cover
Contact Name
Bayu Brahma
Contact Email
journal.cancer@gmail.com
Phone
+628176389956
Journal Mail Official
admin@indonesianjournalofcancer.or.id
Editorial Address
National Cancer Center - Dharmais Cancer Hospital Research and Development Building, 3rd-floor Jl. Letjen S. Parman Kav. 84-86, Slipi West Jakarta
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Indonesian Journal of Cancer
ISSN : 19783744     EISSN : 23556811     DOI : https://www.doi.org/ 10.33371
Core Subject : Health, Science,
Indonesian Journal of Cancer is a peer-reviewed and open-access journal. This journal is published quarterly (in March, June, September, and December) by Dharmais Cancer Hospital - National Cancer Center. Submissions are reviewed under a broad scope of topics relevant to experimental and clinical cancer research. Articles are original research that needs to be disseminated and written in English. All submitted manuscripts will go through the double-blind peer review and editorial review before being granted acceptance for publication. The journal publishes original research articles, case reports, and review articles under the following categories: cancer management, cancer prevention, cancer etiology, epidemiology, molecular oncology, cancer diagnosis and therapy, tumor pathology, surgical oncology, medical oncology, radiation oncology, interventional radiology, as well as early detection.
Arjuna Subject : Kedokteran - Onkologi
Articles 562 Documents
Peranan Nanopartikel Dalam Penatalaksanaan Kanker di Era Targeting Therapy I Gusti Ayu Artini
Indonesian Journal of Cancer Vol 7, No 3 (2013): Jul - Sep 2013
Publisher : National Cancer Center - Dharmais Cancer Hospital

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (796.438 KB) | DOI: 10.33371/ijoc.v7i3.291

Abstract

Hingga saat ini kanker masih menjadi masalah kesehatan di berbagai negara di dunia dan merupakan penyebab kematian kedua di dunia. Pemanfaatan nanopartikel dalam penatalaksanaan kanker bertujuan untuk meningkatkan bioavailabilitas dan distribusi obat, serta memperbaiki targeting dan release obat ke sel tumor, sehingga diharapkan dapat meningkatkan efikasi dan mengurangi efek samping. Nanopartikel merupakan semua bentuk material biologis dan sintetik yang dimensinya < 1 ?m. Nanopartikel dalam penatalaksanaan kanker dikembangkan sebagai drug delivery vehicle (carrier), contrast agent (imaging), diagnostic device, platform untuk theranostic agents, antioksidan, in vivo tumor targeting dengan spesifisitas dan afinitas yang tinggi, serta sebagai probe pada riset preklinik untuk studi molekuler penyakit. Berbagai permasalahan yang mungkin timbul dalam penggunaan nanopartikel adalah opsonisasi permukaan nanopartikel, uptake dan retensi nanopartikel di organ RES (hepar, lien), kesulitan targeting dan penetrasi pada tumor, serta toksisitas nanopartikel.Kata kunci: nanopartikel, targeting, drug-delivery vehicle
Evaluasi Penggunaan Obat Antimuntah pada Pasien Retinoblastoma Anak yang Menjalani Kemoterapi di Rumah Sakit Kanker Dharmais Diniyah Siti Rahmah
Indonesian Journal of Cancer Vol 3, No 1 (2009): Jan - Mar 2009
Publisher : National Cancer Center - Dharmais Cancer Hospital

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.473 KB) | DOI: 10.33371/ijoc.v3i1.64

Abstract

Kemoterapi merupakan salah satu pengobatan kanker pada anak. Efek samping dengan frekuensi yang terbesar pascakemoterapi yaitu gangguan mual dan muntah, dari yang ringan hingga menyebabkan kematian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas obat antimuntah pada anak dengan retinoblastoma yang menerima kemoterapi dan sejauh mana obat-obatan tersebut dapat menolerir efek samping ini. Metoda penelitian yang dilakukan bersifat retrospektif dengan mengambil data rekam medis dari Januari 2003 hingga Februari 2008 dan dengan 2 jenis protokol yang berbeda, yaitu protokol A (pertama) dan protokol B (kedua/baru) yang memenuhi kriteria inklusi. Hasil dari penelitian ini, yaitu pasien yang mendapatkan kesesuaian dalam pemilihan antiemetik berdasarkan agen kemoterapi yang diberikan sebesar 23,81%. Protokol antiemetik B yang terdiri dari Ondansetron dan Deksametason efektif untuk mengatasi peristiwa emesis pada anak yang terkena retinoblastoma dan sedang menjalani kemoterapi.Kata kunci: retinoblastoma, kemoterapi, antiemetik
Non-Hodgkins Lymphoma in Jakarta Harryanto Reksodiputro; Cosphiadi Irawan; Endang Hardjolukito
Indonesian Journal of Cancer Vol 5, No 3 (2011): Jul - Sep 2011
Publisher : National Cancer Center - Dharmais Cancer Hospital

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (75.379 KB) | DOI: 10.33371/ijoc.v5i3.171

Abstract

Tujuan: Melihat karakteristik pasien Limfoma Non Hodgkin di Jakarta. Metode: studi retrospektif. Sampel adalah pasien Limfoma Non Hodgkin yang berobat di RS Cipto Mangunkusumo dan RSK Dharmais antara tahun 2004-2005.Hasil: Tujuh puluh delapan persen pasien memiliki usia kurang dari 60 tahun dengan gambaran mayoritas jenis kelamin laki-laki, stadium awal (60,8%) dan status performans yang baik (ECOG 0-1; 86,67%). Berdasarkan evaluasi terhadap paparan, didapati delapan puluh persen pasien tidak diketahui paparannya.Dari 153 pasien, 94 pasien diobati dengan kemoterapi regimen CHOP, namun hanya 51 pasien yang menyelesaikan minimal 6 siklus kemoterapi. Dilaporkan juga respon terhadap terapi adalah: remisi komplit (52,38%), remisi parsial (26,19%) dan respon minimal (14,2%).Pada kelompok pasien yang diobati dengan regimen kemoterapi CHOP, dilaporkan bahwa delapan puluh persen pasien berusia di bawah 60 tahun, memiliki stadium awal (stadium I-II; 74,47%) dan status performmans yang baik (ECOG I-II; 93,3%). Juga dilaporkan bahwa sembilan puluh persen pasien memiliki ? 1 keterlibatan ekstranodal dan kadar LDH normal (60%). Berdasarkan hasil patologi, dilaporkan lima puluh persen pasien memiliki gambaran patologi DLBCL (Diffuse Large B Cell L).Kesimpulan: Sebagian besar pasien Limfoma Non Hodgkin di Jakarta memiliki karakteristik klinis: usia di bawah 60 tahun dengan jenis kelamin laki-laki, stadium awal dan status performans yang baik. Pada kelompok pasien yang menjalani kemoterapi regimen CHOP juga dilaporkan karakteristik klinis yang sama. Lima puluh persen pasien yang menjalani kemoterapi regimen CHOP mencapai respon komplit setelah menjalani minimal 6 siklus kemoterapi.Katakunci: Limfoma Non Hodgkin, Performa studi, remisi
A Case Series of Spontaneous Chylothorax in Lymphoma Widiastuti Widiastuti; Eri Rakhmawati; Yusuf Syaeful Nawawi; Ana Rima
Indonesian Journal of Cancer Vol 15, No 3 (2021): September
Publisher : National Cancer Center - Dharmais Cancer Hospital

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (412.341 KB) | DOI: 10.33371/ijoc.v15i3.817

Abstract

Introduction: Chylothorax is a rare condition originating from lymphatic system damage as an accumulation of chyle in the pleural space. It can be classified into spontaneous or non-traumatic, traumatic, and idiopathic. A spontaneous chylothorax is primarily caused by neoplasm, such as lymphoma.Case Presentation: Herein, we report two cases of chylothorax presenting as massive pleural effusion in two patients of a 23-year-old male with nodular sclerosis type Hodgkin’s lymphoma and a 31-year-old female with metastatic lymphadenopathy of undifferentiated carcinoma from non-Hodgkin’s lymphoma.Conclusion: A spontaneous chylothorax is a rare condition that may lead to a life-threatening event when it is not properly and promptly treated.
Efek Lignan Terhadap Resiko Kanker Mammae Meilani Kumala
Indonesian Journal of Cancer Vol 2, No 1 (2008): Jan - Mar 2008
Publisher : National Cancer Center - Dharmais Cancer Hospital

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1595.44 KB) | DOI: 10.33371/ijoc.v2i1.32

Abstract

Lignan merupakan metabolit sekunder dari tumbuh-tumbuhan dan termasuk kelompok fitoestrogen. Secoisolariciresinol (SECO) dan Matairesinol (MAT) merupakan prekursor mammalian lignan yang utama dan pertama diidentifikasi. Kedua prekursor tersebut banyak terdapat pada bahan makanan asal tumbuh-tumbuhan terutama yang kaya akan serat seperti biji-bijian, padi-padian, sayuran dan buah-buahan. Flaxseed merupakan bahan makanan sumber yang mempunyai kandungan lignan paling tinggi. Dalam saluran cerna kedua prekursor tersebut mengalami serangkaian metabolisme dan dengan bantuan mikronora dikonversi menghasilkan mammalian lignan yang mempunyai struktur menyerupai estrogen endrogen. Enterolignan mempunyai berbagai aktivitas biologik meliputi menghambat ikatan estrogen dengan reseptornya, menstimulasi produksi sex hormone-binding globulin, menghambat pembentukan enzim aromatase dan meningkatkan rasio 2-OHEl:16a-OHEl. Penelitan pada hewan dan manusia menunjukkan enterolignan mempunyai efek protektif terhadap kanker mammae. Aktivitas biologik enterolignan diduga berperan dalam mekanisme protektif terhadap risiko kanker mammae.Kata kunci: lignan, mammalian lignan, enterolignan, enterolakton, enterodiol, kanker mammae
Keragaman Konsumsi Pangan dan Aktivitas Fisik Penderita Kista serta Non-Kista Dengan Adanya Penyuluhan Gizi dan Kesehatan Payudara Lilik Kustiyah; Damayanthi -; Katrin Roosita
Indonesian Journal of Cancer Vol 5, No 2 (2011): Apr - Jun 2011
Publisher : National Cancer Center - Dharmais Cancer Hospital

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (66.223 KB) | DOI: 10.33371/ijoc.v5i2.120

Abstract

Kebiasaan makan berhubungan dengan 4 dari 10 penyebab utama kematian di negara maju, seperti Penyakit Jantung Koroner (PJK), beberapa tipe kanker, stroke, dan diabetes tipe 2. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh intervensi penyuluhan gizi dan kesehatan payudara terhadap keragaman konsumsi pangan dan aktivitas fisik responden penderita kista payudara dan bukan. Desain ekperimental yang digunakanone group pre-post test study. Penelitian dilakukan di Rumah Sakit "Dharmais" pada bulan Juni 2009-Agustus 2009. Subjek penelitian terdiri dari 2 kelompok, yaitu 10 wanita non-kista dan 10 wanita kista. Penyuluhan gizi dan kesehatan payudara diberikan kepada responden sebanyak 3 kali secara periodik, yaitu minggu ke 0, 2 dan 4. Data keragaman konsumsi pangan dan aktivitas fisik dikumpulkan dengan wawancara langsung pada saat sebelum penyuluhan minggu ke 0 dan setelah penyuluhan minggu ke-4 menggunakan kuesionerFood recordselama 14 hari danactivity recordselama 7 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyuluhan gizi dan kesehatan payudara tidak menyebabkan perubahan keragaman konsumsi pangan dan aktivitas fisik yang nyata, tetapi ada kecenderungan penurunan konsumsifast fooddan peningkatan aktivitas fisik.Kata kunci: Kista payudara, edukasi nutrisi, edukasi kesehatan payudara, aktivitas fisik, keragaman konsumsi pangan.
Tuberculosis Infection Could Mimic Malignant Lymphoma In F-18 FDG PET: A Case Report Ryan Yudistiro; Ivana Dewi Mulyanto; Febby Hutomo; Daniel Chung; Andree Kurniawan; Fajar L. Gultom; Ralph Girson Gunarsa
Indonesian Journal of Cancer Vol 14, No 4 (2020): December
Publisher : National Cancer Center - Dharmais Cancer Hospital

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (743.516 KB) | DOI: 10.33371/ijoc.v14i4.711

Abstract

Introduction: Lymphoma and tuberculosis in several cases share similar clinical features that are difficult to differentiate. Lymphadenopathy, fever, malaise, weight loss, and respiratory symptoms are clinical features that could be found in both lymphoma and tuberculosis. Positron Emission Tomography/Computed Tomography Fluorodeoxyglucose (F-18 FDG PET) is a pivotal modality for imaging patients with cancer. Several non-malignant diseases like tuberculosis infection show high FDG uptake and lead to low specificity of F-18 FDG PET.Case Presentation: This case report describes a 55-year-old male patient with a history of Diffuse Large B-cell Lymphoma (DLBCL) who was suspected of having a recurrent disease. The patient has had a 6-month remission period after 6 cycles of R-CHOP regimen chemotherapy. He denied any known history of tuberculosis infection and HIV. F-18 FDG PET was performed to assess the extent of suspected lymphoma recurrent disease. F-18 FDG PET demonstrated multiple hypermetabolic bilateral neck region, mediastinum, and bilateral axilla lymphadenopathies. There were also multiple high FDG uptakes in the liver, mesocolon, and bones. The patient was suspected of having a lymphoma recurrent disease based on these findings. He underwent an excisional biopsy in the neck and was found to have lymphadenitis granulomatous disease from tuberculosis. Based on the histopathology finding, the patient received anti-tuberculosis drugs for 12 months and showed relief of signs and symptoms. F-18 FDG PET for anti-tuberculosis treatment evaluation revealed a complete metabolic response.Conclusion: Tuberculosis should be one of the differential diagnoses when a lymphoma recurrent disease is suspected. Clinical features, laboratory results, and imaging findings sometimes show similarities between lymphoma and tuberculosis. Histopathology evaluation is mandatory to confirm the diagnosis.
An Indonesian Pregnant Woman with Lung Cancer and Liver Metastasis : A Case Report Vito Filbert Jayalie; Dimas Priantono; Zulkifli Amin
Indonesian Journal of Cancer Vol 12, No 2 (2018): April-June
Publisher : National Cancer Center - Dharmais Cancer Hospital

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (472.237 KB) | DOI: 10.33371/ijoc.v12i2.580

Abstract

Background: Lung cancer in pregnancy is a rare disease compared to other types of cancer. However, special issue should be applied in order to maximize benefit for mother without harming the fetus.Methods: We present a case of 37-year-old, five months pregnant woman who came to the hospital with chief complain of shortness of breath. Later on, she was found to have a stage IV Non-Small Cell Lung Cancer (NSCLC) with adenocarcinoma subtype.Result: This may be the first lung cancer in pregnancy reported in Indonesia. Being a developing country, several challenges emerged before diagnosing patient of having lung cancer.Conclusion: Careful considerations along with multidisciplinary approach are necessary to provide the best care for the patient.
Hubungan antara Tingkat Gejala Depresi dengan Stadium Kanker Payudara di Poli Onkologi Satu Atap (POSA) RSUD Dr. Soetomo, Surabaya NISA’AFIDATUN HARIROH; KHAIRINA KHAIRINA; HANTORO ISHARDYANTO
Indonesian Journal of Cancer Vol 11, No 1 (2017): Jan-Mar
Publisher : National Cancer Center - Dharmais Cancer Hospital

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (457.609 KB) | DOI: 10.33371/ijoc.v11i1.495

Abstract

ABSTRACTA diagnosis of breast cancer raises a meaningful stress and can get depressed. By knowing the emotional state of breast cancer patients who experience symptoms of depression after being diagnosed, treatment can be done in a comprehensive manner with the hope of treatment can be wor optimally. The purpose of this research is to know the relationship of depression symptoms with breast cancer stage in POSA RSDS. Type of research is observational analytic on breast cancer patients first visit POSA RSDS June-July 2016. This research use questionnaire BDI-II to measure the subject's sympto ms of depression. Analytical test used is the Spearman Correlation. Results, obtained 43 subjects entirely women with most age range 45-59 years (60.5%), educational history most high school(41.9%), and most work as housewives (74.4%). 46.5% dominated by stage III, and 62.8% BDI-II results with no symptoms of depression. Analytical test indicates a weak relationship (Sig. 0.009 < 0.396, rs = 0.05). A weak relationship between variables because distribution of uneven stage; the majority of the BDI-II showed no symptoms of depression, acceptance phasebetween subjects against the conditions of his illness, researchers estimate the condition of the spirituality subject is good and can affect the subject's emotional condition conducive for researchers. Spirituality subject of research is good to make the subject of the research arose from slump, and the subject of more religious, positive support from family, positive support from fellow cancer survivors who have been healed. Conclusion, there is a relationship between depression symptoms with the staging of breast cancer. ABSTRAKDiagnosis kanker payudara menimbulkan stres yang bermakna dan dapat mengalami depresi. Dengan mengetahui keadaan emosional pasien kanker payudara yang mengalami gejala depresi setelah didiagnosis, dapat dilakukanpengobatan secara komprehensif dengan harapan pengobatan dapat berjalan secara optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat gejala depresi dengan stadium kanker payudara di Poli Onkologi Satu Atap RSUD Dr. Soetomo, Surabaya (POSA RSDS). Jenis penelitian adalah analitik observasional pada pasien kanker payudara kunjungan pertama POSA RSDS bulan Juni – Juli 2016. Penelitian ini menggunakan kuesioner BDI-II untuk mengukur gejala depresi subjek. Uji analitik yang digunakan adalah Spearman Correlation. Hasil penelitian mendapatkan 43 subjek, seluruhnya wanita dengan rentang usia terbanyak 45 – 59 tahun (60,5%), riwayat pendidikan terakhir terbanyak SMA (41,9%), dan pekerjaan terbanyak sebagai ibu rumah tangga (74,4%). Sebanyak 46,5% didominasi stadium III dan 62,8% dengan hasil BDI-II tidak ada gejala depresi. Uji analitik menunjukkan hubungan yang lemah (Sig.0,009 < 0,396, rs = 0,05). Hubungan yang lemah antara variabel dikarenakan distribusi stadium tidak merata, mayoritas hasil BDI-II menunjukkan tidak ada gejala depresi, dalam fase acceptance (menerima) antara subjek terhadap kondisi sakitnya. Peneliti memperkirakan kondisi spiritualitas subjek cukup baik sehingga dapat memengaruhi kondisi emosional subjek peneliti untuk kondusif. Kondisi spiritualitas subjek penelitian yang cukup baik membuat subjekpenelitian bangkit dari keterpurukan dan subjek lebih religius. Dukungan positif diperoleh dari keluarga dan sesama penderita kanker yang telah sembuh. Kesimpulannya, terdapat hubungan antara tingkat gejala depresi dengan stadium kanker payudara.
Peran Radiologi Dalam Diagnosis Endobronchial Carcinoid Tumor AZIZA G. ICKSAN
Indonesian Journal of Cancer Vol 8, No 4 (2014): Oct - Dec 2014
Publisher : National Cancer Center - Dharmais Cancer Hospital

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3000.087 KB) | DOI: 10.33371/ijoc.v8i4.364

Abstract

Bronchial carcinoid tumors are rare neuroendocrine neoplasma consist of 1?2% of all pulmonary neoplasms and 12?15% of carcinoid tumors in United States. Recently, there is no data in Indonesia. The imaging play important role in diagnosing bronchial carcinoid tumor. This case presentation reported A 35 years old woman with chief complaint of hemoptysis. Acid fast bacilli smear was negative and mantoux test positive. From chest X ray there is a right paracardial consolidation. Chest CT Scan has been done and there was consolidation in right middle lobe with endobronchial mass in intermedius of right bronchial lung. The multidiscipline team diagnosis were endobronchial mass and pulmonary TB. Anti TB treatment had been given. The follow up CT scan after 1 month Anti TB treatment was improvement in consolidation, but the endobronchial mass was stable. She got PET CT Scan and the result was non metabolic nodule. Surgical treatment was done to remove endobronchial mass. The histopathology finding from specimen was typical bronchial carcinoid tumor.

Filter by Year

2007 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 19, No 3 (2025): September Vol 19, No 2 (2025): June Vol 19, No 1 (2025): March Vol 18, No 4 (2024): December Vol 18, No 3 (2024): September Vol 18, No 2 (2024): June Vol 18, No 1 (2024): March Vol 17, No 4 (2023): December Vol 17, No 3 (2023): September Vol 17, No 2 (2023): June Vol 17, No 1 (2023): March Vol 16, No 4 (2022): December Vol 16, No 3 (2022): September Vol 16, No 2 (2022): June Vol 16, No 1 (2022): March Vol 15, No 4 (2021): December Vol 15, No 3 (2021): September Vol 15, No 2 (2021): June Vol 15, No 1 (2021): March Vol 14, No 4 (2020): December Vol 14, No 3 (2020): September Vol 14, No 2 (2020): June Vol 14, No 1 (2020): March Vol 13, No 4 (2019): December Vol 13, No 3 (2019): September Vol 13, No 2 (2019): June Vol 13, No 1 (2019): March Vol 12, No 4 (2018): October-December Vol 12, No 3 (2018): July-September Vol 12, No 2 (2018): April-June Vol 12, No 1 (2018): Jan - Mar Vol 11, No 4 (2017): October- December 2017 Vol 11, No 3 (2017): July - September 2017 Vol 11, No 2 (2017): April - June Vol 11, No 1 (2017): Jan-Mar Vol 10, No 4 (2016): October - December 2016 Vol 10, No 3 (2016): July - September 2016 Vol 10, No 2 (2016): April - June 2016 Vol 10, No 1 (2016): Jan - Mar 2016 Vol 9, No 4 (2015): Okt - Des 2015 Vol 9, No 3 (2015): Jul - Sept 2015 Vol 9, No 2 (2015): April-Juni 2015 Vol 9, No 1 (2015): Jan - Mar 2015 Vol 8, No 4 (2014): Oct - Dec 2014 Vol 8, No 3 (2014): Jul - Sep 2014 Vol 8, No 2 (2014): April-Juni 2014 Vol 8, No 1 (2014): Jan - Mar 2014 Vol 7, No 4 (2013): Oct - Dec 2013 Vol 7, No 3 (2013): Jul - Sep 2013 Vol 7, No 2 (2013): Apr - Jun 2013 Vol 7, No 1 (2013): Jan - Mar 2013 Vol 6, No 4 (2012): Oct - Dec 2012 Vol 6, No 3 (2012): Jul - Sep 2012 Vol 6, No 2 (2012): Apr - Jun 2012 Vol 6, No 1 (2012): Jan - Mar 2012 Vol 5, No 4 (2011): Oct - Dec 2011 Vol 5, No 3 (2011): Jul - Sep 2011 Vol 5, No 2 (2011): Apr - Jun 2011 Vol 5, No 1 (2011): Jan - Mar 2011 Vol 4, No 4 (2010): Oct - Dec 2010 Vol 4, No 3 (2010): Jul - Sep 2010 Vol 4, No 2 (2010): Apr - Jun 2010 Vol 4, No 1 (2010): Jan - Mar 2010 Vol 3, No 4 (2009): Oct - Dec 2009 Vol 3, No 3 (2009): Jul - Sep 2009 Vol 3, No 2 (2009): Apr - Jun 2009 Vol 3, No 1 (2009): Jan - Mar 2009 Vol 2, No 4 (2008): Oct - Dec 2008 Vol 2, No 3 (2008): Jul - Sep 2008 Vol 2, No 2 (2008): Apr - Jun 2008 Vol 2, No 1 (2008): Jan - Mar 2008 Vol 1, No 4 (2007): Oct - Dec 2007 Vol 1, No 3 (2007): Jul - Sep 2007 Vol 1, No 2 (2007): Apr - Jun 2007 Vol 1, No 1 (2007): Jan - Mar 2007 More Issue