Berita Kedokteran Masyarakat
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM Public Health and Community Medicine) is a peer-reviewed and open access journal that deals with the fields of public health and public medicine. The topics of the article will be grouped according to the main message of the author. This focus covers areas and scope related to aspects of: - Epidemiology - Infectious diseases control - Clinical Epidemiology - Environmental Health - Occupational Health - Healthy City - Public Health and Primary Health Care - School of Health Promotion - Healthy lifestyles - Health promotion - Health and Social Behavior - Tobacco and smoking - Adolescent Health - Public Health Nutrition - Maternal and Child Health - Reproductive Health - Population Health - Health of Vulnerable People - Social Determinants of Health - Water, Sanitation and Hygiene - Human Resource Management
Articles
1,528 Documents
Implementasi undang-undang kesehatan jiwa di provinsi DIY
Yunita Arisanti;
Wijaya Andi Saputra;
Putut Wisnu Nugroho
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 5 (2018): Proceedings the 3rd UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (577.515 KB)
|
DOI: 10.22146/bkm.37662
Data Riskesdas 2013 menunjukkan prevalensi ganggunan mental emosional yang ditunjukkan dengan gejala depresi dan kecemasan mencapai sekitar 14 juta orang atau 6% dari jumlah penduduk Indonesia. Sedangkan prevalensi gangguan jiwa berat mencapai sekitar 400.000 orang atau sebanyak 1,7 per 1.000 penduduk. Jumlah kasus gangguan jiwa berat tahun 2016 di DIY 12.322 orang, dengan data terakhir ada 56 kasus pemasungan. Riskesdas 2013 menyebutkan DIY mempunyai prevalensi kasus gangguan jiwa berat 2.7/mil lebih tinggi daripada prevalensi nasional yaitu 1.7/mil. Undang-undang Kesehatan Jiwa Nomer 18 Tahun 2014 disusun dengan tujuan menghentikan pelanggaran terhadap hak asasi manusia yaitu perlindungan terhadap pemasungan ODGJ berat, mengubah stigma dan diskriminasi terhadap penderita. Sampai tahun 2018 hanya 1 propinsi di Indonesia yang sudah mempunyai Perda mengenai Penyelenggaraan Kesehatan Jiwa yaitu Propinsi Jawa Barat. Di DIY, program kesehatan jiwa belum mempunyai peraturan daerah sendiri, masih dimasukkan ke dalam Perda No 4 tahun 2012 tentang Perlindungan dan Pemenuhan Hak Hak Penyandang Disabilitas. ODGJ dan ODMJ dikategorikan dalam “gangguan sosialitas, emosional, dan perilaku”. Perda ini belum direvisi setelah diberlakukannya UU Nomer 8 tahun 2016 tentang Disabilitas. DIY hanya memiliki satu peraturan yang membahas masalah spesifik pemasungan penderita gangguan jiwa yaitu Peraturan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta No.81 tahun 2014 untuk Pedoman Penanggulangan Pemasungan. Laporan Kinerja RS Jiwa Grhasia DIY tahun 2017 yang menjadi indikator yaitu “Presentase penderita gangguan jiwa berat yang ditangani RS Jiwa Grhasia DIY”. Menjadi pertanyaan : tanggung jawab siapakah proses promotif, preventif dan rehabilitasi psikososial pasien ODGJ dan ODMJ jika tidak ada peraturan daerah yang menjadi panduan. Kesimpulan yang diambil perlu sinkronisasi program yang disusun oleh Direktorat Bina Kesehatan Jiwa ke pemerintah daerah, masalah Kesehatan Jiwa belum menjadi prioritas dalam pelayanan kesehatan di daerah, UU kesehatan jiwa belum diturunkan menjadi peraturan daerah sesuai spesifikasi kondisi daerah setelah 4 tahun disahkan, dan belum ada PP yang mengatur tentang Kesehatan Jiwa secara lebih spesifik.
Associated factors back pain complaints of students Madrasah Ibtidaiyyah Tahfidzul Quran Azhar Center Makassar 2015
Nur Haidam
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 5 (2018): Proceedings the 3rd UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (221.549 KB)
|
DOI: 10.22146/bkm.37663
Nyeri punggung saat ini merupakan suatu masalah bagi anak sekolah yang dapat membatasi kegiatan sehari-hari mereka. Berdasarkan hasil penelitian ilmiah, penggunaan tas punggung yang tidak sesuai standar, beban tas serta penggunannya yang salah dapat mengakibatkan keluhan nyeri punggung yang berisiko merubah postur tubuh pada anak yang masih dalam masa pertumbuhan tulang. MITQ Azhar Center merupakan sekolah dengan aktifitas cukup tinggi sehingga siswa membawa beban tas yang berlebih (65,2%). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan keluhan nyeri punggung pada siswa MITQ Azhar Center Makassar tahun 2015. Analisis data diperoleh ada hubungan antara beban beban tas dengan keluhan nyeri punggung (p=0,031). Tidak ada hubungan antara pemilihan tas dengan keluhan nyeri punggung (p=0,122), tidak ada hubungan antara cara membawa tas dengan keluhan nyeri punggung (p=0,719), dan tidak ada hubungan antara indeks massa tubuh dengan keluhan nyeri punggung (p=0,200). Maka diperlukan adanya regulasi dan edukasi dari sekolah tentang penggunaan tas yang baik sesuai standar yang ditetapkan oleh American Chiropactic Association (ACA), peran orang tua dalam memerhatikan peralatan dan bahan yang dibawa oleh anak di sekolah, serta kerjasama dengan pihak sekolah untuk ikut berkontribusi untuk memantau barang-barang bawaan siswa. Termasuk cara membawa tas termasuk jenis tas yang sesuai dengan standar terhadap pihak sekolah yang kemudian diinformasikan kepada orang tua siswa ketika melakukan pendaftaran. Meskipun pada penelitian ini secara statistik tidak berhubungan secara signifikan tetapi beberapa sumber menyebutkan bahwa cara membawa tas dengan satu bahu dan pemilihan jenis tas yang tidak sesuai standar akan memengaruhi distribusi beban tas terhadap tulang punggung sehingga berkontribusi terhadap keluhan nyeri punggung. sedangkan status IMT yang tidak normal akan lebh rentan terhadap keluhan nyeri punggung. mereka yang gemuk dan obesitas akan mengalami keluhan nyeri punggung karena beban tubuh sehingga lebih rentan, sedangkan mereka yang kurus dan kurus sekali kekurangan nutrisi tulang yang mengakibatkan kemampuan tulang kurang maksimal.
Pengembangan konsep comprehensive life style intervention pada tatanan sekolah melalui program: gerakan jajan sehat (GJS) di SD Negeri 01 Baruga Kota Kendari
Nurhijrianti Akib
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 5 (2018): Proceedings the 3rd UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (706.405 KB)
|
DOI: 10.22146/bkm.37664
Jajan merupakan perilaku yang seringkali dikakukan oleh siswa sekolah dasar, yang dapat menimbulkan masalah apabila tidak memperhatikan mutu gizi, kebersihan, dan keamanan bahan pangan. Berdasarkan sampling dan uji laboratorium terhadap 10.429 sampel jajanan yang diambil dari 144 Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah di 31 provinsi di seluruh Indonesia yang dilakukan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) pada tahun 2014 tercatat bahwa 2.484 (23,8%) dari sampel jajanan tersebut tidak memenuhi syarat, disebabkan karena kandungan bahan tambahan yang berbahaya. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengembangkan program : Gerakan Jajan Sehat (GJS) di SD Negeri 01 Baruga Kota Kendari yang diadopsi dari Konsep Comprehensive Life Style Intervention dari Ottawa Charter. Adapun program intervensi yang dikembangkan berdasarkan 5 dimensi Comprehensive Life Style Intervention pada tatanan sekolah yaitu : 1) Penerapan kebijakan kesehatan dengan aturan pelarang penjualan makanan tidak sehat dan menjual makanan yang sehat di sekolah, 2) Reorientasi pelayanan kesehatan yaitu dengan melakukan pengukuran BMI (Body Mass Index) dan pemeriksaan kesehatan, 3) Membangun lingkungan yang dapat mendukung kesehatan yaitu dengan pendidikan kesehatan pada staff sekolah, guru, dan orang tua serta penyediaan makanan yang sehat, 4) Penguatan aksi di komunitas, yaitu dengan mengintegrasikan perilaku sehat di rumah dan di sekolah, serta mengadakan kompetisi jajan sehat pada level individu di dalam kelas, 5) Mengembangkan keterampilan personal yaitu dengan pendidikan kesehatan melalui berbagai metode permainan tentang gerakan jajan sehat.
Challenges of implementing nutrition policy in Papua New Guinea
Helen Palik
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 5 (2018): Proceedings the 3rd UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (153.271 KB)
|
DOI: 10.22146/bkm.37665
Purpose: The national nutrition policy 1995 was reviewed to address the chronic nutrition problems that existed for decades. The problems revealed from National Nutrition Survey 2005-2006, showed that about 44% of the children from ages 6 -59 months in Papua New Guinea (PNG) are physically stunted, 5 % are wasted and 18% are underweight. It also showed that 48 % are anaemic, of which 28% have iron deficiency. The proportion of children with vitamin A deficiency accounted for 25.6% of the study population. Method: The multi-sectoral approach was applied to review Nutrition Policy 2016 in order improve nutrition for all Papua New Guineans through evidence-based, coordinated nutrition approaches that optimises resources and aligns actions and to improve nutrition for all Papua New Guineans through evidence-based, coordinated nutrition approaches that optimises resources and aligns actions enabling smart, fair, wise, healthy and happy nation through improved nutrition and health outcomes for all citizens of PNG. Results: Proportion of health workers to the population at lower level is inadequately distributed at the primary health care level and many times one staff is doing many things at the same time and there is often less focus to concentrate on one specific job to produce better expected results. Many managers are working in difficult working conditions with changing environment and poor infrastructure, Managers face challenges in the areas of personal, technical performance, environment changes and survival and growth (Shortell & Kaluncy 2000), many of the managers do not know what exactly they are supposed to do. “Many challenges await. There are no panaceas for fixing our healthcare system”(Shalala D1). In PNG, there are many reasons why very good policies that have clear goals and visions are not implemented successfully as expected at all levels especially at the lower level where many of the outcomes are measured. Many blame the poor health system as a result of political influences while others have different opinions about various contributing factors including the WHO six building blocks which may have affected the policy implementation resulting in favourable or bad outcomes. Conclusion: Strengthen M & E system by the use of latest IT Technology (telemedicine) to asses outcomes and also monitors progress of policy implementation ,capturing important indicators and or interventions measured against the policies indicators, thus user friendly.
Analisis mutu pelayanan gizi ditinjau dari proses asuhan gizi terstandart (PAGT) di rawat inap RSUD Gambiran kota Kediri
Reny Nugraheni;
Rima Dwi Listyani
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 5 (2018): Proceedings the 3rd UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (298.273 KB)
|
DOI: 10.22146/bkm.37684
Tujuan: Penelitian ini menganalisis mutu layanan gizi di Rawat Inap RSUD Gambiran Kota Kediri menggunakan proses asuhan gizi terstandart. Metode: Survei dengan sampel 94. Hasil: Standar penilaian assesmen gizi 99% diberikan tepat waktu, asuhan gizi 97% tercatat dalam lembar CPPT, asuhan gizi 95% direvisi sesuai respon pasien, monitoring asuhan gizi 89% telah dilakukan, asuhan gizi 100% diberikan oleh dietisien, intervensi pasien 100% sesuai kondisi pasien dan rata-rata capaian mutu pelayanan gizi ditinjau dari PAGT di rawat inap RSUD Gambiran Kota Kediri menunjukan angka 97%. Simpulan: Mutu pelayanan gizi ditinjau dari PAGT di rawat inap RSUD Gambiran Kota Kediri dikatakan masih belum sesuai standar Kemenkes RI Tahun 2013. Perlu penambahan petugas terutama tenaga gizi untuk pemenuhan kebutuhan jumlah tenaga gizi yang disesuaikan oleh Kemenkes RI dan Kepala Instalasi Gizi melakukan audit untuk memeriksa kelengkapan dokumen asuhan gizi pasien rawat inap.
Bagaimana motivasi berhenti merokok mahasiswa di kampus kesehatan Yogyakarta?
Heni Trisnowati;
Eka Santi Sabariah;
Yelli Yani Rusyani
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 5 (2018): Proceedings the 3rd UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (244.117 KB)
|
DOI: 10.22146/bkm.37686
Masalah rokok sudah menjadi masalah nasional bahkan menjadi masalah internasional. Lebih dari 60 juta penduduk Indonesia mengalami ketidakberdayaan akibat dari adiksi nikotin rokok, dan kematian akibat mengkonsumsi rokok tercatat lebih dari 400 ribu orang per-tahun. Sebagai salah satu upaya membantu perokok untuk berhenti merokok diperlukan informasi mengenai gambaran motivasi berhenti merokok. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proporsi perokok pada responden penelitian dan untuk mengetahui motivasi berhenti merokok pada mahasiswa di kampus kesehatan Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Jumlah Populasi penelitian 274 orang sementara sampel diambil dengan menggunakan accidental sampling sebanyak 163 orang. Data tentang karakteristik dan gambaran motivasi berhenti merokok mahasiswa diperoleh dari kuesioner kemudian dianalisis secara deskriptif menggunakan sistem komputer. Jumlah mahasiswa yang merokok sebanyak 20 orang (12.3%) sementara proporsi perokok laki-laki 4 kali lebih besar dibanding perokok wanita dan semua perokok mempunyai keinginan berhenti merokok. Pada kelompok laki-laki, terdapat 15 orang (32.6%) yang merokok sementara pada kelompok perempuan ada 5 orang (4.3%) yang merokok. Gambaran motivasi berhenti merokok sebagai berikut: mahasiswa yang sangat tertarik untuk berhenti merokok sebanyak 12 orang (60%); Jumlah mahasiswa yang akan berhenti merokok 7 orang (35%) sementara ada 9 orang (45%) kemungkinan akan menjadi non perokok. Sebagian besar (65%) perokok mempunyai motivasi sedang untuk berhenti merokok. Kesimpulan penelitian ini adalah semua responden yang merokok memiliki motivasi untuk berhenti merokok. Hal ini memberi peluang bagi promotor kesehatan dan penggiat tobacco control untuk membantu perokok berhenti merokok dalam bentuk edukasi atau layanan berhenti merokok.
Pengaruh pelatihan orientasi keluarga sehat untuk mendukung program Indonesia sehat di kabupaten Lumajang tahun 2018
Serius Miliyani Dwi Putri
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 5 (2018): Proceedings the 3rd UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (127.766 KB)
|
DOI: 10.22146/bkm.37687
Program Indonesia Sehat merupakan program utama pembangunan kesehatan dengan tujuan untuk meningkatkan derajat kesehatan dan status gizi masyarakat melalui upaya kesehatan dan pemberdayaan masyarakat. Untuk mensukseskan program Indonesia Sehat melalui pendekatan keluarga, maka puskesmas memiliki tanggung jawab untuk melakukan pendekatan keluarga di wilayah kerjanya melalui kunjungan rumah. Dalam pelaksanaaan Program Indonesia Sehat telah disepakati adanya dua belas indikator utama sebagai penanda status kesehatan sebuah keluarga. Oleh sebab itu, menjadi penting bagi petugas puskesmas untuk mengetahui prinsip-prinsip dalam program Keluarga Sehat agar data yang diperoleh untuk kebutuhan program tidak bias. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian pelatihan Orientasi Keluarga Sehat di Kabupaten Lumajang pada tahun 2018. Responden dalam penelitian ini adalah administrator, surveyor dan supervisor program Keluarga Sehat di 25 puskesmas. Jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 76 orang. Tipe penelitian ini adalah penelitian eksperimen dengan rancangan one group pre-test post-test design menggunakan satu kelompok sampel yang diberi perlakuan atau intervensi. Teknik pengumpulan data dengan mengunakan kuesioner pre-test dan post-test. Pelatihan dilakukan selama 3 hari dari 21 hingga 23 Februari 2018. Data hasil penelitian kemudian dianalisis menggunakan uji t (t-test) paired simple test untuk melihat ada tidaknya perbedaan antara pre-test dan post-test. Hasil uji normalitas data menggunakan kolmogorov smirnov, diperoleh hasil ρ (0.091) > α (0.05), dengan kata lain data dalam penelitian ini terdistribusi normal. Berdasarkan hasil penelitian, adanya pelatihan memberikan pengaruh positif dalam meningkatkan pengetahuan responden dibuktikan dengan nilai rata-rata pre-test 65.6250 sedangkan nilai rata-rata post-test 76.6776. Hasil analisis paired t-test adalah nilai Sig. (0.000) < α (0.05) sehingga disimpulkan terdapat pengaruh signifikan dalam pemberian pelatihan Orientasi Keluarga Sehat di Kabupaten Lumajang tahun 2018.
Kenapa putus berobat? Bagaimana efektifitas monitoring dalam upaya meningkatkan kepatuhan pengobatan pasien TB : studi kasus di Provinsi Jawa Tengah
Riana Dian Anggraini;
Wa Ode Siti Orianti;
Eka Putri Rahayu
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 5 (2018): Proceedings the 3rd UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (548.949 KB)
|
DOI: 10.22146/bkm.37688
Succes Rate Provinsi Jawa Tengah empat tahun terakhir ini mengalami trend penurunan dari tahun 2013 sebesar 89,04% dan ditahun 2016 menjadi 68,69%. Intervensi perlu dilakukan untuk mencegah meningkatnya kegagalan pengobatan, epidemi penularan TB dan TB Resisten Obat. Penyebab terbesar dari kegagalan pengobatan adalah putus berobat (DO). Faktor utama penyebab DO yaitu komunikasi antara petugas dengan pasien. System monitoring berfungsi memastikan layanan kesehatan berjalan sesuai prosedur termasuk pengawasan terhadap kepatuhan pengobatan pasien TB. Tujuan penulisan ini untuk mengetahui faktor penyebab putus berobat pasien TB dari segi petugas kesehatan serta mengetahui efektifitas fungsi monitoring dalam meningkatkan kepatuhan pengobatan TB. Kepuasaan pasien terhadap layanan TB yang diterima adalah kunci keberhasilan pengobatan. Kekurangan tenaga dan peningkatan beban kerja dilayanan TB menyebabkan standart kualitas pelayanan belum optimal. Komunikasi antara dokter dan pasien gagal tercipta sehingga tidak ada motivasi penting bagi pasien dalam mematuhi pengobatan. Manager kasus dalam unit klinis berperan penting dalam mengatasi kesenjangan komunikasi dan persepsi antara pasien dengan pemberi layanan. Sepertiga dari pasien DO memutuskan memilih melanjutkan pengobatan non DOTS berisiko berkembang menjadi TB MDR. Buruknya sistem transfer pasien antar faskes menyebabkan pasien TB sulit terlacak pengobatannya. Monitoring dari rekaman medis dan formulir TB untuk memastikan terisi dengan benar dan tepat waktu tidak dilakukan rutin dan berkala. Tidak dilakukan evaluasi monitoring dari pelaksanaan tindak lanjut hasil temuan. Teknologi informasi terbatas pada pelaporan TB ke tingkat pusat sedangkan teknologi reminder belum menjadi pilihan inovasi. Pemberi layanan TB belum meberikan pelayanan yang bermutu. Monitoring belum berjalan dengan baik karena terbatas sumberdaya. Penggunaan teknologi tinggi untuk monitoring belum menjadi inovasi Pemerintah Jateng dalam mengatasi kepatuhan pengobatan TB. Intervensi yang dilakukan harus komprehensif dan multitarget, antara lain peningkatan konseling dan komunikasi antara dokter dengan pasien, pendidikan dan pelatihan manager kasus, desentralisasi pengobatan, dan monitoring rutin dan berkala terstandart.
Hubungan gaya hidup dengan anemia pada siswa-siswi kelas VIII SMPN 01 Wates Kulon Progo
Yunita Apriliani;
Dedy Arisjulyanto;
Siti Istiyati
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 5 (2018): Proceedings the 3rd UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (662.749 KB)
|
DOI: 10.22146/bkm.37689
Anemia merupakan masalah kesehatan masyarakat yang secara global banyak ditemukan di berbagai negara maju maupun di negara yang sedang berkembang. Prevalensi anemia gizi besi pada remaja putri tahun 2012 di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) umur 12-19 tahun yaitu 36,00%. Gambaran grafis memperlihatkan bahwa di kabupaten Sleman (18,4%), Gunung Kidul (18,4%), Kota Yogyakarta (35,2%), Bantul (54,8%), Kulonprogo (73,8%). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara gaya hidup dengan kejadian anemia pada siswa-siswi Kelas VIII di SMP Negeri 01 Wates Kulon Progo tahun 2018. Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah analitik observasional dengan rancangan Cross Sectional. Alat pengumpul data pada penelitian ini menggunakan kuisioner. Selain itu dilakukan pemeriksaan hemoglobin menggunakan hemoglobin digital, dan data pada penelitian ini di analisis statistik menggunakan uji Chi Square. Hasil dari analisis statistic di dapatkan nilai p-value 0,000 dan lebih kecil dari α = 0,05. Berdasarkan hasil analisis statistik menggunakan Chi Square menunjukan hasil yang signifikan dan dapat kita simpulkan ada hubungan antara gaya hidup dengan kejadian anemia pada siswa-siswi kelas VIII di SMP Negeri 01 Wates Kulon Progo. Rekomendasi yang dapat diberikan adalah pemberian konseling dan promosi kesehatan tentang gaya hidup yang sehat sehingga siswa dapat menerapkan dan memodifikasi gaya hidup yang tidak sehat menjadi lebih sehat.
Peran ergonomi partisipatif dalam mencegah keluhan muskuloskeletal
Desrifana Yunus
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 5 (2018): Proceedings the 3rd UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (346.835 KB)
|
DOI: 10.22146/bkm.37692
Penulisan ini bertujuan untuk menjelaskan berbagai pendekatan yang telah dilakukan pada penerapan ergonomi partisipatif di berbagai industri dan mengambil pembelajaran dari implementasi ergonomi partisipatif tersebut.Keluhan Muskuloskeletal sering terjadi pada pekerja terutama dengan beban pekerjaan yang tinggi dan bekerja dengan postur yang jangal seperti perawat, pekerja di jasa konstruksi hingga manufaktur. Ergonomi partisipatif yang bertujuan mengurangi keluhan Muskuloskeletal melalui identifikasi berbagai faktor risiko pekerjaan dan merumuskan solusi untuk mengurangi risiko dengan melibatkan pekerja secara langsung. Efektivitas penyelenggaran ergonomi partisipatif bervariasi di berbagai tempat kerja. Hal ini dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti karakteristik pekerja, metode ergonomi yang digunakan, hingga dukungan dari organisasi atau perusahaan.Ergonomi partisipatif berpengaruh pada perbaikan posisi kerja, postur janggal dan kekakuan pada leher dikalangan perawat. Implementasi dibidang manufaktur juga mampu meningkatkan produktivitas hingga 46% dengan adanya pengurangan beban kerja yang tidak perlu, waktu tunggu transportasi barang, dan pengurangan waktu atau lama produksi. Hasil evaluasi partisipatif ergonomi pada 12 penelitian membuktikan bahwa ergonomi partisipatif memberikan dampak positif pada keluhan muskuloskeletal, pengurangan kecelakaan pada pekerja, klaim kompensasi terhadap kecelakaan kerja, serta mengurangi ketidakhadiran pekerja karena sakit. Jumlah fasilitator dan potensi adanya hambatan dapat menentukan kesuksesan program. Organisasi yang biasanya berhasil mendapatkan manfaat dari program ini adalah organisasi yang antar pekerjanya memiliki hubungan yang baik, komunikasi yang baik, adanya kebiasaan berkonsultasi dan adanya koordinasi dalam berbagai proses pekerjaan.Ergonomi partisipatif berhasil memberikan perubahan pada lingkungan kerja, terutama dalam mengurangi faktor risiko lingkungan kerja fisik yang berdampak pada gangguan muskuloskeletal. Implementasi ergonomi partisipatif membutuhkan komitmen manajemen pada semua unit di tempat kerja atau perusahaan. Pelatihan ergonomi, kerjasama tim dan solusi penyelesaian masalah adalah aspek yang dibutuhkan dalam pelaksanaan ergonomi partisipatif