cover
Contact Name
Hasni Syahida
Contact Email
hsyahida@ulm.ac.id
Phone
+6287815460096
Journal Mail Official
homeostasis@ulm.ac.id
Editorial Address
Jalan Veteran No.128 Banjarmasin
Location
Kota banjarmasin,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Homeostasis: Jurnal Mahasiswa Pendidikan Dokter
ISSN : -     EISSN : 27224333     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Homeostasis adalah jurnal yang berisi tulisan yang diangkat dari hasil penelitian yang memiliki fokus dan ruang lingkup di bidang kedokteran dan kesehatan. Tulisan-tulisan yang dimuat bisa dalam bentuk Original Research, Literature Review, ataupun Laporan Kasus. Homeostasis terbit tiga kali setahun pada bulan April, Agustus, dan Desember di setiap tahunnya.
Articles 21 Documents
Search results for , issue "Vol 3, No 1 (2020)" : 21 Documents clear
Hubungan Tingkat Pengetahuan dan Sikap Orang Tua dengan Kejadian Pernikahan Dini di Kecamatan Aluh-Aluh Tahun 2019 Annie Khairun Nida; Meitria Syahadatina Noor; Farida Heriyani
Homeostasis Vol 3, No 1 (2020)
Publisher : Homeostasis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (201.032 KB)

Abstract

Abstract: Early marriage is the marriage of adolescents under the age of 20. Aluh aluh subdistrict has the second-highest rate of early marriage in Banjar district with 67 cases. Parental knowledge and also attitude are the risk factors of early marriage occurrence. The purpose of this study was to determine whether there is an association between the level of parental knowledge and attitude with the occurrence of early marriage in Aluh aluh subdistrict, 2019. This study is an analytic observational with case-control approach. A total of 16 case samples (early marriage) were obtained using a total sampling technique and 16 control samples were obtained using a systematic random sampling technique. Data analysis using chi-square test with fisher test as the alternative with score ρ<0,05. After analyzing the data, the value of ρ  = 0,077 is obtained for the father’s knowledge variable, ρ  = 0,719 for the mother’s knowledge, ρ = 1,000 for the father’s attitude variable, and there is no analysis test for the mother’s attitude variable because 100% of the mothers have a positive attitude. Based on the results of statistical tests, there is no association between parental knowledge and attitudes with the occurrence of early marriage in Aluh aluh subdistrict in 2019. Keywords:  knowledge, attitude, parent, early marriage Abstrak: Pernikahan dini ialah pernikahan pada remaja ketika usianya krang dari 20 tahun. Kecamatan Aluh-Aluh memiliki angka pernikahan dini tertinggi kedua di Kabupaten Banjar dengan 67 kasus. Pengetahuan dan sikap orang mengenai pernikahan dini diketahui merupakan salah satu faktor risiko dari pernikahan dini.   Tujuan dari penelitian ini ialah untuk menjelaskan hubungan antara tingkat pengetahuan dan sikap orang tua dengan kejadian pernikahan dini di Kecamatan Aluh-Aluh tahun 2019. Penelitian ini  bersifat observasional analitik dengan menggunakan metode case control. Sampel diambil dengan teknik total sampling untuk kelompok kasus dan systematic random sampling untuk kelompok kontrol dan didapatkan sebanyak 16 sampel untuk kasus (menikah dini) dan 16 sampel untuk kontrol (tidak menikah dini) yang sesuai dengan kriteria inklusi. Analisis data yang digunakan yaitu uji chi-square serta uji fisher dengan nilai ρ<0,05. Setelah dilakukan analisis data, didapatkan nilai ρ = 0,077 untuk variabel pengetahuan ayah, ρ = 0,719 untuk variabel pengetahuan ibu, ρ = 1,000 untuk variabel sikap ayah, serta tidak dilakukan uji analisis untuk variabel sikap ibu karena 100% ibu memiliki sikap positif. Dari hasil uji statistik, tidak terdapat hubungan antara pengetahuan dan sikap orang tua dengan kejadian pernikahan dini di Kecamatan Aluh-Aluh Tahun 2019. Kata-kata kunci:  pengetahuan, sikap, orang tua, pernikahan dini
Gambaran Most Probable Number Air Galon Bermerek dan Isi Ulang di Banjarmasin Rosmitha Monikayani; Husnul Khatimah; Noor Muthmainah; Rahmiati Rahmiati; Ika Kustiyah Oktaviyanti
Homeostasis Vol 3, No 1 (2020)
Publisher : Homeostasis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (138.867 KB)

Abstract

Abstract: Branded gallon water and refill gallon water become the primary choice of Indonesian people to fill their demand to daily drinking water. PERMENKES number 492 in 2010 stated that water for consumption shouldn’t contain any coliform bacteria. The purpose of this study was to describe Most Probable Number in branded gallons water and refill gallons water in Banjarmasin. The method used in this study was descriptive cross-sectional. This MPN test was using table of Thomas 511. The results showed that from 15 of 15 samples branded gallons water in Banjarmasin, the Most Probable Number were 0/100mL. Besides, refill gallons water in Banjarmasin from 5 of 15 samples showed that the Most Probable Number were 2/100mL. It means branded gallons water in Banjarmasin didn’t contain any coliform bacteria while refill gallons water in Banjarmasin have to give control to depots because it was contain coliform bacteria. Keywords: most probable number (mpn), branded gallons water, refill gallons water. Abstrak: Air galon bermerek dan isi ulang menjadi pilihan utama masyarakat Indonesia untuk memenuhi kebutuhan air minum sehari-hari. PERMENKES No.492 tahun 2010 mengatur bahwa air yang dikonsumsi tidak boleh mengandung bakteri coliform. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran Most Probable Number air galon bermerek dan isi ulang di Banjarmasin. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif dengan pendekatan cross-sectional. Uji Most Probable Number ini menggunakan tabel MPN Thomas 5 1 1. Hasil penelitian 15 dari 15 sampel air galon bermerek di Banjarmasin mempunyai nilai Most Probable Number 0/100mL. Sedangkan, air galon isi ulang di Banjarmasin menunjukan 5 dari 15 sampel mendapatkan nilai Most Probable Number 2/100mL. Hal ini menunjukan bahwa air galon bermerek di Banjarmasin tidak mengandung bakteri coliform, sedangkan air galon isi ulang di Banjarmasin perlu dilakukan pengawasan yang lebih karena mengandung bakteri coliform. Kata-kata kunci: most probable number (mpn), air galon bermerek, air galon isi ulang.
Perbandingan Volume Oksigen Maksimal Anggota Komunitas South Borneo Runners yang Jogging Rutin dengan Tidak Rutin Aldi Septea Rahman; Asnawati Asnawati; Ahmad Husairi
Homeostasis Vol 3, No 1 (2020)
Publisher : Homeostasis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (161.108 KB)

Abstract

Abstract: Fit people have higher maximal oxygen consumption value (VO2 max) and they can do physical activity stronger than people who are in unfit condition. One sport that can increase value of maximal oxygen consumption (VO2 max) is aerobic exercise, like jogging. The purpose of research is compare maximal oxygen volume between people who are routine and non-routine in jogging. The research used an analytic observation design by compare between people who are routine (1-2 times a week) in run community of South Borneo Runners Banjarmasin. There are 41 South Borneo Runners members are used as subjects, consist of 26 subject that are categorized as training routine, and 15 subject that are categorized as not training routine. Subjects were selected using consecutive sampling technique. The VO2 max used is multistage fitness test. The VO2 max's value of the group who jogging routinely was 36,95779±5,44765 ml/kg/minutes, and the non-routine group was 29,2667±3,03684 ml/kg/minutes. Statistical test result using independent t test obtained P = 0,00. The conclusion of research is that there are significant differences between subject who exercise routinely, 1-2 times a week, and those who non routine in jogging. Keywords: jogging, VO2 max, multistage fitness test Abstrak: Orang yang kebugarannya baik memiliki nilai konsumsi oksigen maksimal (VO2 max) yang tinggi dan dapat melakukan aktifitas fisik lebih kuat daripada mereka yang dalam kondisi tidak baik. Salah satu olahraga yang dapat meningkatkan VO2 max adalah olahraga aerobik yaitu jogging. Tujuan penelitian adalah membandingkan volume oksigen maksimal antara orang yang rutin dengan yang tidak rutin latihan jogging. Penelitian menggunakan desain observasional analitik dengan membandingkan antara kelompok yang rutin dengan yang tidak rutin latihan jogging 1-2 kali seminggu pada komunitas South Borneo Runners Banjarmasin. Anggota komunitas South Borneo Runners yang digunakan sebagai subjek ada 41 subjek, terdiri dari 26 subjek yang dikategorikan rutin latihan dan 15 subjek yang dikategorikan tidak rutin latihan. Subjek dipilih menggunakan teknik consecutive sampling. Tes VO2 max yang digunakan adalah multistage fitness test. Didapatkan nilai VO2 max kelompok yang rutin latihan jogging sebesar 36,9577±5,44765 ml/kg/menit dan kelompok yang tidak rutin sebesar 29,2667±3,03684 ml/kg/menit. Hasil uji statistik menggunakan uji t tidak berpasangan didapatkan nilai p = 0,00. Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat perbedaan yang bermakna antara subjek yang rutin latihan dengan yang tidak rutin latihan jogging setiap 1-2 kali seminggu. Kata-kata kunci: jogging, VO2 max, multistage fitness test
Perbedaan Serum Glutamic Pyruvic Transaminase dan Kreatinin pada Preeklampsia Berat Early Onset dengan Late Onset Rayhana Yamini; Bambang Abimanyu; Azma Rosida
Homeostasis Vol 3, No 1 (2020)
Publisher : Homeostasis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (158.976 KB)

Abstract

Abstract: Severe preeclampsia is one of hypertension in pregnancy that is accompanied by proteinuria or involvement of other organs, such as liver and kidney which can be seen from the increased activity of Serum Glutamic Pyruvic Transaminase (SGPT) of the liver and renal creatinine levels. Severe preeclampsia is distinguished by early onset and late onset. The purpose of this study was to determine the differences between SGPT and creatinine in severe early onset preeclampsia with late onset in Ulin Hospital Banjarmasin from January to December 2018. The study was analytic observational. Samples were taken with a non-probability sampling technique with a purposive sampling method, obtained 210 samples that fit the inclusion and exclusion criteria from secondary data. Data analysis using the Mann-Whitney test. The results showed that the median and percentile SGPT of early onset were 28.60 (8-571) U/L and late onset were 20.00 (4-611) U/L. The median and percentile creatinine of early onset were 0.91 (0.45-2.97) mg/dL and late onset were 0.72 (0.19-2.46) mg/dL in severe preeclampsia. There was a significant difference (p = 0.007) in SGPT and (p = 0.002) in creatinine in early onset severe preeclampsia with late onset in Ulin Hospital Banjarmasin in the January-December 2018 period. Keywords: SGPT, creatinine, severe preeclampsia, early onset, late onset. Abstrak: Preeklampsia berat adalah salah satu hipertensi pada kehamilan yang disertai proteinuria atau keterlibatan organ lain, seperti hati dan ginjal yang dapat dilihat dari peningkatan aktivitas Serum Glutamic Pyruvic Transaminase (SGPT) hati dan kadar kreatinin ginjal. Preeklampsia berat berdasarkan awitan dibagi menjadi early onset dan late onset. Tujuan penelitian untuk mengetahui perbedaan SGPT dan kreatinin pada preeklampsia berat early onset dengan late onset di RSUD Ulin Banjarmasin periode Januari-Desember 2018. Penelitian bersifat observasional analitik. Sampel diambil dengan teknik non-probability sampling dengan metode purposive sampling, didapatkan 210 sampel yang sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi data diambil dari data sekunder. Analisis data menggunakan uji Mann-Whitney. Hasil penelitian didapatkan median SGPT early onset sebesar 28,60 U/L dengan nilai minimum-maksimum 8-571 U/L, median SGPT late onset sebesar 20,00 U/L dengan nilai minimum-maksimum 4-611 U/L, median kreatinin early onset sebesar 0,91 mg/dL dengan nilai minimum-maksimum 0,45-2,97 mg/dL, median kreatinin late onset sebesar 0,72 mg/dL dengan nilai minimum-maksimum 0,19-2,46 mg/dL pada preeklampsia berat. Terdapat perbedaan bermakna (p = 0,007) pada SGPT dan (p = 0,002) pada kreatinin preeklampsia berat early onset dengan late onset di RSUD Ulin Banjarmasin periode Januari-Desember 2018. Kata-kata kunci: SGPT, kreatinin, preeklampsia berat, early onset, late onset.
Perbandingan Aktivitas Daya Hambat Sediaan Tunggal dengan Kombinasi Infus Phyllanthus niruri dan Peperomia pellucida terhadap Staphylococcus aureus Lie Vanny Leono; Edyson Edyson; Lia Yulia Budiarti
Homeostasis Vol 3, No 1 (2020)
Publisher : Homeostasis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (235.105 KB)

Abstract

Abstract: Phyllanthus niruri and Peperomia pellucida traditionally used for treatment of a variety of diseases. Both of these plants are known to contain compounds that have antibacterial activity name flavonoids, alkaloids, tannins. Medicinal plant consumption can be used singly or in combination. The purpose of this study was to analyze the differences of  optimum inhibitory activity between a single and the combination of infusion of P. niruri and P. pellucida on the growth of S. aureus in vitro. This study method was a true experimental with post test-only design with control group design, consisting of 26 single and combination treatments of P. niruri concentrations at 5%, 15, 25%, 35% and P. pellucida concentration at 10%, 20%, 30 %, 40%. The controls used were vancomycin 30µg and distilled water. The parameter measured is the diameter of the inhibition zone. The data was analyzed used One-way ANOVA test and Duncan's post-hoc test with α = 0.05. The results showed there were significant differences from each treatment of single and combination infusion (p <0.05). The combination of P. niruri and P. pellucida infusion that produces optimum inhibitory zone effect greater than the single preparation found at Meniran 25% + P. pellucida 40%. The conclusion from this study is that the combination infusion have optimum inhibition greater than the single infusion. Keywords: single dose, combination dose, Phyllanthus niruri, Peperomia pellucida, Staphylococcus aureus, optimum inhibitory activity Abstrak: Meniran (Phyllanthus niruri) dan sirih cina (Peperomia pellucida) merupakan tanaman herbal yang digunakan masyarakat untuk mengobati berbagai macam penyakit.  Kedua tanaman ini diketahui mengandung senyawa yang bersifat antibakteri yaitu flavonoid, alkaloid, dan tanin. Sediaan tanaman obat dapat digunakan secara tunggal maupun kombinasi. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis perbedaan aktivitas daya hambat optimum dari sediaan tunggal dan kombinasi infus meniran dan sirih cina terhadap pertumbuhan S. aureus secara in vitro. Metode penelitian ini adalah true experimental dengan rancangan post test-only with control group design, terdiri dari 26 perlakuan sediaan tunggal dan kombinasi infus pada konsentrasi meniran 5%, 15, 25%, 35% dan sirih cina 10%, 20%, 30%, 40%. Kontrol yang digunakan yaitu Vankomisin 30µg dan akuades. Parameter yang diukur yaitu diameter zona hambat. Analisis data menggunakan uji One-way ANOVA dan uji post-hoc Duncan dengan α = 0,05. Hasil penelitian didapatkan ada perbedaan bermakna dari masing-masing perlakuan sediaan tunggal dan kombinasi (p < 0,05). Sediaan kombinasi infus meniran dan sirih cina yang menghasilkan efek zona hambat optimum lebih besar daripada sediaan tunggalnya terdapat pada konsentrasi meniran 25% + sirih cina 40%. Simpulan dari penelitian ini adalah sediaan kombinasi memiliki daya hambat optimum lebih besar dibandingkan sediaan tunggalnya. Kata-kata kunci: sediaan tunggal, sediaan kombinasi, Phylanthus niruri, Peperomia pellucida, Staphylococcus aureus, Daya hambat optimum
Perbandingan Aktivitas Antibakteri Ekstrak Daun Tanjung dan Daun Jambu Biji Terhadap Salmonella typhi In Vitro Dini Rizki Aulia; Noor Muthmainah; Alfi Yasmina
Homeostasis Vol 3, No 1 (2020)
Publisher : Homeostasis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (238.281 KB)

Abstract

Abstract: Tanjung and guava plant have been known as the famous plant in Indonesia used for antidiarrhea. The active ingredientts of ethanol’ extract of tanjung leaves are alkaloid, tanin and saponin, while the active ingredients of ethanol extract of guava leaves are alkaloid and flavonoid. The purpose of this study was to assess the comparison of antibacterial activity between tanjung leaves and guava leaves ethanol extracts against Salmonella typhi in vitro. The design of the study was true experimental with Posttest-Only with Control Group Design method, using random design group which consisted of the following concentrations of both extract; 6.25%, 12.5%, 25%, 50%, and with chloramphenicol 30 µg as positiv control and aquades as negative conttrol.  The statistical analysis in this study used Shapiro-Wilk, Levene’s Test, Kruskal-Wallis and Mann-Whitney tests. The average of largest inhibitory zone of both extracts with the concentration of 50% was 15.74 mm for tanjung leaves ethanol extract and 14.99 mm for guava leaves ethanol extract. There was significant differences of inhibitory zone diameters between tanjung leaves and guava leaves extract at the concentration of 6.25%, 12.5%, and 50% (p < 0,05). The conclusion of this study showed that ‘the tanjung leaves ethanol extract has significantly higher average of inhibitory zone compared to guava leaves ethanol extract against S. typhi. Keywords: tanjung leaves, guava leaves, Salmonella typhi. Abstrak: Tanaman tanjung dan jambu biji adalah tanaman yang sudah terkenal lama di Indonesia sebagaii antidiare. Kandungan zat aktif yang terdapat pada ekstrak etanol daun tanjung meliputi senyawa alkaloid, tanin, dan saponin,sedangkan ekstrak etanol daun jambu biji memiliki kandungan zat aktif berupa senyawa alkaloid dan flavonoid. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui perbandingan aktiivitas antibakteri esktrak etanol daun tanjung dan daun jambu biji ‘terhadap Salmonella typhi in vitro. Penelitian ini merupakan penelitian true experimental dengan metode Posttest-Only with Control Group Design, menggunakan rancangan penelitian acak kelompok yang terdiri dari perlakuan konsentrasi ekstrak etanol daun tanjung dan daun jambu biji sebesar 6,25%, 12,5%, 25%, 50% serta kloramfenikol 30 µg sebagai kontrol positif dan aquadest sebagai kontrol negatif. Analisis data penelitian menggunakan uji Shapiro-Wilk, Levene’s Test, Kruskal-Wallis dan Mann-Whitney, dengan tingkat kepercayaan 95%. Rerata zona hambat terbesar yang dihasilkan ekstrak daun tanjung dan daun jambu biji dengan konsentrasi 50% terhadap pertumbuhan S. typhi secara berturut-turut sebesar 15,74 mm dan 14,99 mm. Terdapat perbedaan bermakna diameter zona hambat antara ekstrak daun tanjung dan jambu biji pada konsentrasi 6,25%, 12,5%, dan 50% (p < 0,05). Kesimpulannya adalah ekstrak etanol daun tanjung memiliki rerata zona hambat yang lebih besar secara bermakna dibandingkan ekstrak etanole daun jambu biji terhadap pzertumbuhan S. typhi Kata-kata kunci: daun tanjung, daun jambu biji, Salmonella typhi
Identifikasi Escherichia coli pada Air Galon Bermerek dan Isi Ulang di Banjarmasin Rizkiya Novita; Rahmiati Rahmiati; Husnul Khatimah; Noor Muthmainnah; Ida Yuliana
Homeostasis Vol 3, No 1 (2020)
Publisher : Homeostasis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (180.891 KB)

Abstract

Abstract: The use of branded galon water and galon water from refill galon water is increasing every year. Both of them must fulfill the regulations of PERMENKES number 492/MENKES/IV/2010 in this regulation the maximum level of Escherichia coli in a 100 ml water sample is 0. This research aims to determine whether there is any contamination of Escherichia coli in branded galon water and refill galon water. This study used by taking samples from 5 brands of branded galon water and 5 refill galon. 3 samples were taken from each brand and each refill galon, thus 15 samples of branded galon water and 15 samples of refill galon water were obtained.  The samples were tested by conventional method like MPN test, gram staining and biochemistry test. The results showed that 5 out of 15 refill galon samples contain Escherichia coli, and no branded galon water samples contain any Escherichia coli. Keywords: Escherichia coli, branded gallon water, refill gallon water, Banjarmasin Abstrak: Penggunaan air galon bermerek dan air galon isi ulang dari depot air minum isi ulang (DAMIU) dari tahun ketahun semakin meningkat. Air galon bermerek maupun air air galon isi ulang keduanya harus memenuhi persyaratan PERMENKES nomor 492/MENKES/IV/2010 dengan ketentuan kadar maksimal Escherichia coli dalam 100 ml sampel adalah 0.  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat cemaran Escherichia coli pada air galon bermerek dan air galon isi ulang dari DAMIU. Penelitian ini dilakukan dengan mengambil sampel dari 5 merek air galon bermerek dan 5 tempat DAMIU. Setiap merek dan setiap DAMIU kemudian di ambil 3 sampel, sehingga menjadi 15 sampel air galon bermerek dan 15 sampel DAMIU.. Sampel kemudian di uji secara konvensional, menggunakan uji MPN, pewarnaan gram dan uji. Hasil identifikasi menunjukan 5 dari 15 sampel DAMIU mengandung Escherichia coli, dan tidak ditemukan Escherichia coli pada AMDK.  Kata-kata kunci: Escherichia coli,  air galon bermerek, air galon isi ulang, Banjarmasin.
Hubungan Asupan Protein dan Zat Besi dengan Kejadian Anemia pada Remaja Putri di SMPN 18 Banjarmasin Fitrah Noor Pratama; Meitria Syahadatina Noor; Farida Heriyani
Homeostasis Vol 3, No 1 (2020)
Publisher : Homeostasis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (153.581 KB)

Abstract

Abstract: Anemia is a condition of decreased hemoglobin levels in the blood. Data from the Banjarmasin City Health Department 2018 the incidence of anemia in adolescents was 924 cases, consisting 884 young women and 40 young men. One factor that may cause anemia is the lack of protein and iron intake. The purpose of this study was to determine and analyze the relationship of protein and iron intake with the incidence of anemia in adolescent girls at SMPN 18 Banjarmasin. The method used in this study is analytic observational with a cross-sectional approach. The population was the entire female students at SMPN 18 Banjarmasin with 88 females as the sample. The sampling technique used a proportional random sampling. Chi square test was used to help analyze this research. The results of this study were 47% of respondents with anemia and 53% without anemia, 60% of inadequate protein intake and 40% of adequate protein intake, 70% of inadequate iron intake and 30% of adequate iron intake. Chi-square test shows the results with a value of p = 0.149 for the association of protein intake of adolescents females with anemia and a value of p = 0.084 for the association of iron intake of adolescents females with anemia. In conclusion, there is no association between protein and iron intake with the occurrence of anemia in adolescents females at SMPN 18 Banjarmasin. Keywords : protein intake, iron intake, anemia, adolescents females. Abstrak: Anemia merupakan keadaan terjadinya penurunan kadar Hb darah di dalam tubuh. Data Dinas Kesehatan Kota Banjarmasin 2018 angka kejadian anemia pada remaja sebesar 924 kasus, 884 remaja putri dan 40 remaja putra. Asupan protein dan zat besi yang kurang merupakan salah satu faktor kejadian anemia. Metode observasional analitik digunakan pada penelitian ini dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian adalah remaja putri SMPN 18 Banjarmasin dengan jumlah 88 orang. Pengambilan sampel dengan proportional random sampling.  Data hasil uji chi-square menunjukan responden yang mengalami anemia 47% dan tidak anemia 53%, asupan protein yang tidak terpenuhi sebanyak 60% dan yang terpenuhi sebanyak 40%, asupan zat besi yang tidak terpenuhi sebanyak 70% dan yang terpenuhi sebanyak 30%. Hasil analisis uji chi square menunjukkan nilai p=0,149 untuk hubungan asupan protein dengan anemia dan nilai p=0,084 untuk hubungan asupan zat besi dengan kejadian anemia. Hasil pada penelitian ini menunjukan tidak ada hubungan asupan protein dan zat besi dengan kejadian anemia pada remaja putri di SMP Negeri 18 Banjarmasin. Kata-kata kunci: asupan protein, asupan zat besi, anemia, remaja putri
Perbandingan Aktivitas Antibakteri Ekstrak Daun Tanjung dan Daun Jambu Biji terhadap Escherichia coli In Vitro Rinny Vebliani; Noor Muthmainah; Alfi Yasmina
Homeostasis Vol 3, No 1 (2020)
Publisher : Homeostasis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (193.826 KB)

Abstract

Abstract: Tanjung leaves and guava leaves are commonly used by the community as herbal medicines. Guava leaves contain antibacterial compounds, namely, saponins, tannins, alkaloids and flavonoids, while the tanjung leaves contain alkaloids, tannins and saponins. This study aimed to examine the comparison of the antibacterial activity between tanjung leaves extract and guava leaves extract against Escherichia coli in vitro. The methods used in this study was true experimental with post test only with control group design, consisting of 10 treatments of tanjung and guava leaves extracts at the concentrations of 20%, 25%, 30% and 35%, chloramphenicol as positive control, and distilled water as negative control. The parameter measured was the diameter of the inhibitory zone. Data analysis used the Kruskal-Wallis test and the Mann-Whitney test, with 95% confidence level. In this study, the results obtained showed no significant differences between treatments with tanjung leaves extract and guava leaves extracts at the concentrations of 20%, 25%, 30%, and 35% (p > 0.05). The conclusion of this study is that the antibacterial activity of tanjung leaves extract did not differ significantly with guava leaves extract against E. coli at the same concentration. Keywords: Escherichia coli, inhibitoryzone, tanjung leaves, and guava leaves  Abstrak: Daun tanjung dan daun jambu biji biasa digunakan oleh masyarakat sebagai obat herbal. Daun jambu mengandung zat antibakteri yaitu saponin, tanin, alkaloiddanflavonoid, sedangkan pada daun tanjung yaitu alkaloid, tanindansaponin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan aktivitas antibakteri ekstrak daun tanjung dan daun jambu biji terhadap Escherichia coliin vitro. Metode penelitian ini adalah true experimental dengan rancangan post test only with control grup design, terdiri dari 10 perlakuan ekstrak daun tanjung dan daun jambu biji dengan konsentrasi 20%, 25%, 30% dan 35%, kloramfenikol sebagai kontrol positif, serta akuades sebagai kontrol negatif. Parameter yang diukur adalah diameter zona hambat. Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji Kruskal-Wallis dan uji Mann-Whitney, dengan tingkat kepercayaan 95%. Pada penelitian ini didapatkan hasil tidak ada perbedaan bermakna antara dari perlakuan ekstrak daun tanjung dan daun jambu biji konsentrasi 20%, 25%, 30%, dan 35% (p > 0,05). Simpulan pada penelitian ini adalah aktivitas antibakteri ekstrak daun tanjung tidakberbeda bermakna secara statistik dibandingkan ekstrak daun jambu biji terhadap E. coli pada konsentrasi yang sama. Kata-kata kunci: Escherichia coli, zona hambat, daun tanjung, daun jambu biji.
Perbandingan Aktivitas Antibakteri antara Ekstrak Daun dan Kulit Batang Tanjung terhadap Staphylococcus aureus In Vitro Nadita Arianti Sumarno; Alfi Yasmina; Noor Muthmainah
Homeostasis Vol 3, No 1 (2020)
Publisher : Homeostasis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (212.961 KB)

Abstract

Abstract: Tanjung (Mimusops elengi L.) is a medicinal plant that can treat various diseases, one of which is caused by Staphylococcus aureus. This plant contains alkaloid, tannin, saponin, and flavonoid which have effect as antibacterials. The purpose of this study was to determine the comparison of antibacterial activity between tanjung leaves and stem bark extracts against S. aureus in vitro. The method of this study was true experimental with post-test only with control group design, consisting of 10 treatments of tanjung leaves and stem bark extracts with concentrations of 15%, 25%, 35%, and 45%, the positive control (clindamycin 2 μg), and the negative control (aquadest). Extraction method used was maceration with 70% ethanol. The positive control was clindamycin 2 μg, and negative control was aquadest. The measured parameter was the diameter of the inhibitory zone. Statistical analysis used were the Kruskal-Wallis test and the Mann-Whitney test, with 95% confidence level. The results of this study found significant differences between treatments of tanjung leaves and stem bark extracts. Significant differences were found between the treatment with tanjung leaves and stem bark extracts of all concentrations, that is, concentrations of 15%, 25%, 35%, and 45%. The conclusion of this study is that there are significant differences in antibacterial activity between tanjung leaves and stem bark extract in the same concentration against S. aureus in vitro. Keywords: Tanjung leaves, tanjung stem bark, Staphylococcus aureus, inhibitory zone Abstrak: Tanaman tanjung (Mimusops elengi L.) adalah tanaman yang memiliki banyak khasiat dalam mengobati berbagai jenis penyakit, salah satunya penyakit yang disebabkan oleh bakteri Staphylococcus aureus. Tanaman ini memiliki kandungan alkaloid, tanin, saponin, dan flavonoid yang bersifat antibakteri. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui perbandingan aktivitas antibakteri antara ekstrak daun dan kulit batang tanjung terhadap S. aureus in vitro. Metode penelitian ini adalah true *(experimental dengan rancangan post test-only with control group design, terdiri dari 8 perlakuan ekstrak daun dan kulit batang tanjung dengan konsentrasi 15%, 25%, 35%, dan 45%, serta kontrol positif klindamisin 2 µg, dan kontrol negatif akuades. Metode ekstraksi yang digunakan adalah maserasi dengan pelarut etanol 70%. Kontrol positif klindamisin 2 µg, dan kontrol negatif akuades. Parameter yang diukur adalah diameter zona hambat. Analisis data menggunakan uji Kruskal-Wallis dan uji Mann-Whitney dengan tingkat kepercayaan 95%. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya perbedaan bermakna dari perlakuan ekstrak daun dan kulit batang tanjung. Perbedaan yang bermakna terdapat antara perlakuan dengan ekstrak daun dan kulit batang tanjung semua konsentrasi, yaitu konsentrasi 15%, 25%, 35%, dan 45% (p < 0,05). Simpulan pada penelitian ini adalah terdapat perbedaan bermakna aktivitas antibakteri antara ekstrak daun dan kulit batang tanjung pada konsentrasi sama terhadap S. aureus in vitro. Kata-kata kunci: Daun tanjung, kulit batang tanjung, Staphylococcus aureus, Zona hambat

Page 2 of 3 | Total Record : 21