Bandung Conference Series: Statistics
Bandung Conference Series: Statistics (BCSS) menerbitkan artikel penelitian akademik tentang kajian teoritis dan terapan serta berfokus pada Statistika dengan ruang lingkup sebagai berikut: Alternating Least Square, Analisis Konjoin, Autoregressive, Auxiliary Variabel, Baby Birth, Block Maxima, Churn Distribusi Skellam, Cox Regression, Data spasial, DBD Ordinal Logistic Regression, Diagram kendali, Discrete Choice Experiment Method, Discrete Time Logistic, empirical likelihood, Fisher Scoring, Generalized Structured Component Analysis, Geographically Weighted Regression, GEV, GJR GARCH, Infant Mortality Preferensi, Insurance Claim, Kaplan-Meier, Kernel Bi-Square, Gaussian, Logistic Regression, Maternal Mortality, Mixed Geographically Weighted Regression Model GSTAR, MLE, Model ARIMAX, MSE. Multiple linear regression analysis, Nadaraya Watson, Newton Raphson Method, Nonparametrik Spline Confidence Interval, Optimasi Multi-Objek, orde Spasial, Outlier, Pareto Optimal, Partial Proportional Odds Model, Pemodelan Indeks Pembangunan Manusia. Penduga Rasio dan Produk Tipe Eksponensial, Peramalan, Poisson Bivariate Regression, Poisson Regression, Rata-rata Populasi berhingga, Regresi, Return Period Exogenous Variable, RMSE, Structural Equation Modeling, Survival Analysis, Threshold, Vibrasi Bearing, zero-inflated. Prosiding ini diterbitkan oleh UPT Publikasi Ilmiah Unisba. Artikel yang dikirimkan ke prosiding ini akan diproses secara online dan menggunakan double blind review minimal oleh dua orang mitra bebestari.
Articles
1 Documents
Search results for
, issue
"71-80"
:
1 Documents
clear
Penerapan Metode K-Medoids dengan jarak manhattan untuk Pengelompokan Wilayah Berdasarkan Faktor Risiko DBD di Jawa Barat
Tutik Maya Saroh;
Reny Rian Marliana
Bandung Conference Series: Statistics 71-80
Publisher : UNISBA Press
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29313/bcss.v6i2.24674
Abstract. In 2024, dengue hemorrhagic fever (DHF) cases in West Java Province reached more than 50,000, the highest number in Indonesia. This high figure is influenced by several factors, namely the number of DHF cases, population size, population density, and rainfall, whose characteristics differ across regions so that DHF risk is not evenly distributed across regencies/cities. This research applies the K-Medoids method with Manhattan Distance to group 27 regencies/cities in West Java based on their DHF risk factors, using 2024 secondary data from the West Java Health Profile and the West Java Statistics Agency (BPS). The analysis stages consist of descriptive analysis, outlier detection using the Interquartile Range (IQR), a multicollinearity test using the Variance Inflation Factor (VIF), determination of the optimal number of clusters using the Silhouette Coefficient, and clustering using the K-Medoids algorithm. The results show that the optimal number of clusters is k = 2, with a Silhouette Coefficient of 0.4216. The iteration process converged at the second iteration, with Kuningan and Sukabumi Regencies selected as the final medoids. Cluster 1 (High Risk) consists of 18 regencies/cities with an average of 2,809.56 DHF cases and an average population density of 4,633.06 people/km2, while Cluster 2 (Low Risk) consists of 9 regencies/cities with an average of 1,205.67 DHF cases and an average density of 2,466.67 people/km2. These results indicate that regions with higher population size and density tend to have greater DHF risk, while rainfall shows no consistent relationship with DHF risk in West Java. Abstrak. Demam berdarah dengue (DBD) merupakan salah satu penyakit menular yang masih menjadi permasalahan kesehatan masyarakat di Indonesia, khususnya di Provinsi Jawa Barat yang tercatat sebagai wilayah dengan jumlah kasus tertinggi secara nasional. Pada tahun 2024, jumlah kasus DBD di Jawa Barat mencapai lebih dari 50.000 kasus. Tingginya kasus tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain jumlah kasus DBD, jumlah penduduk, kepadatan penduduk, dan curah hujan, yang karakteristiknya berbeda antarwilayah sehingga tingkat risiko DBD tidak merata di setiap kabupaten/kota. Penelitian ini menerapkan metode K-Medoids dengan ukuran jarak Manhattan Distance untuk mengelompokkan 27 kabupaten/kota di Provinsi Jawa Barat berdasarkan faktor risiko DBD, menggunakan data sekunder tahun 2024 yang bersumber dari Profil Kesehatan Provinsi Jawa Barat dan Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Barat. Tahapan analisis meliputi analisis deskriptif, deteksi pencilan menggunakan metode Interquartile Range (IQR), uji multikolinearitas menggunakan Variance Inflation Factor (VIF), penentuan jumlah cluster optimal menggunakan metode Silhouette Coefficient, serta pengelompokan wilayah menggunakan algoritma K-Medoids. Hasil analisis menunjukkan bahwa jumlah cluster optimal yang terbentuk adalah k = 2, dengan nilai Silhouette Coefficient sebesar 0,4216. Proses iterasi K-Medoids mencapai kondisi konvergen pada iterasi kedua, dengan Kabupaten Kuningan dan Kabupaten Sukabumi terpilih sebagai medoid akhir masing-masing cluster. Cluster 1 (Risiko Tinggi) beranggotakan 18 kabupaten/kota dengan rata-rata jumlah kasus DBD sebesar 2.809,56 kasus dan rata-rata kepadatan penduduk sebesar 4.633,06 jiwa/km2, sedangkan Cluster 2 (Risiko Rendah) beranggotakan 9 kabupaten/kota dengan rata-rata jumlah kasus DBD sebesar 1.205,67 kasus dan rata-rata kepadatan penduduk sebesar 2.466,67 jiwa/km2. Hasil ini menunjukkan bahwa wilayah dengan jumlah dan kepadatan penduduk yang tinggi cenderung memiliki tingkat risiko DBD yang lebih besar, sedangkan curah hujan tidak menunjukkan pola hubungan yang konsisten terhadap tingkat risiko DBD di Provinsi Jawa Barat.