cover
Contact Name
Unang arifin
Contact Email
bcsurp@unisba.ac.id
Phone
+628996888183
Journal Mail Official
bcsurp@unisba.ac.id
Editorial Address
UPT Publikasi Ilmiah, Universitas Islam Bandung. Jl. Tamansari No. 20, Bandung 40116, Indonesia, Tlp +62 22 420 3368, +62 22 426 3895 ext. 6891
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
ISSN : -     EISSN : 28282124     DOI : https://doi.org/10.29313/bcsurp.v2i2
Bandung Conference Series: Urban and Regional Planning (BCSURP) menerbitkan artikel penelitian akademik tentang kajian teoritis dan terapan serta berfokus pada Perencanaan Wilayah dan Kota dengan ruang lingkup sebagai berikut: Agribisnis, Bencana Alam, Daya Dukung dan Tampung, Ekonomi Lokal, Ekowisata Mangrove, Fasilitas, Gempa Bumi, Evakuasi, Jasa budaya dan spiritual, pariwisata, Jasa Ekosistem, Karangsong Disabilitas, kearifan local, Kelayakan, Kinerja dan Pelayanan Jalan, landmark, pencemaran udara, planologi, Pola Penggunaan Ruang, Rantai pasok, Ruang Terbuka Hijau, Sarana dan prasarana, Shelter, SIKIM, Sistem Penyediaan Air Minum, Taman, Tempat Ibadah, Tingkat Kerentanan Bencana, Wisata. Prosiding ini diterbitkan oleh UPT Publikasi Ilmiah Unisba. Artikel yang dikirimkan ke prosiding ini akan diproses secara online dan menggunakan double blind review minimal oleh dua orang mitra bebestari.
Articles 221 Documents
Kajian Peran Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dalam Menangani Dampak Urban Sprawl di Kecamatan Cibiru Kota Bandung Guna Keberlanjutan Lingkungan Perkotaan Hapsah Rahmawati; Ernady Syaodih
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (194.17 KB) | DOI: 10.29313/bcsurp.v2i2.2856

Abstract

Abstract. This study was preceded by the emergence of urban problems, namely the urban sprawl phenomenon. Urban problems such as urban sprawl can have an impact on the environment so that it demands a concept that needs to be applied and prioritized in current development in order to realize sustainable development. Environmental problems are caused by the increasing population growth in urban areas. In addition, there is a need for a study related to the role of stakeholders in efforts to handle urban sprawl in order to determine the extent of the performance of the Bandung City Government in dealing with the impacts arising from this phenomenon. These things motivated the author to conduct a study related to the role of regional apparatus organizations (OPD) in dealing with the impact of urban sprawl in Cibiru District. This study also aims to identify the impact of the urban sprawl phenomenon in Cibiru District, Bandung City and the role of stakeholders in dealing with the impact of the urban sprawl phenomenon in Cibiru District. The analytical method used in this research is descriptive qualitative analysis and MACTOR method. With this method, the impact of the urban sprawl phenomenon in Cibiru District can be identified, namely the emergence of floods and landslides. Also, the identification of 3 (three) main actors who have the highest influence in dealing with urban sprawl in Cibiru District, namely the Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan Kota Bandung; Badan Pertanahan Nasional Kota Bandung; and Kecamatan Cibiru. Abstrak. Studi ini didahului dengan timbulnya permasalahan perkotaan yaitu fenomena urban sprawl. Permasalahan perkotaan seperti urban sprawl dapat menimbulkan dampak terhadap lingkungan sehingga menuntut adanya sebuah konsep yang perlu diterapkan dan diutamakan dalam pembangunan saat ini agar terwujudnya pembangunan berkelanjutan. Permasalahan lingkungan diakibatkan dari pertumbuhan penduduk di perkotaan semakin tinggi. Selain itu, perlu adanya kajian terkait peran stakeholder dalam upaya penanganan urban sprawl guna mengetahui sejauh mana kinerja Pemerintah Kota Bandung dalam menangani dampak yang timbul akibat fenomena tersebut. Hal-hal inilah yang melatarbelakangi penulis untuk melakukan kajian terkait peran organisasi perangkat daerah (OPD) dalam menangani dampak urban sprawl di Kecamatan Cibiru. Studi ini pun bertujuan untuk Mengidentifikasi dampak dari adanya fenomena urban sprawl di Kecamatan Cibiru Kota Bandung dan peran stakeholder dalam menangani dampak dari fenomena urban sprawl di Kecamatan Cibiru. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini yaitu analisis deskriptif kualitatif dan metode MACTOR. Dengan metode tersebut, dapat teridentifikasi dampak dari fenomena urban sprawl di Kecamatan Cibiru yaitu timbulnya banjir dan longsor. Serta, teridentifikasinya 3(Tiga) aktor utama yang memiliki pengaruh tertinggi dalam menangani urban sprawl di Kecamatan Cibiru yaitu Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan Kota Bandung; Badan Pertanahan Nasional Kota Bandung; dan Kecamatan Cibiru.
Kajian Pembangunan Smart Society Kota Bandung Ega Ayu Gayatri; Ernady Syaodih
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (303.859 KB) | DOI: 10.29313/bcsurp.v2i2.2884

Abstract

Abstract. Rancasari sub-district which is included in the Gedebage SWK with the theme of the technopolis area has a strong position in smart development because of the interest of this sub-district to accommodate the technopolis. Although the city of Bandung has implemented the smart city concept, there are still many problems with it, especially in the human resources component. The ability or skills and the total human resources in Bandung City are still lacking. In addition, the form of socialization carried out by the Bandung City Government regarding smart cities has not been evenly distributed in every district. The purpose of this study was to examine the development of a smart society in the Rancasari District. The approach method in this study is a mixed method using the Importance Performance Analysis method and qualitative descriptive analysis. The results of the analysis in this study indicate that the percentage of the average level of community satisfaction in the Rancasari District is 79,71% which indicates the level of conformity is not good so the community is not satisfied with the government's performance in the development of a smart society. The variables included in the low performance include the development of technology-based education management with Bandung Masagi character, the development of a collaborative and technology-supported security system, smart transportation, empowerment of social welfare potential, community social interaction, smart community, ICT-integrated community social assistance, improvement of social relations, smart education and security management systems by utilizing the Internet of Things (IoT). Abstrak. Kecamatan Rancasari yang termasuk ke dalam SWK Gedebage dengan tema kawasan teknopolis memiliki posisi yang kuat dalam pengembangan smart karena adanya kepentingan kecamatan ini untuk mewadahi teknopolis tersebut. Oleh karena itu, pemerintah memiliki program Bandung Smart City dalam dimensi smart society untuk mewujudkan ekosistem masyarakat yang humanis dan dinamis. Walaupun Kota Bandung sudah menerapkan konsep smart city, namun masih terdapat banyak permasalahan di dalamnya terutama dalam komponen SDM (Sumber Daya Manusia). Kemampuan atau keterampilan dan jumlah SDM di Kota Bandung yang masih kurang. Selain itu, bentuk sosialisasi yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Bandung terkait smart city belum merata di setiap wilayah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji pembangunan smart society di Kecamatan Rancasari. Metode pendekatan dalam penelitian ini yaitu mixed method dengan menggunakan metode Importance Performance Analysis dan analisis deskriptif kualitatif. Hasil analisis dalam penelitian ini menunjukkan bahwa persentase rata-rata tingkat kepuasan masyarakat di Kecamatan Rancasari sebesar 79,71% yang menunjukkan tingkat kesesuaian kurang baik sehingga masyarakat merasa belum puas terhadap kinerja pemerintah dalam pembangunan smart society. Adapun variabel yang termasuk ke dalam low performance meliputi pengembangan pengelolaan pendidikan yang berbasis teknologi berkarakter Bandung Masagi, pembangunan sistem keamanan yang kolaboratif dan didukung teknologi, smart transportation, pemberdayaan potensi kesejahteraan sosial, interaksi sosial masyarakat, smart community, bantuan sosial masyarakat yang terintegrasi TIK, peningkatan hubungan sosial masyarakat, smart education dan sistem manajemen keamanan dengan memanfaatkan Internet of Things (IoT).
Identifikasi Pengembangan Ruang Terbuka Hijau Mohamad Rizalby Yosliansyah; Irland Fardani
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (396.982 KB) | DOI: 10.29313/bcsurp.v2i2.3081

Abstract

Abstract. The city of Cirebon is one of the cities in West Java that is experiencing rapid development, accompanied by an increase in the rate of population growth each year by 2,91% per year. This rapid development has led to changes in land use where vegetation land is turned into built-up land, it is stated that almost ± 55% of the area in Cirebon City is built-up land. Meanwhile, the amount of land designated as public green open space is still 10,5% less than the 20% should be, while for private green open space the amount is 10%. Therefore, it is necessary to identify the development of Green Open Spaces in Cirebon City. The approach method used is using remote sensing techniques to identify the development of green open space in the city of Cirebon using Landsat 8 Imagery by paying attention to 3 aspects, namely biological, physique and social aspects. The variables used are vegetation density or NDVI, comfort index or THI and population density. The data used are Landsat 8 imagery, population, climatology and land use. The purpose of this study was to determine the location and extent of green open space development in the city of Cirebon. The results of this study are Cirebon City is dominated by a very dense vegetation density level of 1.826,17 Ha, the comfort index is 4,49% uncomfortable conditions, 86,71% less comfortable and 8,80% comfortable from the area of ​​Cirebon City, dominated by The population density level is very dense at 82,67% of the area of ​​Cirebon City. Based on the results of overlapping maps of the three variables, namely NDVI, THI and population density, there are 2 zones of green open space development including the highly prioritized zone of 159,14 Ha and the prioritized zone of 2.587,82 Ha. Abstrak. Kota Cirebon termasuk kota di Jawa Barat yang mengalami pembangunan yang pesat, dibarengi pula oleh meningkatnya laju pertumbuhan penduduk tiap tahunnya sebesar 2,91% pertahun. Pembangunan yang pesat ini menimbulkan terjadinya perubahan guna lahan yang dimana lahan vegetasi berubah menjadi lahan terbangun, disebutkan bahwa hampir ± 55% wilayah di Kota Cirebon merupakan lahan terbangun. Sedangkan lahan yang diperuntukkan sebagai Ruang Terbuka Hijau publik jumlahnya masih kurang sebesar 10,5 % dari yang seharusnya 20%, sedangkan untuk Ruang Terbuka Hijau privat jumlahnya sudah memenuhi yakni 10%. Oleh karena itu, diperlukan adanya identifikasi pengembangan Ruang Terbuka Hijau di Kota Cirebon. Metode pendekatan yang digunakan adalah menggunakan teknik penginderaan jauh untuk mengidentifikasi pengembangan RTH di Kota Cirebon menggunakan Citra Landsat 8 dengan memperhatikan 3 aspek yakni aspek biologi, fisik dan sosial. Variabel yang digunakan adalah kerapatan vegetasi atau NDVI, indeks kenyamanan atau THI dan kepadatan penduduk. Data yang digunakan adalah Citra Landsat 8, jumlah penduduk, klimatologi dan penggunaan lahan. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui lokasi dan luasan pengembangan RTH di Kota Cirebon. Hasil dari penelitian ini adalah Kota Cirebon didominasi oleh tingkat kerapatan vegetasi sangat rapat sebesar 1.826,2 Ha, indeks kenyamanan didapatkan kondisi tidak nyaman 4,49%, kurang nyaman 86,7% dan nyaman 8,8% dari luas Kota Cirebon, didominasi oleh tingkat kepadatan penduduk sangat padat sebesar 82,7% dari luas Kota Cirebon. Berdasarkan hasil tumpang tindih peta ketiga variabel yakni NDVI, THI dan kepadatan penduduk didapatkan 2 zona pengembangan RTH diantaranya adalah zona sangat diprioritaskan sebesar 159,1 Ha dan zona diprioritaskan sebesar 2.587,8 Ha.
Kajian Daya Tampung Lahan di Kecamatan Bandung Kulon Kota Bandung Nur Fitriatul Qodariah; Lely Syiddatul Akliyah
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (420.829 KB) | DOI: 10.29313/bcsurp.v2i2.3111

Abstract

Abstract. In Bandung Kulon Sub-district, there is a phenomenon that the community exploits groundwater with artesian wells excessively because the availability of clean water cannot meet the community's needs from year to year as many as 136,217 people in 2021. Therefore, with this phenomenon it is necessary to study the power aspect. land capacity in Bandung Kulon Sub-district. This is done to see whether the existing population in Bandung Kulon Sub-district exceeds its capacity or not, considering that the existing condition of the population does not meet the need for clean water. The methodology used is to perform a capacity analysis by calculating the carrying capacity first. The analysis of the carrying capacity and carrying capacity of the land in this study was carried out using a spatial analysis method with an analytical tool, namely GIS (Geography Information System) which was equipped with a scoring stage. Based on the discussion in this study, the researcher concludes that the existing population is still in accordance with the ideal capacity or it can be said that Bandung Kulon District is still able to accommodate residents to live. Based on this, the phenomenon of limited availability of clean water is not caused by the large number of residents. Abstrak. Di Kecamatan Bandung Kulon terdapat fenomena bahwa masyarakat mengeksploitasi air tanah dengan sumur artesis secara berlebihan karena ketersediaan air bersih tidak dapat mencukupi kebutuhan masyarakat dari tahun ke tahun sebanyak 136.217 jiwa pada tahun 2021. Maka dari itu, dengan adanya fenomena tersebut perlu dikaji dengan memperhatikan aspek daya tampung lahan di Kecamatan Bandung Kulon.. Hal ini dilakukan untuk melihat apakah jumlah penduduk eksisting di Kecamatan bandung Kulon melebihi daya tampungnya atau tidak, mengingat kondisi eksisting jumlah penduduk tidak tercukupi kebutuhan akan air bersihnya. Adapun metodologi yang digunakan adalah dengan melakukan analisis daya tampung dengan menghitung daya dukung terlebih dahulu. Analisis daya dukung dan daya tampung lahan dalam penelitian ini dilakukan dengan metode analisis spasial dengan alat bantu analisis yaitu GIS (Geography Information System) yang dilengkapi tahapan skoring. Berdasarkan pembahasan dalam penelitian ini, peneliti menyimpulkan bahwa jumlah penduduk eksisting masih sesuai dengan daya tampung ideal atau dapat dikatakan bahwa Kecamatan Bandung Kulon masih mampu menampung penduduk untuk bermukim. Berdasarkan hal tersebut, adanya fenomena keterbatasan ketersediaan air bersih bukan disebabkan oleh banyaknya jumlah penduduk.
Rekonstruksi Struktur Dayeuh Kerajaan Kendan Maya Putri Rahayu; Weishaguna; Saraswati
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (427.834 KB) | DOI: 10.29313/bcsurp.v2i2.3116

Abstract

Abstract. The Kendan Kingdom is a part of the Tarumanegara Kingdom in West Java which was founded in the 6th century. Evidence the Kendan Kingdom is found in the form of artifacts, place naming, and parahyangan manuscripts. However, the spatial structure of the Kendan Kingdom has not been found, so to find out the spatial structure the author conducted a study with the aim of reconstructing the Kendan Kingdom Dayeuh structure based on artifacts, land characteristics, spatial hierarchy, and cosmological axis as an understanding of the meaning of some artifacts in Citaman Village and Kendan Village. This study uses the concept of land structure, the concept of a concentric hierarchy of mandalas, and the concept of the cosmological axis. The method used is a hermeneutic method with a comparative analysis method that is focused on comparing the Kendan Kingdom artifacts with data that have close characteristics, namely the Dayeuh Work of Galuh artifact which will later be validated by other supporting concepts. The analysis carried out will focus on discussing the analysis of the reconstruction of land structures, the analysis of the reconstruction of the mandala's concentric space hierarchy, and the analysis of the reconstruction of the cosmological axis. The results of the study show that the reconstruction of the Dayeuh space structure of the Kendan Kingdom forms the pattern of the Dayeuh structure which is interpreted with the uniqueness of being on a weak nirmalaning land, forming a hierarchical concentric pattern and forming a cosmological axis. Abstrak. Kerajaan Kendan merupakan salah satu bagian Kerajaan Tarumanegara di Jawa Barat yang berdiri pada abad ke-6. Bukti Kerajaan Kendan ini yaitu ditemukan dalam bentuk artefak, penamaan tempat, dan naskah parahyangan. Namun struktur ruang Kerajaan Kendan ini belum ditemukan, sehingga untuk mengetahui struktur ruang tersebut penulis melakukan studi dengan tujuan melakukan rekonstruksi struktur Dayeuh Kerajaan Kendan berdasarkan artefak, karakteristik lahan, hirarki ruang, dan poros kosmologi sebagai pemahaman arti dari beberapa artefak yang ada di Desa Citaman dan Desa Kendan. Studi ini menggunakan konsep struktur lahan, konsep hirarki konsentrik mandala, dan konsep poros kosmologi. Metode yang digunakan adalah metode hermeneutik dengan metode analisis komparasi yang difokuskan dengan cara membandingkan artefak Kerajaan Kendan dengan data yang memiliki kedekatan karakteristik yaitu artefak dayeuh Kerjaan Galuh yang nantinya divalidasi oleh konsep pendukung lainnya. Analisis yang dilakukan akan fokus membahas mengenai analisis rekonstruksi struktur lahan, analisis rekonstruksi hirarki ruang konsentrik mandala, dan analisis rekonstruksi poros kosmologi. Hasil studi menunjukkan rekonstruksi struktur ruang Dayeuh Kerajaan Kendan membentuk pola struktur Dayeuh yang diinterpretasikan dengan kekhasan terdapat pada lahan nirmalaning lemah, membentuk pola konsentrik berhirarki dan membentuk poros kosmologi.
Kajian Potensi Desa sebagai Aset dalam Pengembangan Desa Wisata Rawabogo Siti Al Zyanasya Mattali; Imam Indratno
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (548.827 KB) | DOI: 10.29313/bcsurp.v2i2.3133

Abstract

Abstract. Potential is an essential element that must exist in developing a tourist village. Rawabogo Village is one of the tourist villages in Bandung Regency, which has diverse potential, both natural and cultural. Behind this potential, Rawabogo Village still has potential that can be further explored and utilized to support the development of the Rawabogo Tourism Village. This study aims to further identify the potential of Rawabogo Village as an asset in keeping the Rawabogo Tourism Village through asset mapping developed by Jody Kretzmann and John McKnight. The method used in this research is descriptive qualitative with interactive analysis techniques. Data collection was conducted through interviews, observation, and documentation studies. The study results show that Rawabogo Village has a diversity of potential besides nature and culture that can develop to support the development of its tourist village. From asset mapping, it's known that Rawabogo Village possesses valuable assets are the diversity of abilities and skills of individuals and community groups as well as the existence of Mount Nagara Padang, especially the Megalithic Stone Site, which in addition to being a tourism potential is also the identity of Rawabogo Village. Abstrak. Potensi merupakan unsur penting yang harus ada dalam pengembangan desa wisata. Desa Rawabogo merupakan salah satu desa wisata di Kabupaten Bandung yang memiliki keberagaman potensi baik alam maupun budayanya. Dibalik potensi tersebut, Desa Rawabogo masih memiliki potensi yang dapat digali lebih lanjut keberadaannya serta diberdayagunakan untuk mendukung pengembangan Desa Wisata Rawabogo. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi lebih lanjut mengenai keberadaan potensi yang dimiliki Desa Rawabogo sebagai asset dalam mendukung Desa Wisata Rawabogo melalui pemetaan asset yang dikembangkan oleh Jody Kretzmann and John McKnight. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan teknik analisis interaktif. Pengumpulan data pada penelitian dilakukan melalui metode wawancara, observasi dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukan Desa Rawabogo memiliki keberagaman potensi selain alam serta budayanya yang dapat dikembangkan lagi untuk mendukung pengembangan desa wisatanya. Dari pemetaan asset diperoleh asset berharga yang dimiliki oleh Desa Rawabogo, yakni keberagaman kemampuan dan keterampilan dari setiap individu dan kelompok masyarakat serta adanya Gunung Nagara Padang terutama Situs Batu Megalitikum didalamnya yang selain menjadi potensi wisata juga menjadi identitas dari Desa Rawabogo itu sendiri.
Studi Transformasi Morfologi Tata Guna Lahan Koridor Braga Tabitha Hemastuti; Weishaguna
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (346.21 KB) | DOI: 10.29313/bcsurp.v2i2.3164

Abstract

Abstract. The Braga Corridor experienced physical development from the center of Bandung which resulted in the problem of physical space unity. One of its phenomena is characterized by the presence of dead buildings and conditions of trade and services that have disappeared from their historical existence. From this phenomenon, an issue was obtained, namely the occurrence of problems of physical space unity, especially the morphology of land use in the Braga corridor. Based on the issue, the study question arises, namely "How is the transformation that occurred in the morphology of land use in the Braga corridor?" So that the purpose of this study is to identify transformations that occur in the morphology of land use in the Braga corridor. Epistemologically, the study uses the morphological theory of cities. Axiologically, this study uses a morphological approach with synchronous and diachronic analysis methods by comparing maps of historical periods with existing maps. The conclusion of this study is that the transformations that occurred in the morphology of the Braga corridor were quite high and resulted in their identity or historical relics being lost slowly due to increasingly uncontrollable developments. Abstrak. Koridor Braga mengalami perkembangan fisik dari pusat Kota Bandung yang mengakibatkan terjadinya masalah kesatuan ruang fisik. Salah satu fenomenanya ditandai dengan adanya bangunan mati dan kondisi perdagangan dan jasa yang sudah hilang dari eksistensi sejarahnya. Dari fenomena tersebut didapatkan isu yaitu terjadinya permasalahan kesatuan ruang fisik terutama morfologi tata guna lahan pada koridor Braga. Berdasarkan isu, muncul pertanyaan studi yaitu “Bagaimana transformasi yang terjadi pada morfologi tata guna lahan di koridor Braga?” Sehingga tujuan dari penelitian ini yaitu mengidentifikasi transformasi yang terjadi pada morfologi tata guna lahan di koridor Braga. Secara epistimologi, studi ini menggunakan teori morfologi kota. Secara aksiologi, studi ini menggunakan pendekatan morfologi dengan metode analisis sinkronik dan diakronik dengan cara membandingkan peta-peta periode sejarah dengan peta eksisting. Kesimpulan dari studi ini yaitu teridentifikasi transformasi yang terjadi pada morfologi koridor Braga cukup tinggi dan mengakibatkan identitas atau peninggalan sejarahnya hilang perlahan karena perkembangan yang semakin tidak terkendali.
Pengukuran Minat Masyarakat Desa Rawabogo terhadap Pengembangan Desa Wisata Berbasis Neurosains Vermanda Maharani Sonya; Imam Indratno
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (220.016 KB) | DOI: 10.29313/bcsurp.v2i2.3173

Abstract

Abstract. Rawabogo Village is a tourist villages in Bandung Regency which has problems with less than optimal community participation (1). Participation is built through the demands, sense of community ownership and interest. The processes that occur in the human brain are still measured by old measurement methods that difficult to measure dynamically and accurately (10). Neuroscience can control the validity and subjectivity of old methods such as questionnaires and interviews (2,10). Thus, this study aims to identify the interest of the local community in Rawabogo Village regarding the development of tourism village based on neuroscience method until able to recommend some of efforts. The analytical method used is the electroencephalography (EEG) signal decomposition method, validity and reliability tests, and weighting. The results of the analysis obtained are respondents 2,3,4,5 and 8 have higher entropy values ​than the average value or indicated to have high interest, while respondents 1,3,6, and 7 have lower entropy values than the average value or indicate low interest. The questionnaire results showed that the interest measures of respondents 1, 2 and 3 are included in the very high-interest category, while respondents 4,5, 6, 7, and 8 are included in the high-interest category. The difference between the questionnaire results and the entropy results is based on differences in people’s experiences in developing tourist villages. These different experiences cause different levels of chaos and affect the brain wave signals that are received or recorded. Abstrak. Desa Rawabogo merupakan salah satu desa wisata di Kabupaten Bandung yang memiliki permasalahan kurang optimalnya partisipasi masyarakat (1). Partisipasi masyarakat dibangun melalui tuntutan, rasa kepemilikan masyarakat dan minat. Proses yang terjadi dalam otak manusia masih diukur dengan metode pengukuran umum yang sulit untuk diukur secara dinamis dan akurat. Sehingga metode neurosains dibutuhkan pada penelitian ini (2). Neurosains mampu mengontrol validitas dan subjektifitas dari metode umum seperti kuesioner dan wawancara (2,3). Dengan demikian, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi minat masyarakat lokal Desa Rawabogo terkait pengembangan desa wisata berbasis neurosains sehingga mampu merekomendasikan upaya-upaya pengembangan desa wisata. Metode analisis yang digunakan adalah metode dekomposisi sinyal elektroensefalografi (EEG), uji validitas dan reliabilitas, dan pembobotan. Hasil analisis yang didapatkan adalah responden 2,3,4,5 dan 8 memiliki nilai entropi yang lebih tinggi dari nilai rata-rata pada setiap kanal atau terindikasi memiliki minat yang tinggi, sedangkan responden 1,3,6, dan 7 memiliki nilai entropi sedikit lebih rendah dari nilai rata-rata setiap kanalnya atau terindikasi memiliki minat yang rendah. Hasil kuesioner menunjukkan bahwa ukuran minat responden 1, 2 dan 3 termasuk pada kategori minat sangat tinggi, sedangkan responden 4,5,6,7, dan 8 termasuk dalam kategori minat tinggi. Perbedaan antara hasil kuesioner dan hasil entropi didasarkan pada perbedaan pengalaman masyarakat pada pengembangan desa wisata. Perbedaan pengalaman tersebut menyebabkan berbedanya level chaos dan mempengaruhi dari sinyal gelombang otak yang diterima atau direkam.
Kajian Kinerja Pemerintah Kota Bandung dalam Penerapan Smart Living Asyifa Fadia Puspita; Ernady Syaodih
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsurp.v2i2.3174

Abstract

Abstract. The city of Bandung applies the concept of a smart city, as an effort to overcome urban problems and provide a sense of life for the people of Bandung City, especially Coblong District through smart living. Smart living is the concept of urban development to realize a quality and sustainable life through smart thinking. However, until now, Coblong District itself still has various problems that occur in aspects of urban life such as congestion problems, uneven facilities and infrastructure, slums, inadequate public transportation, and low levels of security. Therefore, the author conducted a study that aims to examine the role of the performance of the Bandung City regional government in applying the Smart Living concept to realize the feasibility of living standards of people in Coblong District. There are 4 main indicators of Smart Living consisting of 15 variables that are used to assess the level of satisfaction of the people of District Coblong. The methodology used in this study is a mixed method approach with data collection methods carried out primarily and secondarily and processed using the Importance Performance Analysis method with the help of IBM SPSS software. The average value of entire smart living variable for suitability level between performance and importance is 76.07%, which means the quality of service that is being delivered by the government in the implementation of smart living haven't matched up with the expectations of Coblong district society, therefore, improvements in performance is needed, especially in variables that are a priority the main ones are Realizing access to the availability of healthy food and drink and health, Realizing a safe, peaceful and orderly urban environment, Integrated security. Abstrak. Kota Bandung menerapkan konsep smart city, sebagai upaya dalam mengatasi permasalahan perkotaan dan memberikan kelayakan hidup bagi masyarakat Kota Bandung, khususnya Kecamatan Coblong melalui smart living. Smart living merupakan konsep pembangunan kota untuk mewujudkan kehidupan yang berkualitas dan berkelanjutan melalui pemikiran cerdas. Namun hingga saat ini Kecamatan Coblong sendiri masih memiliki berbagai permasalahan yang terjadi dalam aspek kehidupan perkotaan seperti masalah kemacetan, sarana dan prasarana yang tidak merata, kawasan kumuh, transportasi umum yang tidak memadai, dan tingkat keamanan yang rendah. Oleh karena itu, penulis melakukan penelitian yang bertujuan untuk mengkaji peran kinerja pemerintah daerah Kota Bandung dalam menerapkan konsep Smart Living untuk mewujudkan kelayakan taraf hidup masyarakat di Kecamatan Coblong. Terdapat 4 indikator utama Smart Living yang terdiri dari 15 variabel yang digunakan untuk menilai tingkat kepuasan masyarakat Kecamatan Coblong. Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan metode campuran dengan metode pengumpulan data yang dilakukan secara primer dan sekunder serta diproses menggunakan metode Importance Performance Analysis (IPA) dengan bantuan software IBM SPSS. Nilai rata-rata seluruh variabel smart living untuk tingkat kesesuaian antara kinerja dan kepentingan adalah 76,07%, yang artinya kualitas layanan yang diberikan oleh pemerintah dalam pelaksanaan Smart Living Belum Sesuai dengan harapan masyarakat di Kecamatan Coblong sehingga perlu peningkatan kinerja khususnya dalam variabel yang menjadi prioritas utama yaitu Mewujudkan akses terhadap ketersediaan makanan dan minum sehat dan kesehatan, Mewujudkan lingkungan perkotaan yang aman, tentram dan tertib , Keamanan yang terintegrasi.
Kajian Kinerja Pembangunan Smart Governance dengan Pendekatan Importance Performance Analysis Avina Husna; Ernady Syaodih
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (213.646 KB) | DOI: 10.29313/bcsurp.v2i2.3175

Abstract

Abstract. Bogor City as a hinterland city is one of the cities included in the 'First 100 Cities Movement Towards a Smart City in Indonesia' as a pilot project since 2017-2021. The construction plan is stated in the Bogor City Smart City Masterplan document for 2017-2021. One of the important factors in the success of smart cities is smart governance. Smart governance is government governance that aims to improve government performance through the use of ICT. This study focuses on governance problems that occur in Bogor City, especially in Central Bogor subdistrict. Where there are several problems such as inactive sub-district government websites, publication of government agency performance reports (LAKIP) that are not updated, and so on. So that this study was prepared with the aim of measuring the achievements of smart governance development based on 14 indicators synthesized from journal sources and smart city masterplan documents. This research uses a mix method approach method with a descriptive research method. The analysis method used is an IPA (Importance Performance Analysis) analysis to measure the level of performance and the level of community expectations for the development of smart governance and a descriptive analysis to explain the results of the IPA analysis. Based on the analysis, it is known that development achievements based on the level of suitability of smart governance development in Central Bogor subdistrict reached a score of 84.19%, which means that the government's performance in general is considered not in accordance with community expectations so improvements need to be made to improve government performance. Abstrak. Kota Bogor sebagai kota penyangga ibu kota negara merupakan salah satu kota yang termasuk dalam ‘Gerakan 100 Kota Pertama Menuju Smart City di Indonesia’ sebagai pilot project sejak tahun 2017-2021. Rencana pembangunannya tercantum dalam dokumen Masterplan Smart City Kota Bogor Tahun 2017-2021. Salah satu faktor penting dalam keberhasilan smart city adalah smart governance. Smart governance adalah tata kelola pemerintah yang bertujuan untuk meningkatkan kinerja pemerintah melalui pemanfaatan TIK. Kajian ini berfokus pada permasalahan tata kelola pemerintahan yang terjadi di Kota Bogor khususnya di Kecamatan Bogor Tengah. Dimana terdapat beberapa permasalahan seperti website pemerintah kecamatan yang tidak aktif, publikasi laporan kinerja instansi pemerintah (LAKIP) yang tidak diperbarui, dan sebagainya. Sehingga penelitian ini disusun dengan tujuan untuk mengukur capaian pembangunan smart governance yang didasarkan pada 14 indikator yang disintesis dari sumber jurnal dan dokumen masterplan smart city. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan mix method dengan metode penelitian deskriptif. Adapun metode analisis yang digunakan adalah analisis IPA (Importance Performance Analysis) untuk mengukur tingkat kinerja dan tingkat harapan masyarakat terhadap pembangunan smart governance dan analisis deskriptif untuk menjelaskan hasil dari analisis IPA. Berdasarkan analisis IPA, diketahui bahwa capaian pembangunan berdasarkan tingkat kesesuaian pembangunan smart governance di Kecamatan Bogor Tengah mencapai skor 84,19% yang artinya kinerja pemerintah secara umum dianggap belum sesuai dengan harapan masyarakat sehingga perlu dilakukan perbaikan untuk meningkatkan kinerja pemerintah.

Page 3 of 23 | Total Record : 221