cover
Contact Name
Ika Kusumaningtyas
Contact Email
tyas.kusuma@ugm.ac.id
Phone
+628988833412
Journal Mail Official
bkm.fk@ugm.ac.id
Editorial Address
Sekretariat Bersama Jurnal, Lt. 2 Atas Kantin IKM, FK-KMK UGM Jl. Farmako, Sekip Utara, Yogyakarta 55281
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Berita Kedokteran Masyarakat
ISSN : 02151936     EISSN : 26148412     DOI : https://doi.org/10.22146/bkm.v37i2.2320
Core Subject : Health,
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM Public Health and Community Medicine) is a peer-reviewed and open access journal that deals with the fields of public health and public medicine. The topics of the article will be grouped according to the main message of the author. This focus covers areas and scope related to aspects of: - Epidemiology - Infectious diseases control - Clinical Epidemiology - Environmental Health - Occupational Health - Healthy City - Public Health and Primary Health Care - School of Health Promotion - Healthy lifestyles - Health promotion - Health and Social Behavior - Tobacco and smoking - Adolescent Health - Public Health Nutrition - Maternal and Child Health - Reproductive Health - Population Health - Health of Vulnerable People - Social Determinants of Health - Water, Sanitation and Hygiene - Human Resource Management
Articles 1,528 Documents
Gambaran Sikap Atlet Mengenai Gizi Seimbang dan Pemenuhan Kebutuhan Cairan Siska Puspita Sari; Yuni Afriani; Desty Ervira Puspaningtyas; Nurul Mukarromah
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 11 (2018): Proceedings of the 4th UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1024.869 KB) | DOI: 10.22146/bkm.39879

Abstract

Tujuan: Edukasi mengenai pentingnya pemenuhan kebutuhan cairan atlet diharapkan mampu meningkatkan pengetahuan atlet mengenai jumlah, jenis, dan waktu penting pemenuhan kebutuhan cairan. Selain itu, edukasi diharapkan dapat meningkatkan kesadaran atlet akan pentingnya mengganti cairan yang hilang selama proses latihan dan atau bertanding sehingga berperan sebagai langkah awal perubahan perilaku konsumsi cairan pada atlet. Isi: Atlet merupakan olahragawan yang terlatih kekuatan, ketangkasan dan kecepatan untuk diikursertakan dalam pertandingan. Oleh karenanya diperlukan pengetahuan yang baik mengenai gizi seimbang untuk atlet. Untuk menghasilkan pemain sepak bola yang handal, tidak hanya dibutuhkan strategi dan taktik namun juga stamina dan status gizi yang baik. Penerapan gizi seimbang disertai dengan pemenuhan kebutuhan cairan pada atlet berperan dalam mendukung pencapaian performa atlet. Akan tetapi, tidak semua atlet memahami pentingnya gizi seimbang dan pemenuhan kebutuhan cairan dalam peningkatan performa atlet. Edukasi gizi merupakan upaya yang dapat meningkatkan pengetahuan atlet mengenai pentingnya gizi seimbang dan pemenuhan kebutuhan cairan. Dengan pengetahuan yang baik mengenai gizi seimbang dan pemenuhan cairan, sikap atlet terhadap pemilihan menu makanan menjadi baik. Pengabdian masyarakat yang dilakukan adalah edukasi gizi mengenai gizi seimbang dan pemenuhan kebutuhan cairan atlet. Pengabdian masyarakat dilakukan kepada 21 atlet sepak bola di Sekolah Sepak Bola (SSB) Real Madrid pada tanggal 08 Mei 2018 di Stadion Universitas Negeri Yogyakarta. Secara keseluruhan, atlet sepakbola SSB Real Madrid mempunyai sikap yang baik terhadap pemilihan menu sehari berdasarkan gizi seimbang. Kegiatan pengabdian ini diharapkan dapat dilakukan secara berkelanjutan. Hal ini dikarenakan kemungkinan siswa yang berbeda di setiap tahunnya. Selain edukasi kepada siswa, kegiatan pengabdian ini diharapkan dilakukan tidak hanya kepada siswa SSB Real Madrid, melainkan kepada orang tua siswa dan juga pelatih atlet sepak bola di SSB tersebut.
Evaluasi program imunisasi pada sarana prasarana vaksin di Kabupaten Temanggung (studi tahun 2018) Faridatun Khasanah; Khabib Mualim; Dibyo Pramono
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 11 (2018): Proceedings of the 4th UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1265.727 KB) | DOI: 10.22146/bkm.39892

Abstract

Tujuan: Salah satu target dalam imunisasi adalah cakupan universal child immunization (UCI). Cakupan UCI Kabupaten Temanggung sudah melebihi target Nasional (90%). Pada tahun 2017 terdapat dua kasus kejadian luar biasa (KLB) campak di dua puskesmas yaitu Kledung dan Tretep. Pada tahun 2018 terjadi KLB difteri pada dua puskesmas yaitu Temanggung dan Rejosari. Hal ini menjadi pertanyaan mengapa terjadi KLB dengan cakupan UCI lebih dari 90% selama lima tahun berturut-turut. Faktor lain penyebab KLB penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I) adalah kualitas vaksin yang didukung dengan sarana prasarana vaksin. Evaluasi program ini bertujuan untuk mengetahui sarana prasarana yang ada di puskesmas Kabupaten Temanggung.Konten: Hasil diperoleh dari 25 puskesmas, 13 puskesmas (52%) mempunyai refrigerator lebih dari satu dan 12 puskesmas (48%) hanya mempunyai satu refrigenator. Dari 12 puskesmas terdapat satu puskesmas dengan refrigenator rusak sehingga menyimpan vaksin pada lemari pendingin. Sebagian besar (56%) software pencatatan dan pelaporan dari dinas kesehatan mengalami error sehingga puskesmas membuat format laporan sendiri. Mayoritas petugas puskesmas (80%) telah melakukan pencatatan suhu pada formulir sebagai upaya pemeliharaan vaksin. Pada sebagian refrigerator (56%) puskesms ditemukan bunga es. Selain itu, terdapat 48% cairan di bawah refrigerator. Upaya pengawasan tingkat puskesmas dilakukan per bulan oleh kepala puskesmas dengan pertemuan antar bidang yaitu kesehatan ibu dan anak (KIA), gizi dan imunisasi (KGI). Pengawasan  dari Dinas Kesehatan Kabupaten Temanggung akan dilakukan ketika ada laporan masalah dari puskesmas.Secara umum sarana prasarana program imunisasi Kabupaten Temanggung sudah terpenuhi. Dinas kesehatan dapat memfasilitasi puskesmas dengan refrigerator rusak untuk meminjam refrigerator dari puskesmas yang mempunyai refrigerator lebih dari satu atau dari dinas kesehatan. Pelatihan penggunaan software untuk pencatatan dan pelaporan akan mendukung dalam pelaporan data. Punishment tidak selalu menjadi alternatif dalam meningkatkan motifasi kerja, ada reward yang dapat diberikan kepada puskesmas dengan kelengkapan pencatatan suhu refrigerator dan tidak ada bunga es pada refrigerator.
[PHS4] KERACUNAN MAKANAN DI KANTOR X KALASAN KABUPATEN SLEMAN PROVINSI DIY – 2018 Wafiyyah Rizki Wiariyanti; Rilla Venia Lalu; Trisno Agung Wibowo; Elisabet Cucuk Prasetyaningsih
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 11 (2018): Proceedings of the 4th UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (488.984 KB) | DOI: 10.22146/bkm.39894

Abstract

Latar belakang: Pada tanggal 9 Mei 2018 Puskesmas Kalasan mendapatkan informasi bahwa telah terjadi dugaan keracunan makanan saat pelatihan di Bapelkes Kalasan setelah memakan makanan prasmanan yang disajikan pada hari Selasa 8 Mei 2018. Tujuan dari penyelidikan adalah untuk mengkonfirmasi Kejadian Luar Biasa (KLB) keracunan makanan dan untuk mengetahui faktor resiko yang dapat menyebabkan terjadinya keracunan makanan sehingga dapat memberikan rekomendasi kepada pihak terkait sebagai upaya pencegahan. Metode: Desain studi yang digunakan adalah case control dengan perbandingan 1:1. Pencarian kasus dilakukan secara aktif dengan definisi kasus adalah orang yang mengalami satu atau lebih dari gejala mual/ diare/ muntah/ kembung dengan atau tanpa gejala lain seperti pusing/sakit kepala/demam setelah makan makanan coffeebreak pada pukul 10:00 WIB saat pelatihan di Bapelkes Kalasan pada tanggal 8 Mei 2018. Definisi kontrol adalah orang yang tidak mengalami gejala sakit setelah makan makanan coffeebreak pada pukul 10:00 WIB saat pelatihan di Bapelkes Kalasan pada tanggal 8 Mei 2018. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner. Analisis data dilakukan melalui uji Chi Square dan Binari Logistic. Investigasi lingkungan dan investigasi mikrobiologi juga dilakukan. Hasil: Diketahui bahwa kasus keracunan makanan di dominasi oleh perempuan (58,21%) dengan kelompok umur yang tertinggi adalah 21-30 tahun (70,00%). Gejala yang paling banyak dirasakan oleh responden adalah mual (85%) dan diare (65%). Masa inkubasi kasus adalah 2-44 jam dengan rata-rata 23 jam. Bakteri yang diduga menjadi penyebab terjadinya keracunan makanan adalah Bacillus cereus. Hasil uji statistik menunjukkan tahu bakso (OR 8, 95%, CI 0,392-3,225 ) yang berhubungan dengan kejadian. Namun pada pemeriksaan mikrobiologi tidak menunjukkan hasil positif Bacillus cereus pada tahu bakso. Kesimpulan: Telah terjadi kasus keracunan makanan di Bapelkes pada Rabu 8 Mei 2018 karena mengkonsumsi makanan tahu bakso yang diduga telah terkontaminasi oleh Bacillus cereus. Rekomendasi yang diberikan adalah perlunya edukasi terkait food safety kepada pihak terkait.
Model pencegahan kejadian luar biasa keracunan pangan di desa: peran kader untuk keamanan pangan masyarakat Iffa Karina Permatasari; Titiek Hidayati
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 11 (2018): Proceedings of the 4th UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (646.783 KB) | DOI: 10.22146/bkm.39895

Abstract

Tujuan: Menjaga higiene dan sanitasi pengolahan makanan pada penyelenggaraan makanan massal di masyarakat tentu menjadi sebuah tantangan, karena tidak ada unit jasa boga yang mengikat dan kewajiban akan sertifikasi laik jasa boga. Padahal, meningkatkan keamanan pangan di tingkat masyarakat sangat diperlukan untuk mencegah terjadinya kejadian luar biasa (KLB) keracunan pangan akibat kegiatan makan bersama yang dilakukan di masyarakat. Tulisan ini disusun untuk menjelaskan potensi upaya menjaga keamanan pangan dan mencegah KLB keracunan makanan pada penyelenggaraan makanan massal sukarela di daerah pedesaan. Konten: Upaya yang paling umum dilakukan untuk meningkatkan keamanan pangan di tingkat masyarakat adalah edukasi keamanan pangan kepada masyarakat. Tetapi masih terdapat banyak kesulitan untuk edukasi kepada seluruh masyarakat, mengingat akan selalu ada keterbatasan sumber daya. Melibatkan puskesmas dan kader menjadi salah satu opsi untuk meningkatkan efektivitas upaya menjaga keamanan pangan di tingkat masyarakat pedesaan. Tenaga kesehatan di puskesmas dapat memberikan edukasi kepada kader mengenai keamanan pangan. Kader yang telah diedukasi akan berperan sebagai agen keamanan pangan setempat. Sebuah kebijakan dapat dibentuk mengenai perizinan untuk setiap kegiatan masyarakat yang memerlukan pengolahan makanan massal oleh masyarakat setempat. Pemilik acara harus mengajukan perizinan menyelenggarakan makanan dalam jumlah massal kepada tokoh masyarakat ataupun kader. Terdapat dua kriteria yang harus dipenuhi untuk memperoleh izin tersebut. Pertama, kelompok masyarakat yang ikut membantu proses pemasakan harus dipastikan sudah mengetahui dasar-dasar higiene dan sanitasi makanan. Kader dapat memberikan edukasi keamanan pangan kepada kelompok masyarakat tersebut. Kriteria kedua adalah kelompok masyarakat tersebut harus dalam keadaan sehat. Hal ini dapat terus dipantau ketika proses pengolahan makanan dilakukan. Penyusunan kebijakan ini merupakan salah satu alternatif dalam upaya meningkatkan keamanan pangan pada penyelenggaraan makanan massal di masyarakat, khususnya di daerah pedesaan. Dalam implementasinya, diperlukan berbagai pertimbangan sosial dan budaya dari masing-masing daerah. Pelibatan kader dan tokoh masyarakat merupakan salah satu hal penting yang dibutuhkan untuk dapat menjalankan kebijakan ini.
Insiden gizi kurang di yayasan pendidikan Siti Saleha Ratna Dewi; Eka Githa Roszaliya; Muhammad Fiqih Julianda
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 11 (2018): Proceedings of the 4th UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (62.976 KB) | DOI: 10.22146/bkm.39899

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui status gizi yang ada di Yayasan Pendidikan Siti Saleha Bandar Khalipah, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumatera Utara. Gizi kurang merupakan keadaan kurang gizi tingkat berat yang disebabkan oleh rendahnya konsumsi energi protein dari makanan sehari-hari dan dalam waktu yang cukup lama. Asupan gizi pada anak sekolah dasar di beberapa wilayah di indonesia sangat memprihatinkan, padahal asupan gizi yang baik setiap harinya di butuhkan agar mereka memiliki pertumbuhan, kesehatan dan kemampuan intelektual yang lebih baik sehingga menjadi generasi penerus bangsa yang unggul. Ada beberapa faktor yang dapat  menyebabkan gizi kurang tersebut terjadi. Masalah penelitian ini adalah tingginya gizi kurang di Yayasan Pendidikan Siti Saleha Bandar Khalipah, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumatera Utara. Penelitian ini menggunakan desain penelitian cross sectional dengan Metode analisis deskriptif. Teknik pengumpulan data yang kami lakukan dalam penelitian ini secara primer yaitu peneliti langsung mengambil data di Yayasan Pendidikan Siti Saleha. Jumlah sampel sebanyak 71 orang. Angka status gizi pada anak sekolah di Yayasan Pendidikan Siti Saleha, yaitu normal (53,5%) , gizi kurang (28,2%), gizi buruk (14,1%), gizi lebih (2,8%), dan obesitas (1,4%). Kesimpulan dari penelitian ini adalah dari empat permasalahan gizi yang ada di Yayasan Pendidikan Siti Saleha yang paling banyak terjadi adalah gizi kurang, yaitu sebanyak 28,2%. Saran yang dapat kami berikan  kepada masyarakat, khususnya orang tua untuk memperhatikan asupan gizi yang cukup untuk perkembangan dan pertumbuhan pada anaknya. Selain itu, pemerintah juga harus berperan dalam menanggulangi masalah gizi kurang yang terjadi.
University smoke-free policies in Australia: lessons for Indonesia Mentari Widiastuti; Coral Gartner; Sheleigh Lawler
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 11 (2018): Proceedings of the 4th UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (294.699 KB) | DOI: 10.22146/bkm.39900

Abstract

Background: Eliminating exposure to second-hand smoke is one of the best practices to control noncommunicable diseases. Indonesia has been dealing with growing burdens of noncommunicable disease due to the high and persistent prevalence of tobacco smoking in the country. On the other hand, Australia, a neighbouring country of Indonesia, shows an impressive progress in altering its national tobacco epidemic through the establishment of smoke-free policies. In recent years, Australia has extended its smoke-free policies to higher education institutions. Meanwhile, it is assumed that the scope and implementation of university smoke-free policies in Indonesia are still limited. Objectives: This paper aims to present evidence of Australian university smoke-free policies and to find gaps in the implementation of university smoke-free policies in Indonesia. Findings from an unpublished preliminary cross-sectional study on 100% smoke-free policies at The University of Queensland, Australia were synthesised with published literature on smoke-free policies at other Australian universities and higher education institutions. An online search was also conducted on Google Scholar and PubMed to find evidence of university smoke-free policies in Indonesia. Lessons Learnt: One study indicates that all universities in Australia have implemented smoke-free policies to various degrees. The aim of such policies is to promote wellness rather than to restrict smokers. Research is integral to the development and implementation of university smoke-free policies in Australia. Support from university staff and students, policy enforcement, provision of quit service on campus, awareness-raising, and avoiding stigmatisation of smokers are some important considerations in policy development and implementation. Meanwhile, the implementation of campus smoke-free policies in Indonesian universities is inadequate. The existing evidence is also lacking in quantity and quality. Collaborative efforts involving university stakeholders, researchers, staff, and students are prerequisite to successfully adopt smoke-free policies on university campuses in Indonesia.
Analisis capaian keberhasilan pengobatan TB paru dengan strategi Directly Observed Treatment Shortcourse (DOTS) di Kota Medan Dinda Asa Ayukhaliza; Ade Rahma Sari Nasution; Dwichy Augie; Dyah Retno Wulandari
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 11 (2018): Proceedings of the 4th UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (14.11 KB) | DOI: 10.22146/bkm.39902

Abstract

Tujuan : Untuk mengetahui capain keberhasilan pengobatan TB paru dengan strategi DOTS di Kota Medan apakah sudah mencapai target dari RPJMN (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional). Metode : Penelitian ini menggunakan metode deskriptif atau disebut juga analisis deskriptif yaitu menggambarkan pencapain dari keberhasilan pengobatan TB paru di Kota Medan dengan strategi DOTS merujuk pada capaian yang ditargetkan Strategi Nasional Pengendalian TB Paru dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN). Hasil : Pengendalian TB dengan strategi Directly Observed Treatment Shortcourse (DOTS) adalah program pengendalian TB yang ditawarkan oleh WHO dan merupakan solusi yang efektif untuk menurunkan angka kasus TB. Di Indonesia strategi DOTS telah dijalankan dan disusun dalam rancangan penanggulangan secara nasional dalam RPJMN (Rancangan Pembangunan Jangka Menengah Nasional) yang ditetapkan pemerintah setiap 5 tahun. Pada RPJMN 2015-2019 diharapkan persentase kasus baru TB paru BTA (+) yang disembuhkan dari 85% menjadi 88%. Pencapaian target RPJMN terkait penanggulangan TB Paru di Kota Medan pada tahun 2016 adalah 83,62%. Simpulan : Angka keberhasilan pengobatan TB paru di Kota Medan yang dicapai belum mencapai target artinya strategi DOTS belum terlaksana secara maksimal.Saran : Semua tingkat pelayanan kesehatan harus bekerja sama dalam memaksimalkan pelaksanaan strategi DOTS untuk meningkatkan angka keberhasilan pengobatan TB paru di Kota Medan
Insiden gizi lebih dan obesitas anak di tingkat sekolah dasar di MIS Dalaailul Khairat desa Sambirejo kecamatan Binjai kabupaten Langkat Ade Rahma Sari Nasution; Dwichy Augie; Dinda Asa Ayukhaliza
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 11 (2018): Proceedings of the 4th UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1585.236 KB) | DOI: 10.22146/bkm.39904

Abstract

Tujuan: Tujuan penelitian ini untuk mengetahui tingginya insidensi status gizi obesitas dan gizi lebih pada anak di tingkat Sekolah Dasar MIS Dalaailul Khairat Binjai. Metode: Metode penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif yaitu untuk mengetahui besarnya frekuensi anak dengan status gizi yang berada dalam kategori gizi lebih dan obesitas. Penelitian ini menggunakan desain penelitian Cross-Sectional. Subjek dalam penelitian ini adalah anak di tingkat Sekolah Dasar MIS Dalaailil Khairat Binjai dengan total sampel sebanyak 120 anak. Hasil:  Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dari 120 anak yang diukur status gizinya diperoleh persentase anak dengan status gizi yang berada dalam kategori normal sebesar 52,5% dan dengan frekuensi sebesar 63 anak (CI 95% = sebesar 44,2% - 61,7%). Anak dengan status gizi yang berada dalam kategori gizi lebih memiliki persentase sebesar 19,2% dan dengan frekuensi sebesar 23 anak (CI 95% = 11,7% - 26,7%). Anak dengan status gizi yang berada dalam kategori obesitas memiliki persentase sebesar 15,8% dan dengan frekuensi sebesar 19 anak (CI 95% = 9,2% - 22,5%). Anak dengan status gizi yang berada dalam kategori gizi kurang memiliki persentase sebesar 9,2% dan dengan frekuensi sebesar 11 anak (CI 95% = 4,2% - 15,0%). Dan anak dengan status gizi yang berada dalam kategori gizi buruk memiliki persentase sebesar 3,3% dan dengan frekuensi sebesar 4 anak (CI 95% = 0,8% - 7,5%). Simpulan : Berdasarkan hasil penelitian, didapatkan bahwa anak yang berada pada kategori obesitas dan gizi lebih memiliki persentase lebih tinggi dibandingkan gizi kurang dan gizi buruk. 
Challenges to Implementing and Sustaining Comprehensive Mental Health Program at Primary Health Care (PHC) In Wonogiri District, 2018 Menikha Maulida; Suprio Heriyanto; Trisno Agung Wibowo
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 11 (2018): Proceedings of the 4th UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (729.224 KB) | DOI: 10.22146/bkm.39905

Abstract

Objective: Wonogiri District got the highest rank at Central Java Province for Mental Health Problem (MHP) as much as 6.7 per mile. This things become a public health problem/burden  because its provide damage not only to the health sector but also the others. So far, mental health has become the most neglected program. This study aimed to know the achievement and challenges for implementing and sustaining comprehensive mental health programs at PHC in Wonogiri District.Content: The achievement implementation of mental health program in Wonogiri District has not reached the target of minimum service standards. This was related to challenges for implementing the program about funding, there was no special budget allocation for mental health program at PHC. Existing problems were not only funding problems, but also human resources. There was only one psychiatrist in district and no psychologist at PHC. Only 5 of 21 mental health off icer (MHO) that had received training about mental health program and 50% of them were not report MHP regularly for every 6 months. Beside funding and human resources, the other results include the incomplete medicine supply in the district, the lack of attention to mental health in the national health and social sector targets, the lack of support from community and related to stigma, low socio-economic level with uninsured population, and the problem of district level supervision to PHC. Mental health problems will get worse if the program implemented has not been functioning optimally. Challenges in the implementation of mental health program were related to funding, resources, facilities and infrastructure, health surveillance, and self-motivation, health insurance, and supervision. Community support and social prescribing services can lead to improved sustainability.
Whatsapp grup sebagai media edukasi dan sharing pengalaman terkait ASI dan MP-ASI saat bencana Nurlienda Hasanah; Lintang Dwi Febridiani; Fitra Sukrita Irsal
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 11 (2018): Proceedings of the 4th UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1779.544 KB) | DOI: 10.22146/bkm.39907

Abstract

Tujuan: Mengeksplorasi Whatsapp grup ASI dan MP-ASI saat bencana pasca Gempa Lombok. Lesson Learned: Susu formula, makanan bayi instan, produk botol susu, dot, dan susu UHT menjadi bantuan yang sering diberikan kepada bayi dan anak. Namun, tepatkah bantuan tersebut untuk penyintas? Pemberian susu formula dan susu UHT saat bencana berisiko terjadinya diare pada bayi dan anak di Gempa Yogyakarta dan Gempa Lombok. Sosialisasi mengenai bantuan dalam bencana masih terbatas dan Whatsapp grup menjadi salah satu alternatif yang dapat digunakan. Gema Indonesia Menyusui (GIM) menginisiasi Whatsapp grup yang bernama ASI dan MP-ASI saat bencana dengan mengadakan kuliah Whatsapp gratis mengenai ASI dan MP-ASI saat bencana serta membahas aturan bantuan susu formula yang diikuti oleh 245 peserta berasal dari ibu rumah tangga, PNS, aktivis lembaga kemanusiaan, karyawan perusahaan dan praktisi. Sesi edukasi disampaikan oleh seorang konselor menyusui dan pemberian makan bayi dan anak dari Kidzsmile Foundation. Selain itu, sharing pengalaman terkait dukungan, permasalahan yang dialami penyintas dalam pemberian ASI dan MP-ASI saat bencana hingga berbagai alternatif solusi menjadi topik diskusi dan berlangsung lebih dari 2 bulan sejak grup ini terbentuk. Sharing pengalaman bergulir dari berbagai lembaga kemanusiaan yang terlibat dalam respon terhadap bayi dan anak, komunitas dan juga praktisi ASI dan MP-ASI saat bencana. Whatsapp grup juga menjadi wadah dalam membangun jejaring dan koordinasi kluster gizi Sulteng. Tanggapan positif Whatsapp grup ini berupa informasi yang tepat dan informatif, perubahan cara pandang mengenai bantuan oleh peserta dari perusahaan, materi edukasi yang aktual dan mudah diperoleh sehingga dapat dipraktikkan di Lombok, memberikan gambaran tindakan penanganan bencana, manajemen tanggap bencana serta jejaring organisasi dan lembaga penyalur bantuan untuk bayi dan anak.

Page 70 of 153 | Total Record : 1528


Filter by Year

2003 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 42 No 02 (2026) Vol 42 No 01 (2026) Vol 41 No 12 (2025) Vol 41 No 11 (2025) Vol 41 No 10 (2025) Vol 41 No 09 (2025) Vol 41 No 08 (2025) Vol 41 No 07 (2025) Vol 41 No 06 (2025) Vol 41 No 05 (2025) Vol 41 No 04 (2025) Vol 41 No 03 (2025) Vol 41 No 02 (2025) Vol 41 No 01 (2025) Vol 40 No 12 (2024) Vol 40 No 11 (2024) Vol 40 No 10 (2024) Vol 40 No 09 (2024) Vol 40 No 08 (2024) Vol 40 No 07 (2024) Vol 40 No 06 (2024) Vol 40 No 05 (2024) Vol 40 No 04 (2024) Vol 40 No 03 (2024) Vol 40 No 02 (2024) Vol 40 No 01 (2024) The 12th UGM Public Health Symposium Vol 39 No 12 (2023) Vol 39 No 11 (2023) Vol 39 No 10 (2023) Vol 39 No 09 (2023) Vol 39 No 08 (2023) Vol 39 No 07 (2023) Vol 39 No 06 (2023) Vol 39 No 05 (2023) Vol 39 No 04 (2023) Vol 39 No 03 (2023) Vol 39 No 02 (2023) Vol 39 No 01 (2023) Vol 38 No 12 (2022) Vol 38 No 11 (2022) Vol 38 No 10 (2022) Vol 38 No 09 (2022) Vol 38 No 08 (2022) Vol 38 No 07 (2022) Vol 38 No 06 (2022) Vol 38 No 05 (2022) Vol 38 No 04 (2022) Vol 38 No 03 (2022) Vol 38 No 02 (2022) Vol 38 No 01 (2022) Vol 37 No 12 (2021) Vol 37 No 11 (2021) Vol 37 No 10 (2021) Vol 37 No 09 (2021) Vol 37 No 08 (2021) Vol 37 No 07 (2021) Vol 37 No 06 (2021) Vol 37 No 05 (2021) Vol 37 No 04 (2021) Vol 37 No 03 (2021) Vol 37 No 02 (2021) Vol 37, No 1 (2021) PHS8 Accepted Abstracts PHS7 Accepted Abstracts Vol 36, No 12 (2020) Vol 36, No 11 (2020) Vol 36, No 10 (2020) Vol 36, No 9 (2020) Vol 36, No 8 (2020) Vol 36, No 7 (2020) Vol 36, No 6 (2020) Vol 36, No 5 (2020) Vol 36, No 4 (2020) Vol 36, No 3 (2020) Vol 36, No 2 (2020) Vol 36, No 1 (2020) Vol 35, No 4 (2019): Proceedings the 5th UGM Public Health Symposium Vol 35, No 11 (2019) Vol 35, No 10 (2019) Vol 35, No 9 (2019) Vol 35, No 8 (2019) Vol 35, No 7 (2019) Vol 35, No 6 (2019) Vol 35, No 5 (2019) Vol 35, No 4 (2019) Vol 35, No 3 (2019) Vol 35, No 2 (2019) Vol 35, No 1 (2019) Vol 34, No 11 (2018): Proceedings of the 4th UGM Public Health Symposium Vol 34, No 5 (2018): Proceedings the 3rd UGM Public Health Symposium Vol 34, No 12 (2018) Vol 34, No 11 (2018) Vol 34, No 10 (2018) Vol 34, No 9 (2018) Vol 34, No 8 (2018) Vol 34, No 7 (2018) Vol 34, No 6 (2018) Vol 34, No 5 (2018) Vol 34, No 4 (2018) Vol 34, No 3 (2018) Vol 34, No 2 (2018) Vol 34, No 1 (2018) Vol 33, No 11 (2017): Proceedings of the 2nd UGM Public Health Symposium Vol 33, No 5 (2017): Proceedings of the 1st UGM Public Health Symposium Vol 33, No 12 (2017) Vol 33, No 11 (2017) Vol 33, No 10 (2017) Vol 33, No 9 (2017) Vol 33, No 8 (2017) Vol 33, No 7 (2017) Vol 33, No 6 (2017) Vol 33, No 5 (2017) Vol 33, No 4 (2017) Vol 33, No 3 (2017) Vol 33, No 2 (2017) Vol 33, No 1 (2017) Vol 32, No 12 (2016) Vol 32, No 11 (2016) Vol 32, No 10 (2016) Vol 32, No 9 (2016) Vol 32, No 8 (2016) Vol 32, No 7 (2016) Vol 32, No 6 (2016) Vol 32, No 5 (2016) Vol 32, No 4 (2016) Vol 32, No 3 (2016) Vol 32, No 2 (2016) Vol 32, No 1 (2016) Vol 28, No 1 (2012) Vol 27, No 4 (2011) Vol 27, No 3 (2011) Vol 27, No 2 (2011) Vol 27, No 1 (2011) Vol 26, No 4 (2010) Vol 26, No 3 (2010) Vol 26, No 2 (2010) Vol 26, No 1 (2010) Vol 25, No 4 (2009) Vol 25, No 3 (2009) Vol 25, No 2 (2009) Vol 25, No 1 (2009) Vol 24, No 4 (2008) Vol 24, No 3 (2008) Vol 24, No 2 (2008) Vol 24, No 1 (2008) Vol 23, No 4 (2007) Vol 23, No 3 (2007) Vol 23, No 2 (2007) Vol 23, No 1 (2007) Vol 22, No 4 (2006) Vol 22, No 3 (2006) Vol 22, No 2 (2006) Vol 22, No 1 (2006) Vol 21, No 4 (2005) Vol 21, No 3 (2005) Vol 21, No 2 (2005) Vol 21, No 1 (2005) Vol 20, No 4 (2004) Vol 20, No 3 (2004) Vol 20, No 2 (2004) Vol 20, No 1 (2004) Vol 19, No 4 (2003) Vol 19, No 3 (2003) Vol 19, No 2 (2003) Vol 19, No 1 (2003) More Issue