cover
Contact Name
Sandy Theresia
Contact Email
sandytheresia.md@gmail.com
Phone
+6285350877763
Journal Mail Official
journalmanager@macc.perdatin.org
Editorial Address
Jl. Cempaka Putih Tengah II No. 2A, Cempaka Putih, Central Jakarta City, Jakarta 10510
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Majalah Anestesia & Critical Care (MACC)
Published by Perdatin Jaya
ISSN : -     EISSN : 25027999     DOI : https://doi.org/10.55497/majanestcricar.xxxxx.xxx
Core Subject : Health,
We receive clinical research, experimental research, case reports, and reviews in the scope of all anesthesiology sections.
Articles 324 Documents
Metode Audiovisual Dibandingkan Penjelasan Verbal sebagai Media Edukasi untuk Menurunkan Tingkat Kecemasan Pasien yang akan Menjalani Anestesi Spinal Dwiputra, Anggara Gilang; Nugroho, Alfan Mahdi; Sanyoto, Dhanasari Vidiawati; Sukoco, Gunawan
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 44 No 1 (2026): Februari
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v44i1.486

Abstract

Pendahuluan: Kecemasan prabedah timbul dari aspek pembedahan maupun aspek anestesi. Pencegahan kecemasan prabedah dengan pendekatan non-farmakologis misalnya edukasi, dapat mengurangi efek samping dari penggunaan obat-obatan. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan metode audiovisual dan penjelasan secara verbal sebagai media edukasi untuk menurunkan kecemasan pasien yang akan menjalani operasi dengan anestesi spinal. Metode: Penelitian ini merupakan uji klinis acak tersamar tunggal yang mengikutsertakan 74 pasien dewasa di Poli Perioperatif RSCM. Sampel dibagi ke dalam dua kelompok dengan metode acak, sebanyak 37 sampel di tiap kelompok audiovisual dan kelompok verbal. Penilaian kecemasan dilakukan sebelum dan sesudah edukasi menggunakan kuesioner Amsterdam Preoperative Anxiety and Information Scale (APAIS). Hasil: Tingkat kecemasan seluruh pasien sebelum edukasi 11 (4–20). Tingkat kecemasan pascaedukasi di kelompok verbal adalah 8 (4–18), di kelompok audiovisual 8 (4–18). Perubahan tingkat kecemasan pascaedukasi berbeda bermakna pada kelompok audiovisual dibandingkan kelompok verbal, (2 (-3– 14) vs 1 (-3 – 8); p=0,046). Simpulan: Metode audiovisual dengan video edukasi sebagai media edukasi lebih baik dalam menurunkan tingkat kecemasan pasien yang akan menjalani anestesi spinal dibandingkan penjelasan verbal.
Efek Penghangat Kombinasi Forced Air Warmer dan Survival Thermal Blanket Terhadap Suhu Tubuh dan Kejadian Hipotermia Intraoperasi pada Pasien Geriatri Harijanto, Eddy; Chandra, Susilo; Anwar, M. Taufik; Christianto, Vincent
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 44 No 1 (2026): Februari
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v44i1.487

Abstract

Pendahuluan: Hipotermia intraoperatif memengaruhi luaran pembedahan pasien geriatri. Meskipun forced air warmer saat ini telah umum digunakan, tetapi efek kombinasinya dengan survival thermal blanket dalam mempertahankan suhu tubuh belum banyak diteliti. Penelitian ini bertujuan membandingkan efek kombinasi survival thermal blanket dan forced air warmer dengan underbody conduction mat yang menggunakan penutup kain dalam mencegah hipotermia. Metode: Uji acak tersamar tunggal dua lengan pararel dilaksanakan di RSCM (April–Mei 2022) pada pasien geriatri (≥60 tahun, ASA I–III) yang menjalani anestesi umum. Subjek secara acak dialokasikan ke dalam kelompok forced air warmer Bair Hugger 505® dengan selimut mylar, dan kelompok underbody conduction mat Blanket Roll® dengan satu lapis kain draping. Suhu membran timpani diukur saat masuk ruang penerimaan. Suhu nasofaring, kejadian hipotermia intraoperasi, dan menggigil pascaoperasi intraoperatif dicatat dan dianalisis. Analisis data dilakukan dengan menggunakan SPSS 23 dengan signifikansi p<0,05. Hasil: Suhu nasofaring intraoperatif secara signifikan lebih tinggi pada kelompok pasien dengan survival thermal blanket pada forced air warmer mulai menit ke-60, ke-120, dan periode pascaoperasi (p=0,008, p=0,034, p=0,011). Angka hipotermia intraoperatif dan kejadian menggigil yang lebih rendah pada kelompok yang mendapatkan survival thermal blanket pada forced air warmer dibandingkan kain draping pada underbody conduction mat, namun perbedaan ini belum bermakna secara statistik (28,6% vs 53,6%, p > 0,05). Simpulan: Survival thermal blanket pada forced air warmer mampu menghangatkan suhu tubuh lebih baik dibandingkan kain draping pada underbody conduction mat. Namun kejadian hipotermia intraoperatif dan kejadian menggigil pada kedua kelompok tidak berbeda signifikan.
Faktor Prediktor Nyeri Pascabedah Sedang dan Berat di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo Mahdi Nugroho, Alfan; Auerkari, Aino Nindya; Roza, Rizky Loviana
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 44 No 1 (2026): Februari
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v44i1.494

Abstract

Pendahuluan: Prevalensi nyeri pascabedah di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo tahun 2017 menunjukkan intensitas nyeri sedang (57,4%) dan nyeri berat (20,4%). Penelitian ini bertujuan untuk menentukan faktor prediktor nyeri pascabedah sedang dan berat, menganalisis hubungan, dan mengembangkan model prediksi nyeri pascabedah sedang dan berat. Metode: Penelitian ini menggunakan desain kohort prospektif pada 135 pasien yang menjalani pembedahan di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo yang memenuhi kriteria inklusi. Setiap faktor prediktor dianalisis menggunakan analisis bivariat dan dilanjutkan dengan analisis multivariat menggunakan regresi logistik. Sistem skor prediksi dirangkum dari hasil analisis multivariat. Hasil: Risiko kejadian (RR) untuk setiap faktor prediktor yang diidentifikasi berdasarkan analisis bivariat yaitu tingkat kecemasan prabedah (RR: 3,32, 95% CI: 1,28 – 8,56), durasi pembedahan lebih dari 90 menit (RR: 7,23, 95% CI: 1,85 – 28,29), jenis pembedahan mayor (RR: 2,69, 95% CI: 1,58 – 4,57), konsumsi opioid intraoperatif (RR: 2,67, 95% CI: 1,68 – 4,25), dan jenis anestesi (RR: 2,37, 95% CI: 1,06 – 5,33). Analisis multivariat menunjukkan bahwa prediktor signifikan untuk nyeri pascabedah sedang hingga berat adalah tingkat kecemasan prabedah (p = 0,085, RR: 2,23, 95% CI: 0,87 – 5,54), durasi pembedahan (p = 0,056, RR: 3,92, 95% CI: 0,96 – 15,96), jenis pembedahan mayor (p = 0,061, RR: 1,63, 95% CI: 0,97 – 2,72), dan konsumsi opioid intraoperatif (p = 0,011, RR: 1,78, 95% CI: 1,14 – 2,78). Simpulan: Faktor prediktor nyeri pascabedah pada penelitian ini adalah tingkat kecemasan prabedah, jenis pembedahan, durasi pembedahan, dan konsumsi opioid intraoperatif. Persamaan regresi disusun berdasarkan empat faktor prediktor tersebut.
Winter is Coming: Pencegahan Hipotermia pada Pasien Geriatri Pramodana, Bintang
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 44 No 1 (2026): Februari
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v44i1.496

Abstract

Hipotermia intraoperatif, yang didefinisikan sebagai suhu inti tubuh <36°C, merupakan komplikasi yang sering terjadi selama anestesi dengan insidensi yang dapat mencapai 90%. Kondisi ini menjadi perhatian khusus pada pasien geriatri karena adanya perubahan fisiologis terkait penuaan, seperti gangguan sistem termoregulasi, penurunan lemak subkutan, sarkopenia, serta respons vasokonstriksi dan menggigil yang melemah. Kombinasi faktor intrinsik tersebut dengan paparan lingkungan kamar operasi yang relatif dingin, durasi pembedahan yang panjang, penggunaan cairan tidak dihangatkan, serta komorbiditas tertentu meningkatkan risiko terjadinya hipotermia. Hipotermia pada populasi lansia berhubungan dengan berbagai konsekuensi klinis, antara lain peningkatan risiko infeksi luka operasi, gangguan koagulasi, kehilangan darah lebih besar, pemanjangan efek obat anestesi, keterlambatan pemulihan, hingga peningkatan kejadian delirium pascaoperasi. Pada kasus trauma, hipotermia juga berkontribusi terhadap triad mematikan bersama asidosis dan koagulopati. Upaya pencegahan perlu dimulai sejak fase praoperatif melalui identifikasi pasien berisiko tinggi dan penerapan prewarming selama 30–60 menit untuk mengurangi redistribusi panas setelah induksi anestesi. Pemantauan suhu inti secara adekuat selama intraoperasi serta penggunaan metode penghangatan aktif seperti forced air warming, cairan infus hangat, dan pembatasan paparan tubuh terhadap suhu rendah merupakan strategi utama yang direkomendasikan. Diperlukan peningkatan perhatian, penelitian nasional, serta dukungan kebijakan untuk memperkuat praktik pencegahan hipotermia, khususnya pada pasien geriatri, guna menurunkan morbiditas yang sebenarnya dapat dicegah.