cover
Contact Name
Eko Didik Widianto
Contact Email
rumah.jurnal@live.undip.ac.id
Phone
+62247474750
Journal Mail Official
editor@ift.or.id
Editorial Address
Gedung B Lantai 3 Fakultas Peternakan dan Pertanian Universitas Diponegoro, Jl. Prof. Soedarto, Tembalang, Semarang 50275.
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Teknologi Pangan
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : 25979892     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal Teknologi Pangan memuat artikel ilmiah di bidang teknologi pangan yang meliputi bidang: mikrobiologi pangan, kimia dan gizi pangan, bioteknologi pangan, rekayasa pangan dan hasil pertanian. Bidang ilmu lain yang terkait dengan pangan juga akan dimuat dalam jurnal ini selama fokus utama artikel adalah tentang teknologi pangan.
Articles 185 Documents
Pengaruh Penambahan Garam terhadap Off Flavour pada Susu Edamame (Glycine max L.) Putra, Rivan Triardhana; AlBaarri, Ahmad Nimatullah; Hintono, Antonius
Jurnal Teknologi Pangan Vol 8, No 1 (2024)
Publisher : Program Studi Teknologi Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jtp.2024.38420

Abstract

AbstrakBerdasarkan warna bijinya, kedelai dapat dibagi menjadi kedelai putih, hitam, dan kedelai hijau atau yang lebih dikenal dengan sebutan edamame. Keunggulan edamame yaitu memiliki warna hijau yang lebih menarik, tekstur yang lembut, biji yang lebih besar, rasa yang manis, dan rasa khas kedelai yang lebih sedikit. Seperti kedelai pada umumnya, bau langu yang timbul disebabkan oleh enzim lipoksigenase yang merupakan reaksi antara enzim dengan lemak dan oksigen yang menghasilkan asam linolenat dan hidrogen peroksida.Penelitian ini bertujuan sebagai langkah awal dari diversifikasi produk edamame dan juga mengetahui penambahan garan terhadap aroma langu pada susu edamame sehingga dapat diterapkan pada industri pangan. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah edamame, garam NaCl, KCl, dan MgCl. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan perlakuan variasi jenis garam yang digunakan, meliputi : T0 (tanpa perlakuan), T1 (penambahan NaCl), T2 (penambahan KCl), dan T3 (penambahan MgCl) dengan masing masing dilakukan 5 kali pengulangan tiap perlakuan.Hasil dari penelitian ini adalah penambahan jumlah garam tidak berpengaruh nyata terhadap aroma yang dihasilkan oleh susu edamame. Diduga ada beberapa faktor yang menyebabkan aroma langu tersebut tidak berkurang, antara lain adalah enzim lipoksigenase sudah bereaksi lebih dulu terhadap oksigen dan lemak yang terkandung. AbstractBased on the color of the seeds, soybeans can be divided into white, black, and green soybeans or better known as edamame. The advantages of edamame are that it has a more attractive green color, soft texture, larger seeds, sweet taste, and less soybean flavor. Like soybeans in general, the odor is caused by the enzyme lipoxygenase, which is a reaction between enzymes with fat and oxygen that produces linolenic acid and hydrogen peroxide.This study aims to be the first step in the diversification of edamame products and also to determine the addition of garan to the languor aroma in edamame milk so that it can be applied to the food industry. The materials used in this study were edamame, NaCl, KCl, and MgCl salts. The method used in this research is a completely randomized design (CRD) with treatment of variations in the type of salt used, including: T0 (no treatment), T1 (addition of NaCl), T2 (addition of KCl), and T3 (addition of MgCl) with each done 5 times repetition of each treatment. The result of this study was the addition of salt did not significantly affect the aroma produced by edamame milk. It is suspected that there are several factors that cause the languid aroma not to be reduced, among others, the lipoxygenase enzyme has reacted first to oxygen and fat contained.
Plasma-Activated Water: Terobosan pada Industri Makanan Eka Ningrum, Dian Nurita
Jurnal Teknologi Pangan Vol 7, No 2 (2023)
Publisher : Program Studi Teknologi Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jtp.2023.36255

Abstract

Jumlah populasi penduduk dunia pada tahun 2050, diperkirakan mencapai 10 miliar, hal itu menunjukkan perlunya pendekatan inovatif untuk produksi dan pemrosesan pangan untuk memenuhi permintaan global akan asupan nutrisi. Plasma Activated Water (PAW) sangat aktif melawan berbagai macam bakteri, mudah digunakan, dan memiliki kemampuan untuk membunuh mikroorganisme yang tidak dapat dihancurkan oleh pelepasan plasma non-termalBerbagai perangkat pembangkit PAW telah dikembangkan selama bertahun-tahun, tetapi hasil yang rendah dan biaya produksi yang tinggi sangat menghambat penerapan PAW untuk meningkatkan keamanan dan kualitas pangan. Oleh karena itu, upaya penelitian intensif harus segera fokus pada pengembangan dan penskalaan pendekatan produksi PAW berbiaya rendah untuk aplikasi komersial. 
Karakteristik Fisik Saus Tomat Analog Berbahan Dasar Pepaya (Carica papaya L.) dengan Penambahan Asam Sitrat Tambunan, Lia Oktavia; Hintono, Antonius; Bintoro, Valentinus Priyo
Jurnal Teknologi Pangan Vol 7, No 2 (2023)
Publisher : Program Studi Teknologi Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jtp.2023.33931

Abstract

Saus tomat analog merupakan sebutan lain dari saus tomat yang dibuat dari buah dengan sifat dan karakteristik sama atau melebihi tomat. Proses dari pembuatan saus tomat analog ditambahkan pewarna, perisa tomat, dan asam sitrat untuk mencapai citarasa serupa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan asam sitrat pada saus tomat analog berbahan dasar pepaya terhadap karakteristik fisik. Penelitian ini dirancang dengan 5 perlakuan yaitu penambahan asam sitrat 0,25%, 0,30%, 0,35%, 0,40%, 0,45% (b/b) dari berat papaya dengan 4 kali ulangan. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa penambahan asam sitrat pada saus tomat analog berbahan dasar pepaya memiliki pengaruh nyata (p < 0,05) terhadap viskositas, warna L* a* b*, organoleptik warna, tekstur dan rasa, serta tidak memiliki pengaruh nyata (p > 0,05) terhadap aw dan organoleptik aroma.Viskositas mengalami peningkatan sedangkan warna L* a* b* dan organoleptik warna, tekstur, dan rasa mengalami nilai yang fluktuatif seiring dengan penambahan asam sitrat. Berdasarkan analisis fisik perlakuan terbaik adalah penambahan asam sitrat 0,45% (b/b) dari berat papaya.  Analog tomato sauce is another name for tomato sauce made from fruit with properties and characteristics equal to or superior to tomatoes. The process of making analog tomato sauce is added coloring, flavor, and citric acid to achieve a similar taste. This study aims to determine the effect of adding citric acid to analog tomato sauce made from papaya on physical characteristics. This study was designed with 5 treatments, namely the addition of citric acid 0.25%, 0.30%, 0.35%, 0.40%, 0.45% (w/w) of papaya weight with 4 replications. The results of this study showed that the addition of citric acid to analog tomato sauce made from papaya had a significant effect (p < 0.05) on viscosity, color L* a* b*, organoleptic color, texture and taste, and had no significant effect (p<0.05). p > 0.05) on aw and organoleptic aroma.Viscosity increased while the color L* a* b* and organoleptic color, texture, and taste experienced fluctuating values along with the addition of citric acid. Based on physical analysis, the best treatment was the addition of 0.45% (w/w) citric acid from the weight of papaya
Aktivitas Antioksidan, Total Asam, Kadar Protein, dan Tingkat Kesukaan Yoghurt Jagung dengan Penambahan Sari Parijoto (Medinilla speciosa B.) Wijayanti, Ana Rohana Nuranggraeni; Khusania, Mina; Safitri, Zevira Aldilata; Rizqiati, Heni; Pramono, Yoyok Budi
Jurnal Teknologi Pangan Vol 8, No 2 (2024)
Publisher : Program Studi Teknologi Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jtp.2024.28225

Abstract

Produksi jagung di Indonesia berlimpah ruah namun untuk produk olahan jagung belum begitu banyak yang memanfaatkannya sehingga dapat diolah menjadi yoghurt. Untuk memperkaya kandungan antioksidan yoghurt maka dapat dilakukan penambahan sari buah yang mengandung aktivitas antioksidan yang tinggi. Salah satunya adalah parijoto. Buah parijoto merupakan buah yang sering dijumpai di Kudus tepatnya di Pegunungan Muria dan memiliki kandungan antioksidan yang cukup tinggi dan belum dimanfaatkan secara optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan sari parijoto terhadap aktivitas antioksidan, total asam, kadar protein, dan tingkat kesukaan pada yoghurt jagung. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah jagung, buah parijoto, susu UHT, susu skim, CMC, starter yoghurt, sukrosa, dan reagen 2,2-Diphenyl-1-Picrylhydrazyl (DPPH). Penelitian dilakukan dengan uji rancangan acak lengkap dengan variasi perlakuan yaitu T0 tanpa penambahan sari parijoto (kontrol), T1 dengan penambahan sari parijoto 5%, T2 dengan penambahan sari parijoto 10%, dan T3 dengan penambahan sari parijoto 15%. Data kadar aktivitas antioksidan dan kadar protein dilakukan analisis secara deskriptif kuantitatif. Data hasil pengujian total asam dianalisis dengan menggunakan uji Analysis of Variance (ANOVA) dengan taraf signifikansi 5%, jika terdapat pengaruh maka dilakukan uji lanjutan dengan uji wilayah Duncan. Tingkat kesukaan (organoleptik) dianalisis dengan menggunakan uji Kruskal Wallis dengan taraf signifikansi 5%. Jika terdapat pengaruh maka dilakukan uji lanjutan dengan uji Mann Whitney untuk mengetahui perbedaan antarperlakuan. Penambahan konsentrasi sari parijoto yang semakin tinggi akan meningkatkan aktivitas antioksidan dan kadar proteinnya. Total asam yoghurt jagung juga berpengaruh, dimana total asam akan semakin turun seiring dengan meningkatnya penambahan konsentrasi sari parijoto. Tingkat kesukaan yoghurt jagung secara umum disukai oleh panelis pada semua perlakuan.Corn production in Indonesia is abundant but for the processed corn products not so much that use it so it can be processed into yogurt. To enrich the antioxidant content of yogurt, the addition of fruit juices containing high antioxidant activity. One of them is parijoto. Parijoto fruit is a fruit that is often found in Kudus precisely in the Muria mountains and has a fairly high antioxidant content and has not been utilized optimally. This research aims to determine the effect of adding parijoto juice to antioxidant activities, total acids, protein levels, and the favorite levels on corn yogurt. The materials used in this study are corn, parijoto fruit, UHT milk, skim milk, CMC, starter yogurt, sucrose, PP reagent (rejection) 1%, reagent 2.2-diphenyl-1-Picrylhydrazyl (DPPH), a mixture of selenium catalysts, sulfuric acid technical (concentrated), H3BO3 4%, methylene indicator red (MR) and methylene blue (MB), NaOH 45%, NaOH 0.1 N, and HCl 0.1 N. The research used RAL test with variation of treatment is T0 without the addition of a parijoto juice (control), T1 with the addition of a 5% parijoto juice, T2 with the addition of a 10% parijoto juice, and T3 with the addition of 15% parijoto juice. Data on antioxidant activity and protein levels are performed in a quantitative descriptive analysis. The total acid test data is analyzed by using the Analysis of Variance test (ANOVA) with a significance of 5%, if there is an influence then the follow-up test with Duncan's test area. The level of preference (organoleptic) was analyzed using Kruskal Wallis's test with a significance of 5%. If there is an influence there is a follow-up test with Mann Whitney test to determine the difference between treatment. The addition of higher concentrations of parijoto sari increases the antioxidant activity and its protein levels. Total acid yogurt corn is also influential, where the total acid will be decreased as the increase of the concentration of parijoto juice. The favorite level of corn yogurt is generally liked by panelists on all treatments.
Pengaruh Penambahan Madu Terhadap Hedonik, Hardness, Total Padatan Terlarut, dan Nilai pH Tape Singkong Pangestu, Santiko Aji
Jurnal Teknologi Pangan Vol 8, No 1 (2024)
Publisher : Program Studi Teknologi Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jtp.2024.38492

Abstract

     Tape merupakan makanan yang dihasilkan dari proses fermentasi suatu bahan pangan berkarbohidrat sebagai substrat dari ragi. Gula sederhana dapat mempercepat fermentasi karena dengan bentuknya yang lebih sederhana daripada pati. Penambahan madu ditujukan sebagai pengganti gula sederhana. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh penambahan madu terhadap hedonik, hardness, total padatan terlarut, dan nilai pH. Perlakuan yang diterapkan adalah penggunaan madu dengan komposisi yang berbeda yaitu P0 : tanpa madu, P1 : 1%, P2 : 2%, P3 : 3%, P4 : 4% (b/b) dari berat singkong kukus.  Rancangan penelitian berupa Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan dan 4 ulangan sehingga terdapat 20 unit percobaan. Berdasarkan hasil uji statistik dengan analysis of variance (ANOVA) didapatkan bahwa penambahan madu pada tape singkong tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap total padatan terlarut, hardness, dan nilai pH. Pada uji statistik Kruskal Wallis menunjukkan adanya pengaruh nyata (P<0,05)  terhadap warna dan tekstur dan tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap rasa. Simpulan yang dapat diperoleh dari penelitian ini penggunaan madu menyebabkan peningkatan  terhadap hedonik warna. Sedangkan pada parameter hedonik rasa, hardness, total padatan terlarut, dan nilai pH tidak menyebabkan peningkatan. 
Artikel Review: APLIKASI TEKNOLOGI PLASMA TELUR AYAM APPLICATION OF PLASMA TECHNOLOGY OF CHICKEN EGG Ramadhani, Rizki Ria
Jurnal Teknologi Pangan Vol 8, No 1 (2024)
Publisher : Program Studi Teknologi Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jtp.2024.36256

Abstract

Review ini bertujuan untuk memberikan informasi mengenai pemanfaatan penggunaan Teknologi Dielectric Barrier Discharge-UV Plasma terhadap sifat fisik dan kimia telur ayam. Aplikasi teknologi plasma sangat baik untuk diterapkan untuk menjaga kandungan gizi telur, dikarenakan sifat telur yang rentan kerusakan maka diperlukan teknologi alternatif untuk mengawetkan telur segar dengan cara inaktivasi bakteri dan mencegah kontaminasi pada telur segar, yaitu dengan menggunakan Dielectric Barrier Discharge-UV Plasma. (DBD) UV Plasma sebagai teknologi pengawet telur ayam dinilai dapat mempertahankan sifat fisik (Haugh unit dan indeks kuning telur), sifat kimia (pH kuning telur, pH albumen, dan nutrisi telur) pada 0, 5, 7, 11, dan 14 hari.
Pengaruh Substitusi Tepung Ubi Jalar Ungu (Ipomoea batatas) terhadap Sifat Kimia, Fisika, dan Hedonik Bagelen Permata, Mawar Indah
Jurnal Teknologi Pangan Vol 7, No 2 (2023)
Publisher : Program Studi Teknologi Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jtp.2023.34080

Abstract

Ubi jalar ungu merupakan jenis umbi-umbian yang kaya akan kalori atau energi, juga mengandung nilai gizi dan komposisi yang lengkap serta termasuk dalam pangan tinggi serat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh substitusi tepung ubi jalar ungu dengan konsentrasi tertentu pada pembuatan bagelen terhadap kadar serat kasar, aktivitas air, karakteristik tekstur dan hedonik bagelen. Bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah ubi jalar ungu, tepung terigu protein tinggi, gula, ragi, baking soda, susu bubuk, margarin, telur, garam, dan air, Na-metabisulfit 0,1%, H2SO4 1,25%, NaOH 3,25%, kertas saring, air panas, dan etanol 96%. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan perbandingan penggunaan substitusi tepung terigu dengan tepung ubi jalar ungu yaitu sebanyak 100%:0% (P0), 90%:10% (P1), 80%:20% (P2), 70%:30% (P3), dan 60%:40% (P4). Parameter yang diamati adalah kadar serat kasar, aktivitas air, karakteristik tekstur dan hedonik bagelen. Data hasil pengujian kadar serat kasar, aktivitas air dan tekstur dianalisis menggunakan uji Analysis of Variance ANOVA dengan signifikansi P<0,05 kemudian dilanjutkan dengan uji Duncan’s Multiple Range Test (DMRT). Data hasil uji hedonik dianalisis menggunakan uji Kruskal-Wallis dan dilanjutkan dengan Mann Whitney Test. Perbandingan tepung terigu dan tepung ubi jalar ungu 80%:20% menghasilkan bagelen dengan hasil terbaik karena mengandung kadar serat kasar (10,50 %), aktivitas air 0,477, tekstur 2257,250 yang lebih baik dibanding perlakuan kontrol serta memiliki rasa, aroma, tekstur, warna, dan overall yang lebih disukai panelis.
Overrun, Uji Mutu Hedonik Kekentalan dan Rasa Asam Velva Sirsak (Annona muricata L.) dengan Berbagai Tingkat Konsentrasi Karagenan Putri, Sayyidah Ghaisani; Pramono, Yoyok Budi; Hintono, Antonius
Jurnal Teknologi Pangan Vol 8, No 2 (2024)
Publisher : Program Studi Teknologi Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jtp.2024.28379

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan karagenan dengan tingkat konsentrasi yang berbeda terhadap overrun, uji mutu hedonik kekentalan dan rasa asam velva sirsak. Bahan baku yang digunakan yaitu buah sirsak, karagenan, gula dan asam sitrat. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 Perlakuan dan 4 kali ulangan. Perlakuan yang diterapkan adalah penggunaan karagenan dengan konsentrasi yang berbeda yaitu: T0 = 0%, T1 = 0,25%, T2 = 0,5%, T3 = 0,75% dan T4 = 1%. Data hasil uji overrun dianalisis menggunakan Analysis of Variance (ANOVA) pada taraf signifikansi 5% apabila terdapat perbedaan dilanjukan dengan Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) dan data hasil uji mutu hedonik dianalisis dengan uji Kruskal-Wallis dan apabila terdapat pengaruh diuji lanjut dengan Mann-Whitney U Test. Hasil menunjukkan bahwa penggunaan karagenan pada velva sirsak memberikan pengaruh nyata (P<0,05) terhadap overrun dan kekentalan velva sirsak, namun tidak memberikan pengaruh nyata (P>0,05) terhadap rasa asam velva sirsak. Penggunaan karagenan pada velva sirsak yang optimal yaitu konsentrasi karagenan sebanyak 0,25% karena menghasilkan velva sirsak mengembang dengan baik dan memiliki tekstur lembut dan kekentalan yang disukai.
Pengaruh Jenis Bahan Pengikat terhadap Kadar Flavonoid, Nilai Rendemen dan Sifat Fisik Nori Artifisial Pepaya dan Cincau Hijau (Premna Oblongifolia). Rahmaningrum, Ken Ayu
Jurnal Teknologi Pangan Vol 7, No 1 (2023)
Publisher : Program Studi Teknologi Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jtp.2023.33163

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memanfaatkan daun cincau dan buah pepaya menjadi alternatif bahan baku pembuatan nori artifisial. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah buah pepaya, daun cincau, tepung tapioka, CMC (Carboxymethyl Cellulose), pengikat agar, garam dan bubuk bawang putih. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan yaitu kontrol (P0), penambahan tepung tapioka (P1), penambahan CMC (P2) dan penambahan agar (P3) dan diulang sebanyak 5 kali. Parameter yang diamati adalah kandungan flavonoid, nilai rendemen dan sifat fisik yang meliputi daya patah dan warna nori. Data dianalisis menggunakan uji Analysis of Variance (ANOVA) dengan taraf signifikansi 5% dan apabila terdapat perbedaan maka dilanjutkan dengan uji Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahan pengikat berpengaruh nyata  (P<0,05) terhadap nilai rendemen, kandungan flavonoid, daya patah dan karakteristik warna pada nori artifisial. Kesimpulannya, perlakuan penambahan agar (P3) merupakan perlakuan terbaik dalam pembuatan nori artifisial. Nilai daya patah, kandungan flavonoid dan warna dari nori artifisial penambahan pengikat agar serupa dengan nori yang dikomersialkan. Penggunaan CMC dapat meningkatkan nilai rendemen dan menurunkan kandungan flavonoid. Penggunaan tepung tapioka meningkatkan daya patah dan mempengaruhi nilai kecerahan nori artifisial.This study aims to utilize grass jelly leaves and papaya fruit as an alternative raw material for making artificial nori. The materials used in this study were papaya fruit, grass jelly leaves, tapioca flour, CMC (Carboxymethyl Cellulose), seaweed powder, salt and garlic powder. This study used a completely randomized experimental design with 4 treatments, namely control (T0), addition of tapioca flour (T1), addition of CMC (T2) and addition of seaweed powder (T3), the treatment was repeated 5 times. Parameters observed were flavonoid content, yield value and physical properties including fracture strength and nori color. The data were analyzed using the Analysis of Variance (ANOVA) test with a significance level of 5% and if there were differences, it was continued with Duncan's test. The results showed that the binder had a significant effect on the yield value, flavonoid content, fracture strength and color characteristics of artificial nori. Conclusion is the addition of seaweed powder (T3) is the best treatment in making artificial nori. The value of fracture strength, flavonoid content and color of artificial nori with binder of seaweed powder is similar with commercialized seaweed leather. The use of CMC can increase the yield value and decrease the flavonoid content. The use of tapioca flour increases fracture strength and affects the value of artificial nori brightness.
Studi Apoptosis pada Daging Itik dan Ayam melalui Perubahan pH Lumbantoruan, Julia Ester; Setiani, Bhakti Etza; Al-Baarri, Ahmad Ni'matullah; Sutopo, Sutopo; Kurnianto, Edy
Jurnal Teknologi Pangan Vol 8, No 2 (2024)
Publisher : Program Studi Teknologi Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jtp.2024.20452

Abstract

Apoptosis merupakan kematian sel yang terjadi saat pengkonversian daging yang berkaitan erat dengan kualitas daging. Salah satu parameter studi apoptosis adalah perubahan pH. Analisis pH dilakukan dengan menggunakan pH meter. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis nilai pH pada daging itik dan ayam yang disimpan selama 8 jam pada suhu ruang. Berdasarkan penelitian ini dapat diketahui bahwa nilai pH pada daging itik secara berturut-turut sebesar 6,70±0,21; 6,66±0,13; 6,64±0,31; 6,51±0,25 dan 6,50±0,19 sedangkan pada daging ayam sebesar 5,66±0,16; 5,59±0,11; 5,56±0,25; 5,52±0,16 dan 5,45±0,16. Penyimpanan daging pada suhu ruang menyebabkan penurunan nilai pH daging itik sebesar 0,20% dan daging ayam sebesar 0,21%.