cover
Contact Name
Unang arifin
Contact Email
bcsp@unisba.ac.id
Phone
+6289691247094
Journal Mail Official
bcsp@unisba.ac.id
Editorial Address
UPT Publikasi Ilmiah, Universitas Islam Bandung. Jl. Tamansari No. 20, Bandung 40116, Indonesia, Tlp +62 22 420 3368, +62 22 426 3895 ext. 6891
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Bandung Conference Series: Pharmacy
ISSN : -     EISSN : 28282116     DOI : https://doi.org/10.29313/bcsp.v2i2
Core Subject : Health, Science,
Bandung Conference Series: Pharmacy (BCSP) menerbitkan artikel penelitian akademik tentang kajian teoritis dan terapan serta berfokus pada Farmasi dengan ruang lingkup Airlock system Kanker, Alcohol, Antelmintik, Antigastritis drugs, Antioksidan, Artemia franciscana, Ascaris suum, Cacing babi (Ascaris suum Goeze), Contact Bioautography TLC, Daun cincau hijau (Cyclea barbata Miers), Daun kelor (Moringa oleifera Lam), Diabetes mellitus, DPPH Flavonoid, Fenilpropanolamin, Fermentasi, Flavonoid, Flavonol,Iles-iles, Isolasi, Lichen, Malassezia furfur, Metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT), Obat antidiabetes (OAD) Propionibacterium acnes, Obat tradisional, Parkia Speciosa Antibakteri, Pektin, Propionibacterium Acnes, Pseudoefedrin, Saccharomyces Cerevisiae, Spektrofotometri uv sinar tampak, Staphylococcus epidermidis, uji aktivitas antibakteri, Uji sitotoksik, Usnea baileyi. Prosiding ini diterbitkan oleh UPT Publikasi Ilmiah Unisba. Artikel yang dikirimkan ke prosiding ini akan diproses secara online dan menggunakan double blind review minimal oleh dua orang mitra bebestari.
Articles 412 Documents
Studi Literatur Aktivitas Antibakteri Ekstrak Biji Kelor (Moringa oleifera (Lam.)) terhadap Bakteri Patogen pada Saluran Cerna Nanda Aulia Rahma; Indra Topik Maulana; Vinda Maharani Patricia
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (175.566 KB) | DOI: 10.29313/bcsp.v2i2.3347

Abstract

Abstract. The gastrointestinal tract infection is a disease that often occurs in Indonesia. This disease caused by pathogenic bacteria such as Staphylococcus aureus, Escherichia coli, and Salmonella typhi. Moringa oleifera seed is part of a Moringa oleifera that has potential as an antibacterial. This study aims to determine the potential antibacterial activity of Moringa oleifera seed extract against pathogenic bacteria in the gastrointestinal tract and determine the compounds in Moringa oleifera seed extracts and their mechanism of action as antibacterial. The research method used in this study is a systematic literature review. The results of this study indicate that Moringa oleifera seed extracts has antibacterial activity against pathogenic bacteria in the gastrointestinal tract, which is indicated by the production of MIC values ​​and the identification of compounds that act as antibacterial. The antibacterial activity of Moringa oleifera seed extract against Escherichia coli was the most effective antibacterial activities. Moringa oleifera seed extract contains napin-1A peptide which works by inhibiting bacterial protein synthesis. Abstrak. Penyakit infeksi pada saluran cerna merupakan penyakit yang sering terjadi di Indonesia. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri patogen seperti Staphylococcus aureus, Escherichia coli, dan Salmonella typhi. Biji kelor (Moringa oleifera (Lam.)) merupakan salah satu bagian dari tanaman kelor yang memiliki potensi sebagai antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi aktivitas antibakteri dari ekstrak biji kelor terhadap bakteri patogen pada saluran cerna dan mengetahui senyawa pada ekstrak biji kelor beserta mekanisme aksinya sebagai antibakteri. Metode penelitian yang dilakukan dalam penelitian ini adalah systematic literature review. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa ekstrak biji kelor memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri patogen pada saluran cerna yang ditandai dengan dihasilkannya nilai KHM serta teridentifikasinya senyawa yang berperan sebagai antibakteri. Aktivitas antibakteri dari ekstrak biji kelor terhadap bakteri Escherichia coli merupakan aktivitas antibakteri yang paling efektif. Pada ekstrak biji kelor terkandung senyawa napin-1A peptida yang bekerja dengan cara menghambat sintesis protein bakteri.
Penelusuran Pustaka Potensi Aktivitas Antibakteri Ekstrak Daun Binahong (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis) terhadap Bakteri Gram Negatif Penyebab Diare pada Saluran Pencernaan Sri Puan Hanum; Livia Syafnir; Yani Lukmayani
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (300.223 KB) | DOI: 10.29313/bcsp.v2i2.3348

Abstract

Abstract. Diarrhea is an infection that is included in the top 10 diseases with high mortality rate. It is generally infected by bacteria. Anti-bacteria are used to treat the infection caused by it, but an improper use of anti-bacteria causes it to become resistant. Therefore, a potential anti-bacteria alternative is needed, and one of them comes from natural ingredients. Binahong plant (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis) is one of the plants which has been scientifically proven to carry an anti-bacterial activity, specifically on its leaf. To determine the content of compounds that act as anti-bacteria and the potential of binahong leaf extract on gram-negative antibacterial activity that causes diarrhea in the digestive tract, a research is conducted by carrying-out literature searches from online journals. From this research, it is concluded that binahong leaf extract contains a secondary metabolite content and able to hinder Salmonella typhi, Escherichia coli, and Shigella flexneri bacterial activity which are gram-negative bacteria and the cause of diarrhea in the digestive tract. Abstrak. Diare merupakan suatu penyakit infeksi yang masuk kedalam 10 besar penyakit yang menyebabkan kematian terbesar di dunia. Penyakit diare umumnya diinfeksi oleh bakteri. Untuk mengatasi infeksi yang disebabkan oleh bakteri tersebut maka digunakan antibakteri, akan tetapi penggunaan antibakteri yang tidak tepat menyebabkan antibakteri menjadi resistensi. Untuk itu dicari alternatif yang memiliki potensi sebagai antibakteri, salah satunya melalui bahan alam. Tanaman Binahong (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis) merupakan salah satu tanaman yang secara ilmiah sudah dibuktikan memiliki aktivitas antibakteri, khususnya pada bagian daun. Untuk mengetahui kandungan senyawa yang berperan sebagai antibakteri dan bagaimana potensi ekstrak daun binahong terhadap aktivitas antibakteri gram negatif penyebab diare pada saluran pencernaan, maka dilakukan penelitian ini dengan melakukan penulusuran pustaka dari jurnal yang terdapat media online. Dari hasil penelitian ini didapat bahwa ekstrak daun binahong memiliki kandungan metabolit sekunder dan dapat menghambat aktivitas bakteri Salmonella typhi, Escherichia coli, dan Shigella flexneri, yang merupakan bakteri Gram negatif penyebab penyakit diare pada saluran pencernaan.
Uji Aktivitas Antifungi Ekstrak Daun Senduduk (Melastoma malabathricum (Linn.)) terhadap Jamur Candida albicans Penyebab Sariawan (Stomatitis Aphtosa Rekuren) Aqila Dliya Zhafira; Indra Topik Maulana; Livia Syafnir
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (421.002 KB) | DOI: 10.29313/bcsp.v2i2.3357

Abstract

Abstract. Stomatitis or thrush is an inflammation of the soft tissues in the oral cavity. Stomatitis or thrush is caused by the fungus Candida albicans. Antifungal drugs for this disease have actually been created but there are still side effects so that alternative treatments from natural ingredients are needed. The sensaat plant (Melastoma malabathricum (Linn.)) is one of the plants that can be used to treat canker sores caused by the fungus Candida albicans. This study aims to determine the antifungal activity of the extract of sensaat leaf as well as to determine the minimum inhibitory concentration, to determine the class of chemical compounds contained in the leaf of sensaat, to determine the standardization of data which includes specific and non-specific parameters. The research method used is an experimental method with the concentration of senresidenan leaf extract used of 1%, 5%, 10%, 15%, 20%, 30%, 40%, 50% and repeated 3 times and then statistical analysis using one way anova. The results showed that the ethanol extract of the leaves of sensaat did not show any antifungal activity, while the positive control of ketoconazole showed an inhibitory diameter of 31.4 mm. Abstrak. Stomatitis atau sariawan adalah peradangan jaringan lunak yang berada dalam rongga mulut. Stomatitis atau sariawan ini disebabkan oleh jamur Candida albicans. Obat antijamur untuk penyakit ini sebenarnya telah diciptakan namun masih terdapat efek samping sehingga diperlukan alternatif pengobatan yang berasal dari bahan alam. Tanaman senduduk (Melastoma malabathricum (Linn.)) merupakan salah satu tanaman yang dapat digunakan untuk mengatasi sariawan yang disebabkan jamur Candida albicans. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas anti jamur dari ekstrak daun senduduk serta konsentrasi hambat minimum, mengetahui golongan senyawa kimia yang terdapat dalam daun senduduk, mengetahui data standardisasi yang meliputi parameter spesifik dan non spesifik. Metode penelitian yang dilakukan adalah metode eksperimental dengan konsentrasi ekstrak daun senduduk yang digunakan sebesar 1%, 5%, 10%, 15%, 20%, 30%, 40%, 50% dan dilakukan pengulangan sebanyak 3 kali lalu dilakukan analisis statistik menggunakan oneway anova. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun senduduk tidak menunjukkan adanya aktivitas antijamur sedangkan pada kontrol positif ketokonazol menunjukkan diameter hambat sebesar 31,4 mm.
Identifikasi Epitop Sel-T COVID-19 terhadap Reseptor Imun TLR-2 (Toll-like Receptor-2) untuk Pengembangan Vaksin Berbasis Peptida Ridwan Wijaya; Aulia Fikri Hidayat; Taufik Muhammad Fakih
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (964.565 KB) | DOI: 10.29313/bcsp.v2i2.3393

Abstract

Abstract. The coronavirus outbreak that is sweeping the world is a serious challenge for the international health system. Overcoming the lack of information regarding experimental data, tools and even understanding of the body's immune response to SARS-CoV2, it is necessary to take effective steps to anticipate the spread and control the COVID-19 pandemic. Therefore, a COVID-19 epitope T-cell protein-peptida docking simulation against the TLR-2 (Toll-like Receptor-2) immune receptor target with the PDB code 2Z80 computationally was carried out in order to add dry laboratory data information, anticipate contact and crowds so as to minimize the spread of the SARS-CoV2 outbreak. There are several bioactive peptidas that are potential candidates for SARS-CoV2 vaccines such as bioactive peptidas FLAFVVFLL, FVLAAVYRI, FVVFLLVTL, VLLFLAFVV and YVYSRVKNL. This study aims to identify and evaluate the molecular interactions that occur between bioactive peptida molecules and TLR-2 enzyme macromolecules with PDB code 2Z80 using in-silico protein-peptida-based molecular docking method. Bioactive peptida sequence modeling using PEP-FOLD software. Furthermore, the best conformation was selected to be used in the study of interactions with TLR-2 macromolecules using the HPEPDock software. Further exploration was carried out on the results of molecular interactions formed using the BIOVIA Discovery Studio 2019 software. Based on the results from molecular anchoring, the bioactive peptida FLAFVVFLL had the best affinity for TLR-2 macromolecules (PDB code 2Z80) with a bond free energy value of -155,194 kJ/mol. So it can be concluded that the bioactive peptida is predicted to be used as a candidate for TLR-2 enzyme inhibitor. Abstrak. Wabah virus corona yang sedang melanda dunia ini merupakan suatu tantangan yang serius bagi sistem kesehatan internasional. Mengatasi kurangnya informasi mengenai data eksperimental, alat bahkan pemahaman mengenai respons imun tubuh terhadap SARS-CoV2 diperlukan langkah yang efektif agar mengantisipasi penyebaran sekaligus mengendalikan pandemic COVID-19. Maka dari itu dilakukan simulasi docking protein-peptida sel-T epitope COVID-19 terhadap target reseptor imun TLR-2 (Toll-like Receptor-2) dengan kode PDB 2Z80 secara komputasi agar menambahkan informasi data laboratorium kering, mengantisipasi kontak dan kerumunan sehingga meminimalisir penyebaran wabah SARS-CoV2. Terdapat beberapa peptida bioaktif yang berpotensi sebagai kandidat vaksin SARS-CoV2 seperti peptida bioaktif FLAFVVFLL, FVLAAVYRI, FVVFLLVTL, VLLFLAFVV dan YVYSRVKNL. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi dan mengevaluasi interaksi molekuler yang terjadi antara molekul peptida bioaktif dengan makromolekul enzim TLR-2 dengan kode PDB 2Z80 menggunakan metode penambatan molekuler berbasis protein-peptida secara in-silico. Pemodelan sekuensi peptida bioaktif dengan menggunakan perangkat lunak PEP-FOLD. Selanjutnya dipilih konformasi terbaik untuk digunakan pada studi interaksi terhadap makromolekul TLR-2 dengan menggunakan perangkat lunak HPEPDock. Dilakukan eksplorasi lebih lanjut terhadap hasil interaksi molekuler yang terbentuk dengan menggunakan perangkat lunak BIOVIA Discovery Studio 2019. Berdasarkan hadil dari penambatan molekuler, ppeptida bioaktif FLAFVVFLL memiliki afinitas yang paling baik terhadap makromolekul TLR-2 (kode PDB 2Z80) dengan nilai energi bebas ikatan -155,194 kJ/mol. Sehingga dapat disimpulkan, peptida bioaktif tersebut diprediksi dapat digunakan sebagai kandidat inhibitor enzim TLR-2.
Studi Aktivitas Farmakologi Rimpang Temu Putih (Curcuma zedoaria (Christm.) Roscoe) terhadap Beberapa Penyakit Kronis Atrie Cahya Ramdhani; Indra Topik Maulana; Kiki Mulkiya Yuliawati
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (339.506 KB) | DOI: 10.29313/bcsp.v2i2.3465

Abstract

Abstract. White turmeric (Curcuma zedoaria (Christm.) Roscoe) belongs to the genus Curcuma which has long been used as a medicinal plant. White turmeric is a plant that contains secondary metabolites and pharmacological activities such as anticancer, antioxidant, antibacterial, antihyperglycemic, and anti-inflammatory. The purpose of this study is to find out what chronic diseases can be overcome by the white turmeric rhizome and to determine the mechanism of action from a molecular point of view. The research method used is the Systematic Literature Review with literature searches related to chronic diseases that can be overcome by the white turmeric rhizome. The data obtained are then displayed in the form of tables and descriptions. The results showed that the white turmeric rhizome can be used in chronic diseases such as cancer, diabetes mellitus, and atherosclerosis. Based on the results from the literature, it was found that the average anticancer activity is known to has a mechanism of inducing apoptosis in cancer cells by activating caspase 3, caspase 8, and caspase 9. In diabetes mellitus, it has antihyperglycemic activity by repairing pancreatic beta cells and increasing pancreatic beta cells to secrete insulin. Then based on literature searches atherosclerosis provides antiatherogenic effects and can inhibit cathepsin activity in atherogenic aortic plaques. Abstrak. Temu putih (Curcuma zedoaria (Christm.) Roscoe) termasuk ke dalam genus Curcuma yang sudah lama digunakan sebagai tanaman obat. Temu putih merupakan tanaman yang memiliki kandungan senyawa metabolit sekunder dan aktivitas farmakologi seperti antikanker, antioksidan, antibakteri, antihiperglikemia, dan antiinflamasi. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui penyakit kronis apa saja yang dapat diatasi oleh rimpang temu putih dan untuk mengetahui mekanisme aksi yang ditinjau dari molekuler. Metode penelitian yang digunakan yaitu Systematic Literature Review dengan penelusuran pustaka terkait penyakit kronis yang dapat diatasi oleh rimpang temu putih. Data yang diperoleh kemudian ditampilkan dalam bentuk tabel dan uraian. Hasil yang didapat menunjukkan bahwa rimpang temu putih dapat digunakan pada penyakit kronis seperti kanker, diabetes mellitus, dan aterosklerosis. Berdasarkan hasil dari literatur yang didapat bahwa rata-rata pada aktivitas antikanker diketahui memiliki mekanisme menginduksi apotosis pada sel kanker dengan cara mengaktivasi caspase 3, caspase 8, dan caspase 9. Pada diabetes mellitus memiliki aktivitas sebagai antihiperglikemia dengan memperbaiki sel beta pankreas dan meningkatkan sel beta pankreas untuk mensekresi insulin. Kemudian berdasarkan penelusuran pustaka aterosklerosis memberikan efek antiaterogenik dan dapat menghambat aktivitas cathepsin pada plak aorta aterogenik.
Penelusuran Pustaka Potensi Tanaman Saga (Abrus precatorius .L) sebagai Antimikroba Patogen pada Sistem Pencernaan Muhammad Daffa Adilah; Indra Topik Maulana; Livia Syafnir
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (293.493 KB) | DOI: 10.29313/bcsp.v2i2.3480

Abstract

Abstract. Digestive system disease is a disease that has a fairly high prevalence in Indonesia. The most common digestive system pathogens found are Salmonella typhi, Escherichia coli, Staphylococcus aureus, Streptococcus mutans, and Candida albicans. Saga plant (Abrus precatorius L.) is a plant commonly found throughout the world, including in Indonesia. Saga plants can grow in forests, fields, and in the yard of the house. Saga plants are reported to contain secondary metabolites that had antimicrobial effects. Antimicrobials are substances that can inhibit / kill microbes. Secondary metabolites that are thought to provide antimicrobial activity in saga plants are tannins, phenolics, saponins, alkaloids, flavonoids, terpenoids, and steroids. Based on the content of secondary metabolites in the saga plant, a literature search was carried out for the minimum inhibitory concentration of the saga plant part against digestive system pathogenic microbes. Based on literature searches, several studies have shown that the roots, leaves, and seeds are able to inhibit the growth of digestive system pathogenic microbes. Abstrak. Penyakit saluran cerna merupakan penyakit yang memiliki prevalensi yang cukup tinggi di Indonesia. Mikroba patogen penyebab sistem pencernaan yang umum ditemukan adalah Salmonella typhi, Escherichia coli, Staphylococcus aureus, Streptococcus mutans, dan Candida albicans. Tanaman saga (Abrus precatorius L.) merupakan tanaman yang umum ditemukan di seluruh dunia termasuk di Indonesia. Tanaman saga mampu tumbuh di hutan, ladang, dan di pekarangan rumah. Tanaman saga dilansir memiliki kandungan metabolit sekunder yang mampu berfungsi sebagai antimikroba. Antimikroba merupakan zat yang mampu menghambat/membunuh mikroba. Metabolit sekunder yang diduga memberikan aktivitas antimikroba pada tanaman saga adalah golongan tanin, fenolik, saponin, alkaloid, flavonoid, terpenoid, dan steroid. Berdasarkan kandungan metabolit sekunder pada tanaman saga, dilakukan penelusuran pustaka konsentrasi hambat minimum dari bagian tanaman saga terhadap mikroba patogen saluran cerna. Berdasarkan penelusuran pustaka, beberapa penelitian menunjukkan bagian akar, daun, dan biji mampu menghambat pertumbuhan mikroba patogen saluran cerna.
Titik Kritis Granul Terapung dan Granul Tenggelam Fildzah Nabilla Putri; Gita Cahya Eka Darma; Yani Krishnamurti
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (355.855 KB) | DOI: 10.29313/bcsp.v2i2.3550

Abstract

Abstract. Feed is food given to livestock, and is a source of energy and substances for the growth and life of living things. Natural feed is food that fish eat naturally. Artificial feed is feed made by humans which is made from a mixture of natural ingredients or processed materials which are then processed and made in a certain form so as to create an attraction for fish to eat them. According to the method of administration, fish feed is divided into 2 types, namely sinking pellets and floating pellets. The two species differ in the time it takes for the feed to sink. The sinking pellet type will quickly sink to the bottom of the pond and the floating pellet type can float on the surface of the water for up to several hours. Granules can float because there are pores in the granule that occur due to friction of the material carried by the extruder with the tube wall and compacted at the end of the extruder by the extrusion process which is a combination of water, heat, and high pressure where water vapor is trapped in the retrogradation process, during the drying process will come out and leave empty spaces or pores. Abstrak. Pakan adalah makanan yang diberikan kepada ternak, dan merupakan sumber energi dan zat bagi pertumbuhan dan kehidupan makhluk hidup. Pakan alami adalah pakan yang dimakan ikan secara alami. Pakan buatan adalah pakan yang dibuat oleh manusia yang dibuat dari campuran bahan alami atau bahan olahan yang kemudian dilakukan proses pengolahan serta dibuat dalam bentuk tertentu sehingga menciptakan daya tarik ikan untuk memakannya. Menurut metode pemberiannya, pakan ikan dibagi menjadi 2 jenis yaitu pelet tenggelam dan pelet terapung. Kedua jenis ini berbeda dalam waktu yang diperlukan untuk pakan dapat tenggelam. Jenis pelet tenggelam dengan cepat akan tenggelam ke dasar kolam dan jenis pelet terapung dapat mengapung di permukaan air sampai beberapa jam. Granul bisa terapung karena ada pori-pori dalam granul yang terjadi karena gesekan dari bahan yang dibawa oleh ekstruder dengan dinding tabung dan dipadatkan diujung ekstruder dengan proses ekstruksi yang merupakan kombinasi antara air, panas, dan tekanan tinggi dimana uap air yang terperangkap pada proses retrogradasi, saat proses pengeringan akan keluar dan meninggalkan ruang kosong atau pori-pori.
Kajian Efek Radiasi Ultraviolet terhadap Kulit Azyyati Adzhani; Fitrianti Darusman; Ratih Aryani
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (484.522 KB) | DOI: 10.29313/bcsp.v2i2.3551

Abstract

Abstract. Ultraviolet (UV) radiation consists of UV A, UV B, and UV C rays which are distinguished by their wavelength. Exposure to high-intensity ultraviolet light can cause side effects on the skin. So it takes skin protection that functions to absorb or weaken ultraviolet rays so that the intensity of the rays that reach the skin is less than it should be. Based on this description, the problems in this research are formulated as follows: (1) How is the study of various types of ultraviolet? (2) How to study the effects of ultraviolet radiation?. The researcher uses the journal review method with literature study. Collection techniques with various scientific literature both primary and secondary. In collecting data and searching for journals, online-based searches such as Pubmed, Science Direct, and Google Scholar were used. The results of this study are: UV A light has a wavelength between 320 nm – 400 nm, UV B with a wavelength of 290 nm – 320 nm and UV C with a wavelength of 10 nm – 290 nm. High exposure to ultraviolet radiation can cause sunburn, skin redness (erythema), dark skin (tanning), and even skin cancer. Abstrak. Radiasi ultraviolet (UV) terdiri dari sinar UV A, UV B, dan UV C yang dibedakan berdasarkan panjang gelombangnya. Paparan sinar ultraviolet dengan intensitas tinggi dapat menimbulkan efek samping terhadap kulit. Sehingga dibutuhkan pelindungan kulit yang berfungsi menyerap atau melemahkan sinar ultraviolet sehingga intensitas sinar yang mencapai kulit lebih sedikit dari yang seharusnya. Berdasarkan uraian tersebut, maka permasalahan dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut: (1) Bagaimana kajian dari berbagai jenis ultraviolet? (2) Bagaimana kajian efek dari radiasi ultraviolet?. Peneliti menggunakan metode riview jurnal dengan studi pustaka. Teknik pengumpulan dengan berbagai literatur ilmiah baik primer maupun sekunder. Pada pengumulan data dan pencarian jurnal digunakan pencarian berbasis online seperti Pubmed, Science Direct, dan Google Scholar. Hasil dari penelitian ini adalah: Sinar UV A memiliki panjang gelombang diantara 320 nm – 400 nm, UV B dengan panjang gelombang 290 nm – 320 nm dan UV C dengan panjang gelombang 10 nm – 290 nm. Paparan radiasi ultraviolet yang tinggi dapat menyebabkan kulit terbakar (sunburn), kulit kemerahan (eritema), kulit menjadi gelap (tanning), bahkan dapat menimbulkan kanker kulit.
Penelusuran Pustaka Pengaruh Kombinasi Minyak Atsiri Herba Marga Thymus dengan Antibiotik terhadap Aktivitas Antibakteri Ainun Navisah; Yani Lukmayani; Indra Topik Maulana
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (413.625 KB) | DOI: 10.29313/bcsp.v2i2.3576

Abstract

Abstract. Infection is a disease caused by pathogenic microbes and without clinical symptoms. Infection can lead to complications if not treated immediately. Infectious diseases can be treated with antibiotics. About 40-62% of antibiotics are used in an inappropriate way, namely for diseases that do not actually require the use of antibiotics. The use of antibiotics in Indonesia is quite high and inappropriate can cause resistance. The combination of antibiotics with herbal plants can overcome bacterial resistance and can kill bacteria that are already resistant to antibiotics. A plant when combined with antibiotics can provide a synergistic effect. The purpose of this study was to determine the effectiveness combination of thymus herbaceous essential oil with antibiotics against antibacterial. The data used is the result of a search through the official website in the form of National and International journals totaling 8 journals. The results of this study indicate that the thymus genus has very high antibacterial properties so that it can increase the working effect of antibiotics, this can be observed in the results of the MIC values obtained. The smaller the MIC value, the better the antibacterial activity, thus providing a synergistic effect. Abstrak. Infeksi adalah suatu penyakit yang diakibatkan oleh bakteri patogen dan tanpa ditimbulkan oleh gejala klinik. Infeksi dapat menyebabkan komplikasi jika tidak segera ditangani. Penyakit infeksi dapat ditangani dengan menggunakan obat antibiotik. Kebanyakan 40% hingga 62% antibiotik digunakan dengan cara yang tidak tepat salah satunya yaitu pada penyakit yang tidak memerlukan penggunaan antibiotik. Antibiotik di Indonesia penggunaannya cukup tinggi dan kurang tepat dapat menyebabkan resistensi. Kombinasi antibiotik dengan tanaman herbal dapat mengatasi resistensi bakteri dan dapat membunuh bakteri yang kebal terhadap antibiotik. Suatu tanaman jika dikombinasikan dengan antibiotik maka dapat memberikan efek sinergis. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui keefektifan kombinasi minyak atsiri herba marga thymus dengan antibiotik terhadap antibakteri. Data yang digunakan adalah data hasil dari pencarian melalui website resmi berupa jurnal Nasional dan Internasional berjumlah 8 jurnal. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa herba marga thymus memiliki sifat antibakteri yang sangat tinggi sehingga dapat meningkatkan efek kerja pada antibiotik, hal ini dapat diamati pada hasil nilai MIC yang didapatkan. Semakin kecil nilai MIC maka semakin baik aktivitas antibakterinya, sehingga memberikan efek sinergis.
Kajian Pustaka Aktivitas Antijamur Tanaman Kayu Manis (Cinnamomum burmanii) terhadap Candida albicans Syahla Alpia Rachman; Lanny Mulqie; Umi Yuniarni
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (256.163 KB) | DOI: 10.29313/bcsp.v2i2.3580

Abstract

Abstract. Indonesia is a country with a tropical climate and has high humidity, so this can be a factor causing fungal infections of the skin. Cinnamon (Cinnamomum burmanii) is one of the plants from the family Lauraceae which is known to have potential as an antifungal causing candidiasis such as Candida albicans. The purpose of this study was to determine the part of the plant that has antifungal activity from the cinnamon plant (Cinnamomum burmanii) against Candida albicans and determine the content of active compounds and the mechanism of action of compounds that act as antifungals found in cinnamon. The method used in this research is a literature review with relevant data sources, both national and international journals, with the criteria for publication in the last 10 years. The observed parameter of the antifungal activity was the diameter of the inhibition zone. Cinnamon plants, including wood, bark, and leaves, have antifungal activity, and the strongest activity as antifungal is water extract and essential oil with inhibition zone diameter > 20 mm, active compounds and groups of compounds, namely cinnamaldehyde, eugenol, tanins, alkaloids, flavonoids, and saponins. The mechanism of action is by inhibiting cell walls, inhibiting colonization, inhibiting chitin synthesis, inhibiting cell wall synthesis, and lowering surface tension. Abstrak. Indonesia merupakan negara dengan iklim tropis dan memiliki kelembaban yang tinggi sehingga hal ini dapat menjadi faktor penyebab terjadinya infeksi jamur pada kulit. Kayu manis (Cinnamomum burmanii) merupakan salah satu tanaman dari famili Lauraceae yang diketahui mempunyai potensi sebagai antijamur penyebab kandidiasis seperti Candida albicans. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui bagian tanaman yang memiliki aktivitas antijamur dari tanaman kayu manis (Cinnamomum burmanii) terhadap Candida albicans serta mengetahui kandungan senyawa aktif dan mekanisme kerja senyawa yang berperan sebagai antijamur yang terdapat pada kayu manis. Metode yang dilakukan pada penelitian ini adalah kajian pustaka dengan sumber data yang relevan baik jurnal nasional maupun internasional dengan kriteria terbitan 10 tahun terakhir. Parameter yang diamati dari adanya aktivitas antijamur yaitu diameter zona hambat. Tanaman kayu manis meliputi kayu, kulit batang dan daun memiliki aktivitas antijamur dan aktivitas yang paling kuat sebagai antijamur adalah ekstrak air dan minyak atsiri dengan diameter zona hambat > 20 mm, senyawa aktif dan golongan senyawa yaitu sinamaldehid, eugenol, tanin, alkaloid, flavonoid dan saponin. Mekanisme kerja dengan menghambat dinding sel, menghambat kolonisasi, menghambat sintesis kitin, menghambat sistesis dinding sel dan menurunkan tegangan permukaan.

Page 2 of 42 | Total Record : 412