cover
Contact Name
Rini Setiati
Contact Email
rinisetiati@trisakti.ac.id
Phone
+6221-5663232
Journal Mail Official
jftke@trisakti.ac.id
Editorial Address
Fakultas Teknologi Kebumian dan Energi - Universitas Trisakti Kampus A, Gedung D Universitas Trisakti Jalan Kyai Tapa No. 1 Grogol, Jakarta Barat, Indonesia Phone: (62-21) 566 3232
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Eksakta Kebumian
Published by Universitas Trisakti
ISSN : -     EISSN : 2775913X     DOI : https://doi.org/10.25105/jek
Core Subject : Science,
Merupakan wadah untuk mempublikasikan karya tulis Teknik Perminyakan, Teknik Geologi dan Teknik Pertambangan. Karya tulis ilmiah yang dipublikasikan diharapkan dapat menjadi referensi perkembangan teknologi kebumian
Articles 185 Documents
ASPEK PRAKATIKAL PEMODELAN GEOLOGI UNTUK SIMULASI RESERVOIR PADA LAPANGAN WAR FORMASI TALANG AKAR BAWAH Audia, Winona; Benyamin; Rini Setiati
Jurnal Eksakta Kebumian Vol. 3 No. 2 (2022): JURNAL EKSAKTA KEBUMIAN (JEK)
Publisher : Fakultas Teknologi Kebumian dan Energi, Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/jek.v3i2.16100

Abstract

Abstrak Dalam tahap pembuatan model geologi statik secara rinci, kita akan dijumpai dengan total cellular grid yang sangat besar sehingga memakan waktu dalam tahapan selanjutnya simulasi reservoir. Mengingat terkadang tebatasnya akses komputer yang kita gunakan. Untuk menangani masalah ini, dilakukan teknik upscaling grid secara vertikal atau lebih dikenal system layering (K), dengan tujuan agar nilai heterogenitas kualitas batuan secara lateral tidak berubah dan tetap mengacu pada model distribusi yang sesuai dengan konsep geologi asli. Proses upscaling ini guna mempercepat dalam tahap lanjutan simulasi reservoir tanpa mengubah sejarah geologi reservoir itu sendiri. Penelitian ini mengintegrasi data seismik, data sumur, dan data produksi serta metode geostatik untuk membuat fine grid dan coarse grid yang merepresentasikan model geologi dan perhitungan cadangan melalui proses inialisasi. Telah dihasilkan model reservoir W pada lapangan WAR dengan total fine grid sebesar 430.144 dan memiliki running time (8 jam) pada simulasi reservoir serta memiliki hasil perhitungan cadangan sebesar 18.94 MMSTB. Pada model coarse grid dihasilkan 2 opsi dengan running time lebih cepat yaitu, kurang lebih dari 30 menit dan menghasilkan perhitungan cadangan sebesar 18,36 MMSTB untuk model coarse grid_1 dan 18,22 MMSTB untuk model coarse grid _2. Meskipun fine grid dan coarse grid model memiliki volume inplace yang tidak jauh berbeda, namun proses penyelarasan histori produksi memerlukan justifikasi yang berbeda, dikarenakan adanya perbedaan nilai properti seperti porositas, permeabilitas, dan saturasi air pada tiap gridnya akibat upscale grid secara vertikal, yang menimbulkan adanya perbedaan kinerja aliran fluida di tiap model reservoir. Hasil history matching untuk fine grid model menunjukkan hasil yang paling representative dengan selisih kumulatif untuk water dan oil kurang dari 5%.   Kata kunci: Model Statik Geologi, Upscaling Grid, Simulasi Reservoir
ANALISIS KARAKTERISITIK RESERVOIR PADA SUMUR FAR-1 LAPANGAN Z MENGGUNAKAN METODE PRESSURE BUILD UP Zimah, Farhan; Fathaddin, M.Taufiq; Yasmaniar, Ghanima
Jurnal Eksakta Kebumian Vol. 3 No. 2 (2022): JURNAL EKSAKTA KEBUMIAN (JEK)
Publisher : Fakultas Teknologi Kebumian dan Energi, Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/jek.v3i2.16102

Abstract

Abstrak Analisis tekanan transient merupakan kegiatan yang cukup penting untuk mengetahui kemampuan suatu sumur memproduksikan hidrokarbon keatas permukaan. Salah satu metode untuk mengetahui parameter serta karakteristik suatu reservoir adalah dengan analisis tekanan transien dengan cara Pressure Build Up analisis. Parameter yang dihasilkan dalam uji sumur ini antara lain, jenis reservoir, batas reservoir, tekanan awal reservoir, permeability thickness, kerusakan formasi, dan permeabilitas. Hasil yang didapat dari analisa uji sumur pada sumur FAR-1 menggunakan software,menunjukan bahwa wellbore model pada sumur FAR-1 yaitu Changing Wellbore Storage, dan jenis reservoir Homogeneus, serta batasan reservoir One fault. Karakterisitik formasi berdasarkan analisa pada sumur FAR-1 adalah nilai produktivity index sebesar 2819.96 psi, permeability thickness sebesar 5120 mD.ft, permeabilitas sebesar 16.3 mD, total skin sebesar 0.36.     Kata kunci : Pressure Build Up test (PBU), Wellbore Storage, Permeabilitas, Skin     Abstract Transient pressure analysis is an activity that is quite important to determine the ability of a well to produce hydrocarbons above the surface. One method to determine the parameters and characteristics of a reservoir is by transient pressure analysis by means of Pressure Build Up analysis. The parameters produced in this well test include reservoir type, reservoir boundary, initial reservoir pressure, permeability thickness, formation damage, and permeability. The results obtained from the analysis of the well test on the FAR-1 well using the software show that the wellbore model in the FAR-1 well is Changing Wellbore Storage, and the reservoir type is Homogeneus, as well as the reservoir boundary of One fault. The characteristics of the formation based on the analysis in the FAR-1 well are the productivity index value of 2819.96 psi, permeability thickness of 5120 mD.ft, permeability of 16.3 mD, total skin of 0.36.      Keywords: Presuure Build Up (PBU), Wellbore Storage, Permeability, Skin  
RENCANA REKLAMASI DAN REVEGETASI PADA LAHAN BEKAS TAMBANG NIKEL DI PT. MINERAL TROBOS PROVINSI MALUKU UTARA Nisandro J Luhukay; Edy Jamal Tuheteru; Ririn Yulianti
Jurnal Eksakta Kebumian Vol. 4 No. 1 (2025): JURNAL EKSAKTA KEBUMIAN (JEK)
Publisher : Fakultas Teknologi Kebumian dan Energi, Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/jek.v4i1.24535

Abstract

Kegiatan reklamasi merupakan proses yang dilakukan secara bertahap selama berlangsungnya aktivitas pertambangan, dengan tujuan untuk menata kembali, memulihkan, serta meningkatkan kualitas lingkungan dan ekosistem di area tambang agar dapat digunakan sesuai dengan fungsi peruntukannya. Reklamasi lahan bekas tambang, khususnya untuk keperluan revegetasi, seringkali dihadapkan pada berbagai kendala, seperti ketidakstabilan lereng, terjadinya erosi dan sedimentasi, rendahnya kandungan unsur hara dalam tanah, hilangnya atau tipisnya lapisan tanah pucuk, keterbatasan air tawar, belum terbentuknya iklim mikro, potensi terbentuknya air asam tambang, hingga keberadaan logam berat. Permasalahan-permasalahan ini dapat berbeda tergantung pada jenis mineral yang ditambang, seperti nikel atau batubara, serta metode penambangan yang digunakan, baik tambang terbuka maupun bawah tanah. PT Mineral Trobos, yang beroperasi di wilayah Halmahera Tengah, Provinsi Maluku Utara, menjalankan kegiatan penambangan nikel. Upaya reklamasi lahan bekas tambang di perusahaan ini difokuskan untuk memperbaiki dan memulihkan kembali vegetasi yang rusak melalui kegiatan revegetasi atau penanaman kembali. Beberapa kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan reklamasi di area tambang PT Mineral Trobos antara lain adalah kondisi lahan yang belum tertata dengan optimal dan permukaan lahan yang tidak rata. Oleh sebab itu, rencana reklamasi di area ini meliputi penataan lahan, revegetasi, serta kegiatan pemeliharaan guna mengatasi permasalahan tersebut.
EVALUASI DAN OPTIMASI ESP PADA SUMUR A DI LAPANGAN NM Nurhayati; Sigit Rahmawan; Prayang Sunny Yulia
Jurnal Eksakta Kebumian Vol. 4 No. 1 (2025): JURNAL EKSAKTA KEBUMIAN (JEK)
Publisher : Fakultas Teknologi Kebumian dan Energi, Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/jek.v4i1.24544

Abstract

Lapangan NM merupakan salah satu lapangan minyak tua yang mengalami penurunan tekanan reservoir, sehingga diperlukan sistem pengangkatan buatan seperti Electric Submersible Pump (ESP) untuk mempertahankan produksi. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi dan mengoptimalkan kinerja ESP di Sumur A melalui analisis efisiensi lifting dan efisiensi reservoir. Hasil awal menunjukkan efisiensi lifting hanya sebesar 30,46% dan efisiensi reservoir 61%, yang keduanya berada di bawah ambang batas minimal 70%. Optimasi dilakukan dengan mengganti tipe pompa dari TD-460 menjadi TD-150, menghasilkan peningkatan efisiensi lifting menjadi 70,58% dan efisiensi reservoir menjadi 76,9%. Studi ini menekankan pentingnya pemilihan jenis pompa yang tepat dan pemantauan berkala untuk meningkatkan kinerja produksi pada sumur-sumur tua.   NM Field is a mature oil field experiencing reservoir pressure decline, requiring artificial lift systems such as Electric Submersible Pumps (ESP) to maintain production. This study aims to evaluate and optimize the ESP performance in Well A by analyzing lifting efficiency and reservoir efficiency. Initial results showed a lifting efficiency of only 30.46% and a reservoir efficiency of 61%, both below the minimum acceptable threshold of 70%. Optimization was carried out by replacing the pump type from TD-460 to TD-150, resulting in an improved lifting efficiency of 70.58% and reservoir efficiency of 76.9%. This study highlights the importance of proper pump selection and regular performance monitoring to enhance production in aging wells.
EVALUASI PERMASALAHAN STUCK PIPE PADA DIRECTIONAL DRILLING SUMUR M LAPANGAN R Redisya Mahadani; Maman Djumantara; Marmora Titi Malinda
Jurnal Eksakta Kebumian Vol. 4 No. 1 (2025): JURNAL EKSAKTA KEBUMIAN (JEK)
Publisher : Fakultas Teknologi Kebumian dan Energi, Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/

Abstract

Penelitian ini mengevaluasi permasalahan stuck pipe yang terjadi pada sumur directional M di Lapangan R. Kejadian terjadi pada trayek 8½” di kedalaman 1285 meter MD dan dikategorikan sebagai mechanical sticking akibat penyumbatan lubang bor (hole pack-off). Analisis menunjukkan bahwa berat lumpur yang digunakan sebesar 10,16 ppg tidak mampu menahan tekanan formasi yang mengalami peningkatan signifikan. Berdasarkan perhitungan, nilai equivalent mud weight yang dibutuhkan untuk mengimbangi tekanan kolaps adalah sebesar 10,49 ppg, sehingga terdapat selisih tekanan sebesar 50 psi. Titik jepit teridentifikasi pada kedalaman 1285-1266 meter MD. Hasil evaluasi menegaskan bahwa desain lumpur pemboran yang kurang sesuai serta kondisi tekanan formasi yang tidak stabil menjadi faktor utama terjadinya stuck pipe. Oleh karena itu, diperlukan perencanaan mud program yang tepat dan sistem pembersihan lubang bor yang efektif guna mencegah kejadian serupa pada operasi pengeboran berikutnya.    This study evaluates the stuck pipe problem that occurred in the directional well M in the R Field. The incident occurred on the 8.5” trajectory at a depth of 1285 meters MD and was categorized as mechanical sticking due to borehole blockage (hole pack-off). Analysis showed that the mud weight used of 10.16 ppg was unable to withstand the significantly increased formation pressure. Based on calculations, the equivalent mud weight required to offset the collapse pressure was 10.49 ppg, resulting in a pressure difference of 50 psi. The pinch point was identified at a depth of 1285-1266 meters MD. The evaluation results confirmed that inappropriate drilling mud design and unstable formation pressure conditions were the main factors in the stuck pipe occurrence. Therefore, proper mud program planning and an effective borehole cleaning system are needed to prevent similar incidents in subsequent drilling operations.
ANALISIS KEMAMPUAN PRODUKSI SUMUR PANAS BUMI BERDASARKAN OUTPUT CURVE DAN WELLBORE SIMULATION DI LAPANGAN AAP Alayda Aisyah Putri; Marmora Titi Malinda; Prayang Sunny Yulia
Jurnal Eksakta Kebumian Vol. 4 No. 1 (2025): JURNAL EKSAKTA KEBUMIAN (JEK)
Publisher : Fakultas Teknologi Kebumian dan Energi, Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/jek.v4i1.24546

Abstract

Penilaian kemampuan produksi sumur panas bumi merupakan tahapan penting dalam optimalisasi pembangkitan energi. Studi ini bertujuan untuk mengevaluasi performa sumur ZM-42 dan ZM-31 di Lapangan AAP melalui simulasi wellbore dan penyusunan output curve. Simulasi dilakukan menggunakan data uji produksi, konfigurasi casing, hasil survei PTS, yang diolah untuk memperoleh parameter seperti tekanan kepala sumur, laju alir fluida, temperatur, entalpi, dan fraksi uap (dryness). Hasil simulasi menunjukkan bahwa sumur ZM-31 memiliki potensi produksi yang lebih tinggi dibandingkan ZM-42, dengan laju alir 96.61 kg/s dan entalpi 1134.5 kJ/kg, sedangkan ZM-42 menghasilkan 85.60 kg/s dengan entalpi 1027.7 kJ/kg. Fraksi uap ZM-31 juga lebih tinggi (0.14) dibandingkan ZM-42 (0.11), yang mengindikasikan efisiensi pemisahan fluida dua fasa lebih baik. Berdasarkan output curve dan karakteristik reservoir, ZM-31 direkomendasikan sebagai sumur utama untuk dioptimalkan dalam sistem pembangkitan listrik panas bumi di Lapangan AAP.   Assessment of the production capability of geothermal wells is an important stage in the optimization of energy generation. This study aims to evaluate the performance of wells ZM-42 and ZM-31 in AAP Field through wellbore simulation and output curve development. Simulations were conducted using production test data, casing configuration, PTS survey results, which were processed to obtain parameters such as wellhead pressure, fluid flow rate, temperature, enthalpy, and vapor fraction (dryness). Simulation results show that the ZM-31 wellbore has higher production potential than ZM-42, with a flow rate of 96.61 kg/s and enthalpy of 1134.5 kJ/kg, while ZM-42 produces 85.60 kg/s with enthalpy of 1027.7 kJ/kg. The vapor fraction of ZM-31 is also higher (0.14) than that of ZM-42 (0.11), indicating better separation efficiency of the two-phase fluid. Based on the output curve and reservoir characteristics, ZM-31 is recommended as the main well to be optimized in the geothermal power generation system in AAP Field.
EVALUASI KINERJA SUCKER ROD PUMP DI SUMUR AV-04, LAPANGAN AV Albert Valentio; Djunaedi Agus Wibowo; Prayang Sunny Yulia
Jurnal Eksakta Kebumian Vol. 4 No. 1 (2025): JURNAL EKSAKTA KEBUMIAN (JEK)
Publisher : Fakultas Teknologi Kebumian dan Energi, Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/

Abstract

Penelitian ini memliki fokus untuk mengevaluasi Sucker Rod Pump di AV sumur AV-04, lapangan AV sumur AV-04. Dalam paper ini, dilakukan analisis untuk mendapatkan nilai efisiensi volumetris dari Sucker Rod Pump yang terpasang. Metodologi penelitian yang digunakan adalah menganalisis data lapangan, membuat kurva IPR dengan metode IPR Composite, menghitung laju alir optimal dengan menggunakan kurva pressure traverse, kemudian dilanjutkan mengevaluasi Sucker Rod Pump hingga mendapatkan nilai efisiensi volumetris. Sumur AV-04 menggunakan pompa tipe konvensional dengan panjang stroke (S) 54 kecepatan pemompaan (N) 10 SPM, kedalaman sumur 2633.2 kaki. Setelah dilakukan evaluasi pompa ini memiliki efisiensi volumetris 41.3%, hasil efisiensi volumetris ini menunjukkan bahwa sumur ini belum berproduksi secara optimal, sehingga perlu dilakukan optimasi.   This research focuses on evaluating the Sucker Rod Pump in the AV-04 well, AV-04 field. In this paper, an analysis was conducted to determine the volumetric efficiency of the installed Sucker Rod Pump. The research methodology used is to analyze field data, create IPR curves using the IPR Composite method, calculate optimal flow rates using pressure traverse curves, and then evaluate the Sucker Rod Pump to obtain the volumetric efficiency value. Well AV-04 uses a conventional pump type with a stroke length (S) of 54, a pumping speed (N) of 10 SPM, and a well depth of 2633.2 feet. After evaluation, this pump has a volumetric efficiency of 41.3%. This result indicates that the well is not yet producing optimally, so production optimization is needed.
PENGARUH UKURAN PARTIKEL DAN pH TERHADAP KADAR KONSENTRAT PADA GRAFIT MENGGUNAKAN METODE FLOTASI Elsa Sabrina Faradiva Cutrisna; Subandrio; Christin Palit
Jurnal Eksakta Kebumian Vol. 4 No. 1 (2025): JURNAL EKSAKTA KEBUMIAN (JEK)
Publisher : Fakultas Teknologi Kebumian dan Energi, Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kadar karbon grafit melalui metode flotasi dengan mempelajari pengaruh variasi ukuran partikel dan pH terhadap proses flotasi. Sampel grafit  dianalisis menggunakan metode X-Ray Diffraction (XRD) untuk mengetahui komposisi mineralnya. Hasil analisis XRD menunjukkan bahwa sampel grafit mengandung Carbon Graphite, Quartz (SiO₂), serta pengotor lainnya seperti Birnessite, Lithiumaluminosilicate, dan Kalsit. Pengujian kadar karbon dilakukan menggunakan LECO Carbon Analyzer, yang menunjukkan kadar karbon awal dalam grafit sebesar 1,24%. Variasi ukuran partikel yang digunakan meliputi +80 mesh, -80+120 mesh, dan -120+200 mesh, dengan variasi pH antara 5 hingga 11. Hasil flotasi menunjukkan bahwa pH 7–9 menghasilkan kadar karbon tertinggi dalam konsentrat, dengan pH 9 dan fraksi -80# +120# menghasilkan kadar karbon 1,42%. Penggunaan Na₂SiO₃ sebagai depresan dan CuSO₄ sebagai pH modifier berperan penting dalam meningkatkan selektivitas flotasi, memisahkan mineral gangue, dan meningkatkan kadar karbon dalam konsentrat. Berdasarkan hasil ini, pH optimal dan ukuran partikel halus terbukti menjadi faktor kunci dalam meningkatkan efisiensi flotasi grafit.   This research aims to enhance graphite carbon content through the flotation method by studying the effect of particle size and pH variations on the flotation process. The graphite sample was analyzed using X-Ray Diffraction (XRD) to determine its mineral composition. XRD analysis results showed that the graphite sample contains Carbon Graphite, Quartz (SiO₂), and other impurities such as Birnessite, Lithiumaluminosilicate, and Calcite. Carbon content testing was conducted using a LECO Carbon Analyzer, which indicated an initial carbon content in the graphite of 1.24%. Particle size variations used included +80 mesh, -80+120 mesh, and -120+200 mesh, with pH variations ranging from 5 to 11. The flotation results demonstrated that pH 7–9 yielded the highest carbon content in the concentrate, with pH 9 and the -80# +120# fraction producing a carbon content of 1.42%. The use of Na₂SiO₃ as a depressant and CuSO₄ as a pH modifier played an important role in increasing flotation selectivity, separating gangue minerals, and enhancing the carbon content in the concentrate. Based on these results, optimal pH and fine particle size proved to be key factors in improving graphite flotation efficiency.
ANALISIS PENGARUH JENIS KOLEKTOR, PH, DAN UKURAN PARTIKEL PADA FLOTASI BIJIH EMAS TERHADAP PEROLEHAN RECOVERY Muhammad Fazjry Tri Nugroho; Subandrio; Christin Palit
Jurnal Eksakta Kebumian Vol. 4 No. 1 (2025): JURNAL EKSAKTA KEBUMIAN (JEK)
Publisher : Fakultas Teknologi Kebumian dan Energi, Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/

Abstract

Penelitian ini menganalisis pengaruh jenis kolektor, pH, dan ukuran partikel pada proses flotasi bijih emas terhadap perolehan recovery. Eksperimen flotasi dilakukan menggunakan Dithiophosphate dan Xylene sebagai kolektor, dengan variasi tingkat pH (6, 8, dan 10) serta fraksi ukuran partikel (-200#+230# dan -230#+250#). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Dithiophosphate secara konsisten menghasilkan tingkat recovery yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan Xylene. Kondisi optimal untuk perolehan emas teridentifikasi saat menggunakan kolektor Dithiophosphate, dengan fraksi ukuran partikel -230#+250#, dan pH 8, mencapai recovery maksimum sebesar 66.0%. Sebaliknya, recovery terendah sebesar 19.8% diamati pada penggunaan kolektor Xylene, fraksi ukuran partikel -230#+250#, dan pH 6. Temuan ini menggarisbawahi peran penting jenis kolektor, ukuran partikel, dan pH dalam mengoptimalkan proses flotasi emas.   This study investigated the influence of collector type, pH, and particle size on the flotation process of gold ore to enhance recovery. Flotation experiments were conducted using Dithiophosphate and Xylene as collectors, with varying pH levels (6, 8, and 10) and particle size fractions (-200#+230# and -230#+250#). The results indicated that Dithiophosphate consistently yielded significantly higher recovery rates compared to Xylene. The optimal conditions for gold recovery were identified using Dithiophosphate as the collector, with a particle size fraction of -230#+250# and a pH of 8, achieving a maximum recovery of 66.0%. Conversely, the lowest recovery of 19.8% was observed with Xylene as the collector, a particle size fraction of -230#+250#, and a pH of 6. These findings highlight the critical role of collector type, particle size, and pH in optimizing gold flotation processes.
EVALUASI “HYDRAULIC FRACTURING” PADA SUMUR MA DENGAN MELIHAT PERUBAHAN PARAMETER SKIN Almas Renzi Maorilla Achmad; Onnie Ridaliani; Aqlina Fathanissa
Jurnal Eksakta Kebumian Vol. 4 No. 1 (2025): JURNAL EKSAKTA KEBUMIAN (JEK)
Publisher : Fakultas Teknologi Kebumian dan Energi, Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/

Abstract

Produksi dilakukan dari lapisan R. Selanjutnya, dilakukan stimulasi berupa fracturing pada lapisan R1, dan kemudian kedua lapisan tersebut diproduksikan secara bersamaan melalui comingle completion. Faktor skin merupakan parameter kuantitatif yang merepresentasikan besarnya hambatan terhadap aliran fluida reservoir dari zona produktif menuju lubang sumur. Fenomena hambatan ini secara umum selalu dijumpai dalam operasi produksi, baik pada sumur minyak maupun sumur gas.   Production is carried out from layer R. Next, stimulation in the form of fracturing is carried out in layer R1, and then the two layers are produced simultaneously through comingle completion. Skin factor is a quantitative parameter that represents the amount of resistance to the flow of reservoir fluid from the productive zone to the wellbore. This resistance phenomenon is generally always encountered in production operations, both in oil wells and gas wells.