cover
Contact Name
Sandy Theresia
Contact Email
sandytheresia.md@gmail.com
Phone
+6285350877763
Journal Mail Official
journalmanager@macc.perdatin.org
Editorial Address
Jl. Cempaka Putih Tengah II No. 2A, Cempaka Putih, Central Jakarta City, Jakarta 10510
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Majalah Anestesia & Critical Care (MACC)
Published by Perdatin Jaya
ISSN : -     EISSN : 25027999     DOI : https://doi.org/10.55497/majanestcricar.xxxxx.xxx
Core Subject : Health,
We receive clinical research, experimental research, case reports, and reviews in the scope of all anesthesiology sections.
Articles 335 Documents
Modified Retrograde Intubation Sebagai Alternatif Manajemen Jalan Napas Sulit pada Kondisi Terbatas: Sebuah Laporan Kasus Mohammad Rizky Ariesto; Ardian Pratiaksa
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 44 No 2 (2026): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v44i2.495

Abstract

Pendahuluan: Manajemen jalan napas sulit merupakan tantangan penting dalam praktik anestesiologi dan kegawatdaruratan karena kegagalannya dapat menyebabkan hipoksemia, henti jantung, hingga kematian. Meskipun berbagai algoritma seperti Difficult Airway Society (DAS) algorithm telah dikembangkan, keterbatasan sarana di fasilitas tertentu menuntut penggunaan teknik alternatif, salah satunya adalah retrograde intubation.Deskripsi Kasus: Seorang pria berusia 60 tahun dengan obesitas (IMT 32 kg/m²), riwayat stroke non-hemoragik, diabetes melitus, dan hipertensi dirawat di ICU dengan penurunan kesadaran (GCS E1V2M2). Pasien memerlukan intubasi endotrakeal karena risiko proteksi jalan napas yang buruk. Upaya intubasi menggunakan direct laryngoscope dilakukan sebanyak enam kali namun gagal, disertai edema laring dengan skor Cormack–Lehane derajat III. Tidak tersedianya Supraglottic Airway Device (SAD) serta kondisi pasien yang tidak memungkinkan untuk dibangunkan menjadi pertimbangan dilakukannya retrograde intubation. Prosedur dilakukan melalui membran krikotiroid menggunakan kateter IV 16G dan kawat Central Venous Catheter sebagai guidewire. Endotracheal tube dengan stilet berhasil dimasukkan setelah dilakukan modifikasi panjang tabung. Jalan napas pasien berhasil diamankan dan oksigenasi dapat dipertahankan dengan baik.Simpulan: Retrograde intubation merupakan teknik yang efektif dan layak dipertimbangkan sebagai alternatif manajemen jalan napas sulit ketika direct laryngoscopy gagal, terutama pada fasilitas dengan keterbatasan sarana.
Manajemen Anestesi pada Pasien dengan Mioma Uteri yang Menjalani Laparotomi Miomektomi Rahmania; Aulia Nailaufar Rizky
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 44 No 2 (2026): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v44i2.504

Abstract

Pendahuluan : Mioma uteri merupakan tumor jinak pada otot polos uterus yang sering ditemukan pada wanita usia produktif dan dapat menimbulkan gejala berupa nyeri serta gangguan menstruasi. Salah satu penatalaksanaan mioma uteri adalah tindakan pembedahan miomektomi, yang memerlukan manajemen anestesi yang tepat untuk menjaga stabilitas hemodinamik dan keberhasilan operasi.Deskripsi kasus: Dilaporkan kasus seorang wanita berusia 32 tahun dengan diagnosis mioma uteri yang menjalani laparotomi miomektomi. Pasien memiliki status fisik ASA II dan dilakukan anestesi spinal pada segmen L3-L4 menggunakan bupivakain hiperbarik sebagai agen anestesi utama. Premedikasi diberikan midazolam, serta adjuvan berupa opioid dan analgetik untuk menunjang kenyamanan pasien. Selama operasi, pasien mendapatkan terapi cairan intravena dan suplementasi oksigen. Tidak ditemukan komplikasi intraoperatif maupun pascaoperasi, dengan kondisi hemodinamik yang stabil. Pemantauan pascaoperasi menunjukkan pemulihan motorik yang baik berdasarkan Bromage score.Simpulan: Manajemen anestesi spinal pada kasus ini memberikan hasil yang efektif dan aman pada prosedur laparotomi miomektomi dengan stabilitas hemodinamik yang terjaga tanpa komplikasi.
Hubungan Skor FORREST dengan Mortalitas Pasien Kritis Non-Trauma di IGD RS PKU Muhammadiyah Gamping Fasshan Alivio Susatiyo; Ardi Pramono; Adang Muhammad Gugun
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 44 No 2 (2026): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v44i2.505

Abstract

Pendahuluan: Kematian pasien kritis non-trauma di Instalasi Gawat Darurat (IGD) masih tinggi, terutama pada sepsis, syok, dan henti jantung, sehingga diperlukan prediktor mortalitas yang cepat dan mudah digunakan. Skor Futile for Resuscitation (FORREST), khususnya versi tiga variabel yang meliputi anemia, gangguan napas, dan penggunaan vasoaktif, dinilai praktis dengan kemampuan prediksi yang baik. Penelitian ini bertujuan menilai hubungan skor FORREST tiga variabel dengan mortalitas 24 jam pada pasien kritis non-trauma di IGD RS PKU Muhammadiyah Gamping.Metode: Penelitian ini merupakan studi observasional retrospektif analitik. Teknik pengambilan subjek menggunakan purposive sampling. Sumber data penelitian berupa data sekunder dari rekam medis. Subjek penelitian adalah 170 pasien RS PKU Muhammadiyah Gamping yang berusia lebih dari 17 tahun. Skor FORREST dikategorikan tinggi apabila ≥4 dan rendah apabila <4. Variabel anemia, gangguan napas, dan penggunaan vasoaktif ditentukan berdasarkan data klinis dan rekam medis pasien pada fase awal perawatan di IGD. Analisis bivariat menggunakan uji Chi-square dengan nilai signifikansi p<0,05.Hasil: Dari 170 subjek penelitian, mayoritas merupakan pasien usia lanjut, berjenis kelamin laki-laki, dan memiliki skor FORREST rendah. Mortalitas 24 jam terjadi pada 33 pasien (19,4%). Hasil analisis Chi-square menunjukkan terdapat hubungan bermakna antara skor FORREST dengan mortalitas pasien (p=0,003). Pasien dengan skor FORREST tinggi memiliki odds mortalitas 3,126 kali dibandingkan pasien dengan skor FORREST rendah. Simpulan: Skor FORREST tiga variabel berhubungan secara signifikan dengan mortalitas pasien kritis non-trauma di IGD dan berpotensi digunakan sebagai alat stratifikasi risiko awal.
Komparasi Penggunaan Natrium Bikarbonat Dibandingkan dengan Pergantian Defisit Cairan pada Ketoasidosis Metabolik Diabetikum: Sebuah Laporan Kasus Johannes Panondang Gultom; Lara Paradilla Rose; Jethro Felim; Fennie Rufini
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 44 No 2 (2026): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v44i2.506

Abstract

Pendahuluan : Penanganan kasus ketoasidosis metabolik diabetikum berfokus terhadap regulasi gula darah, regulasi defisit cairan, dan kondisi asidosis. Pemberian natrium bikarbonat menjadi bahasan dan perdebatan mengenai efektivitasnya.Deskripsi kasus: Dalam laporan kasus ini, kami menerima dua orang pasien dengan ketoasidosis diabetikum dan melakukan penanganan yang berbeda pada keduanya. Satu pasien dilakukan resusitasi defisit cairan tanpa pemberian natrium bikarbonat untuk kondisi asidosisnya, dibandingkan dengan pasien lain yang mendapat natrium bikarbonat sejak awal terapi. Kedua pasien mengalami perbaikan kondisi asidosis dengan mekanisme yang berbeda. Pada pasien yang mendapatkan terapi natrium bikarbonat sejak awal, terjadi pergeseran pH yang tidak sesuai dengan perbaikan nilai base deficit, sementara hal tersebut tidak terjadi pada pasien lainnya.Simpulan: Hasil yang lebih baik didapatkan pada pasien yang dilakukan penggantian volume secara adekuat dibandingkan pasien yang sejak awal mendapatkan natrium bikarbonat, baik secara klinis maupun kondisi mikroseluler, berdasarkan hasil analisis gas darah.
Menyeimbangkan Efisiensi dan Keselamatan: Re-evaluasi Intubasi Tanpa Pelumpuh Otot pada Operasi Berdurasi Singkat Riyadh Firdaus
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 44 No 2 (2026): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v44i2.528

Abstract

Praktik anestesi modern dituntut untuk mempercepat alur kerja kamar operasi pada prosedur singkat seperti ekstraksi gigi impaksi. Penggunaan rutin pelumpuh otot berisiko menunda pemulihan akibat efek sisa blokade neuromuskular, sementara alternatif seperti sugammadex terkendala biaya. Sebagai solusi, kombinasi propofol dan remifentanil tanpa pelumpuh otot mulai dieksplorasi. Evaluasi ini mengulas bukti klinis dari studi retrospektif terhadap 43 pasien yang menjalani prosedur pencabutan gigi. Kombinasi remifentanil (rerata 3,08 µg/kg) dan propofol (2,06 mg/kg) memberikan kondisi intubasi adekuat dengan durasi emergence yang sangat cepat, yaitu rerata 5,88 menit. Sebanyak 65,1% subjek melewati fase pasca-intubasi tanpa komplikasi berarti. Meski efisien, teknik ini mengorbankan stabilitas hemodinamik; tercatat adanya penurunan denyut jantung sebesar 16%, tekanan darah sistolik 20%, dan diastolik 26%. Selain itu, ditemukan insiden batuk atau pergerakan tubuh pasien sebesar 27,9%. Intubasi tanpa pelumpuh otot merupakan opsi yang logis, praktis, dan efisien untuk pasien muda berisiko rendah (ASA I atau II) pada operasi minor singkat. Namun, klinisi harus tetap berhati-hati karena risiko kolaps hemodinamik tetap mengintai. Bagi populasi rentan seperti pasien geriatri, obesitas morbid, atau dengan penyulit vaskular, penggunaan pelumpuh otot berdurasi singkat tetap menjadi pilihan paling aman demi menjaga keselamatan pasien.