cover
Contact Name
Nailis Syifa
Contact Email
nailissyifa@umm.ac.id
Phone
+6285810289644
Journal Mail Official
farmasains@umm.ac.id
Editorial Address
Jl. Bendungan Sutami No.188, Sumbersari, Kec. Lowokwaru, Kota Malang, Jawa Timur 65145
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Farmasains : Jurnal Farmasi dan Ilmu Kesehatan
ISSN : 20863373     EISSN : 2620987X     DOI : 10.22219
Core Subject : Health, Science,
Farmasains publishes articles that cover textual and fieldwork studies with various perspectives of pharmacy science including: Pharmaceutical Technology Pharmaceutical Chemistry Biology Pharmacy and Natural Products Pharmacology and Toxicology Clinical Pharmacy Community Pharmacy Pharmacoepidemiology Pharmacogenomic and Pharmacogenetic Pharmacoeconomic Health-related topics
Articles 170 Documents
PEMANFAATAN BIJI Nigella sativa DALAM TERAPI PENYEMBUHAN KANKER DAN GANGGUAN METABOLISME Ahmad Shobrun Jamil
Farmasains : Jurnal Farmasi dan Ilmu Kesehatan Vol. 1 No. 1 (2010): April-September 2010
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/far.v1i1.422

Abstract

The seed of Nigella sativa has long time ago employed as medicinal remedy for numerous disorders. N.sativa has active compounds in its seed likes nigellisine, nigellidine, nigellimine-N-oxide, thymoquinone, dithymoquinone, thymohydroquinon, nigellone, thymol, arvacrol, oxy-coumarin, 6-methoxycoumarin, 7-hydroxy-coumarin, alpha-hedrin, steryl-glucoside, flavonoids, tannins, essential amino acid, ascorbic acid, and minerals. The seed has various curative activities. As body immunity stimulator by stimulating the formations of bone marrow and many kind of antibody cells, antihistamine, anti-hypertension, anti-inflammation, antimicrobial activities by protecting bodies from viruses and decreasing the risk of infections, anti-diabetic (metabolic syndrome), and anti cancer. These papers have to discuss deeper about the beneficial aspect of N. sativa seed against metabolic syndrome and cancer. Based on several research known that N. sativa has potential to decrease total cholesterol, low density lipoprotein and blood glucose level. This seed also has potential to maintain the homeostatic of blood vessels as the backbone of the circulatory system in the body. At the cancer case, this seed substances has potential to decreasing the development of cancerous cells, kills the cells by enhances its apoptotic programs and also lessening the metastasis of the cancer cells. Keywords: cancer, metabolic syndrome, Nigella sativa
PENELUSURAN MEKANISME FLAVONOID KULIT JERUK KEPROK (Citrus reticulata) SEBAGAI AGEN KEMOPREVENTIF MELALUI DOCKING MOLEKULER PADA PROTEIN TARGET CYP1A2 Perdana Adhi Nugroho, Dyani P Sukamdi, Andita Pra Darma, Riris Istighfari Jenie, Edy Meiyanto
Farmasains : Jurnal Farmasi dan Ilmu Kesehatan Vol. 1 No. 1 (2010): April-September 2010
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/far.v1i1.423

Abstract

Subklas flavonoid khususnya golongan polimetoksiflavon menunjukan aktivitas kemopreventif pada berbagai sel kanker secara in vitro dan beberapa studi in vivo. Pada tahapan inisiasi kanker, bioaktivasi karsinogen polisiklik aromatik hidrokarbon secara signifikan dapat direduksi oleh senyawaan polimetoksiflavon melalui penghambatan sistem enzim sitokrom P450 (CYP) dalam level transkripsi gen maupun interaksi langsung dengan enzim tersebut. Pada tahapan promosi kanker, berbagai studi menunjukan bahwa proliferasi sel kanker dihambat lebih kuat oleh golongan metoksiflavon dibandingkan hidroksiflavon. Tangeretin, nobiletin, naringin dan hesperidin adalah beberapa senyawa polimetoksiflavon dari kulit jeruk keprok yang dilaporkan memiliki efek kemopreventif melalui modulasi aktivitas CYP1A2. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui afinitas, konformasi dan interaksi senyawa berkerangka polimetoksiflavon kulit jeruk keprok (Citrus reticulata) terhadap protein target CYP1A2 menggunakan molecular docking. Optimasi geometri struktur polimetoksiflavon dilakukan dengan piranti lunak Molecular Operating Environment for Windows. Konformasi optimum struktur polimetoksiflavon dihasilkan menggunakan metode semiempirik AMBER99. Kemudian dilakukan proses docking senyawa uji dengan bindingsite CYP1A2 (PDB ID:2HI4) menggunakan piranti lunak Molecular Operating Environment for Windows dalam kondisi tanpa air. Hasil docking senyawa golongan polimetoksiflavon dibandingkan dengan native ligan pada target CYP1A2, menunjukkan interaksi polimetoksiflavon yang lebih kuat dibanding interaksi ligan pembanding á-naphtoflavon. Kata kunci: Citrus reticulata, polimetoksiflavon, molecular docking, CYP1A2
PENGARUH PEMBERIAN INFUS BUAH BELIMBING WULUH (Averrhoa bilimbi l) TERHADAP KADAR KOLESTEROL DARAH TIKUS Masruhen .
Farmasains : Jurnal Farmasi dan Ilmu Kesehatan Vol. 1 No. 1 (2010): April-September 2010
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/far.v1i1.424

Abstract

Telah dilakukan penelitian tentang pengaruh infus buah belimbing wuluh terhadap kadar kolesterol darah tikus. Penelitian terdahulu membuktikan bahwa air perasan belimbing wuluh dengan volume 1ml, 1,5ml, 2ml, dan 2,5ml secara oral pada tikus putih dapat menurunkan kadar kolesterol dalam serum darahnya. Belimbing wuluh mengandung senyawa flavonoid, pektin dan vitamin C yang dapat menurunkan tekanan darah. Buah belimbing wuluh mempunyai rasa yang sangat masam, sehingga orang enggan memakan langsung atau diperas airnya. Dengan membuat infus dapat mengurangi rasa masam pada belimbing wuluh. Dengan cara penyarian infundasi zat aktif flavonoid, pektin dan vitamin dapat tersari, namun demikian perlu diuji efek menurunkan kadar kolesterolnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh infus buah belimbing wuluh terhadap kadar kolesterol darah tikus. Penelitian dilakukan dengan menggunakan 15 ekor tikus putih yang dibagi dalam 5 kelompok percobaan. Masing-masing tikus diberi asupan kolesterol tinggi kuning telur ayam 54 mg/200 g BB, dan diukur kadar kolesterol darahnya menggunakan chip strip chek kolesterol. Berikutnya, kelompok I diberi infus belimbing wuluh dosis 1,8 g/200 g BB, kelompok II dosis 3,6 g/200 g BB, kelompok III dosis 5,4 g/200 g BB, kelompok IV diberi gemfibrozil dosis 10,8 mg/200 g BB sebagai kontrol positif, kelompok V diberi aquades sebagai kontrol negatif, dan diukur kadar kolesterolnya. Data dianalisis mengunakan analisis Kovariansi dan dilanjutkan uji SNK. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian infus belimbing wuluh menyebabkan penurunan kolesterol darah tikus secara bermakna. Analisis kovariansi menghasilkan nilai F hitung = 43,41 yang lebih besar dari F tabel = 6,55 (p > 0,01). Hasil uji SNK menunjukkan perbedaan yang tidak bermakna antara kontrol negatif dengan kelompok I, tetapi berbeda bermakna dengan kelompok II, III dan IV. Terdapat perbedaan bermakna antara kelompok I, II, dan III. Kontrol positif berbeda tidak nyata dengan kelompok III. Dari data penelitian dapat disimpulkan bahwa infus buah belimbing wuluh dosis 3,6 g, dan 5,4 g /200 g BB dapat menurunkan kadar klesterol darah tikus. Dosis 5,4 g memberikan efek yang setara dengan gemfibrozil 10,8 mg/200 g BB. Kata kunci : infus, buah belimbing wuluh, kadar kolesterol darah.
PENGARUH POLIFENOL TEH HIJAU TERHADAP PRODUKSI TNF-A (TUMOUR NECROSIS FACTOR-A) PADA KULTUR SEL TROFOBLAS MANUSIA YANG DIPAPAR GLUKOSA TINGGI 33 Mm Siti Aisah; Sasmito Djati; Husnul Khotimah
Farmasains : Jurnal Farmasi dan Ilmu Kesehatan Vol. 1 No. 1 (2010): April-September 2010
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/far.v1i1.425

Abstract

The purpose of this research was to study the effect of green tea polyphenol to TNF-á production on human trophoblast cell culture exposed by 33 mM glucose. Trophoblast culture isolated from human fetal placental tissue by sectio caessaria. Monolayer trophoblast cells that had been incubated for 3 days at 5% CO2; 37°C were divided into 2 groups: (1) normal glucose (5 mM) and (2) glucose 33 mM exposure, both divided into 2 sub groups: (a) without green tea polyphenol treatment, and (b) green tea polyphenol treatment 0,1; 0,2; and 0;4 mg/ml. Cells incubated for 3 days at 5% CO2; 37°C then analyzed cytotrophoblast cells characteristic. TNF-á level was measured by ELISA and analyzed with oneway ANOVA. Immunocytochemistry showed the number of cells that expressed TNF-á then analyzed descriptively. The results of this study showed that TNF-á level at 0,1; 0,2; and 0,4 mg/ml polyphenol were 2804,333 ñg/mL; 2513,222 ñg/ml; and 2739,889 ñg/ml respectively compared with 2739,889 ñg/mL normal glucose without polyphenol, and 2721,000 ñg/mL; 2612,111 ñg/mL; and 2566,555 ñg/mL compared with 2621,000 ñg/mL glucose 33 mM exposure without polyphenol. Number of cells that expressed TNF-á with 0,1; 0,2; and 0,4 mg/ml polyphenol treatment were 0%; 2%; and 5,5% compared with 0% normal glucose without polyphenol, and 82%; 0%; and 0% compared with 3% glucose 33 mM exposure without polyphenol. Green tea polyphenol exposure for 3 days at 0,1; 0,2; and 0,4 mg/ml didn’t significantly affect the decreasing of TNF-á production. Keywords: GDM, green tea, polyphenol, TNF-á, trophoblast
PENGARUH SARI SEDUH TEH HITAM (Camelia sinensis) TERHADAP PENGHAMBATAN PPAR γ SEL ADIPOSA JARINGAN LEMAK VISERA Rattus norvegicus STRAIN WISTAR Elan Herlina; Fatchiyah .; Rasjad Indra
Farmasains : Jurnal Farmasi dan Ilmu Kesehatan Vol. 1 No. 1 (2010): April-September 2010
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/far.v1i1.426

Abstract

Penelitian bertujuan mengetahui pengaruh sari seduh teh hitam terhadap pengekspresian PPAR ã sel adiposa jaringan lemak visera Rattus norvegicus strain Wistar. Duabelas ekor tikus (Rattus norvegicus strain Wistar) jantan umur 6-8 minggu, berat 200 gram, diberi 4 macam perlakuan, yaitu A (diet tinggi lemak + SSTH 0 g/hari), B (diet tinggi lemak + SSTH 0,015 g/hari), C (diet tinggi lemak + SSTH 0,030 g/hari) dan D (diet tinggi lemak + SSTH 0,045 g/hari) selama 90 hari. Setelah masa perlakuan, tikus dibedah dan diambil lemak viseranya. Jaringan tersebut kemudian dibuat preparat dengan metode parafin. Jumlah sel yang mengekspresikan PPAR ã dianalisis dengan menggunakan pewarnaan immunohistokimia dan untuk mengkonfirmasi bentuk sel adiposa digunakan pewarnaan Hematoxylene&Eosin. Antibodi primer yang digunakan adalah anti PPAR gamma poliklonal antibody rabbit IgG dan antibodi sekunder biotin-goat-anti rabbit IgG. Hasil penelitian menunjukkan jumlah sel adiposa yang mengekspresikan PPAR ã mengalami penurunan seiring dengan penambahan dosis SSTH. Hal tersebut mengindikasikan SSTH dapat menurunkan pengekspresian PPAR ã pada sel adiposa jaringan lemak visera. Kata kunci: jaringan lemak visera, PPAR ã, diet tinggi lemak, sari seduh teh hitam
POLA PERESEPAN ANTIBIOTIKA PADA KASUS INFEKSI SALURAN PERNAFASAN AKUT (ISPA) DI KLINIK “X” DI KOTA MALANG PADA BULAN MEI-DESEMBER 2008 Ika Ratna Hidayati; Hidajah Rachmawati
Farmasains : Jurnal Farmasi dan Ilmu Kesehatan Vol. 1 No. 1 (2010): April-September 2010
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/far.v1i1.427

Abstract

Infeksi pada saluran napas merupakan penyakit yang umum terjadi pada masyarakat. Infeksi saluran napas berdasarkan wilayah infeksinya terbagi menjadi infeksi saluran napas atas dan infeksi saluran napas bawah. Infeksi saluran napas atas meliputi rhinitis, sinusitis, faringitis, laryngitis, epiglotitis, tonsillitis, otitis. Sedangkan infeksi saluran napas bawah meliputi infeksi pada bronchus, alveoli seperti bronchitis, bronkhiolitis, pneumonia. Penelitian ini dimaksudkan untuk melihat gambaran pola peresepan antibiotik pada kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Klinik “X” di Kota Malang pada bulan Mei-Desember 2008. Pengambilan data dilakukan secara retrospektif pada periode Mei sampai Desember 2008 di sebuah klinik “X” di Kota Malang, Jawa Timur. Semua pasien dengan semua jenis umur dan yang tercatat di dalam rekam medik di ambil sebagai sampel. Analisa dilakukan dengan metode deskriptif non analitik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 166 kasus infeksi saluran pernapasan akut, 69,87% diantaranya pasien wanita, sedangkan sisanya 30,12% adalah laki-laki. Antimikroba yang paling banyak digunakan adalah sefadroxil sebanyak 51,20%, dan diikuti berturut – turut antibiotika Ciprofloxacin sebanyak 22,89%, Amoxicillin sebanyak 12,05%, Cotrimoxazol sebanyak 6,02%, Thiamphenicol sebanyak 4,82%, Erythromycin sebanyak 2,4%, dan paling rendah adalah antibiotika Chloramphenicol sebanyak 0,60%. Secara umum pemilihan dan penggunaan antimikroba untuk terapi pada pasien infeksi saluran pernapasan akut di Klinik “X” di Kota Malang, propinsi Jawa Timur bulan Mei-Desember 2008 sudah sesuai dengan referensi standar pelayanan kefarmasian. Kata kunci : antibiotika, infeksi saluran nafas, pola peresapan
STUDI BEBERAPA DOSIS INFUS DAUN SALAM (Syzygium polyanthum Wight Walp) SEBAGAI ANTIDIARE PADA MENCIT (Mus musculus) Sundari .; Masruhen .
Farmasains : Jurnal Farmasi dan Ilmu Kesehatan Vol. 1 No. 1 (2010): April-September 2010
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/far.v1i1.428

Abstract

Daun Syzygium pholyanthum Wight Walp masyarakat seringkali menyebutnya dengan sebutan daun salam biasanya digunakan masyarakat sebagai bumbu masak. salam merupakan salah satu tanaman obat yang memiliki banyak khasiat dalam mengobati berbagai penyakit,salah satunya sebagai obat diare.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek antidiare infus daun salam dengan pengamatan jumlah feses, konsistensi feses, serta lama diare. Daun salam diperoleh dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) UPT Balai Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Purwodadi di Pasuruan. Hewan coba dibagi secara acak menjadi 8 kelompok terdiri dari kelompk yang tidak didiarekan, kelompok kontrol positif, kontrol negatif serta kelompok diberikan infus daun salam secara oral dengan berbeda dosis yaitu 15%, 20%, 25%, 30%, dan 35% b/v. Waktu pengamatan dilakukan setiap 1 jam selama 4 jam, evaluasi hasil dilakukan dengan menghitung jumlah feses, skor kosistensi feses serta lama diare mencit. Analisis hasil penelitian yang digunakan adalah analisis varian ( ANAVA), dilanjutkan dengan uji Student Newman Keuls (SNK). Hasil analisis penelitian diperoleh data bahwa infuse daun salam dengan dosis 25% b/v, memberikan efek daya antidiare terbesar yaitu dengan rata rata jumlah feses 56%, konsistensi feses sebesar 51,77%, serta lama diare 36,66 menit. Infus daun salam dosis 15% rata rata jumlah 46,66%, konsistensi feses 43,26%, serta lama diare 46,66 menit. Salam. Dosis 20% rata rata jumlah feses 42,66%, konsistensi feses 36,18,serta lama diare51,67%. Dosis 30% rata rata jumlah feses 32%,konsistensi feses 33,33%,serta lama diare 53,33%.Dosis 35% rata rata jumlah feses 45,33%, konsistensi feses 41,14%, serta lama diare 51,67%. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan daun salam dapat mengurangi jumlah feses, lama diare serta meningkatkan konsisitensitensi feses terhadap mencit. Semakin tinggi dosis infus daun salam yang digunakan untuk antidiare belum tentu daya antidiare infus daun salam semakin meningkat hal itu terbukti bahwa dosis 25% memiliki daya antidiare tertinggi dibanding dosis 15%, 20%, 30%, dan 35%. Dosis 25% memiliki efek yang sama seperti efek yang dihasilkan oleh loperamid dosis 0,052 mg. Berdasarkan hasil penelitian disarankan. Masyarakat menggunakan daun salam sebagai obat antidiare dosis 25%. Isolasi tannin yang terdapat dalam daun salam sehingga zat-zat lainya tidak ikut tersari sehingga memaksimalkan pengobatan diare. Dilakukan penelitian mengenai ED50. Senyawa kimia yang berkhasiat sebagai antidiare ini adalah tannin. Kata kunci: daun Syzygium pholyanthum, diare, infus
STUDI ETNOBOTANI DAN ETNOFARMAKOLOGI UMBI BINAHONG (Anredera cordifolia (Ten) Steenis) Siti Rofida
Farmasains : Jurnal Farmasi dan Ilmu Kesehatan Vol. 1 No. 1 (2010): April-September 2010
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/far.v1i1.429

Abstract

Pengetahuan penggunaan tumbuhan sebagai obat tradisional hanyalah berdasarkan empiris. Perubahan pola pengobatan modern ke pengobatan tradisional, menyebabkan kebutuhan terhadap obat yang berasal dari bahan alam menjadi meningkat. Bahan alam yang digunakan sebagai obat sebaiknya berpegangan kepada pedoman bahwa bahan obat tersebut tidak menimbulkan keracunan baik akut maupun kronis dan terbukti bisa menyembuhkan penyakit atau berkhasiat sebagai obat serta dapat diperoleh secara kontinu. Secara empiris masyarakat kota Malang menggunakan umbi binahong (Anredera cordifolia (Ten) Steenis) untuk mengobati nyeri pada gigi yang disertai dengan pembengkakan yang keluar nanah, gastritis akut, nyeri kepala, panas dalam yang disertai sariawan, mengobati luka bekas operasi, mengurangi nyeri setelah operasi dan lain-lain. Ciri-ciri morfologi umbi binahong berbentuk silindris dengan tekstur permukaan yang tidak rata, panjangnya antara 4-7 cm dengan diameter 0,5-2 cm dan berdaging lunak. Secara anatomis tampak jaringan dasar (parenkim), berkas pengangkutan (xylem dan floem) dan benda ergastrik berupa amilum. Tumbuhan ini mudah tumbuh di dataran rendah maupun dataran tinggi. Kata kunci: obat tradisional, umbi, Anredera cordifolia (Tenn) Steenis,.
UJI AKTIVITAS EKSTRAK BUAH MERAH (Pandanus conoideus) SEBAGAI HEPATOPROTEKTOR PADA HATI MENCIT GALUR SWISS YANG DIINDUKSI DENGAN CCl4 Arina Swastika Maulita
Farmasains : Jurnal Farmasi dan Ilmu Kesehatan Vol. 1 No. 1 (2010): April-September 2010
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/far.v1i1.430

Abstract

Liver is an the important organ, it plays an essential role in maintaining the biological equilibrium of vertebrates. Reactive oxygen species (ROS) play an important role in pathological changes in the liver. The research has been carried out to know the potential use of buah merah (Pandanus conoideus) extract as hepatoprotrctive agent against CCl4 poisoning in mice. In this study, the hepatoprotective activity was determined by the reduction of SGPT (serum glutamic pyruvate transaminase) and SGOT (serum glutamic oxaloacetic transaminase) level. Application of buah merah extract significantly (p< 0,05) reduced SGPT and SGOT level. Microscopically, several changes were found, such as severe hydrofic degeneration and necrosis at liver cell that treated by CCl4. Base on histological examination of application of buah merah extract, could inhibit damage and reduced the degeneration and necrosis of liver cell. Keywords: buah merah, SGPT, SGOT, hepatoprotective.
AKTIVITAS SITOTOKSIK EKSTRAK ETANOLIK HERBA CIPLUKAN (Physalis angulata L.) PADA SEL KANKER LEHER RAHIM HeLa MELALUI MODULASI EKSPRESI PROTEIN p53 Andita Pra Darma; Rosana Anna Ashari; Perdana Adhi Nugroho; Ameilinda Monikawati; Ilham Agusta Fauzi; Adam Hermawan; Edy Meiyanto
Farmasains : Jurnal Farmasi dan Ilmu Kesehatan Vol. 1 No. 2 (2011): Oktober 2010 - Maret 2011
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/far.v1i2.1163

Abstract

Cervical cancer is one of leading cause of cancer death in women in the developing countries. One of the strategy to prevent cervical cancer based on cytotoxic agents are now being developed. Ciplukan (Physalis angulata L.) is one of potential plant as chemopreventive agent due to Physalin and Withangulatin constituent in this plant. This study was aimed to know cytotoxic effect of ciplukan ethanolic extract (CEE) in human cervical carcinoma Hela cell line. Evaluation of cell viability value was determined using MTT assay. The expression of p53 as cell proliferation regulator was observed with immunocytochemistry assay. Ethanolic extract of ciplukan showed cytotoxic effect in HeLa cell line with IC50 of 158 &micro;g/ml. Further observation of cell proliferation regulator showed that CEE induces expression of p53 that inhibit cell proliferation. The result showed that CEE has potential activity to be developed as anticancer agent in human cervical cancer.

Page 11 of 17 | Total Record : 170