cover
Contact Name
Dandi Saputra
Contact Email
saputradandi232@gmail.com
Phone
+6281290496544
Journal Mail Official
stthami@gmail.ac.ic
Editorial Address
Ruko Kencana Bunda No. 89 L & 88 X, Jl. Kamal Raya, RT.4/RW.9, Cengkareng Bar., Kecamatan Cengkareng, Kota Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11730
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Voice of HAMI
ISSN : 26220113     EISSN : 26561131     DOI : https://doi.org/10.59830/voh.v7i2.126
Core Subject : Religion, Education,
Voice of HAMI merupakan Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen yang dikelola oleh Sekolah Tinggi Teologi Hagiasmos Mission, Jakarta. Voice of HAMI merupakan wadah publikasi hasil penelitian teologi yang berkaitan dengan bidang ilmu teologi dan Pendidikan Kristiani, dengan nomor ISSN: 2656-1131 (online), ISSN: 2622-0113 (print), dengan Focus dan Scope: Teologi Biblikal Teologi Sistematika Teologi Pastoral Misiologi Kepemimpinan Kristen Pendidikan Kristiani Voice of Hami menerima artikel dari dosen dan para praktisi teologi yang ahli di bidangnya, dari segala institusi teologi yang ada di seluruh Indonesia, bahkan hingga manca negara. Artikel yang telah memenuhi persyaratan akan dinilai kelayakannya oleh reviewer yang ahli di bidangnya melalui proses double blind-review. Voice of Hami terbit dua kali dalam satu tahun, Pebruari dan Agustus, serta telah di indeks pada: Googles Scholar.
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 8, No 2 (2026): Februari 2026" : 7 Documents clear
ONTOLOGI TEOSENTRIS DAN RASIONALITAS OTONOM: ANALISA KOMPARATIF-SISTEMATIS FILSAFAT KRISTEN DAN RASIONALISME Situmorang, Alexander; Ay, Elis Louisa
Voice of HAMI: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol 8, No 2 (2026): Februari 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Hagiasmos Mission

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59830/voh.v8i2.140

Abstract

The historical tension between faith and reason has remained a central theme in the development of Western philosophy. Christian philosophy and modern rationalism represent two fundamentally different frameworks for understanding reality, knowledge, and truth. Christian philosophy is grounded in a theocentric worldview, wherein God is the ultimate source of all being and knowledge. In contrast, rationalism upholds the autonomy of human reason as the sole foundation for truth and epistemic authority. This article aims to provide a systematic comparison of the ontological and epistemological structures of these two traditions and to explore their implications for human understanding of existence.The study employs a qualitative, comparative-philosophical approach based on library research. It analyzes primary figures such as Augustine and Thomas Aquinas from the Christian tradition, and René Descartes and Baruch Spinoza from the rationalist tradition. The findings reveal that Christian philosophy centers knowledge on the interplay between faith and divine revelation, while rationalism isolates knowledge from divine authority and emphasizes deductive reasoning. These distinctions are not merely methodological but deeply impact each system’s metaphysics and anthropology.The article concludes that both Christian philosophy and rationalism represent comprehensive paradigms with unique strengths and limitations. It recommends a dialogical and integrative approach in contemporary philosophy to bridge the historical divide between faith and reason, especially in addressing today’s epistemological and existential challenges.Keywords: Christian Philosophy, Rationalism, Theocentric Ontology, Faith and Reason
SIMBOL SUNAT DAN PERJANJIAN DALAM PERSPEKTIF BUDAYA TIMUR TENGAH PURBA Ubwarin, Mey Linda
Voice of HAMI: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol 8, No 2 (2026): Februari 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Hagiasmos Mission

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59830/voh.v8i2.155

Abstract

Studi ini dimulai dengan pentingnya sunat sebagai tanda fisik dalam tradisi Israel kuno, serupa dengan praktik di budaya Timur Dekat kuno lainnya. Namun, di luar kesamaan ritual ini, ada kebutuhan mendalam untuk mengeksplorasi makna teologis khas yang membedakan Israel. Studi ini bertujuan untuk menganalisis sunat sebagai tanda perjanjian ('ot berit) dalam Kejadian 17:9–14, dengan fokus pada bagaimana praktik ini membentuk identitas komunitas. Kami menggunakan pendekatan historis-kritis dan komparatif, mengeksplorasi keterkaitan antara ritual tubuh, simbolisme, dan konsep perjanjian, sambil membandingkannya dengan praktik serupa di Mesir dan budaya Semit lainnya. Hasilnya menunjukkan bahwa Israel memberikan dimensi teologis transformatif yang unik pada sunat: bukan sekadar ritual inisiasi, tetapi simbol permanen perjanjian (berit) dengan Yahweh yang secara mendalam membentuk identitas kolektif. Transformasi ini kemudian berkembang menjadi konsep spiritual "sunat hati" dalam tradisi kenabian dan Perjanjian Baru, yang mencerminkan sifat dinamis pemahaman hubungan antara manusia dan ilahi. Kesimpulannya, simbol sunat berfungsi sebagai titik penting untuk memahami evolusi teologi perjanjian dan konsep identitas umat Allah dalam teologi Ibrani, sekaligus memberikan wawasan berharga tentang bagaimana simbol-simbol keagamaan berkembang dari waktu ke waktu.    Kata kunci: Simbol Sunat, Perjanjian, Budaya, Timur Tengah Kuno.
MENGGALI MAKNA ”KASIH MENUTUPI BANYAK DOSA”: STUDI INTERTEKSTUAL AMSAL 10:12 DAN 1 PETRUS 4:8 Pattinaja, Aska Aprilano
Voice of HAMI: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol 8, No 2 (2026): Februari 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Hagiasmos Mission

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59830/voh.v8i2.147

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk mengeksplorasi makna frase kasih menutupi banyak dosa” dari perpspektif Salomo dalam Amsal 10:12 dan Petrus yang kembali mengutip nasihat tersebut untuk menguatkan jemaat dalam 1 Petrus 4:8. Penelitian sebelumnya sering difokuskan kepada menggali makna dari frase ini secara teologis, tetapi mengabaikan apa yang mendasari kedua penulis kitab ini menggunakan frase dimaksud. Berdasarkan metode hermeneutik eksegesis dan analisisi intertekstual maka penelitian ini menemukan bahwa perspektif Salomo dalam Amsal 10:12 menyoroti kontras antara kebencian yang memicu pertikaian dan kasih yang meredakan konflik dengan menutupi pelanggaran. Sementara itu, Petrus dalam 1 Petrus 4:8 menekankan pentingnya kasih dalam komunitas Kristen yang menghadapi penderitaan, dengan menyoroti peran kasih yang aktif sebagai respons terhadap realitas dosa dan kelemahan manusia. Sehingga tiga makna utama yang ditemukan dari frase ini, adalah: Pertama, rekonsiliasi sosial; Kedua, pengampunan aktif; Ketiga, dimensi penebusan-eskatologis. Studi ini juga menyoroti relevansi praktis dari konsep kasih yang menutupi dosa dalam membangun hubungan yang sehat dan komunitas yang saling mendukung di tengah tantangan zaman.
PEMBENTUKAN KARAKTER SISWA PAUD DI ERA DIGITAL Sidabutar, Jessica Laura; Gea, Yolanda
Voice of HAMI: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol 8, No 2 (2026): Februari 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Hagiasmos Mission

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59830/voh.v8i2.157

Abstract

Pembentukan karakter anak di era digital merupakan tugas dan tanggung jawab yang tidak mudah, melewati proses dan butuh waktu yang panjang. Pembentukan karakter Kristen bertujua membentuk generasi yang bertanggung jawab dan memiliki karakter Kristus. Pembentukan karakter siswa PAUD (pendidikan anak usia dini) tentu berbeda dengan usia lainnya, diperlukan teladan dalam perkataan dan perbuatan yang telah Yesus ajarkan. Keteladanan baik dalam ucapan dan tindakan. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif-deskriptif dengan eksposisi teks dan pendekatan literature terhadap tema pembentukan karakter siswa PAUD. Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengembangkan pembentukan karakter siswa PAUD secara alkitabiah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan, metode dan strategi pembentukan karakter yang terbaik terdapat dalam Alkitab, yaitu kasih, disiplin, pendampingan, pengudusan Kristus, dan firman Tuhan. Kontribusi penelitian ini menunjukkan bahwa peran orang tua, keluarga, guru, dan hamba Tuhan sangat kuat dalam memberikan sumbangsih positif bagi pembentukan karakter siswa PAUD. 
RINGKASAN SEJARAH FILSAFAT Aritonang, Arthur
Voice of HAMI: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol 8, No 2 (2026): Februari 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Hagiasmos Mission

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59830/voh.v8i2.152

Abstract

Dr. Kees Bertens dalam bukunya hendak menguraikan sejarah perjalanan filsafat yang sudah melewati berbagai zaman, mulai dari Era Klasik Yunani-Romawi, Abad Pertengahan yang disebut dengan Era Keagamaan, Era Pencerahan (Renaisans), dan Era Modern. Tentunya dalam buku ini, Bertens mengakui bahwa keterbatasan untuk menjelaskan detail-detail informasi mengenai sejarah, tokoh-tokoh penting beserta dengan pemikirannya yang disajikan dalam buku ini. Namun demikian, Bertens tetap berusaha untuk menyajikan secara lebih sederhana, dengan memberikan garis-garis besarnya saja. Kesimpulan dari penelitian ini adalah pertama, pemikiran Klasik Yunani seperti Socrates, Plato, maupun Aristoteles bisa dikatakan sangat mempengaruhi perkembangan pemikiran filsafat barat. Kedua, pada abad pertengahan akal mengalami perjumpaan dengan teologi di abad pertengahan era ini disebut Era Skolastik. Di masa ini akal digunakan untuk memahami kebenaran agama (kekristenan). Ketiga, sejak berakhir abad pertengahan (abad pencerahan) para filsuf mulai melepaskan filsafat dari teologi. Di Era ini rasio mendapatkan tempat penting bahwa pengetahuan sejati berasal dari rasio manusia. Sementara dipihak yang lain, munculnya filsafat empirisme yaitu pengetahuan berasal dari pengalaman manusia, sebab tanpa pengalaman rasio manusia itu lembaran kertas kosong. Sementara Immanuel Kant mendamaikan filsafat rasio dan filsafat empirisme bahwa ada pengetahuan yang berasal dari pengalaman dan ada juga pengetahuan yang berasal sebelum pengalaman itu ada. Keempat, pada transisi abad ke-18 menuju 19 filsafat hegel dengan metode dialektika, tesis, antitesis dan sintesis. Filsafat ini ingin menjelaskan sebuah perkembangan dan kemajuan itu berasal dari sebuah proses pertentangan ide dan gagasan. Kelima, masih pada abad yang sama lahirnya Filsafat positivisme yaitu pengetahuan yang benar harus berdasarkan sebuah fakta-fakta yang bisa yang dapat diverifikasi. Sementara itu, filsafat materialisme segala sesuatu diciptakan melalui benda/materi. Aliran filsafat ini menolak Tuhan, sebab keberadaan Tuhan tidak bisa dibuktikan. Keenam, filsafat eksistensialisme. Filsafat ini lahir sebagai reaksi atas corak filsafat sebelumnya yang menekankan sistem berpikir yang ketat dan logis dengan tokoh Søren Kierkegaard. Filsafat ini menekankan pada pengalaman dan kebebasan manusia. Pada perkembangan berikutnya, filsafat eksistensialisme tidak jarang beraliran atheis, seperti tokohnya Friedrich Nietzsche. Ateisme ini muncul apabila filsafat eksistensialisme bertemu dengan cara manusia menghayati dan memandang eksistensi agama. 
RELEVANSI SEJARAH GEREJA ASIA DALAM MEMBANGUN KARAKTER GURU PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN YANG BERWAWASAN KEBANGSAAN Manu, Dominggus Alli; Heselo, Anes; Rivaldo, Fersal Kinova
Voice of HAMI: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol 8, No 2 (2026): Februari 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Hagiasmos Mission

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59830/voh.v8i2.156

Abstract

Di tengah arus globalisasi yang sarat dengan krisis moral dan melemahnya nilai-nilai kebangsaan, pendidikan karakter menjadi hal yang sangat penting, eruama bagi guru Pendidikan Agama Kristen (PAK). Namun, pembentukan karakyter guru PAK seringkali hanya berfokus pada aspek normaif dan pedagogis, tanpa memperhaikan akar sejarah iman Kristen yang sesuai dengan konteks. Artikel ini berujuan untuk mengkaji sejauh mana Sejarah Gereja Asia dapat memberikan kontribusi dalam membentuk karakter guru PAK yang memiliki wawasan kebangsaan. Penelitian ini dilakukan melalui studi literaur dengan menelaah berbagai sumber tentang sejarah gereja, pendidikan Kristen, dan teologi kontekstual. Temuan kajian ini menunjukan bahwa nilai-nilai kebangsaan seperti pengorbanan, keadilan sosial, toleransi, nasionalisme, dan pelayanan telah menjadi bagian dari perjalanan gereja-gereja Asia. Berbagai kisah perjuangan, proses inkulturasi iman, dan peranan sosial gereja memberikan inspirasi nyata bagi guru PAK untuk mengembangkan metode pembelajaran yang relevan, kontekstual, dan membawa perubahan. Dengan memahami sejarah gereja di Asia, guru PAK tidak hanya dituntut untuk mengajar secara kognitif, tetapi juga membentuk karakter siswa religius, insklusif, dan memiliki rasa cinta tanah air. Sejarah Gereja Asia menjadi dasar yang kuat dalam memperluas visi pelayanan guru PAK sebagai pembina generasi yang berintegrasi iman dan berjiwa kebangsaan.
REFLEKSI TEOLOGIS MENGENAI KEDAULATAN ALLAH DALAM KONTEKS PENDERITAAN AYUB Wau, Sofiana Desraini
Voice of HAMI: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol 8, No 2 (2026): Februari 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Hagiasmos Mission

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59830/voh.v8i2.148

Abstract

Dalam refleksi teologi ini mengesplorasi konsep kedaulatan Allah dalam konteks penderitaan Ayub yang mendalam sebagaimana digambarkan dalam kitab Ayub. Penderitaan Ayub yang saleh menantang pemahaman tradisional tentang keadilan ilahi, memunculkan pertanyaan fundamental mengenai hubungan antara kesalehan dan penderitaan, serta antara dosa dan hukuman. Kitab Ayub juga menunjukan bahwa keadilan Allah mencakup bahkan realitas penderitaan yang diajukan oleh teman-teman Ayub. Melalui respons Allah dari badai, focus beralih dari penyebab penderitaan kedaulatan, kebijaksanaan, dan transendensi Allah yang tak terbatas, menggarisbawahi bahwa pemahaman manusia terbatas di hadapan kehendak dan rencana ilahi, mendorong penerimaan iman akan kedaulatan-Nya di tengah misteri dan kepedihan hidup.

Page 1 of 1 | Total Record : 7