cover
Contact Name
Unang arifin
Contact Email
bcsurp@unisba.ac.id
Phone
+628996888183
Journal Mail Official
bcsurp@unisba.ac.id
Editorial Address
UPT Publikasi Ilmiah, Universitas Islam Bandung. Jl. Tamansari No. 20, Bandung 40116, Indonesia, Tlp +62 22 420 3368, +62 22 426 3895 ext. 6891
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
ISSN : -     EISSN : 28282124     DOI : https://doi.org/10.29313/bcsurp.v2i2
Bandung Conference Series: Urban and Regional Planning (BCSURP) menerbitkan artikel penelitian akademik tentang kajian teoritis dan terapan serta berfokus pada Perencanaan Wilayah dan Kota dengan ruang lingkup sebagai berikut: Agribisnis, Bencana Alam, Daya Dukung dan Tampung, Ekonomi Lokal, Ekowisata Mangrove, Fasilitas, Gempa Bumi, Evakuasi, Jasa budaya dan spiritual, pariwisata, Jasa Ekosistem, Karangsong Disabilitas, kearifan local, Kelayakan, Kinerja dan Pelayanan Jalan, landmark, pencemaran udara, planologi, Pola Penggunaan Ruang, Rantai pasok, Ruang Terbuka Hijau, Sarana dan prasarana, Shelter, SIKIM, Sistem Penyediaan Air Minum, Taman, Tempat Ibadah, Tingkat Kerentanan Bencana, Wisata. Prosiding ini diterbitkan oleh UPT Publikasi Ilmiah Unisba. Artikel yang dikirimkan ke prosiding ini akan diproses secara online dan menggunakan double blind review minimal oleh dua orang mitra bebestari.
Articles 221 Documents
Prediksi Daerah Potensi Longsor Menggunakan Metode Machine Learning Fajar Azam; Irland Fardani
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 2 No. 1 (2022): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (442.267 KB) | DOI: 10.29313/bcsurp.v2i1.1694

Abstract

Abstract. Cililin District is one of the sub-districts located in West Bandung Regency which has a very high potential for landslides in several villages. This study intends to determine the distribution area of the landslide-prone area which is manifested in the landslide-prone map of Cililin District. The West Bandung Regency Spatial Plan explains that Cililin District is an area that has a fairly high level of vulnerability to ground movement. From year to year there have been many cases of landslides that cover the area of Cililin District. The approach used in this research is the mixed method which combines qualitative and quantitative. The analytical method that will be used in this research is to use Machine Learning method as the main method in making predictions. This area is prone to landslides in Cililin District. By predicting areas prone to landslides. The results of the analysis have an accuracy rate of 73% which is included in the good category. So the conclusion of the analysis that has been carried out can be seen that half of the Cililin District area has an area that has the potential for landslides of 3805 hectares or about 49% while the area that does not have the potential for landslides is 3885 hectares or about 51%. Abstrak. Kecamatan Cililin adalah salah satu Kecamatan yang terletak di Kabupaten Bandung Barat yang memiliki potensi rawan bencana longsor yang sangat tinggi di beberapa Desanya. Penelitian ini bermaksud untuk mengetahui bagian wilayah sebaran kawasan rawan bencana tanah longsor yang di wujudkan dalam peta rawan bencana longsor Kecamatan Cililin. Dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Bandung Barat menjelaskan bahwa Kecamatan Cililin merupakan daerah yang memiliki tingkat kerawanan Gerakan tanah yang cukup tinggi. Dari tahun ketahun telah terjadi banyak kasus longsor yang menutupi wilayah Kecamatan Cililin ini.Metode pendekatan yang digunakan dalam penilitian ini yaitu mixed method yang menggabungkan antara kualitatif dan kuantitatif Metode analisis yang akan digunakan dalam penelitian ini yaitu menggunakan metode Machine Learning sebagai metode utama dalam melakukan prediksi kawasan rawan bencana longsor di Kecamatan Cililin ini. Dengan memprediksi kawasan rawan bencana longsor. Adapun hasil analisis memiliki tingkat akurasi 73% yang termasuk dalam kategori baik. Sehingga kesimpulan analisis yang sudah dilakukan dapat diketahui setengah dari wilayah Kecamatan Cililin ini memiliki kawasan yang berpotensi longsor seluas 3805 Ha atau sekitar 49% sedangkan kawasan yang tidak berpotensi longsor seluas 3885 Ha atau sekitar 51%.
Prediksi Deforestasi Hutan Menggunakan Metode Cellular Automata di Kabupaten Bogor Muhammad Gana Darmawan; Irland Fardani
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 2 No. 1 (2022): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (458.86 KB) | DOI: 10.29313/bcsurp.v2i1.1764

Abstract

Abstract. Based on the data obtained, Bogor Regency is the area with the highest deforestation rate in West Java Province, in West Java forestry statistics from 2016 to 2018 the largest deforestation occurred in KPH Bogor with an area of ​​around 7,435.77 ha. In addition, Bogor Regency is an upstream area of ​​several watersheds in the area, and the mid-stream downstream area is an urban and even metropolitan area. The purpose of this study is to predict deforestation in Bogor Regency and compare it with the applicable RTRW. The result of this research is a deforestation-prone map, which can later be used as one of the considerations for spatial planning or forest area planning. Seeing these two problems, it is necessary to study the prediction of deforestation. Deforestation modeling can be done with the help of a geographic information system through cellular automata analysis, the main data used in this research are land use maps for 2000, 2009, and 2020, and a map of the prevailing spatial pattern of Bogor Regency. The variables used in this research are topography, distance from water, distance from road network and road network plan, distance from urban area and industrial area plan, distance from forest, and slope. The results show that Bogor Regency may experience deforestation of 15,665.79 ha, and may also experience reforestation of 5,796.95 ha. When compared with the spatial pattern plan, the forest according to the plan is 40,065.54 ha and the forest area based on the spatial pattern is 84,674.46 ha, the difference is around 44,608.92 ha. Abstrak. Berdasarkan data yang didapatkan, Kabupaten Bogor merupakan wilayah dengan laju deforestasi tertinggi di Provinsi Jawa Barat, pada data statistik kehutanan Jawa Barat tahun 2016 sampai tahun 2018 deforestasi terbesar terjadi di KPH Bogor dengan luas sekitar 7.435,77 ha. Selain itu, Kabupaten Bogor merupakan daerah hulu dari beberapa DAS yang ada di wilayah tersebut, dan mid-stream maupun daerah hilir-nya merupakan wilayah perkotaan dan bahkan metropolitan, tidak jarang Kabupaten bogor dijadikan kambing hitam atas banjir yang terjadi di wilayah D.K.I Jakarta dan sekitarnya. Tujuan dari penelitian ini adalah memprediksi deforestasi di Kabupaten Bogor dan membandingkannya dengan RTRW yang berlaku. Hasil dari penelitian ini yaitu peta rawan deforestasi, yang nantinya dapat dijadikan salah satu bahan pertimbangan rencana tata ruang wilayah ataupun perencanaan kawasan hutan. Melihat kedua permasalahan tersebut, maka perlu adanya kajian mengenai prediksi deforestasi. Pemodelan deforestasi dapat dilakukan dengan bantuan sistem informasi geografis melalui analisis cellular automata, data utama yang digunakan dalam penelitian ini yaitu peta penggunaan lahan tahun 2000, 2009, dan 2020, dan peta pola ruang Kabupaten Bogor yang berlaku. Variabel yang digunakan pada penelitian kali ini adalah topografi, jarak dari perairan, jarak dari jaringan jalan dan rencana jaringan jalan, jarak dari daerah urban dan rencana kawasan industri, jarak dari hutan, dan kelerengan. Hasil menunjukan bahwa Kabupaten Bogor berpotensi mengalami deforestasi seluas 15.665,79 ha, dan juga berpotensi mengalami reforestasi seluas 5.796,95 ha. Apabila dibandingkan dengan rencana pola ruang, hutan yang sesuai dengan rencana seluas 40.065,54 ha dan luas hutan berdasarkan pola ruang seluas 84.674,46 ha, maka selisihnya sekitar 44.608,92 ha.
Kajian Historis Ruang Arkade Kawasan Pecinan Segmen Pasar Baru Kota Bandung Fernanda Alif; Weishaguna
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 2 No. 1 (2022): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (882.48 KB) | DOI: 10.29313/bcsurp.v2i1.1777

Abstract

Abstract. Chinatown segment of Pasar Baru Bandung has a typical arcade space and has a historical impression. The arcade space has not identified the process of formation and development historically. The existence of the arcade room is feared to be eroded by the rapid development of the area. This research aims to historically identify the arcade space of the Chinatown area segment of Pasar Baru Bandung. Research is focused on identifying the orientation of arcade spaces based on chronological recording of regional developments. The data used is data from a historical review of the area. The results of data collection are carried out triangulation process based on research and also research methodology, then the data is interpreted through the data analysis mechanism. This research is qualitative research with a descriptive approach through histosical reading analysis. The method of historical reading analysis is based on a dichronic and synchronic study of the history of arcade space. The results showed that the arcade space of the Chinatown area of the Bandung New Market segment was the result of cultural fusion. Based on the combination of ethnic Chinese buildings, which are adapted to the design of the façade area of european buildings. This space is very unique in the city of Bandung, because it has a long segment compared to the Chinatown area in other cities. The results of the study are expected to be a study, which is a reference for the preservation of chinatown areas, especially in the Bandung New Market segment. Abstrak. Kawasan pecinan segmen Pasar Baru Kota Bandung memiliki ruang arkade yang berciri khas dan memiliki kesan historis. Ruang arkade tersebut tidak teridentifikasi proses pembentukan dan perkembangannya secara historis. Keberadaan ruang arkade tersebut dikhawatirkan tergerus oleh pesatnya perkembangan kawasan. Penelitian ini bertujuan untuk identifikasi historis ruang arkade kawasan pecinan segmen Pasar Baru Kota Bandung. Penelitian difokuskan pada Identifikasi orientasi ruang arkade berdasarkan perekaman perkembangan kawasan secara kronologis. Data yang digunakan merupakan data dari tinjauan kesejarahan kawasan. Hasil pengumpulan data dilakukan proses triangulasi berdasarkan riset dan juga metodologi penelitian, kemudian data diinterpretasikan melalui mekanisme analisis data. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif melalui analisis histosical reading. Metode analisis historical reading dilakukan berdasarkan penelaahan sejarah ruang arkade secara diakronik dan sinkronik. Hasil penelitian menunjukan bahwa ruang arkade kawasan pecinan segmen Pasar Baru Kota Bandung merupakan hasil dari perpaduan budaya. Berdasarkan perpaduan yang mengakar dari bangunan warisan etnis Tionghoa, yang disesuaikan dengan hasil rancangan bentuk area fasad bangunan berlanggam Eropa. Ruang ini menjadi sangat unik keberadaanya khusunya di Kota Bandung, karena memiliki segmen yang cukup panjang dibandingkan dengan kawasan pecinan di kota-kota lainnya. Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi satu kajian, yang menjadi rujukan pelestarian kawasan pecinan khususnya pada segmen Pasar Baru Kota Bandung.
Identifikasi Potensi Daya Tarik Wisata di Desa Kiangroke Kecamatan Banjaran Kabupaten Bandung Rahma Siti Fatimah; Lely Syiddatul Akliyah
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 2 No. 1 (2022): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (394.429 KB) | DOI: 10.29313/bcsurp.v2i1.1819

Abstract

Abstract. One of several aspects that can improve the village economy is the tourism sector which can be done through the use of village-owned resources. One way to process village resources into a tourist attraction is through the development of village tourism which is one of the efforts that can be made to seek tourism activities in an area that can then be developed into a tourist attraction. Kiangroke Village is one of the villages selected to be one of a total of 10 prospective tourist villages in Bandung Regency, which to support this, Kiangroke Village must have an attractive tourist attraction and can be visited by potential tourists and has a variety of tourist attractions on offer. Related to this, it is necessary to identify what potential attractions are in Kiangroke Village that can help Kiangroke Village become one of the villages that can compete in Bandung Regency. The purpose of this research is to identify the potential of tourist attractions that can be developed in Kiangroke Village. The approach method used in this research is descriptive-qualitative while determining the potential for attractiveness refers to the theory of several important elements forming tourism according to Oka A. Yoeti, namely the existence of accessibility to the location and attractions at the destination. Based on the results of the analysis, it is known that Kiangroke Village has three potential tourist attractions that can be developed, namely: agricultural land, Ciherang river flow, and Hantap irrigation canals. Abstrak. Salah satu dari beberapa aspek yang dapat meningkatkan perekonomian desa adalah sektor pariwisata yang dapat dilakukan melalui pemanfaatan sumber daya milik desa. Salah satu cara yang dilakukan untuk mengolah sumber daya desa menjadi salah satu daya tarik wisata adalah melalui pengembangan pariwisata desa yang mana merupakan salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengupayakan adanya kegiatan wisata pada suatu daerah yang kemudian dapat dikembangkan menjadi salah satu daya tarik wisata. Desa Kiangroke merupakan salah satu desa yang terpilih menjadi satu dari total 10 calon desa wisata Kabupaten Bandung, yang mana untuk mendukung hal tersebut Desa Kiangroke haruslah memiliki daya tarik wisata yang menarik dan dapat dikunjungi calon wisatawan serta memiliki keberagaman daya tarik wisata yang ditawarkan. Terkait hal tersebu, maka dibutuhkan identifikasi terhadap potensi daya tarik apa saja yang berada di Desa Kiangroke yang dapat membantu Desa Kiangroke menjadi salah satu desa yang mampu bersaing di Kabupaten Bandung. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi potensi daya tarik wisata yang dapat dikembangkan di Desa Kiangroke. Metode pendekatan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah deskriptif-kualitatif, adapun penentuan potensi daya tarik mengacu kepada teori mengenai beberapa unsur penting pembentuk pariwisata menurut Oka A. Yoeti, yaitu keberadaan aksesibilitas menuju lokasi serta atraksi pada destinasi. Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan, diketahui Desa Kiangroke memiliki tiga potensi daya tarik wisata yang dapat dikembangkan, yaitu: lahan pertanian, aliran sungai ciherang dan saluran irigasi hantap.
Analisis Risiko Bencana Longsor dan Kerugiannya Kecamatan Cililin Kabupaten Bandung Barat Yuti Andila Aninditya; Yulia Asyiawati; Dudi Nasrudin Usman
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 2 No. 1 (2022): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (498.368 KB) | DOI: 10.29313/bcsurp.v2i1.1902

Abstract

Abstract. Disaster Management Agency in West Bandung Regency, 5 sub-districts in the southern region of West Bandung Regency have a fairly high vulnerability to landslides, one of which is Cililin District. Based on the West Bandung Regency Disaster Risk Study Document in 2017-2021, Cililin District has a hazard with high parameters and an area of 3,790 Ha. Because this landslide disaster will cause losses. There are 5 threats that cause landslides, namely slope, rainfall, soil type, rock type, overflow. Capacity is the potential possessed by individuals and communities that are used to be able to prevent, and recover from disaster emergencies. Vulnerability is the potential for damage or loss, which is related to the capacity to anticipate a hazard. This disaster risk is used to find out how big the impact of the risk is. The highest threat is in Mukapayung Village. The highest vulnerability is in Mukapayung Village, Rancapanggung Village, Bongas Village, Batulayang Village and Cililin Village. Capacity has a low capacity class. The highest risk areas are Mukapayung Village, Bongas Village, and Batulayang Village. The highest risk areas are Mukapayung Village, Bongas Village, and Batulayang Village. The total loss as a whole is Rp. 2,570,000,000. Mukapayung Village has a high threat due to the extensive jungle and shrubs. Cililin District has a high total disaster vulnerability in Mukapayung Village, Rancapanggung Village, Bongas Village, Batulayang Village and Cililin Village. For its own capacity, it has a low capacity class. Abstrak. Badan Penanggulangan Bencana di Kabupaten Bandung Barat, 5 kecamatan pada wilayah selatan Kabupaten Bandung Barat memiliki kerawanan cukup tinggi terhadap longsor salah satunya adalah Kecamatan Cililin. Berdasarkan Dokumen Kajian Risiko Bencana Kabupaten Bandung Barat Tahun 2017-2021 Kecamatan Cililin memiliki bahaya dengan parameter yang tinggi dan luasnya 3,790 Ha dan bencana longsor ini akan menimbulkan kerugian yang terjadi. Ada 5 ancaman yang menyebabkan longsor yaitu kemiringan, curah hujan, jenis tanah, jenis batuan, tuplah. Kapasitas adalah potensi yang dimiliki oleh perorangan, dan masyarakat yang digunakan untuk mampu mencegah, serta memulihkan dari keadaan darurat bencana. Kerentanan adalah potensi tertimpa kerusakan atau kerugian, yang berkaitan dengan kapasitas untuk mengantisipasi suatu bahaya. Risiko bencana ini digunakan agar mengetahui seberapa besar dampak resiko. Ancaman yang paling tinggi berada di Desa Mukapayung. Kerentanan yang paling tinggi berada pada Desa Mukapayung, Desa Rancapanggung, Desa Bongas, Desa Batulayang dan Desa Cililin. Kapasitas memiliki kelas kapasitas yang rendah. Risiko Tinggi berada paling Desa Mukapayung, Desa Bongas, dan Desa Batulayang.Risiko Tinggi berada paling Desa Mukapayung, Desa Bongas, dan Desa Batulayang. Total kerugian secara keseluruhan adalah Rp. 2.570.000.000. Desa Mukapayung memiliki ancaman yang tinggi disebabkan oleh luas hutan rimba dan semak belukar. Kecamatan Cililin memiliki kerentanan total bencana yang tinggi Desa Mukapayung, Desa Rancapanggung, Desa Bongas, Desa Batulayang dan Desa Cililin. Untuk kapasitas sendiri memiliki kelas kapasitas yang rendah).
Kajian Kualitas Air Sub DAS Citanduy Menggunakan Metode Indeks Pencemaran dan Keterkaitannya dengan Guna Lahan Rahmi Zulhayati Hanifah; Chusharini Chamid
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 2 No. 1 (2022): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (440.771 KB) | DOI: 10.29313/bcsurp.v2i1.1986

Abstract

Abstract. One of the resources that is used regularly is water. The water quantity and quality is influenced by land use. If land use in watersheds are not accompanied by management and maintenance can cause erosion and deposition and increase critical land. Watersheds are ecosystems that have interrelated components either directly or indirectly. Based on the BPLHD of West Java Province in 2012, water quality status in Citanduy Watershed in all locations is heavily polluted. Thus, this study aims to examine the water quality of Citanduy River, Cimuntur River, Ciseel River and identify the impact caused by land use on the water quality of the river. The analysis used in this study is the analysis of clean water quality using the Pollution Index (PI) method and land use classification analysis. The result of this research is dominant land-use area is plantations of 34.3% with an area of 115,924 hectares. The smallest land-use area for residential land is 12.7% with an area of 43,177 hectares. At each site the water quality status is lightly polluted and does not fulfill the river water quality standard class 1. Sub-watershed Citanduy Hulu sites 1 and 2 have PIs 4.32 and 4.82. In Cimuntur Sub-watershed sites 3 and 4 have PIs 4.35 and 4.72. In the Cijolang sub-watershed sites 5 and 6 have PIs of 3.29 and 3.90. The Ciseel sub-watershed sites 7 and 8 have an PI of 3.50 and 4.31 and on the Citanduy River with the Combined Watershed it has an PI value of 3.7. Abstrak. Salah satu sumber daya yang dimanfaatkan secara berkala yaitu air. Kondisi kuantitas dan kualitas air dipengaruhi penggunaan lahan di sekitar sungai. Perubahan tata guna lahan di daerah aliran sungai tidak disertai dengan upaya pengelolaan dan pemeliharaan dapat menyebabkan erosi dan pengendapan serta menambah lahan yang kritis. Daerah aliran sungai merupakan ekosistem yang memiliki komponen saling terkait baik langsung maupun tidak langsung. Berdasarkan BPLHD Provinsi Jawa Barat pada tahun 2012, Status mutu air di Daerah Aliran Sungai Citanduy seluruh lokasi tercemar berat. Maka, penelitian ini bertujuan untuk menguji kualitas air pada Sungai Citanduy, Sungai Cimuntur, Sungai Ciseel dan mengidentifikasi dampak yang disebabkan oleh guna lahan pada kualitas air sungai tersebut. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah Analisis kualitas air bersih menggunakan metode Indeks Pencemaran (IP) dan analisis klasifikasi guna lahan. Hasil dari penelitian ini adalah luas penggunaan lahan dominan adalah kebun sebesar 34,3% dengan luas 115.924 hektar. Luas penggunaan lahan paling kecil guna lahan permukiman sebesar 12,7% dengan luas 43.177 hektar. Pada setiap site status mutu air adalah cemar ringan dan tidak memenuhi baku mutu air sungai pada kelas 1. Sub DAS Citanduy Hulu site 1 dan 2 memiliki IP 4,32 dan 4,82. Pada Sub DAS Cimuntur site 3 dan 4 memiliki IP 4,35 dan 4,72. Pada Sub DAS Cijolang site 5 dan 6 memiliki IP 3,29 dan 3,90. Pada Sub DAS Ciseel site 7 dan 8 memiliki IP 3,50 dan 4,31 serta pada Sungai Citanduy dengan DAS Gabungan memiliki nilai IP 3,7.
Identifikasi Pemenuhan Kebutuhan Ruang Terbuka Hijau berdasarkan Kebutuhan Oksigen Vera Safira Widyarti; Irland Fardani
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 2 No. 1 (2022): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (621.302 KB) | DOI: 10.29313/bcsurp.v2i1.2015

Abstract

Abstract. Oxygen is needed by humans to live. The fulfillment of oxygen needs can be met by developing green open spaces, which actually have a function as the lungs of the city that have not been replaced. In Bandung, green open space is below 30%, or around 12.25% in 2020, so the fulfillment of oxygen in Bandung is not necessarily fulfilled. The purpose of this study was to analyze the need for green open spaces in the city of Bandung in general and specifically in selected location based on their urgency of oxygen demand. This study uses a quantitative, descriptive and spatial approach. The area of ​​the green open space requirement is calculated using the Gerakis method that modified in Muis (2005). The determination of development priority locations is carried out using the overlay and scoring methods. Overlays are carried out on parameters, namely land use parameters, building density levels, vegetation density levels and distance to the main road. The results showed that Bandung requires 2,847,513,466.35 grams of oxygen each day, while the oxygen produced by the existing green open space is only 947,567,824.25 grams/day, so it still requires an oxygen supply 1,164,177,415.75 grams/day. Based on the calculation of the area of ​​green open space needed to fulfill the oxygen needs of Bandung, which is 2,812.36 Ha, with an urgent location requiring the development of green open space, namely SWK Tegalega which still requires an area of ​​429.12 ha of green open space. The results of the overlay carried out have resulted of the green open space development in SWK Tegalega covering an area of ​​85.87 Ha which is prioritized and an area of ​​1,156.98 Ha including the category of medium priority location. Abstrak. Oksigen merupakan hal esensial yang diperlukan oleh manusia untuk hidup. Pemenuhan kebutuhan oksigen dapat terpenuhi dengan pengembangan Ruang Terbuka Hijau atau RTH yang sejatinya memiliki fungsi sebagai paru – paru kota yang merupakan produsen oksigen yang belum tergantikan. Kota Bandung memiliki jumlah luasan RTH yang masih dibawah 30%, atau sekitar 12,25% pada tahun 2020 maka pemenuhan akan oksigen di Kota Bandung belum tentu terpenuhi. Dilakukannya penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kebutuhan Ruang Terbuka Hijau di wilayah Kota Bandung secara umum dan secara khusus di SWK terpilih yang dilhat dari urgensinya berdasarkan kebutuhan oksigen. Penelitian ini menggunakan pendekatan secara kuantitatif, deskriptif dan spasial. Luas kebutuhan RTH dalam dihitung menggnakan metode gerakis yang dimodifikasi dalam Muis (2005). Sedangkan penentuan lokasi prioritas pengembangan dilakukan dengan metode overlay dan skoring. Overlay dilakukan pada parameter yang sebelumnya ditentukan terlebih dahulu dan akhirnya dipilih yaitu parameter penggunaan lahan, tingkat kepadatan bangunan, tingkat kerapatan vegetasi dan jarak terhadap jalan utama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kota Bandung membutuhkan oksigen sebanyak 2.847.513.466,35 gram oksigen per harinya, sedangkan oksigen yang dihasilkan RTH eksisting hanya sebanyak 947.567.824,25 gram/hari, sehingga masih memerlukan pasokan oksigen sebanyak 1.164.177.415,75 gram/hari. Dan berdasarkan pada perhitungan gerakis luas RTH yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan oksigen Kota Bandung yaitu seluas 2.812,36 Ha, dengan lokasi yang menjadi urgensi membutuhkan pengembangan RTH nya yaitu SWK Tegalega yang masih membutuhkan luas RTH sebesar 429,12 Ha. Hasil overlay yang dilakukan, menghasilkan luasan serta lokasi pengembangan RTH di SWK Tegalega seluas 85,87 Ha yang diprioritaskan dan seluas 1.156,98 Ha termasuk kategori lokasi prioritas sedang.
Kajian Pendugaan Erosi pada Kawasan Terasering Panyaweuyan Kecamatan Argapura Kabupaten Majalengka Shalih Abrar Fayruzi; Hilwati
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 2 No. 1 (2022): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (312.494 KB) | DOI: 10.29313/bcsurp.v2i1.2290

Abstract

Abstract. Argapura District is one of the rural areas located in the eastern part of Majalengka Regency which has various potentials to be developed. Judging from the morphological conditions, the Argapura sub-district is a highland village located just below the foot of Mount Ciremai. Meanwhile, judging from the accessibility of its location, Argapura District is a rural area with low accessibility, even some villages tend to be isolated. Argapura District has several tourist attractions, one of which is the Panyaweuyan Terrace Area, in the form of an area planted with vegetable crops on land that has a steep slope. The purpose of this study is to identify the Panyaweuyan Terrace Area as an area that provides protection for its subordinate areas, and to estimate the magnitude of erosion that occurs in Panyaweuyan hills which are planted with vegetables. The analytical model used is land suitability analysis for protected forest areas and erosion estimation analysis. Protected forest areas include areas that provide protection for their subordinate areas, so that if damage occurs in this area, it will affect the subordinate area. If there is erosion in this area, the consequences will also be experienced by the area below it. Abstrak. Kecamatan Argapura merupakan salah satu wilayah perdesaan yang terletak di bagian timur Kabupaten Majalengka yang memiliki beragam potensi untuk dikembangkan. Dilihat dari kondisi morfologinya wilayah Kecamatan Argapura merupakan perdesaan dataran tinggi yang berada tepat di bawah kaki Gunung Ciremai. Sedangkan dilihat dari aksesibilitas lokasinya Kecamatan Argapura merupakan perdesaan dengan aksesibilitas rendah bahkan beberapa desa cenderung mengarah ke terisolasi. Kecamatan Argapura mempunyai beberapa objek wisata, salah satunya adalah Kawasan Terasering Panyaweuyan, berupa kawasan yang ditanami tanaman pertanian sayuran pada lahan yang mempunyai kemiringan curam. Tujuan studi ini adalah mengidentifikasi Kawasan Terasering Panyaweuyan sebagai kawasan yang memberikan perlindungan kawasan bawahannya, dan menduga besarnya erosi yang terjadi di bukit Panyaweuyan yang ditanami dengan sayuran. Model analisis yang digunakan adalah analisis kesesuaian lahan kawasan hutan lindung dan analisis pendugaan erosi. Kawasan hutan lindung termasuk kawasan yang memberikan perlindungan kawasan bawahannya, sehingga jika terjadi kerusakan di kawasan ini akan berpengaruh terhadap kawasan bawahannya. Jika terjadi erosi di kawasan ini, maka akibatnya akan dialami juga oleh kawasan yang ada di bawahnya
Kajian Kerentanan Bencana Longsor yang Ditimbulkan oleh Alih Fungsi Lahan Belinda Cyrena Khairunnisa; Chusharini Chamid
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (804.281 KB) | DOI: 10.29313/bcsurp.v2i2.2719

Abstract

Abstract. Lembang subdistrict is an administration located in the area of the foot of Mount Tangkuban Parahu which greatly affects the shape of the topography. The geographical shape of Lembang District consists of two formations including iereng or ridge and plains. Lembang sub – district has a slope between 8 - >40% so that puts the Lembang Sub-District as a disaster-prone area. In 2022 there was a landslide in Kampung Cikole, Cikole village RT 3 RW 6 which threatened 3 residents 'houses, and the last one occurred in April 2022 a landslide caused damage to residents' houses and closed road access precisely in Kampung Sukanagara Pagerwangi Village, Lembang District. The purpose of this study is to determine the level of vulnerability of landslides due to land function aIih and determine the level of vulnerability of landslides due to land function aIih. The study approach used in this study is to use a quantitative descriptive research approach by calculating the vulnerability of landslides and calculate the landslide Vulnerability Index which refers to the regulation of the head of BNPB No. 2 of 2012. The results of this study found that the highest rate of iahan use that occurred in Lembang district was found in the use of residential Iahan from 2011 to 2019 increased by 2,527 Ha, landslides with high potential including Suntenjaya Village, Langensari Village, Mekarwangi Village, Cibogo Village and Cikole Village and the vulnerability of landslides obtained was low vulnerability. Abstrak. Kecamatan Lembang merupakan administrasi yang berada dalam kawasan kaki Gunung Tangkuban Parahu yang dimana sangat mempengaruhi bentuk topografinya. Bentuk geografis Kecamatan Lembang terdiri dari dua bentukan diantaranya lereng atau punggung bukit dan dataran. Wilayah Kecamatan Lembang memiliki kemiringan lereng antara 8 – >40% sehingga menempatkan wilayah Kecamatan Lembang sebagai daerah rawan bencana. Pada tahun 2022 terjadi longsor di Kampung Cikole, Desa Cikole RT 3 RW 6 yang mengancam 3 rumah warga, dan yang terakhir terjadi pada bulan April 2022 terjadi longsor yang mengakibatkan kerusakan rumah warga dan menutup akses jalan tepatnya di Kampung Sukanagara Desa Pagerwangi, Kecamatan Lembang. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk menentukan tingkat kerawanan bencana longsor akibat alih fungsi lahan dan menentukan tingkat kerentanan bencana longsor akibat alih fungsi lahan. Pendekatan studi yang digunakan dalam penelitian kali ini yaitu menggunakan pendekatan penelitian deskriptif kuantitatif dengan menghitung kerawanan bencana longsor dan menghitung indeks kerentanan bencana longsor yang mengacu pada Peraturan Kepala BNPB No. 2 Tahun 2012. Hasil dari penelitian ini didapatkan laju penggunaan Iahan yang terjadi di Kecamatan Lembang tertinggi terdapat di penggunaan lahan permukiman dari tahun 2011 ke 2019 mengalami peningkatan seIuas 2.527 Ha, longsor dengan potensi tinggi diantaranya Desa Suntenjaya, Desa Langensari, Desa Mekarwangi, Desa Cibogo dan Desa Cikole serta kerentanan bencana longsor yang didapatkan adalah kerentanan rendah.
Studi Kelayakan Perencanaan Pengembangan Kawasan Pendidikan di Kabupaten Majalengka berdasarkan Kriteria Smart Environment Dewi Febriyanti; Hani Burhanudin
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsurp.v2i2.2828

Abstract

Abstract. The concept design for the development of the education area in Majalengka Regency has been stated in the master plan document for the development of the Majalengka education area. Even though you already have a master plan, it is necessary to conduct a feasibility test of the plan before the plan is implemented to identify problems, opportunities, benefits and results that will be obtained from the plan. The suitability of the education area development plan with the smart environment criteria is an effort to realize environmentally sustainable development so as to reduce the chance of adverse impacts on the environment in the future. The purpose of this study was to analyze the feasibility level of implementing the development of an educational area in Majalengka Regency based on smart environment criteria so that recommendations were obtained. The method used in this research is descriptive quantitative by using scoring. Based on the results of the analysis, it shows that the education area development plan in Majalengka Regency is quite feasible to be implemented when viewed based on the smart environment criteria. Recommendations to expedite the implementation of this plan include facilitating licensing, making AMDAL, maximizing the socialization process to the community, adding aspects of disaster mitigation, implementing 5R concept waste management, adding a burial ground of at least 1 ha and developing environmentally friendly energy processing technology in planning documents and propose several programs or activities for environmental conservation such as reducing the use of paper and plastic. Abstrak. Rancangan konsep pengembangan kawasan pendidikan di Kabupaten Majalengka telah tertuang dalam dokumen masterplan pengembangan kawasan pendidikan Majalengka. Meskipun telah memiliki masterplan, perlu dilakukan uji kelayakan rencana sebelum rencana tersebut diimplementasikan untuk mengidentifikasi masalah, peluang, manfaat dan hasil yang akan diperoleh dari rencana tersebut. Kesesuaian rencana pengembangan kawasan pendidikan dengan kriteria smart environment merupakan suatu upaya dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan berwawasan lingkungan sehingga mengurangi peluang terjadinya dampak buruk bagi lingkungan di masa yang akan datang. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis tingkat kelayakan implementasi pengembangan kawasan pendidikan di Kabupaten Majalengka berdasarkan kriteria smart environment sehingga didapatkan rekomendasi. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah kuantitatif deskriptif dengan menggunakan skoring. Berdasarkan hasil analisis, menunjukan bahwa rencana pengembangan kawasan pendidikan di Kabupaten Majalengka cukup layak untuk diimplementasikan jika dilihat berdasarkan kriteria smart environment. Rekomendasi guna melancarkan implementasi rencana ini diantaranya yaitu memudahkan perizinan, membuat AMDAL, memaksimalkan proses sosialisasi pada masyarakat, menambah aspek mitigasi bencana, menerapkan pengelolaan sampah berkonsep 5R, menambah tanah peruntukan pemakaman minimal 1 Ha dan pengembangan teknologi pengolahan energi yang ramah lingkungan pada dokumen perencanaan serta mengusulkan beberapa program atau kegiatan untuk pelestarian lingkungan seperti pengurangan penggunaan kertas dan plastik.

Page 2 of 23 | Total Record : 221