cover
Contact Name
Mulyawan Safwandy Nugraha
Contact Email
mulyawan77@gmail.com
Phone
+628121117577
Journal Mail Official
jurnal.lektur@gmail.com
Editorial Address
Gedung kementerian Agama RI lantai 20 Jl. MH. Thamrin No. 6 Kebon Sirih Menteng Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10340
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Lektur Keagamaan
ISSN : 16937139     EISSN : 2620522X     DOI : DOI: 10.31291/jlka
the studies of classic religious manuscripts; the studies of contemporary religious manuscripts; religious history and society; religious archaeology; and religious arts on the scope of Nusantara.
Articles 309 Documents
Inskripsi Keagamaan Nusantara di Palu Sulawesi Tengah Dede Burhanudin
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 14 No 1 (2016)
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1799.859 KB) | DOI: 10.31291/jlk.v14i1.476

Abstract

Religious inscriptions often cannot be separated from religious doctrines developed by the local communities in relation to their level of understanding of religion. In Central Sulawesi, religious teachings acquired from the teachers, scholars and religious leaders of Islam have colored the form and content of religious inscriptions. This article discusses the history and development of some religious inscriptions in Central Sulawesi, primarily in the cities of Palu, Donggala, and Banggai. The study focuses on four areas, namely (1) The family cemetery of Tanga Banggo (Kings of Palu), (2) the Mosque of Kampung Baru in Kota Palu, (3) the Al-Amin Mosque in Wani, Donggala, and (4) The Grand Mosque of Donggala in Donggala. From these areas, the research found 46 inscriptions. The inscription on the tombstone consists of identity and titles of the deceased, prayers, verses of the Qur’an, and the name of the Prophet's family and Companions. Meanwhile, the inscription on the mosques consists of the mosque names, the year of construction, and Hadith. Calligraphy is used generally in the styles of Tsulutsi, and Naskhi. The materials used consisted of wood, river rock, stone and marble temples. The existing conditions of inscriptions on tombstones, generally have suffered damage (wear). Headstone size generally between 20-120 centimeters. Headstone for men mostly spherical (phallus) and for women are usually flat. At the cemetery, the inscription contains the pilgrimage to the cemetery or graves, especially the graves Islamic leaders generally have similarities with other regions in Indonesia. While encryption in mosques suggests the words of prayers five times a day, away from God’s prohibition, hoping to worship for Allah's pleasure, advice, obedience, and others. Keywords: Religious Inscription, Mosques, Tombs, Islam, History, Central Sulawesi Inskripsi kegamaan seringkali tidak dapat dipisahkan dari kepercayaan masyarakat setempat dalam hubungannya dengan tingkat pemahaman mereka terhadap agamanya. Di Sulawesi Tengah, ajaran agama yang diperoleh dari para guru, ulama dan pimpinan agama Islam sedari awal mewarnai bentuk dan isi inskripsi keagamaan. Artikel ini membahas sejarah dan perkembangan beberapa inskripsi keagamaan di provinsi Sulawesi Tengah, tepatnya di kota yaitu Palu, Donggala, dan Banggai. Penelitian di fokuskan pada empat lingkungan, yaitu (1) Makam Situs Pekuburan Keluarga Tanga Banggo (Raja-Raja Palu), (2) Masjid Jami Kampung Baru Kota Palu, (3) Masjid Al Amin Wani di Donggala, dan (4) Masjid Raya Donggala di Donggala. Penelitian ini menemukan 46 inskripsi. Inskripsi pada nisan terdiri dari identitas dan gelar orang yang meninggal, doa, ayat al-Qur’an, dan nama keluarga dan sahabat Nabi. Sementara itu, inskripsi di Masjid terdiri dari nama masjid, tahun pembangunannya, dan hadis. Kaligrafi yang digunakan umumnya memakai Arab tsulutsi, dan naskhi. Adapun bahan yang digunakan terdiri dari kayu, batu sungai, batu candi dan marmer. Keadaan inskripsi yang ada pada nisan, umumnya telah mengalami kerusakan (aus). Ukuran nisan pada umumnya antara 20 - 120 cm. Nisan untuk laki-laki kebanyakan berbentuk bulat (lingga) dan untuk perempuan pipih. Di pekuburan, inskripsi berisikan ziarah ke pemakaman atau kuburan, terutama kuburan pemuka-pemuka Islam yang banyak kesamaan dengan daerah lainnya di Indonesia. Sementara inkripsi yang ada di masjid banyak menjelaskan masalah salat lima waktu, menjauhi larangannya, ibadah untuk mengharap rida Allah, nasehat, ketaatan, dan lain-lain. Kata kunci: Prasasti Keagamaan, Masjid, Kuburan, Islam, Sejarah, Sulawesi Tengah
Prasasti Huruf Arab Koleksi Museum Masjid Agung Demak Tawalinuddin Haris
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 14 No 1 (2016)
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1473.566 KB) | DOI: 10.31291/jlk.v14i1.477

Abstract

This article discusses an inscription of a historic mosque in Java, namely the Demak Mosque Regol inscription in 1804. The inscription contains information relating to the construction of the mosque Regol by the regents of Demak, KRMT Arya Purbaningrat in 1292 AH (1875 AD). In this inscription it was also mentioned the name of Mas Haji Muhammad Khasan Basri, the qadi or Imam of Demak Mosque. This study concludes that the inscription collection of the Museum of the Great Mosque of Demak is the construction regol or gate Masjid Demak by the Regent of Demak, Kanjeng Raden Mas Tumenggung Arya Prabuningrat, in 1292 H (1875 AD) and the development Tarub Tratag Rambat in 1308 H (1819 AJ) which coincides with 1889 AD, not 1885 as stated on its inscription by the Regent of Demak, Kanjeng Raden Panji Tumenggung Adiningrat. According to the Museum Great Mosque of Demak, the second building (Regol and Tarub Tratag Rambat) was dismantled in 1966. If true, then the demolition of the building took place during the reign of the Regent of Demak Raden Indriyo Yatmo Pranoto (1958-1966). From the reading of inscriptions that the year 1804 was not found. The year (1804) was obtained if the number 1292 H is converted to Java year system, so the numbers refer to the year 1804 Javanese year (1804 AJ). In other words, the numbers associated with the 1804 inscription naming Regol Masjid was never mentioned in the inscriptions, so the inscription naming here is less relevant. Keywords: Mosque, Inscription, Demak, Java, Museum, History. Artikel ini membahas sebuah inskripsi Mesjid bersejarah di Jawa, yakni Inskripsi Regol Masjid Demak tahun 1804. Inskripsi tersebut memuat informasi berkenaan dengan pembangunan Regol Masjid oleh bupati Demak, yaitu KRMT Arya Purbaningrat pada tahun 1292 H (1875 M). Dalam inskripsi ini disebut juga nama Mas Haji Muhammad Khasan Bashri, qadi atau imam Masjid Demak. Studi ini berkesimpulan bahwa isi prasasti koleksi Museum Masjid Agung Demak adalah tentang pembangunan regol atau pintu gerbang Masjid Demak oleh Bupati Demak, Kanjeng Raden Mas Tumenggung Arya Prabuningrat, pada tahun 1292 H (1875 M) dan pembangunan Tarub Tratag Rambat pada tahun 1308 H (1819 AJ) yang bertepatan tahun 1889 M, bukan tahun 1885 M seperti tertera pada prasastinya oleh Bupati Demak, Kanjeng Raden Tumenggung Panji Adiningrat. Menurut catatan Museum Masjid Agung Demak, kedua bangunan itu (Regol dan Tarub Tratag Rambat) dibongkar pada tahun 1966. Jika benar, maka pembongkaran bangunan itu berlangsung pada masa pemerintahan Bupati Demak Raden Indriyo Yatmo Pranoto (1958 1966). Dari hasil pembacaan inskripsi juga tidak ditemukan angka tahun 1804 dalam prasastinya. Angka tersebut (tahun 1804) diperoleh jika angka tahun 1292 H dikonversikan ke tahun Jawa, sehingga angka 1804 mengacu kepada tahun Jawa (1804 AJ). Dengan kata lain, angka 1804 yang dikaitkan dengan penamaan Prasasti Re gol Masjid tidak pernah disebut dalam prasastinya, sehingga penamaan prasasti tersebut menurut hemat penulis kurang relevan. Kata Kunci: Masjid, Prasasti, Inskripsi, Demak, Jawa, Museum, Sejarah.
Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Yaqub, MA. : Muhaddis Nusantara Bertaraf Internasional Nasrullah Nurdin
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 14 No 1 (2016)
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (376.513 KB) | DOI: 10.31291/jlk.v14i1.481

Abstract

In Indonesia, Hadith studies are a rare discipline, if not a very rare one. This raises a lot of concerns within the Muslim community about the frequent use of false (maudhû '), semi-fake (matrûk), and weak (dha'īf) Hadiths, or claiming things that are not as part of Prophetic traditions. This article attempts to review the scholarly background, the ideas, and the scientific contribution of Prof. Dr. Kiai Ali Mustafa Yaqub, MA to the development of the study of hadith in the archipelago. This paper considers that it is not easy to find people who may be called as a muhaddith (expert of Hadith) within the meaning of its terminology. In fact, the Hadith is the second source of authority (secondary resources) in Islam after the Qur'an. Learning from the figure of Kiai Ali Mustafa Yaqub, every Muslim should know and understand at the same hadith interpret the Hadith, therefore, as it is essential in understanding the contents of the Qur'an. Keyword: Prominent Muslim, Hadith studies, Orientalism, Darus Sunnah, Essay Ulama, Indonesia Studi hadis di Indonesia terlihat masih jarang, kalau tidak dikatakan sangat langka. Hal ini menimbulkan banyak sekali persoalan di tengah-tengah masyarakat Muslim tentang penggunaan hadis-hadis palsu (maudhû’), semi palsu (matrûk), dan lemah (dha’īf), atau mengklaim halhal yang bukan hadis sebagai hadis Nabi. Artikel ini mencoba mengulas latar belakang keilmuan, sumber gagasan pemikiran, dan kontribusi ilmiah Prof. Dr. Kiai Ali Mustafa Yaqub, MA terhadap perkembangan kajian hadis di Nusantara. Tulisan ini beranggapan bahwatidak mudah menemukan orang yang dapat disebut sebagai seorang muhaddis (ahli hadis) dalam arti terminologis. Padahal, hadis adalah sumber otoritas kedua (secondary resources) dalam agama Islam setelah Al-Qur’an. Belajar dari figur Kiai Ali Mustafa Yaqub, setiap muslim sudah seharusnya mengetahui dan memahami hadis sekaligus menginterpretasi ucapan agung Rasulullah SAW tersebut sebagaimana kemestian dalam menghayati isi Al-Qur’an. Keyword: Tokoh Muslim, Kajian Hadis, Orientalisme, Darus Sunnah, Karya Tulis Ulama, Indonesia.
Gereja Santo Antonius Purbayan: Sejarah Awal Gereja Katolik Belanda di Solo Ahmad Yunani
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 14 No 1 (2016)
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1753.274 KB) | DOI: 10.31291/jlk.v14i1.482

Abstract

The Catholic Church Santo Antonius Purbayan be evidence of history in the development and spread of Catholicism in Solo or Surakarta. This article attempts to examine the role of the church as the center spread of Catholicism in Solo and its surroundings, from the activities of the church became a place of worship, even to the historical development of Catholic educational institutions are quite old. This study uses Arkheologis Historical approach that is supported by the data history of the church in question. And in the findings of this study, it was found that the existence of this church to witness the historical presence of the Catholic religion in Solo, and some other areas in Java. Spread starts from Semarang by a Catholic priest is Father Van Lith, SJ. When coming in Java, he learned a few things that made the failure of the missionaries before. They came as a waitress Faith to Dutch society that has been present with different purposes and objectives. The Church was built by the Dutch in the form of Neo Gothic, to conform and adapt to the cultural conditions that developed at that time. In its development, to support its existence, the church establish educational institutions that cater for the Catechist who trained as priests and Catholic Faith waitress in Solo and its surroundings. Keywords: Church of Santo Antonius Purbayan, Solo, Catholicism, Architecture Gereja Katolik Santo Antonius Purbayan menjadi bukti sejarah dalam perkembangan dan penyebaran agama Katolik di Solo atau Surakarta. Artikel ini mencoba mengkaji peran gereja sebagai pusat penyebaran Agama Katolik di Solo dan sekitarnya, dari aktifitas gereja yang menjadi tempat ibadah, bahkan hingga sejarah berkembangnya lembaga pendidikan Katolik yang cukup tua. Penelitian ini menggunakan pendekatan Historis Arkheologis yang didukung dengan data sejarah gereja dimaksud. Dan dalam temuan penelitian kali ini, ditemukan bahwa keberadaan gereja ini menjadi saksi sejarah hadirnya agama Katolik di Solo, dan beberapa daerah lainnya di tanah Jawa. Penyebarannya dimulai dari kota Semarang oleh seorang Imam Katolik yaitu Romo Van Lith, SJ. Saat datang di tanah Jawa, ia mempelajari beberapa hal yang menjadikan kegagalan para missionaris sebelumnya. Mereka datang sebagai Pelayan Iman bagi masyarakat Belanda yang telah hadir sebelumnya dengan berbagai maksud dan tujuan. Gereja dibangun oleh Belanda dengan bentuk Neo Gothik, dengan mengikuti dan menyesuaikan dengan kondisi budaya yang berkembang saat itu. Dalam perkembangannya, untuk mendukung keberadaannya, pihak gereja membentuk lembaga pendidikan yang diperuntukkan bagi para Katekis yang dididik menjadi Imam dan Pelayan Iman Katolik di Solo dan sekitarnya. Kata kunci: Gereja Santo Antonius Purbayan, Solo, Katolik, Arsitektur
Inskripsi Islam pada Makam-Makam Kuno Barus Pinem, Masmedia
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 16 No 1 (2018)
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2041.347 KB) | DOI: 10.31291/jlka.v16i1.484

Abstract

This article is an effort of re-reading of Islamic inscription in the tombs of Barus compared to the earlier works of the research. For this purpose, this research paper is limited to cultural traces over Arabic inscriptions drawn at the ancient tombs i.e. tomb of Mah­ligai, tomb of Tuan Makhdum, tomb of Ibrahimsyah, tomb of Papan Tinggi, and tomb of Sigambo-Gam­bo. In a course of reading such inscriptions of the tombs, he used several methods, such as des­criptive technique, reading, and transliteration of the inscriptions and being ended by describing and analysing the final result of  the research. Descriptive studies done by description material culture, re­ligious inscrip­tion, scripts, languag­es and meaning. Further, analysis used by comparing to other works with the data in the fields.Keyword: Barus, islamic inscription, ancient tomb, historical tracesTulisan ini berupaya menggambarkan dan menjelaskan inskripsi yang terdapat pada makam-makam kuno di Barus dengan cara mem­ban­dingkan tulisan sebelumnya dengan titik bidiknya, seperti Makam Mahligai, Makam Tuan Makhdum, Makam Ibrahimsyah, Makam Papan Tinggi, dan Makam Sigambo-Gam­bo. Me­­­­­to­­­de dan tahapan-tahapan yang di­lakukan melalui bebe­rapa cara yaitu, penyajian data se­cara deskriptif, pembacaan dan trans­li­terasi inskripsi, dan terakhir pembahasan. Kajian des­krip­tif dilakuakan meliputi kondisi fisik, inskripsi keagamaan, aksara dan bahasanya, dan isi­nya. Se­men­tara, pembahasan atau analisis dilakukan dengan memban­dingkan dengan baca­an-baca­an lain yang diperkaya data lapangan.Kata Kunci: Barus, inskripsi Islam, makam kuno, tinggalan sejarah
Vihara Dhanagun dan Komunikasi Budaya di Kota Bogor, Jawa Barat Burhanudin, Dede
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 16 No 1 (2018)
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1645.177 KB) | DOI: 10.31291/jlka.v16i1.485

Abstract

This article discusses the Dhanagun Temple, one of the Confucian worship houses in Bogor. Through the study of places of worship, the theme of cultural communication was raised, especially Confucians with the surrounding environment, by revealing the context of the historical setting, which includes the time, founders, and conditions of the community around that time, the architectural model of buildings, and the following philosophical meanings contained in it. Furthermore, it was also revealed that the use of this place of worship in the socio-cultural context from its inception to the present. Dhanagun Temple has dominant characteristics of Chinese architecture. The frame uses a multilevel beam structure system and a beam bond structure system. The shape of the roof stands out with a frame structure system made of wood. This monastery is decorated with ornaments that can be grouped into five categories, namely animals (fauna), plants (flora), nature (universes such as fire, water, and sun), geometrics, and legends, especially about gods. The results of this study are expected to enrich the archipelago's religious treasures, explore the values of local wisdom and conserve and preserve historical heritage, including historic places of worship.Keywords: Dhanagun Temple, culture, history, architecture, ornament.Artikel ini membahas Vihara Dhanagun, salah satu rumah ibadah Konghucu di Bogor. Melalui kajian rumah ibadah ini diangkat tema komuni¬kasi budaya, khususnya penganut Konghucu dengan lingkungan sekitarnya, dengan mengungkap konteks latar sejarah berdirinya, yang meliputi waktu, pendiri, serta kondisi masyarakat di sekitar saat itu, model aristektur bangunan, dan benda-benda berikut makna filosofis yang terkandung di dalamnya. Selin itu, diungkap pula pemanfaatan rumah ibadah ini dalam konteks sosial budaya sejak awal berdirinya sampai saat ini. Vihara Dhanagun memiliki karekteristik arsitektur Tionghoa. Rangkanya menggunakan sistem struktur balok bertingkat dan sistem struktur ikatan balok. Bentuk atapnya menonjol dengan sistem struktur rangka yang ter¬buat dari kayu. Vihara ini dihiasi dengan ornamen yang dapat dikelompokkan menjadi lima kategori, yaitu hewan (fauna), tumbuhan (flora), nature (alam semesta seperti api, air, dan matahari), geometrik, dan legenda, terutama tentang dewa-dewa. Dari hasil kajian ini diharapkan dapat menambah khazanah keagamaan Nusantara, menggali nilai-nilai kearifan lokal dan mengkonservasi serta melestarikan peninggalan bersejarah, termasuk rumah ibadah bersejarah.Kata Kunci: Vihara Dhanagun, budaya, sejarah, Arsitektur, ornamen
Masjid Kasunyatan Banten: Tinjauan Sejarah dan Arsitektur Saefullah, Asep
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 16 No 1 (2018)
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1732.873 KB) | DOI: 10.31291/jlka.v16i1.486

Abstract

Kasunyatan Mosque is one of the historic ancient mosques in Banten. Its existence is less popular than Masjid Agung (the Great Mosque) of Banten in Banten Lama, although both are one of the religious tourism destinations for Indonesian people. At the time of the Sultan (Shaykh) Maulana Yusuf, the second Sultan of the Sultanate of Banten, ruled between 1570-1780 AD, Kasunyatan Mosque is well known as a center of religious and scientific activities other than the Keraton Surosowan and Banten Lama. Across this mosque there is the Tomb of Sultan (Shaykh) Maulana Yusuf which is crowded by the public. This research paper endeavors to describe of how Kasunyatan Mosque in Banten as one of historic places of worship. The research uses historical and architectural approach in understanding and analysing data. Based on this research, it is understood that the Kasunyatan Mosque shows its ancient features in its rectangular shape, solid or massive foundations, thick walls, short mihrab, and pulpits and the Friday sermons in the form of a double-edged sword. Although it has renovated and improved, but the original structure remains visible and its authenticity is maintained. On the southwest side there is also a massive tower, as one of the hallmarks of ancient tower buildings. One of the legacies that is still passed by the present generation is in case  of educative and religious function  of the mosque itself as a center of religious teaching and learning in which the Madrasah Diniyah  (religious School) and regular religious study (majlis taklim) is built and being carried out up to now, besides enabling for other religious activities and ceremonies such as regular religious teaching, the commemoration of Islamic Memorial Days such as Mawlid an-Nabi (Celebrating Prophet Muhammad's Birthday), Isra Mi’raj, Orphans Benefit, and also the haul of Shaykh Maulana Yusuf.Keywords: Kasunyatan, Ancient Mosque, Banten, Maulana Yusuf, Architecture, historical and architectural perspective  Masjid Kasunyatan merupakan salah satu masjid kuno bersejarah di Banten. Keberadaannya kurang popular dibandingkan dengan Masjid Agung Banten di Banten Lama, meskipun dua-duanya merupakan salah satu tujuan wisata religi bagi sebagian masyarakan Indonesia. Pada masa Sultan (Syekh) Maulana Yusuf, sultan kedua dari Kesultanan Banten, berkuasa antara 1570-1780 M., Masjid Kasunyatan dikenal sebagai pusat kegiatan keagamaan dan keilmuan selain di sekitar Keraton Surosowan dan Banten Lama. Di seberang masjid ini terdapat Makan Sultan (Syekh) Maulana Yusuf tersebut yang ramai diziarahi masyarakat. Berdasarkan penelusuran, Masjid Kasunyatan memperlihatkan ciri-ciri kekunoannya pada bentuknya yang segi empat, fondasi padat atau massif, dinding tebal, mihrab pendek, dan mimbar serta tongkat khotib Jum'at berupa pedang bermata dua. Meskipun telah mengalami perbaikan, tetapi struktur aslinya tetap terlihat dan keasliannya dipertahankan. Di sisi sebelah barat daya terdapat juga menara yang massif, sebagai salah satu ciri bangunan menara kuno. Salah satu peninggalannya yang tetap diteruskan oleh generasi sekarang adalah dalam hal pemeranan fungsi pendidikan dan keagamaan, dimana Madrasah Diniyah dan pengajian rutin dibangun dan diselenggarakan, selain untuk pelaksanaan berbagai acara kegiatan keagamaan seperti peringatan hari-hari besar keagamaan, seperti Maulid Nabi Muhammad Saw., Isra Mikraj, Santunan Anak Yatim, dan juga acara haul Syekh Maulana Yusuf.Kata Kunci: Kasunyatan, Masjid Kuno, Banten, Maulana Yusuf, Arsitektur
Brunei And Aceh: A Manuscript-Based Study of Cultural And Historical Relationship NFN, Fakhriati
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 16 No 1 (2018)
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (667.887 KB) | DOI: 10.31291/jlka.v16i1.489

Abstract

Dari sisi letak geografis, Brunei dan Aceh adalah dua suku bangsa yang berada di posisi berjauhan, pulau Kalimantan dan Sumatera. Namun, keduanya memiliki banyak kemiripan antara satu sama lainnya. Keduanya berada dalam satu rumpun Melayu, budaya, dan karakter yang mirip. Dari sisi sejarah, kedua suku ini memiliki hubungan baik, baik pada tatanan kesul­tanan maupun pada level rakyatnya. A. Hasyimi mengatakan bahwa qanun yang dipakai di Brunei adalah hasil adopsi dari qanun yang ada di Aceh. Selain itu kemiripan dari sisi budaya adalah, seperti perma­inan rakyat, cara masuk rumah baru, dan tepung tawari. Kemiripan-kemiripan ini men­jadi menarik dikaji lebih jauh tentang hubungan sejarah Brunei dan Aceh. Tulisan ini bertujuan untuk menggali hubungan sejarah antara kesultanan Brunei dan Aceh, termasuk hubungan yang baik antara ulama dalam menye­barkan ajaran Islam. Penelitian ini didasarkan pada temuan-temuan terutama yang terdapat dalam manuskrip Aceh dan Brunei. Kajian ini mengunakan pendekatan filologis dan antropologis untuk mengungkap informasi relasi antar kedua etnis ini. Diharapkan hasil kajian ini dapat menjadi pendukung pelestarian warisan yang dimiliki kedua suku bangsa Brunei dan Aceh, terutama terkait manuskrip dan bukti sejarah tentang hubungan kedua suku bangsa tersebut.  Kata Kunci: Aceh, Brunei, manuskrip, sejarah, budaya, dan MelayuGeographically, Brunei and Aceh are separated by the ocean. One is located on the island of Kalimantan and the other on the island of Sumatra. Despite the distance, these two entities possess many similarities. Their people are of Malay origin, alike in culture and character. Historically, the relationship between them, be it at the level of sultans or subjects, is as well as it can be. For example, A. Hasyimi stated that Brunei adopted qanun (law) from Aceh. Other similarities can be found in their culture, such as folk games, housewarming celebration, and flour ritual. These similarities invite a deeper examination into the relationship between Brunei and Aceh. This study aimed to investigate the connection between the Brunei and Aceh sultanates, as well as the relationship between their ulama in spreading Islam. Using historical manuscripts from both places as primary sources, this study employed philological and anthropological approaches to achieve its objectives. It is hoped that the result of this study could be used to support the heritage preservation of Brunei and Aceh, especially in terms of historical manuscripts which have successfully proved their close relationship.Keywods: Aceh, Brunei, Malay, manuscript, history, culture
Al-Adawiyah Karya K.H. Ahmad Sanusi dan Krisis Ekonomi Dunia (Malaise) Tahun 1929 Kholis, Nurman
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 16 No 1 (2018)
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (414.743 KB) | DOI: 10.31291/jlka.v16i1.490

Abstract

This article tries to unpack a theme deals with syirik written in the manuscript of Al-Adawiyatu al-Syafiyatu fi Bayani Salati al-Hajati wa al-Istikharati wa Daf’i al- Kurbat, a Sundanese text in the pegon scripts. This lithographic text was written by KH Ahmad Sanusi (1888-1950 M, a member of BPUKI (Committee for Preparatory Work for Indonesian Independence), established prior to the Indonesian independence in 1945. The text described at the time of being close to  independence proclaimation, there were criminal acts, particularly robbery cases growing significantly at that time. This social problem raised in society resulted in growing a phenomenon of which the people needed solution by consulting to dukun or visiting sacred places with hope of such lost articles would be back to the owners.  In this case, KH Sanusi in his work recommended to the muslim not to do any syirik deeds, but it necessary to do pray sholat hajat or istikharah and increased their doa for it solution.  The text of Adawiyah was written in 1348 H/1929 M which was coincidently happened with phenomenon of ecomic crises in the world. Keywords: al-Adawiyah, syirik, poverty, robbery, economic crises AbstrakArtikel ini mengungkap tema tentang syirik dalam naskah beraksara Pegon dan berbahasa Sunda yang berjudul Al-Adawiyatu al-Syafiyatu fi Bayani Salati al-Hajati wa al-Istikharati wa Daf’i al-Kurbat. Naskah berbentuk litograf ini ditulis oleh K.H. Ahmad Sanusi (1888-1950 M), salah se­orang anggota BPUPKI yang berdiri jelang kemerdekaan Indonesia tahun 1945. Dalam nas­kah tersebut diinformasikan maraknya pencurian hingga banyak orang berdatangan ke tempat-tempat yang dikramatkan dan dukun untuk me­ngetahui barang-barang yang hilang. Untuk meng­atasinya, K.H. Ahmad Sanusi memberikan solusi agar umat Islam tidak melakukan praktik-praktik syirik, namun melakukan salat hajat dan salat istikharah serta doa-doa untuk mengatasi ke­sulitan. Naskah al-Adawiyah ini ditulis pada tahun 1348 H/ 1929 M yang bersamaan dengan tahun terjadinya krisis ekonomi dunia (malaise). Rakyat miskin pun semakin bertambah, ke­rusuhan, pencurian, perampokan, juga marak di kota-kota maupun di desa-desa. Pada tahun 1929 ini selain terjadinya krisis ekonomi dunia juga merupakan awal munculnya istilah “tuyul” di kalangan masyarakat Indonesia.Kata Kunci: al-Adawiyah, syirik, kemiskinan, pencurian, krisis ekonomi dunia 
Tipologi Karya Ulama: Studi pada 12 Pesantren di Yogyakarta kartini, retno
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 16 No 1 (2018)
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (993.645 KB) | DOI: 10.31291/jlka.v16i1.492

Abstract

Pesantren (Islamic boarding school) is one of oldest Islamic educational institution in Indonesia. As an as an educational insttitution, pesantren plays an important role in bulding and empowering Islamic intellectual tradition. In this case, Pesantren can historically be regarded as one of most effective institutions in producing kitab. Most kitab composed by Kyai (pesantren leader, central figure, or ustad) are commonly written with Arabic letters whether in Javaness, Malay, or other local languages focusing on wider fields of Islamic studies. Based on the variety of kitab produced by Pesantren, so it is necessary to identify and classify it in a systemic order. This article attempts to classify the work of pesantren scholars in a broader range of typologies, namely the field of study, the type of language, the type of script, the form of writing, the type of essay, the type of writing, the type of paper, the use, the publisher, to the scope of its spread. Descriptive research is done through the exploration and content analysis of the works of scholars in pesantrens. This decscriptive research conducted at 12 pesantren in Yogyakarta, highlights some important findings. First, the kitab (or works) which were written in various forms are in the form of original works, translations, summaries, sarah, admonitions and excerpts. Second, most of the works of the pesantren are used by the general public and as teaching materials in pesantren. Third, most of old and contemporary works are still used up to now with diverse uses ranging from national, regional and local scope. Fourth, the 276 books and other scientific works of ulemas in Yogyakarta, viewed from its contents, cover a variety of subjects ranging from Islamic jurisprudence, system of belief, system of faith, Islamic modul of teaching and learning for pesantrens, Islamic sufism, to the study of the Qur'an and Hadith.Keywords: typology, works of ulema, pesantren, variety of subject, contemporary works, teachingmaterialsPesantren merupakan lembaga pendidikan Islam yang tertua di Indonesia. Sebagai lembaga pendidikan, pesantren memegang peranan penting dalam membangun dan memperkuat tradisi intelektual Islam. Dalam hal ini, pesantren, secara historis, dapat dianggap sebagai salah satu institusi yang efektif menghasilkan kitab. Sebagian besar yang disusun Kyai (pimpinan pesantren, figur sentral, atau ustd) biasanya ditulis dengan menggunakan huruf Arab baik dalam bahasa Jawa, Melayu, atau bahasa daerah lainnya, dan memokus pada bidang studi keis¬laman yang luas. Artikel ini berupaya membuat klasifikasi karya ulama pesantren dalam ragam tipologi yang lebih luas, yaitu bidang kajian, jenis bahasa, jenis aksara, bentuk tulisan, jenis karangan, jenis tulisan, jenis kertas, penggunaan, penerbit, sampai ke lingkup sebarannya. Penelitian deskriptif ini dilakukan melalui eksplorasi dan analisis isi terhadap karya-karya ulama pada 12 pesantren ini menyimpulkan sejumlah temuan penting. Pertama, bahwa karya-karya ulama pesantren ditulis dalam berbagai bentuk mulai dari karya asli, terjemahan, ringkasan, sarah, saduran dan nukilan. Kedua, sebagian besar karya ulama digunakan oleh masyarakat umum dan menjadi bahan ajar di pesantren. Ketiga, kitab lama dan buku kontemporer karya para ulama dan penga¬suh pesantren tersebut masih dipakai hingga kini dengan sebaran penggu¬naan beragam, mulai lingkup nasional, regional, dan lokal. Keempat, dari 276 kitab dan buku karya ulama di Yogyakarta tersebut bila ditinjau dari isinya melingkupi beragam bahasan mulai dari fikih, tauhid, akidah, akhlak, tasawuf sampai dengan kajian Al-Qur’an dan hadis.Kata Kunci: Tipologi, karya ulama, pesantren, ragam bahasan, karya kontemporer, bahan ajar

Page 11 of 31 | Total Record : 309


Filter by Year

2012 2025