cover
Contact Name
Unang arifin
Contact Email
bcsms@unisba.ac.id
Phone
+6282321980947
Journal Mail Official
bcsms@unisba.ac.id
Editorial Address
UPT Publikasi Ilmiah, Universitas Islam Bandung. Jl. Tamansari No. 20, Bandung 40116, Indonesia, Tlp +62 22 420 3368, +62 22 426 3895 ext. 6891
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Bandung Conference Series : Medical Science
ISSN : -     EISSN : 28282205     DOI : https://doi.org/10.29313/bcsms.v2i2
Core Subject : Humanities, Health,
Bandung Conference Series: Medical Science (BCSMS) menerbitkan artikel penelitian akademik tentang kajian teoritis dan terapan serta berfokus pada Kedokteran dengan ruang lingkup Age, ASI, BPJS Kesehatan, CGT, Dokter layanan primer, Fungsi diastolic, Gender, Hepatitis A dan B, Interval Anak Balita, ISPA, JKN, Nyeri leher, Origin, Paritas, Pasien, Denyut Nadi, Imunisasi, Perawat, Phlebitis, PHBS, pneumonia Abortus Spontan, Pola Menstruasi, rumah sakit Pendidikan, Sektor Informal Pengetahuan, Shift kerja malam, sindrom koroner akut, Status Gizi Mahasiswa kedokteran, status sosio ekonomi, Tekanan Darah, Tingkat Stres, Troponin T , Type of occupation, ventrikel kiri, dan Wanita Premenopause. Prosiding ini diterbitkan oleh UPT Publikasi Ilmiah Unisba. Artikel yang dikirimkan ke prosiding ini akan diproses secara online dan menggunakan double blind review minimal oleh dua orang mitra bebestari.
Articles 494 Documents
Scoping Review: Pengaruh Kepatuhan Terapi Obat Anti Tuberkulosis terhadap Kesembuhan Pasien Tuberkulosis Yunia Agustin; R.A Retno Ekowati; Zulmansyah
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 2 No. 1 (2022): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v2i1.2052

Abstract

Abstract. Tuberculosis (TB) is the second largest infectious disease in the world after HIV (Human Immunodeficiency Virus). TB treatment is carried out with Directly Observed Treatment Shortcourse (DOTS), namely direct supervision of taking medication. Patients are sometimes undisciplined in undergoing it so that the bacteria that cause TB are not completely removed from the body and only weakened which allows patients who have recovered to be reinfected (relapse). This study aims to determine the effect of adherence to anti-tuberculosis drug therapy on the healing of tuberculosis patients, using the Scoping Review method based on articles from the Pubmed, Garuda and Neliti databases with the keywords: a Cohort Study, Tuuberculosis adherence treatment, and tuberculosis treatment adherence from 2011 to 2021, It was found that 116 published articles met the inclusion criteria. After PICOS screening and eligibility, 5 (five) articles were obtained with the results of the review and analysis of each article using Univariate and Multivariate Regression Techniques stating that patient compliance resulted in a cure above 50%. In conclusion, TB patient recovery is influenced by the level of adherence of TB patients themselves, such as: supervision, education, family roles and dots. Abstrak. Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit menular terbesar kedua di dunia setelah HIV (Human Immunodeficiency Virus). Pengobatan TB dilakukan dengan Directly Observed Treatment Shortcourse (DOTS), yaitu pengawasan langsung minum obat. Pasien terkadang tidak disiplin dalam menjalaninya sehingga bakteri penyebab TBC tidak sepenuhnya dikeluarkan dari tubuh dan hanya melemah yang memungkinkan pasien yang sudah sembuh dapat terinfeksi kembali (kambuh). Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh kepatuhan terapi obat anti tuberkulosis terhadap kesembuhan pasien tuberculosis, menggunakan metode Scoping Review berdasarkan artikel dari database Pubmed, Garuda dan Neliti dengan kata kunci : a Cohort Study, Tuuberculosis adherence treatment, dan kepatuhan pengobatan tuberkulosis dari tahun 2011 hingga 2021, ditemukan sebanyak 116 artikel yang diterbitkan memenuhi kriteria inklusi. Setelah skrining dan kelayakan secara PICOS, diperoleh 5 (lima) artikel dengan hasil telaah dan analisis pada setiap artikel dengan menggunakan Teknik Regresi Univariat dan Multivariat menyatakan bahwa kepatuhan pasien menghasilkan kesembuhan diatas 50%. Simpulan, kesembuhan pasien TB dipengaruhi oleh tingkat.
Faktor Risiko Postpartum Hemorrhage pada Ibu di Puskesmas Nagrak Kabupaten Sukabumi Afrijal Muhammad; Titik Respati; Ariko Rahmat Putra
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 2 No. 1 (2022): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v2i1.2056

Abstract

Abstract. Postpartum hemorrhage is one of the leading causes of maternal death in developing countries, , including Indonesia. The government has made various efforts to prevent maternal deaths, one of which is by reducing the incidence of postpartum hemorrhage. This study aims to determine the factors that influence the cause of postpartum hemorrhage in mothers at the Nagrak Health Center, Sukabumi Regency period 2016 and 2021. This study was conducted using a cross-sectional approach to determine the percentage of risk factors for postpartum hemorrhage. It also describes the relationship of risk factors such as age, parity, education, macrosomia, retained placenta, and history of antepartum hemorrhage in mothers at the Nagrak Health Center Sukabumi Regency. Data analysis in this study was carried out utilizing univariate and bivariate analysis. First, univariate analysis was performed using the frequency distribution for each variable. Then, bivariate analysis was performed to determine the relationship of each risk factor for postpartum hemorrhage to postpartum hemorrhage using the chi-square test. The data of this study were obtained from secondary data, namely by looking at and identifying medical records in the reproductive section of the Nagrak Health Center, Sukabumi Regency, with a total sample of 126 people. The bivariate analysis results showed a relationship if the p-value <0.05. In addition, the results showed that there was a relationship between age and postpartum hemorrhage (p=0.002), parity with postpartum hemorrhage (p=0.018), education with postpartum hemorrhage (p=0.000), macrosomia with postpartum hemorrhage (p=0.02), and retention, Placenta with postpartum hemorrhage (p=0.000). There was no relationship between antepartum hemorrhage and postpartum hemorrhage (p=0.519). Abstrak. Postpartum hemorrhage menjadi salah satu penyebab utama kematian ibu di negara berkembang termasuk di Indonesia. Pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk mencegah kematian ibu salah satunya dengan menurunkan kejadian postpartum hemorrhage. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor – faktor yang mempengaruhi penyebab terjadinya postpartum hemorrhage pada ibu di Puskesmas Nagrak Kabupaten Sukabumi Periode 2016 dan 2021. Menurut WHO, postpartum hemorraghe adalah penyebab utama kematian ibu didunia dan di Sukabumi postpartum hemorraghe merupakan penyebab ketiga kasus kematian ibu. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode analitik kuantitatif dengan pendekatan cross sectional untuk mengetahui persentase faktor risiko postpartum hemorrhage dan hubungan faktor risiko seperti usia, paritas, pendidikan, makrosomia, dan riwayat antepartum hemorrhage pada ibu di Puskesmas Nagrak Kabupaten Sukabumi. Data penelitian ini diperoleh dari data sekunder yaitu dengan cara melihat dan mengidentifikasi rekam medis di bagian ponek Puskesmas Nagrak Kabupaten Sukabumi dengan total sampel 126 orang. Hasil analisis bivariat menunjukan terdapat hubungan bila nilai p<0,05. Hasil penelitian bahwa terdapat hubungan antara usia dengan postpartum hemorrhage (p=0,002), paritas dengan postpartum hemorrhgae (p=0,018), pendidikan dengan postpartum hemorrhage (p=0,000) dan makrosomia dengan postpartum hemorrhage (p=0,02). Simpulan Tidak terdapat hubungan antara riwayat antepartum hemorrhage dengan postpartum hemorrhage (p=0,519).
Hubungan Faktor Individu dengan Tingkat Stres pada Pekerja Pabrik Tekstil PT. X Kota Tangerang Refi Maya Arlita; Mia Kusmiati; Nurul Annisa Abdullah
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 2 No. 1 (2022): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v2i1.2066

Abstract

Abstract. Mental health is an important aspect to achieve overall health. Mental health is just as important as physical health. Excessive and uncontrollable stress can cause fatigue, which is a combination of physical, mental and emotional exhaustion. Job stress is an emotional state that arises because there is a mismatch between the level of demand and the individual's ability to cope with the work stress it faces. Work stress experienced by female and male employees can be different. Stress is also determined by the individual himself with various risk factors experienced such as age, gender, marital status, and years of service. This study aims to determine the relationship of individual factors with stress levels in textile factory workers at PT. X Tangerang City. This study used a cross-sectional method with an observational analysis approach. There are 122 individual data that meet the inclusion criteria, respondents were asked to fill out the DASS-42 questionnaire to assess the level of stress in workers. Individual characteristics of textile factory workers at PT. X in Tangerang City were the most, aged 18-33 years (62.3%), female (60.66%), with married status (53.28%) and having a working period of < 5 years (59 ,56%). Description of stress levels in textile factory workers at PT. X in Tangerang City shows that most workers do not experience stress. The rest are based on the highest order in the category of heavy-very heavy (15.5%), mild (14.7%) and moderate (10.7%). Data from the study found that there was no relationship between the age of workers and stress levels (p value = 0.08), gender of workers with stress levels (p value = 0.102), marital status of workers with stress levels (p value = 0, 12) and there is a relationship between individual factors of tenure and stress levels (p value = 0.002). Abstrak. Kesehatan mental merupakan aspek penting untuk mencapai kesehatan secara keseluruhan. Kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Stres yang berlebihan dan tidak terkendali dapat menyebabkan kelelahan, yang merupakan kombinasi dari kelelahan fisik, mental dan emosional. Stres kerja merupakan keadaan emosional yang timbul karena ada ketidaksesuaian antara tingkat permintaan dengan kemampuan individu untuk mengatasi stres kerja yang dihadapinya. Stres kerja yang dialami oleh karyawan wanita dan pria bisa jadi berbeda. Stres ditentukan juga dari individu itu sendiri dengan berbagai faktor risiko yang dialami seperti usia, jenis kelamin, status pernikahan, dan masa kerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan faktor individu dengan tingkat stres pada pekerja pabrik tekstil PT. X Kota Tangerang. Penelitian ini menggunakan metode cross-sectional dengan pendekatan analisis observasional. Terdapat 122 data individu yang memenuhi kriteria inklusi, responden diminta untuk mengisi kuesioner DASS-42 untuk menilai tingkat stres pada pekerja. Karakteristik individu pekerja pabrik tekstil PT. X di Kota Tangerang yang paling banyak yaitu, usia 18-33 tahun (62,3%), berjenis kelamin perempuan (60,66%), dengan status sudah menikah (53,28%) dan memiliki masa kerja < 5 tahun (59,56%). Gambaran tingkat stres pada pekerja pabrik tekstil PT. X di Kota Tangerang menunjukkan sebagian besar pekerja tidak mengalami stres. Sisanya berdasarkan urutan terbanyak pada kategori berat-sangat berat (15,5%), ringan (14,7%) dan sedang (10,7%). Data dari penelitian didapatkan bahwa tidak terdapat hubungan antara usia pekerja dengan tingkat stres (p value = 0,08), jenis kelamin pekerja dengan tingkat stres (p value = 0,102), status pernikahan pekerja dengan tingkat stres (p value = 0,12) dan terdapat hubungan antara faktor individu masa kerja dengan tingkat stres (p value = 0,002).
Scoping Review: Pengaruh Terapi Herbal pada Pasien Tuberkulosis sebagai Antioksidan dan Imunomodulator Diemas Abdurahman Hernawan; Wida Purbaningsih Purbaningsih; Tryando Batara
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 2 No. 1 (2022): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v2i1.2098

Abstract

Abstract. Tuberculosis (TB) is still a health problem in Indonesia and around the world. Traditional medicine, including herbal medicine, has been recommended by WHO for the maintenance of public health, prevention, and treatment of diseases, especially chronic diseases, one of which is TB. Several studies have stated that the role of antioxidants and immunomodulators in herbs is important for TB patients as a complementary therapy. This study aims to determine the effect of giving herbs to TB patients as antioxidants and immunomodulators. The research was conducted using the Scoping Review method by searching for articles from the Pubmed, Science Direct, ProQuest, and Springerlink databases. obtained 892 articles, then the inclusion criteria were carried out so that the number of articles obtained was 3 articles. The results stated in the first article stated that Withania somnifera was able to increase CD4 and CD8, the second article showed gingerol could reduce TNF-alpha and MDA levels, and the third article showed green tea could reduce NO production levels. The conclusion from the three studies is that herbal therapy is able to increase CD4 and CD8, reduce TNF-alpha levels, and reduce NO production levels. Abstrak. Tuberkulosis (TB) masih menjadi masalah Kesehatan di Indonesia dan di dunia. Pengobatan tradisional termasuk obat herbal telah direkomendasikan oleh WHO untuk pemeliharaan Kesehatan masyarakat, pencegaha, dan pengobatan penyakit terutama penyakit kronis salah satu nya adalah TB. Beberapa penelitian menyebutkan peranan antioksidan dan imunomodulator pada herbal penting bagi pasien TB sebagai terapi komplementer. penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian herbal pada pasien TB sebagai antioksidan dan imunomodulator. Penelitian dilakukan dengan metode Scoping Review dengan pencarian artikel yang berasal dari database Pubmed, Science Direct, Pro Quest, dan Springerlink. Didapatkan 892 artikel, kemudian dilakukan kriteria inklusi sehingga jumlah artikel yang didapat adalah 3 artikel. Hasil pada artikel pertama menyebutkan bahwa Withania somnifera mampu meningkatkan CD4 dan CD8, pada artikel kedua menunjukan gingerol dapat menurunkan Level TNF alpha dan MDA, dan pada artikel ketiga menunjukan Green tea dapat menurunkan level produksi NO. Kesimpuulan dari ketiga penelitian tersebut adalah terapi herbal mampu meningkatkan CD4 dan CD8, mampu menurunkan level TNF alpha, dan mampu menurunkan level produksi NO.
Tingkat Ketergantungan Nikotin Perokok Vape Berdasarkan Uji Fagerstrom pada Mahasiswa Universitas Garut Intan Arie Yulian; Mohammad Rizki Akbar; Alya Tursina
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 2 No. 1 (2022): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v2i1.2103

Abstract

Abstract. The use of vape cigarettes can cause serious health problems that are sometimes deadly. Initially, vape cigarettes were intended as a substitute for conventional cigarettes, but vape cigarettes also still contain harmful chemicals, one of which is nicotine, which is a substance that causes addiction (addiction). There are various ways to assess a person's level of dependence on nicotine, the most commonly used is the Fagerstrom test. The purpose of the study was to determine the level of nicotine dependence of vape smokers based on the Fagerstrom test on Garut University students. Descriptive research method with a cross-sectional design. The sampling technique was purposive sampling, the number of samples was 51 people. The research instrument was a questionnaire on respondents' demographic data and the PDPI version of the Fagerstrom Test for Nicotine Dependence (FTND) questionnaire. The results showed that the level of nicotine dependence of vape smokers was mostly in the moderate criteria as many as 31 people (60.8%) with an average value of the nicotine dependence level of vape smokers (7.67). It was concluded that the level of nicotine dependence as measured by the Fagerstrom test in vape cigarette users was in the moderate category. Vape users have the potential to become addicted because the high-voltage tube in the vape can drain large amounts of nicotine into the body. Abstrak. Penggunaan rokok rokok vape bisa menimbulkan permasalah kesehatan serius yang terkadang mematikan. Pada awalnya rokok vape ditujukan sebagai pengganti rokok konvensional, namun rokok vape juga masih mengandung zat kimia berbahaya, salah satunya nikotin yang merupakan zat penyebab kecanduan (adiksi). Terdapat berbagai cara untuk menilai tingkat ketergantungan seseorang terhadap nikotin, paling umum digunakan adalah dengan uji Fagerstrom. Tujuan penelitian untuk mengetahui tingkat ketergantungan nikotin perokok vape berdasarkan uji Fagerstrom pada mahasiswa Universitas Garut. Metode penelitian deskriptif dengan desain potong lintang. Teknik sampling dengan cara Purposive sampling, jumlah sampel sebanyak 51 orang. Instrumen penelitian berupa kuesioner data demografi responden serta kuesioner Fagerstrom Test for Nicotine Dependence (FTND) versi PDPI. Hasil penelitian, tingkat ketergantungan nikotin perokok vape sebagian besar berada pada kriteria sedang sebanyak 31 orang (60,8%) dengan nilai rata-rata tingkat ketergantungan nikotin perokok vape (7,67). Disimpulkan bahwa tingkat ketergantungan nikotin yang diukur dengan Uji Fagerstrom pada pengguna rokok vape berada pada kategori sedang. Pengguna vape berpotensi terhadap ketergantungan karena tabung dengan tegangan tinggi pada vape dapat mengalirkan nikotin dalam jumlah besar ke dalam tubuh.
Scoping Review: Angka Kejadian Stroke Infark pada Pasien dengan DM Tipe 2: Kajian Pustaka M. Maulvi Rizqi A.; Dicky Santosa; Nuri Amalia
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 2 No. 1 (2022): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v2i1.2199

Abstract

Abstract. Stroke is the second most common cause of death in the world and the third most common cause of disability in the world. Stroke is a disease that rapidly developing clinical signs of focal (or global) disturbance of brain function, with symptoms lasting 24 hours or more or leading to death, with no apparent cause other than cerebral vascular origin. There are various factors that can cause stroke, one of which is type 2 diabetes mellitus (DM). As time goes on, the incidence of diabetes mellitus is increasing. Type 2 diabetes mellitus is metabolic disorders in the presence of hyperglycemia as a result of insufficient insulin secretion or decreased effectiveness of insulin (or both). There are 2 main types of diabetes mellitus, namely type 1 and type 2. Patients with DM usually have three classic symptoms, namely polyuria, polyphagia, polydipsia. And to diagnose DM, people can use plasma glucose test in 3 different times, when fasting, when 2-hours after eating, and when at random times. The incidence of a disease is defined as the number of new cases of a disease that occur over a certain period of time in a population at risk for the disease. Abstrak. Stroke merupakan penyebab kematian kedua terbanyak di dunia dan penyebab kecacatan ketiga terbanyak di dunia. Stroke adalah penyakit yang berkembang pesat dengan tanda-tanda klinis gangguan fungsi otak fokal (atau global), dengan gejala yang berlangsung 24 jam atau lebih atau menyebabkan kematian, tanpa penyebab yang jelas selain asal vaskular serebral. Ada berbagai faktor yang dapat menyebabkan stroke, salah satunya adalah diabetes melitus (DM) tipe 2. Seiring berjalannya waktu, angka kejadian diabetes melitus semakin meningkat. Diabetes mellitus tipe 2 adalah gangguan metabolisme dengan adanya hiperglikemia sebagai akibat dari sekresi insulin yang tidak mencukupi atau penurunan efektivitas insulin (atau keduanya). Ada 2 tipe utama diabetes mellitus, yaitu tipe 1 dan tipe 2. Penderita DM biasanya memiliki tiga gejala klasik yaitu poliuria, polifagia, polidipsia. Dan untuk mendiagnosis DM, orang bisa menggunakan tes glukosa plasma dalam 3 waktu yang berbeda, saat puasa, saat 2 jam setelah makan, dan saat satu waktu. Angka kejadian suatu penyakit didefinisikan sebagai jumlah kasus baru suatu penyakit yang terjadi selama periode waktu tertentu dalam suatu populasi yang berisiko terkena penyakit tersebut.
Kemungkinan Adaptive Coping Styles dalam Mencegah Kejadian Depresi pada Mahasiswa selama Pandemi COVID-19: Kajian Pustaka Rakanda Muhammad Naufal Pratomo; Putri Qintara Choirunnisa; Nugraha Sutadipura; Dede Setiapriagung
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 2 No. 1 (2022): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v2i1.2207

Abstract

Abstract. The COVID-19 pandemic has caused a bad psychological response in all groups of society, especially young adult university students. This is because there are stressors that come from the environment, such as someone who is separated from his family, lives in a place that is prone to COVID-19 transmission, or face-to-face learning turns into online learning. These stressors can cause psychological symptoms, namely depression. Major Depressive Disorder (MDD) or depression is a mood disorder that is chronic and can spread, characterized by persistently low mood, hopelessness, anhedonia, loss of energy, and cognitive dysfunction. There are discrete episodes lasting at least 2 weeks that can produce marked changes in effects on cognition, neurovegetative function, and interepisode remission. Depression is caused by reduced expression of the NR3C1; methylation of the BDNF gene; methylation of the SLC6A4 promoter. Psychosocially caused by developmental predisposition and life events. As many as 1 in 5 groups of young adults suffer from depression and about 6.2% want to commit suicide. Adaptive coping styles play a role in intervening these mechanisms in the medial prefrontal cortex and nucleus accumbens. Thus, stressors can be handled properly and can prevent symptoms of depression in university students during the COVID-19 pandemic. Abstrak. Pandemi COVID-19 menimbulkan respons psikologis yang buruk pada semua kelompok masyarakat, terutama kelompok mahasiswa usia dewasa muda. Hal tersebut disebabkan karena terdapat stresor yang berasal dari lingkungan, seperti seseorang yang terpisah dengan keluarga, tinggal ke tempat yang rentan adanya penularan COVID-19, atau pembelajaran tatap muka berubah menjadi pembelajaran dalam jaringan (daring). Stresor tersebut dapat menyebabkan gejala psikologis, yaitu depresi. Major Depressive Disorder (MDD) atau depresi adalah gangguan mood yang bersifat kronis dan dapat menyebar, ditandai dengan mood yang terus-menerus rendah, putus asa, anhedonia, kehilangan energi, dan disfungsi kognitif. Terdapat episode diskrit paling tidak selama 2 minggu yang dapat membuat perubahan jelas dalam pengaruh pada kognisi, fungsi neurovegetative, dan remisi interepisode. Depresi disebabkan oleh ekspresi gen NR3C1 yang berkurang; methylation pada gen BDNF; methylation pada SLC6A4 promoter. Secara psikososial disebabkan oleh developmental predisposition dan life events. Sebanyak 1 dari 5 kelompok dewasa muda menderita depresi dan sekitar 6,2% ingin bunuh diri. Adaptive coping styles berperan dalam mengintervensi mekanisme tersebut pada medial prefrontal cortex dan nucleus accumbens, sehingga stresor dapat ditangani dengan baik dan dapat mencegah gejala depresi pada mahasiswa selama Pandemi COVID-19.
Pengaruh Penyuluhan terhadap Tingkat Pengetahuan dan Sikap Santri dalam Pencegahan Covid-19 pada Pondok Pesantren ZIIS Cilongok Banyumas Anggina Lestari; Mia Kusmiati; M. Fitriandi Budiman
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 2 No. 1 (2022): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v2i1.2228

Abstract

Abstract. Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) is a global health problem and has become a global pandemic. Efforts that can be made in preventing COVID-19 are to carry out health promotion activities, one of which is counseling. Counseling to provide education about preventing the transmission of COVID-19 is very important among students as a prevention effort in Islamic boarding schools. The purpose of this study was to determine the difference in the effect of the level of knowledge and attitudes of Islamic boarding school students in Banyumas in preventing COVID-19 before and after counseling. This research design is pre-experimental and uses pretest-posttest design. The research population of students at the Ziis Islamic Boarding School, Purwokerto Banyumas for the 2020/2021 academic year, was taken as many as 136 students with a simple random sampling technique. Data were taken using a questionnaire conducted before and before being given counseling. Univariate data analysis describes levels and attitudes in preventing Covid-19, and bivariate using paired statistical tests to determine differences in knowledge and attitudes of Islamic boarding school students in Banyumas in preventing COVID-19 before and before counseling. Based on the research, the knowledge of respondents before being given counseling was still in the less category, namely 40 people (29.4%) and after being given counseling there are 7 people (5.1%) in the less category. The attitude of respondents before being given counseling was still in the negative category, namely 32 people (23.5%) and after counseling, there was no more. It can be concluded that COVID-19 counseling influences the level of knowledge and attitudes of students in preventing COVID-19 at Islamic boarding schools in Banyumas. Abstrak. Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) merupakan masalah kesehatan dunia dan menjadi pandemi global. Upaya yang dapat dilakukan dalam pencegahan COVID-19 adalah dengan melakukan kegiatan promosi kesehatan, salah satunya adalah kegiatan penyuluhan. Penyuluhan untuk memberikan edukasi mengenai pencegahan penularan COVID-19 sangat penting di kalangan santri sebagai upaya pencegahan di pondok pesantren. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui perbedaan pengaruh tingkat pengetahuan dan sikap santri pondok pesantren di Banyumas dalam pencegahan COVID-19 sebelum dan sesudah dilakukan penyuluhan. Rancangan penelitian ini pre-experimental dan menggunakan desain pretest-posttest. Populasi penelitian santri di pondok pesantren Ziis Purwokerto Banyumas tahun ajaran 2020/2021 yang diambil sebanyak 136 santri dengan teknik simple random sampling. Data diambil menggunakan kuesioner yang dilakukan sebelum dan sesudah diberikan penyuluhan. Analisis data univariat menggambarkan tingkat pengetahuan dan sikap dalam pencegahan Covid-19, dan bivariat menggunakan uji statistik paired t-test untuk mengetahui perbedaan tingkat pengetahuan dan sikap santri pondok pesantren di Banyumas dalam pencegahan COVID-19 sebelum dan sesudah dilakukan penyuluhan. Berdasarkan hasil penelitian, pengetahuan responden sebelum diberikan penyuluhan ada yang masih pada kategori kurang yaitu 40 orang (29.4%) dan setelah diberikan penyuluhan terdapat 7 orang (5.1%) dalam kategori kurang. sikap responden sebelum diberikan penyuluhan ada yang masih pada kategori negatif yaitu 32 orang (23.5%) dan setelah diberikan penyuluhan sudah tidak ada lagi. Dapat disimpulkan bahwa penyuluhan COVID-19 memiliki pengaruh terhadap tingkat pengetahuan dan sikap santri dalam pencegahan COVID-19 pada pondok pesantren di Banyumas.
Hubungan Tingkat Pengetahuan dengan Penyakit Gigi dan Mulut pada Santri di Pesantren Manarul Huda Bandung Novianti Putri Hidayat; Meta Maulida; Lia Marlia
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 2 No. 1 (2022): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v2i1.2250

Abstract

Abstract. Dental and oral diseases can cause focal infections, meaning infections in body organs that are spread through the teeth and mouth. This will have an impact on life expectancy and quality of life. One of the many factors that can cause dental and oral disease is the level of knowledge about dental and oral health. If knowledge about oral and dental health is high, the incidence of oral and dental problems will be low. This study is intended to analyze the relationship between "level of knowledge" with dental and oral diseases in students at the Manarul Huda Islamic Boarding School in Bandung. This study took place in March 2021 at the Manarul Huda Islamic Boarding School in Bandung. This study was conducted using an observational analytic design method with the type of "cross sectional". Data regarding the level of knowledge were collected through a validated questionnaire technique and dental and oral diseases taken from form data. Total sampling was chosen by the researcher as the sampling technique in this study, with a total of 35 subjects. Data analysis using SPSS software 23.0, and statistical test "chi-square". The results of the study showed that the highest level of knowledge about dental and oral diseases was in the low category 22 people, 33 people had dental and oral disease. This study also shows that there is no relationship or relationship between “level of knowledge” and “dental and oral disease” among students at Pesantren Manarul Huda Bandung p < 0.05. There is no relationship between "level of knowledge" and "dental and oral disease", because knowledge is not the main factor that causes dental and oral diseases. Abstrak. Penyakit gigi dan mulut dapat menimbulkan fokal infeksi, artinya infeksi pada organ tubuh yang disebarkan melalui gigi dan mulut. Hal tersebut akan berdampak pada usia harapan hidup dan kualitas hidup. Satu di antara banyak faktor yang dapat menimbulkan terjadinya penyakit gigi dan mulut ialah tingkat pengetahuan mengenaikesehatan gigi dan mulut. Apabila pengetahuan mengenai kesehatan mulut serta gigi tinggi, maka kejadian persoalan penyakit mulut dan gigi akan rendah. Studi ini dimaksudkan untuk menganalisis keterkaitan antara “tingkat pengetahuan” dengan penyakit gigi dan mulut pada santri di Pesantren Manarul Huda Bandung. Studi ini berlangsungpada Maret 2021 di Pesantren Manarul Huda Bandung. Studi ini dilakukan dengan metode rancangan analitik observasional dengan jenis “cross sectional”. Data mengenai tingkat pengetahuan dikumpulkan melalui teknikkuesioner yang telah tervalidasi dan penyakit gigi dan mulut yang diambil dari form data. Total sampling dipilih peneliti sebagai teknik sampling pada studi ini, dengan jumlah subjek sebanyak 35 orang. Analisis data menggunakan SPSS software 23.0, dan uji statistik “chi-square”. Hasil studi menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan mengenai penyakit gigi serta mulut paling banyak dengan kategori rendah 22 orang, 33 orang memiliki penyakit gigi dan mulut. Studi ini juga menunjukkan bahwa tidak ada keterkaitan atau hubungan antara “tingkat pengetahuan” dengan “penyakit gigi dan mulut” pada santri di Pesantren Manarul Huda Bandung p < 0.05. Tidak ada hubungan antara “tingkat pengetahuan” dengan “penyakit gigi dan mulut”, karena pengetahuan bukanlah faktor utama yang menimbulkanpenyakit gigi serta mulut.
Efektivitas Media Edukasi Instant Messaging untuk Meningkatkan Pengetahuan tentang Pencegahan Hipertensi pada Tenaga Kependidikan Sritasya Annisa Pramesti; Yusuf Heriady; Susan Fitriyana
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 2 No. 1 (2022): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v2i1.2253

Abstract

Abstract. Health promotion efforts need to be done to reduce the risk of hypertension in administration staff. This study was conducted to determine the effectiveness of instant messaging use as a media in health education about hypertension prevention. This is a quasi-experimental research with pre-test and post-test control group design. A total of 56 respondents were collected using simple random sampling. Respondents were divided into two groups, namely the test group and the control group. The test group was given education using instant messaging media while the control group was given education using video conference media as a substitute for face-to-face health education. Each group was given pre-test and post-test questionnaires to assess knowledge before and after education. The results were tested using the Mann-Whitney and Wilcoxon tests with the Statistical Product and Service Solutions application. The results of data analysis showed an increase in knowledge of 43% in the test group and 38% in the control group. Although there is a difference in the percentage, the significancy test of the delta increase in the score of the two groups shows a p-value of 0.317 (p-value > 0.05) which indicates that there is no significant difference between the two groups. Instant messaging applications can effectively increase knowledge about hypertension prevention in administration staff. The use of features in the applications can be used to improve the respondents’ cognitive aspects. There was no significant difference between the efficacy of the media use in both groups. Differences in the percentage in score increase may result from differences of age and sex characteristics of the respondents. Abstrak. Upaya promosi kesehatan perlu dilakukan untuk menurunkan risiko terjadinya hipertensi pada tenaga kependidikan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui efektivitas penggunaan media instant messaging dalam edukasi tentang pencegahan hipertensi pada tenaga kependidikan. Jenis penelitian ini adalah eksperimen semu dengan desain penelitian pre-test and post-test control group design. Responden berjumlah 56 orang yang dikumpulkan menggunakan teknik probability sampling dengan jenis simple random sampling. Responden dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok uji dan kelompok kontrol. Kelompok uji diberikan edukasi menggunakan media instant messaging sementara kelompok kontrol diberikan edukasi menggunakan media video conference sebagai pengganti edukasi secara tatap muka. Masing-masing kelompok diberikan kuesioner pre-test dan post-test untuk menilai pengetahuan sebelum dan sesudah edukasi. Hasil kuesioner diuji menggunakan uji Mann-Whitney dan Wilcoxon dengan aplikasi Statistical Product and Service Solution. Hasil analisis data menunjukan adanya peningkatan pengetahuan sebesar 43% pada kelompok uji dan 38% pada kelompok kontrol. Walaupun terdapat perbedaan dalam presentase, uji signifikansi dari delta peningkatan nilai pada kedua kelompok menunjukan hasil p value 0,317 (p value >0,05) yang menandakan tidak adanya perbedaan yang signifikan antara dua nilai yang diuji. Aplikasi instant messaging dapat secara efektif meningkatkan pengetahuan tentang pencegahan hipertensi pada tenaga kependidikan. Penggunaan fitur pada aplikasi instant messaging dapat dipergunakan untuk meningkatkan aspek kognitif responden. Tidak ada perbandingan peningkatan nilai yang signifikan antara dua kelompok uji. Perbedaan dalam presentase peningkatan nilai dapat diakibatkan dari perbedaan karakteristik usia dan jenis kelamin dari responden.