cover
Contact Name
Rahmiyati
Contact Email
hutantropisunlam@gmail.com
Phone
+6281348623216
Journal Mail Official
hutantropisunlam@gmail.com
Editorial Address
Fakultas Kehutanan Universitas Lambung Mangkurat Jl. A. Yani KM 36 Banjarbaru, Kalimantan Selatan
Location
Kota banjarmasin,
Kalimantan selatan
INDONESIA
JURNAL HUTAN TROPIS
ISSN : 23377771     EISSN : 23377992     DOI : http://dx.doi.org/10.20527/jht.v10i2
Jurnal Hutan Tropis (JHT) adalah blind peer-reviewed yang mempublikasikan artikel ilmiah dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi kehutanan mencakup kajian manajemen hutan, ekonomi dan bisnis kehutanan, pengelolaan DAS, hidrologi, silvikultur, penginderaan jauh, ekologi, ekowisata, ilmu tanah hutan, agroforestri, perhutanan sosial, kebijakan kehutanan, perencanaan hutan, penyuluhan kehutanan, teknologi hasil hutan, konservasi sumberdaya hutan, dan perlindungan hutan.
Articles 575 Documents
RENDEMEN TEPUNG BUAH NIPAH (Nyfa fruticans WURMB) BERDASARKAN JARAK TEMPAT TUMBUH Fatriani Fatriani; Noor Mirad Sari; Muhammad Noor Mashudi
Jurnal Hutan Tropis Vol 12, No 32 (2011): Jurnal Hutan Tropis Volume 12 Nomer 32, Edisi September 2011
Publisher : Lambung Mangkurat University-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (455.031 KB) | DOI: 10.20527/jht.v12i32.1587

Abstract

Abstract.  This study aims to determine the magnitude of the yield of wheat grown fruit Nipah by site. Nipah fruit yield of flour was 27.69% submerged in water, slightly submerged in water is 25.00% and grown on land which is 24.73%, Based on the analysis of the growing diversity was no significant effect on the yield of the resulting flour. Factors that influence the magnitude of the yield of fruit flour Nipah is the raw material used, Nipah fruit size, equipment used in the production process, and rigor in the process of flour production Nipah fruit. Based on the results obtained it is necessary to study Nipah fruit yield of flour from various regions, with special techniques and tools in the fruit paring Nipah.Keywords: Nipah, starch, sucrose contentABSTRAK.  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besarnya rendemen  tepung buah Nipah berdasarkan tempat tumbuh. Rendemen tepung buah Nipah yang terendam air adalah 27,69% ,yang agak terendam air adalah 25,00% dan yang tumbuh di daratan  adalah 24,73%, Berdasarkan analisis keragaman ternyata tempat tumbuh tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap rendemen tepung yang dihasilkan. Faktor-faktor yang mempengaruhi besarnya rendemen tepung buah Nipah adalah bahan baku yang digunakan, ukuran buah Nipah, peralatan yang digunakan dalam proses produksi, dan ketelitian dalam proses produksi tepung buah Nipah. Berdasarkan hasil yang diperoleh maka perlu penelitian rendemen tepung buah Nipah dari berbagai daerah,  dengan teknik dan alat khusus dalam pengupasan buah Nipah.Katakunci : Nipah, tepung, rendemen
PERANAN VARIABEL DEMOGRAFIS, PEMILIKAN ASET, DAN AKSESIBILITAS TERHADAP LAHAN PADA KESETUJUAN PERAMBAH PADA RENCANA PENGEMBANGAN HUTAN KEMASYARAKATAN: STUDI DI KHP SELAGAI LINGGA LAMPUNG TENGAH Christine Wulandari; Samsul Bakri; Melya Riniarti; Hendika Jaya Putra
Jurnal Hutan Tropis Vol 10, No 2 (2022): Jurnal Hutan Tropis Volume 10 Nomer 2 Edisi Juli 2022
Publisher : Lambung Mangkurat University-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (670.136 KB) | DOI: 10.20527/jht.v10i2.14120

Abstract

Tingkat kesetujuan para perambahan penting dipetakan bagi keberhasilan perencanaan pengembangan Hutan Kemasyarakatan (HKm) agar konflik dapat dihindari. Dengan tujuan untuk menetapkan besarnya pengaruh kelompok variabel demografis, kepemilikan asset, dan aksesilitas lahan rambahan terhadap tingkat keseutujan tersebut, dilakukan di KPH Selagai Lingga Register 39 Kabupaten Lampung Tengah. Wawancara semi terstruktur dilakukan terhadap 96 perambah yang ditarik secara acak.  Postulat Ordinal Loglinear Model diterapkan pada level ketelitian 95%.  Variabel respon diskor 1, 2, 3, dan 4, yang menunjukan respon tidak setuju, ragu-ragu, setuju dan sangat setuju. Ada 13 varibel prediktor yang diuji: umur (tahun), jumlah tanggungan (jiwa), pendidikan (lulus SMP versus tidak), pendapatan (Rp juta/tahun), jenis tanaman (kopi versus lainnya), usaha sampingan (punya versus tidak), tempat tinggal (dalam versus luar kawasan), etnis (Jawa versus lainnya), luas garapan (ha), kepemilikan HP (punya versus tidak), kendaraan bermotor (punya versus tidak), jarak lahan ke pemukinan terdekat dan ke akses utama keluar lahan. Optimasi parameter menggunakan Minitab 16. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat kesetujuan: [a] akan meningkat secara nyata jika, (i) umurnya 1 tahun lebih tua akan menjadi 1,07 kali semula; (ii) pendapatannya Rp 1 juta lebih besar akan menjadi 1,09 kali semula; (iii) tinggal dalam kawasan 6,94 lebih tinggi dari pada yang di luar Kawasan; dan (iv) punya HP menjadi 4,91 kali dibanding yang tidak punya serta [b] menurun secara nyata jika jumlah tanggungnya lebih banyak 1 jiwa yaitu menjadi hanya 0.32 kali semula. Temuan ini dapat dipedomani untuk rencana pengembangan HKm di KPH lainnya dengan menggunakan variabel yang sama.
KOMPOSISI DAN STRUKTUR KOMUNITAS ARTROPODA TERESTRIAL DI DATARAN BANJIR DANAU HANJULUTUNG, PALANGKA RAYA Yosefin Ari Silvianingsih; Eva Oktoberyani Christy; Teguh Pribadi; F. Silvi Dwi Mentari; Iva Dewi Lestariningsih
Jurnal Hutan Tropis Vol 6, No 2 (2018): Jurnal Hutan Tropis Volume 6 Nomer 2 Edisi Juli 2018
Publisher : Lambung Mangkurat University-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (969.7 KB) | DOI: 10.20527/jht.v6i2.5399

Abstract

Terrestrial arthropods inhabit the Hanjulutung lake floodplain (HLF) were characterized. Terrestrial arthropods were trapped with pitfalls where installed on two lakeside at nine different sampling site and two sampling date, April (before flooding) and July (after flooding). Carabidae, Formicidae, and Gryllidae dominated HLF. Carabidae and Formicidae were the primary dwellers of HLF on the outside and inside the lake, respectively. A result of Nonmetric-Multi Dimensional Scaling (NMDS) ordination was concluded that two lakeside does not show different terrestrial arthropods assemblages but outside of HLF showed higher terrestrial arthropods. The sensitivity of Carabidae to flood event and their existence in floodplain ecosystems are identification tool for successful floodplain restoration.Karakterisasi artropoda tanah yang mendiami dataran banjir danau Hanjulutung (DBDH) dilakukan. Artropoda tanah dijebak dengan perangkat sumur jebakan yang dipasang pada kedua sisi danau di sembilan lokasi yang berbeda dengan dua waktu pengambilan sampel, Bulan April (sebelum banjir) dan Juli (sesudah banjir). Komposisi artropoda tanah penghuni DBDH adalah didominasi kumbang karabid, semut, dan belalang. Kumbang karabid dan semut adalah penghuni utama DBDH pada masing-masing bagian danau. Hasil Ringkasan ordinasi Nonmetric-Multi Dimensional Scaling (NMDS) menyimpulkan bahwa kedua bagian danau tidak menunjukan perbedaan komposisi dan struktur artropoda terestrial tetapi sisi luar DBDH menunjukan kekayaan atropoda tanah yang lebih tinggi. Kepekaan kumbang karabid terhadap kejadian banjir dan keberadaannya di dataran banjir merupakan alat identifikasi keberhasilan restorasi dataran banjir.
KESEHATAN HUTAN DI BLOK KOLEKSI TUMBUHAN DAN/ATAU SATWA TAHURA WAN ABDUL RACHMAN PROVINSI LAMPUNG Rahmat Safei; Dina Pertiwi; Rahmat Safe’i; Hari Kaskoyo
Jurnal Hutan Tropis Vol 8, No 3 (2020): Jurnal Hutan Tropis Vol 8 No 3 edisi November 2020
Publisher : Lambung Mangkurat University-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (715.112 KB) | DOI: 10.20527/jht.v8i3.9623

Abstract

The research has been conducted in the forest area block collection of plants and/or animals Wan Abdul Rachman Forest Park Lampung Province, which is in Sumber Agung Subdistrict, Kemiling Subdistrict, Bandar Lampung city covering 141.18 ha. The study was conducted to obtain forest health status at the study site. The data collection method uses the forest health monitoring (FHM) technique on 8 cluster clusters with a sampling intensity of 2.30%. The results showed that 25% (2 clusters) were categorized very well, 38% (3 clusters) were categorized as good, 12% (1 clusters) were categorized as moderate and 25% (2 clusters) were categorized as very poor. There needs to be maintenance activities for trees in the research location so that the functions and benefits of the area can be optimized
PEMANTAUAN KESEHATAN HUTAN KOTA PEKANBARU Sri Rahayu Prastyaningsih
Jurnal Hutan Tropis Vol 2, No 3 (2014): Jurnal Hutan Tropis Volume 2 No 3 Edisi November 2014
Publisher : Lambung Mangkurat University-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (813.034 KB) | DOI: 10.20527/jht.v2i3.2248

Abstract

Kota   merupakan   pusat   terkonsentrasinya   penduduk   maupun   pusat aktivitas perekonomian. Perkembangan Provinsi Riau yang semakin pesat seperti pertambahan penduduk dan pembangunan mall atau gedung-gedung bertingkat sebagai kawasan perkantoran dan kawasan bisnis menyebabkan terjadinya penurunan kualitas lingkungan di ibukota Provinsi Riau. Kondisi lingkungan bertambah parah apabila terjadi gangguan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan saat musim kemarau tiba. Kualitas udara yang buruk memberikan dampak terhadap kesehatan manusia bahkan mengganggu aktivitas rutin masyarakat dan negara tetangga. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kesehatan hutan kota di Pekanbaru sehingga dapat dilakukan tindakan pemeliharaan. Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat menjadi informasi mengenai kondisi tegakan di hutan kota Pekanbaru serta memberikan rekomendasi tindakan perlakuan terhadap kerusakan tegakan. Penelitian ini dilakukan selama 3 bulan ( Mei - Juli 2014) di salah satu Ruang Terbuka Hijau Kota Pekanbaru yaitu di Hutan Kota Jl. Diponegoro. Metode yang digunakan adalah Grey dan Deneke (1978) dengan mengamati kerusakan fisik, kerusakan mekanik dan kerusakan akibat hama penyakit. Pengamatan  dilakukan dengan membuat 4 jalur  ukuran 20 x 80 meter dengan jarak antar jalur 10 meter. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kerusakan tegakan di hutan kota Pekanbaru sebesar 46,42%. Tingkat kerusakan tegakan dengan peringkat 1 (sangat baik) sebesar 96 % sedangkan peringkat 2 (baik) sebesar 4%.City is the center of the central concentration of population and economic activity. The development of Riau Province in Indonesia State is rapidly increasing population growth and development such as a mall or high-rise buildings as an office area and business district led to environmental degradation in the capital of Riau Province. Environmental conditions worsen smog in the event of disruption caused by land and forest fires during the dry season arrives. Poor air quality impacts on human health even interfere with routine activities of the community and neighboring countries. This study aimed to evaluate the health of the urban forest in the city of Pekanbaru, so it can be taken maintenance. This study would be useful to be informed about the condition of the forest stands in the Pekanbaru Urban Forest and provide treatment recommendations for action to damage the stands. This study was conducted for 3 months (May - July 2014) at Pekanbaru Urban Forest,  in one of the green open space at Diponegoro street, in the city of Pekanbaru. The method used was Grey and Deneke (1978) with the observed by physical damage, mechanical and pests and diseases. The method which is used is observations field study were made by making 4 plots, measures of plots 20 x 80 meters and 10 meter spacing between lines. The results showed that the damage from the stands of forest in the Pekanbaru Urban Forest was 46.42%. The level of damage to stands with a rating of 1 (very good) by 96%  while ranking second (good) by 4%.
PENGARUH MOTIVASI KERJA PEGAWAI TERHADAP KINERJA PEGAWAI (Studi Kasus Pada Sekretariat Direktorat Jenderal Planologi Kehutanan, Kementerian Kehutanan) Titien Maryati
Jurnal Hutan Tropis Vol 13, No 1 (2012): Jurnal Hutan Tropis Borneo Volume 13 No 1 Edisi Maret 2012
Publisher : Lambung Mangkurat University-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (167.674 KB) | DOI: 10.20527/jht.v13i1.1492

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui motivasi kerja baik secara parsial maupun simultan terhadap kinerja pegawai pada Sekretariat Direktur Jenderal Planologi Kehutanan, Kementerian Kehutanan. Guna mendukung penelitian ini dilakukan metode kuantitatif, populasi penelitian adalah Sekretariat Direktorat Jenderal Planologi Kehutanan, Departemen Kehutanan dengan sample menggunakan teknik sensus sebanyak 92 orang responden. Teknik analisis menggunakan uji korelasi, uji regresi, dan uji hipotesis baik secara parsial (uji t) maupun uji hipotesis bersama (uji F).Hasil pengolahan data antara motivasi dengan kinerja dengan nilai korelasi sebesar 0,545 sehingga ada hubungan positif kuat antara variabel dengan nilai persamaan regresi Y = 35,991 + 0,448X2, sehingga nilai murni variabel kinerja tanpa dipengaruhi variabel motivasi sebesar 35,991, sedangkan nilai kontribusi variabel motivasi sebesar 0,448, hasil uji hipotesis terlihat thitung 6,166 > ttabel 2,000 maka (Ha) diterima dengan ρ = 0,000 < α = 0,05, dengan demikian motivasi memiliki pengaruh positif signifikan terhadap kinerja. Terhadap hasil uji simultan terlihat nilai korelasi sebesar 0,723, maka terdapat hubungan positif sangat kuat antar variabel independen dengan variabel dependen.Kata kunci: Pengaruh, Motivasi Kerja, Kinerja
KARBON TERSIMPAN DI TATA GUNA LAHAN SUB-SUB DAS KHILAU DAS SEKAMPUNG Ratih Rinda Ningsih; Irwan Sukri Banuwa; Duryat -; Slamet Budi Yuwono
Jurnal Hutan Tropis Vol 9, No 1 (2021): Jurnal Hutan Tropis Volume 9 No 1 Edisi Maret 2021
Publisher : Lambung Mangkurat University-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (708.525 KB) | DOI: 10.20527/jht.v9i1.10475

Abstract

The khilau is one of sub-watershed of the sekampung watershed. The area was very important due to its function as catchment area which is also located close to TAHURA (great forest park ) Wan Abdurrachman, there for sub-watershed khilau plays a very strategic role in the preservation of biodiversity and climate change.  The study aims were to analyze the carbon determine the total carbon dioxide uptake and oxygen release in the khilau sub-watershed. The carbon stored was extimated by using allometric equation the biomass tree. The biomass expantion factor was employed estimated of  biomass.  The carbon conten multiplication with the value of the conversion of carbon elements to carbon dioxide, while for the oxigen release was estimated by multiplying the value of carbon squestration by the conversion value of carbon atoms to oxygen based on atomic weight. The result showed that carbon stored in the forest was 141,69 tons/ha, it was greater than agroforetry (75,33 tons/ha), shrubs (24,74 tons/ha), annual plant (11,13 tons/ha) and paddy fields (3,45 tons/ha) with a total area of forest 52,22 ha, agroforestry 457,86 ha, shrub 28,74 ha, annual plant 84,8 ha and paddy fields 2,36 ha.  The total carbon dioxide absorbtion was 159.832,73 tons and oxygen release was 426.220,61 tons.
AGROFORESTRI BERBASIS ROTAN TERHADAP SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT DI BARITO SELATAN Johanna Maria Rotinsulu; Sosilawaty Sosilawaty; Yanarita Yanarita
Jurnal Hutan Tropis Vol 4, No 1 (2016): Jurnal Hutan Tropis Volume 4 Nomer 1 Edisi Maret 2016
Publisher : Lambung Mangkurat University-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1773.417 KB) | DOI: 10.20527/jht.v4i1.2886

Abstract

South Barito is an area of rattan and rattan production center of the province of Central Kalimantan, on the other hand is one area that has natural conditions very conducive to the development of rattan. This study reveals how patterns in addition to planting and processing of rattan traditionally also analyze the socio-economic level of society. Research conducted in South Barito regency, District Karau in Two Villages is Bangkuang and New Salat. The village of the second sample is determined gardens and population are farmers who cultivate cane with sampling methods by simple random sampling, because the peasant population is homogeneous, the number of samples in each village 34 respondents or 68 farmers overall. The result showed that in general the rattan garden where the studies were not well-maintained, where the average of respondents (45%) said that maintenance is only performed at the time of going to the harvesting or one for rattan planting. Besides the low price of rattan is led to a reduction of land management / rattan gardens intensively. and production of rattan average yield of 2.6 tons ha-1 or 245.5 clumps of cane ha-1. For the villagers of business administration studies despite conditions that are considered less favorable, but they still look forward to the Government's policy to remain aligned to the Farmers Rattan. In addition, because cane is inherited and used as a hallmark of South Barito society in general.Barito Selatan merupakan daerah penghasil rotan dan sentra produksi rotan provinsi Kalimantan Tengah, selain itu merupakan salah satu wilayah yang memiliki kondisi alam yang sangat mendukung bagi perkembangan rotan. Penelitian ini selain untuk mengungkapkan bagaimana pola tanam dan pengolahan rotan secara tradisional juga  menganalisis tingkat sosial ekonomi masyarakat. Penelitian dilaksanakan di Kabupaten Barito Selatan, Kecamatan Karau di Dua Desa yaitu Bangkuang dan Salat Baru. Dari kedua Desa tersebut ditentukan kebun sampel dan populasi masyarakat  yaitu  petani yang mengusahakan rotan dengan metode pengambilan sampel secara simple random sampling, karena populasi petani bersifat homogen, jumlah sampel di masing-masing desa 34 responden atau keseluruhan 68 petani. Dari hasil penelitian diperoleh bahwa pada umumnya kebun rotan di tempat penelitian tersebut tidak terpelihara dengan baik, dimana rata-rata responden (45%) menyebutkan bahwa pemeliharaan hanya dilakukan pada saat akan dilakukan pemanenan atau satu kali selama rotan itu di tanam. Selain itu rendahnya  harga  rotan  sangat  berdampak pada berkurangnya pengelolaan lahan/kebun rotan secara intensif. dan hasil produksi rotan rata-rata diperoleh 2,6 ton ha-1 atau 245,5 rumpun rotan ha-1. Bagi masyarakat Desa studi walaupun kondisi tataniaga yang dianggap kurang menguntungkan, namun mereka masih berharap kebijakan Pemerintah tetap berpihak kepada Petani Rotan. Di samping itu  karena pada umumnya rotan merupakan warisan dan digunakan sebagai ciri khas masyarakat Barito Selatan.
PEMANFAATAN CITRA LANDSAT UNTUK VALUASI JASA LINGKUNGAN HUTAN NEGARA DALAM PENGENDALIAN PENYAKIT DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD) : STUDI DI PROVINSI LAMPUNG Yustinus Seno; Samsul Bakri; Dyah W.S.R. Wardani; Rudi Hilmanto
Jurnal Hutan Tropis Vol 6, No 3 (2018): JURNAL HUTAN TROPIS VOLUME 6 NOMER 3 EDISI NOVEMBER 2018
Publisher : Lambung Mangkurat University-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3492.844 KB) | DOI: 10.20527/jht.v6i3.6004

Abstract

The current population has not been balanced by the fulfillment of minimum land needs for sustainable welfare improvement. This reality can be a trigger for communities to convert forest land. Changes in forest cover due to conversion will lead to microclimate change that may affect temperature rise and ecological changes. Temperature, moisture, and nutrient affect vector distribution, population dynamics, feeding activity, virus incubation period in mosquito body, adult mosquito life and the gonotrophic cycle of mosquitoes such as Aedes aegypti that causes Dengue Hemorrhagic Fever (DHF). Therefore, this study aims to determine the valuation of forests role in providing environmental services upon the control of dengue disease in Lampung Province. The data that collected were primary data of the land cover change in Lampung Province and secondary data such as rainfall data, population density and Incidence Rate of Dengue Hemorrhagic Fever. Afterwards, the dynamics of forest and land cover change at the district/city were identified through image Landsat of 5, 7 and 8 of 2001, 2006, 2009 and 2014, their contribution to DHF case was analyzed using multiple linear regression models while in determining the valuation of environmental services, a human capital approach was used . The results showed that there was a significant correlation between population density 0.020966 (p = 0,000), the change of community forest cover -7,875 (p = 0,070), protected forest -7,782 (p = 0,099) and land conversion -6,941 (p = 0,060) towards the rate of DHF case in Lampung Province in 2001, 2006, 2009 and 2014. The valuation of environmental services of protected forest in Lampung Province through human capital approach by DHF medical cost approach technique was Rp.3.033.561.760, - / year, while for the community forest was Rp. 3.070.307.460, - / year.Jumlah penduduk yang ada saat ini ternyata belum diimbangi dengan pemenuhan kebutuhan lahan minimal untuk peningkatan kesejahteraan secara berkesinambungan. Realitas ini dapat menjadi pemicu masyarakat untuk mengkonversi lahan hutan. Perubahan penutupan lahan hutan karena konversi akan mengakibatkan perubahan iklim mikro yang dapat berpengaruh terhadap peningkatan suhu dan perubahan ekologi. Suhu, kelembaban dan nutrisi mempengaruhi distribusi vektor, dinamika populasi, aktifitas makan, masa inkubasi virus dalam tubuh nyamuk, jangka hidup nyamuk dewasa dan siklus gonotrofik nyamuk seperti nyamuk Aedesaegypti yang menyebabkan Demam Berdarah Dengue (DBD). Penelitian ini bertujuan menentukan valuasi peranan hutan dalam penyediaan jasa lingkungan pada pengendalian penyakit DBD di Provinsi Lampung. Data yang dikumpulkan meliputi data primer perubahan tutupan lahan di Provinsi Lampung dan data sekunder berupa data curah hujan, kepadatan penduduk dan insiden rate (IR) DBD. Dinamika perubahan tutupan hutan dan lahan per kabupaten/kota diidentifikasi melalui interpretasi citra Landsat 5, 7, dan 8 tahun 2001, 2006, 2009 dan 2014, kontribusinya terhadap insiden DBD dianalisis menggunakan model regresi linier berganda dan untuk menentukan valuasi jasa lingkungan digunakan pendekatan human capital. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan yang nyata antara kepadatan penduduk 0,020966 (p=0,000), perubahan tutupan hutan rakyat -7,875 (p=0,070), hutan lindung -7,782 (p=0,099) dan perubahan lahan terbangun -6,941 (p=0,060) terhadap angka kejadian DBD di Provinsi Lampung dari tahun 2001, 2006, 2009 dan 2014. Valuasi jasa lingkungan hutan lindung di Provinsi Lampung dengan pendekatan human capital melalui teknik pendekatan medical cost DBD adalah Rp. 3.033.561.760,-/tahun, sedangkan untuk hutan rakyat sebesar Rp. 3.070.307.460,-/tahun.  
EFEKTIVITAS IMPLEMENTASI KEBIJAKAN HTR DI KALIMANTAN SELATAN Rachman Effendi; Kushartati Budiningsih
Jurnal Hutan Tropis Vol 1, No 3 (2013): Jurnal Hutan Tropis Volume 1 Nomer 3 Edisi November 2013
Publisher : Lambung Mangkurat University-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (97.753 KB) | DOI: 10.20527/jht.v1i3.1539

Abstract

Masa depan industri kayu Indonesia akan tergantung pada keberhasilan pengembangan hutan tanaman. Dalam upaya tersebut pada tahun 2007 pemerintah telah memperkenalkan program hutan tanaman berbasis komunitas, Hutan Tanaman Rakyat (HTR). Penelitian efektivitas implementasi kebijakan HTR di Propinsi Kalimantan Selatan dilakukan untuk mengetahui efektivitas implementasi HTR dan faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitas implementasi kebijakan HTR. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan menggunakan metode studi kasus.  Penelitian dilaksanakan di Kabupaten Tabalong, Kabupaten Balangan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kabupaten Banjar, Kabupaten Tanah Laut, Kabupaten Tanah Bumbu dan Kabupaten Kotabaru.  Berdasarkan hasil penelitian bahwa perkembangan HTR setiap daerah bervariasi tergantung pada permasalahan implementasi dihadapi masing-masing kabupaten.  Tiap kabupaten juga mengembangkan pola HTR bervariasi, ada yang mandiri dengan kelompok tani atau koperasi dan ada yang mengimplementasi HTR dengan pola kemitraan.  Ditinjau dari “empat tepat” yakni ketepatan kebijakan, ketepatan pelaksana, ketepatan target dan ketepatan lingkungan, implementasi HTR di Kalimantan Selatan masih kurang efektif.  Ada beberapa faktor diantaranya komunikasi, SDM  sikap dan struktur birokrasi yang mempengaruhi efektivitas implementasi HTR di Kalimantan Selatan. Kata kunci : efektivitas, implementasi kebijakan, Hutan Tanaman Rakyat (HTR)

Page 10 of 58 | Total Record : 575


Filter by Year

2011 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 13, No 1 (2025): Jurnal Hutan Tropis Volume 13 Nomer 1 Edisi Maret 2025 Vol 12, No 4 (2024): Jurnal Hutan Tropis Volume 12 Nomer 4 Edisi Desember 2024 Vol 12, No 3 (2024): Jurnal Hutan Tropis Volume 12 Nomer 3 Edisi September 2024 Vol 12, No 2 (2024): Jurnal Hutan Tropis Volume 12 Nomer 2 Edisi Juni 2024 Vol 12, No 1 (2024): Jurnal Hutan Tropis Volume 12 Nomer 1 Edisi Maret 2024 Vol 11, No 4 (2023): Jurnal Hutan Tropis Volume 11 Nomer 3 Edisi Desember 2023 Vol 11, No 3 (2023): Jurnal Hutan Tropis Volume 11 Nomer 3 Edisi September 2023 Vol 11, No 2 (2023): Jurnal Hutan Tropis Volume 11 Nomer 2 Edisi Juni 2023 Vol 11, No 1 (2023): JURNAL HUTAN TROPIS VOLUME 11 NOMER 1 EDISI MARET 2023 Vol 10, No 3 (2022): Jurnal Hutan Tropis Volume 10 Nomer 3 Edisi November 2022 Vol 10, No 2 (2022): Jurnal Hutan Tropis Volume 10 Nomer 2 Edisi Juli 2022 Vol 10, No 1 (2022): JURNAL HUTAN TROPIS VOL 10 NO 1 EDISI MARET 2022 Vol 9, No 3 (2021): JURNAL HUTAN TROPIS VOLUME 9 NOMER 3 EDISI NOVEMBER 2021 Vol 9, No 2 (2021): JURNAL HUTAN TROPIS VOLUME 9 NOMER 2 EDISI JULI 2021 Vol 9, No 1 (2021): Jurnal Hutan Tropis Volume 9 No 1 Edisi Maret 2021 Vol 8, No 3 (2020): Jurnal Hutan Tropis Vol 8 No 3 edisi November 2020 Vol 8, No 2 (2020): Jurnal Hutan Tropis Vol 8 No 2 edisi Juli 2020 Vol 8, No 1 (2020): Jurnal Hutan Tropis Volume 8 No 1 Edisi Maret 2020 Vol 7, No 3 (2019): Jurnal Hutan Tropis Volume 7 No 3 Edisi November 2019 Vol 7, No 2 (2019): Jurnal Hutan Tropis Volume 7 No 2 Edisi Juli 2019 Vol 7, No 1 (2019): Jurnal Hutan Tropis Volume 7 No 1 Edisi Maret 2019 Vol 6, No 3 (2018): JURNAL HUTAN TROPIS VOLUME 6 NOMER 3 EDISI NOVEMBER 2018 Vol 6, No 2 (2018): Jurnal Hutan Tropis Volume 6 Nomer 2 Edisi Juli 2018 Vol 6, No 1 (2018): Jurnal Hutan Tropis Volume 6 Nomer 1 Edisi Maret 2018 Vol 5, No 3 (2017): JURNAL HUTAN TROPIS VOLUME 5 NOMER 3 EDISI NOVEMBER 2017 Vol 5, No 2 (2017): Jurnal Hutan Tropis Volume 5 Nomer 2 Edisi Juli 2017 Vol 5, No 1 (2017): Jurnal Hutan Tropis Volume 5 Nomer 1 Edisi Maret 2017 Vol 4, No 3 (2016): Jurnal Hutan Tropis Volume 4 Nomer 3 Edisi November 2016 Vol 4, No 2 (2016): Jurnal Hutan Tropis Volume 4 Nomer 2 Edisi Juli 2016 Vol 4, No 1 (2016): Jurnal Hutan Tropis Volume 4 Nomer 1 Edisi Maret 2016 Vol 3, No 3 (2015): Jurnal Hutan Tropis Volume 3 No 3 Edisi November 2015 Vol 3, No 2 (2015): Jurnal Hutan Tropis Volume 3 Nomer 2 Edisi Juli 2015 Vol 3, No 1 (2015): Jurnal Hutan Tropis Volume 3 Nomer 1 Edisi Maret 2015 Vol 2, No 3 (2014): Jurnal Hutan Tropis Volume 2 No 3 Edisi November 2014 Vol 2, No 2 (2014): Jurnal Hutan Tropis Volume 2 Nomer 2 Edisi Juli 2014 Vol 2, No 1 (2014): Jurnal Hutan Tropis Volume 2 Nomer 1 Edisi Maret 2014 Vol 1, No 3 (2013): Jurnal Hutan Tropis Volume 1 Nomer 3 Edisi November 2013 Vol 1, No 2 (2013): Jurnal Hutan Tropis Volume 1 Nomer 2 Edisi Juli 2013 Vol 1, No 1 (2013): Jurnal Hutan Tropis Volume 1 Nomer 1 Edisi Maret 2013 Vol 13, No 2 (2012): Jurnal Hutan Tropis Borneo Volume 13 No 2 Edisi September 2012 Vol 13, No 1 (2012): Jurnal Hutan Tropis Borneo Volume 13 No 1 Edisi Maret 2012 Vol 12, No 32 (2011): Jurnal Hutan Tropis Volume 12 Nomer 32, Edisi September 2011 Vol 12, No 31 (2011): Jurnal Hutan Tropis Borneo Volume 12 Nomer 31 Tahun 2011 More Issue