cover
Contact Name
Eko Didik Widianto
Contact Email
rumah.jurnal@live.undip.ac.id
Phone
+62247474750
Journal Mail Official
editor@ift.or.id
Editorial Address
Gedung B Lantai 3 Fakultas Peternakan dan Pertanian Universitas Diponegoro, Jl. Prof. Soedarto, Tembalang, Semarang 50275.
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Teknologi Pangan
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : 25979892     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal Teknologi Pangan memuat artikel ilmiah di bidang teknologi pangan yang meliputi bidang: mikrobiologi pangan, kimia dan gizi pangan, bioteknologi pangan, rekayasa pangan dan hasil pertanian. Bidang ilmu lain yang terkait dengan pangan juga akan dimuat dalam jurnal ini selama fokus utama artikel adalah tentang teknologi pangan.
Articles 185 Documents
Pengaruh Perbedaan Formulasi MPASI Instan Ubi Jalar Ungu dan Kacang Hijau terhadap Densitas Kamba dan Mutu Organoleptik fatimatuz zahra; Yoyok Budi Pramono; Valentinus Priyo Bintoro
Jurnal Teknologi Pangan Vol 3, No 2 (2019)
Publisher : Program Studi Teknologi Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (40.346 KB) | DOI: 10.14710/jtp.2019.24047

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk mengkaji pengaruh perbedaan formulasi MPASI instan ubi jalar ungu dan kacang hijau terhadap mutu fisik densitas kamba MPASI instan dan mengetahui formulasi konsentrasi tepung ubi jalar ungu dan tepung kacang hijau yang paling tepat menghasilkan MPASI instan yang paling baik secara organoleptik. Penelitian ini menggunakan 5 perlakuan dan 4 kali ulangan dengan variasi formulasi tepung ubi jalar dan tepung kacang hijau yaitu T1 dengan perbandingan 50%:50%, T2 dengan perbandingan 60%:40%, T3 dengan perbandingan 70%:30%, T4 dengan perbandingan 80%:20%, dan T5 dengan perbandingan 90%:10%. Bahan baku yang digunakan berupa tepung ubi jalar ungu, tepung kacang hijau, susu bubuk, dan gula halus. Metode dalam penelitian ini yaitu pembuatan tepung ubi jalar ungu, pembuatan tepung kacang hijau, dan pencampuran bahan metode dry mixing. Hasil penelitian menunjukkan bahwa formulasi MPASI instan dengan variasi konsentrasi tepung ubi jalar ungu dan tepung kacang hijau berpengaruh nyata pada terhadap densitas kamba, warna, dan tekstur. Perlakuan paling baik yaitu T4 dengan perbandingan 80%:20% yang menghasilkan densitas kamba 0.80g/ml dan memiliki mutu organoleptik berwarna ungu, agak lembut, harum, dan manis pada MPASI instan. The purpose of this observation was to analize the effect of the difference the instant complementary feeding formulation of purple sweet potato and mung bean on the physical quality bulk density and to find out the most appropriate formulation of purple sweet potato flour and mung bean flour which produced the best organoleptic instant complementary feeding  expression. This study used 5 treatments and 4 replications with variations in the formulation of sweet potato flour and green bean flour, namely T1 with a ratio of 50%: 50%, T2 with a ratio of 60%: 40%, T3 with a ratio of 70%: 30%, T4 with a ratio 80%: 20%, and T5 with a ratio of 90%: 10%. The methods in this observation include making of purple sweet potato flour, making mung bean flour, and mixing the formulation using dry mixing method. The raw materials used are purple sweet potato flour, green bean flour, milk powder, and refined sugar. The results showed that the instant complementary feeding  formulation with variations in the concentration of purple sweet potato flour and mung bean flour had a significant effect on the bulk density, colors, and textures. The best treatment was T4 with a ratio of 80%: 20% which results in a density of 0.80g / ml and has an organoleptic quality in purple, rather soft, fragrant, and sweet in instant expansion.
Karakteristik Uji Kesukaan, Fisik, dan Kimia Frozen Yoghurt dengan Penambahan Milk Cascara Setyoningsih Budirahayu; Anang M. Legowo; Siti Susanti
Jurnal Teknologi Pangan Vol 4, No 1 (2020)
Publisher : Program Studi Teknologi Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (230.624 KB) | DOI: 10.14710/jtp.2020.27022

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan milk cascara arabika terhadap karakteristik uji kesukaan, karakteristik fisik meliputi daya leleh, overrun, dan warna serta karakteristik kimia meliputi total padatan, pH dan aktivitas antioksidan. Penelitian ini menggunakan 5 perlakuan dan 4 kali ulangan dengan variasi konsentrasi milk cascara yaitu T0 = 0%, T1 = 10%, T2 = 20%, T3 = 30% dan T4 = 40%. Bahan baku yang digunakan yaitu milk cascara arabika, yoghurt plain, whipping cream, kuning telur, gula, dan CMC. Hasil dari penelitian ini yaitu penambahan konsentrasi milk cascara arabika yang berbeda memberikan pengaruh yang nyata terhadap uji kesukaan dengan atribut warna dan overall kesukaan, karakteristik fisik yang meliputi warna, daya leleh, dan overrun serta berpengaruh terhadap karakteristik kimia yang meliputi total padatan, uji pH dan aktivitas antioksidan. Perlakuan yang paling optimal yaitu dengan konsentrasi milk cascara arabika T1 (10%) karena menghasilkan tingkat kesukaan warna yang optimum dan diterima secara overall oleh panelis, dengan hasil nilai daya leleh 8.54 menit, warna L* 90.50, a*3.75 dan b*15.50, total padatan 70.49%, pH 4.89, dan aktivitas antioksidan sebesar 30.55%. This study aims to determine the effect of the addition of Arabica cascara milk to the preference test characteristics, physical characteristics include melting power, overrun, and color as well as chemical characteristics including total solids, pH and antioxidant activity. This study used 5 treatments and 4 replications with variations in the concentration of milk cascara namely T0 = 0%, T1 = 10%, T2 = 20%, T3 = 30% and T4 = 40%. The raw materials used are Arabica cascara milk, plain yogurt, whipping cream, egg yolks, sugar, and CMC. The results of this study are the addition of different concentrations of Arabica cascara milk that has a significant effect on the preference test with color attributes and overall preference, physical characteristics including color, melting power, and overrun and also affect the chemical characteristics including total solids, pH test and antioxidant activity. The most optimal treatment is the Arabica milk cascara T1 concentration (10%) because it produces the optimum level of color preference and is accepted overall by the panelists, with the yield value of 8.54 minutes melting, color L* 90.50, a* 3.75 and b* 15.50, total solids are 70.49%, pH 4.89, and antioxidant activity is 30.55%.
Pengaruh Penggunaan F1 Grain Kefir sebagai Starter terhadap Kadar Alkohol, Total Khamir dan Kesukaan Kefir Optima Azalia Rohmani Surya Sari; Nurwantoro Nurwantoro; Antonius Hintono; Sri Mulyani
Jurnal Teknologi Pangan Vol 4, No 2 (2020)
Publisher : Program Studi Teknologi Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (315.108 KB) | DOI: 10.14710/jtp.2020.24477

Abstract

F1 grain kefir merupakan starter induk turunan pertama dalam pembuatan kefir. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan starter F1 grain kefir terhadap kadar alkohol, total khamir dan kesukaan pada kefir optima. Rancangan penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan dan 4 kali ulangan, perlakuan yang diberikan yaitu  variasi konsentrasi starter grains kefir (F1), yaitu T0 = F1 grain kefir (tanpa pengenceran); T1 = 1 bagian F1 grain kefir : 6 bagian susu murni ; T2 = 1 bagian F1 grain kefir : 7 bagian susu murni ; T3 = 1 bagian F1 grain kefir : 8 bagian susu murni ; T4 = 1 bagian F1 grain kefir : 9 bagian susu murni. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan variasi konsentrasi starter F1 grain kefir memberikan pengaruh nyata (P<0,05) terhadap kadar alkohol, total khamir dan kesukaan kefir).  Perlakuan penggunaan starter F1 grain kefir yang terbaik adalah perlakuan T3 (1 bagian F1 grain kefir : 8 bagian susu murni) dengan nilai kadar alkohol 0,36%, total khamir 7,86 cfu/ml dan kefir optima disukai panelis. F1 grain kefir is first starter of the mother culture in making kefir. This research aimed to determine the effect of using F1 grain kefir starter on alcohol content, total yeast and preference for kefir optima. This experimental design used Completely Randomized Design (CRD) with 5 time treatment and 4 replications, the treatment which given was a variation of the concentration starter grain kefir (F1), namely T0 = F1 grain kefir (without dilution); T1 = a part T1 grain kefir : 6 parts of pure milk ; T2 = a part of T1 grain kefir: 7 parts of pure milk ; T3 = a part of F1 grain kefir : 8 parts of pure milk ; T4 = a part of F1 grain kefir : 9 parts of pure milk. The results showed that the use of variations in the concentration of starter F1 grain kefir had a significant effect (P <0.05) on alcohol content, total yeast and kefir preferences. The best treatment for used F1 starter kefir was T3 (1: 8) treatment with an alcohol content of 0.36%, total yeast 7.86 cfu/ml and kefir optima preferred by panelist. 
Rendemen dan Kadar Protein Konsentrat Protein Kacang Tunggak (Vigna unguiculata) yang Diekstraksi dengan Larutan Etanol dan Aseton dengan Konsentrasi Berbeda Muhammad Johan Adhibuana; Antonius Hintono; Yoyok Budi Pramono
Jurnal Teknologi Pangan Vol 2, No 1 (2018)
Publisher : Program Studi Teknologi Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (100.07 KB) | DOI: 10.14710/jtp.2018.19648

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh interaksi jenis dan konsentrasi larutan etanol dan aseton yang digunakan terhadap hasil ekstraksi protein dari kacang tunggak (Vigna unguiculata). Ekstraksi protein pada kacang tunggak sejauh ini lazim menggunakan aseton 70%, akan tetapi larutan aseton jarang dijual bebas dan harganya cukup mahal. Untuk itu etanol diteliti sebagai alternatif dari aseton dan dianalisis perbedaan hasil konsentrat antara larutan etanol dan aseton. Penelitian ini menggunakan metode statistik Rancangan Acak Lengkap (RAL) Faktorial dengan 2 faktor yaitu faktor jenis larutan (etanol dan aseton) dan faktor konsentrasi larutan (96% dan 70%) serta dilakukan 5 kali ulangan untuk tiap perlakuan. Parameter hasil uji dianalisis secara statistik menggunakan Two Way Analysis of Variance (Two Way ANOVA). Konsentrat dibuat melalui tahap penghancuran, presipitasi, pemurnian dengan larutan organik, dan pengeringan. Parameter uji konsentrat protein yang digunakan yaitu rendemen dan kadar protein. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat pengaruh interaksi antara jenis dan konsentrasi larutan terhadap rendemen dan kadar protein. Jenis dan konsentrasi larutan tidak berpengaruh pada rendemen. Kadar protein dipengaruhi oleh jenis larutan, sedangkan konsentrasi protein tidak mempengaruhi kadar protein. Larutan dengan hasil konsentrat terbaik ada pada konsentrat protein yang diekstrak menggunakan larutan etanol konsentrasi 70%.Yield and Protein Content of Cowpea (Vigna unguiculata) Protein Concentrate which Extracted by Ethanol and Acetone Solution with Different ConcentrationAbstractThis research aims to analyze the interaction effect between type and concentration of organic solvent to protein concentrate made by cowpea (Vigna unguiculata). Protein extractions from cowpea usually make use of acetone 70%, however acetone availability is quite rare and its price relatively expensive compared with other organic solvent. Therefore, the alternative organic solvent such as ethanol should be analyzed its effectiveness for protein extraction and the effect from difference type and concentration of organic solvent should be investigated. This research using statistical model of completely randomized design factorial using 2 kind of factor which is organic solvent type (ethanol and acetone) and organic solvent concentration (96% and 70%) and 5 replication. The extraction methods include destruction, precipitation, purification by organic solvent, and drying. The quality parameters in this research containing yield mass and protein content. From research outcome, the result can be concluded that there is no visible interaction effect from type and concentration of organic solvent to yield mass and protein content. Type of organic solvent doesn’t affect yield mass yet influence protein content significantly, while solvent concentration doesn’t affect yield mass or protein content. The result suggested that the most efficient solvent come from Ethanol 70%
KARAKTERISTIK PETIS KERANG DARAH (Anadara granosa) DARI LAMA WAKTU PEREBUSAN YANG BERBEDA Alip Nur Alam
Jurnal Teknologi Pangan Vol 5, No 2 (2021)
Publisher : Program Studi Teknologi Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (158.389 KB) | DOI: 10.14710/jtp.2021.27439

Abstract

Indonesia adalah wilayah dengan potensi perikanan tangkap yang cukup besar. Dengan adanya penelitian ini diharapkan akan tercipta produk produk olahan yang lebih bervariasi. Salah satu produk yang dapat dikembangkan adalah pembuatan petis. Petis merupakan produk olahan yang bahan bakunya dapat diambil dari sisa perebusan produk perikanan. Salah satu produk pengolahan perikanan yang dapat digunakan adalah sisa perebusan kerang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan hasil petis terbaik yang bahan bakunya adalah air rebusan kerang darah (Anadara granosa). Selanjutnya dilakukan pengamatan dengan menerapkan perbedaan perlakuan lama waktu perebusan. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 3 taraf perlakuan dan masing masing dilakukan 3 kali pengulangan. Perlakuan yang diujikan adalah perebusan selama 60 menit (perlakuan A), 90 menit (perlakuan B) dan 120 menit (perlakuan C). Adapun variabel yang diuji adalah pengujian organoleptik berupa kenampakan, aroma, rasa dan tekstur dengan data pendukung berupa data proksimal sample. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan yang diterapkan memberikan pengaruh nyata terhadap rasa, aroma dan tekstur serta berpengaruh nyata terhadap perubahan kadar air, kandungan protein, kandungan lemak dan viskositas. (p<0.05), sedangkan untuk kenampakan tidak terlihat perbedaan yang nyata. Hasil terbaik diperoleh pada perlakuan perebusan dengan lama waktu 120 menit.
Pengaruh Substitusi Buah Naga Merah terhadap Aktivitas Antioksidan, pH, Total Bakteri Asam Laktat dan Organoleptik Kefir Sari Kedelai Betti Meidia Pratiwi; Heni Rizqiati; Yoga Pratama
Jurnal Teknologi Pangan Vol 2, No 2 (2018)
Publisher : Program Studi Teknologi Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (124.146 KB) | DOI: 10.14710/jtp.2018.20638

Abstract

Kefir sari kedelai mampu memberikan solusi bagi penderita lactose intolerant yang alergi terhadap laktosa susu sapi. Namun kelemahannya adalah timbulnya flavor langu dan oligosakarida dalam sari kedelai sulit dimanfaatkan kultur starter sebagai sumber energi dan sumber karbon sehingga diperlukan sumber gula lain untuk memperbaiki sifat kimia dan fisik kefir kedelai, salah satunya dengan substitusi buah naga merah. Penelitian dilakukan bertujuan untuk mengetahui pengaruh substitusi konsentrasi buah naga merah terhadap parameter yang diamati. Percobaan dilakukan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 5 kali ulangan. Perlakuan yang diterapkan adalah perbedaan konsentrasi substitusi sari buah naga merah, yaitu T0 : 0% sari buah naga merah; T1 : 10% sari buah naga merah; T2 : 20% sari buah naga merah; dan T3 : 30% sari buah naga merah. Parameter yang diamati adalah aktivitas antioksidan, pH, total bakteri asam laktat dan organoleptik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rerata persentase aktivitas antioksidan berkisar antara 18−30%; pH 4,15−4,76; total BAL 1,45×106 hingga 3,05×106; skor organoleptik aroma dari agak menyengat hingga menyengat; warna putih hingga merah keunguan pekat; rasa asam hingga sangat asam; kekentalan tidak kental hingga kental; dan kesukaan dari tidak suka hingga suka. Kesimpulan yang didapat adalah konsentrasi buah naga merah berpengaruh terhadap aktivitas antioksidan, pH, organoleptik rasa, warna dan kesukaan (overall), pada parameter total BAL T0 berbeda nyata dengan T1, T2, T3, namun tidak terdapat perbedaan nyata antar perlakuan T1, T2 dan T3, pada organoleptik aroma dan kekentalan tidak ada pengaruh nyata dari penambahan konsentrasi buah naga merah pada kefir sari kedelai.Soy milk kefir is able to provide solutions for lactose intolerant patients who are allergic to cow's milk lactose. But the disadvantage is the emergence of flavor unpleasant and oligosaccharides in soy milk is difficult to be used by starter culture as a source of energy and carbon sources so that other sources of sugar needed to improve the chemical and physical properties of soy kefir, one of them with red dragon fruit substitution. The purpose of this research is to know the effect of substitution of red dragon fruit concentration on observed parameters. The experiment was performed using Completely Randomized Design (RAL) with 4 treatments and 5 replications. The applied treatment is the difference of substitution concentration of red dragon fruit, that is T0: 0% red dragon fruit juice; T1: 10% red dragon fruit juice; T2: 20% red dragon fruit juice; and T3: 30% red dragon fruit juice. The parameters observed were antioxidant activity, pH, total lactic acid bacteria and organoleptic. The results showed that the average percentage of antioxidant activity ranged between 18-30%; pH 4.15-4.76; total LAB 1.45 × 106 to 3.05 × 106; the organoleptic scores of the aroma are rather stinging to sting; the colors are white to purplish red; the taste are acidic to very acidic; the viscosity are not thick to thick; and the likeness are dislike to likes. The conclusion is that the concentration of red dragon fruit has an effect on antioxidant activity, pH, organoleptic taste, color and likeness (overall), in the parameter of total lactic acid bacteria (LAB) T0 was significantly different from T1, T2, T3, but there was no significant difference with T1, T2 and T3, nor did organoleptic aroma and viscosity significantly influence the addition of red dragon fruit concentration to soy milk kefir.
Karakteristik Hedonik Puree Tempe - Pisang sebagai MP-Asi bagi Bayi Alergi Susu Sapi Lady Abigael Antono; Siti Susanti; Valentinus Priyo Bintoro; Ahmad Ni&#039;matullah Al-Baarri
Jurnal Teknologi Pangan Vol 2, No 2 (2018)
Publisher : Program Studi Teknologi Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jtp.2018.22298

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk membuat Puree Formula Tempe-Pisang (PFTP) sebagai MP-ASI bagi bayi yang alergi susu sapi, lebih lanjut untuk mengetahui tingkat kesukaan (hedonik) terbaik dari PFTP yang dibuat dengan 5 formula yang berbeda dan mengetahui ada atau tidaknya perbedaan antara PFTP dengan produk MP-ASI komersial. Uji hedonik meliputi warna, aroma, rasa, tekstur dan overall. Perlakuan antara lain PFTP dengan 5 jenis formula Tempe-Pisang (% b/b) yaitu  F1=70:30, F2=60:40, F3=50:50, F4=40:60, dan F5=30:70. Hasil penelitian menunjukkan bahwa PFTP formula F5 adalah yang paling disukai oleh panelis dari segi rasa, aroma, tekstur, dan overall sedangkan dari segi warna PFTP formula F1 adalah yang paling disukai. Hasil uji hedonik antara formula F5 dengan produk MP-ASI komersial menunjukkan tidak terdapatnya perbedaan yang nyata. Dapat disimpulkan bahwa PFTP formula F5 dan produk MP-ASI komersial sama-sama disukai oleh panelis dari segi warna, aroma, rasa, tekstur dan overall. The aim of this research was to make Puree Formula Tempeh-Banana (PFTP) as a weaning food for infant with cow milk allergy, furthermore the best hedonic level of PFTP made with 5 different formula and differences between PFTP and commercial weaning food products was also analyzed. Hedonic tests include color, flavor, taste, texture, and overall preferences. The 5 types of Tempeh - Banana formula (% w/w) was F1 = 70: 30, F2 = 60: 40, F3 = 50:50, F4 = 40: 60, and F5 = 30: 70. The results showed that the F5 formula PFTP was most favored product by panelists in terms of taste, flavor, texture, and overall preferences. While in terms of color preferences, PFTP F1 formula was the most preferred product. Furthermore, the hedonic test result indicated no significant difference between the most preferred product of F5 and a commercial weaning food products. It can be concluded that the F5 formula PFTP and a commercial weaning food products were equally favored by panelists in terms of color, aroma, taste, texture and overalls. 
Pengaruh Penambahan High Fructose Syrup (HFS) terhadap Perubahan Sifat Fisikokimia dan Mikrobiologi Kefir Air Kelapa Hijau Yolanda Yunivia; Bambang Dwiloka; Heni Rizqiati
Jurnal Teknologi Pangan Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : Program Studi Teknologi Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (440.939 KB) | DOI: 10.14710/jtp.2019.22515

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan High Fructose Syrup (HFS) dengan konsentrasi yang berbeda terhadap tingkat keasaman (pH), total asam, jumlah bakteri asam laktat, dan total khamir pada kefir air kelapa hijau. Materi yang digunakan yaitu air kelapa hijau, kefir grains, serta gula High Fructose Syrup (HFS) dengan formulasi bahan yang berbeda tiap perlakuan. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan dan 4 kali ulangan. Formulasi yang dibagi menjadi 5 perlakuan dalam penelitian ini berupa pemberian gula HFS dengan konsentrasi 0%, 2,5%, 5%, 7,5%, 10%. Analisis data yang digunakan yaitu Analysis of Variance (ANOVA) pada taraf signifikansi 5% dan dilanjutkan dengan uji Duncan Multiple Range Test (DMRT) apabila berpengaruh nyata. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa penambahan konsentrasi HFS berpengaruh nyata (p<0,05) terhadap derajat keasaman (pH), total asam, dan total bakteri asam laktat, namun tidak berpengaruh nyata dengan total khamir kefir air kelapa hijau. Perlakuan dengan penambahan gula HFS sebesar 7,5% pada kefir air kelapa hijau merupakan perlakuan terbaik untuk parameter yang diuji secara menyeluruh.
Uji Penghambatan Reaksi Pencokelatan pada Sari Buah Pisang Ambon (Musa paradisiaca var sapientum) oleh Asam Hipoiodous (HIO) Berdasarkan Analisis Spektral Dea Kumala Ardianti; Anang Mohamad Legowo; Ahmad Ni’matullah Al-Baarri
Jurnal Teknologi Pangan Vol 6, No 2 (2022)
Publisher : Program Studi Teknologi Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jtp.2022.19974

Abstract

Reaksi pencokelatan enzimatis merupakan salah satu tanda penurunan kualitas buah selama proses penyimpanan dan dapat dicegah dengan cara menghambat aktivitas enzim oksidase. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kemampuan asam hipoiodous (HIO) dalam menghambat reaksi pencokelatan. Penghambatan reaksi pencokelatan dianalisis dengan mengukur browning intensity pada panjang gelombang 420 nm. Hasil penelitian adalah HIO dapat menurunkan nilai absorbansi pencokelatan sari buah pisang. Kesimpulannya, HIO dapat menghambat reaksi pencokelatan enzimatis pada buah pisang.
Isolasi dan Identifikasi Bakteri Asam Laktat dari Susu Kambing Sebagai Bakteri Antagonis Listeria monocytogenes dan Escherichia coli Penyebab Foodborne Disease Annisa Yulina Susilowati; Siti Nur Jannah; Hermin Pancasakti Kusumaningrum; Sulistiani Sulistiani Sulistiani
Jurnal Teknologi Pangan Vol 6, No 2 (2022)
Publisher : Program Studi Teknologi Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jtp.2022.29488

Abstract

Listeria monocytogenes dan Escherichia coli merupakan kontaminan pangan berbahaya yang dapat mengakibatkan timbulnya foodborne disease. Mikrobia dengan aktivitas antibakteri seperti Bakteri Asam Laktat (BAL) yang berasal dari susu kambing dapat dijadikan solusi untuk mengatasi permasalahan tersebut. Aktivitas antibakteri BAL disebabkan produksi asam laktat yang dapat menurunkan pH medium dan beberapa senyawa bioaktif seperti asam organik, H2O2, diasetil dan bakteriosin. Penelitian dilakukan untuk mengetahui jenis dan potensi BAL susu kambing sebagai antibakteri Listeria monocytogenes dan Escherichia coli. Metode penelitian meliputi isolasi dan pengamatan morfologi BAL, uji ketahanan isolat BAL terhadap suhu dan pH, pewarnaan Gram, uji katalase (H2O2),  uji aktivitas antibakteri BAL, serta identifikasi secara molekuler isolat BAL yang menunjukkan potensi antibakteri. Isolat yang mampu menghambat Listeria monocytogenes adalah isolat 372 dengan diameter zona bening 5,2 mm serta isolat 469 menghambat Escherichia coli dengan zona bening berdiameter 5,8 mm. Identifikasi molekuler menunjukkan kedua isolat memiliki ukuran DNA genom 1500 bp tetapi hanya isolat 372 yang dilanjutkan hingga tahap sekuensing karena menunjukkan aktivitas penghambatan terhadap bakteri patogen lebih baik dibandingkan isolat 469 yang ditandai dengan zona bening terlihat lebih jelas. Berdasarkan analisis hasil sekuensing DNA melalui BLAST dapat diketahui bahwa isolat 372 merupakan Pediococcus pentosaceus strain 1931 dengan kemiripan homologi sebesar 99,72%.Listeria monocytogenes and Escherichia coli are dangerous food contaminants that can cause foodborne disease. Microbes with antibacterial activity such as Lactic Acid Bacteria (LAB) from goat's milk can be used as a solution to overcome these problems. LAB antibacterial activity is due to the production of lactic acid which can lower the pH of the medium and several bioactive compounds such as organic acids, H2O2, diacetyl, and bacteriocins. The study was conducted to determine the type and potential of LAB goat milk as antibacterial agents for Listeria monocytogenes and Escherichia coli. The research methods include isolation and observation of LAB morphology, resistance test of LAB isolates against temperature and pH, Gram staining, catalase test (H2O2), LAB antibacterial activity test, and molecular identification of LAB isolates that show antibacterial potential. Isolates capable of inhibiting Listeria monocytogenes were isolate 372 with clear zone diameter 5.2 mm and isolate 469 inhibited Escherichia coli with clear zone diameter 5.8 mm. Molecular identification showed that both isolates had a genomic DNA size of 1500 bp but only isolate 372 was continued to sequencing because it showed better inhibitory activity against pathogenic bacteria than isolate 469 which was marked with clearer visible zones. Based on the analysis of the results of DNA sequencing through BLAST, it can be seen that isolate 372 is Pediococcus pentosaceus strain 1931 with homology similarity 99.72%.