cover
Contact Name
Randhi Saily
Contact Email
sainstek.sttp@gmail.com
Phone
+628117070692
Journal Mail Official
jurnalsainstek@sttp-yds.ac.id
Editorial Address
Jl. Dirgantara No.4, Kecamatan Marpoyan Damai, Kota Pekanbaru, Provinsi Riau
Location
Kota pekanbaru,
Riau
INDONESIA
SAINSTEK
ISSN : 23376910     EISSN : 24601039     DOI : https://doi.org/10.35583/js
Sainstek e-Journal memiliki bidang keahlian yang terdiri dari : Teknik Sipil seperti teknik Struktur, Manajemen Konstruksi, Geoteknik, Sumber Daya Air, dan Transportasi. Teknik Elektro dan Teknik Mesin seperti Material Teknik Elektro, Pembangkitan Tenaga Listrik, Transmisi dan Distribusi, Elektronika Tenaga, Kualitas Daya, Ekonomi Daya, Energi Terbarukan, Kompatibilitas Elektromagnetik, Teknologi Isolasi Tegangan Tinggi, Perangkat Tegangan Tinggi, Pendeteksi Petir dan Proteksi, Analisis Sistem Tenaga, SCADA, Pengukuran Kelistrikan.
Articles 16 Documents
Search results for , issue "Vol. 10 No. 2 (2022)" : 16 Documents clear
Perbandingan Analisa Kelayakan Penggunaan Concrete Sheet Pile dan Struktur Beton pada Dinding Partisi Saluran Irigasi Hari Abrianto; Endah Kurniyaningrum; Saihul Anwar
SAINSTEK Vol. 10 No. 2 (2022)
Publisher : Sekolah Tinggi Teknologi Pekanbaru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35583/js.v10i2.148

Abstract

Tujuan Penelitian adalah sebagai berikut Menganalisis kelayakan penggunaan Corrugated Concrete Sheet Pile dan Struktur Beton dari aspek biaya dan waktu pekerjaan partition wall pada Proyek Modernisasi Irigasi Rentang. Jenis penelitian ini deskriptif dengan metode kuantitatif dan survey lapangan, kemudian untuk menganalisa kelayakan penggunaan metode Concrete Sheet Pile untuk dinding partisi saluran dari aspek biaya dan anggaran biaya pelaksanaan pekerjaan dengan metode Concrerete Sheet Pile dan metode struktur beton. Data yang digunakan pada penelitian ini terdiri atas 2 (dua) data utama, Data Primer yang didapatkan langsung dari pengamatan dan wawancara dilapangan, dan data sekunder yang didapatkan penulis dari dokumen tertulis yang dikumpulkan di lokasi studi kasus. Dari pengolahan dan analisa data yang dilakukan didapatkan hasil sebagai berikut. Penggunanaan Concrete Sheet Pile dalam pekerjaan dinding partisi saluran Irigasi Rentang sepanjang 3,30 km membutuhkan biaya sebesar Rp. 52.874.130.225,- dibandingkan dengan penggunanaan Struktur Beton sebesar Rp. 55.371.834.873,-. Sehingga penggunaan Concrete Sheet Pile 4% lebih hemat dibanding dengan penggunaan Struktur Beton. Waktu Pekerjaan yang dibutuhkan untuk menyelesaikan dinding partisi saluran sepanjang 3,30 km dengan menggunakan metode Concrete Sheet Pile adalah selama 17 bulan, sedangkan dengan menggunakan metode Struktur Beton membutuhkan waktu pekerjaan sekitar 20 bulan. Atau penggunaan Concrete Sheet Pile 15% lebih cepat dibanding dengan penggunaan Struktur Beton.
Pengaruh Penambahan Fly Ash Cangkang Sawit dan Kapur Dolomit Sebagai Bahan Substitusi Sebagian Semen Terhadap Kuat Tekan Mortar Eko Bayu Rahman; Ermiyati Tanjung; Azhari Azhari; Andre Novan; Yenita Morena
SAINSTEK Vol. 10 No. 2 (2022)
Publisher : Sekolah Tinggi Teknologi Pekanbaru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35583/js.v10i2.149

Abstract

Penggunaan mortar di Indonesia dalam pembangunan kontruksi cukup tinggi, seperti plesteran dinding, pengisi kolom komposit dan lain sebagainya, namun mutu dari mortar itu sendiri tidak diperhatikan. Tujuan dari penelitian ini yaitu diharapkan dapat menghasilkan mortar alternatif berbasis limbah dengan mutu kuat tekan yang lebih tinggi dari mortar normal, dan untuk mengetahui pengaruh penambahan fly ash cangkang sawit dan kapur dolomit terhadap kuat tekan mortar yang dihasilkan dengan variasi 0%, 5%, 10%, 15% dan 20%. Pembuatan sampel benda uji mortar menggunakan cetakan yang berbentuk kubus dengan ukuran 5x5x5 cm dan kemudian dilakukan pengujian pada umur sampel mortar 28 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin bertambahnya komposisi fly ash cangkang sawit dan kapur dolomit maka kuat tekan mortar semakin menurun tetapi kuat tekan mortar akan meningkat bila kedua bahan dicampurkan, yang mana kuat tekan mortar normal yaitu 28 MPa, setelah penambahan fly ash cangkang sawit, hasil tertinggi yaitu pada campuran 5% dengan hasil 20,8 MPa dan terendah yaitu pada campuran 20% dengan hasil 12,13 MPa. Sedangkan kuat tekan mortar pada subtitusi kapur dolomit tertinggi (meningkat) pada campuran 5% dengan hasil 35,47 MPa, dan terendah pada campuran 20% dengan hasil 21,20 MPa. Namun pada mortar yang menggunakan bahan subtitusi campuran fly ash cangkang sawit dan kapur dolomit 10% didapatkan kuat tekannya meningkat lebih tinggi yaitu sebesar 31,33 MPa. Dengan demikian penambahan kapur dolomit sangat berpengaruh terhadap kuat tekan mortar ini.
Analisis Biaya Operasional Kendaraan Angkutan Sekolah Di Kota Pekanbaru Roma Dearni; Ari Sandhyavitri; Lita Darmayanti
SAINSTEK Vol. 10 No. 2 (2022)
Publisher : Sekolah Tinggi Teknologi Pekanbaru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35583/js.v10i2.150

Abstract

Pertambahan penduduk di Kota Pekanbaru yang semakin meningkat menimbulkan banyak kemacetan dibeberapa titik daerah. Salah satu titik rawan kemacetan berada pada daerah kawasan pendidikan. Kemacetan terjadi dikarenakan adanya proses antar jemput anak sekolah. Pemerintah sudah mengatasi kemacetan dengan menyediakan alat tranportasi umum yaitu bus trans metro Pekanbaru, namun hal ini belum sepenuhnya dapat mengatasi kemacetan khususnya dalam kasus antar jemput anak sekolah. Butuh rute khusus dan ketersediaan fasilitas yang sesuai dengan kenyaman, keselamatan serta ketepatan waktu bagi pelajar. Maka perlu dilakukan analisis perhitungan biaya operasional kendaraan angkutan sekolah untuk mengetahui kelayakan secara ekonomi dalam perencanaan angkutan sekolah. Hasil penelitian pada perhitungan biaya operasional kendaraan dapat menentukan tarif pada setiap rute. Besar tarif berdasarkan perhitungan BOK pada setiap rute adalah pada rute 1 sebesar Rp.7.000, rute 2 sebesar Rp.7.100, rute 3 sebesar Rp. 5.600, rute 4 sebesar Rp. 9.800, rute 5 sebesar Rp. 7.100 dan rute 6 sebesar Rp. 9.400. Nilai tarif berdasarkan BOK yang didapat menjadi bahan pertimbangan pemerintah untuk memberi subsidi penuh atau setengah dalam perencanaan angkutan sekolah di Kota Pekanbaru.
Strategi Kesinambungan Operasional Bus Transmetro Pekanbaru Ditinjau Dari Aspek Komersil Ginda Burnama; Ari Sandhyavitri; Harnedi Maizir
SAINSTEK Vol. 10 No. 2 (2022)
Publisher : Sekolah Tinggi Teknologi Pekanbaru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35583/js.v10i2.151

Abstract

Trans Metro Pekanbaru (TMP) telah beroperasi sejak Juni 2009 sampai dengan saat ini. Pada tahun 2018 sampai 2019 pendapatan dari tiket rata-rata ± Rp. 13 miliar. Beban operasional kendaraan (BOK) ± Rp. 29 miliar, sehingga keuangan pengelolaan Bus Trans Metro Pekanbaru mengalami defisit sebesar ± Rp. 16 miliar. Pemerintah saat ini memberikan subsidi sekitar 55% untuk pengoperasian Trans Metro Pekanbaru. Upaya untuk menyeimbangkan pendapatan dengan pengeluaran dalam menjamin kesinambungan operasional Bus Trans Metro Pekanbaru dari aspek komersil perlu dilakukan, seiring dengan pembentukan badan usaha milik daerah PT. Transportasi Pekanbaru Madani (Perseroda) yang mengatur pengelolaan Bus Trans Metro Pekanbaru beserta instrumennya. Metode analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif dengan penyebaran kuesioner serta pengolahan data uji validitas dan reliabilitas menggunakan program SPSS. Strategi operasional yang berkelanjutan untuk meningkatkan pendapatan adalah dengan memberikan skenario kenaikan tarif menjadi Rp. 6.000,-/ trip berdasarkan identifikasi ATP dan WTP, serta penyediaan ruang iklan pada armada bus, halte transit dan halte pemberhentian. Analisis finansial dengan metode NPV, BCR dan IRR memiliki nilai NPV (Rp. 234.783.300,-) > 0, BCR (1.10) > 1 dan IRR (6.14%) > 6% (MARR), sehingga investasi pengelolaan Bus Trans Metro Pekanbaru menjadi layak.
Variasi penambahan serbuk cangkang telur sebagai alternatif bahan stabilisasi terhadap nilai California Bearing Ratio (CBR) Soehardi, Fitridawati; Dinata, Marta
SAINSTEK Vol. 10 No. 2 (2022)
Publisher : Sekolah Tinggi Teknologi Pekanbaru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35583/js.v10i2.152

Abstract

Tanah merupakan elemen penting dalam pelaksanaan kontruksi bangunan karena tanah harus mempunyai daya dukung yang baik dalam menahan beban kontruksi diatasnya. Namun dilapangan masih ditemukan tanah yang mempunyai kuat dukung tanah yang rendah sehingga perlu dilakukan perbaikan tanah salah satunya menggunakan stabilisasi tanah. Pemanfaat serbuk cangkang telur sebagai alternatif bahan stabilisasi dapat dilakukan karena serbuk cangkang telur mengandung kalsium Oksida (CaO). Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh variasi penambahan serbuk cangkang telur 5%, 10%, dan 15 % pada tanah lempung terhadap nilai CBR. Metode penelitian ini dilakukan dengan pengujian laboratorium mengacu pada pengujian California Bearing Ratio (CBR) menggunakan SNI 03-1744-2008. Berdasarkan hasil pengujian Tanah asli dalam penelitian ini termasuk dalam klasifikasi tanah CL, yakni Lempung Tak organik dengan plastisitas rendah sampai sedang. Nilai kadar air optimum cendrung mengalami penurunan seiring dengan penambahan Serbuk Cangkang Telur (SCT) pada tanah asli yaitu pada variasi Serbuk Cangkang Telur (SCT) 15% Yaitu 20 % dan nilai berat jenis mengalami peningkatan yaitu 1,6 gg/cc .Peningkatan nilai CBR terjadi pada penambahan Serbuk Cangkang Telur (SCT) 15% yaitu sebesar 8,07%.
Pengaruh Kombinasi Pembebanan Terhadap Pemilihan Pondasi Borepile Pada Bangunan Gedung Ahmad Hamidi; Ulfa Jusi; Beny Setiawan
SAINSTEK Vol. 10 No. 2 (2022)
Publisher : Sekolah Tinggi Teknologi Pekanbaru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35583/js.v10i2.153

Abstract

Indonesia juga menjadi salah satu negara yang berada pada pertemuan 3 lempeng tektonik utama dunia yaitu Lempeng Australia, Lempeng Eurasia dan Lempeng Pasifik. Peristiwa gempa yang terjadi memberikan pengaruh terhadap kondisi bangunan baik saat terjadi gempa maupun pasca terjadinya gempa. Gempa merupakan peristiwa bergetarnya bumi akibat pelepasan energi dalam bumi secara tiba-tiba dan sering kali merusak bangunan-bangunan yang berada disekitar lokasi pusat gempa. Berdasarkan SNI 1726-2012 Indonesia memiliki beberapa kondisi tanah yang terdiri dari batuan, tanah keras, tanah sedang dan tanah lunak. Bangunan yang menjadi tinjauan dalam penelitian adalah bangunan 2 lantai yang difungsikan sebagai hunian. Dalam perencanaan struktur menggunakan pondasi borepile diameter 30 cm dengan membandingkan kombinasi pembebanan berdasarkan SNI 03-1726-2002 dengan hanya menggunakan kombinasi beban mati dan hidup saja menggunakan software elemen hingga. Berdasarkan perhitungan maka dapat disimpulkan bahwa dengan menggunakan kombinasi pembebanan sesuai SNI maka pembebanan massa menjadi lebih besar pada bagian tumpuan (pondasi) dibandingkan dengan hanya menggunakan kombinasi pembebenan berupa beban hidup dan mati hingga mencapai 43,62%. Dengan besarnya pembebanan pada tumpuan maka jumlah titik borepile yang dibutuhkan juga berbeda. Berdasarkan perhitungan bangunan yang menjadi tinjauan, untuk kombinasi pembebanan sesuai SNI dengan hasil daya dukung satuan pondasi (Qu) sebesar 31,27 ton maka diperlukan 12 titik borepile dan untuk kombinasi pembebanan dengan beban mati dan hidup dibutuhkan 7 titik borepile atau lebih kecil sebesar 41,67%.
Sistem Deteksi Sinyal Handphone Di Dalam Kabin Pesawat Berbasis Mikrokontroller Atmega328 Benriwati Maharmi; Rendy Eka Hartandy; Anwar Karnaidi; Nurhasnah Nurhasnah; Silfia Rini
SAINSTEK Vol. 10 No. 2 (2022)
Publisher : Sekolah Tinggi Teknologi Pekanbaru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35583/js.v10i2.154

Abstract

Teknologi komunikasi seluler beberapa tahun terakhir ini berkembang sangat pesat dengan generasi komunikasi nirkabel masa depan yang lebih cerdas dan tidak tergantikan dalam kehidupan sehari-hari. Dilihat dari ketergantungan pengguna pada smartphone/handphone di berbagai domain seperti komunikasi, e-bisnis, m-learning, dan m-gamming, m-healthcare dan sistem informasi manajemen seluler yang digunakan di segala tempat, tidak terkecuali di dalam pesawat terbang. Berdasarkan peraturan nasional yang diawali dengan UU No. 36 Tahun 1999, UU No. 11 tahun 2008 dan UU No.1 tahun 2009 tentang pelarangan penggunaan telphone genggam (handphone/ smartphone) yang didukung oleh teknologi GSM (Global System for Mobile Communication) dengan frekuensi 900MHz – 2300 MHz akan mengganggu komunikasi penerbangan dengan frekuensi 960 –1215 MHz yang dapat menyebabkan kecelakaan pesawat. Penelitian ini bertujuan merancang dan membuat sistem deteksi sinyal handphone/ smartphone di dalam kabin pesawat berbasis Mikrokontroller Atmega328. Untuk mendeteksi penggunaan frekuensi atau sinyal handphone menggunakan RF detektor terdiri dari rangkaian LC, dan dua Op-Amp pada IC LM358N. LCD 1602 akan menampilkan notifikasi lokasi penggunaan sinyal handphone dan mengaktifkan Piezoelectric Buzzer, untuk memberikan informasi kepada cabin crew bahwa terdeteksi penggunaan sinyal handphone di dalam kabin pesawat. Dari hasil pengujian, sistem yang dibuat dapat mendeteksi penggunaan sinyal handphone (900 MHz-2300 MHz) pada jarak maksimal 20 cm – 24 cm dengan waktu respon rata-rata 1,62 detik – 2,63 detik.
Analisis Nilai Karakteristik Asphalt Concrete-Wearing Course Terhadap Variasi Lama Rendaman Pada Air Gambut Sjelly Haniza; Ulfa Jusi; Riski Majid
SAINSTEK Vol. 10 No. 2 (2022)
Publisher : Sekolah Tinggi Teknologi Pekanbaru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35583/js.v10i2.158

Abstract

Perkerasan lentur (fleksibel pavement) merupakan jenis lapis perkerasan yang banyak digunakan karena dianggap memiliki banyak kelebihan dibandingkan dengan jenis perkerasan lainnya. Jenis lapis perkerasan yang terletak pada bagian atas permukaan dikenal dengan asphalt concrete wearing course. Kerusakan pada jalan fleksibel pavement selain terjadi akibat beban berlebih dapat juga terjadi akibat tidak berfungsinya drinase, sehingga terjadi genangan dibadan jalan yang cukup lama. Genangan ini bukan saja berasal dari air hujan tetapi dapat pula akibat naiknya muka air tanah. Provinsi Riau merupakan daerah yang memiliki lahan gambut yang cukup luas, sehingga adakalanya struktur perkerasan berada diatas lahan tersebut. Tidak berfungsinya darinase pada jalan yang berada diatas lahan gambut akan menyebabkan genangan dan dikuatirkan akan mempegaruhi kinerja perkerasan aspal, karena air gambut bersifat asam dan memiliki pH 3,7-5,3. Untuk mengetahui sampai sejauh mana pengaruh dari terendamnya struktur perkerasan jalan tersebut maka dilakukan penelitian menggunakan air gambut dengan pH 4,12. Penelitian dilakukan skala laboratorium menggunakan benda uji dari desain Asphalt Concrete Wearing Course (AC-WC) dengan variasi waktu perendaman 30 menit, 720 menit dan 1440 menit. Aspal yang digunakan jenis pen 60/70. Nilai Kadar Aspal Optimum (KAO) yang diperoleh dari penelitian ini 6,2%. Nilai karakteristik setelah direndam dalam air gambut berturut–turut untuk perendaman 30 menit, 720 menit dan 1440 menit terhadap stabilitas 1107 kg, 863 kg dan 696 kg, terhadap flow yaitu 3,22 mm, 4,03 mm dan 4,78 mm, sedangkan untuk VMA,VIM dan VFB nilai yang diperoleh semua memenuhi kriteria yang ditetapkan pada spesifikasi bina marga 2018. Berdasarkan data yang diperoleh dapat dikatakan bahwa Lapis permukaan AC-WC yang tergenang air gambut dengan ph 4,12 harus bebas dari genangan maksimum 12 jam.
Penilaian Tingkat Kerusakan Pesisir Pulau Singkep Sebagai Upaya Mitigasi Kerusakan Pantai Erza Ismi Lariza; Manyuk Fauzi; Muhammad Yusa
SAINSTEK Vol. 10 No. 2 (2022)
Publisher : Sekolah Tinggi Teknologi Pekanbaru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35583/js.v10i2.159

Abstract

Pulau Singkep merupakan daerah Pulau yang di kelilingi oleh pantai yang menunjukkan pulau singkep termasuk dalam kategori wilayah pesisir pantai. Luas Pulau Singkep 3.615,56 km2 terdiri dari 384,15 km2 daratan dan 3.231,40 km2 lautan . Kawasan pesisir menghadapai berbagai tekanan dan pengembangan dan perubahan. Oleh karena itu pantai selalu mengalami perubahan, diantaranya perubahan lingkungan yang dapat disebabkan akibat aktivitas manusia. Perubahan tersebut berdampak pada perubahan garis pantai. Mengingat kondisi daerah permukiman dan akses transportasi seperti jalan yang ada di pesisir pantai hal ini dianggap cukup penting untuk di lakukan analisa. Salah satu cara yang dapat di lakukan dalam pencegahan timbulnya bencana di kawasan pesisir pantai ialah dengan melakukan penilaian tingkat kerusakan pantai. Salah satu cara yang dapat di lakukan dalam upaya mitigasi bencana di kawasan pesisir pantai ialah dengan melakukan penilaian tingkat kerusakan pantai. Penelitian ini menggunakan Surat Edaran Mentri Pekerjaan Umum No.08/SE/M/2010 tentang Pemberlakuan pedoman penilaian kerusakan pantai dan prioritas penangananya sebagai penilain pembobotan kerusakan pantai di Pulau Singkep. Hasil dari penilaian tingkat kerusakan pantai di Pulau Singkep ialah terdapat 2 buah nilai skala prioritas yaitu B dan D. Kategori prioritas utama terletak di Desa Lanjut, Desa Berindat, Desa Dabo Lama dan Desa Batu Berdaun dengan skala B yang memiliki nilai bobot kerusakan 226- 300.
Identifikasi Risiko Keterlambatan Pada Proyek Pembersihan Lahan Terkontaminasi Limbah Edwar AR; Ari Sandhyavitri; Manyuk Fauzi
SAINSTEK Vol. 10 No. 2 (2022)
Publisher : Sekolah Tinggi Teknologi Pekanbaru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35583/js.v10i2.160

Abstract

Waktu merupakan salah satu faktor terpenting dalam menjalankan siklus manajemen proyek, salah satu faktor berhasilnya pelaksanaan dalam suatu proyek konstruksi dapat dilihat dari waktu pelakasanaan pekerjaan proyek tersebut. Keterlambatan waktu pelaksanaan pekerjaan dapat berdampak pada pembiayaan yang telah direncanakan, tidak hanya pengeluaran tetapi juga dapat menyebabkan pembengkaan biaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi, dan menentukan peringkat faktor risiko dari keterlambatan proyek pembersihan lahan terkontaminasi limbah atau Crude Oil Contaminated Soil (COCS), keterlambatan yang terjadi pada pekerjaan lokasi 5D-47 adalah 156 hari dengan rencana awal 118 hari namun aktual di lapangan 274 hari. Hasil identikasi risiko ini dapat memberikan gambaran kepada tim proyek untuk nantinya dilakukan mitigasi bila terjadi risiko dikemudian hari diproyek yang sama. Untuk mencapai tujuan penelitian ini, peneliti mengundang para pakar dan tim proyek yang terlibat dalam proyek tersebut, dan responden yang mewakili sampel dari penelitian yaitu 3 perusahaan yang terlihabat dalam proyek ini. Hasil identifikasi ada 19 faktor dan risiko yang mempengaruhi waktu pelaksanaan proyek pembersihan lahan terkontaminasi limbah, dan dianalisa dengan metode Relative Importance Index (RII) dapat diketahui tiga pengaruh yang dominan pada peringkat teratas hasil analisis ini adalah ketidakpastian kondisi tanah, jenis, dan kedalaman COCS (RII sebesar 0.89), ketersediaan peralatan konstruksi yang kurang memadai (RII sebesar 0.88), rendahnya produktivitas pekerjaan (RII sebesar 0.85).

Page 1 of 2 | Total Record : 16