cover
Contact Name
Unang arifin
Contact Email
bcsurp@unisba.ac.id
Phone
+628996888183
Journal Mail Official
bcsurp@unisba.ac.id
Editorial Address
UPT Publikasi Ilmiah, Universitas Islam Bandung. Jl. Tamansari No. 20, Bandung 40116, Indonesia, Tlp +62 22 420 3368, +62 22 426 3895 ext. 6891
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
ISSN : -     EISSN : 28282124     DOI : https://doi.org/10.29313/bcsurp.v2i2
Bandung Conference Series: Urban and Regional Planning (BCSURP) menerbitkan artikel penelitian akademik tentang kajian teoritis dan terapan serta berfokus pada Perencanaan Wilayah dan Kota dengan ruang lingkup sebagai berikut: Agribisnis, Bencana Alam, Daya Dukung dan Tampung, Ekonomi Lokal, Ekowisata Mangrove, Fasilitas, Gempa Bumi, Evakuasi, Jasa budaya dan spiritual, pariwisata, Jasa Ekosistem, Karangsong Disabilitas, kearifan local, Kelayakan, Kinerja dan Pelayanan Jalan, landmark, pencemaran udara, planologi, Pola Penggunaan Ruang, Rantai pasok, Ruang Terbuka Hijau, Sarana dan prasarana, Shelter, SIKIM, Sistem Penyediaan Air Minum, Taman, Tempat Ibadah, Tingkat Kerentanan Bencana, Wisata. Prosiding ini diterbitkan oleh UPT Publikasi Ilmiah Unisba. Artikel yang dikirimkan ke prosiding ini akan diproses secara online dan menggunakan double blind review minimal oleh dua orang mitra bebestari.
Articles 221 Documents
Konstruksi Sosial Ibn Al-Farabi dalam Masyarakat di Permukiman Magersari Keraton Kasepuhan dan Kanoman Cirebon Kintan Ayu Sevila; Ina Helena Agustina
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (177.733 KB) | DOI: 10.29313/bcsurp.v2i2.3289

Abstract

Abstract. The increase in population which is in line with the increasing need for housing has made the Magersari of Kasepuhan and Kanoman Palaces no longer only intended for courtiers. As a heritage area that is a witness to the history and culture of the Palace from time to time, the Magersari residential social condition in Kasepuhan and Kanoman palaces must have changed along with the entry of immigrants who were neither courtiers nor relatives of the palace. Given the changes that happen to social conditions will affect the meaning formed in social space, the social construction of the Magersari settlements, Keraton Kasepuhan, and Kanoman is a highlight to study. Usage of Ibn Al-Farabi's theory is based on Magersari's background as a heritage area of ​​the Cirebon Sultanate constitutes an Islamic kingdom and also Al-Farabi is an Islamic philosopher and thinker. After a series of observations and in-depth interviews, the author tries to interpret the phenomena caught by using the social construction formulation of Ibn Al-Farabi's theory. Based on empirical findings, it was discovered that the Magersari settlers have positive, optimistic, and open thoughts. Fellow settlers always help each other and have a sense of kinship but still provide boundaries so that they are not too excessive. The settler community still adheres to Islamic values ​​and culture. However, these values ​​began to fade among young people in line with their reluctance to participate in routine agendas in the Magersari settlement, as well as traditional and cultural events held by the Keraton. Abstrak. Peningkatan populalsi yang sejalan dengan peningkatan kebutuhan akan tempat tinggal membuat Magersari Keraton Kasepuhan dan Kanoman tak lagi hanya diperuntukan bagi para abdi dalem. Sebagai kawasan heritage yang merupakan saksi dari sejarah dan kebudayaan Keraton dari masa ke masa, keadaan sosial permukiman Magersari Keraton Kasepuhan dan Kanoman pasti mengalami perubahan seiring dengan masuknya para pendatang yang bukan merupakan abdi dalem maupun kerabat Keraton. Mengingat perubahan yang terjadi pada keadaan sosial akan mempengaruhi pemaknaan yang terbentuk terhadap ruang sosial, maka konstruksi sosial dari permukiman Magersari Keraton Kasepuhan dan Kanoman menjadi hal yang penting untuk diteliti. Penggunaan teori dari Ibn Al-Farabi didasari oleh latar belakang Magersari sebagai kawasan heritage dari Kesultanan Cirebon yang merupakan kerajaan Islam dan Al-Farabi yang merupakan filsuf serta pemikir Islam. Setelah serangkaian observasi dan wawancara mendalam yang dilakukan, penulis berusaha menginterpretasi fenomena yang tertangkap dengan menggunakan rumusan konstruksi sosial dari teori Ibn Al-Farabi. Berdasarkan temuan empiris, didapatkan hasil bahwa masyarakat pemukim Magersari memiliki pemikiran yang positif, optimis dan terbuka. Antar sesama pemukim senantiasa saling membantu dan memiliki rasa kekeluargaan tapi tetap memberi batasan agar tidak terlalu berlebihan. Masyarakat pemukim masih berpegang pada nilai-nilai Islam dan kebudayaan. Namun nilai-nilai ini mulai luntur pada kalangan muda sejalan dengan keengganan mereka untuk berpartisipasi dalam agenda-agenda rutin di dalam permukiman Magersari, maupun agenda-agenda adat-budaya yang diadakan oleh Keraton.
Penerapan Konsep Green infrastructure dalam Mencegah Erosi di Kawasan Sub Das Cikapundung: Studi Kasus : Kecamatan Lembang Annisa Yulianti Suhana; Hilwati Hindersah
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (202.305 KB) | DOI: 10.29313/bcsurp.v2i2.3299

Abstract

Abstract. Phenomena that often occur in watershed areas include sedimentation and erosion. Sedimentation often occurs in downstream watershed areas while erosion often occurs in the upstream area of a watershed. The Cikapundung Sub-Watershed located in Lembang District is the upstream area of the Cikapundung watershed itself. In addition, the Lembang Area also has soil types that are prone to soil movement. These two things, which are the Cikapundung Sub-Watershed area in Lembang District, are considered to have the potential for erosion. Erosion can be prevented with green infrastructure. Green infrastructure has many types, one of which is soil bioengineering which is a soil engineering technique that is considered capable of preventing and reducing the rate of soil erosion. Soil bioengineering utilizes living plants, namely vetiver grass so that it does not have a negative impact on the environment. The analysis carried out in this erosion prevention study by determining the prediction of erosion rates using the GIS-based USLE model. The analysis was carried out in two stages, namely the analysis of the prediction of erosion rates with assumptions without the application of green infrastructure and the second is the analysis of the effectiveness of the application of green infrastructure. The results showed that before the existence of conservation and land management measures, the total amount of predicted land erosion rate was 44,580.11 Tons / Ha / Year with very light - heavy qualifications. However, after analyzing the effectiveness of green infrastructure soil bioengineering by converting the weight of land management to 0.4, namely the conservation weight of vetiver grass, Lembang District can eliminate a maximum of 19.160 tons / ha / year or 42,97% and change the qualification of erosion hazard levels to very low - low. Abstrak. Fenomena yang sering terjadi di kawasan DAS diantaranya adalah sedimentasi dan erosi. Sedimentasi sering terjadi di kawasan DAS bagian hilir sedangkan erosi sering terjadi di kawasan hulu dari suatu DAS. Sub DAS Cikapundung yang berada di Kecamatan Lembang merupakan kawasan hulu dari DAS Cikapundung itu sendiri. Selain itu, Kawasan Lembang juga memiliki jenis tanah yang rawan pergerakkan tanah. Kedua hal ini yang menjadi kawasan Sub DAS Cikapundung di Kecamatan Lembang dinilai memiliki potensi erosi. Erosi dapat dicegah dengan green infrastructure. Green infrastructure memiliki banyak jenisnya salah satunya adalah soil bioengineering yang merupakan teknik rekayasa tanah yang dinilai mampu mencegah dan mengurangi laju erosi tanah. Soil bioengineering memanfaatkan tanaman hidup yaitu rumput vetiver sehingga tidak berdampak negatif terhadap lingkungan. Analisis yang dilakukan dalam penelitian pencegahan erosi ini dengan menentukan prediksi laju erosi menggunakan model USLE berbasis SIG. Analisis dilakukan secara dua tahap pertama yaitu analisis prediksi laju erosi dengan asumsi tanpa penerapan green infrastructure dan kedua yaitu analisis efektivitas penerapan green infrastructure. Hasilnya menunjukkan bahwa sebelum adanya tindakan konservasi dan pengelolaan lahan, total besaran prediksi laju erosi lahan adalah 44.580,11 Ton/Ha/Tahun dengan kualifikasi sangat ringan – berat. Namun setelah dianalisis keefektivitasan green infrastructure soil bioengineering dengan mengkonversi bobot pegelolaan lahan menjadi 0,4 yaitu bobot konservasi rumput vetiver, Kecamatan Lembang dapat menghilangkan maximum 19.160 ton/ha/tahun atau 42,97% dan mengubah kualifikasi tingkat bahaya erosi menjadi sangat rendah – rendah saja
Kajian Dampak Alih Fungsi Lahan Sawah terhadap Struktur Mata Pencaharian Masyarakat di Kecamatan Cianjur Kabupaten Cianjur Muhamad Arpi Darajat; Yulia Asyiawati
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsurp.v2i2.3326

Abstract

Abstract. Land conversion is a change in the function of land which was originally agricultural land turned into settlements or other physical buildings. Land conversion is considered to be a big problem when it results in environmental damage and affects the economic structure of the community. Rice fields in Cianjur District are designated as LP2B. Then with adequate road infrastructure, it is used as an indication of one of the factors causing changes in the economic livelihoods of the people in Cianjur District.This study aims to identify the impact of the conversion of paddy fields on the structure of community livelihoods in Cianjur District, while the method used in this research is a quantitative method. Data collection techniques through observation, interviews and questionnaires. The analytical method in this study uses the overlay analysis method and simple regression analysis.The conclusion of this study is the shift in land use change in Cianjur District in a period of 5 - 10 years where the conversion rate is 10% to 14%, then the tendency of land change is more towards paddy fields that have been facilitated by good road infrastructure, and the impact of land conversion The function of paddy fields affects the livelihoods and income of the community in Cianjur District. Abstrak. Alih fungsi lahan merupakan perubahan fungsi lahan yang awalnya merupakan lahan pertanian berubah menjadi permukiman atau bangunan fisik lainnya. Alih fungsi lahan dianggap menjadi persoalan besar ketika berakibat pada kerusakan lingkungan dan menyentuh terhadap struktur perekonomian masyarakat. Lahan sawah di Kecamatan Cianjur ditetapkan sebagai LP2B. Kemudian dengan prasarana jalan yang memadai dijadikan indikasi salah satu faktor penyebab perubahan mata pencaharian ekonomi masyarakat di Kecamatan Cianjur.Dalam penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dampak alih fungsi lahan sawah terhadap Struktur Mata Pencaharian Masyarakat di Kecamatan Cianjur, adapun metode yang digunakan dalam peneliltian ini adalah metode kuantitatif. Teknik pengumpulan data melalu observasi, wawancara dan kuesioner. Metode analisis dalam penelitian ini menggunakan metode analisis overlay dan analisis regresi sederhana. Hasil kesimpulan dari penelitian ini adalah pergeseran perubahan penggunaan lahan di Kecamatan Cianjur dalam periode 5 – 10 tahun yang mana laju konversi sebesar 10% sampai 14%, lalu kecenderungan perubahan lahannya lebih mengarah kepada lahan sawah yang sudah terfasilitasi prasarana jalan yang baik,dan dampak alih fungsi lahan sawah berpengaruh terhadap mata pencaharian dan pendapatan masyarakat di Kecamatan Cianjur.
Pengaruh Kegiatan Industri terhadap Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Kecamatan Cibogo Kabupaten Subang Muhammad Luthfi Abdul Wahid; Chusharini Chamid
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (408.664 KB) | DOI: 10.29313/bcsurp.v2i2.3331

Abstract

Abstract. Based on the Regional Regulation of Subang Regency Number 3 of 2014 concerning Spatial Planning for the RTRW of Subang Regency in 2011-2031, it explains that Cibogo District is one of the industrial designation areas (KPI) in Subang Regency, this study aims to determine the influence of industry on the socio-economic conditions of the community by industrial activities in Cibogo District. The object of research is all people who live in Cibogo sub-district with the criteria men and women of productive age and working in industry or being affected by industrial activities. The method used is multiple linear regression . Based on the results of F test, significance value for the influence of the existence of industry (Y) on the socio-economic conditions of the community (X) is 0.014 < 0.050 and f count 6.242 > f table 3.94 then reject Ho accept Ha means that there is an influence of the existence of industry (X) on the socio - economic condition of the community ( Y ) is significant . Based on the table of T test results, significance value for the influence of the existence of industry (Y) on the socio-economic conditions of society (X) is 0.014 < 0.050, and T count is 2,498 > T table 1,984 then reject Ho accept Ha which means there is an influence of the existence of industry ( X ) on the socio - economic conditions of the community ( Y ) significantly . Abstrak. Berdasarkan Perda Kabupaten Subang Nomor 3 Tahun 2014 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah RTRW Kabupaten Subang tahun 2011 – 2031 menjelaskan Kecamatan Cibogo menjadi salah satu kawasan peruntukan industry ( KPI ) di Kabupaten Subang, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh industry terhadap kondisi sosial ekonomi masyarakat dengan adanya kegiatan industry di Kecamatan Cibogo . Objek penelitian yaitu seluruh masyarakat asli yang tinggal di kecamatan cibogo dengan kriteria laki-laki dan perempuan usia produktif dan bekerja di industri atau terdampak oleh adanya kegiatan industri . Metode yang digunakan yaitu regresi linier berganda . Berdasarkan hasil uji F dapat diketahui nilai signifkansi untuk pengaruh keberadaan industry ( Y ) terhadap kondisi social ekonomi masyarakat ( X ) adalah sebesar 0.014 < 0.050 dan f hitung 6.242 > f tabel 3.94 maka tolak Ho terima Ha artinya terdapat pengaruh keberadaan industry ( X ) terhadap kondisi sosial ekonomi masyarakat ( Y ) secara signifkan . Berdasarkan tabel hasil uji T dapat diketahui nilai signifkansi untuk pengaruh keberadaan industry ( Y ) terhadap kondisi social ekonomi masyarakat ( X ) adalah sebesar 0.014 < 0.050 , dan T hitung 2.498 > T tabel 1.984 maka tolak Ho terima Ha yang artinya terdapat pengaruh keberadaan industry ( X ) terhadap kondisi social ekonomi masyarakat ( Y ) secara signifkan .
Kajian Dampak Alih Fungsi Lahan Sawah terhadap Struktur Mata Pencaharian Masyarakat di Kecamatan Cianjur Kabupaten Cianjur Muhamad Arpi Darajat; Yulia Asyiawati
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (399.729 KB) | DOI: 10.29313/bcsurp.v2i2.3339

Abstract

Abstract. Land conversion is a change in the function of land which was originally agricultural land turned into settlements or other physical buildings. Land conversion is considered to be a big problem when it results in environmental damage and affects the economic structure of the community. Rice fields in Cianjur District are designated as LP2B. Then with adequate road infrastructure, it is used as an indication of one of the factors causing changes in the economic livelihoods of the people in Cianjur District.This study aims to identify the impact of the conversion of paddy fields on the structure of community livelihoods in Cianjur District, while the method used in this research is a quantitative method. Data collection techniques through observation, interviews and questionnaires. The analytical method in this study uses the overlay analysis method and simple regression analysis.The conclusion of this study is the shift in land use change in Cianjur District in a period of 5 - 10 years where the conversion rate is 10% to 14%, then the tendency of land change is more towards paddy fields that have been facilitated by good road infrastructure, and the impact of land conversion The function of paddy fields affects the livelihoods and income of the community in Cianjur District. Abstrak. Alih fungsi lahan merupakan perubahan fungsi lahan yang awalnya merupakan lahan pertanian berubah menjadi permukiman atau bangunan fisik lainnya. Alih fungsi lahan dianggap menjadi persoalan besar ketika berakibat pada kerusakan lingkungan dan menyentuh terhadap struktur perekonomian masyarakat. Lahan sawah di Kecamatan Cianjur ditetapkan sebagai LP2B. Kemudian dengan prasarana jalan yang memadai dijadikan indikasi salah satu faktor penyebab perubahan mata pencaharian ekonomi masyarakat di Kecamatan Cianjur.Dalam penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dampak alih fungsi lahan sawah terhadap Struktur Mata Pencaharian Masyarakat di Kecamatan Cianjur, adapun metode yang digunakan dalam peneliltian ini adalah metode kuantitatif. Teknik pengumpulan data melalu observasi, wawancara dan kuesioner. Metode analisis dalam penelitian ini menggunakan metode analisis overlay dan analisis regresi sederhana. Hasil kesimpulan dari penelitian ini adalah pergeseran perubahan penggunaan lahan di Kecamatan Cianjur dalam periode 5 – 10 tahun yang mana laju konversi sebesar 10% sampai 14%, lalu kecenderungan perubahan lahannya lebih mengarah kepada lahan sawah yang sudah terfasilitasi prasarana jalan yang baik,dan dampak alih fungsi lahan sawah berpengaruh terhadap mata pencaharian dan pendapatan masyarakat di Kecamatan Cianjur.
Konstruksi Lingkungan Seyyed Hossein Nasr: Studi Kasus: Permukiman Magersari Keraton Kasepuhan dan Keraton Kanoman, Cirebon Chairunisa Matondang; Ina Helena Agustina
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (101.834 KB) | DOI: 10.29313/bcsurp.v2i2.3358

Abstract

Abstract. Kasepuahan Village and Keraton Kanoman are located in Lemahwungkuk District, Cirebon City. Keraton Kasepuhan was established in 1430 and Keraton Kanoman was established in 1678, Keraton Kanoman has the main purpose of spreading Islam in the land of Sunda. In Seyyed Hossein Nasr's Environmental Theology there is a relationship between God, Man and Nature that must be maintained for the harmony of human life. So the purpose of this study is to construct Seyyed Hossein Nasr's Environmental Theology and validate how things are going in the Magersari settlement. However, over time, magersari settlements have changed from the shape of buildings to population density which causes settlements to look dense, besides that because of the increasing number of people, the residential environment becomes less maintained and less clean. However, the community still carries out activities such as devotional work, this is done by residents to maintain the cleanliness of their residential environment and they are aware of the importance of maintaining personal and surrounding health. Abstrak. Kelurahan Kasepuahan dan Keraton Kanoman terletak di Kecamatan Lemahwungkuk Kota Cirebon. Keraton Kasepuhan berdiri pada Tahun 1430 dan Keraton Kanoman berdiri pada Tahun 1678, Keraton Kanoman memiliki tujuan utama yaitu untuk menyebarkan agama islam di tanah Sunda. Dalam Teologi Lingkungan Seyyed Hossein Nasr ada nya hubungan Tuhan, Manusia dan Alam yang harus dijaga untuk keharmonisan kehidupan manusia. Maka tujuan dari penelitian ini adalah mengkonstruksikan Teologi Lingkungan Seyyed Hossein Nasr dan memvalidasi bagaimana keadaan di permukiman Magersari. Namun seiring berjalannya waktu, permukiman Magersari mengalami perubahan dari bentuk bangunan hingga kepadatan penduduk yang menyebabkan permukiman terlihat padat, selain itu karena semakin banyak nya masyarakat maka lingkungan permukiman menjadi kurang terjaga dan kurang bersih. Namun masyarakat masih melakukan kegiatan seperti kerja bakti, hal ini dilakukan warga untuk tetap menjaga kebersihan lingkungan permukiman mereka dan mereka sadar akan pentingnya menjaga kesehatan pribadi dan sekitar.
Kapasitas Adaptif Masyarakat Pesisir terhadap Bencana Abrasi Pantai berdasarkan Sumber Daya Sosial: Studi Kasus : Desa Simpang Ayam, Bengkalis, Riau Annisa Talazur Akyun; Gina Puspitasari Rochman
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsurp.v2i2.3367

Abstract

Abstract. Global warming is a global issue that is the main cause of climate change. One of the causes of the increasing potential for coastal abrasion in coastal areas is sea level rise due to climate change, tides, waves and exacerbated by human activities in coastal areas. This can pose risks to life in coastal areas such as loss of life, damage to housing and infrastructure and loss of livelihoods. Risk can be reduced if a region has adaptive capacity. Thus, the formulation of the problem in this study is how the adaptive capacity of coastal communities to coastal abrasion disaster in Simpang Ayam Village, Bengkalis, Riau. The approach method used is a quantitative method with scoring analysis techniques. Data was collected by distributing questionnaires, observations, interviews and data from the relevant agencies. In this study, the sample was taken using probability sampling technique by means of simple random sampling so that the sample used was 77 respondents. The results of this study indicate that the adaptive capacity of coastal communities to coastal abrasion disasters in Simpang Ayam Village based on social resources is 3.52 which is included in the high class. This means that the community is able to adapt and reduce the risk of abrasion disasters. Abstrak. Pemanasan global merupakan isu dunia yang menjadi penyebab utama terjadinya perubahan iklim. Meningkatnya potensi abrasi pantai di wilayah pesisir salah satunya disebabkan oleh naiknya muka air laut akibat dari perubahan iklim, pasang surut, gelombang dan diperparah dengan aktivitas-aktivitas manusia di wilayah pesisir. Hal tersebut dapat menimbulkan risiko bagi kehidupan di wilayah pesisir seperti korban jiwa, rusaknya tempat tinggal dan infrastruktur serta hilangnya mata pencaharian. Risiko dapat berkurang jika suatu wilayah memiliki kapasitas adaptif. Sehingga, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana kapasitas adaptif masyarakat pesisir terhadap bencana abrasi pantai di Desa Simpang Ayam, Bengkalis, Riau. Metode pendekatan yang digunakan adalah metode kuantitatif dengan teknik analisis skoring. Pengumpulan data dilakukan dengan cara penyebaran kuesioner, observasi, wawancara serta data dari instansi yang terkait. Pada penelitian ini pengambilan sampel dilakukan dengan teknik probability sampling dengan cara simple random sampling sehingga diperoleh sampel yang digunakan sebanyak 77 responden. Hasil dari penelitian ini menujukkan bahwa kapasitas adaptif masyarakat pesisir terhadap bencana abrasi pantai di Desa Simpang Ayam berdasarkan sumber daya sosial adalah sebesar 3,52 yang termasuk dalam kelas tinggi. Artinya, masyarakat mampu untuk beradaptasi dan melakukan pengurangan risiko bencana abrasi.
Perspektif Pengunjung terhadap Tradisi Budaya Keraton Kasepuhan dan Keraton Kanoman Cirebon Muhammad Hendra Maulana; Ina Helena Agustina
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (179.208 KB) | DOI: 10.29313/bcsurp.v2i2.3370

Abstract

Abstract. The visitor's perspective on the cultural traditions found in the Kasepuhan Palace and Kanoman Palace is a step to find out the potential that can attract visitors. The historical evidence left in the two palaces is still preserved, it can be seen from the shape of the building which is still the same, and some aspects of culture that are still carried out today. The cultural traditions found in the Kasepuhan Palace and Kanoman Palace are intangible cultural tours that have been registered in the intangible cultural heritage of West Java, so they must be preserved and maintained. The methodology used in this research is exploratory. This method is used with the aim of mapping the object of study in depth. In this study, the author aims to find out what attracts visitors to the cultural traditions found in the Kasepuhan Palace and Kanoman Palace, so that they can get a potential that can increase public enthusiasm for participating in a series of activities. The result of the analysis that is expected by the author is to find out a potential that can be the main attraction of the end in following the ritual traditions in the Kasepuhan Palace and Kanoman Palace. Abstrak. Perspektif pengunjung terhadap tradisi budaya yang terdapat di Keraton Kasepuhan dan Keraton Kanoman, menjadi suatu langkah untuk mengetahui potensi yang dapat menarik minat pengunjung. Bukti sejarah yang ditinggalkan dikedua Keraton tersebut masih terjaga dapat dilihat dari bentuk bangunan yang masih sama, dan beberapa aspek kebudayaan yang masih dilakukan hingga sekarang. Tradisi budaya yang terdapat di Keraton Kasepuhan dan Keraton Kanoman menjadi wisata budaya takbenda yang telah terdaftar dalam warisan budaya takbenda Jawa Barat, sehingga harus dilestarikan dan dijaga. Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini yaitu eksploratif. Metode ini digunakan dengan tujuan memetakan objek kajian secara mendalam. Pada penelitian ini penulis memiliki tujuan untuk mengetahui apakah yang menjadi daya tarik pengunjung terhadap tradisi budaya yang terdapat di Keraton Kasepuhan dan Keraton Kanoman, sehingga dapat mendapatkan suatu potensi yang bisa meningkatkan antusias masyarakat mengikuti rangkaian kegiatan Hasil dari analisis yang diharapkan oleh penulis adalah mengetahui suatu potensi yang dapat menjadi daya tarik utama pengujung dalam mengikuti tradisi ritual di Keraton Kasepuhan dan Keraton Kanoman.
Strategi Ketercapaian Smart Environment di SWK Gedebage Rajwa Komalaningtyas; Tarlani
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsurp.v2i2.3380

Abstract

Abstract. With the increasing number of urban problems, the government, in this case as a policy maker, can make policy innovations, which one to use technology. Through the Movement Towards 100 Smart City program created by the Ministry of Information and Technology, Bandung has become one of these cities. SWK Gedebage, which is one of eight SWKs in Bandung that will become the City Service Center (PPK) and a technopolis area or area built based on technology, which is stipulated in the Bandung City RDTR 2015-2035. The main problem in Gedebage SWK is flooding, there is garbage piling up in the Gedebage Main Market which causes clogged drainage, causing flooding on roads, to flooding in settlements and housing. Therefore, this study aims to determine the potential and environmental problems in SWK Gedebage and make an achievement strategy based on smart environment criteria in realizing SWK Gedebage as a Technopolis Area and PPK Gedebage. The analysis used using SWOT with secondary data collection of government documents and primary field findings. The strategy is made in accordance with the criteria contained in the smart environment, Environmental Protection Program (Protection), Waste and Waste Management (Waste), and Responsible Energy Management (energy). The results of the SWOT found that the strategic position was made with the problem of flooding and waste, through improving the management of flood management on the Cinambo River border and improving the management of household waste disposal using technology (Incinerator, recycling, and composting) Abstrak. Semakin banyaknya permasalah perkotaan maka pemerintah yang dalam hal ini sebagai pembuat kebijakan dapat melakukan inovasi kebijakan, salah satunya dengan penggunaan teknologi. Melalui program Gerakan Menuju 100 Smart city yang dibuat oleh Kementrian dan Informasi, Kota Bandung menjadi salah satu kota tersebut. SWK Gedebage yang merupakan satu dari delapan SWK di Kota Bandung yang akan menjadi Pusat Pelayanan Kota (PPK) dan merupakan kawasan teknopolis atau kawasan yang dibangun berbasis teknologi, yang ditetapkan pada RDTR Kota Bandung 2015-2035. Permasalahan utama di SWK Gedebage adalah banjir, terdapat sampah menumpuk di Pasar Induk Gedebage yang menyebabkan drainase tersumbat sehingga menimbulkan banjir di ruas jalan, sampai dengan banjir di permukiman dan perumahan. Maka dari itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi dan permasalah lingkungan di SWK Gedebage dan membuat strategi ketercapaian berdasarkan kriteria smart environment dalam mewujudkan SWK Gedebage sebagai Kawasan Teknopolis dan PPK Gedebage. Analisis yang digunakan menggunakan SWOT dengan pengumpulan data sekunder dokumen pemerintah dan primer penemuan lapangan. Strategi yang dibuat sesuai dengan kriteria yang terdapat di smart environment, Program Proteksi Lingkungan (Protection), Tata Kelola Sampah dan Limbah (Waste), dan Tata Kelola Energi yang bertanggung jawab (energy). Hasil dari SWOT ditemukan bahwa posisi strategi dibuat dengan permasalahan banjir dan sampah, melalui peningkatan pengelolaan penanganan banjir di sempadan Sungai Cinambo dan peningkatan pengelolaan pembuangan limbah rumah tangga menggunakan teknologi (Incenerator, recycling, dan composting).
Kajian Pengaruh Keberadaan Ruang Terbuka Hijau terhadap Kenyamanan Termal di Kecamatan Cibingbin, Kota Semarang Sahda Puteri Maheswari; Yulia Asyiawati
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (749.907 KB) | DOI: 10.29313/bcsurp.v2i2.3382

Abstract

Abstract. Changes in land use to built area in Banyumanik District increasing by 12.9% in the last five years which causes a lack of land use for Green Open Space which is an important element for the city's environment. The existence of green open space causes hot temperature conditions with an average temperature 29oC and a temperature increasing 0.083 oC/year and caused low thermal comfort for the community. Green open space has an important role as a source of oxygen production for the community. This study aims to identify the effect of the existence of Green Open Space (RTH) on thermal comfort in Banyumanik District. In this study using quantitative descriptive methods to describe the existing phenomena. The microclimate measurements were carried out on four sample locations and a questionnaire related to public perception. Based on the results of the study, it can be concluded: 1. With an area of 434.48 ha of green open space, it can produce oxygen as much as 309.97 tons/day; 2. THI on built-up land is greater than that of green open space; 3. The existence of green open space has an effect on thermal comfort (H1 is accepted). In order to increase thermal comfort in Banyumanik District, things that can be recommended are: 1. Increasing the number of green open spaces covering an area of 27 hectares to achieve comfortable thermal comfort; 2. Adding ornamental plants to every house; 3. Replacing shrubs with green open space that can produce a lot of oxygen. Abstrak. Perubahan penggunaan lahan menjadi terbangun pada Kecamatan Banyumanik cendrung meningkat dengan jumlah lahan terbangun yang meningkat sebanyak 12,9% pada lima tahun terakhir yang mmenyebabkan kurangnya kebutuhan lahan Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang merupakan salah satu elemen penting dalam meningkatkan kualitas lingkungan hidup kota. Dengan keberadaan lahan RTH eksisting menyebabkan kondisi suhu yang panas dengan rata-rata suhu 29oC dan kenaikan suhu 0,083 oC/tahun sehingga kurangnya kenyamanan termal bagi masyarakat. RTH memiliki peran penting sebagai sumber produksi oksigen bagi masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk untuk mengidentifikasi pengaruh keberadaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) terhadap kenyamanan termal di Kecamatan Banyumanik. Pada penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif untuk mendeskripsikan fenomena yang terjadi. Adapun dilakukan pengukuran iklim mikro terhadap empat sampel lokasi dan kuesioner terkait persepsi masyarakat. Berdasarkan hasil dari kajian dapat disimpulkan : 1. Dengan RTH seluas 434,48 Ha dapat memproduksi oksigen sebanyak 309,97 ton/hari; 2. THI pada lahan terbangun lebih besar daripada lahan RTH; 3. Keberadaan RTH berpengaruh terhadap kenyamanan termal (H1 diterima). Untuk meningkatkan kenyamanan termal di Kecamatan Banyumanik hal yang dapat di rekomendasikan yaitu: 1. Peningkatan jumlah RTH seluas 27 Ha untuk mencapai kenyamanan termal yang nyaman; 2. Penambahan tanaman hias pada setiap rumah; 3. Mengganti lahan perdu dengan RTH yang mampu menghasilkan banyak oksigen.

Page 5 of 23 | Total Record : 221