cover
Contact Name
Rini Setiati
Contact Email
rinisetiati@trisakti.ac.id
Phone
+6221-5663232
Journal Mail Official
jftke@trisakti.ac.id
Editorial Address
Fakultas Teknologi Kebumian dan Energi - Universitas Trisakti Kampus A, Gedung D Universitas Trisakti Jalan Kyai Tapa No. 1 Grogol, Jakarta Barat, Indonesia Phone: (62-21) 566 3232
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Eksakta Kebumian
Published by Universitas Trisakti
ISSN : -     EISSN : 2775913X     DOI : https://doi.org/10.25105/jek
Core Subject : Science,
Merupakan wadah untuk mempublikasikan karya tulis Teknik Perminyakan, Teknik Geologi dan Teknik Pertambangan. Karya tulis ilmiah yang dipublikasikan diharapkan dapat menjadi referensi perkembangan teknologi kebumian
Articles 185 Documents
EVALUASI BOTTOM HOLE ASSEMBLY TERHADAP PEMBORAN TRAYEK 9-7/8” PADA LAPANGAN PANAS BUMI KAMOJANG & SUNGAI PENUH Amrina Rosyada Putri
Jurnal Eksakta Kebumian Vol. 1 No. 2 (2020): Vol 1, No 2 (2020): JURNAL EKSAKTA KEBUMIAN (JEK)
Publisher : Fakultas Teknologi Kebumian dan Energi, Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (920.026 KB) | DOI: 10.25105/jek.v1i2.10799

Abstract

Pemboran berarah adalah suatu teknik pemboran dimana arah pemboran dibelokkan mengikuti lintasan yang telah direncanakan agar mencapai target yang diinginkan. Dalam pengaplikasiannya, pemboran panas bumi kini lebih mengutamakan metode pemboran berarah dibandingkan pemboran vertikal karena kemampuannya menjangkau daerah-daerah yang sulit untuk diproduksikan menggunakan pemboran vertikal. Penelitian ini membahas tentang kinerja bottom hole assembly yang digunakan pada pemboran trayek produksi di dua lapangan dengan litologi yang berbeda serta dampaknya terhadap lubang yang dihasilkan. Pada lapangan Kamojang, BHA yang digunakan merupakan tipe rotary assembly serta pada lapangan Sungai Penuh BHA yang digunakan ialah tipe slick steerable assembly. Dalam pelaksanaan pemboran, terdapat permasalahan yang sama dimana liner tidak dapat didudukkan hingga kedalaman akhir lubang sehingga harus melaksanakan pemboran trayek produksi tambahan. Batasan masalah penelitian adalah asumsi hole cleaning yang sudah maksimal dan kinerja drag sudah optimal, sehingga dapat menganalisa drilling parameter serta dapat menghitung dogleg severity menggunakan metode minimum of curvature. Dari penelitian ini didapatkan hasil pengamatan berupa apakah tipe BHA yang digunakan sudah tepat atau belum dan dapat diberikan saran-saran agar pengunaan BHA pada pemboran panas bumi di lapangan-lapangan tersebut lebih optimal. Kata kunci: panas bumi, teknik pemboran, pemboran berarah, bottom hole assembly, teknologi pemboran
KAJIAN TEKNIS PRODUKTIVITAS ALAT MUAT DAN ALAT ANGKUT PT. SDIC PAPUA CEMENT INDONESIA Rafael Agustinus Makambak
Jurnal Eksakta Kebumian Vol. 1 No. 2 (2020): Vol 1, No 2 (2020): JURNAL EKSAKTA KEBUMIAN (JEK)
Publisher : Fakultas Teknologi Kebumian dan Energi, Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (948.736 KB) | DOI: 10.25105/jek.v1i2.10800

Abstract

Untuk mencapai target produksi maka segala aspek perlu di perhatikan termasuk produktivita alat muat dan alat angkut. PT SDIC Papua Cement Indonesia, yang berlokasi di Kecamatan Maruni, Kabupaten Manokwari, Provinsi Papua Barat menambang batu gamping dengan system penambangan tambang terbuka dengan metode konvensional. Kegiatan penggalian dan pemuatan dilakukan oleh excavator 340D dan diangkut oleh dump truck hino 260. Target produksi yang ditetapkan perusahan yaitu 133333,3 ton/ bulan. Data yang diperlukan pada penelitian ini yaitu data cycle time dari alat muat dan alat angkut. Rata – rata cycle time yang diperoleh yaitu untuk dump truck 14 menit dan untuk excavator 17,25 detik. Data ini kemudian diolah menggunakan exel untuk menentukan efisiensi kerja. Setelah efisiensi kerja diperoleh maka dicari lagi produktivitas untuk tiap alat yaitu untuk dump truck dan excavator. Produktivitas yang didapat yaitu untuk dump truck 73.34 ton/jam dan excavator 207.01 ton/jam. Untuk mencapai target produksi jumlah alat yang diperlukan untuk dump truck 3 unit dan 1 unit excavator. Jam kerja yang diperlukan dalam 1 bulan yaitu 493,8071 jam/bulan. Match factor untuk 3 unit dump truck yaitu 0.7. Dengan 3 unit dump truck target produksi 133333,3 ton/ bulan tercapai. Kata-kata kunci: produktivitas, alat muat dan alat angkut , target produksi, waktu kerja
ANALISIS PENGANGKATAN CUTTING DENGAN METODE CTR, CCA DAN CCI PADA LUMPUR SOBM DAN WBM Di SUMUR LIT-15 Angela Priskila Lesilolo
Jurnal Eksakta Kebumian Vol. 1 No. 2 (2020): Vol 1, No 2 (2020): JURNAL EKSAKTA KEBUMIAN (JEK)
Publisher : Fakultas Teknologi Kebumian dan Energi, Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (253.44 KB) | DOI: 10.25105/jek.v1i2.10801

Abstract

Pada proses pemboran, lumpur pemboran merupakan faktor utama yang berperan dalam efisiensi, keselamatan dan kecepatan pemboran yang akan berpengaruh pada biaya proses pemboran. Dalam proses pemboran akan ditemui beberapa masalah, salah satunya adalah tertinggalnya cutting atau serbuk bor pada dasar sumur. Tidak terangkatnya cutting secara menyeluruh pada proses pemboran dapat menimbulkan beberapa masalah. Lumpur didefinisikan sebagai semua jenis fluida (cairancairan berbusa, gas bertekanan) dapat dipergunakan untuk menyelesaikan permasalahan tersebut, yaitu mengangkat cutting atau serbuk bor secara menyeluruh kepermukaan sehingga proses pemboran dapat berjalan dengan lancar. Pada penelitian ini akan menganalisis pengangkatan cutting pada sumur yaitu LIT-15. Terdapat tiga metode yang akan digunakan untuk penelitian pengangkatan cutting yaitu CTR (Cutting Transportation Ratio), CCA (Cutting Capacity Annulus) dan CCI (Cutting Carrying Index). Parameter yang dibutuhkan untuk analisa proses pengangkatan cutting adalah viskositas, yield point, gel strength, densitas, dan massa pada lumpur yang akan dirancang. Pada penelitian analisis pengangkatan cutting pada sumur LIT-15, tidak ditemukan permasalahan pada pengangkatan cutting tersebut secara signifikan. Hal ini diperoleh dengan parameter seperti plastic viscosity, yield point, density, rate of penetration, laju alir dan bahan dasar lumpur yang digunakan sesuai dengan kondisi sumur LIT-15. Jenis lumpur yang digunakan pada sumur LIT-15 mengalami perubahan bahan dasar lumpur pada intermediate casing dan production casing dari water base mud menjadi synthetic oil base mud. Pergantian bahan dasar lumpur dilihat dari masalah yang ditemukan yaitu gumbo yang pada akhirnya dapat terangkat pada surfacecasing dan jenis batuan yang ditembus intermediate casing dan production casing. Kata kunci: Lumpur Pemboran, Cutting, Cutting Transportation Ratio, Cutting Capacity Annulus, Cutting Carrying Index.
ANALISA KEBUTUHAN GRADER UNTUK PERBAIKAN JALAN ANGKUT PADA OPERASIONAL PENAMBANGAN DI PT KALTIM PRIMA COAL,SANGATTA, KALIMANTAN TIMUR Dhion Brahmansyah
Jurnal Eksakta Kebumian Vol. 1 No. 2 (2020): Vol 1, No 2 (2020): JURNAL EKSAKTA KEBUMIAN (JEK)
Publisher : Fakultas Teknologi Kebumian dan Energi, Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (712.704 KB) | DOI: 10.25105/jek.v1i2.10802

Abstract

PT Kaltim Prima Coal adalah perusahaan swasta yang bergerak di bidang pertambangan batubara yang terletak di Kecamatan Sangatta, Kabupaten Kutai Timur, Provinsi Kalimantan Timur. Sistem penambangan yang digunakan oleh PT Kaltim Prima Coal adalah sistem tambang terbuka (surface mining). Kegiatan operasi penambangan ditunjang dengan adanya Grader untuk memperbaiki jalan angkut. Penelitian pengamatan kebutuhan Grader dilakukan di Departemen Bintang dan Departemen Hatari yang merupakan bagian dari MOD (Mining Operation Division) PT Kaltim Prima Coal. Departemen Bintang memiliki 7 unit Grader 24 dan 2 unit Grader 16. Departemen Hatari memiliki 8 unit Grader 24 dan 4 Unit Grader 16. Produktivitas Grader di Departemen Bintang untuk Grader 24 yaitu 42,754.96 (m²/jam) dan 27,720.00 (m²/jam) untuk Grader 16. Produktivitas Grader di Departemen Hatari  untuk Grader 24 yaitu 34,923.06 (m²/jam) dan  24,867.28 (m²/jam) untuk Grader 16. Luas Area jalan angkut yang ada di Departemen Bintang sebesar  647,378.37 (m²) dan yang ada di Departemen Hatari sebesar  537,230.00 (m²). Setelah dilakukan pengamatan, kebutuhan Grader masih kurang dengan adanya luas jalan angkut dibandingkan dengan Produksi Grader yang ada di Departemen Bintang dan Departemen Hatari. Upaya meningkatkan kegiatan operasi penambangan dengan memperbaiki jalan angkut yaitu dengan cara Departemen Bintang untuk diperlukan penambahan 1 unit Grader eq 24 dan 2 unit untuk Departemen Hatari atau dengan cara meningkatkan kinerja operator agar Ketersedian Penggunaan sesuai dengan rencana.  Kata-kata kunci: operasi penambangan, perbaikan jalan, grader, produktivitas
OPTIMASI PENGEMBANGAN LAPANGAN “ARP” ZONA “R” BLOK “GT 2” DENGAN INJEKSI AIR MENGGUNAKAN SIMULASI RESERVOIR Ayu Regita Pramesti
Jurnal Eksakta Kebumian Vol. 1 No. 2 (2020): Vol 1, No 2 (2020): JURNAL EKSAKTA KEBUMIAN (JEK)
Publisher : Fakultas Teknologi Kebumian dan Energi, Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (281.895 KB) | DOI: 10.25105/jek.v1i2.10803

Abstract

Lapangan ARP merupakan salah satu lapangan tua yang terletak pada wilayah Sumatera Utara. Lapangan ARP mulai beroperasi di tahun 1930 dengan total cadangan sebesar 656.9 MMSTB. Berdasarkan bentuk patahannya Lapangan ARP terbagi menjadi 5 (lima) blok utama, yang dimana pada studi penelitian ini akan fokus pada optimasi perolehan minyak di Zona R Blok GT 2 untuk dilakukan skenario pengembangannya. Zona R Blok GT 2 memiliki total Original Oil in Place sebesar 16.08 MMSTB, dimana drive mechanism pada blok ini tergolong weak water drive. Menurut data sejarah produksi blok GT 2 hingga April 2017, diketahui nilai NP sebesar 5.07 MMSTB dengan recovery factor nya sebesar 32.6%. Tujuan utama dari studi penelitian ini adalah untuk mengetahui potensi penambahan produksi minyak bumi yang tertinggal melalui injeksi air dengan mempertimbangkan pola injeksi dan laju injeksi. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan Black oil Simulator pada CMG (Computer Modelling Group). Berdasarkan hasil perencanaan optimasi kegiatan injeksi air yang dilakukan melalui model simulasi, kegiatan pengembangan dilakukan dengan menggunakan empat skenario berdasarkan dua pola injeksi yaitu Pola Inverted 5 Spot dan Peripheral. Kegiatan optimasi injeksi dilakukan sejak tahun 2019-2035 dengan melakukan re-aktivasi sumur eksisting maupun penambahan sumur injeksi dan produksi. Dibandingkan dengan base case yang memiliki nilai cumulative produksi minyak sebesar 5077.9 MSTB dan persentase recovery factor sebesar 32.6%, skenario I dapat memperoleh nilai incremental yang lebih unggul dari ketiga skenario lainnya. Skenario I (Pola Inverted 5 Spot) memiliki tingkat produksi optimum pada laju injeksi 1500 BWPD dengan Incremental Oil Production sebesar 1178.7 MSTB dan total RF 40.27% dengan RF tambahan akibat injeksi air sebesar 7.67%. Beradasarkan keempat skenario yang di uji coba dalam model simulasi, skenario I menjadi pola yang lebih diunggulkan berdasarkan keberhasilan peningkatan faktor perolehan minyak. Kata kunci: Improved Oil Recovery; Pola Waterflood; Injeksi Air; Secondary Recovery; Simulasi Reservoir
EVALUASI DAN OPTIMASI HIDROLIKA LUMPUR PEMBORAN PADA SUMUR BGS LAPANGAN PRY Bagus Prasetya
Jurnal Eksakta Kebumian Vol. 1 No. 2 (2020): Vol 1, No 2 (2020): JURNAL EKSAKTA KEBUMIAN (JEK)
Publisher : Fakultas Teknologi Kebumian dan Energi, Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (124.639 KB) | DOI: 10.25105/jek.v1i2.10804

Abstract

Dalam operasi pemboran sering ditemukan berbagai macam masalah, salah satunya adalah dalam proses pengangkatan serbuk bor yang tidak maksimal. Pengangkatan serbuk bor yang tidak sempurna ini akan mengakibatkan masalah – masalah yang diantaranya adalah pembentukan gumbo yang berasal dari serbuk bor yang tidak terangkat, menumpuknya serbuk bor pada pahat sehingga mengakibatkan bit balling dan juga terjadinya pipa terjepit (stuck pipe) yang diakibatkan oleh proses pembersihan lubang yang tidak maksimal. Maka untuk meminimalisir terjadinya berbagai macam masalah tersebut, diperlukan optimasi hidrolika lumpur pemboran yang tepat. Evaluasi hidrolika memerlukan data hidrolika pemboran dan sifat fisik lumpur seperti laju alir (Q), densitas lumpur (ρ), plastic viscosity (PV), yield point (YP) dan data pemboran lainnya. Maksud dan tujuan dalam penulisan tugas akhir ini yaitu untuk mengetahui keefektifan sistem hidrolika lumpur pada sumur BGS lapangan PRY.Pada evaluasi dan optimasi hidrolika fluida pemboran sumur BGS lapangan PRY dilakukan dengan menggunakan metode BHHP. Evaluasi dan optimasi dilakukan dengan menganalisis jenis aliran yang terjadi baik di dalam pipa maupun di anulus, dengan membandingkan kecepatan kritis dan kecepatan rata-rata fluida pemboran maka dapat diketahui jenis alirannya. Lalu selanjutnya dengan menghitung kehilangan tekanan yang terjadi pada surface connection, drill pipe, dan anulus. Pada perhitungan aktual hidrolika trayek 17 ½ sumur BGS dengan densitas lumpur 10,1 ppg, laju alir 1000 pm, dan TFA 1,42 in2, didapatkan Pbit 460,99 psi. Pada trayek 12 ¼ dengan densitas 11,7 ppg, laju alir 800 gpm, dan TFA 1,37 in2 didapatkan Pbit 365,29 psi, dan pada trayek 8 ½ dengan densitas 10,5 ppg, laju alir 500 gpm, dan TFA 0,6627 in2 makadidapatkan Pbit 550,49 psi. Setelah di optimasi pada trayek 17 ½ didapat laju alir 1174,73 gpm dan TFA 0,88 in2, trayek 12 ¼ dengan laju alir 1003,08 dan TFA 0,90 in2, serta trayek 8 ½ dengan laju alir 557,66 dan TFA 0,57 in2. Kata kunci: Hidrolika Lumpur Pemboran, Cutting Transport Ratio, BHHP, ECD, PBI.
ANALISIS LAJU INFILTRASI TERHADAP KADAR AIR DALAM TANAH DAERAH LEUWINANGGUNG, DEPOK, JAWA BARAT Qonita Addina; Abdurrachman Assegaf
Jurnal Eksakta Kebumian Vol. 2 No. 1 (2021): JURNAL EKSAKTA KEBUMIAN (JEK)
Publisher : Fakultas Teknologi Kebumian dan Energi, Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Pada umumnya, kadar air dalam tanah mempunyai pengaruh terhadap laju infiltrasi tanah. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh kadar air dalam tanah terhadap laju infiltrasi daerah penelitian. Daerah penelitian terletak di Leuwinanggung, Kecamatan Tapos, Kabupaten Depok, Provinsi Jawa Barat. Nilai laju infiltrasi didapatkan dengan melakukan pengukuran dan perhitungan yang mengacu pada standar SNI 7752:2012. Nilai kadar air dalam tanah didapatkan dengan uji laboratorium contoh tanah dari lapangan mengacu pada ASTM D2216-19. Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai kadar air berbanding terbalik dengan nilai laju infiltrasi. Kata kunci:laju infiltrasi, infiltrometer, kadar air, leuwinanggung, air tanah Abstract In general, moisture content has its effect on infiltration rate. This research purpose is to determine the moisture content effect on infiltration rate of research area. Research area is located in Leuwinanggung, Depok Regency, West Java Province. Infiltration rate value is obtained by doing measurement and calculation referring to SNI 7752:2012. Moisture content is obtained by doing laboratory test on soil sample referring to ASTM D2216-19. This research result shows that moisture content value is inversely proportional towards infiltration rate. Keywords: infiltration rate, infiltrometer, moisture content, leuwinanggung, groundwater
ANALISIS KORELASI SIKUEN STRATIGRAFI PADA FORMASI AIR BENAKAT, BERDASARKAN DATA DESKRIPSI CORE DAN LOG SUMUR, LAPANGAN MINYAK “X”, LAPISAN “HJ”, CEKUNGAN SUMATRA SELATANLISIS LAIN DIDAERAH X Hisar Josua Apriano Simatupang
Jurnal Eksakta Kebumian Vol. 2 No. 2 (2021): JURNAL EKSAKTA KEBUMIAN (JEK)
Publisher : Fakultas Teknologi Kebumian dan Energi, Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Lapangan minyak “X” merupakan wilayah kerja dari KSO Pertamina EP – SE BWP Meruap yang berada pada Cekungan Sumatra Selatan. Penelitian ini difokuskan pada Formasi Air Benakat. Penelitian ini menerapkan fasies dan sikuen stratigrafi dengan metode korelasi, kalibrasi dan analisa, yang akan memberikan hasil berupa (1) Penentuan fasies dan litologi (litofasies, elektrofasies) (2) Penentuan marker / korelasi sikuen stratigrafi (3) Pemodelan peta isopach lingkungan pengendapan dan (4) Runtunan paleogeografi serta penampang yang mewakili setiap kronologi lingkunngan pengendapan yang berlanjut. Data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi integrasi dari: 6 data well logs, 1 data batuan inti (drilling core), 1 Side Wall Core (SWC).Interpretasi lingkungan pengendapan, dan korelasi marker sikuen stratigrafi pada lapangan minyak “X”, lapisan “HJ” antara lain ditentukan oleh analisis data well log. Pada area penelitian, litologi yang diperoleh berupa sandstone, shaly sand dan claystone disertai oleh analisa elektrofasies well log yang dilakukan terhadap enam sumur dan core berupa litofasies. Pola log gamma ray berhubungan dalam penentuan fasies, pada lapisan penelitian diperoleh dominan pola log berupa serrated, bell shape, funnel shape dan blocky. Berdasarkan asosiasi fasies yang didapatkan, lingkungan pengendapan pada lapisan “HJ” berupa upper shoreface, middle shoreface, lower shoreface, estuarine channel dan tidal mudflat. Beserta parasikuen pada area penelitian dibagi menjadi dua (2) parasikuen. Kata kunci: Cekungan Sumatra Selatan, Formasi Air Benakat, Fasies, Lingkungan Pengendapan, Sikuen Stratigrafi, Abstract The "X" oil field is the working area of ​​the KSO Pertamina EP - SE BWP Meruap located in the South Sumatra Basin. This research is specifically focused within the Air Benakat Formation. This study uses facies and stratigraphic sequences by applying basic correlation method, calibration and analysis, which will give results in the form of (1) Determination of facies and lithology (lithofacies, electrofacies) (2) Determination of marker / sequence stratigraphy corelation (3) Depositional environment isopach mapping(4) Paleogeographic sequences and cross section that represents each ongoing chronology of each depositional environment within. The data used in this study includes integration of 6 well logs data, 1 drilling core data, 1 Side Wall Core (SWC) data. Interpretation of depositional environments, and sequence stratigraphical markers on oil field “X”, "HJ" stratum, among others, are determined by analysis of well log data. In the study area, the lithology obtained consisted of sandstone, shaly sand and clay stone which was obtained by electrofacies log analysis carried out by six well logs and core obtaining lithofacies. Gamma ray log patterns are crucial for determining facies within the “HJ” stratum, dominant log patterns consists of serrated, bell shape, funnel and blocky. Based on the associations obtained, the depositional environment in the "HJ" stratum consists of the upper shoreface, middle shoreface, lower shoreface, estuarine channel and tidal mudflat. Along within the parasequence in the study was divided into two (2) parasequences. Keywords: South Sumatra Basin, Air Benakat Formation, Facies, Depositional Environment, Sequence Stratigraphy
ANALISIS PERBANDINGAN PENENTUAN PERINGKAT BATUBARA ANTARA REKLEKTAN VITRINIT DAN ANALISIS LAIN DIDAERAH X Hermawan Jaya Sinaga
Jurnal Eksakta Kebumian Vol. 2 No. 1 (2021): JURNAL EKSAKTA KEBUMIAN (JEK)
Publisher : Fakultas Teknologi Kebumian dan Energi, Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Lokasi penelitian terletak di Daerah X, Kotawaringin , Propinsi Kalimantan tengah. Tatanan Geologi Daerah Rantau berada di Cekungan Pembuang termasuk dalam Formasi Dahor berumur Miosen Akhir sampai Pliosen. Batubara daerah ini memiliki kematangan yang rendah (immature) dengan Rv (random) 0,28-0,39 termasuk peringkat Lignit dan Sub-bituminus menurut (ASTM D2798-06, 2006). Padakualitas ( analsis ultimat ) batubara formasi Dahor daerah X dalam Daf adalah karbon 69,39 % ; Hidrogen 5,08 % ; Nitrogen 0,87% ; Sulfur 0,80%, 23,86 % dengan peringkat batubara antara Lignit dan Sub-Bituminus menurut (Stach at el, ). Pada analisa proksimat yang dilakukan didapat nilai fuel ratio 0,77 – 1,38 yang mengindikasikan peringkat batubara yang sama yaitu Lignit dan Sub- Bituminus menurut (Diessel,1992) dengan nilai rata – rata batubara formasi Dahor daerah X adalah Inherent moisture 9,25% (adb), volatile meter 37,73% (adb); fixed carbon 36,72 ; ash 13,21 Total Sulfur 0,56 dan kalori 5021,98. Perbedaan kualitas batubara pada tiap sample dapat diperngaruhi oleh faktor suhu, tekanan dan waktu. Sedangkan untuk perbedaan pada tiap analisis dapat dipengaruhi faktor kesalahan analisa sampel , pengambilan sample dan preparasi sample. Kata kunci: batubara, mineral matter, refletansi virinit, maseral, analisis petrografi, analsis ultimat, analisa proksimat Abstract The research location is located in Region X, Kotawaringin, Central Kalimantan. The Overseas Regional Geological System is in the Pembuang Basin including the Late Dahor and Miocene Formation to the Pliocene. The coal of this region has a low maturity (immature) with Rv (random) from 0.28 to 0.39 including Lignite and Sub-bituminous ranks according to (ASTM D2798-06, 2006). On the quality (ultimate analysis) of Dahor area X coal formation in Daf is 69.39% carbon; Hydrogen 5.08%; Nitrogen 0.87%; Sulfur 0.80%, 23.86% with coal ranks between Lignite and Sub-Bituminus according to (Stach at el,). In the proximate analysis, the fuel ratio value of 0.77 - 1.38 obtained evaluates the same rank of coal, Lignite and Sub-Bituminus according to (Diessel, 1992) with the average value of Dahor coal formation in area X is the inherent humidity. , 25% (adb), volatile meters 37.73% (adb); fixed carbon 36.72; ash 13.21 Total Sulfur 0.56 and calories 5021.98. The difference in coal quality in each sample can be influenced by temperature, pressure and time factors. Meanwhile, the difference in each analysis can determine the error factor of analyzing samples, taking samples and sample preparation. Keywords : coal, mineral matter , reflektance virinit, maceral, petrographic analysis, proximate analysis, ultimate analysis
MENGATASI KICK PADA TRAYEK 12-¼” @ 2643 ft - 2757 ft DI SUMUR X MENGGUNAKAN METODE DRILLER Bimo Eko Laksono
Jurnal Eksakta Kebumian Vol. 2 No. 1 (2021): JURNAL EKSAKTA KEBUMIAN (JEK)
Publisher : Fakultas Teknologi Kebumian dan Energi, Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Kegiatan pemboran membuktikan bahwa adanya minyak dalam bumi. Kegiatan ini mempunyai hambatan hambatan yang bisa saja menghalangi kelancaran, salah satunya kick. Kick adalah kondisi pada saat tekanan formasi lebih besar daripada tekanan hidrostatis lumpur atau kondisi tekanan formasi yang abnormal sehingga menyebabkan kick. Kick pada sumur ini terjadi saat lanjut bor menggunakan bit 12-1/4" @ 2643 - 2757 ft pada kedalaman TVD 2757 ft, mud weight 9,07 ppg, tekanan yang terlihat pada indikator SIDPP = 256 psi, indikator SICP = 600 psi. Kick diatasi dengan menggunakan metode driller. Dengan menggunakan metode driller, influx dibuang terlebih dahulu. Kemudian, sirkulasikan lumpur yang lebih berat. Sirkulasi pertama segera dilakukan setelah sumur ditutup. Selama sirkulasi pertama, dilakukan pembuatan lumpur berat. Lumpur berat terbuat dari lumpur lama yang dicampurkan barite, sampai massa jenisnya mencapai KMW. Kemudian kill mud weight dapat diperhitungkan sesuai kondisi tersebut sebesar 10,9 ppg. Kick dapat diatasi saat tekanan turun dari sirkulasi awal ICP = 936,54 psi hingga tekanan sirkulasi akhir FCP = 814,38 psi. Kata Kunci: pemboran, kick, metode driller, tekanan hidrostatis, influx, TVD, MD, SIDPP, SICP, kill mud weight, ICP, FCP Abstract Drilling activities prove that there is oil in the earth. This activity has obstacles that can hinder smooth running, one of which kicks. Kick is a condition when formation pressure is greater than mud hydrostatic pressure or abnormal formation pressure conditions which cause kick. The kick on the well occurs when the drill continues using bits 12-1/4" @ 2643 - 2757 ft at a depth of 2757 ft TVD, mud weight 9.07 ppg, the pressure seen in the SIDPP indicator = 256 psi, the SICP indicator = 600 psi. The kick is overcome by using the driller method. By using the driller method, the influx is removed first, then circulates heavier mud. The first circulation is immediately carried out after the well is closed. During the first circulation, a heavy slurry is made. barite, until its density reaches KMW, then kill mud weight can be calculated according to the condition of 10.9 ppg. Kick can be overcome when the pressure drops from the initial ICP circulation = 936.54 psi until the final FCP circulation pressure = 814.38 psi. Keywords: drilling, kick, driller method, hydrostatic pressure, influx, TVD, MD, SIDPP, SICP, kill mud weight, ICP, FCP

Page 5 of 19 | Total Record : 185