cover
Contact Name
Ida Bagus Alit Arta Wiguna
Contact Email
gusarta@iahn-gdepudja.ac.id
Phone
+6285739444989
Journal Mail Official
gusarta@iahn-gdepudja.ac.id
Editorial Address
Jln.Pancaka No. 7B Mataram, Nusa Tenggara Barat, Indonesia Telp. (0370) 628382 Fax. (0370) 631725
Location
Kota mataram,
Nusa tenggara barat
INDONESIA
Sophia Dharma: Jurnal Filsafat Agama Hindu dan Masyarakat
ISSN : 28296958     EISSN : 23388390     DOI : https://doi.org/10.53977/sd.v5i1
Weda: Aktualisasi Weda sehari-hari yang dilakukan oleh masyarakat Hindu tertentu, Hindu dan kearifan lokal: hubungan Hindu dan budaya, praktik pengajaran Hindu di masyarakat Hindu, dan budaya lokal lainnya yang dipraktikkan oleh masyarakat Hindu tertentu Hindu dan Politik: Radikalisme, aktivisme / gerakan Hindu, hubungan negara dan agama, dan dinamika partai politik Hindu Dialog antar-agama: interaksi dan hubungan antara masyarakat Hindu dan non- Hindu dalam kehidupan sehari-hari, kerukunan beragama, dan kebijakan tentang hubungan agama di masyarakat atau negara tertentu Filsafat: kajian pemikiran filsuf yang mengontekstualisasikan dengan kehidupan masyarakat; dan Isu-isu lain yang secara sosial, budaya, dan politik berkorelasi dengan filsafat ataupun ajaran agama Hindu.
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 2 No 2 (2019): SOPHIA DHARMA" : 5 Documents clear
CARU MAÑCA MEBAYANG-BAYANG GODEL BANG DI PURA DALEM KUNCI LINGKUNGAN BATUDAWA KELURAHAN TANJUNG KARANG KECAMATAN SEKARBELA KOTA MATARAM I Made Kastawa
Sophia Dharma: Jurnal Filsafat, Agama Hindu, dan Masyarakat Vol 2 No 2 (2019): SOPHIA DHARMA
Publisher : Program Studi Filsafat Agama Hindu IAHN Gde Pudja Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (859.769 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk melakukan kajian terhadap Upakara Caru Manca Mebayang-bayang Godel Bang di Pura Dalem kunci Batudawa, Kelurahan Tanjung Karang Kecamatan Sekar Bela, Kota Mataram. Penelitian ini dirancang dalam penelitian deskriptif kualitatif. Adapun rumusan masalah penelitian ini adalah : (1) Bagaimana bentuk Caru Manca Mebayang-Bayang Godel Bang di Jaba Pura Dalem Kunci; (2) Apa fungsi Caru Manca Mebayang-Bayang Godel Bang di Jaba Pura Dalem Kunci; dan (3) Apa makna Caru Manca Mebayang-Bayang Godel Bang di Jaba Pura Dalem Kunci, lingkungan Batudawa, Kelurahan Tanjung Karang, Kecamatan Sekar Bela, Kota Mataram. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa bentuk caru manca mebayang-bayang godel bang di Jaba Pura Dalem Kunci, (a) bentuk upakaranya sama dengan upakara caru manca sata, dan dilengkapi dengan belulang serta kepala godel bang, (b) prosesinya yang diawali dengan penancapan sanggar surya sebagai pesaksi, mapepada, dan pemujaan caru yang diakhiri dengan nglebar. Fungsi upakara caru manca mebayang-bayang godel bang di Jaba Pura Dalem Kunci adalah (a) fungsi religiusnya sebagai media untuk menghubungkan diri dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasinya sebagai Durga Mahesasura Mardini; (b) Fungsi sosial : sebagai media interaksi dan komunikasi sosial baik secara individu maupun kelompok intern Umat Hindu di Lombok. 3) Makna caru manca mebayang-bayang godel bang di Jaba Pura Dalem Kunci adalah : (a) bermakna sebagai peningkatan religiusitas (sradha dan bhakti) umat Hindu, dan (b) Peningkatan solidaritas sosial intern umat Hindu Kota Mataram.
DINAMIKA PELAKSANAAN UPACARA PITRA YADNYA DI TENGAH PERUBAHAN SOSIAL PADA UMAT HINDU DI DESA BABAKAN KECAMATAN GERUNG KABUPATEN LOMBOK BARAT I Ketut Sumada
Sophia Dharma: Jurnal Filsafat, Agama Hindu, dan Masyarakat Vol 2 No 2 (2019): SOPHIA DHARMA
Publisher : Program Studi Filsafat Agama Hindu IAHN Gde Pudja Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (318.89 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk melakukan kajian terhadap dinamika dalam pelaksanaan upacara pitra yadnya pada masyarakat Hindu di Desa Babakan, Kecamatan Gerung, Kabupaten Lombok Barat. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Rumusan masalah yang penelitian ini adalah berkaitan degan bentuk, proses, dan makna dinamika dalam dinamika pelaksanaan upacara pitra yadnya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa bentuk dinamika dalam pelaksanaan upacara pitra yadnya pada masyarakat Hindu di Desa Babakan diindikasikan oleh adanya perubahan dalam pelaksanaan upacara ngaben yang dahulu lebih menonjolkan aspek keluarga menjadi ngaben massal. Pelaksanaan ngaben yang dilakukan dalam keluarga hanya dibantu oleh orang-orang tertentu yang berkaitan dengan keluarganya atau berkaitan dengan sidhikara-nya. Setelah diadakan upacara ngaben massal masyarakat warga banjar membantu kegiatan upacara dan beberapa sawa (jenasah) dapat dilakukan upacara ngaben secara bersamaan. Proses dinamika dalam pelaksanaan upacara ngaben secara garis besarnya melalui tiga tahapan. Pertama, adanya gagasan dari tokoh umat Hindu untuk melaksanakan upacara ngaben secara massal. Kedua, implementasi gagasan tersebut ke dalam tindakan nyata sehingga berwujud kegiatan ngaben massal. Ketiga, keberlanjutan pelaksanaan upacara ngaben massal karena memiliki manfaat bagi masyarakat Hindu di Desa Babakan. Makna dinamika dalam pelaksanaan upacara pitra yadnya di Desa Babakan secara umum ada empat. Pertama, makna ekonomi yaitu berkaitan dengan pengurangan biaya. Kedua, makna sosial berkaitan dengan menguatkan hubungan-hubungan sosial antarwarga. Ketiga, makna religius berkaitan dengan melaksanakan kewajiban sesuai dengan ajaran agama. Keempat, makna pendidikan meningkatkan pengetahuan dalam membuat sarana-sarana upacara ngaben.
EKSISTENSI TIRTHA PENEMBAK DALAM UPACARA NGABEN DI KECAMATAN NARMADA KABUPATEN LOMBOK BARAT I Made Kukuh Redana
Sophia Dharma: Jurnal Filsafat, Agama Hindu, dan Masyarakat Vol 2 No 2 (2019): SOPHIA DHARMA
Publisher : Program Studi Filsafat Agama Hindu IAHN Gde Pudja Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1194.746 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk melakukan kajian terhadap eksistensi tirtha penembak dalam pelaksanaan upacara ngaben pada masyarakat Hindu di Kecamatan Narmada, Kabupaten Lombok Barat. Penelitian ini dirancang dalam penelitian deskriptif kualitatif untuk menjawab rumusan masalah, yaitu bagaimana eksistensi, apa fungsi tirtha penembak, dan apa makna tirtha penembak dalam upacara ngaben. Berdasarkan hasil penelitian ini diperoleh eksistensi tirtha penembak dalam pelaksanaan upacara ngaben sampai saat ini selalu digunakan dalam setiap upacara ngaben oleh umat Hindu Kecamatan Narmada khususnya dan umat Hindu di Lombok pada umumnya. bahwa Sumber rujukan penggunaan tirtha penembak adalah kitab Itihasa, yaitu dalam kitab Mahabaratha. Fungsi Tirtha Penembak dalam upacara ngaben adalah sebagai sarana penyucian Atmanatau roh, bahwa unsur-unsur Panca Maha Bhuta yang membentuk Bhuwana Alitdikembalikan ke asalnya. (Panca Maha Bhuta). Penyucian atman harus dilakukan secara terus menerus oleh keturunan yang meninggal dengan cara selalu berbuat kebajikan yang akan dapat menumbuhkan kesejukan dalam kehidupan sehari-hari serta kedamaian dan ketentraman yang akan berdampak kepada kedamaian roh dialam Nirwana. Makna Tirtha Penembak dalam Upacara Ngaben. Setiap kegiatan ritual dengan nama yang berbeda sesuai dengan maksud dan tujuan tertentu, karena itu Tirtha Penembak untuk membuka jalan roh dan hanyadigunakan pada saat upacara Pitra Yadnya serta meninggalkan unsur Panca Maha Bhuta dengan pemberian Tirtha Penembak. Sehingga tujuan dari kita hidup bisa tercapai yaitu moksa
PENGUATAN HUBUNGAN SOSIAL DI KALANGAN WARGA PANDE DI KOTA MATARAM I Gusti Komang Kembarawan
Sophia Dharma: Jurnal Filsafat, Agama Hindu, dan Masyarakat Vol 2 No 2 (2019): SOPHIA DHARMA
Publisher : Program Studi Filsafat Agama Hindu IAHN Gde Pudja Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (722.812 KB)

Abstract

Tulisan ini merupakan hasil penelitian yang bertujuan untuk melakukan analisis terhadap penguatan ikatan sosial pada klan Pande terkait kehidupan beragama Hindu di Kota Mataram. Penelitian ini difokuskan pada gerakan sosial keagamaan yang dilakukan oleh klan Pande sebagai bagian dari upaya untuk membangun kesatuan di kalangan internal klan Pande. Penelitian ini dirancang dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif untuk menjawab ketiga rumusan masalah, yaitu latar belakang, dampak, dan makna penguatan hubungan sosial di kalangan warga Pande pada masyarakat Hindu di Kota Mataram.Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa latar belakang terwujudnya hubungan sosial di kalangan warga Pande berkaitan adanya kesadaran untuk mengingat kawitan sesuai dengan yang diamanatkan dalam bhisama agar mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari, yakni mempererat tali persaudaraan di antara mereka yang berada dalam satu garis keturunan warga Pande. Dampak positif dari adanya penguatan ikatan-ikatan sosial tersebutcenderung untuk saling mengingat persaudaraan yang pada akhirnya dapat mewujudkan kehidupan yang harmonis di kalangan sesama warga Pande. Dampak negatif yang ditimbulkan sampai saat ini adanya pengutuban dengan warga lain. Makna penguatan hubungan sosial di kalangan warga Pande, seperti makna solidaritas, makna religius, makna budaya, dan makna pendidikan. Makna solidaritas berkaitan dengan penguatan ikatan kekerabatan, khususnya di kalangan warga Pande. Makna religius berkaitan dengan adanya kesadaran untuk mengingat leluhur dan bhatara-bhatari melalui kegiatan-kegiatan upacara keagamaan. Makna budaya berkaitan dengan pelestarian budaya dalam wujud pelaksanaan ritual, seperti yang dilakukan para pendahulunya. Makna pendidikan berkaitan dengan peningkatkan pemahaman terhadap kegiatan-kegiatan sosial keagamaan sesuai yang diamanatkan dalam bhisama.
MENYINGKAPKAN ASUMSI PRAGMATISME DI BALIK KEBIJAKAN PUBLIK Anastasia Jessica Adinda S
Sophia Dharma: Jurnal Filsafat, Agama Hindu, dan Masyarakat Vol 2 No 2 (2019): SOPHIA DHARMA
Publisher : Program Studi Filsafat Agama Hindu IAHN Gde Pudja Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (594.301 KB)

Abstract

Kesesuaian antara kebijakan publik dengan orientasi untuk mencapai kebaikan umum adalah suatu hal yang perlu senantiasa diupayakan. Hal ini terkait dengan relasi antara pragmatisme dan kebijakan publik itu sendiri. Namun penerapan cara pandang pragmatis tersebut dalam kebijakan publik sering kali terlepas dari kepentingan publik. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dalam bidang filsafat yang berusaha mengkaji asumsi-asumsi pragmatisme dalam kebijakan publik dengan menggunakan perspektif epistemologi pragmatisme awal seperti pemikiran dari Charles Sanders Pierce, William James dan John Dewey. Hasil yang dicapai adalah: (1) pragmatisme dalam bidang ilmu sosial awalnya adalah suatu paham yang mengedepankan penerapan ilmu dalam permasalahan-permaslahaan sosial secara konkret, (2) Penerapan cara pandang pragmatis dalam kebijakan publik lambat laun terlepas dari kepentingan publik terjebak dalam situasi dehumanisasi, (3) konsekuensi logis dari diabsolutkannya konsekuensi praktis dan kegunaan yang mengakibatkan pragmatisme alih-alih membawa pada kebaikan umum, malahan dalam kondisi tersebut manusia menjadi sarana untuk mencapai kepentingan penumpukan modal, atau sarana untuk mencapai kepentingan segelintir golongan

Page 1 of 1 | Total Record : 5