boleh jadi ada penyebab autoimunnya yang lain.
Perbandingan Efektivitas Metamizol 15 Mg/KgBB IV dengan Asetaminofen 15 Mg/KgBB IV untuk Analgesia Pasca-Bedah di Bawah Umbilikus pada Pasien Pediatrik Andi Ade Wijaya Ramlan; Raden B Sukmono; Yasir Mustafa Banadji
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 38 No 2 (2020): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (484.1 KB) | DOI: 10.55497/majanestcricar.v38i2.180

Abstract

Abstrak Latar Belakang: Penanganan nyeri yang tidak adekuat mencetus respon stress dan biokimia dan menyebabkan gangguan fungsi metabolisme, kardiovaskular, pulmoner, neuro-endokrin, gastrointestinal, dan imunologi. Asetaminofen merupakan obat analgetika yang paling sering digunakan untuk menangani nyeri derajat ringan-sedang. Metamizol juga telah banyak digunakan sebagai obat analgetika yang efektif untuk nyeri pasca-bedah. Namun, penggunaan metamizol tidak sepopuler asetaminofen di Indonesia. Di RSUPN dr.Cipto Mangunkusumo, penggunaan asetaminofen intravena sebagai analgetika pascabedah direstriksi berdasarkan formularium nasional. Metode: Penelitian uji klinik acak tersamar ganda dilakukan untuk menilai efektivitas metamizol 15 mg/KgBB IV dan asetaminofen 15 mg/KgBB IV untuk analgesia pascabedah di bawah umbilikus pada pasien pediatrik. Enam puluh empat subjek penelitian memenuhi kriteria inklusi dan bersedia mengikuti penelitian, dirandomisasi menjadi dua kelompok. Subjek mendapatkan regimen analgetika asetaminofen 15 mg/KgBB IV atau metamizol 15 mg/KgBB IV sesuai kelompok randomisasi di akhir pembedahan. Pemberian regimen analgetika diulang setiap 8 jam dalam 24 jam pertama pasca-bedah. Dilakukan penilaian skala FLACC saat istirahat dan bergerak pada saat pasien pulih sadar, jam ke-4, jam ke-6, jam ke-12, dan jam ke-24 pascabedah. Dilakukan pula pencatatan kebutuhan fentanil, saat pertama pasien membutuhkan fentanil, dan efek samping yang timbul selama 24 jam pertama pascabedah. Hasil: Skala FLACC pada saat istirahat maupun bergerak tidak berbeda bermakna antar kedua kelompok pada setiap pengukuran. Terdapat 4 dari 32 subjek yang membutuhkan fentanil rescue pada kelompok asetaminofen dengan saat pertama membutuhkan fentanil rescue berkisar antara 300 hingga 700 menit pascabedah. Simpulan: Metamizol 15 mg/kgBB IV tidak lebih efektif dibandingkan dengan asetaminofen 15 mg/kgBB IV untuk analgesia pascabedah di bawah umbilikus pada pasien pediatrik. Kata Kunci: Asetaminofen; analgesia multimodal; metamizol; nyeri; pascabedah di bawah umbilikus; pediatrik
Blok Fascial Pecto-intercostal Bilateral sebagai Analgesia untuk Median Sternotomi pada Anak A A Gde Putra Semara Jaya; Raden Besthadi Sukmono; Aries Perdana
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 38 No 2 (2020): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (658.825 KB) | DOI: 10.55497/majanestcricar.v38i2.189

Abstract

Median sternotomi pada anak mengakibatkan nyeri akut pascabedah dengan derajat sedang hingga berat, yang berhubungan dengan berbagai efek samping pascabedah. Blok fascia pecto-intercostal yang dipandu ultrasonografi memiliki potensi analgesia untuk median sternotomi sehingga dapat bermanfaat pada populasi anak. Kami melaporkan satu kasus anak laki-laki berusia tiga setengah tahun dengan tumor mediastinum anterior, yang akan menjalani median sternotomi dan eksisi tumor. Pasien dengan status fisik American Society of Anesthesiologists (ASA) 2, fibrosis segmen 2 dan 3 paru kanan dengan riwayat tuberkulosis paru. Eksisi tumor mediastinum anterior melalui median sternotomi berhasil dilakukan dengan fasilitasi kombinasi anestesi umum dan blok fascia pecto-intercostal bilateral. Pemulihan pascabedah juga berjalan dengan lancar. Penggunaan blok fascia pecto-intercostal bersama modalitas lainnya dapat memberikan analgesia yang memadai untuk median sternotomi. Kata Kunci: blok fascia pecto-intercostal; sternotomi; manajemen nyeri
Refleks Nasokardiak yang Disebabkan oleh Pemasangan Selang Nasogastrik: Laporan Kasus Sidharta Kusuma Manggala; Luther Napitupulu; Septianto Halim
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 38 No 2 (2020): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (432.699 KB) | DOI: 10.55497/majanestcricar.v38i2.190

Abstract

Refleks nasokardiak merupakan bagian dari refleks trigeminokardiak. Refleks nasokardiak dapat menyebabkan bradikardia dan hipotensi karena adanya manipulasi terhadap cabang nervus trigeminus yang berada pada rongga hidung. Pemasangan selang nasogastrik adalah prosedur medis yang umum dilakukan dan dapat menyebabkan iritasi pada rongga hidung, Laporan kasus ini menggambarkan adanya kejadian bradikardia, hipotensi, dan penurunan kesadaran yang terjadi segera setelah pemasangan selang nasogastrik pada seorang pasien laki-laki berusia 46 tahun dengan diagnosis pneumonia, tuberkulosis paru, sepsis, hipoksemia, dan hiperkapnia. Refleks nasokardiak harus dicurigai sebagai etiologi terjadinya refleks vagal pada pasien setelah pemasangan selang nasogastrik dan kejadian ini harus diantisipasi dengan baik terutama pada pasien dengan kondisi kritis. Dengan adanya keterbatasan referensi pada topik ini, penelitian lanjutan untuk kejadian ini perlu dilakukan. Kata Kunci: refleks nasokardiak; refleks vagal; selang nasogastrik
Trakeostomi Dini pada Pasien Kritis Coronavirus Disease (COVID-19) Dis Bima Purwaamidjaja; Mayang Indah Lestari
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 38 No 2 (2020): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (685.318 KB) | DOI: 10.55497/majanestcricar.v38i2.191

Abstract

Alasan utama pasien kritis coronavirus disease (COVID-19) dirawat di unit perawatan intensif ialah gagal napas sehingga memerlukan bantuan ventilasi mekanis invasif. Durasi pemakaian ventilasi mekanis cenderung lama sehingga berisiko menimbulkan komplikasi seperti meningkatnya mortalitas, kesulitan penyapihan, ventilator associated pneumonia (VAP), kebutuhan sedasi, dan stenosis trakea. Kondisi COVID–19 juga diperparah dengan produksi sekret kental yang banyak dan berpotensi menyumbat endotracheal tube (ETT) sehingga terjadi gangguan oksigenasi dan ventilasi. Trakeostomi dapat menjadi manajemen jalan napas alternatif pada pasien kritis COVID–19. Teknik ini memberikan manfaat antara lain mengurangi ruang rugi dan resistensi jalan napas, work of breathing, kebutuhan obat sedasi, serta lesi orofaring dan laring. Selain itu, teknik ini aman, mempermudah perawatan dan drainase sekret, meningkatkan nutrisi oral, memberikan kenyamanan pasien, serta komunikasi menjadi lebih baik. Meskipun demikian, indikasi dan waktu yang tepat untuk trakeostomi pasien COVID–19 masih menjadi kontroversi. Pasien yang akan dilakukan trakeostomi sebaiknya memiliki prognosis baik sehingga mendapatkan manfaat yang lebih banyak dari tindakan ini mengingat trakeostomi juga termasuk prosedur yang berisiko menimbulkan aerosol dan dapat menyebabkan transmisi ke tenaga kesehatan. Telaah pustaka ini akan membahas hal-hal berkaitan dengan implikasi COVID-19, pilihan trakeostomi dan manfaat trakeostomi dini pada pasien kritis.
Heat and Moisture Exchanging Filter pada Pasien COVID-19 yang Menjalani Sectio Caesarea Fitri Hapsari Dewi; Purwoko; Gita Nur Siwi
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 38 No 2 (2020): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (444.096 KB) | DOI: 10.55497/majanestcricar.v38i2.192

Abstract

Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) menjadi topik hangat di dunia termasuk Indonesia sejak muncul kasus di Wuhan, Hubei, Cina pada Desember 2019. Dalam lingkup anestesi obstetri, Sectio Caesaria (SC) pasien COVID-19 merupakan problem yang membutuhkan perhatian. Royal College of Obstetricians and Gynaecologists (RCOG) merekomendasikan anestesi intraspinal pada operasi SC pada pasien terkonfirmasi atau dengan suspek COVID-19. General anestesi (GA diketahui dapat meningkatkan resiko aerosolisasi yang dapat membahayakan petugas medis. Anesthesia Patient Safety Foundation (APSF) merekomendasikan penggunaan Heat and Moisture Exchanging Filter (HMEF) pada breathing circuit anestesi tindakan GA pasien COVID-19 dimana HMEF bekerja sebagai filter yang dapat memfiltrasi bakteri dan virus. Penggunaan HMEF dipercaya dapat menurunkan resiko kontaminasi silang.
Perbandingan Pengajaran Menggunakan Laringoskop Video dengan Laringoskop Konvensional Terhadap Keterampilan Mahasiswa Kedokteran dalam Melakukan Intubasi pada Manikin Rudyanto Sedono; Raden Besthadi Sukmono; Nurul Huda El Muhammady
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 38 No 3 (2020): Oktober
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (419.853 KB) | DOI: 10.55497/majanestcricar.v38i3.194

Abstract

Latar Belakang. Intubasi endotrakea merupakan keterampilan penting yang perlu dikuasai oleh seorang dokter. Saat ini pengajaran intubasi pada mahasiswa kedokteran di Indonesia menggunakan laringoskop konvensional. Dalam beberapa tahun terakhir, laringoskop video mulai digunakan dalam pelayanan dan pendidikan kedokteran di dunia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sarana pengajaran yang lebih baik dalam proses pelatihan keterampilan intubasi mahasiswa kedokteran di Indonesia. Metode. Penelitian ini bersifat eksperimental, acak, tidak tersamar, tidak berpasangan. Penelitian dimulai setelah mendapat persetujuan dari Manajer Pendidikan dan Komite Etik Penelitian Kesehatan FKUI-RSCM. Subjek pada penelitian ini melibatkan 40 mahasiswa kedokteran preklinik FKUI semester 2 yang tidak pernah mendapat kuliah atau pelatihan intubasi sebelumnya. Subjek dibagi menjadi empat kelompok pelatihan, yaitu dua kelompok laringoskop video dan dua kelompok laringoskop konvensional. Setelah dilatih selama 120 menit melakukan intubasi pada maneken, subjek diuji melakukan intubasi menggunakan laringoskop konvensional untuk mendapatkan data waktu intubasi dan jumlah upaya intubasi. Hasil penelitian. Nilai median waktu intubasi kelompok laringoskop video 151,5 (55-383) detik dan kelompok laringoskop konvensional 56,5 (23-251) detik, dengan nilai p<0,001. Jumlah upaya intubasi kelompok laringoskop video 1 (1-3) kali dan kelompok laringoskop konvensional 1 (1-4) kali, dengan nilai p=0,114. Kesimpulan. Pengajaran dengan laringoskop video tidak terbukti lebih baik dibandingkan dengan laringoskop konvensional terhadap keterampilan mahasiswa kedokteran FKUI dalam melakukan intubasi.
Uji Kesesuaian Hasil Penilaian Status Volume Intravaskular Antara Diameter Vena Cava Inferior (IVC) dengan Vascular Pedicle Width (VPW) Rudyanto Sedono; Amir S. Majdid; Farahniar Hamidiana
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 38 No 2 (2020): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (706.937 KB) | DOI: 10.55497/majanestcricar.v38i2.195

Abstract

Latar Belakang: Kondisi hipovolemia atau hipervolemia dapat meningkatkan angka morbiditas dan mortalitas. Baku emas penilaian status volume intravaskular adalah pemeriksaan immunoassay yang bersifat invasif, sulit, dan lama sehingga klinisi mencari teknik yang tidak invasif, mudah, dan singkat. Pemeriksaan diameter inferior vena cava (IVC) dengan ultrasonografi (USG) dan vascular pedicle width (VPW) dengan radiografi dada merupakan teknik noninvasif yang mulai digunakan untuk menilai status volume intravaskular. Pemeriksaan VPW dapat dilakukan di instansi yang tidak memiliki ultrasonografi (USG). Uji kesesuaian IVC dan VPW dalam menilai status volume intravaskular hanya pernah dilakukan pada pasien dengan ventilasi mekanik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kesesuaian hasil penilaian status volume intravaskular antara teknik USG diameter IVC dengan teknik radiografi dada VPW pada pasien bernapas spontan. Metode: Penelitian ini merupakan uji klinis observasional analitik potong lintang untuk mengetahui kesesuaian hasil penilaian status volume intravaskular dengan metode IVC dan VPW pada pasien di Instalasi Gawat Darurat (IGD). Penelitian dilakukan setelah mendapatkan persetujuan etik dan tanda tangan subjek pada lembar informed consent. Sebanyak 39 subjek dilibatkan dalam penelitian ini. Pengukuran VPW dari hasil radiografi dada di IGD dilanjutkan dengan pengukuran diameter serta collapsibility index IVC dengan USG. Data yang terkumpul dianalisis lebih lanjut dengan secara statistik dengan menghitung Koefisien Kappa. Hasil: Nilai median diameter IVC 1,1 cm (0,46–3 cm). Nilai median collapsibility index IVC 33% (10,2–100%). Nilai median VPW 5,7 cm (3,5–10,8 cm). Tidak ada kesesuaian antara diameter rerata IVC dengan VPW (koefisien Kappa -0,085). Tidak ada kesesuaian antara diameter maksimal IVC dengan VPW (koefisien Kappa -0,123). Kesesuaian juga tidak didapatkan dari collapsibility index dengan VPW (koefisien Kappa 0,069). Simpulan: Tidak didapatkan kesesuaian antara penilaian status volume intravaskular dengan metode pengukuran diameter IVC dan metode pengukuran VPW. Kata Kunci: Status volume intravaskular; inferior vena cava; vascular pedicle width