cover
Contact Name
Rahmiyati
Contact Email
hutantropisunlam@gmail.com
Phone
+6281348623216
Journal Mail Official
hutantropisunlam@gmail.com
Editorial Address
Fakultas Kehutanan Universitas Lambung Mangkurat Jl. A. Yani KM 36 Banjarbaru, Kalimantan Selatan
Location
Kota banjarmasin,
Kalimantan selatan
INDONESIA
JURNAL HUTAN TROPIS
ISSN : 23377771     EISSN : 23377992     DOI : http://dx.doi.org/10.20527/jht.v10i2
Jurnal Hutan Tropis (JHT) adalah blind peer-reviewed yang mempublikasikan artikel ilmiah dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi kehutanan mencakup kajian manajemen hutan, ekonomi dan bisnis kehutanan, pengelolaan DAS, hidrologi, silvikultur, penginderaan jauh, ekologi, ekowisata, ilmu tanah hutan, agroforestri, perhutanan sosial, kebijakan kehutanan, perencanaan hutan, penyuluhan kehutanan, teknologi hasil hutan, konservasi sumberdaya hutan, dan perlindungan hutan.
Articles 589 Documents
KAJIAN POTENSI DAN PENGEMBANGAN PENGUSAHAAN ARANG KAYU DI DESA RANGGANG LUAR KECAMATAN TAKISUNG KABUPATEN TANAH LAUT PROVINSI KALIMANTAN SELATAN Zainal Abidin; Ahmad Jauhari; Muhammad Hafizh Afriza
Jurnal Hutan Tropis Vol 6, No 2 (2018): Jurnal Hutan Tropis Volume 6 Nomer 2 Edisi Juli 2018
Publisher : Lambung Mangkurat University-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jht.v6i2.5398

Abstract

The objectives of this study were to inventory the number of charcoal kiln and the people who work on it. Knowing the factors of production business of making charcoal contained in Ranggang Luar Village, which included: raw materials, technology, manufacturing and yield, and provide a policy direction to the sustainability of wood charcoal business. Determination of the sample interviews to obtain a detailed profile related to utilization of wood charcoal is purposive sampling which was chosen first on a charcoal maker community. Sample of the respondents for interviews taken from the relevant authorities, village’s chief and purposively of the number of households (families) in the village of charcoal maker in every RT.Ranggang Luar Community who has the business of wood charcoal is numbered 98 people. Charcoal kilns spread almost evenly on Ranggang Luar Village, the number of furnace reached 478 pieces. The size of kiln in Ranggang Luar Village is 4.5 m in circumferenceand 2.5 m in high. The capacity of kilnand production of charcoalwere 15 tonnesand 3.05 tonnes, respectivelywith the average of yield was20.3%.Penelitian ini bertujuan untuk menginventarisir jumlah dapur arang serta masyarakat yang mengusahakannya. Mengetahui faktor produksi usaha pembuatan arang kayu yang terdapat di Desa Ranggang Luar, yang meliputi: bahan baku, teknologi, pembuatan dan rendemen dan memberikan suatu arah kebijakan untuk keberlanjutan usaha arang kayu.Penentuan sampel wawancara untuk mendapatkan profil detail terkait pengusahaan arang kayu dilakukan secara purposive sampling dimana dipilih terlebih dahulu pada masyarakat pembuat arang kayu. Sampel responden untuk wawancara diambil dari instansi terkait, kepala desa dan secara purposive dari jumlah kepala keluarga (KK) pembuat arang di desa pada setiap RT. Masyarakat Desa Ranggang Luar yang menjadi pengusaha arang kayu adalah berjumlah 98 orang. Terlihat tungku arang menyebar hampir merata pada Desa Ranggang Luar, banyaknya tungku mencapai 478 buah. Ukuran keliling tobong yang digunakan pada Desa Ranggang Luar 4,5 m dengan tinggi 2,5 m. Kapasitas muat kayu (bahan baku) untuk tobong yang digunakan dan rata – rata akan menghasilkan arang secara berurutansebanyak 15 ton dan 3,05 ton arang, dengan rata – rata rendemen dari satu dapur arang sebanyak 20,3 %.
NILAI EKONOMI PUSAT LATIHAN GAJAH DI TAMAN NASIONAL WAY KAMBAS Ikhsan Pandu Wibowo; Susni Herwanti; Indra Gumay Febryano; Gunardi Djoko Winarno
Jurnal Hutan Tropis Vol 7, No 1 (2019): Jurnal Hutan Tropis Volume 7 No 1 Edisi Maret 2019
Publisher : Lambung Mangkurat University-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jht.v7i1.7211

Abstract

The Elephant Training Center is a tourist attraction frequented by people in Lampung Province.  This study aims to analyze the travel cost of each zone and determine economic value total Elephant Training Center.  Data collection method is by direct interview using questionnaires and sampling using purposive sampling technique.  Calculation of economic value is determined based on the (Travel Cost Method).  The results revealed the travel costs in East Lampung Regency were Rp 119,558, Metro City Rp 207,638, Bandar Lampung City Rp 178,244, Central Lampung District Rp 169,320, North Lampung District Rp 180,255, South Lampung District Rp 188,759, Pringsewu District Rp 227,428, Tanggamus District Rp. 224,004, Way Kanan Regency Rp 232,003, District Tulang Bawang 303,001, South Sumatera Province/Oku South Rp 215,751, South Sumatera Province/Pali Rp 215,101 and Tangerang City Rp 359,010.  Meanwhile, the total travel cost of visitor was Rp 15.818.008/times of visit, the average cost of visitor was Rp 158.180/person/times of visit. The economic value of tourism services was Rp 5.429.555.090/year.  Increasing promotion and improving facilities and facilities needs to be done by the management so that the Elephant Training Center becomes a tourist attraction in East Lampung Regency.
VARIASI KANDUNGAN KIMIA TANAMAN SUKUN DARI BEBERAPA POPULASI DI INDONESIA SEBAGAI SUMBER PANGAN DAN OBAT Hamdan Adma Adinugraha; Siti Susilawati
Jurnal Hutan Tropis Vol 2, No 3 (2014): Jurnal Hutan Tropis Volume 2 No 3 Edisi November 2014
Publisher : Lambung Mangkurat University-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jht.v2i3.2249

Abstract

Tanaman sukun (Artocarpus altilis [Parkinson] Fosberg) adalah salah satu tanaman serbaguna yang banyak dibudidayakan oleh masyarakat Indonesia yang tersebar dari Aceh hingga Papua. Jenis ini menghasilkan buah yang memiliki kandungan gizi yang tinggi sehingga sangat potensial untuk dikembangkan sebagai alternatif sumber makanan pokok. Untuk mengidentifikasi keanekaragaman tanaman sukun di Indonesia, dilakukan uji klon dari 14 populasi asal, yaitu Sleman, Gunung Kidul, Banten, Sukabumi, Cilacap, Kediri, Banyuwangi, Madura, Bali, Mataram, Lampung, Bone, Sorong dan Manokawari, di Gunung Kidul pada tahun 2003 – 2004.  Pengumpulan buah juga dilakukan dari populasi alami untuk dianalisis kandungan kimianya, sedangkan analisis kandungan kimia pada kulit dan daun, dilakukan pengambilan sampel dari plot uji klonal sukun di Gunung Kidul, Yogyakarta. Pengamatan morfologi tanaman sukun menunjukkan beberapa variasi pada pertumbuhan batang, percabangan, bentuk daun dan juga bentuk dan ukuran buah. Hasil analisis kimia menunjukkan adanya variasi di antara populasi-populasi tersebut sebagai berikut rata-rata jumlah kalori (62,65-110,98), karbohidrat (7,81-24,32%), protein (1,38-3,67%.), Lemak (0,31-0,47%), vitamin C (19,56-47,74 mg / 100g), fosfor (10.14-35-68 mg / 100g), kalsium (42,23-251,45 ppm), serat (1,18-1,84%), dan besi (0.51 ppm). Hasil analisis kimia tepung sukun menunjukkan bahwa rata-rata kandungan karbohidrat (70,44%), protein (6,59%), lemak (1,29%) dan serat (6,55%). Isi fenolik Total berada di kulit batang (4,79%), kulit cabang (4,25%), daun (4.89%) dan buah (2,01%). Selain itu ditemukan bahwa dalam kulit batang dan cabang, daun dan buah-buahan positif mengandung senyawa saponin.Breadfruit plant or Artocarpus altilis (Parkinson) Fosberg is one of versatile plant that is widely cultivated by  Indonesian people that spread from Aceh to Papua. It  produces fruit that has a high nutrient content so it is potential to be developed as  an alternative sources of staple food. In order to identify the diversity of breadfruit plants in Indonesia, the clonal plantation test of 14 origin populations, namely Sleman, Gunung Kidul, Banten, Sukabumi, Cilacap, Kediri, Banyuwangi, Madura, Bali, Mataram, Lampung, Bone, Sorong and Manokawari has been planted in Gunung Kidul  in 2003 – 2004. The fruits were  collected  from natural populations and they were analyzed on chemical content, while  the analysis of the chemical content in the bark and loaves, used samples from clonal test of breadfruit in Gunung Kidul, Yogyakarta. Morphological observations of breadfruit plant indicated some variations on stem growth, branching, leaf shape and also the shape and size of the fruits. The chemical analysis results showed some variations among the populations as follows the average number of calories (62.65-110.98), carbohydrates (7.81-24.32%), protein (1.38-3.67%.), fat (0.31-0.47%), vitamin C (19.56-47.74 mg/100g), phosphorus (10.14-35-68 mg/100g), calcium (42.23-251.45 ppm), fiber (1.18-1.84%), and iron (0.51 ppm). The chemical analysis result of breadfruit flour showed that the average of carbohydrate content (70.44%), protein (6.59%), fat (1.29%) and fiber (6.55%). The total phenolic content were on the stembark (4.79%), bark of branches (4.25%), leaf (4.89%) and fruit (2.01%). Beside that it was found that in the bark of stem and  branches, leaves and fruits positively contained saponin compound.
BIAYA REVEGETASI GAMBUT BERDASARKAN KARAKTERISTIK SPESIFIK LAHAN GAMBUT Rina Muhaya; Asysyifa Asysyifa
Jurnal Hutan Tropis Vol 9, No 2 (2021): JURNAL HUTAN TROPIS VOLUME 9 NOMER 2 EDISI JULI 2021
Publisher : Lambung Mangkurat University-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jht.v9i2.11297

Abstract

Peat revegetation is an effort to reduce the rate of areas reduction and the decreasing of storing capability of carbon and to restore the ecological function of peatlands. The purpose of this study was to analyze the cost components of peatland revegetation activities and to analyze the cost of each peat revegetation activity component. The research location taked place in 2 (two) villages, Haur Gading District, HSU Regency, South Kalimantan. The components of revegetation costs were grouped into: transportation costs, tools and mateials, payment and other costs. Data obtained from surveys and field observations and interviews. The data analysis used were a tabulation matrix and a comparison of each cost component for revegetation activities from the 2 compared villages. The total cost of Village A peatland revegetation activities is 10,851,018/ha. The characteristics of the community in Village A are very participatory and willing to cooperate with outside parties so that revegetation activities in this Village run well. The very high value of mutual cooperation and the desire to put common interests first became the basis for their actions. Village B revegetation activity costs Rp.12,117,883.00/ha. The very large costs involved in the procurement of seedlings due to the addition of 3,500 seedlings/21ha as replacements for dead, damaged or lost seedlings. The difference in the cost of revegetation activities is IDR 1,266,865/ha. This shows that a high level of participation and cooperation is able to reduce the cost of revegetation of peatlands.
PENINGKATAN PRODUKTIVITAS PENYARADAN KAYU Acacia crassicarpa MELALUI PENERAPAN TEKNIK RAMAH LINGKUNGAN Sona Suhartana; Yuniawati Yuniawati
Jurnal Hutan Tropis Vol 3, No 2 (2015): Jurnal Hutan Tropis Volume 3 Nomer 2 Edisi Juli 2015
Publisher : Lambung Mangkurat University-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jht.v3i2.1515

Abstract

Penyaradan merupakan kegiatan yang membutuhkan biaya yang besar. Peningkatan produktivitas penyaradan harus diupayakan untuk menekan pengeluaran biaya penyaradan. Penelitian dilaksanakan pada tahun 2013 di areal kerja hutan tanaman PT Daya Tani KalBar, Distrik Rumbia, Kabupaten Ketapang, Provinsi Kalimantan Barat. Penelitian bertujuan untuk mengetahui peranan teknik pemanenan ramah lingkungan/Reduced Impact Logging (RIL) dalam rangka meningkatkan produktivitas penyaradan kayu Acacia crassicarpa dan meminimalkan biaya produksi penyaradan di hutan tanaman lahan gambut. Data produktivitas dan biaya sarad diproses ke dalam bentuk tabulasi dan dihitung rata-ratanya kemudian dianalisis menggunakan uji-t dengan software SPSS 18. Hasil penelitian menunjukkan bahwa:  Penerapan RIL dalam penyaradan kayu Acacia crassicarpa menghasilkan rata-rata produktivitas penyaradan sebesar 15,750 m3/jam lebih tinggi daripada teknik setempat, dengan selisih sebesar 1,825 m3/jam (11,59%). Rata-rata biaya penyaradan kayu dengan teknik RIL lebih rendah daripada teknik setempat yaitu sebesar Rp 30.332,52/m3 dengan selisih Rp 3.592,66/m3 (10,59%). Pemilihan alat penyaradan terutama pada areal lahan gambut harus melalui perencanaan yang tepat, karena kondisi kayu pada lokasi hutan tanaman dan hutan alam lahan kering dan gambut sangat berbeda.Kata kunci: Teknik penyaradan, Teknik Ramah Lingkungan, teknik setempat, lahan gambut
PERBANYAKAN Dacrycarpus imbricatus (Blume) de Laub. DENGAN BIJI DI KEBUN RAYA “EKA KARYA” BALI I Dewa Putu Darma; Arief Priyadi
Jurnal Hutan Tropis Vol 7, No 3 (2019): Jurnal Hutan Tropis Volume 7 No 3 Edisi November 2019
Publisher : Lambung Mangkurat University-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jht.v7i3.7585

Abstract

Dacrycarpus imbricatus (Blume) de Laub. merupakan jenis pohon dioecious. D. imbricatus di alam perbanyakannya dengan biji. Status dan distribusinya di Bali mulai terancam. Penelitian perbanyakan D. imbricatus menggunkan biji baru sedikit diteliti. Tujuan penelitian untuk mengetahui perbanyakan D. imbricatus dengan biji. Metode dengan melakukan perlakukan pemilihan biji berdasarkan warna dan perlakukan secara pengeringan dan penyimpanan. Waktu yang diperlukan biji untuk berkecambah 20-82 hari. Penyiraman dengan sistem pembasahan media baik dilakukan untuk perkecambahan bijinya. Perkecambahan biji D. imbricatus terdiri dari tiga tahap yaitu: pemanjangan epikotil, epikotil tumbuh tegak, dan daun pertama mekar. Perkecambahan bijinya dipengaruhi oleh faktor internal tingkat kemasakan fisiologis, biji merah memiliki viabilitas yang lebih baik dan faktor eksternal air dan kelembaban media.
PENGARUH PUPUK NPK MUTIARA TERHADAP PERTUMBUHAN ANAKAN TANAMAN TANJUNG (Mimusops elengi L) DI SEED HOUSE FAKULTAS KEHUTANAN UNLAM BANJARBARU Ahmad Yamani; Sulaiman Bakri; Asmuri Achmad; Normela Rachmawati
Jurnal Hutan Tropis Vol 1, No 3 (2013): Jurnal Hutan Tropis Volume 1 Nomer 3 Edisi November 2013
Publisher : Lambung Mangkurat University-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jht.v1i3.1540

Abstract

Tanjung (M. elengi L ) adalah spesies tanaman yang sudah terancam punah keberadaannya, meskipun tanaman ini memiliki nilai ekonomi yang tinggi dan direkomendasikan sebagai salah satu spesies reboisasi dalam rangka untuk memperbaiki atau merehabilitasi hutan dan lahan. Tindakan silvikultur sangat dibutuhkan dalam budidaya tanaman tanjung ini mengingat bahwa pembudayaannya saat masih sangat terbatas dan tidak banyak upaya pelestarian yang dlakukan. Untuk itulah penelitian ini dilakukan sehingga menghasilkan bibit unggul yang berkualitas dan benar-benar siap untuk ditanam di lapangan.  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pupuk NPK Mutiara terhadap pertumbuhan bibit tanjung (M.elengi L ) dan untuk menentukan jumlah atau dosis pupuk yang terbaik.  Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL), dengan 3 perlakuan diulang sebanyak 5 kali , jadi seluruhnya terdapat ada 15 unit percobaan.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan pupuk NPK Mutiara berpengaruh sangat signifikan terhadap rata-rata pertambahan tinggi dan diameter batang anakan tanjung. Sedangkan pemberian pupuk NPK tidak berpengaruh secara signifikan terhadap rata-rata pertambahan jumlah daun anakan tanjung. Direkomendasikan bahwa penggunaan pupuk NPK dengan dosis 5 gram (perlakuan B) untuk meningkatkan pertumbuhan tinggi dan diameter batang anakan tanjumg.Kata kunci : Pupuk NPK, Pertumbuhan, Tanjung
PERSEPSI DAN SIKAP KELOMPOK TANI HUTAN KEMASYARAKATAN TEBING SIRING TERHADAP PROGRAM KELOMPOK USAHA PERHUTANAN SOSIAL LEBAH MADU Trisnu Satriadi; Mahrus Aryadi; Hamdani Fauzi
Jurnal Hutan Tropis Vol 8, No 2 (2020): Jurnal Hutan Tropis Vol 8 No 2 edisi Juli 2020
Publisher : Lambung Mangkurat University-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jht.v8i2.9050

Abstract

Apiculture is a program of the Center for Social Forestry and EnvironmentalPartnership Kalimantan for the members of the Community Forestry Farmer Group in Tebing Siring village through the Social Forestry Business Group which began in 2017. The purpose of this research is to determine the perceptions and attitudes of Community Forestry farmer groups on the apiculture program. The results of the study explained that members of the farmer group strongly agreed with the apiculture program, because they profoundly understood honey bee feed cultivation will benefit for the rehabilitation of protected forests and the honey can increase their income. The attitude of members of the farmer group in running the apiculture program is relatively low due to bear pest problems, remote locations, and limited technical coaching. Solutions that can be taken to overcome these problems are pest control, equipment subsidies and kelulut bee cultivation.
PENGARUH BERBAGAI ZPT TERHADAP PERTUMBUHAN STEK PUCUK BINTARO (Cerbera manghas) DI GREEN HOUSE Eny Dwi Pujawati; Susilawati Susilawati; Hasna Qorria Palawati
Jurnal Hutan Tropis Vol 5, No 1 (2017): Jurnal Hutan Tropis Volume 5 Nomer 1 Edisi Maret 2017
Publisher : Lambung Mangkurat University-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jht.v5i1.4055

Abstract

Bintaro is one of the most useful plants for greening and decorating the city. Bintaro is a mangrove plant that lives on the beach but the use of bintaro as a tree of greening and shading on the roadside has shown bintaro has a high adaptability. Bintaro is able to live in the condition of the land on the side of the road where the soil conditions are different from the mangrove soil. Thus can be known Bintaro including shade trees are strong growth fast and easy to adapt to various conditions of the land. So far, people only recognize bintaro plants as shade plants and the city has not been exploited so the economic value is still low. The fibers in bintaro fruit are formed from cellulose. The presence of lignocellulosic content in bintaro fruit fiber is potential to be utilized as raw material for particle board manufacture. One of Bintaro's simple, easy, and fast method of propagation is by tapping. The problem of root formation is a fundamental problem of vegetative propagation, especially for the way of cuttings. Therefore, research on the influence of the ZPT type and its combination needs to be done to support success in Bintaro cultivation. The results showed that the growth regulator substances in the form of Rootone F, IBA and tauge extract have not been able to form the real roots but new to the formation of root primordia. The best ZPT treatment for growing percentage and increase of leaf number is IBA while giving ZPT Rootone F shows best shoot length results compared to other ZPT.Bintaro merupakan salah satu jenis tanaman yang berguna untuk penghijauan dan penghias kota. Bintaro merupakan tanaman mangrove yang hidup di pinggir pantai namun pemanfaatan bintaro sebagai pohon penghijauan dan peneduh di pinggir jalan sudah menunjukkan bintaro memiliki kemampuan adaptasi  yang cukup tinggi. Bintaro mampu hidup di kondisi tanah dipinggir jalan dimana kondisi tanahnya berbeda dengan tanah mangrove. Demikian dapat diketahui Bintaro termasuk pohon peneduh yang kuat pertumbuhannya cepat dan gampang beradaptasi dengan berbagai kondisi lahan. Selama ini masyarakat hanya mengenal tanaman bintaro sebagai tanaman peneduh kota dan belum banyak dimanfaatkan sehingga nilai ekonomisnya masih rendah. Serat pada buah bintaro dibentuk dari selulosa. Adanya kandungan lignoselulosa pada serat buah bintaro berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan papan partikel. Salah satu metode perbanyakan Bintaro yang sederhana, mudah, dan cepat adalah dengan melakukan penyetekan. Masalah pembentukan akar merupakan masalah pokok dari perbanyakan vegetatif, terutama untuk cara stek. Oleh karena itu, penelitian mengenai pengaruh jenis ZPT dan kombinasinya perlu dilakukan untuk menunjang keberhasilan dalam budidaya Bintaro. Hasil penelitian menunjukkan bahwa  pemberian zat pengatur tumbuh berupa Rootone F, IBA dan ekstrak tauge belum mampu membentuk akar yang sesungguhnya namun baru pada pembentukan primordia akar.  Perlakuan ZPT yang terbaik untuk persentase tumbuh dan pertambahan jumlah daun adalah IBA sedangkan pemberian ZPT Rootone F menunjukkan hasil panjang tunas terbaik dibandingkan ZPT yang lain.
EVALUASI PERTUMBUHAN TANAMAN UJI KLON JATI PADA UMUR 10 TAHUN DI WONOGIRI, JAWA TENGAH Growth evaluation of teak clonal test plantation at 10 years old in Wonogiri, Central Java Hamdan Adma Adinugraha; S. Pudjiono
Jurnal Hutan Tropis Vol 2, No 2 (2014): Jurnal Hutan Tropis Volume 2 Nomer 2 Edisi Juli 2014
Publisher : Lambung Mangkurat University-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jht.v2i2.1578

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui persentase hidup tanaman, kinerja pertumbuhan (tinggi, tinggi bebas cabang, dbh, bentuk batang dan volume pohon), pembungaan dan taksiran heritabilitas. Penelitian ini dilakukan di Hutan Penelitian Wonogiri Jawa Tengah dengan rancangan acak kelompok yang terdiri atas 20 klon, 5 ramet, yang diulang dalam 5 blok/replikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase hidup tanaman pada umur 10 tahun bervariasi 20-84%, rata-rata tinggi pohon 12,38 m, dbh 18,54 cm, tinggi batang bebas cabang 4,22 m,  skor bentuk batang 2,38 dan taksiran volume pohon    0,258 m3. Taksiran heritabilitas klon (Hc) untuk Hc sifat tinggi 0,504, dbh 0,336, volume pohon 0,485,  tinggi bebas cabang 0,581 dan untuk sifat bentuk batang 0,633. Adapun pembungaan tanaman masih terbatas dan tidak merata yaitu hanya 15% klon yang sudah berbunga.Kata Kunci: Heritabilitas, Jati, Pertumbuhan, Uji klon

Filter by Year

2011 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 13, No 4 (2025): Jurnal Hutan Tropis Volume 13 Nomer 4 Edisi Desember 2025 Vol 13, No 1 (2025): Jurnal Hutan Tropis Volume 13 Nomer 1 Edisi Maret 2025 Vol 12, No 4 (2024): Jurnal Hutan Tropis Volume 12 Nomer 4 Edisi Desember 2024 Vol 12, No 3 (2024): Jurnal Hutan Tropis Volume 12 Nomer 3 Edisi September 2024 Vol 12, No 2 (2024): Jurnal Hutan Tropis Volume 12 Nomer 2 Edisi Juni 2024 Vol 12, No 1 (2024): Jurnal Hutan Tropis Volume 12 Nomer 1 Edisi Maret 2024 Vol 11, No 4 (2023): Jurnal Hutan Tropis Volume 11 Nomer 3 Edisi Desember 2023 Vol 11, No 3 (2023): Jurnal Hutan Tropis Volume 11 Nomer 3 Edisi September 2023 Vol 11, No 2 (2023): Jurnal Hutan Tropis Volume 11 Nomer 2 Edisi Juni 2023 Vol 11, No 1 (2023): JURNAL HUTAN TROPIS VOLUME 11 NOMER 1 EDISI MARET 2023 Vol 10, No 3 (2022): Jurnal Hutan Tropis Volume 10 Nomer 3 Edisi November 2022 Vol 10, No 2 (2022): Jurnal Hutan Tropis Volume 10 Nomer 2 Edisi Juli 2022 Vol 10, No 1 (2022): JURNAL HUTAN TROPIS VOL 10 NO 1 EDISI MARET 2022 Vol 9, No 3 (2021): JURNAL HUTAN TROPIS VOLUME 9 NOMER 3 EDISI NOVEMBER 2021 Vol 9, No 2 (2021): JURNAL HUTAN TROPIS VOLUME 9 NOMER 2 EDISI JULI 2021 Vol 9, No 1 (2021): Jurnal Hutan Tropis Volume 9 No 1 Edisi Maret 2021 Vol 8, No 3 (2020): Jurnal Hutan Tropis Vol 8 No 3 edisi November 2020 Vol 8, No 2 (2020): Jurnal Hutan Tropis Vol 8 No 2 edisi Juli 2020 Vol 8, No 1 (2020): Jurnal Hutan Tropis Volume 8 No 1 Edisi Maret 2020 Vol 7, No 3 (2019): Jurnal Hutan Tropis Volume 7 No 3 Edisi November 2019 Vol 7, No 2 (2019): Jurnal Hutan Tropis Volume 7 No 2 Edisi Juli 2019 Vol 7, No 1 (2019): Jurnal Hutan Tropis Volume 7 No 1 Edisi Maret 2019 Vol 6, No 3 (2018): JURNAL HUTAN TROPIS VOLUME 6 NOMER 3 EDISI NOVEMBER 2018 Vol 6, No 2 (2018): Jurnal Hutan Tropis Volume 6 Nomer 2 Edisi Juli 2018 Vol 6, No 1 (2018): Jurnal Hutan Tropis Volume 6 Nomer 1 Edisi Maret 2018 Vol 5, No 3 (2017): JURNAL HUTAN TROPIS VOLUME 5 NOMER 3 EDISI NOVEMBER 2017 Vol 5, No 2 (2017): Jurnal Hutan Tropis Volume 5 Nomer 2 Edisi Juli 2017 Vol 5, No 1 (2017): Jurnal Hutan Tropis Volume 5 Nomer 1 Edisi Maret 2017 Vol 4, No 3 (2016): Jurnal Hutan Tropis Volume 4 Nomer 3 Edisi November 2016 Vol 4, No 2 (2016): Jurnal Hutan Tropis Volume 4 Nomer 2 Edisi Juli 2016 Vol 4, No 1 (2016): Jurnal Hutan Tropis Volume 4 Nomer 1 Edisi Maret 2016 Vol 3, No 3 (2015): Jurnal Hutan Tropis Volume 3 No 3 Edisi November 2015 Vol 3, No 2 (2015): Jurnal Hutan Tropis Volume 3 Nomer 2 Edisi Juli 2015 Vol 3, No 1 (2015): Jurnal Hutan Tropis Volume 3 Nomer 1 Edisi Maret 2015 Vol 2, No 3 (2014): Jurnal Hutan Tropis Volume 2 No 3 Edisi November 2014 Vol 2, No 2 (2014): Jurnal Hutan Tropis Volume 2 Nomer 2 Edisi Juli 2014 Vol 2, No 1 (2014): Jurnal Hutan Tropis Volume 2 Nomer 1 Edisi Maret 2014 Vol 1, No 3 (2013): Jurnal Hutan Tropis Volume 1 Nomer 3 Edisi November 2013 Vol 1, No 2 (2013): Jurnal Hutan Tropis Volume 1 Nomer 2 Edisi Juli 2013 Vol 1, No 1 (2013): Jurnal Hutan Tropis Volume 1 Nomer 1 Edisi Maret 2013 Vol 13, No 2 (2012): Jurnal Hutan Tropis Borneo Volume 13 No 2 Edisi September 2012 Vol 13, No 1 (2012): Jurnal Hutan Tropis Borneo Volume 13 No 1 Edisi Maret 2012 Vol 12, No 32 (2011): Jurnal Hutan Tropis Volume 12 Nomer 32, Edisi September 2011 Vol 12, No 31 (2011): Jurnal Hutan Tropis Borneo Volume 12 Nomer 31 Tahun 2011 More Issue