cover
Contact Name
Rengki Afria
Contact Email
jurnal.kalistra@unja.ac.id
Phone
+6282268070067
Journal Mail Official
jurnal.kalistra@unja.ac.id
Editorial Address
Kampus Universitas Jambi Pinang Masak, Jln, Jambi - Ma. Bulian, KM.15 Mendalo Indah, Jambi Luar Kota, Muaro Jambi, Jambi
Location
Kota jambi,
Jambi
INDONESIA
Kajian Linguistik dan Sastra
Published by Universitas Jambi
ISSN : 29638380     EISSN : 29637988     DOI : -
Kalistra: Kajian Linguistik dan Sastra merupakan jurnal ilmiah kebahasaan dan kesastraan yang diterbitkan oleh Prodi Sastra Indonesia, FKIP Universitas Jambi. Kalistra terbit tiga kali setahun setiap Mei, September, dan Januari. Jurnal Kalistra menerbitkan hasil penelitian ilmiah dalam kajian bahasa dan sastra yang meliputi linguistik teoretis, linguistik terapan, linguistik interdisipliner, tradisi lisan, filologi, semiotika, sastra murni, sastra terapan, sastra interdisipliner, serta sastra dan politik identitas. Setiap artikel yang dimuat di Kalistra akan melalui proses penilaian oleh peer reviewer.
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol. 5 No. 2 (2026): Mei 2026" : 10 Documents clear
The Abbreviations and Acronyms in Tiktok Social Media Among Z Generation Anggraini, Rosa; Afria, Rengki
Kajian Linguistik dan Sastra Vol. 5 No. 2 (2026): Mei 2026
Publisher : Prodi Sastra Indonesia, FKIP Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/kalistra.v5i2.49624

Abstract

The development of social media today, especially in the TikTok application, has given rise to new ways of communicating among Z Generation. One of them is the use of abbreviations and acronyms to facilitate communication and describe the characteristics of Z's identity generation. This study aims to analyse abbreviations and acronyms in communicating on the TikTok application by Z generation. The method used is descriptive qualitative by analysing comments and writings on TikTok. The results of this study show that Z generation uses abbreviations and acronyms to simplify and shorten communication on social media. The abbreviations and acronyms used are creative, flexible, and combined with foreign languages. This shows that without realizing it, communication patterns in social media have an impact on the formation of new words/terms. Abstrak Perkembangan media sosial saat ini terutama di aplikasi TikTok, memunculkan cara baru untuk berkomunikasi di kalangan generasi Z. Salah satu yang muncul adalah penggunaan singkatan dan akronim dalam mempermudah komunikasi serta menggambarkan karakteristik identitas generasi Z. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis singkatan dan akronim dalam berkomunikasi di aplikasi TikTok oleh generasi Z. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan menganalisis komentar dan tulisan yang ada di TikTok. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa generasi Z menggunakan singkatan dan akronim untuk mempermudah dan mempersingkat berkomunikasi di media sosial. Singkatan dan akronim yang digunakan kreatif, fleksibel, dan dikombinasikan dengan Bahasa asing. Hal ini menunjukkan bahwa tanpa disadari pola komunikasi dalam media sosial berdampak dalam pembentukan kata/istilah baru.
Epistimologi Balaghah Menurut Sakkaki: Kajian Relasi Makna dan Gaya Bahasa Pakaya, Azizah; Pakaya, Maryam; Asmaniah, Neli; Usman, Abdul Rafli
Kajian Linguistik dan Sastra Vol. 5 No. 2 (2026): Mei 2026
Publisher : Prodi Sastra Indonesia, FKIP Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/kalistra.v5i2.52020

Abstract

This study is motivated by the need to understand balāghah not merely as an art of rhetoric but as a scientific discipline possessing a coherent epistemological system. This study employs a qualitative-descriptive approach, drawing on library research and using Miftāḥ al-ʿUlūm as the primary source, supported by relevant journals and modern studies as secondary data. Analytical procedures include Content Analysis, Comparative Textual Analysis, Hermeneutical Interpretation, and Descriptive-Qualitative Analysis to interpret concepts, theoretical structures, and the meaning–style relationship. The findings indicate that Sakkākī’s epistemology of balāghah is grounded in the harmony between meaning, context, and stylistic expression. Maʿānī regulates structural precision, Bayān facilitates semantic expansion through majāz and istiʿārah, and Badīʿ enhances aesthetic effects without obscuring meaning. It concludes that Sakkākī’s framework remains highly relevant for contemporary analyses of exegesis, literature, and rhetoric, as it offers a systematic applicable methodological foundation for understanding the dynamics between meaning and linguistic style. Abstrak Penelitian ini dilatar belakangi oleh kebutuhan untuk memahami balaghah tidak hanya sebagai seni retorika, tetapi sebagai disiplin ilmu yang memiliki sistem pengetahuan (epistemologi). Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif dengan metode studi pustaka, memanfaatkan Miftāḥ al-‘Ulūm sebagai data primer serta jurnal dan penelitian modern sebagai data sekunder. Analisis dilakukan melalui Analisis Isi, Analisis Komparatif, Hermeneutika Tekstual, dan Deskriptif-Kualitatif untuk menafsirkan konsep, struktur teori, dan hubungan makna–gaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa epistemologi balaghah Sakkākī didasarkan pada keselarasan antara makna, konteks, dan gaya. Ma‘āni mengatur ketepatan struktur kalimat, Bayān memfasilitasi perluasan makna melalui majāz dan isti‘ārah, sedangkan Badī‘ memperkuat efek estetis tanpa mengaburkan pesan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kerangka Sakkākī tetap relevan untuk analisis tafsir, sastra, dan retorika modern karena menyediakan perangkat metodologis yang sistematis dan aplikatif dalam memahami dinamika makna dan gaya bahasa.
Language Politeness in the Digital Era: Analysis of TikTok Comments on Fuji's Posts Daulay, Sholihatul Hamidah; Handriani, Puput; Dinata, Annisa Putri
Kajian Linguistik dan Sastra Vol. 5 No. 2 (2026): Mei 2026
Publisher : Prodi Sastra Indonesia, FKIP Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/kalistra.v5i2.52074

Abstract

This research focuses on analyzing the politeness strategies employed by internet users in their comments on celebrity Fuji’s TikTok posts. The freedom of expression on social media fosters a variety of verbal interactions, ranging from courteous to discourteous. Utilizing a qualitative approach with pragmatic discourse analysis based on Brown and Levinson’s politeness theory, data were collected from ten screenshots of TikTok comments and analyzed in depth. The findings reveal that users implement several politeness strategies: positive politeness, negative politeness, off record, and bald on record. The bald on record strategy predominates, indicating a tendency among social media users to express opinions directly and sometimes harshly. This trend signifies a shift in traditional norms of politeness within digital communication. The study highlights the necessity of digital literacy to maintain ethical language use and foster social harmony in online environments. Abstrak Penelitian ini berfokus pada analisis strategi kesantunan yang digunakan oleh pengguna internet dalam komentar mereka pada unggahan TikTok selebriti Fuji. Kebebasan berekspresi di media sosial memicu berbagai interaksi verbal, mulai dari yang santun hingga yang tidak santun. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis wacana pragmatik berdasarkan teori kesantunan Brown dan Levinson, data dikumpulkan dari sepuluh tangkapan layar komentar TikTok dan dianalisis secara mendalam. Temuan menunjukkan bahwa pengguna menerapkan beberapa strategi kesantunan: kesantunan positif, kesantunan negatif, off record (tidak langsung), dan bald on record (tanpa basa-basi). Strategi bald on record mendominasi, yang menunjukkan kecenderungan pengguna media sosial untuk mengekspresikan pendapat secara langsung dan terkadang kasar. Tren ini menandakan adanya pergeseran norma kesantunan tradisional dalam komunikasi digital. Studi ini menekankan pentingnya literasi digital untuk menjaga penggunaan bahasa yang etis dan memupuk harmoni sosial di lingkungan daring.
Analisis Sosiolinguistik Bentuk Sapaan dalam Film Agak Laen Karya Muhadkly Acho Aryalita, Made Karla
Kajian Linguistik dan Sastra Vol. 5 No. 2 (2026): Mei 2026
Publisher : Prodi Sastra Indonesia, FKIP Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/kalistra.v5i2.53577

Abstract

This study analyzes the forms of address from a sociolinguistic perspective in the film Agak Laen by Muhadkly Acho. This study uses the theories of Kridalaksana and Ervin-Tripp to analyze the data obtained by descriptive qualitative methods with the listening-noting technique. The results of the study are presented through formal and informal methods. The results of the study show that the forms of address in this film are influenced by several elements, such as personal pronouns, proper names, kinship terms, titles and ranks, N (Nominal)+ku, situations, ranks, identity devices, and generation levels which are the relationship between Kridalaksana's theory of address forms in Indonesian and Ervin-Tripp's theory of address forms in American English. The use of address forms is also influenced by the situation, gender, and age which are the background factors for the use of address forms in society. From a sociolinguistic perspective, the results of the study show that the greatest influence on the use of address forms in Indonesia is social and linguistic variation in society. Abstrak Penelitian ini menganalisis bentuk-bentuk sapaan dari segi sosiolinguistik yang terdapat dalam film Agak Laen karya Muhadkly Acho. Penelitian ini menggunakan teori Kridalaksana dan Ervin-Tripp untuk menganalisis data yang diperoleh dengan metode kualitatif deskriptif dengan teknik simak-catat. Hasil penelitian disajikan melalui metode formal dan informal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk sapaan dalam film ini dipengaruhi oleh beberapa unsur, seperti kata ganti orang, nama diri, istilah kekerabatan, gelar dan pangkat, N (Nominal)+ku, situasi, pangkat, perangkat identitas, dan tingkat generasi yang merupakan keterkaitan teori bentuk sapaan Kridalaksana bahasa Indonesia dan teori bentuk sapaan Ervin-Tripp bahasa Inggris-Amerika. Penggunaan bentuk sapaan juga dipengaruhi oleh situasi, jenis kelamin, dan usia yang menjadi faktor latar belakang penggunaan bentuk sapaan dalam masyarakat. Dari segi sosiolinguistik, hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaruh terbesar penggunaan bentuk sapaan di Indonesia adalah variasi sosial dan bahasa dalam masyarakat.
Kata yang Bertindak: Eksplorasi Verba Aksi Bicara dalam Bahasa Bali Trisnamayuni, A.A.I. Mas
Kajian Linguistik dan Sastra Vol. 5 No. 2 (2026): Mei 2026
Publisher : Prodi Sastra Indonesia, FKIP Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/kalistra.v5i2.54013

Abstract

This study examines speech action verbs in the Balinese language, which exhibit various forms and semantic meanings. The research is motivated by the uniqueness of Balinese, influenced by social stratification and dialectal variation affecting lexical usage. The objectives are to identify the groups and types of verbs meaning “to speak” and to describe their semantic structures. A qualitative method was applied using Balinese folktales as data sources, analyzed descriptively through verb classification theory and the Natural Semantic Metalanguage approach. The findings reveal five speech action verbs—mapangarah, mabesen, ngandika, matur, and ngerengkeng—which are categorized into two groups based on the presence or absence of a speech target. Semantically, these verbs generally follow a pattern where X performs an action toward Y, with differences in context, purpose, and social relations of the speakers. Abstrak Penelitian ini mengkaji verba aksi ‘bicara’ dalam bahasa Bali yang memiliki variasi bentuk dan makna semantis. Latar belakang penelitian ini didasarkan pada keunikan bahasa Bali yang dipengaruhi oleh sistem sosial serta variasi dialek yang memengaruhi penggunaan leksikon. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kelompok dan tipe verba bermakna ‘bicara’ serta mendeskripsikan struktur semantisnya. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan sumber data berupa cerita rakyat Bali, yang dianalisis secara deskriptif menggunakan teori klasifikasi verba dan pendekatan Metabahasa Semantik Alami. Hasil penelitian menunjukkan terdapat lima verba aksi ‘bicara’, yaitu mapangarah, mabesen, ngandika, matur, dan ngerengkeng, yang terbagi menjadi dua kelompok berdasarkan keberadaan sasaran bicara. Secara semantis, verba-verba tersebut memiliki pola umum tindakan dari X kepada Y dengan perbedaan pada konteks, tujuan, dan relasi sosial penutur.
Code-Mixing in Agatha Chelsea’s Utterances on Raditya Dika’s YouTube Podcast Nababan, Sundari Daratista; Pasaribu, Arsen Nahum; Sembiring, Rony Arahta
Kajian Linguistik dan Sastra Vol. 5 No. 2 (2026): Mei 2026
Publisher : Prodi Sastra Indonesia, FKIP Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/kalistra.v5i2.54197

Abstract

This study aims to analyze the types and contextual patterns of code-mixing in the utterances of Agatha Chelsea on Raditya Dika’s YouTube podcast using Muysken’s (2000) typology. This study employs a descriptive qualitative method. The data consist of 173 utterances containing Indonesian-English code-mixing, collected through documentation and transcription, while data analysis is conducted using coding based on Muysken’s structural classification and contextual observation. The results show that insertion is the dominant type (67.6%), followed by alternation (15.0%) and congruent lexicalization (17.4%). In terms of conversational contexts, insertion functions as a basic strategy across all settings. Alternation appears most frequently in interpersonal and relational contexts, where it marks shifts in perspective. Congruent lexicalization is prominent in academic and scientific discourse as well as in professional and creative practice, reflecting closer structural integration between the two languages. These findings indicate that code-mixing in Agatha Chelsea’s speech is systematic and varies according to conversational context. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tipe dan pola kontekstual campur kode dalam tuturan Agatha Chelsea pada podcast YouTube Raditya Dika menggunakan tipologi Muysken (2000). Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Data berupa 173 ujaran yang mengandung campur kode bahasa Indonesia-Inggris dikumpulkan melalui teknik dokumentasi dan transkripsi, sedangkan analisis data dilakukan dengan teknik pengkodean berdasarkan klasifikasi struktural Muysken dan observasi kontekstual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa insertion merupakan jenis yang paling dominan (67,6%), diikuti oleh alternation (15,0%) dan congruent lexicalization (17,4%). Dalam konteks percakapan, insertion berfungsi sebagai strategi dasar di seluruh situasi. Alternation paling banyak ditemukan dalam konteks interpersonal dan relasional, berfungsi menandai pergeseran perspektif. Congruent lexicalization muncul secara menonjol dalam wacana akademis dan ilmiah serta praktik profesional dan kreatif, mencerminkan integrasi struktural yang lebih erat antara kedua bahasa. Temuan ini menunjukkan bahwa campur kode dalam tuturan Agatha Chelsea bersifat sistematis dan bervariasi sesuai konteks percakapan.
The Function of Language in Advertisements that Promote Fair Skin as a Beauty Standard Simbolon, Lilis Veronika; Manik, Sondang; Sihite, Jubil Ezer
Kajian Linguistik dan Sastra Vol. 5 No. 2 (2026): Mei 2026
Publisher : Prodi Sastra Indonesia, FKIP Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/kalistra.v5i2.54332

Abstract

This study examines the role of language in beauty advertisements that promote fair skin as a beauty standard. It aims to identify the language functions used and to explain how these functions contribute to the construction of fair skin as an ideal of beauty. The problem of this study focuses on how language is used to influence and shape audience perceptions in advertising discourse. This research employs a descriptive qualitative method. The data consist of 20 beauty advertisements collected from TikTok and YouTube, focusing on verbal elements such as slogans and persuasive expressions. The analysis is based on Roman Jakobson’s theory of language functions. The findings show that the conative function is the most dominant, followed by poetic and emotive functions. Overall, the study reveals that language in beauty advertisements plays a significant role in constructing and reinforcing fair skin as a beauty standard. Abstrak Penelitian ini mengkaji peran bahasa dalam iklan kecantikan yang mempromosikan kulit putih sebagai standar kecantikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi fungsi-fungsi bahasa yang digunakan serta menjelaskan bagaimana fungsi-fungsi tersebut berkontribusi dalam pembentukan kulit putih sebagai ideal kecantikan. Permasalahan dalam penelitian ini berfokus pada bagaimana bahasa digunakan untuk memengaruhi dan membentuk persepsi audiens dalam wacana periklanan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Data penelitian terdiri dari 20 iklan kecantikan yang dikumpulkan dari TikTok dan YouTube, dengan fokus pada unsur verbal seperti slogan dan ungkapan persuasif. Analisis didasarkan pada teori fungsi bahasa Roman Jakobson. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fungsi konatif merupakan yang paling dominan, diikuti oleh fungsi puitik dan emotif. Secara keseluruhan, penelitian ini mengungkapkan bahwa bahasa dalam iklan kecantikan memainkan peran penting dalam membangun dan memperkuat kulit putih sebagai standar kecantikan.
Tuturan Netizen Arab Saudi dan Yaman Pada Kolom Komentar Akun Media Sosial Youtube Alarabiya العربية Dengan Judul اَلسُّعُودِيَّةُ تُعْلِنُ دَعْمًا تَنْمَوِيًّا قِيمَتُهُ مِلْيَارٌ وَ 300 مِلْيُونِ رِيَالٍ لِلْيَمَن Nasution, Harun Al Rahsyid; Fachriza, Muhammad; Suri, Nursukma
Kajian Linguistik dan Sastra Vol. 5 No. 2 (2026): Mei 2026
Publisher : Prodi Sastra Indonesia, FKIP Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/kalistra.v5i2.54811

Abstract

This study focuses on the illocutionary acts of Yemeni and Saudi Arabian netizens in the YouTube العربية comment section related to a video titled اَلسُّعُودِيَّةُ تُعْلِنُ دَعْمًا تَنْمَوِيًّا قِيمَتُهُ مِلْيَارٌ وَ 300 مِلْيُونِ رِيَالٍ لِلْيَمَنِ. The purpose of this study is to describe the form, type, and meaning of the utterances. This study uses a qualitative descriptive approach and technique. The results found in the utterances were 5 assertive, 4 directive, 2 commissive, and 4 expressive. Abstrak Studi ini berfokus pada tindakan ilokusi netizen Yaman dan Arab Saudi di bagian komentar YouTube العربية terkait dengan video berjudul اَلسُّعُودِيَّةُ تُعْلِنُ دَعْمًا تَنْمَوِيًّا قِيمَتُهُ مِلْيَارٌ وَ 300 مِلْيُونِ رِيَالٍ لِلْيَمَنِ. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bentuk, jenis, dan makna ucapan. Penelitian ini menggunakan pendekatan dan teknik deskriptif kualitatif. Hasil yang ditemukan dalam ucapan tersebut adalah 5 asertif, 4 direktif, 2 komisif, dan 4 ekspresif.
Pelanggaran Prinsip Kesantunan Berbahasa dalam Film Bekas 2012: Kajian Pragmatik Dermawan, Fadli; Nasution, Harun Al Rahsyid; Fachriza, Muhammad
Kajian Linguistik dan Sastra Vol. 5 No. 2 (2026): Mei 2026
Publisher : Prodi Sastra Indonesia, FKIP Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/kalistra.v5i2.55038

Abstract

Politeness in language is a crucial aspect of maintaining harmony in social interactions, yet in practice it is often violated, particularly in conflict situations. This study aims to describe the forms of violations of politeness principles in the film *Bekas* (2012) by Karzan Kader based on Geoffrey Leech’s theory. The method used is qualitative descriptive with documentation techniques through repeated viewings, dialogue recording, and discourse context analysis. The results show that the most dominant violations occur in the maxims of respect and sympathy, characterized by the use of insults, derogatory remarks, and threats. Violations were also found in the maxims of politeness, modesty, and agreement to a limited extent. These findings indicate that violations of politeness are influenced by social pressure, the psychological state of the characters, and conflict situations, thereby underscoring the importance of linguistic politeness in maintaining the quality of social interaction. Abstrak Kesantunan berbahasa merupakan aspek penting dalam menjaga keharmonisan interaksi sosial, namun dalam praktiknya sering mengalami pelanggaran, khususnya dalam situasi konflik. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan bentuk pelanggaran prinsip kesantunan dalam film Bekas (2012) karya Karzan Kader berdasarkan teori Geoffrey Leech. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik dokumentasi melalui penayangan berulang, pencatatan dialog, dan analisis konteks tuturan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelanggaran paling dominan terjadi pada maksim penghargaan dan kesimpatian, yang ditandai oleh penggunaan ujaran berupa cacian, hinaan, dan ancaman. Pelanggaran juga ditemukan pada maksim kebijaksanaan, kesederhanaan, dan permufakatan dalam jumlah terbatas. Temuan ini menunjukkan bahwa pelanggaran kesantunan dipengaruhi oleh tekanan sosial, kondisi psikologis tokoh, serta situasi konflik, sehingga menegaskan pentingnya kesantunan berbahasa dalam menjaga kualitas interaksi sosial.
Tindak Tutur Ilokusi dalam Film Agak Laen Karya Muhadkly Acho Faizah, Filla Aulia Nur; Muarifin, Moch; Lailiyah, Nur
Kajian Linguistik dan Sastra Vol. 5 No. 2 (2026): Mei 2026
Publisher : Prodi Sastra Indonesia, FKIP Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/kalistra.v5i2.55254

Abstract

The illocutionary speaking performances in Muhadkly Acho's film Agak Laen are the focus of this research. This research intends to describe the film's illocutionary speech actions and the roles they play. The data was gathered using a qualitative descriptive technique, with characters' talks being systematically observed and transcribed. The analysis was conducted based on the theories put forward by Searle (1979) and Leech (2015), respectively, for the classification of illocutionary act forms and functions. The five types of data were as follows: assertive (56 points), directive (34 points), commissive (3), expressive (11 points), and declaration (1). Together, the four functions of competitiveness (14 points), pleasantry (17 points), collaboration (18 points), and conflictive (3) yielded 52 data points. Out of all the forms, the directive one was the most common, with 24 data points belonging to the commanding sub-type; the stating sub-type, with 15 points, represented the collaborative function. All of this points to the fact that there is a wide range of intended meanings conveyed via character speech in Agak Laen. Abstrak Riset ini berfokus pada tindak tutur ilokusi dalam film Agak Laen karya Muhadkly Acho. Riset ini bertujuan untuk mendeskripsikan tindak tutur ilokusi film dan peran yang dimainkannya. Data dikumpulkan memakai teknik deskriptif kualitatif, serta menggunakan teknik pengumpulan simak catat dengan percakapan karakter diamati dan ditranskripsikan secara sistematis. Analisis dilaksanakan berdasarkan teori yang dikemukakan oleh Searle (1979) dan Leech (2015), masing-masing, untuk klasifikasi bentuk dan fungsi aksi ilokusi. Lima jenis data tersebut adalah sebagai berikut: asertif (56 poin), direktif (34 poin), komisif (3), ekspresif (11 poin), dan deklarasi (1). Bersama-sama, empat fungsi yaitu daya saing (14 poin), keramahan (17 poin), kolaborasi (18 poin), dan konfliktif (3) menghasilkan 52 poin data. Dari semua bentuk tersebut, bentuk direktif adalah yang paling umum, dengan 24 poin data termasuk dalam subtipe memerintah; Subtipe pernyataan, dengan 15 poin, mewakili fungsi kolaboratif. Semua ini menunjukkan bahwa ada beragam makna yang dimaksudkan yang disampaikan melalui ucapan karakter di Agak Laen.

Page 1 of 1 | Total Record : 10