cover
Contact Name
Rini Setiati
Contact Email
rinisetiati@trisakti.ac.id
Phone
+6221-5663232
Journal Mail Official
jftke@trisakti.ac.id
Editorial Address
Fakultas Teknologi Kebumian dan Energi - Universitas Trisakti Kampus A, Gedung D Universitas Trisakti Jalan Kyai Tapa No. 1 Grogol, Jakarta Barat, Indonesia Phone: (62-21) 566 3232
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Eksakta Kebumian
Published by Universitas Trisakti
ISSN : -     EISSN : 2775913X     DOI : https://doi.org/10.25105/jek
Core Subject : Science,
Merupakan wadah untuk mempublikasikan karya tulis Teknik Perminyakan, Teknik Geologi dan Teknik Pertambangan. Karya tulis ilmiah yang dipublikasikan diharapkan dapat menjadi referensi perkembangan teknologi kebumian
Articles 185 Documents
KAJIAN TEKNIS KINERJA MONITOR SEMPROT PADA JALUR PENCUCIAN BIJIH TIMAH, PT TIMAH TBK. Ryan Aldi Prasetiyo
Jurnal Eksakta Kebumian Vol. 2 No. 2 (2021): JURNAL EKSAKTA KEBUMIAN (JEK)
Publisher : Fakultas Teknologi Kebumian dan Energi, Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Slurry yang mengalir pada jalur pencucian bijih timah di TB 1.42 belum optimal. Sebab, masih banyaknya endapan solid di jalur pencucian bijih timah yang tidak terberai oleh debit air akibat pompa tidak cukup dalam membuat slurry dengan kepekatan yang sesuai dengan Standar Operasional Prosedur. penelitian ini bertujuan untuk menghitung besar nya material solid ,debit air dan efisiensi pompa serta upaya untuk mengatasi pengendapan tersebut.berdasarkan penelitian yang telah dilakukan didapatkan besar perbandingan material solid dengan air sebesar 5,4 dengan tetapan perusahaan sebesar 1. Besar debit air secara aktual sebesar 0,14 m3. Besar daya hidrolik pompa sebesar 33,95 HP. Besar daya nyata yang dikeluarkan pompa sebesar 53,93 HP. Efisiensi pompa sebesar 63%. Kesimpulan dari penelitian ini nilai perbandingan material solid sudah melebihi tetapan yang sudah diberikan perusahaan , dan menyebabkan terjadi nya pengendapan pada jalur pencucian bijih timah. Efisiensi pompa rendah dikarenakan nilai debit air belum mampu untuk mencukupi perbandingan material solid dan air. Kata kunci: bijih timah,debit air, slurry,solid, pompa. Abstract Slurry that flows on the leaching of lead ore in the TB 1.42 not optimal. Because, still the number of solid deposits on the leaching of lead ore that is not scattered by water discharge pump due to not enough in making slurry density corresponding to Standard Operational procedures. This research aims to quantify its large solid material, water discharge and the efficiency of the pump as well as efforts to address the deposition. based on research that has been done by mobilising a large solid material with water comparison of 5.4 with a company as big as 1. Actual water discharge large amounted to 0.14 m3. Large hydraulic power pump of Large power 33.95HP real issued a pump of 53.93 HP pump efficiency of 63%. The conclusions of this research material solid comparison value has exceeded the company's already given constants, and caused his deposition occurs on the leaching of lead ore. Pump efficiency is low due to he value of the water debit has not been able to fullfill comparison solid material and water. Keywords: tin ore, discharge water, slurry, solid, pump.
ANALISA KEBUTUHAN PENYANGGA PADA TAMBANG BAWAH TANAH PT ANTAM TBK UBPE PONGKOR Putri Marwandha Hatini
Jurnal Eksakta Kebumian Vol. 2 No. 2 (2021): JURNAL EKSAKTA KEBUMIAN (JEK)
Publisher : Fakultas Teknologi Kebumian dan Energi, Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract Massa batuan di daerah tempat penelitian yaitu Ciurug X-Cut 662 Level 600 berada pada kelas V (poor rock) yang menunkukan bahwa batuan tersebut buruk. Dengan kondisi massa batuan yang buruk tersebut apakah sistem penyanggan yang sudah ada masih sanggup menopangnya dan apakah lubang bukaan tersebut masih tetap dalam keadaan stabil. Analisis penyanggan dengan menggunakan klasifiksi RMR dengan mengitung beban runtuhan yang akan disangga sehingga dapat di lihat apakah penyanggan yang sudah ada maish sanggup atau harus ada rekomendasi penyanggan yang baru setelah di analisis didapatkan hasil dimana bebab rubruhan hanya sebesar 32,65125 sedangkan kekuatan support untuk shotcrete sebesar 53,244 dapat ditarik kesimpulan bahwa penyanggan yang sudah da masih layak dipakai dan tidak permu ada rekomendasi baru. Samun bila kita lihat pada table klasifikasi RMR langsung penyanggan yang cocok untuk batuan kelas V (poor rock) adalah menggunakan rockbolt sepanjang 4-5 meter dengan spasi 1-1,1.5 di atap dan dinding dan ditambah wire mesh. Shotcrete dengan tebal diatap 100-150mm dan 100mm disamping. Menggunakan medium ribs dengan spasi 1.5m Kata-kata kunci: RMR, Penyanggan, batuan kelas V(poorrock) Abstract The rock mass in the area where the study was Ciurug X-Cut 662 Level 600 was in class V (poor rock) which indicated that the rock was bad. With the condition of the poor rock mass whether the existing buffer system is still able to support it and whether the opening hole is still stable. Customer analysis using classification of RMR by calculating the collapse load that will be supported so that it can be seen whether the existing subscriber is capable or there must be a new customer recommendation after analysis shows that the rubbuhan is only 32.65125 while the support strength for shotcrete is 53,244 can be concluded that the subscriber that is already in use is still suitable to use and no need for new recommendations. Samun, if we look at the classification table of the direct subscriber RMR that is suitable for class V (poor rock), is to use rockbolt 4-5 meters long with spaces 1-1.1.5 on the roof and walls and wire mesh. Shotcrete is 100-150mm thick and 100mm thick beside. Using medium ribs with 1.5m spaces Keywords: RMR, support, rock class V(poorrock
ANALISIS REKAHAN MIKRO PADA BATUAN GRANITIK DAN KAITANNYA DENGAN STRUKTUR CEKUNGAN OMBILIN Muhamad Hafidh A; Muhammad Burhannudinnur; wildan Tri K
Jurnal Eksakta Kebumian Vol. 2 No. 2 (2021): JURNAL EKSAKTA KEBUMIAN (JEK)
Publisher : Fakultas Teknologi Kebumian dan Energi, Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Struktur geologi merupakan salah satu gejala umum yang mengakibatkan suatu batuan terdeformasi. Kajian geologi untuk mempelajari struktur geologi seperti orientasi dilakukan dengan melihat singkapan sesar yang ada di lokasi suatu daerah. Metode alternatif yang dapat digunakan yaitu dengan analisis rekahan mikro pada sayatan tipis. Penelitian dilakukan pada singkapan batuan dasar granitik pada sungai Indragiri di daerah Muaro Silokek, Sumatera Barat yang berada pada Cekungan Ombilin. Cekungan Ombilin dibentuk oleh dua terban yang memanjang dengan arah baratlaut-tenggara searah dengan struktur besar Sesar Sumatera berumur Paleogen dan Neogen, dibatasi oleh Sesar Tanjung Ampalu berarah utara-selatan. Pada daerah ini tersingkap batuan dasar (basement) dari Cekungan Ombilin yang berumur Triassic-Jurrasic dimana batuan dasar ini berwarna abu-abu kemerahan, euhedral-subhedral, fanerik, mineral feldspar, kuarsa, biotit, plagioklas, mika. Terdapat dua pola rekahan yaitu tenggara-baratlaut dan timurlaut-baratdaya yang saling berpasangan (konjugasi). Pada batuan dasar granitik ini didominasi oleh shear fracture. Kata-kata kunci: rekahan mikro, granitik, rekahan, Silokek, Cekungan Ombilin. shear fracture. Abstract Geological structure is one of the general facts found in a deformed framework. Geological studies to study geological structures such as moving by looking at fault outcrops in any area. An alternative method that can be used is by analyzing micro fractures in thin incisions. The study was carried out on the basic outcrops of granitic rocks on the Indragiri river in the Muaro Silokek area, West Sumatra which is in the Ombilin Basin. The Ombilin Basin is made by two beds extending northwest-southeast in the direction of the large structure of the Sumatran Fault and Paleogene and Neogen, understood by the north-south trending Tanjung Ampalu Fault. In this area the basement of the Ombilin Basin is descended from Triassic-Jurrasic descendants where the base is reddish gray, subuhedral euhedral, faneric, mineral feldspar, quartz, biotite, plagioclase, mica. There are two fracture patterns namely southeast-northwest and northeast-southwest that are mutually conjugated. On this basis the granitic is designed by shear fractures. Keywords: fracture micro, granitic, fracture, Silokek, Ombilin Basin, shear fracture.
ANALISA KUALITAS BATUBARA TERHADAP EFISIENSI PEMBAKARAN PADA BOILER UNIT 1 PLTU SURALAYA, MERAK, BANTEN Marieta Riana Riana
Jurnal Eksakta Kebumian Vol. 2 No. 2 (2021): JURNAL EKSAKTA KEBUMIAN (JEK)
Publisher : Fakultas Teknologi Kebumian dan Energi, Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

PLTU Suralaya merupakan Unit Pembangkit Listrik Tenaga Uap yang terletak di desa Suralaya, Kecamatan Pulo Merak, Kota Cilegon, Banten, Indonesia. Dalam melakukan proses pembakaran pada boiler menggunakan batubara sebagai bahan bakar untuk menghasilkan uap panas yang akan di konversikan menjadi energi kinetik untuk menghasilkan output berupa energi listrik yang akan dimanfaatkan untuk mendukung segala kebutuhan aktivitas manusia. Pada proses pembakaran batubara diperlukan proses pembakaran yang sempurna agar energi kalor yang ada pada batubara dapat dimanfaatkan secara maksimal, Oleh karen aitu, dalam mencapai pembakaran yang sempurnabahan bakar yang digunakan sebagai bahan bakar harus sesuai dengan kebutuhan boiler agar tercapai pembakaran yang sempurna, serta dapat mencapai nilai efisiensi yang optimal. Berdasarkan hasil pengujian kualitas batubara dalam basis As Received (Ar) yang dilakukan pada tanggal 27 Maret – 4 April 2019 menunjukkan bahwa batubara yang digunakan sebagai bahan bakar memiliki kandungan Total Moisture sebesar 29.99% ,Kadar abu sebesar 5.37%, Volatile matter sebesar 33.10%, Fixed Carbon sebesar 31.61%, Calorific value 4615.86Kcal/kg, Total Sulfur 0.39%, Carbon 48.21%, Hydrogen 5.10%, Nitrogen 0.84%, dan Oksigen 10.09%.Dari hasil pengujian tersebut membuktikan bahwa batubara yang digunakan sebagai bahan bakar belum sesuai dengan kebutuhan pembakaran pada boiler karena nilai kalor batubara yang digunakan belum mencapai kebutuhan, nilai kandungan sulfur dan hidrogen nya juga melampaui batas yang dipersyaratkan. Kata-kata kunci: Batubara, Analisis Proksimat, Total Sulfur, Nilai Kalor, Analisis Ultimat, Efisiensi Boiler Abstract Steam Power Plant Unit Suralayalocated in PuloMerak District, Cilegon City, Banten, Indonesia. In carrying out the combustion process on the boiler using coal as fuel to produce hot steam which will be converted into kinetic energy to produce output in the form of electrical energy that will be utilized to support all the needs of human activity. In the process of combustion of coal is needed a perfect combustion process so that the heat energy available in coal can be utilized to the maximum, therefore, in achieving perfect combustion the fuel used as fuel must be in accordance with the needs of the boiler in order to achieve perfect combustion, and can achieve optimal efficiency values. Based on the results of coal quality testing on an As Received (Ar) basis conducted on March 27 - April 4, 2019 showed that coal used as fuel has a Total Moisture content of 29.99%, Ash content of 5.37%, Volatile matter of 33.10%, Fixed Carbon by 31.61%, Calorific value 4615.86 Kcal / kg, Total Sulfur 0.39%, Carbon 48.21%, Hydrogen 5.10%, Nitrogen 0.84%, and Oxygen 10.09%. From the results of these tests prove that the coal used as fuel is not in accordance with the needs of combustion in the boiler because the calorific value of the coal used has not reached the requirement, the value of the sulfur and hydrogen content also exceeds the required limits. Keywords: Coal, Proximate Analysis, Total Sulfur, Calorific Value, Ultimate Analysis, Boiler Efficiency.
RANCANGAN SUMP DI PIT BARANI, SITE MARTABE GOLDMINE, PT AGINCOURT RESOURCES, SUMATERA UTARA Avito Lucas Hasianda
Jurnal Eksakta Kebumian Vol. 2 No. 2 (2021): JURNAL EKSAKTA KEBUMIAN (JEK)
Publisher : Fakultas Teknologi Kebumian dan Energi, Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Sumuran atau sump adalah tempat penampungan air yang berfungsi untuk menampung limpasan pada pit sebelum air tersebut dipompakan. Penelitian ini dilakukan untuk menentukan rencana kapasitas sump berdasarkan estimasi debit limpasan yang masuk ke dalam pit Barani PT Agincourt Resources, setelah itu dilakukan rancangan dimensi sump. Penelitian di Pit Barani menunjukan intensitas hujan yang terjadi sebesar 19,89 mm/jam, daerah tangkapan hujan seluas 0,168km2 dan koefisien limpasan sebesar 0,9. Debit limpasan yang dihasilkan sebesar 0,836 m3/detik dengan debit per jam 3.008 m3/jam. Dengan rata-rata jam hujan tersebut terjadi selama 3,8 jam (per hari) maka volume limpasan yang dihasilkan sebesar 11.430 m3. Volume tersebut diterjemahkan dalam rancangan dimensi sump dengan trial and error dengan volume 11.810 m3, dengan dimensi penampang atas (55x50) m2, penampang bawah (47x42) m2, dan ketinggian 5m. Dikarenakan rancangan sump dilakukan dengan mempertimbangkan terjadi sedimentasi akibat erosi pada lereng-lereng tambang, penampang dasar sump dibuat sebesar 4%. Akibatnya terjadi penambahan panjang disalah satu sisi setinggi 1,88 m. penambahan tinggi tersebut membuat penambahan volume sump sebesar 1.855,56 m3. Sehingga dihasilkan rancangan kapasitas sump sebesar 13.665,56 m3. Kata-kata kunci: intensitas, debit limpasan, sump Abstract The Sumuran or sump is a water shelter that serves to accommodate the runoff at the pit before the water is pumped. This research was conducted to determine the plan of sump capacity based on the estimation of the discharge of the runoff that entered into the Barani pit of PT Agincourt Resources, after which the design of the dimensions of the sump. The research at Pit Barani showed a rain intensity of 19.89 mm/hr, rain catchment area of 0, 168km2 and a coefficient of runoff of 0.9. The resulting runoff discharge is 0.836 m3/sec with an hourly discharge of 3,008 m3/hour. With the average rainy hours it occurs for 3.8 hours (per day) then the volume of the resulting rundown of 11,430 m3. The volume was translated in the draft dimensions of the sump with trial and error with a volume of 11,810 m3, with a dimension of upper section (55x50) M2, cross section (47x42) m2, and a height of 5m. Because the draft of sump is done with the consideration of sedimentation due to erosion on the slopes of the mine, the Base section of the sump is 4%. Consequently, there is a long addition to one side, as high as 1.88 m. The addition of the height makes the addition of volume sump of 1,855.56 m3. Therefore, the draft capacity of 13,665.56 M3 sump Keywords: intensity, runoff, wells
ANALISIS ZONA GERAKAN TANAH BERDASARKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS PURWOREJO, JAWA TENGAH Himawan Sutanto; Afiat Anugrahadi
Jurnal Eksakta Kebumian Vol. 2 No. 2 (2021): JURNAL EKSAKTA KEBUMIAN (JEK)
Publisher : Fakultas Teknologi Kebumian dan Energi, Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Secara administrasi daerah penelitian berada pada deaerah Desa Rejowinangun, Kecamatan Kemiri, Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa Tengah. Daerah penelitian mempunyai intensitas curah hujan termasuk golongan intensitas curah hujan tinggi dan kemiringan lereng yang curam. Hal tersebut dirasa akan sangat penting dalam penelitian kestabilan lereng pada lokasi penelitian dan menjadi faktor penting dalam melakukan penelitian. Adapun tujuan penelitian adalah membuat peta – peta yang terdiri dari peta litologi, kemiringan lereng, tata guna lahan, dan curah hujan yang dapat digunakan untuk mengetahui zona gerakan tanah, menginterpretasi jenis dari gerakan tanah, menentukan beberapa faktor utama yang mempengaruhi gerakan tanah, dan membuat peta tata guna lahan VS peta kerentanan gerakan tanah. Metode penelitian menggunakan klasifkasi SNI (Standar Nasional Indonesia) merupakan suatu metode yang digunakan untuk menghitung dan menyajikan kecenderungan terjadinya bencana dengan memperhatikan aspek lingkungan berdasarkan suatu buku pedoman, yaitu SNI ISO 19110:2015. Kata kunci: Gerakan Tanah, Sistem Informasi Geografis, Purworejo. Abstract Administratively the research area is in the area of Rejowinangun Village, Kemiri District, Purworejo Regency, Central Java Province. Soil / landslide movement is a consequence of the dynamic phenomena of nature to achieve new conditions due to the disturbance of the slope balance that occurs, both naturally and due to human activities. The purpose of this study is to conduct geological mapping so that it can produce several maps that are used to determine the movement of the ground and also can find thematic maps in the form of spatial data with the help of GIS (Geographic Information System). The research method using SNI classification (Indonesian National Standard) is a method used to calculate and present trends in the occurrence of disasters by taking into account environmental aspects based on a guidebook, namely ISO 19110: 2015. Keyword: Landslides, Geographic Information System, Purworejo.
EVALUASI KINERJA DOUBLE ROLLER CRUSHER PADA CLAY QUARRY di PT. SINAR TAMBANG ARTHALESTARI, KECAMATAN AJIBARANG, KABUPATEN BANYUMAS, JAWA TENGAH Muhammad Fikrano
Jurnal Eksakta Kebumian Vol. 2 No. 2 (2021): JURNAL EKSAKTA KEBUMIAN (JEK)
Publisher : Fakultas Teknologi Kebumian dan Energi, Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Pabrik Clay Crusher (CC)adalah pabrik yang mengolah clay untuk bahan baku semen pada PT. Sinar Tambang Arthalestari namun produksi aktualnya masih 901 ton/hari dari target produksi 1.500 ton/hari. Maka dilakukan penelitian untuk mencari faktor yang mempengaruhi pencapaian target produksi yaitu dengan cara pengambilan data primer berupa CT Dump Truckdan Monthly Maintenance Report bulan Mei dan juga data pendukung yaitu data sekunder pada bulan April berupa data produksi clay dan Monthly Maintenance Report. Selanjutnya dilakukan pengolahan dan analisa data pada waktu kerja (W) CC untuk mengetahui apakah sudah optimal atau belum waktu kerja alatnya. Hasil perhitungan nilai ketersediaan alat untuk Effective Utilization (EU)CCsebesar 64%, namun angka ini masih tergolong rendah.Oleh karena ituperlu dilakukan evaluasi waktu kerja (W) karena terdapat hal-hal yang menghambat proses peremukan clay sehingga memakan waktu sebesar 178,31 jam,akibatnya waktu kerja (W) hanya 312 jam selama periode April-Mei atau hanya 5,1 jam/hari dari waktu tersedia yaitu 8 jam/hari. kemudian dengan melakukan evaluasi pada waktu hambatan tersebut yaitu dengan cara mengembalikan pada waktu toleransi perusahaan serta menghindari kegiatan-kegiatan yang dapat menghambat proses peremukan maka waktu hambatan nya berkurang menjadi 68,6 jam sehingga waktu kerja (W) menjadi 6,9 jam/hari dan EU meningkat menjadi 86,2 %. Namun setelah mengevaluasi waktu hambatan, hasil produksi masih belum tercapai. Oleh karena itu direkomendasikan untuk menambah kecepatan Appron Feeder menjadi 200 m/jam sehingga diharapkan produksi clay meningkat menjadi 1530 ton/hari dari target produksi 1.500 ton/hari. Kata kunci:Effective Utilization, Clay Crusher, Target Produksi, Waktu Hambatan, Waktu Kerja. Abstract Clay Crusher Factory (CC) is a factory that processes clay for cement raw materials at PT. Sinar Tambang Arthalestari (STAR) but the actual production is still 901 tons / day from the production target of 1,500 tons / day. Then research was conducted to find factors that influence the achievement of production targets, namely by taking primary data in the form of CT Dump Truck and Monthly Maintenance Report in May and also supporting data, namely secondary data in April in the form of clay production data and Monthly Maintenance Report. Furthermore, data processing and analysis is carried out at work time (W) CC to find out whether it is optimal or not working time for the tool. The results of calculating the availability of tools for Effective CC (EU) Utilization is 64%, but this figure is still low. Therefore it is necessary to evaluate work time (W) because there are things that hinder the process of clay crushing so that it takes 178.31 hours, consequently working time (W) is only 312 hours during the April-May period or only 5.1 hours / day from available time which is 8 hours / day. then by evaluating the time of the obstacle by returning to the company's tolerance time and avoiding activities that can inhibit the crushing process, the time of the obstacle decreases to 68.6 hours so that the working time (W) becomes 6.9 hours / day and The EU increased to 86.2%. But after evaluating the time of the obstacle, the production results have still not been achieved. Therefore it is recommended to increase the Appron Feeder speed to 200 m / hour so that clay production is expected to increase to 1530 tons / day from the production target of 1,500 tons / day. Keywords: Effective Utilization, Clay Crusher, Production Target, Downtime,Working Hours.
ANALISIS STRUKTUR PADA DAERAH NATUNA BARAT Muhammad Rizki Rahadiansah; Agus Guntoro
Jurnal Eksakta Kebumian Vol. 2 No. 2 (2021): JURNAL EKSAKTA KEBUMIAN (JEK)
Publisher : Fakultas Teknologi Kebumian dan Energi, Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Interpretasi struktur pada daerah Natuna Barat telah dilakukan menggunakan metode rekonstruksi penampang berdasarkan data seismik dan sumur untuk memahami karakteristik pembentukan Cekungan Natuna, memahami sejarah pembentukan cekungan dan pasca pengendapan, dihubungkan dengan pembentukan struktur dan tektonik aktif, menganalisis geometri struktur serta besaran deformasi. Data seismik yang digunakan mempunyai 31 line seismik, dimana terdapat 2 sumur yang berpotongan terhadap seismik dan 2 sumur tidak berpotongan atau proyeksi sedangkan metode rekonstruksi penampang digunakan pendekatan metode Palinspastic. Berdasarkan hasil interpretasi interpretasi struktur pada seismik menunjukkan bahwa adanya rifting pada awal pengendapan sehingga terbukanya cekungan dan kemudian dilanjutkan dengan inversi kuat sehingga menciptakan antiklin besar. Struktur berarah timur laut-barat daya merupakan struktur tua berupa sesar turun yang berumur Eosen-Oligosen disebabkan patahan mendatar mengiri. Struktur berarah barat laut-tenggara merupakan struktur muda yang berumur miosen-pliosen disebabkan gaya compressional yang terjadi akibat perubahan patahan mengiri berubah menjadi patahan menganan. Analisis tektonik pada daerah penelitian menunjukan bahwa gaya utama berupa extensional dan compressional dihasilkan oleh adanya tektonik intrusi antara lempeng India dan lempeng Eurasia. Berdasarkan hasil rekonstruksi palinspastik didapatkan hasil berupa compressional adalah gaya utama yang bekerja pada daerah penelitian. Kata kunci: Cekungan, Natuna Barat Abstract Interpretation of the structure in the West Natuna area has been carried out using a cross section reconstruction method based on seismic and well data to understand the characteristics of the Natuna Basin formation, understanding the history of basin formation and post-deposition, associated with the formation of active structures and tectonics, analyzing the geometry of the structure and the amount of. The seismic data used has 31 seismic lines, where there are 2 wells that intersect the seismic and 2 non-intersecting wells or projections while the cross sectional reconstruction method is used the Palinspastic method approach. Based on the results of structural interpretation on seismic shows that there is a rifting at the beginning of deposition so that the opening of the basin and then continued with strong inversion so as to create a large anticline. The northeast-southwest trending structure is an old structure in the form of a down fault which is Eocene-Oligocene due to horizontal flattening. The northwest-southeast trending structure is a young structure that is miocene-pliocene in age due to the compressional force that occurs due to changes in the left-wing fracture which transforms into a safety fracture. Tectonic analysis in the study area shows that the main force in the form of extensional and compressional is produced by the tectonic intrusion between the Indian plate and the Eurasian plate. Based on the results of the Palinspastik reconstruction the compressional form is the main force acting in the study area. Keyword: Basin, West Natuna
KLASIFIKASI MASSA BATUAN PADA KUARI B4 PT. SEMEN TONASA, KABUPATEN PANGKEP, SULAWESI SELATAN Eben Ezer Sitompul
Jurnal Eksakta Kebumian Vol. 2 No. 2 (2021): JURNAL EKSAKTA KEBUMIAN (JEK)
Publisher : Fakultas Teknologi Kebumian dan Energi, Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak PT Semen Tonasa melakukan kegiatan eksploitasi batu gamping, kuari B4 merupakan blok kuari yang sudah selesai ditambang dan lereng pada kuari B4 akan dirapihkan dimana perlu adanya klasifikasi massa batuan agar dapat mengetahui kelas – kelas massa batuan dan nilai dari klasiikasi massa batuan di kuari B4 yang merupakan akses masuk kuari B5 atas, B6, B8, dan B9. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelas – kelas massa pada lereng di elevasi 80 meter. Begitu didapatkan kelas dari massa batuan lereng di kuari B4, nilai dari rock mass rating tersebut dapat digunakan sebagai pertimbangan dalam perancangan eometri lereng. Data primer dikumpulkan melalui window mapping, dimana semua struktur yang tersingkap pada permukaan lereng dicatat (dengan satuan luasan) dan dibagi kedalam beberapa segmen. Lereng dibagi kedalam 5 cell / window dan mengukur orientasi bidang lemah dan kondisi bidang lemah yang ada dan kemudian dikonversi menjadi klasifikasi massa batuan rock mass rating Bieniawski tahun 1989. Kata-kata kunci: Rock mass rating Bieniawski, window mapping, massa batuan. Abstract PT Semen Tonasa conducts exploitation of limestone, B4 quarry is a quarry blocks that have been mined and slopes in quarry B4 will be trimmed where there is a need for classification of rock masses in order to know rock mass classes and values ​​of rock mass classi fi cation in quarry B4 is access to upper quarry B5, B6, B8, and B9. This study aims to determine the classes of mass on the slope at an elevation of 80 meters. Once the class of slope rock mass is obtained in quarry B4, the value of rock mass rating can be used as a consideration in designing slope geometry. Primary data is collected through a mapping window, where all structures exposed on the slope surface are recorded (in units of area) and divided into several segments. Slope surface is divided into 5 cell / window and measures the orientation of weak fields and weak field conditions that exist and then converted into a mass classification of rock mass rating of Bieniawski in 1989 Keywords: Bieniawski’s rock mass rating, window mapping, rock mass
ANALISIS DIAGENESIS BATUPASIR FORMASI JATILUHUR SUNGAI CIPAMINGKIS BERDASARKAN ANALISA SCANNING ELECTRON MICROSCOPE ( SEM ) Kevin Virgian; Firman Herdiansyah
Jurnal Eksakta Kebumian Vol. 2 No. 2 (2021): JURNAL EKSAKTA KEBUMIAN (JEK)
Publisher : Fakultas Teknologi Kebumian dan Energi, Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Dalam kegiatan eksplorasi minyak dan gas bumi, batuan sedimen kerap menjadi target reservoar potensial. Besarnya cadangan yang tersimpan dalam reservoar batuan sedimen ditentukan oleh kemampuan batuan reservoar tersebut untuk menampung hidrokarbon. Salah satu faktor yang paling berpengaruh adalah porositas batuan. Secara umum, semakin tinggi nilai porositasnya, jumlah hidrokarbon yang dapat disimpan dalam reservoar akan cenderung semakin besar. Lapangan penelitian berada pada daerah Sungai Cipamingkis, Kecamatan Jonggol, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat. Maksud dari penelitian ini adalah untuk melakukan penentuan tingkat dan proses diagenesis yang terjadi pada batupasir Formasi Jatiluhur, melalui observasi lapangan dan analisis laboratorium berupa data SEM (Scanning Electron Microscope). Tujuan dari penelitian ini adalah menerapkan ilmu-ilmu geologi, menginterpretasikan keadaan geologi, serta hubungan diagenesis batuan pada daerah penelitian. Data yang digunakan dalam penelitian adalah data berupa observasi lapangan, lintasan sungai daerah Cipamingkis dan analisis proses diagenesis yang terjadi melalui hasil uji SEM (Scanning Electron Microscope). Secara geografis daerah penelitian berada pada koordinat 107o02’00.5” - 107o02’07.1” BT dan 06o32’01.0” - 06o32’00.9” LS dan secara fisiografis termasuk kedalam bagian utara Zona Antiklinorium Bogor yang berbatasan dengan Zona Dataran Pantai Utara. Diagenesis terbagi menjadi 3 tahap yaitu Eogenesis, Mesogenesis, Telogenesis. Daerah penelitian termasuk kedalam Mesogenesis karena pada setiap sampel batuan yang telah di analisis terdapat mineral lempung berupa mineral Illite, Kaolinite. Kata-kata kunci: diagenesis, SEM, mesogenesis, illite, kaolinite Abstract In oil and gas exploration activities, sedimentary rocks are often a potential reservoir target. The amount of reserves stored in the sedimentary rock reservoir is determined by the ability of the reservoir rock to accommodate hydrocarbons. One of the most influential factors is rock porosity. In general, the higher the porosity value, the amount of hydrocarbons that can be stored in a reservoir will tend to be even greater. The research field is in the Cipamingkis River area, Jonggol, Bogor, West Java Province. The purpose of this study is to determine the level and process of diagenesis that occurs in sandstones of the Jatiluhur Formation, through field observations and laboratory analysis with SEM (Scanning Electron Microscope). The purpose of this study is to apply the geological sciences, interpret geological conditions, and the relationship of rock diagenesis in the study area. The data used in the study are data in the form of field observations, river crossings in the Cipamingkis area and analysis of the diagenetic process that occurs through SEM (Scanning Electron Microscope) test results. Geographically the study area is at coordinates 107o02’00.5” - 107o02’07.1” BT and 06o32’01.0” - 06o32’00.9” LS and physiographically belongs to the northern part of the Bogor Anticlinorium Zone bordering the North Coast Plain Zone. Diagenesis is divided into 3 stages namely Eogenesis, Mesogenesis, Telogenesis. The study area is included in Mesogenesis because in each rock sample that has been analyzed there are clay minerals in the form of mineral Illite, Kaolinite. Keywords: diagenesis, SEM, mesogenesis, illite, kaolinite

Page 8 of 19 | Total Record : 185