cover
Contact Name
Unang arifin
Contact Email
bcsurp@unisba.ac.id
Phone
+628996888183
Journal Mail Official
bcsurp@unisba.ac.id
Editorial Address
UPT Publikasi Ilmiah, Universitas Islam Bandung. Jl. Tamansari No. 20, Bandung 40116, Indonesia, Tlp +62 22 420 3368, +62 22 426 3895 ext. 6891
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
ISSN : -     EISSN : 28282124     DOI : https://doi.org/10.29313/bcsurp.v2i2
Bandung Conference Series: Urban and Regional Planning (BCSURP) menerbitkan artikel penelitian akademik tentang kajian teoritis dan terapan serta berfokus pada Perencanaan Wilayah dan Kota dengan ruang lingkup sebagai berikut: Agribisnis, Bencana Alam, Daya Dukung dan Tampung, Ekonomi Lokal, Ekowisata Mangrove, Fasilitas, Gempa Bumi, Evakuasi, Jasa budaya dan spiritual, pariwisata, Jasa Ekosistem, Karangsong Disabilitas, kearifan local, Kelayakan, Kinerja dan Pelayanan Jalan, landmark, pencemaran udara, planologi, Pola Penggunaan Ruang, Rantai pasok, Ruang Terbuka Hijau, Sarana dan prasarana, Shelter, SIKIM, Sistem Penyediaan Air Minum, Taman, Tempat Ibadah, Tingkat Kerentanan Bencana, Wisata. Prosiding ini diterbitkan oleh UPT Publikasi Ilmiah Unisba. Artikel yang dikirimkan ke prosiding ini akan diproses secara online dan menggunakan double blind review minimal oleh dua orang mitra bebestari.
Articles 225 Documents
Evaluasi Keberadaan Kawasan Industri KIEC I Kota Cilegon terhadap Lingkungan Sekitar berdasarkan Nilai Indeks Sustainable Development Farah Aqilla Sofian; Hani Burhanudin
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (212.018 KB) | DOI: 10.29313/bcsurp.v2i2.3183

Abstract

Abstract. One of the industrial areas located in Cilegon City is the Krakatau Industrial Estate Cilegon or Krakatau Industrial Estate Cilegon (KIEC). However, the development of the KIEC I Industrial Estate has resulted in less green open space. Due to the lack of green open space near industrial areas, it has implications for the quality of the surrounding environment such as increased air pollution and an increase in air temperature which can interfere with human comfort. The construction of the KIEC Industrial Estate also has an impact on the socio-economic conditions of the community. The purpose of this study is to evaluate the existence of the KIEC I Industrial Estate on the surrounding environment based on the value of the sustainable development index (sustainable development). The analytical method used in this study is a quantitative method by means of scoring. The results of this study are that the total value of the social, economic, and environmental sustainability index due to KIEC I Industrial Estate activities is 27 with an average sustainability index value of 2.07 which is included in the unsustainable category. Abstrak.Kawasan industri yang berada di Kota Cilegon salah satunya adalah Kawasan Industri Krakatau Cilegon atau Krakatau Industrial Estate Cilegon (KIEC). Namun, pembangunan Kawasan Industri KIEC I mengakibatkan lahan RTH semakin berkurang. Dikarenakan kurangnya lahan RTH di dekat kawasan industri berimplikasi terhadap kualitas lingkungan di sekitarnya seperti meningkatnya polusi udara dan terjadinya peningkatan suhu udara yang dapat mengganggu kenyamanan manusia. Dengan dibangunnya Kawasan Industri KIEC juga memberikan dampak terhadap kondisi sosial ekonomi masyarakat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi keberadaan Kawasan Industri KIEC I terhadap lingkungan sekitar berdasarkan nilai indeks sustainable development (pembangunan berkelanjutan). Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif dengan cara skoring. Hasil penelitian ini yaitu diketahui total nilai indeks keberlanjutan sosial, ekonomi, dan lingkungan akibat kegiatan Kawasan Industri KIEC I sebesar 27 dengan rata – rata nilai indeks keberlanjutan yaitu 2,07 yang termasuk ke dalam kategori belum berkelanjutan.
Kajian Sistem Pengelolaan Sampah berdasarkan Aspek Peran Serta Masyarakat di Kawasan Perkotaan Merauke Radhiyatul Sholihah; Lely Syiddatul Akliyah
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (318.576 KB) | DOI: 10.29313/bcsurp.v2i2.3188

Abstract

Abstract. The problem that often occurs in almost all cities in Indonesia is the problem of solid waste. Merauke is one of the cities that has a solid waste problem. Problems in waste management that often occur include the lifestyle and behavior of the community which still tends to lead to an increase in the rate of waste generation which burdens the cleaning manager, limited resources, budget, operational vehicles and officers so that the cleaning manager has not been able to serve all the waste produced. . Based on this phenomenon, the formulation of the problem in the research is how is the waste management system based on the aspect of community participation in the Merauke Urban Area?. This study uses a quantitative descriptive method. In addition, observations, interviews, questionnaires and literature studies were also conducted to obtain information related to the research. The result of this research is that community participation is in the rare category, which is 49%. This shows that community participation in waste management in the Merauke Urban Area is still considered lacking. One of the problems is the lack of communication between the Environment Agency and the community. For this reason, the local government can hold socialization about waste that is carried out regularly to the community either directly or via radio, newspapers, pamphlets, or social media so that the community can play a more active role in waste management in the future to assist government efforts in managing waste. Abstrak. Permasalahan yang sering terjadi hampir di seluruh kota yang ada di Indonesia adalah masalah persampahan. Perkotaan Merauke merupakan salah satu kota yang memiliki masalah persampahan. Permasalahan dalam pengelolaan sampah yang sering terjadi antara lain berasal dari pola hidup dan perilaku masyarakat yang masih cenderung mengarah pada peningkatan laju timbulan sampah yang membebani pengelola kebersihan, keterbatasan sumber daya, anggaran, kendaraan operasional dan petugas sehingga pengelola kebersihan belum mampu melayani seluruh sampah yang dihasilkan. Berdasarkan fenomena tersebut, maka rumusan masalah dalam penelitian adalah bagaimana sistem pengelolaan sampah berdasarkan aspek peran serta masyarakat di Kawasan Perkotaan Merauke?. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif. Selain itu juga dilakukan observasi, wawancara, kuesioner dan studi literatur untuk mendapatkan informasi terkait penelitian. Adapun hasil dari penelitian ini adalah peran serta masyarakat berada pada kategori jarang, yaitu 49%. Hal tersebut menunjukan bahwa peran serta masyarakat dalam pengelolaan sampah di Kawasan Perkotaan Merauke masih dianggap kurang. Salah satu persoalannya adalah kurangnya komunikasi antara Dinas Lingkungan Hidup dengan masyarakat. Untuk itu Pemerintah Daerah setempat dapat mengadakan sosialisasi mengenai persampahan yang dilakukan secara rutin kepada masyarakat baik secara langsung maupun melalui radio, surat kabar, pamflet, ataupun sosial media agar masyarakat dapat lebih berperan aktif dalam pengelolaan sampah kedepannya guna membantu usaha pemerintah dalam mengelola sampah.
Studi Pemodelan Tipomorfologi Kampung Sunda: Studi Kasus Kampung Sehati Desa Nagrog Kecamatan Cicalengka Kabupaten Bandung Sela Renika; Weishaguna; Saraswati
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (286.232 KB) | DOI: 10.29313/bcsurp.v2i2.3193

Abstract

Abstract. This study was preceded by the existence of phenomena that exist in the Sehati village, namely the interest in the Bandung district policy of applying 1000 Sundanese cultural preservation villages, the interest of exposing the uniqueness of the Kendan Tatar culture in the physical form of the Sundanese village and the existence of Sundanese village embryos in the Nagrog village but not yet conceptualized according to the theme of cultural preservation. So this study focuses on the question "How is the typomorphological model of a representative Sundanese village?". The purpose of this study is "Creating a model of a healthy village that represents the cosmology of Sundanese cultural space". This study uses a qualitative approach and a hermenitic approach with comparative analysis methods being solved including the variables of zoning, Sundanese land use, Sundanese village physical elements and Sundanese village cultural activities. Analyzed with the criteria of the tri tangtu concept, the opinion of rina priyani, nurhamsah and the ancient manuscript, namely siksakandang karesian which divides the land into weak malaning and weak nir malaning. The conclusion of this study is that the division of zones includes Buana nyuncung, Buana Panca Tengah and Buana Larang. The land use for Sunda includes Cultivation Areas and Conservation Areas. Furthermore, the application of the model in the physical elements of the Sundanese village includes the alun-alun, imah stage model, bale nyuncung, bale motekar, bale puhun, buruan, leuit, saung lisung, gardens, cages and balloons with representations of educational culture with modern and Islamic values. Abstrak. Studi ini didahului karena adanya fenomena yang ada dikampung sehati yaitu adanya kepentingan kebijakan kabupaten bandung terapkan 1000 kampung pelestarian budaya sunda, kepentingan mengekspos kekhasan budaya tatar kendan dalam wujud fisik kampung sunda dan sudah adanya embrio kampung sunda di desa nagrog namun belum terkonsep sesuai tema pelestarian budaya. Sehingga studi ini terfokus pada pertanyaan “Bagaimana model tipomorfologi kampung sunda yang representatif?”. Tujuan studi ini yaitu “Membuat model kampung sehati yang merepresentasikan kosmologi ruang budaya sunda”. Studi ini menggunakan metode pendekatan kualitatif dan pendekatan hermenitik dengan dipecahkan metode analisis komparasi meliputi variabel pembagian zona, peruntukan lahan sunda, elemen fisik kampung sunda dan aktivitas budaya kampung sunda. Di analisis dengan kriteria konsep tri tangtu, pendapat rina priyani, nurhamsah serta naskah kuno yaitu siksakandang karesian yang membagi lahan menjadi malaning lemah dan nir malaning lemah. Kesimpulan dari studi ini yaitu pada pembagian zona meliputi buana nyuncung, buana panca tengah dan buana larang. Untuk peruntukan lahan sunda meliputi Kawasan budidaya dan Kawasan konservasi. Selanjutnya penerapan model dalam elemen fisik kampung sunda meliputi model alun-alun, imah panggung, bale nyuncung, bale motekar, bale puhun, buruan, leuit, saung lisung, kebon, kandang dan balong dengan representasi budaya edukasi yang bernilai modern dan islami.
Studi Konfigurasi Massa dan Ruang Simpang Lima Kota Bandung Wanda Nurrizka; Weishaguna
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1176.516 KB) | DOI: 10.29313/bcsurp.v2i2.3219

Abstract

Abstract. Simpang Lima Bandung has a historical background during the colonial period by being part of Jalan Raya Pos Anyer Panaroekan. Being part of this history, Simpang Lima has historical buildings as traces of relics from the colonial period, which can give an interesting impression. However, several historic buildings in Bandung had undergone a building conversion. This phenomenon with several periods of years, shows that the shape of Simpang Lima is experiencing development, so this study was aim to determine changes in the mass and space configuration of Simpang Lima through a Morphological approach with a qualitative descriptive methodology. The analytical method used is the Figure Ground analysis method, and uses variables in the form of patterns, textures, and typologies of mass and space by using several year periods starting from 1825-2022. The results of this analysis show that Simpang Lima has a fixed concentric radial pattern, variable texture, and different solid and void typologies formed due to urban development. Abstrak. Simpang Lima Kota Bandung memiliki latar belakang sejarah masa kolonial dengan menjadi bagian dari jalan Raya Pos Anyer Panaroekan. Menjadi bagian dari sejarah tersebut, Simpang Lima ini memiliki bangunan-bangunan bersejarah sebagai jejak peninggalan dari masa kolonial, yang mampu memberikan suatu kesan yang menarik. Namun, beberapa bangunan bersejarah di Bandung sempat mengalami alih fungsi bangunan. Fenomena tersebut dengan beberapa periode tahun, menunjukan bahwa bentuk Simpang Lima ini mengalami perkembangan kota maka dilakukannya studi ini untuk mengetahui perubahan konfigurasi massa dan ruang Simpang Lima melalui pendekatan Morfologi dengan metodologi deskriptif kualitatif. Metode Analisis yang digunakan adalah metode analisis Figure Ground, dan menggunakan variable berupa pola, tekstur, serta tipologi massa dan ruang dengan menggunakan beberapa periode tahun mulai dari tahun 1825-2022. Hasil dari analisis ini, menunjukan Simpang Lima memiliki pola radial konsentrik yang tetap, tekstur yang berubah-ubah, serta tipologi solid dan void yang berbeda terbentuk karena perkembangan perkotaan.
Penentuan Kawasan Potensial Terbangun Berbasis Pemetaan Multi Risiko Bencana Reza Achmad Fahlevi; Astri Mutia Ekasari
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1064.957 KB) | DOI: 10.29313/bcsurp.v2i2.3221

Abstract

Abstract. Lembang District is an area with medium to high disasters, due to the threat of three natural disasters, namely the threat of volcanoes, earthquakes, and landslides. The high potential for earthquakes will have a major impact on other disasters if the Lembang fault is active at any time. Thus, the risk areas for each disaster can be estimated. In the 2009-2029 Regional Regulation on RTRW, Lembang District is directed as PKLp and the designation of settlements and tourism. The purpose of this research is to determine the potential area to be built based on multi-disaster risk mapping. The study approach used in this research is to use a multi-disaster risk approach which refers to the Regulation of the Head of BNPB No. 2 of 2012. Then it is overlaid with the results of the DDPm calculation by looking at the DDPm class and the multi-disaster risk class. The results of this study found that Pagerwangi Village is a potential area to be built based on multiple disaster risks with an area of ​​321,928 Ha, so that the area meets the criteria for utilization as a potential residential or built area. Abstrak. Kecamatan Lembang merupakan wilayah dengan bencana menengah sampai tinggi, dikarenakan adanya ancaman tiga bencana alam yaitu ancaman gunung api, gempa, dan longsor. Potensi gempa yang tinggi akan berdampak besar pada bencana lain apabila sewaktu-waktu patahan Lembang aktif. Maka dapat diperkirakan wilayah berisiko pada masing-masing bencananya. Dalam Perda RTRW tahun 2009-2029 Kecamatan Lembang diarahkan sebagai PKLp dan perentukan permukiman dan pariwisata. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk menentukan kawasan potensial terbangun berbasis pemetaan multi risiko bencana. Pendekatan studi yang digunakan dalam penelitian kali ini yaitu menggunakan pendekatan multi risiko bencana yang mengacu pada Peraturan Kepala BNPB No. 2 Tahun 2012. Kemudian di overlay dengan hasil perhitungan DDPm dengan melihat kelas DDPm dan kelas multi risiko bencana. Hasil dari penelitian ini didapatkan Desa Pagerwangi merupakan kawasan potensial terbangun berbasis multi risiko bencana dengan luas wilayah 321,928 Ha, sehingga wilayah tersebut memenuhi kriteria untuk pemanfaatan sebagai kawasan potensial permukiman atau terbangun.
Pengembangan Sistem Perencanaan Desa Wisata Berbasis Machine Learning di Kabupaten Bandung Muhammad Dziqry Zulfiqaar; Imam Indratno
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (461.736 KB) | DOI: 10.29313/bcsurp.v2i2.3228

Abstract

Abstrack. Bandung Regency has a priority development plan in the tourism sector that aims at an integrated destination. Bandung Regency based on the Regent's Decree Number 556.42/Kop.71–Dispopar/2011 has Tourism Villages, one of which is Mekarsari Gambung Village. This study aims to determine the categorization process in Bandung Regency and the tourism village planning strategy in Bandung Regency. The categorization process needs to be carried out to make it easier for the government to carry out detailed tourism village development Strategies to identify their uniqueness and characteristics. Machine Learning is used to handle more and more data efficiently. There are 2 Machine Learning processes, namely training data and test data. The method used in this research is qualitative and quantitative research. Data were collected through semi-structured interviews, documentation, observation, and triangulation. Then analyzed through Machine Learning with the kernel used is the RBF kernel and the Support Vector Machine Algorithm on Jupiter Notebook.. Mekarsari Gambung Village is included in the category of cultural tourism village types, Sugihmukti Village is included in the ecotourism village category, and Cibodas Village is included in the ecotourism village category. The right strategy in developing tourism village planning is based on the variables of Human Resources, Capital, Infrastructure, Institutions and Organizations, Policies and Technology. Based on the results of this analysis, researchers can find out the categorization process found in tourist villages in Bandung Regency and the right strategy in developing tourist villages that have identified categories. Abstrak. Kabupaten Bandung memiliki rencana pembangunan prioritas pada sektor pariwisata yang bertujuan untuk sebuah Destinasi yang terintegrasi. Kabupaten Bandung berdasarkan SK Bupati Nomor 556.42/Kop.71–Dispopar/2011 memiliki Desa Wisata salah satunya Desa Mekarsari Gambung. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses kategorisasi yang terdapat di Kabupaten Bandung serta Strategi perencanaan Desa Wisata di Kabupaten Bandung. Proses kategorisasi perlu dilakukan agar memudahkan pemerintah dalam melakukan Strategi pengembangan Desa Wisata yang detail hingga teridentifikasi keunikan dan cirikhasnya. Machine Learning digunakan untuk mengatasi data lebih banyak dan efisien. Proses belajar Machine Learning ada 2 yaitu data latihan dan data test. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif dan kuantitatif. Data dikumpulkan melalui wawancara semi terstruktur ,dokumentasi, observasi, dan triangulasi. Kemudian dianalisis melalui Machine Learning dengan Kernel yang digunakan adalah kernel RBF dan Algoritma Support Vector Machine pada Jupiter Notebook. Hasil penelitian menunjukan bahwa dalam proses kategorisasi Desa Wisata budaya dan Desa ekowisata terdapat 7 variabel antara lain : Bangunan Bersejarah, Religi, Kesenian, Edukasi Wisatawan, Keterlibatan Komunitas, Konservasi Alam dan Perlindungan Wisatawan. Desa Mekarsari Gambung termasuk kedalam kategorijenis Desa Wisata budaya, Desa Sugihmukti termasuk kedalam kategori Desa ekowisata, dan Desa Cibodas termasuk kedalam kategori Desa ekowisata. Berdasarkan hasil analisis tersebut peneliti dapat mengetahui proses kategorisasi yang terdapat pada Desa Wisata di Kabupaten Bandung dan Strategi yang tepat dalam mengembangankan Desa Wisata yang telah teridentifikasi kategorinya.
Pengaruh Urban Sprawl terhadap Kondisi Fisik Kota: Studi Kasus Kecamatan Bojongloa Kidul Wanda Yolanda; Sri Hidayati Djoeffan
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsurp.v2i2.3250

Abstract

Abstract. Urban sprawl is an unplanned urban development due to the tendency of residents to live in suburban areas. Bojongloa Kidul District is a sub-district located in a suburban area bordering Bandung Regency, where in 2005 Bojongloa Kidul District was the District with the lowest urban sprawl typology, and in 2018 it became the highest urban sprawl typology. The purpose of this study was to determine the effect of urban sprawl on the physical condition of the city in Bojongloa Kidul District. The method used in this study is a mixed method with quantitative and qualitative analysis techniques. The stages of the analysis method in this study are the analysis of the identification of the sprawl area, the analysis of the characteristics of the sprawl using population density analysis, analysis of building density, analysis of the distance to the center of the CBD, and analysis of development within the reach of the road network, analysis of the ANOVA statistical method. Based on the results of the study, it shows that the urban sprawl indicated urban sprawl in 2011 and 2021 are Cibaduyut, Cibaduyut Kidul, Cibaduyut Wetan, and Mekarwangi villages. The typology of urban sprawl in the Kelurahan indicated for sprawl in 2011 and 2021 is Typology I, Kelurahan Siteaeur and Kelurahan Kebonlega, which from 2011 was in typology II changed to typology I, typology II Cibaduyut and Cibaduyut Kidul Villages and typology III Mekarwangi and Cibaduyut Wetan Villages. There is an influence of urban sprawl typology on the variables of percentage changes in land use, road network patterns and changes in building functions. Abstrak. Urban sprawl merupakan perkembangan kota yang tidak terencana karena kecenderungan penduduk untuk bermukim di area pinggiran kota. Kecamatan Bojongloa Kidul merupakan Kecamatan yang berada di area pinggiran kota berbatasan dengan Kabupaten Bandung, dimana pada tahun 2005 Kecamatan Bojongloa Kidul merupakan Kecamatan dengan tipologi urban sprawl paling rendah, dan pada tahun 2018 menjadi tipologi urban sprawl paling tinggi. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh urban sprawl terhadap kondisi fisik kota di Kecamatan Bojongloa Kidul. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah mixed method dengan teknik analisis kuantitatif dan kualitatif. Tahapan metode analisis dalam penelitian ini adalah analisis identifikasi kawasan sprawl, analisis karakteristik sprawl menggunakan analisis kepadatan penduduk, analisis kepadatan bangunan, analisis jarak ke pusat CBD, dan analisis pembangunan dalam jangkauan jaringan jalan, analisis metode statistik ANOVA. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa Kelurahan yang terindikasi urban sprawl pada tahun 2011 dan 2021 adalah Kelurahan Cibaduyut, Cibaduyut Kidul, Cibaduyut Wetan, dan Mekarwangi. Tipologi urban sprawl di Kelurahan terindikasi sprawl tahun 2011 dan 2021 adalah Tipologi I Kelurahan Situsaeur dan Kelurahan Kebonlega yang dari 2011 berada di tipologi II berubah menjadi tipologi I, tipologi II Kelurahan Cibaduyut dan Cibaduyut Kidul serta tipologi III Kelurahan Mekarwangi dan Cibaduyut Wetan. Terdapat pengaruh tipologi urban sprawl terhadap variabel persentase perubahan tata guna lahan, pola jaringan jalan dan perubahan fungsi bangunan.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Tingkat Kunjungan Wisata Hutan Pinus PAL 16 di Desa Cikole, Kabupaten Bandung Barat Suci Rachmawati; Asep Hariyanto
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (686.897 KB) | DOI: 10.29313/bcsurp.v2i2.3257

Abstract

Abstract. PAL 16 Pine Forest Tour is one of the recommended tours in Cikole Village. The existence of PAL 16 Pine Forest Tourism has a positive impact on the people of Cikole Village, one of which can improve the economy of the local community. With a fairly high average of tourists, this shows that the interest of tourists to visit is large enough so that tourism development can be carried out. To carry out tourism development, it is necessary to pay attention to environmental aspects so that the environment is not damaged due to the PAL 16 Pine Forest Tourism and with this tourism development it can maximize the number of tourist visits. This study aims to determine the factors that influence the number of visits to PAL 16 Pine Forest Tourism. The approach used in this study is a quantitative approach with the method used is multiple linear regression analysis. The sampling used was random sampling of 100 people for PAL 16 Pine Forest Tourism tourists. Based on the results of the analysis it is known that the total cost, satisfaction and accessibility have a significant influence on the number of PAL 16 tourist visits, while age, occupation, income, distance and tourist information does not significantly affect the number of PAL 16 tourist visits. Abstrak. Wisata Hutan Pinus PAL 16 merupakan wisata salah satu wisata yang direkomendasikan di Desa Cikole. Adanya Wisata Hutan Pinus PAL 16 memberikan dampak positif bagi masyarakat Desa Cikole salah satunya dapat meningkatkan perekonomian masyarakat setempat. Dengan rata-rata wisatawan yang cukup tinggi ini menunjukan minat wisatawan untuk berkunjung cukup besar sehingga dapat dilakukan pengembangan wisata. Untuk dilakukan adanya pengembangan wisata perlu memperhatikan aspek lingkungan sehingga lingkungan tidak rusak akibat adanya Wisata Hutan Pinus PAL 16 serta dengan adanya pengembangan wisata tersebut dapat memaksimalkan jumlah kunjungan wisata. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi jumlah kunjungan Wisata Hutan Pinus PAL 16. Pendekatan yang digunakan pada penelitian ini yaitu pendekatan kuantitatif dengan metoda yang digunakan yaitu analisis regresi linier berganda. Pengambilan sampel yang digunakan adalah random sampling sebanyak 100 orang kepada wisatawan Wisata Hutan Pinus PAL 16. Berdasarkan hasil analisis diketahui bahwa total biaya, kepuasan dan aksesibilitas memiliki pengaruh sigifikan terhadap jumlah kunjungan wisata PAL 16, sedangkan usia, pekerjaan, pendapatan, jarak dan informasi wisata tidak berpengaruh secara signifikan terhadap jumlah kunjungan wisata PAL 16.
Kajian Optimalisasi Sistem Pengangkutan Sampah di Kecamatan Subang, Kabupaten Subang Shabilla Zahira Shafa; Ira Safitri Darwin
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (491.489 KB) | DOI: 10.29313/bcsurp.v2i2.3272

Abstract

Abstract. Subang Regency is one of the regencies in West Java that is emergency because the accumulation of waste exceeds the disposal capacity, this is because the transportation system is not yet optimal. The accumulation of garbage in the city center (Subang sub-district) started when the Panembong TPA was closed and the waste had to be disposed of at the Jalupang TPA which is further away from the Panembong TPA. The targets of this research are 1) to identify the existing condition of waste transportation, 2) to identify the optimum number of cycles required and 3) to identify the route of waste transportation in Subang District, Subang Regency. In this research, a study of waste transportation will be carried out using an empirical approach and mix methods. The study was conducted to optimize the waste transportation system with field data obtained through observation, interviews and secondary data, with 3 samples of existing dump trucks using the stationary container system (SCS) calculation method. The results showed that the existing fleet of waste transporters in Subang District as many as 12 fleets of dump trucks and 7 arm rolls can transport about 34.5 tons/day with an average of 1 cycle/day. Meanwhile, the average waste generated per day is 77.66 tons/day. Based on the results of the optimization of waste transportation, the current number of vehicles is sufficient if additional routines, vehicle maintenance and changes to transportation routes are made using the shortest route. So if done the amount of waste transported can reach the target of the generated waste. Abstrak. Kabupaten Subang menjadi salah satu kabupaten di Jawa Barat yang darurat karena penumpukan sampah nya melebihi kapasitas pembuangan, hal tersebut disebabkan belum optimalnya sistem pengangkutan. Menumpuknya sampah di pusat kota (Kecamatan Subang) dimulai ketika TPA Panembong ditutup dan sampah harus dibuang ke TPA Jalupang yang jaraknya lebih jauh dari TPA Panembong. Sasaran pada penelitian ini yaitu 1) teridentifikasinya kondisi eksisting pengangkutan sampah, 2) teridentifikasinya jumlah ritasi optimum yang dibutuhkan dan 3) teridentifikasinya rute pengangkutan sampah di Kecamatan Subang Kabupaten Subang. Dalam penelitian ini akan dilakukan kajian terhadap pengangkutan sampah dengan menggunakan metode pendekatan empiris dan mix methods. Penelitian dilakukan untuk mengoptimalkan sistem pengangkutan sampah dengan data dilapangan yang didapatkan melalui observasi, wawancara dan data sekunder, dengan 3 sampel kendaraan dump truck yang ada menggunakan metode perhitungan stationary container system (SCS). Hasil penelitian menunjukan jumlah armada pengangkut sampah eksisting di Kecamatan Subang sebanyak 12 armada dump truck dan 7 arm roll dapat mengangkut sekitar 34,5 ton/harinya dengan rata-rata ritasi 1 rit/hari. Sedangkan rata-rata timbulan sampah yang dihasilkan per hari sebesar 77,66 ton/hari. Berdasarkan hasil analisis optimalisasi pengangkutan sampah, jumlah kendaraan saat ini sudah memadai jika dilakukan penambahan rit, maintenance kendaraan dan perubahan rute pengangkutan dengan menggunakan rute terpendek. Maka jika dilakukan jumlah sampah yang terangkut bisa mencapai target dari timbulan sampah yang dihasilkan.
Struktur Dayeuh Pakwan berdasarkan Pendekatan Morfologi Andi Maryam Kadir; Weishaguna
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1017.578 KB) | DOI: 10.29313/bcsurp.v2i2.3283

Abstract

Abstract. Dayeuh Pakwan Pajajaran is the capital of the Sunda kingdom which was born from the Hindu-Buddhist kingdom, the Tarumanegara Kingdom in the 4th century to the 7th century. As part of the Sunda Kingdom, various artifacts have been found but the spatial structure has not been well described. This study examines the structural form of Dayeuh Pakwan based on the findings of artifacts and four researchsources, namely (1) the results of previous studies, (2) the 15th century VOC map and VOC expedition reports, (3) the map of historian Nina Lubis, and (4) Results of observations and interviews. The analytical method used is the superimpose method with the analysis of (1) the land use of the palace, (2) the road network of the palace, and (3) the layout of the palace building. The results of this study are in the form of a map of the Pakwan Pajajaran dayeuh structure in the city of Bogor. Based on the results of the analysis, it can be concluded that: (1) Pakwan dayeuh land use is divided into 3 levels of sacredness based on the Tri Tangtu cosmology, (2) The structure of the palace road network is a well-organized and well-integrated main road lane, and (3) The results of the analysis of building layout with the Dayeuh Kawali concept divide the Dayeuh Pakwan area into 4 hierarchies. Abstrak. Dayeuh Pakwan Pajajaran merupakan ibukota dari kerajaan Sunda yang lahir dari kerajaan Hindu-Buddha yaitu Kerajaan Tarumanegara pada abad ke-4 sampai abad ke-7. Sebagai bagian dari Kerajaan Sunda, berbagai artefak telah ditemukan namun struktur ruangnya belum tergambarkan dengan baik. Penelitian ini mengangkat bentuk struktur Dayeuh Pakwan berdasarkan temuan artefak dan empat sumber penelitian yaitu (1) Hasil studi terdahulu, (2) Peta VOC abad ke-15 dan laporan ekspedisi VOC, (3) Peta ahli sejarah Nina Lubis, serta (4) Hasil observasi dan wawancara. Metode analisis yang digunakan adalah metode superimpose dengan analisis (1) Tata guna lahan keraton, (2) Jaringan jalan keraton, dan (3) Tata bangunan keraton. Hasil studi ini berupa peta struktur Dayeuh Pakwan Pajajaran di Kota Bogor. Berdasarkan hasil analisis maka dapat disimpulkan bahwa: (1) Penggunaan lahan Dayeuh Pakwan terbagi atas 3 tingkatan kesakralan berdasarkan kosmologi Tri Tangtu, (2) Struktur jaringan jalan keraton merupakan satu jalur jalan utama yang teratur dan terintegrasi dengan baik, dan (3) Hasil analisis tata bangunan dengan konsep Dayeuh Kawali membagi wilayah Dayeuh Pakwan menjadi 4 hirarki.

Page 4 of 23 | Total Record : 225