cover
Contact Name
Ika Kusumaningtyas
Contact Email
tyas.kusuma@ugm.ac.id
Phone
+628988833412
Journal Mail Official
bkm.fk@ugm.ac.id
Editorial Address
Sekretariat Bersama Jurnal, Lt. 2 Atas Kantin IKM, FK-KMK UGM Jl. Farmako, Sekip Utara, Yogyakarta 55281
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Berita Kedokteran Masyarakat
ISSN : 02151936     EISSN : 26148412     DOI : https://doi.org/10.22146/bkm.v37i2.2320
Core Subject : Health,
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM Public Health and Community Medicine) is a peer-reviewed and open access journal that deals with the fields of public health and public medicine. The topics of the article will be grouped according to the main message of the author. This focus covers areas and scope related to aspects of: - Epidemiology - Infectious diseases control - Clinical Epidemiology - Environmental Health - Occupational Health - Healthy City - Public Health and Primary Health Care - School of Health Promotion - Healthy lifestyles - Health promotion - Health and Social Behavior - Tobacco and smoking - Adolescent Health - Public Health Nutrition - Maternal and Child Health - Reproductive Health - Population Health - Health of Vulnerable People - Social Determinants of Health - Water, Sanitation and Hygiene - Human Resource Management
Articles 1,528 Documents
Relationship between Management Commitment; OSH Behavior; Work Shift with Occupational Accident at RSUD Kanjuruhan Kepanjen Malang Regency Hesti Diana Rosia Puspitasari; Yayi Suryo Prabandari; Santosa Budiharjo
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 5 (2018): Proceedings the 3rd UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (602.391 KB) | DOI: 10.22146/bkm.37693

Abstract

As a community service, hospitals are a means to deal with health, recovery and health care issues. Potential hazards in the hospital may be caused by biological factors, chemical factors, ergonomics factors, physical factors and psychosocial factors. The dangers of the above factors can lead to workplace accidents or PAK which can cause a decrease in physical or mental ability, disability, or even death. To determine the relationship between management commitment and the incidence of work accidents at the Risk Unit in RSUD Kanjuruhan Malang Regency. Quantitative research, with cross sectional study and needed 55 hospital worker from 6 risk units. The result of Pearson correlation analysis of management commitment, OSH behavior and work shift have the significant correlation with work accident. Both of management commitment and OSH behavior have the negative correlation which mean that higher management and behavior can decrease the accidents. The result of multivariate test was obtained by F value of 9.93 with p=0,000 which means that management commitment, OSH behavior and work shift simultaneously have significant effect to work accident. There is a significant correlation between management commitment, OSH behavior and work shift with occupational accident.
Gambaran faktor risiko kejadian Carpal Tunnel Syndrome (CTS) pada karyawan bagian redaksi di kantor berita X Jakarta Tahun 2018 Najmatun Nisa; Meilani M Anwar
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 5 (2018): Proceedings the 3rd UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2097.015 KB) | DOI: 10.22146/bkm.37696

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran faktor risiko kejadian CTS pada karyawan bagian redaksi di Kantor Berita Nasional Antara Jakarta Tahun 2018. Faktor risiko CTS terdiri dari faktor personal (jenis kelamin, usia, dan jaringan lemak di tangan) dan faktor pekerjaan (masa kerja, lama kerja, dan posisi kerja). Penelitian ini bersifat deskriptif dengan metode penelitian kuantitatif dan menggunakan desain studi cross sectional. Instrumen yang digunakan adalah lembar kuesioner, lembar observasi dari Assessment of Repetitive Tasks (ART) tool, body composition monitor, microtoise, stopwatch, dan phalen’s test. Waktu pengambilan data dilakukan pada bulan Januari tahun 2018. Sebanyak 42,4% responden yang diteliti terdiagnosis positif CTS. Responden yang terdiagnosis positif CTS terdiri dari 52,9% responden perempuan, 45,5% responden yang berusia > 37,5 tahun, 51,9% responden yang memiliki persentase jaringan lemak terbesar di bagian tangan, 47,1% responden yang memiliki masa kerja > 12 tahun, 41,9% responden yang memiliki lama kerja > 8 jam/hari, dan 43,6% responden dikategorikan dalam level sedang untuk eksposur posisi kerjanya. Penilaian level eksposur posisi kerja tersebut dilihat dari 12 faktor dimana dalam penelitian ini ada tiga faktor yang sangat berpengaruh dalam kejadian CTS yaitu: 1) frekuensi gerakan lengan kanan, dimana semuanya memiliki kategori reasonable dan 42,4%  terdiagnosis positif CTS; 2) gerakan berulang pada tangan kiri dan kanan, dimana sebagian besar responden yang positif CTS  memiliki kategori good karena sebagian besar memiliki masa kerja > 12 jam dan lama kerja > 8 jam; dan 3)  postur pergelangan tangan, dimana semuanya memiliki kategori reasonable dan poor dan 63,6% terdiagnosis positif CTS. Faktor risiko yang memiliki trend tertinggi dalam kejadian CTS adalah faktor persentase jaringan lemak terbesar dibagian tangan, level eksposur posisi kerja, dan jenis kelamin perempuan.
Perilaku beresiko pada lansia “endong-endong” di pasar induk sayur dan buah giwangan Yogyakarta Ribia Tutstsintaiyn
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 5 (2018): Proceedings the 3rd UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (467.566 KB) | DOI: 10.22146/bkm.37697

Abstract

Penelitian ini bertujuan ntuk mengetahui gambaran kesehatan endong-endong yang berkaitan dengan perilaku kerja yang tidak ergonomis dan upaya penanggulangan risiko PAK (penyakit akibat kerja) dan KAK (kecelakaan akibat kerja). Terciptanya kehidupan yang sehat dan meningkatkan kesejahteraan untuk semua usia adalah salah satu fokus SDGs. Namun, hal ini belum terlaksana secara menyeluruh di Indonesia. Endong-endong, atau wanita yang berprofesi mengangkut barang di pasar dengan menggendong menggunakan kain jarik. Sejumlah 60 orang diantaranya merupakan lansia, dimana mereka setiap harinya menggendong buah dan sayur seberat 25-98 kg dalam satu kali angkut dengan frekuensi 15 kali atau lebih. Mereka bekerja tanpa memperhatikan faktor ergonomis seperti berat beban maksimal untuk wanita, frekuensi angkat maksimal dalam sehari kerja, teknik mengangkat beban, waktu kerja, dan tidak memperhatikan jarak tempuh mengangkut beban. Perilaku tersebut dapat menimbulkan masalah kesehatan terutama PAK (penyakit akibat kerja) yaitu nyeri pada sistem muskuloskeletal seperti otot-otot punggung, pinggang, juga nyeri pada tangan, lutut, dan kaki. Masalah yang sering dialami lansia endong-endong adalah keluhan low back pain (nyeri punggung bawah).Selain itu, kelelahan akibat kerja akan meningkatkan risiko terjadinya kecelakaan akibat kerja. Risiko masalah kesehatan ini semakin tinggi terlebih pada lansia mengingat bahwa lansia wanita memiliki daya tahan tubuh yang lebih rentan dibandingkan dengan wanita usia produktif. Dari hasil penggalian data, sebagian besar lansia endong-endong mengalami keluhan nyeri pada punggung bawah dan kaki. Dimana keluhan nyeri punggung bawah ringan sebesar 31,5%, sedang 57,5% dan berat 11%. Hal tersebut terjadi karena semakin berat beban yang dibawa seseorang setiap kali menggendong maka tekanan pada tulang belakang menjadi semakin besar, sehingga kemungkinan terjadinya nyeri juga semakin besar terlebih ini terjadi pada lansia. Lainnya juga mengalami kecelakaan akibat kerja seperti terjatuh dan terpeleset karena kelelahan dan lingkungan kerja yang licin saat mengangkat beban. Sebagai pekerja sektor informal, kelompok ini tidak secara khusus mendapatkan perlindungan jaminan kesehatan. Sehingga upaya penanggulangan yang dapat diterapkan adalah Pos UKK yang menyelenggarakan upaya pemberian pelayanan kesehatan bagi pekerja informal dengan pendekatan utamanya promotif dan preventif  didukung dengan upaya kuratif dan rehabilitatif sederhanabersumberdaya masyarakat (UKBM).
Low birth weight and its association with attention deficit hyperactivity disorder (ADHD) in young children Bunga Astria Paramashanti; Rosma Fyki Kamala; Dwi Nur Rahmawati
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 5 (2018): Proceedings the 3rd UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (633.381 KB) | DOI: 10.22146/bkm.37698

Abstract

This study was conducted to understand the association between low birth weight and attention deficit hyperactivity disorder (ADHD) in young children aged 36 – 59 months in Sedayu Subdistrict, Bantul District, Daerah Istimewa Yogyakarta. This study used cross-sectional design with a total of 185 children aged 36 – 59 months were selected by probability proportional to size (PPS) sampling technique. This study was located in Sedayu Subdistrict, Bantul District, Daerah Istimewa Yogyakarta. The study was conducted January 2017. Main variables in this study were low birth weight, prematurity, and attention deficit hyperactivity disorder (ADHD). Maternal and child book was used to confirm the birth weight and gestational age data. Abbreviated Conners Rating Scale form was used to detect ADHD symptoms in young children, followed by a psychologist confirmation. Data were analyzed by using descriptive statistics, chi-square test, and multiple logistic regression at 0.05 level of significance. The proportion of attention deficit hyperactivity disorder (ADHD) was 29.2% in this study. Meanwhile, the prevalence of low birth weight (<2500 g) was 8.11% and prematurity (<37 weeks gestational age) was 2.16%. Children with birth weight less than 2500 g were more likely to develop ADHD symptoms (OR: 3.2; 95%CI: 1.09-9.48) compared to children with normal birth weight. On the other hand, prematurity was not associated with ADHD (OR: 0.64; 95%CI: 0.06-6.89). This study concluded that low birth weight was associated with attention deficit hyperactivity disorder (ADHD). However, prematurity was not related significantly with ADHD. Efforts are needed in improving nutrition adequacy for infants and young children, also development stimulation, especially for those born with low birth weight.
Evaluation of solid waste management system in ‘X’ hospital, Cilegon city, Banten Linardita Ferial; Budi Rahayu Kosasih
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 5 (2018): Proceedings the 3rd UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (697.054 KB) | DOI: 10.22146/bkm.37699

Abstract

Health service activities by the hospital produce a waste of any activity in the form of medical activities and non-medical activities. The purpose of this research is to analyze the solid waste management system in  'X' Hospital, Cilegon City, Banten. The result showed that the source of solid waste generated were classified into 2 types, namely 2% of medical waste and 98% non medical, where the waste treatment process included sorting, characteristic wastage, transporting garbage to TPS, weighing, temporary storage and transportation. The method of handling solid, B3 and domestic solid waste in 'X' Hospital is done in each unit which is sorting according to its characteristic, but still finding the placement of waste which is not in accordance with its characteristic and solid waste processing process is not done by the hospital but given to a third party. Therefore, it can be concluded that the effort to evaluate the solid waste management of 'X' Hospital must refer to the Decree of the Minister of Health of the Republic of Indonesia Number 1204 / Menkes/ SK / X / 2004 on Hospital Health Requirements and need to improve supervision and good cooperation with nurses and janitors in the separation of medical and non-medical waste.
Kesehatan mental pada anak daerah slums: studi kasus di Kampung Dayak Purwokerto Fauzia Purdiyani
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 5 (2018): Proceedings the 3rd UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1400.965 KB) | DOI: 10.22146/bkm.37700

Abstract

Kampung Sri Rahayu (Kampung Dayak) merupakan sebuah wilayah padat penduduk dengan tingkat ekonomi sangat rendah yang terpinggirkan di kota Purwokerto. Sejak usia dini anak-anak terpaksa sudah membantu orangtua untuk mencari nafkah dan melunasi tunggakan hutang dengan menjadi pengemis, pengamen jalanan dan pemulung. Anak-anak yang tumbuh di bawah kondisi seperti ini memiliki beban ganda, karena pertumbuhan mental dan psikis belum sempurna menyebabkan mereka memiliki tingkat stress dan kecemasan yang tinggi membuat terjadi penyimpangan pola perilaku. Hal tersebut diperparah dengan orang tua hanya berperan sebagai orang tua biologis sedangkan secara psikis mereka tidak merasa memiliki dan membina anak mereka. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis deteriman sosial kesehatan mental pada anak yang hidup di daerah slum di Kampung Dayak. Penelitian ini merupakan analisis jurnal mengenai kesehatan mental pada anak di daerah slums dan berita online. Penelitian menemukan tiga hal penting. Pertama, status sosial ekonomi rendah serta kemiskinan yang berlangsung dari waktu ke waktu sangat berkaitan dengan peningkatan tekanan psikologi dan masalah kesehatan mental pada anak. Kedua, pendidikan orangtua yang rendah berpengaruh terhadap pola pengasuhan yang salah terhadap anak, anak yang tinggal di daerah slums sering mendapatkan hukuman fisik terus menerus menyebabkan kecemasan dan ketakutan secara berkelanjutan. Ketiga, perhatian, dukungan pemerintah daerah dan masyarakat sekitar yang minim mengenai kondisi anak di daerah slum berkontribusi terhadap masalah kesehatan mental anak. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kesenjangan status sosial ekonomi serta transmisi kemiskinan lintas generasi memiliki hubungan bermakna dengan masalah kesehatan mental anak, karena permasalahan kesehatan mental anak belum menjadi perhatian yang serius sehingga perlu dilakukan penelitian lebih lanjut terkait permasalahan tersebut sehingga diharapkan terdapat intervensi secara holistik tepat untuk mengatasi masalah kesehatan mental pada anak.
Degradasi polystyrene dengan mikrobia Aini Azizah; Nur Lathifah Syakbanah; Aris Putra Firdaus
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 5 (2018): Proceedings the 3rd UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (135.625 KB) | DOI: 10.22146/bkm.37701

Abstract

Polystyrene (PS) atau biasa dikenal dengan styrofoam merupakan polimer aromatik sintetis dengan rumus molekul (C8H8)n) yang dibuat dari serangkaian monomer styrene. PS banyak digunakan sebagai pembungkus makanan di Indonesia, padahal bahan tersebut dapat membahayakan kesehatan dan bersifat karsinogenik. PS termasuk dalam klasifikasi termoplastik, mempunyai berat molekul tinggi serta bersifat tahan air. PS merupakan jenis plastik persisten yang sulit didegradasi di alam sehingga terus terakumulasi mencemari tanah, sungai, danau dan laut. Masalah kesehatan manusia dan perubahan besar pada ekosistem akan muncul sebagai akibat toksisitas polimer plastik. Meski demikian, PS tetap dapat didegradasi meski membutuhkan upaya yang lebih besar. Proses degradasi PS dapat dilakukan dengan metode thermal, fotoreaktif, maupun dengan menggunakan mikrobia (biodegradasi). Terdapat beberapa jenis mikrobia yang dapat dimanfaatkan untuk proses degradasi PS, seperti  Pseudomonas sp, Streptococcus sp, Staphylococcus sp, Micrococcus sp, Maoraxella sp (bakteri) dan  Aspergillus niger sp, Aspergillus galucus sp, Actinomycetes sp, dan Saccharomonospora sp (jamur). Mekanisme biodegradasi PS terjadi secara langsung (mikrobia melakukan deteriorasi untuk memenuhi kebutuhan nutrisinya) maupun secara tidak langsung (produk metabolik mikrobia karena stres atau kondisi lingkungan yang tidak sesuai). Secara umum, mekanisme biodegradasi dimulai saat mikrobia mengeluarkan enzim ekstraseluler atau intraseluler sebagai substrat untuk pertumbuhan di permukaan PS, enzim tersebut akan memutus rantai polimer menjadi fragmen molekul kecil dari oligomer, dimer hingga monomer yang saling terpisah. Meski banyak penelitian mengenai mikrobia untuk degradasi PS namun biodegradabilitas masih belum optimal. Salah satu cara meningkatkan biodegradabilitas yaitu dengan mencampurkan styrofoam dengan cornstarch, sehingga laju pertumbuhan mikrobia semakin cepat. Mikroorganisme yang disebutkan diatas merupakan solusi global biodegradasi limbah styrofoam agar tidak terakumulasi di lingkungan. Namun, manusia bukan satu-satunya penghuni maka perlu kebijaksanaan manusia dalam penggunaan plastik demi melestarikan alam, seperti menerapkan 3R (Reduce, Reuse, Recycle) di kehidupan sehari-hari.
Berat lahir bayi beserta determinannya sebagai faktor risiko kematian bayi di Indonesia: analisis lanjut SDKI 2012 Ida Farida
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 5 (2018): Proceedings the 3rd UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (440.766 KB) | DOI: 10.22146/bkm.37702

Abstract

Angka Kematian Bayi (AKB) di Indonesia masih tinggi disebabkan kejadian bayi berat lahir rendah (BBLR) yang tinggi. Bayi merupakan tahap awal perjalanan hidup manusia penerus bangsa. Bayi merupakan investasi sumber daya manusia (SDM) untuk masa yang akan datang. Kualitas kehidupan bayi secara tidak langsung akan menjadi estimasi kualitas kehidupan bangsa di masa yang akan datang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh berat lahir terhadap kelangsungan hidup bayi. Penelitian dengan desain studi kohort retrospektif ini menggunakan sumber data sekunder Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012 dengan menggunakan model probit untuk analisis. Hasil : Penelitian ini menemukan bahwa yang berpengaruh signifikan secara positif dalam penentuan BBLR adalah jarak kelahiran, umur ibu ketika melahirkan, komplikasi kehamilan, paritas (banyak kelahiran), kualitas dan kuantitas antenatal care (ANC), sosial ekonomi keluarga dan daerah tempat tinggal dengan penjelasan pengaruh dari masing-masing variabel tersebut terhadap presentase probabilitas bayi lahir dengan tidak BBLR sebagai berikut :    jarak kelahiran lebih dari dua tahun memiliki sebesar 6,21%    usia melahirkan ideal sebesar 2,98%    tidak adanya komplikasi selama kehamilan sebesar 6,46%    jumlah anak kurang dari tiga sebesar 5,1%    kualitas ANC ketika hamil sebesar 13,63%    tingkat sosial ekonominya lebih baik sebesar 13,25%    tempat tinggal di kota sebesar 9,04%Sedangkan yang tidak signifikan dalam mempengaruhi adalah  jenis kelamin bayi. Kesimpulan: Kelangsungan hidup bayi dapat ditentukan melalui berat bayi ketika dilahirkan. Terdapat beberapa karakteristik yang mempengaruhi hasil dari berat bayi lahir tersebut. Karakteristik tersebut antara lain adalah karakteristik bayi, ibu, pelayanan kesehatan dan karakteristik lingkungan. Karakteristik ibu menjadi faktor yang paling signifikan dalam menentukan berat bayi lahir tersebut, dimana intervensi dapat dilakukan lebih utama kepada ibu yang dapat secara siginifikan menurunkan angka AKB.
Analisis peran pelibatan praktisi swasta (dokter praktik mandiri dan klinik pratama swasta) dalam public private mix TB di kecamatan Umbulharjo dan kecamatan Gondokusuman kota Yogyakarta Ari Kurniawati
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 5 (2018): Proceedings the 3rd UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (454.024 KB) | DOI: 10.22146/bkm.37703

Abstract

Tujuan: Sebuah penelitian tentang Patient Pathway Analysis (PPA) Tuberkulosis (TB) level nasional dan sub nasional mengungkapkan bahwa hanya 32% kasus ternotifikasi, sehingga diperkirakan terdapat 68% kasus yang hilang. Mayoritas dari kasus yang hilang ini diperkirakan ada pada sektor swasta dan tidak terlaporkan. Upaya penanggulangan TB telah mengembangkan prinsip pendekatan terpadu pemerintah dan swasta atau Public Private Mix (PPM) yang melibatkan seluruh penyedia pelayanan pemerintah, masyarakat (sukarela),  perusahaan dan swasta. Pelibatan praktisi swasta memiliki dampak penting terhadap perbaikan program penemuan dan pengobatan TB dan pencegahan meluasnya kasus TB resisten obat. Penanggulangan TB di Kota Yogyakarta telah melibatkan Rumah Sakit swasta dalam Hospital DOTS Linkage, namun Dokter Praktik Mandiri dan Klinik Pratama swasta belum terlibat. Kecamatan Umbulharjo dan Kecamatan Gondokusuman termasuk wilayah dengani beban TB tinggi dan terdapat banyak praktisi swasta di Kota Yogyakarta. Belum terdapat penelitian yang menilai pelibatan praktisi swasta di  Kota Yogyakarta. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran pelibatan praktisi swasta (Dokter Praktik Mandiri dan Klinik Pratama Swasta) dalam penanggulangan TB di Kecamatan Umbulharjo dan Kecamatan Gondokusuman  Kota Yogyakarta. Metode: Penelitian ini menggunakan rancangan kualitatif. Subjek penelitian adalah praktisi swasta (Dokter Praktik Mandiri dan Klinik Pratama Swasta) di Kecamatan Umbulharjo dan Gondokusuman, pemegang program TB Dinas Kesehatan Provinsi DIY dan Kota Yogyakarta, Kepala Puskesmas dan pemegang program TB Puskesmas, organisasi pofesi (IDI). Metode pengumpulan data yang akan dilakukan adalah wawancara mendalam. Hasil: Praktisi swasta yang terdiri dari 9 Dokter Praktik Mandiri (4 dokter umum, 2 dokter Spesialis Paru, 2 dokter Spesialis Anak, 1 dokter Spesialis Penyakit Dalam) dan 6 dokter umum Klinik Pratama swasta mengungkapkan bahwa mereka merasa kurang dilibatkan dalam penanggulangan TB namun menyatakan siap berkontribusi sesuai porsinya dan mengusulkan penggunaan teknologi informasi yang praktis dalam keterlibatan notifikasi kasus. Dinas Kesehatan telah menerbitkan Rencana Aksi Daerah TB namun sistem teknis pelibatan praktisi swasta belum diprioritaskan. Kepala Puskesmas kurang menjalankan fungsi kepemimpinannya sebagai penanggungjawab kewilayahan termasuk dalam hal pelibatan praktisi swasta dalam sistem PPM TB di wilayahnya. Organisasi profesi (IDI) belum sepenuhnya dilibatkan dalam penanggulangan TB. Simpulan: Peran Dinas Kesehatan sebagai perancang dan penggerak sistem PPM cukup mendasar, namun peran vital kepemimpinan inovatif Kepala Puskesmas sebagai penanggungjawab kewilayahan sangat dibutuhkan untuk mampu menggerakkan sistem PPM termasuk upaya pelibatan praktisi swasta.
Ancaman kesehatan pada komunitas anak-anak yang hidup disekitar pertambang emas tanpa izin di Provinsi Jambi Sri Maya Guswahyuni
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 5 (2018): Proceedings the 3rd UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (638.336 KB) | DOI: 10.22146/bkm.37704

Abstract

Provinsi Jambi memiliki sumberdaya alam melimpah sehingga sector pertanian, perkebunan, kehutanan dan pertambangan berkembang cukup baik, terdapat empat Kabupaten yang menjadi tempat Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI). Pada tahun 2016 Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jambi memperkirakan peningkatan kerusakan wilayah karena PETI meningkat 100% tertinggi di Sarolangun dan Merangin, hal ini mengakibatkan tercemarnya lebih 30 sungai dan anak sungai oleh limbah tambang emas berupa lumpur, besi, arsenik, hingga merkuri, juga merusak 7 lubuk larangan (sumber ikan) dan area persawahan lebih dari separonya tidak dapat ditumbuhi tanaman. Penemuan lainnya adalah sungai Batanghari yang merupakan muara dari beberapa sungai di Jambi tercemar berat hal ini diduga akibat air buangan PETI (1,2,3,4). PETI terus berlangsung di provinsi Jamabi dikarenakan masyarakat merasa ini cara cepat untuk menghasilkan uang dan ditampung oleh pengusaha emas besar karena merasa diuntungkan serta oknum aparat keamanan yang dibayar memberikan pengamanan dan oknum pemerintah yang memberlakukan peraturan secara longgar (5,6).  Tujuan dari studi kasus ini adalah untuk membuat langkah-langkah antisipasi mencegah terjadinya gangguan kesehatan karena efek mercury, besi, dan arsenic serta zat kimia lainnya pada manusia khususnya anak-anak yang hidup di area tambang illegal diantaranya; Membuat surat atau nota keberatan atas proses penambanagan emas yang terjadi kepada pemerintah kabupaten dan provinsi agar tegas menindak oknum dibalik penambangan emas illegal, melakukan advokasi kepada pihak pengambil kebijakan agar membuat kebijakan yang melindungi kesehatan warga dan kelestarian lingkungan, dan sebagai pemicu bagi Dinas Kesehatan kabupaten dan provinsi untuk mengambil tindakan segera mencegah dan menanggulangi masalah kesehatan karena keracunan mercuri dan zat berbahaya lainnya. Karena kemiskinan dan kurangnya lapangan pekerjaan serta kemudahan untuk mengakses area penambangan membuat masyarakat ingin terus melakukan penambangan walaupun tidak memiliki izin dari pemerintah hal ini membuat kehilangan kontrol atas penggunaan bahan-bahan kimia yang berbahaya selama proses penambangan yang berdampak pada gangguan masalah kesehatan dan pencemaran lingkungan dalam jangka waktu yang panjang. 

Page 64 of 153 | Total Record : 1528


Filter by Year

2003 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 42 No 02 (2026) Vol 42 No 01 (2026) Vol 41 No 12 (2025) Vol 41 No 11 (2025) Vol 41 No 10 (2025) Vol 41 No 09 (2025) Vol 41 No 08 (2025) Vol 41 No 07 (2025) Vol 41 No 06 (2025) Vol 41 No 05 (2025) Vol 41 No 04 (2025) Vol 41 No 03 (2025) Vol 41 No 02 (2025) Vol 41 No 01 (2025) Vol 40 No 12 (2024) Vol 40 No 11 (2024) Vol 40 No 10 (2024) Vol 40 No 09 (2024) Vol 40 No 08 (2024) Vol 40 No 07 (2024) Vol 40 No 06 (2024) Vol 40 No 05 (2024) Vol 40 No 04 (2024) Vol 40 No 03 (2024) Vol 40 No 02 (2024) Vol 40 No 01 (2024) The 12th UGM Public Health Symposium Vol 39 No 12 (2023) Vol 39 No 11 (2023) Vol 39 No 10 (2023) Vol 39 No 09 (2023) Vol 39 No 08 (2023) Vol 39 No 07 (2023) Vol 39 No 06 (2023) Vol 39 No 05 (2023) Vol 39 No 04 (2023) Vol 39 No 03 (2023) Vol 39 No 02 (2023) Vol 39 No 01 (2023) Vol 38 No 12 (2022) Vol 38 No 11 (2022) Vol 38 No 10 (2022) Vol 38 No 09 (2022) Vol 38 No 08 (2022) Vol 38 No 07 (2022) Vol 38 No 06 (2022) Vol 38 No 05 (2022) Vol 38 No 04 (2022) Vol 38 No 03 (2022) Vol 38 No 02 (2022) Vol 38 No 01 (2022) Vol 37 No 12 (2021) Vol 37 No 11 (2021) Vol 37 No 10 (2021) Vol 37 No 09 (2021) Vol 37 No 08 (2021) Vol 37 No 07 (2021) Vol 37 No 06 (2021) Vol 37 No 05 (2021) Vol 37 No 04 (2021) Vol 37 No 03 (2021) Vol 37 No 02 (2021) Vol 37, No 1 (2021) PHS8 Accepted Abstracts PHS7 Accepted Abstracts Vol 36, No 12 (2020) Vol 36, No 11 (2020) Vol 36, No 10 (2020) Vol 36, No 9 (2020) Vol 36, No 8 (2020) Vol 36, No 7 (2020) Vol 36, No 6 (2020) Vol 36, No 5 (2020) Vol 36, No 4 (2020) Vol 36, No 3 (2020) Vol 36, No 2 (2020) Vol 36, No 1 (2020) Vol 35, No 4 (2019): Proceedings the 5th UGM Public Health Symposium Vol 35, No 11 (2019) Vol 35, No 10 (2019) Vol 35, No 9 (2019) Vol 35, No 8 (2019) Vol 35, No 7 (2019) Vol 35, No 6 (2019) Vol 35, No 5 (2019) Vol 35, No 4 (2019) Vol 35, No 3 (2019) Vol 35, No 2 (2019) Vol 35, No 1 (2019) Vol 34, No 11 (2018): Proceedings of the 4th UGM Public Health Symposium Vol 34, No 5 (2018): Proceedings the 3rd UGM Public Health Symposium Vol 34, No 12 (2018) Vol 34, No 11 (2018) Vol 34, No 10 (2018) Vol 34, No 9 (2018) Vol 34, No 8 (2018) Vol 34, No 7 (2018) Vol 34, No 6 (2018) Vol 34, No 5 (2018) Vol 34, No 4 (2018) Vol 34, No 3 (2018) Vol 34, No 2 (2018) Vol 34, No 1 (2018) Vol 33, No 11 (2017): Proceedings of the 2nd UGM Public Health Symposium Vol 33, No 5 (2017): Proceedings of the 1st UGM Public Health Symposium Vol 33, No 12 (2017) Vol 33, No 11 (2017) Vol 33, No 10 (2017) Vol 33, No 9 (2017) Vol 33, No 8 (2017) Vol 33, No 7 (2017) Vol 33, No 6 (2017) Vol 33, No 5 (2017) Vol 33, No 4 (2017) Vol 33, No 3 (2017) Vol 33, No 2 (2017) Vol 33, No 1 (2017) Vol 32, No 12 (2016) Vol 32, No 11 (2016) Vol 32, No 10 (2016) Vol 32, No 9 (2016) Vol 32, No 8 (2016) Vol 32, No 7 (2016) Vol 32, No 6 (2016) Vol 32, No 5 (2016) Vol 32, No 4 (2016) Vol 32, No 3 (2016) Vol 32, No 2 (2016) Vol 32, No 1 (2016) Vol 28, No 1 (2012) Vol 27, No 4 (2011) Vol 27, No 3 (2011) Vol 27, No 2 (2011) Vol 27, No 1 (2011) Vol 26, No 4 (2010) Vol 26, No 3 (2010) Vol 26, No 2 (2010) Vol 26, No 1 (2010) Vol 25, No 4 (2009) Vol 25, No 3 (2009) Vol 25, No 2 (2009) Vol 25, No 1 (2009) Vol 24, No 4 (2008) Vol 24, No 3 (2008) Vol 24, No 2 (2008) Vol 24, No 1 (2008) Vol 23, No 4 (2007) Vol 23, No 3 (2007) Vol 23, No 2 (2007) Vol 23, No 1 (2007) Vol 22, No 4 (2006) Vol 22, No 3 (2006) Vol 22, No 2 (2006) Vol 22, No 1 (2006) Vol 21, No 4 (2005) Vol 21, No 3 (2005) Vol 21, No 2 (2005) Vol 21, No 1 (2005) Vol 20, No 4 (2004) Vol 20, No 3 (2004) Vol 20, No 2 (2004) Vol 20, No 1 (2004) Vol 19, No 4 (2003) Vol 19, No 3 (2003) Vol 19, No 2 (2003) Vol 19, No 1 (2003) More Issue