cover
Contact Name
Alice Whita Savira
Contact Email
alicewhitasavira@usd.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
suksma@usd.ac.id
Editorial Address
Fakultas Psikologi, Universitas Sanata Dharma Kampus III Paingan, Maguwoharjo, Depok, Sleman, Yogyakarta 55581
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Suksma: Jurnal Psikologi Universitas Sanata Dharma
ISSN : 14129426     EISSN : 27454185     DOI : doi.org/10.24071/suksma
Core Subject : Humanities,
Jurnal Suksma adalah jurnal open access yang bertujuan untuk mendiseminasikan penelitian di bidang ilmu psikologi. Jurnal suksma menerima naskah dalam area Psikologi Sosial, Psikologi Industri Organisasi, Psikologi Klinis, Psikologi Pendidikan, Psikologi Perkembangan, Psikologi Kognitif, dan Psikometri dengan berbagai metodologi riset yang sesuai dengan standar publikasi jurnal. Target pembaca jurnal ini adalah akademisi, mahasiswa, praktisi, dan profesional lain yang tertarik dengan bidang ilmu psikologi.
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 4, No 2 (2023)" : 8 Documents clear
Taksonomi Kewenangan Psikolog Supratiknya, Augustinus
Suksma: Jurnal Psikologi Universitas Sanata Dharma Vol 4, No 2 (2023)
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/suksma.v4i2.5766

Abstract

Law number 23 of 2022 concerning “psychology education and services” stipulates that the division of qualifications among Psikolog Umum, Psikolog Spesialis, and Psikolog Subspesialis should be regulated in a specific Peraturan Pemerintah. This article proposes a Taxonomy of Qualifications of Psychologists based on the goals of the provision of psychological intervention (promotion, prevention, cure, rehabilitation, and palliation) as well as the degrees of the psychological problems (normal, mild, and severe) of clients.
Rumus Slovin : Panacea Masalah Ukuran Sampel ? Santoso, Agung
Suksma: Jurnal Psikologi Universitas Sanata Dharma Vol 4, No 2 (2023)
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/suksma.v4i2.6434

Abstract

Slovin’s formula was a popular formula employed to calculate sample size in psychological research in Indonesia. There were not many Indonesian academic publications in Psychology discussing the use of the formula. Most of discussion regarding the use of the formula were conducted in social media platform, which were incomplete or inaccurate at their best. The current article was written to provide a deeper look at the formula and its limitation. One simulation study was conducted to provide empirical basis for evaluating the use of the formula in different contexts. It was concluded that the application of Slovin’s formula was limited to a very specific research context and that employing the formula for calculating sample sizes in different contexts may result in lower precision of parameter estimation.
Kesepian dan Regulasi Emosi pada Emerging Adulthood Theja, Vanessa; Witarso, Laurentius Sandi
Suksma: Jurnal Psikologi Universitas Sanata Dharma Vol 4, No 2 (2023)
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/suksma.v4i2.6454

Abstract

Abstract. Emerging adulthood is marked by the stage of experiencing intimacy vs isolation where they need to establish intimate relationships with their surroundings. Failure in establishing close relationships with those around him can make they feel lonely and will experience a variety of negative emotions. Emotion regulation is one way for individuals to control the emotions. Research on loneliness and emotion regulation needs to be studied further because there is a lot of focus on elderly subjects. The purpose of this study was to determine the relationship between loneliness and emotion regulation including cognitive reappraisal and expressive suppression on early adulthood individuals. The research was conducted using a quantitative method with a correlational design. Participants in this study are 138 people with an age range of 18-25 years. Researchers used the convenience sampling method and used the third version of the UCLA Loneliness Scale and the Emotion Regulation Questionnaire (ERQ). Data were analyzed using Pearson's correlation to examine the correlation between the two variables. The results showed that loneliness in early adulthood was correlated with expressive suppression (r = 0.35, n = 138, p 0.05, two-tailed). Early adulthood individuals tend to use expressive suppression as an emotion regulation strategy when experiencing loneliness. Meanwhile, loneliness did not correlate with cognitive reappraisal because it is suspected that individuals tend to have good well-being  (r = 0.05, n = 138, p 0.05, two-tailed). Future research can examine other factors that can influence the relationship between the two variables in early adulthood.   
Gambaran Perilaku Komunikasi Guru Sekolah Menengah Pertama berdasarkan Konstruk Teacher Communication Behaviour Questionnaire (TCBQ) Suprawati, M.M Nimas Eki; Savira, Alice Whita; Rosita, Febriana Ndaru
Suksma: Jurnal Psikologi Universitas Sanata Dharma Vol 4, No 2 (2023)
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/suksma.v4i2.6775

Abstract

This study aims to describe communication behavior of Indonesian junior high school teachers based on the construct of the Teacher Communication Behavior Questionnaire (TCBQ). It was conducted in response to the need to develop teacher communication measurement with a clear construct to improve the quality of teacher communication research in Indonesia. Culture plays an important role in affecting communication behavior. It is necessary to study whether TCBQ's constructs are also found in teacher communication in Indonesia. Teacher communication behavior is important for learning, especially for students in early adolescence. This research used qualitative descriptive. Eleven junior high school teachers participated in this study using naturalistic observation obtained through video recording in the classroom. The results showed that according to the TCBQ perspective, participants perform four types of communication behavior: (1) challenging; (2) encouraging-praise; (3) understanding-friendly; and (4) controlling.
Literasi Digital pada PNS Sabatti, P. Henrietta P. D. A. D.
Suksma: Jurnal Psikologi Universitas Sanata Dharma Vol 4, No 2 (2023)
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/suksma.v4i2.6937

Abstract

Abstrak Masyarakat dalam era digital dikarakteristikkan dengan penggunaan teknologi yang sangat luas. Perkembangan teknologi digital yang masif memiliki pengaruh yang besar pada cara hidup kebanyakan orang. Untuk menghadapi perkembangan teknologi, dibutuhkan literasi digital yang baik. Literasi digital tidak hanya dibutuhkan oleh masyarakat secara umum, tetapi juga dibutuhkan di sektor pelayan publik seperti pada Pegawai Negeri Sipil (PNS). Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran tentang literasi digital pada PNS. Partisipan penelitian ini adalah PNS dari beberapa kota di Indonesia yang berjumlah 426 partisipan, dengan 138 pria dan 288 wanita. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner yang berisi pertanyaan demografis, dan skala literasi digital (α = 0,952). Hasil analisis menunjukkan bahwa usia, dan lama bekerja berkorelasi negatif dengan literasi digital. Sedangkan tingkat pendidikan dan durasi atau lamanya mengakses internet berkorelasi positif dengan literasi digital.  
Bukan Sekadar Konfirmatorik Widiyanto, YB. Cahya
Suksma: Jurnal Psikologi Universitas Sanata Dharma Vol 4, No 2 (2023)
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/suksma.v4i2.7386

Abstract

Adalah James Earle Deese (1921–1999), murid B.F. Skinner, seorang peneliti psikologi kognitif yang berparadigma sosial berpendapat bahwa fakta merupakan hasil interpretasi subjektif dari subjek pengamatnya. Pernyataan ini didasarkan pada penelitiannya yang konsisten tentang fakta, ingatan dan bahasa dalam karir sebagai peneliti psikologi. Ia menerangkan bahwa fakta adalah pemahaman subjek tentang stimulus atau data, yang terbentuk oleh ingatan. Ingatan (memory) sebenarnya adalah state dibentuk oleh bahasa dan pengalaman kesehariannya. Lantas Deese pun memberikan kesimpulan tegas bahwa subjektivitas memiliki kontribusi yang besar dalam lahirnya sebuah fakta apa pun, karena alasan peran ingatan (Deese, 1972 dalam Gross, 2017).Bahasa adalah penentu ingatan yang dikonstruksi oleh lingkungan subjek (Marshall Deese, 1968). Bahasa adalah artikulasi manusia yang dibangun sebagai hasil interaksinya dengan lingkungannya. Segala peristiwa perjumpaan yang dialami seseorang dimediasi oleh sistem koding tertentu yang memungkinkan satu dengan yang lain terhubung. Selanjutnya bisa diidentifikasi bahwa lingkungan yang berbeda akan melahirkan variasi  bahasa; bahasa subjek adalah representasi dari masing masing lingkungannya (Chomsky, 1986; 2000; Wilson, 2005).Lingkungan adalah bagian dari determinasi ingatan yang menentukan lahirnya fakta. Jika ternyata konten dan karakter ingatan ditentukan oleh bahasa,  maka jelaslah bahwa kontribusi lingkungan menjadi layak untuk diperhitungkan ketika mengkaji sebuah fakta. Seperti dikatakan Deese dan kawan kawannya ingatan bentukan lingkungan adalah referensi yang memberikan semacam “kerangka” bagi subjek dalam memahami suatu data atau objek yang dijumpainya. Salah satu penelitian yang terinspirasi oleh pemikiran Deese tentang memori dan bahasa yaitu Roedinger McDermott yang di pada tahun 1995 dengan judul “Creating False Memories: Remembering Words Not Presented in Lists”, dan mencetuskan paradigma paradigma Deese-Roediger-McDermott (DRM), yang merupakan teknik eksplorasi dalam terjadinya ingatan palsu (false memory). Dalam paradigma ini, peserta diberikan daftar kata-kata yang semuanya terkait dengan kata kritis yang tidak ditampilkan. Misalnya, jika kata kritis adalah "tidur," daftar tersebut mungkin termasuk kata-kata seperti "tempat tidur," "mimpi," dan "lelah." Peserta kemudian diminta untuk mengenali kata-kata yang mereka lihat, dan ternyata para peserta lebih sering melaporkan pemahaman yang sebenarnya tidak ada dalam daftar probabilitas kata kritis. Penelitian ini telah memberikan wacana dalam studi tentang ingatan, bahasa, dan bagaimana fakta terbentuk.  Ingatan adalah sebuah referensi membangun fakta pengetahuan. Ingatan adalah data yang telah terkonstruksi sedemikian rupa dalam kognitif subjek, selanjutnya menjadi sistem atau model asosiasi (Deese, 1972; Carruthers, 1990; Copenhaver, 2006). Objek atau data yang baru yang dijumpai subjek akan diasosiasikan dengan model ingatan dan akhirnya pemahaman fakta tentang suatu objek terbentuk, menjadi informasi dan memiliki prospek menjadi pengetahuan (Engel, 1999; Danziger, 2002). Cara pandang ini menyiratkan bahwa sebenarnya tiada fakta pengetahuan yang bisa diberlakukan secara universal, dengan mempertimbangkan ragam lingkungan yang membangun variasi ingatan dalam subjek.***Diskusi tentang bagaimana peran ingatan sebagai referensi pembentukan fakta dan pengetahuan adalah layak untuk dipertimbangkan dalam memahami ilmu psikologi dalam perspektif kontekstual maupun generik. Hal ini sangat berguna dalam membangun kemampuan distingsi dalam membaca perkembangan dan aktualitas psikologi yang berkembang. Kemampuan distingtif dalam membaca perkembangan dan aktualitas pengetahuan psikologi merujuk pada pilihan kesadaran kita dalam memperlakukan hasil-hasil penelitian psikologi; hasil yang bersifat teoritis logis, dan mana yang relevan dengan kebutuhan dan konteks nyata (Gross, 2017).  Diakui, lebih banyak hasil penelitian psikologi yang lebih bertujuan mempertajam sisi logis teoritik dalam psikologi daripada yang berfokus pada persoalan- persoalan yang kontekstual (Ratner, 1991; Gross 2017). Pada sisi yang lain melalui pertimbangan tersebut, sebagai peneliti kita memiliki kesempatan untuk membuka diskusi kritis kepada publik ilmiah psikologi tentang evaluasi dan refleksi soal penerapan teori psikologi arus utama yang dijadikan referensi dalam meneliti problem lokal. Sekurang kurangnya, kedua kepentingan ini berguna untuk membangun kesadaran dan peta jalan pengembangan ilmu psikologi yang lebih relevan bagi kebutuhan masyarakat kita.Kita tentu menyadari bahwa batu bata pengetahuan yang berupa teori dan perspektif yang telah dirintis oleh para pelopor psikologi adalah sangat bernilai, dan menjadi kapital penting dalam menerapkan dan mengembangkan psikologi sebagai ilmu. Perspektif dan teori tersebut memberikan dasar pemahaman bagi para ilmuwan dan praktisi psikologi dalam memahami perilaku. Teori dan perspektif dapat dianggap semacam “ingatan” dalam memahami data, seperti teori psikologi digunakan dalam mencerna data perilaku menjadi fakta pengetahuan.Perspektif dan teori psikologi yang generik esensial menjadi instrumen yang telah lazim digunakan dalam penelitian psikologi. Umumnya penelitian psikologi yang saya baca, selalu menggunakan teori teori besar psikologi sesuai topiknya sebagai landasan untuk mendefinisikan data, gejala dan membangun pemaknaan simpulan psikologisnya. Dari berbagai bidang penelitian yang ada dalam psikologi seperti  diketahui, tidak pernah sekalipun melewatkan  pembubuhan teoritis salah satu (atau justru semua)  mazhab psikologi (Psikoanalisa, Behaviorisme, Humanistik, Psikologi Gestalt, Psikologi Positif, Psikologi Transpersonal dan Psikologi lintas Budaya) dalam mendefinisikan kajiannya. Tentu ini adalah sah sah saja, karena sebagai peneliti kita perlu mengantar, menjelaskan objek kajian kepada pembacanya, hingga peneliti sekaligus pembaca terbantu dalam berkomunikasi tentang topik penelitian.Cara kerja konfirmatorik menjadi tren dalam pembacaan data psikologi (Ratner, 1991; Gross, 2017). Paradigma dan teori psikologi yang pernah lahir dalam ruang pengetahuan secara masif digunakan oleh para peneliti sebagai “kacamata” untuk melihat data yang ditemukan. Cara kerja konfirmatorik dalam meneliti memang memberikan kemudahan bagi peneliti untuk menentukan judgement criteria terhadap data dan hasilnya, sehingga arah tindakan penelitian tampak lebih jelas (Danziger, 2002). Selanjutnya melalui jalan konfirmatorik peneliti barangkali juga dimudahkan dalam menentukan dan mengontrol konten dan karakter objek kajiannya, sekaligus dapat menyusun argumen yang lebih jelas dalam penelitian. Secara praktis penelitian (dan juga tindakan psikologis) dapat membangun kesan tentang hasil dan penjelasan yang kredibel dan komunikatif. Titik lemah paradigma konfirmatorik dalam penelitian terletak pada aktualitas dan kontekstualitasnya (Danziger, 2002; Gross, 2017). Hal ini sangat mungkin terjadi karena pergerakan realitas dunia, termasuk realitas keperilakuan yang sangat dinamis. Melalui perubahan segala dimensi dan spektrum kehidupan yang pesat terjadi, maka realitas dan problem perilaku juga bergerak dan berubah (Giddens, 2003). Kombinasi perubahan konteks temporal, geografis dan struktural telah melahirkan data data keperilakuan yang tak lagi cermat terbaca oleh teori- teori (ingatan yang bukan lokal) psikologi yang kemarin lalu. Tentu kenyataan ini mengingatkan kita tentang risiko dalam menjalani cara berpikir konfirmatorik alam penelitian.Membuka ruang inklusif dalam model konfirmatorik menjadi pertimbangan penting. Menyadari potensi persoalan di balik kejelasan dalam cara berpikir konfirmatorik, perlu sebuah improvisasi untuk memberikan ruang bagi cara berpikir inklusif dalam praktek konfirmatorik. Jika hasil penelitian hanya berhenti pada kesimpulan sesuai dan tidak sesuai, sejalan atau berlawanan dengan sebuah ground theories-nya, barangkali sebuah penelitian sekadar wujud replikasi saja, dan yang kurang mendukung aktualitas dan pengembangan pengetahuan. Seperti yang dikhawatirkan oleh Karl Popper (1959), bahwa konfirmatorik dalam penelitian ilmiah hanya akan menghasilkan penegasan ulang yang kurang sebenarnya tidak membuat pengetahuan berkembang. Karl Popper menyebutnya sebagai arah pengembangan pengetahuan yang meluas namun tidak mendalam.Agenda temuan tambahan sebagai langkah praktis inklusif. Kesadaran pada praktek penelitian yang tidak berhenti pada konfirmasi hipotetik menunjuk pada semangat curiosity peneliti untuk mengetahui lebih dalam tentang hasil analisis data yang ditemukannya, dan mengartikulasikannya dalam agenda “temuan tambahan”. Selain menuruti hipotesa penelitian, sebaiknya peneliti juga memberdayakan konteks dalam analisis dengan mencari dan menemukan hasil hasil yang khas dari data penelitian. Hal ini dapat dilakukan melalui penyajian temuan temuan khas di luar hipotesa penelitian menjadi bagian dari temuan penelitian. Sebagai sebuah penelitian yang mungkin akan dibaca publik psikologi melalui proses publikasi, sajian temuan tambahan (temuan lain di luar hipotesis) ini barangkali akan menjadi hasil penelitian yang akan memperkaya muatan penelitian; secara praktis hal ini juga membuka kemungkinan untuk menginspirasi publik psikologi untuk mendalami dan barangkali meneruskan dalam agenda penelitian yang baru.Ruang inklusi dalam praktek penelitian psikologi memberikan kemungkinan pengembangan ilmu psikologi secara lebih komprehensif.  Selain berpegang teguh pada teori dan perspektif yang telah kokoh dan diyakini banyak orang, rupanya keterbukaan pada gejala dan dinamika yang kontekstual dan terlihat marginal juga tak kalah pentingnya. Keberanian untuk melibatkan gejala dan kekuatan kontekstual menjadi penting bagi pengembangan ilmu psikologi yang aktual dan kritis, supaya kita tidak tergelincir pada gerakan replikasi yang berpotensi membawa psikologi pada diskusi pengetahuan yang formal semata.***Dalam SUKSMA edisi Oktober 2023 ini,  kami menghaturkan 6 artikel penelitian terpilih: (1) Studi Kasus: Pengaruh Cognitive Behavior Therapy (CBT) pada Klien dengan Diagnosa Gangguan Afektif Bipolar, (2) Rumus Slovin: Panacea Masalah Ukuran Sampel?, (3) Kesepian dan Regulasi Emosi pada Emerging Adulthood, (4) Gambaran Perilaku Komunikasi Guru Sekolah Menengah Pertama berdasarkan Konstruk Teacher Communication Behaviour Questionnaire (TCBQ), (5) Program Intervensi Narimo Ing Pandum dalam Meningkatkan Penerimaan Diri ADHA di Kota Yogyakarta, (6) Literasi digital pada PNS;   dan 1 artikel gagasan: Taksonomi Kewenangan Psikolog.Dengan segala hal yang barangkali kurang sempurna kami berharap para pembaca dapat menikmati sajian kami. Masih dalam semangat membangun ruang inklusi dalam pengembangan pengetahuan psikologi melalui ketujuh atikel ini, SUKSMA mengajak para pembaca untuk mengkritisi dan membangun diskusi yang berkontribusi bagi pengembangan pengetahuan psikologi yang progresif dan aktual. Terima kasih  
Program Intervensi Narimo Ing Pandum dalam Meningkatkan Penerimaan Diri ADHA di Kota Yogyakarta Hanifa, Dea Aurellia; Hayatun Najah, Desita Amalia; Syakila, Ghania Bilqistiyani; Simatupang, Jeremia
Suksma: Jurnal Psikologi Universitas Sanata Dharma Vol 4, No 2 (2023)
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/suksma.v4i2.6560

Abstract

According to the Ministry of Health, around 1.7 million children under the age of 14 globally are living with HIV. The condition of physical hardship and social rejection of ADHA makes ADHA have a negative perception that then affects his acceptance. This study aimed to evaluate the effect of the Narimo Ing Pandum intervention program in increasing self-acceptance among children with HIV. In this study, a total of 9 children with HIV aged 7 to 15 years were recruited. The study method used is experimental research design of one group pretest-posttest, and data analysis techniques using t-test statistical analysis techniques. The results showed that the levels of self-acceptance weren’t significantly different before and after the intervention.
Studi Kasus: Pengaruh Cognitive Behavior Therapy (CBT) pada Klien dengan Diagnosa Gangguan Afektif Bipolar Ginting, Anette Isabella
Suksma: Jurnal Psikologi Universitas Sanata Dharma Vol 4, No 2 (2023)
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/suksma.v4i2.6271

Abstract

This study aims to explore how the cognitive behavioural therapy affected a client with bipolar affective disorder. Participant was a 25-years-old woman (SM) who is diagnosed with bipolar disorder specify current or most recent episode: manic, depressed (F31.6). Before beginning the therapy session, the participant completed a series of assessment, including interview (autoanamnesa and alloanamnesa), observation, graphic tests (BAUM, DAP, HTP Wartegg) and Sack’s Sentence Completion Test (SSCT) to evaluate the participant’s personality, and Standard Progressive Matrices (SPM) to assess cognitive ability. Therapy was conducted in 5 sessions (1 session each week) with additional daily task to track the thoughts and behaviors pattern. The result shows a decrease in depression scores (BDI-II) and also SUDS (Subjective Unit Disturbance Scale). Qualitatively, CBT helps the participant to select her own automatic negative thoughts and form more adaptive thinking pattern by her own. Participant also shows an increasing score in GAF (Global Assesment Functioning) after completing the whole therapy sessions

Page 1 of 1 | Total Record : 8