cover
Contact Name
Sandy Theresia
Contact Email
sandytheresia.md@gmail.com
Phone
+6285350877763
Journal Mail Official
journalmanager@macc.perdatin.org
Editorial Address
Jl. Cempaka Putih Tengah II No. 2A, Cempaka Putih, Central Jakarta City, Jakarta 10510
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Majalah Anestesia & Critical Care (MACC)
Published by Perdatin Jaya
ISSN : -     EISSN : 25027999     DOI : https://doi.org/10.55497/majanestcricar.xxxxx.xxx
Core Subject : Health,
We receive clinical research, experimental research, case reports, and reviews in the scope of all anesthesiology sections.
Articles 335 Documents
Metode Audiovisual Dibandingkan Penjelasan Verbal sebagai Media Edukasi untuk Menurunkan Tingkat Kecemasan Pasien yang akan Menjalani Anestesi Spinal Anggara Gilang Dwiputra; Alfan Mahdi Nugroho; Dhanasari Vidiawati Sanyoto; Gunawan Sukoco
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 44 No 1 (2026): Februari
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v44i1.486

Abstract

Pendahuluan: Kecemasan prabedah timbul dari aspek pembedahan maupun aspek anestesi. Pencegahan kecemasan prabedah dengan pendekatan non-farmakologis misalnya edukasi, dapat mengurangi efek samping dari penggunaan obat-obatan. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan metode audiovisual dan penjelasan secara verbal sebagai media edukasi untuk menurunkan kecemasan pasien yang akan menjalani operasi dengan anestesi spinal. Metode: Penelitian ini merupakan uji klinis acak tersamar tunggal yang mengikutsertakan 74 pasien dewasa di Poli Perioperatif RSCM. Sampel dibagi ke dalam dua kelompok dengan metode acak, sebanyak 37 sampel di tiap kelompok audiovisual dan kelompok verbal. Penilaian kecemasan dilakukan sebelum dan sesudah edukasi menggunakan kuesioner Amsterdam Preoperative Anxiety and Information Scale (APAIS). Hasil: Tingkat kecemasan seluruh pasien sebelum edukasi 11 (4–20). Tingkat kecemasan pascaedukasi di kelompok verbal adalah 8 (4–18), di kelompok audiovisual 8 (4–18). Perubahan tingkat kecemasan pascaedukasi berbeda bermakna pada kelompok audiovisual dibandingkan kelompok verbal, (2 (-3– 14) vs 1 (-3 – 8); p=0,046). Simpulan: Metode audiovisual dengan video edukasi sebagai media edukasi lebih baik dalam menurunkan tingkat kecemasan pasien yang akan menjalani anestesi spinal dibandingkan penjelasan verbal.
Efek Penghangat Kombinasi Forced Air Warmer dan Survival Thermal Blanket Terhadap Suhu Tubuh dan Kejadian Hipotermia Intraoperasi pada Pasien Geriatri Eddy Harijanto; Susilo Chandra; M. Taufik Anwar; Vincent Christianto
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 44 No 1 (2026): Februari
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v44i1.487

Abstract

Pendahuluan: Hipotermia intraoperatif memengaruhi luaran pembedahan pasien geriatri. Meskipun forced air warmer saat ini telah umum digunakan, tetapi efek kombinasinya dengan survival thermal blanket dalam mempertahankan suhu tubuh belum banyak diteliti. Penelitian ini bertujuan membandingkan efek kombinasi survival thermal blanket dan forced air warmer dengan underbody conduction mat yang menggunakan penutup kain dalam mencegah hipotermia. Metode: Uji acak tersamar tunggal dua lengan pararel dilaksanakan di RSCM (April–Mei 2022) pada pasien geriatri (≥60 tahun, ASA I–III) yang menjalani anestesi umum. Subjek secara acak dialokasikan ke dalam kelompok forced air warmer Bair Hugger 505® dengan selimut mylar, dan kelompok underbody conduction mat Blanket Roll® dengan satu lapis kain draping. Suhu membran timpani diukur saat masuk ruang penerimaan. Suhu nasofaring, kejadian hipotermia intraoperasi, dan menggigil pascaoperasi intraoperatif dicatat dan dianalisis. Analisis data dilakukan dengan menggunakan SPSS 23 dengan signifikansi p<0,05. Hasil: Suhu nasofaring intraoperatif secara signifikan lebih tinggi pada kelompok pasien dengan survival thermal blanket pada forced air warmer mulai menit ke-60, ke-120, dan periode pascaoperasi (p=0,008, p=0,034, p=0,011). Angka hipotermia intraoperatif dan kejadian menggigil yang lebih rendah pada kelompok yang mendapatkan survival thermal blanket pada forced air warmer dibandingkan kain draping pada underbody conduction mat, namun perbedaan ini belum bermakna secara statistik (28,6% vs 53,6%, p > 0,05). Simpulan: Survival thermal blanket pada forced air warmer mampu menghangatkan suhu tubuh lebih baik dibandingkan kain draping pada underbody conduction mat. Namun kejadian hipotermia intraoperatif dan kejadian menggigil pada kedua kelompok tidak berbeda signifikan.
Faktor Prediktor Nyeri Pascabedah Sedang dan Berat di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo Alfan Mahdi Nugroho; Aino Nindya Auerkari; Rizky Loviana Roza
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 44 No 1 (2026): Februari
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v44i1.494

Abstract

Pendahuluan: Prevalensi nyeri pascabedah di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo tahun 2017 menunjukkan intensitas nyeri sedang (57,4%) dan nyeri berat (20,4%). Penelitian ini bertujuan untuk menentukan faktor prediktor nyeri pascabedah sedang dan berat, menganalisis hubungan, dan mengembangkan model prediksi nyeri pascabedah sedang dan berat. Metode: Penelitian ini menggunakan desain kohort prospektif pada 135 pasien yang menjalani pembedahan di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo yang memenuhi kriteria inklusi. Setiap faktor prediktor dianalisis menggunakan analisis bivariat dan dilanjutkan dengan analisis multivariat menggunakan regresi logistik. Sistem skor prediksi dirangkum dari hasil analisis multivariat. Hasil: Risiko kejadian (RR) untuk setiap faktor prediktor yang diidentifikasi berdasarkan analisis bivariat yaitu tingkat kecemasan prabedah (RR: 3,32, 95% CI: 1,28 – 8,56), durasi pembedahan lebih dari 90 menit (RR: 7,23, 95% CI: 1,85 – 28,29), jenis pembedahan mayor (RR: 2,69, 95% CI: 1,58 – 4,57), konsumsi opioid intraoperatif (RR: 2,67, 95% CI: 1,68 – 4,25), dan jenis anestesi (RR: 2,37, 95% CI: 1,06 – 5,33). Analisis multivariat menunjukkan bahwa prediktor signifikan untuk nyeri pascabedah sedang hingga berat adalah tingkat kecemasan prabedah (p = 0,085, RR: 2,23, 95% CI: 0,87 – 5,54), durasi pembedahan (p = 0,056, RR: 3,92, 95% CI: 0,96 – 15,96), jenis pembedahan mayor (p = 0,061, RR: 1,63, 95% CI: 0,97 – 2,72), dan konsumsi opioid intraoperatif (p = 0,011, RR: 1,78, 95% CI: 1,14 – 2,78). Simpulan: Faktor prediktor nyeri pascabedah pada penelitian ini adalah tingkat kecemasan prabedah, jenis pembedahan, durasi pembedahan, dan konsumsi opioid intraoperatif. Persamaan regresi disusun berdasarkan empat faktor prediktor tersebut.
Winter is Coming: Pencegahan Hipotermia pada Pasien Geriatri Pramodana, Bintang
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 44 No 1 (2026): Februari
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v44i1.496

Abstract

Hipotermia intraoperatif, yang didefinisikan sebagai suhu inti tubuh <36°C, merupakan komplikasi yang sering terjadi selama anestesi dengan insidensi yang dapat mencapai 90%. Kondisi ini menjadi perhatian khusus pada pasien geriatri karena adanya perubahan fisiologis terkait penuaan, seperti gangguan sistem termoregulasi, penurunan lemak subkutan, sarkopenia, serta respons vasokonstriksi dan menggigil yang melemah. Kombinasi faktor intrinsik tersebut dengan paparan lingkungan kamar operasi yang relatif dingin, durasi pembedahan yang panjang, penggunaan cairan tidak dihangatkan, serta komorbiditas tertentu meningkatkan risiko terjadinya hipotermia. Hipotermia pada populasi lansia berhubungan dengan berbagai konsekuensi klinis, antara lain peningkatan risiko infeksi luka operasi, gangguan koagulasi, kehilangan darah lebih besar, pemanjangan efek obat anestesi, keterlambatan pemulihan, hingga peningkatan kejadian delirium pascaoperasi. Pada kasus trauma, hipotermia juga berkontribusi terhadap triad mematikan bersama asidosis dan koagulopati. Upaya pencegahan perlu dimulai sejak fase praoperatif melalui identifikasi pasien berisiko tinggi dan penerapan prewarming selama 30–60 menit untuk mengurangi redistribusi panas setelah induksi anestesi. Pemantauan suhu inti secara adekuat selama intraoperasi serta penggunaan metode penghangatan aktif seperti forced air warming, cairan infus hangat, dan pembatasan paparan tubuh terhadap suhu rendah merupakan strategi utama yang direkomendasikan. Diperlukan peningkatan perhatian, penelitian nasional, serta dukungan kebijakan untuk memperkuat praktik pencegahan hipotermia, khususnya pada pasien geriatri, guna menurunkan morbiditas yang sebenarnya dapat dicegah.
Hubungan Intensitas Fisioterapi Respirasi dengan Lama Pemakaian Ventilator Mekanik Pada Pasien ICU Dewasa: Tinjauan Sistematik Aisyah Mulya Zhafirah; Agustina Br Haloho
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 44 No 2 (2026): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v44i2.460

Abstract

Fisioterapi respirasi berperan penting dalam pemulihan pasien ICU dengan ventilasi mekanik, namun pengaruh intensitas terhadap lama pemakaian ventilator masih belum jelas akibat kurangnya perhatian pada aspek dosis-respons. Tinjauan sistematik ini bertujuan menilai hubungan intensitas fisioterapi respirasi dengan lama pemakaian ventilator mekanik pada pasien dewasa di ICU.Tinjauan disusun mengikuti PRISMA 2020 dengan penelusuran literatur pada PubMed, ScienceDirect,dan Europe PMC. Studi yang diinklusi adalah RCT dan uji klinis pada pasien dewasa ventilasi mekanik invasif di ICU dengan intervensi fisioterapi respirasi yang melaporkan informasi intensitas (frekuensi, durasi, atau dosis) dan luaran berupa lama ventilasi dan/atau ventilator-free days. Risiko bias dinilai menggunakan Cochrane RoB 2 dan NOS. Empat RCT memenuhi kriteria inklusi. Highintensity inspiratory muscle training (IMT) sekali sehari meningkatkan kualitas hidup namun tidak memengaruhi durasi ventilasi. Fisioterapi pada pasien COVID-19 meningkatkan kelangsungan hidup 90 hari tanpa memperbaiki ventilator-free days. Continuous high-frequency oscillation 3–4 sesi/hari menurunkan jaringan paru non-aerasi dan meningkatkan ventilator-free days. Threshold IMT intensif memperpendek weaning days dibanding fisioterapi konvensional. Tinjauan literatur ini menemukan bahwa intensitas fisioterapi respirasi berhubungan dengan lama pemakaian ventilator mekanik. Pemberian intensitas yang lebih tinggi (≥3 sesi/hari atau threshold loading) cenderung memperpendek durasi weaning dan meningkatkan ventilator-free days dibandingkan intensitas rendah. Diperlukan uji klinis multisenter dengan definisi intensitas terstandar untuk menetapkan dosis optimal.
Senning Procedure in Adolescent With TGA-IVS: Anesthetic Strategy Arga Ilyasa Kusuma; Riza Cintyandy; Pribadi Wiranda Busro; Rifdhani Fakhrudin Nur
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 44 No 2 (2026): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v44i2.477

Abstract

Introduction: Transposition of the great arteries with intact ventricular septum (TGA-IVS) is typically corrected in infancy, with arterial switch operation (ASO) as the gold standard. Survival into adolescence is exceptionally rare and depends on adequate intercirculatory mixing through an atrial septal defect. Case Description: This study presents a case of a 13-year-old adolescent with TGA-IVS who underwent the senning procedure as an alternative due to unsuitability for ASO. Anesthetic management included judicious selection of inotropes with milrinone and epinephrine, strict rhythm control, electrolyte optimization, and intraoperative transesophageal echocardiography (TEE) monitoring. Perioperative diagnosis revealed RV systolic pressure >⅔ of systemic, necessitating the senning procedure to redirect venous return at the atrial level. The patient was successfully managed with satisfactory clinical outcomes oxygen saturation >95% without arrhythmias at hospital discharge on postoperative day 7. Meticulous anesthetic management addressing systemic RV dysfunction and arrhythmia prevention proved crucial for surgical success.Conclusion: This case emphasizes the significant role of anesthesiologists in managing this complex cardiac population, particularly in rare cases where anatomical repair is no longer feasible.
Erector Spinae Plane Block (ESPB) pada pasien Minimally Invasive Cardiac Surgery (MICS) dengan Komorbiditas Erwinsyah; I Gusti Ngurah Mahaalit Aribawa; Cynthia Dewi Sinardja
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 44 No 2 (2026): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v44i2.478

Abstract

Pendahuluan : Penggunaan erector spinae plane block (ESPB) sebagai bagian dari analgesia multimodal pada pasien berisiko tinggi yang menjalani minimally invasive cardiac surgery (MICS) masih jarang dilaporkan. Bukti mengenai keamanan dan efektivitas ESPB pada pasien geriatri dengan komorbiditas kompleks, termasuk penyakit arteri koroner tiga pembuluh, diabetes melitus tipe 2, dan acute kidney injury (AKI), masih terbatas. Laporan kasus ini bertujuan untuk menyoroti peran ESPB sebagai teknik analgesia regional pada kelompok pasien tersebut. Deskripsi kasus : Laki-laki berusia 76 tahun datang dengan keluhan nyeri dada hilang timbul selama satu tahun. Pemeriksaan angiografi koroner menunjukkan stenosis berat pada left main, left anterior descending, dan right coronary artery, serta oklusi total pada left circumflex artery, sehingga ditegakkan diagnosis penyakit arteri koroner tiga pembuluh dengan keterlibatan left main. Pasien memiliki riwayat hipertensi dan diabetes melitus tipe 2 selama lebih dari 25 tahun, disertai gangguan fungsi ginjal dengan kreatinin serum 1,87 mg/dL dan estimasi laju filtrasi glomerulus 34,15 mL/menit/1,73 m². Pasien menjalani MICS-CABG dua graft. Anestesi umum dilakukan menggunakan double-lumen tube sisi kiri, didahului dengan ESPB unilateral pada tingkat torakal T4–T5 dengan panduan ultrasonografi. Pascaoperasi, pasien dirawat di unit perawatan intensif dengan durasi ventilasi mekanik kurang dari enam jam dan memperoleh analgesia berupa morfin infus kontinu serta parasetamol intravena. Penilaian nyeri menunjukkan skor behavioral pain scale (BPS) 3/12 sebelum ekstubasi dan numeric rating scale (NRS) 0–1/10 dua jam setelah ekstubasi, tanpa gangguan respirasi maupun hemodinamik bermakna. Simpulan : ESPB merupakan teknik analgesia regional yang aman dan efektif pada pasien geriatri dengan komorbid yang menjalani MICS serta berpotensi menurunkan kebutuhan opioid dan mempercepat pemulihan pascaoperasi.
Kombinasi Remifentanil dan Propofol tanpa Pelumpuh Otot untuk Intubasi pada Prosedur Pencabutan Gigi: Studi Retrospektif Hendy Armanda Zaintama; Hafizh Arief; Grace Widyarani; Elisa Purwaendah
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 44 No 2 (2026): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v44i2.490

Abstract

Pendahuluan: Intubasi pada anestesi umum rutin menggunakan obat pelumpuh otot, namun penggunaannya dapat meningkatkan risiko komplikasi dan memperpanjang durasi emergence, sehingga kurang sesuai untuk operasi singkat seperti pencabutan gigi. Kombinasi remifentanil dan propofol tanpa pelumpuh otot dapat memberikan kondisi intubasi yang baik dengan waktu kerja yang singkat. Tujuan penelitian ini untuk memperlihatkan durasi emergence anestesi umum dari kombinasi remifentanil dan propofol tanpa pelumpuh otot untuk prosedur pencabutan gigi, perubahan hemodinamik, dan komplikasi yang menyertai.Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional retrospektif dengan pendekatan pre post test untuk mengevaluasi parameter hemodinamik pada 43 pasien yang menjalani pencabutan gigi di RS Tk II Iskandar Muda, Banda Aceh, periode Juni 2024 – Februari 2025.Hasil: Sebagian besar pasien berjenis kelamin perempuan (67,4%) dengan rerata usia 26,8 tahun. Dosis rerata remifentanil dan propofol adalah 3,08 ± 0,19 µg/kg dan 2,06 ± 0,13 mg/kg. Terdapat perubahan hemodinamik yang bermakna sebelum dan sesudah intubasi (p < 0,001) dengan penurunan denyut jantung sebesar -16% ± 15%, sistolik −20% ± 15%, dan diastolik −26% ± 27%. Durasi emergence anestesi tercatat selama rata-rata 5,88 ± 2,7 menit dengan durasi anestesi dan pembedahan masing-masing 29,65 ± 7,9 dan 14,86 ± 4,6 menit. Tidak ada komplikasi pada 65,1% pasien. Simpulan: Kombinasi remifentanil dan propofol menghasilkan durasi emergence singkat, yakni 5 menit dengan penurunan hemodinamik yang signifikan pada rentang 15-26% dari pra-anestesi. Mayoritas pasien tidak mengalami komplikasi pascaintubasi dan komplikasi yang terjadi umumnya ringan.
Renal Replacement Therapy for Septic Shock Patients in ICU: A Systematic Review Maria Tifani Iriani Monika Hia Weruin; Putu Herdita Sudiantara
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 44 No 2 (2026): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v44i2.492

Abstract

Introduction: Septic shock is a life-threatening condition frequently complicated by acute kidney injury (AKI), often necessitating renal replacement therapy (RRT) in the intensive care unit. This systematic review aims to critically appraise renal replacement therapy modalities in adult patients with septic shock in the ICUt. Methods: This comprehensive systematic review synthesizes evidence from 80 sources, including meta-analyses, randomized controlled trials, and observational studies from 2004 to 2025. A structured screening process focused on adult ICU patients with septic shock receiving RRT, excluding chronic dialysis patients. Data were extracted on RRT modalities, patient characteristics, comparators, clinical outcomes, safety profiles, and study context. Results: High-volume hemofiltration (HVHF) showed no consistent mortality benefit over standard volume therapy. Early RRT initiation may reduce mortality in specific subgroups. Blood purification techniques like Polymyxin-B hemoperfusion (PMX-HP) and the oXiris filter showed mortality benefits, particularly in intermediate-to-high-risk patients, though with notable regional variance. Vasopressin use was consistently associated with reduced RRT requirements compared to catecholamines. Fluid choice significantly impacted renal outcomes, with hydroxyethyl starch (HES) solutions consistently increasing the risk of RRT compared to balanced crystalloids. Conclusion: RRT strategies in septic shock should be individualized. For moderate AKI, early RRT may be beneficial. Vasopressin is recommended to reduce RRT dependency, and balanced crystalloids are preferred over HES for fluid resuscitation. Future research should focus on personalized medicine approaches and well-designed RCTs for emerging blood purification technologies
Waktu Kesiapan Pulang Pasca Anestesia Spinal pada Prosedur Rawat Jalan Brakiterapi Kanker Serviks: Perbandingan Bupivakain 2,5 mg Hiperbarik + Fentanil 25 mcg dengan Levobupivakain 5 mg Hiperbarik + Fentanil 25 mcg Alfan Mahdi Nugroho; Anas Alatas; Ambo Sumange
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 44 No 2 (2026): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55497/majanestcricar.v44i2.493

Abstract

Pendahuluan: Anestesia spinal merupakan prosedur anestesi yang umum dilakukan pada prosedur rawat jalan brakiterapi intrakaviter untuk kanker serviks. Pemilihan obat yang memiliki waktu kesiapan pulang yang lebih cepat diharapkan dapat membuat pasien pulang lebih cepat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui waktu kesiapan pulang pasca anestesia spinal dengan bupivakain 2,5 mg hiperbarik + fentanil 25 mcg dan levobupivakain 5 mg hiperbarik + fentanil 25 mcg pada brakiterapi.Metode: Penelitian ini menggunakan desain uji klinis acak yang tersamar tunggal yang dilaksanakan pada unit radiologi RSCM pada Januari – Juni 2021. Terdapat 48 orang subyek penelitian yang akan dibagi menjadi dua kelompok. Pengukuran waktu kesiapan pulang pada kedua kelompok dilakukan dengan menggunakan Modified PADSS score. Pengukuran waktu pulih dilakukan dengan menggunakan bromage score.Hasil: Variabel usia, berat badan, tinggi badan, indeks massa tubuh (IMT), dan skor ASA tidak berbeda bermakna antara kedua kelompok. Median waktu pulih pada kelompok bupivakain 2,5 mg hiperbarik + fentanil 25 mcg dan kelompok levobupivakain 5 mg hiperbarik + fentanil 25 mcg adalah 60 (30 – 120) menit dan 90 (60 – 120) menit (p<0,001) sedangkan rata-rata waktu kesiapan pulang adalah 130,00 ± 22,84 menit dan 170,00 ± 22,84 menit (p<0,001). Hipotensi terdapat 1 pasien (4,2%) pada kelompok bupivakain.Simpulan: Waktu kesiapan pulang, waktu pulih pasca anestesia spinal pada kelompok bupivakain 2,5 mg hiperbarik + fentanil 25 mcg lebih cepat jika dibandingkan dengan levobupivakain 5 mg hiperbarik + fentanil 25 mcg pada brakiterapi.