cover
Contact Name
Mulyanto
Contact Email
widyaparwa@gmail.com
Phone
+6281243805661
Journal Mail Official
widyaparwa@gmail.com
Editorial Address
https://widyaparwa.kemdikbud.go.id/index.php/widyaparwa/about/editorialTeam
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Widyaparwa
Jurnal Widyaparwa memublikasi artikel hasil penelitian, juga gagasan ilmiah penelitian (prapenelitian) yang terkait dengan isu-isu di bidang kebahasaan dan kesastraan Indonesia dan daerah.
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 38, No 1 (2010)" : 8 Documents clear
LIRIK LAGU DOLANAN SEBAGAI SALAH SATU BENTUK KOMUNIKASI BERBAHASA JAWA: ANALISIS FUNGSI Daru Winarti
Widyaparwa Vol 38, No 1 (2010)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1217.36 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v38i1.4

Abstract

Penelitian ini mengkaji fungsi bahasa dalam lirik lagu dolanan. Tujuannya ialah untuk mengetahui berbagai fungsi yang ada dalam lirik lagu dolanan sebagai salah satu bentuk berkomunikasi dalam bahasa Jawa. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan sosiolinguistik yang memperhatikan bagaimana pemakaian bahasa sehingga dapat menjalankan fungsinya secara maksimal. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa bahasa dalam lirik lagu dolanan memiliki beberapa fungsi, seperti fungsi regulatoris, fungsi interaksi, fungsi personal, fungsi heuristik, fungsi informatif, dan fungsi puitik.This research discusses the function of language in the lyrics of lagu dolanan. The research is aimed to investigate the functions of the lyrics of lagu dolanan as a form of communication in Javanese language. This research is conducted by using sociolinguistic approach that concerns about how language is used, so that it can carry out its function optimally. The result of this research shows that the language in the lyrics of lagu dolanan has saveral functions, such as regulatoric, interactive, personal, heuristic, informative, and poetic function.
PENILAIAN KEMAMPUAN BERSASTRA DALAM PENDIDIKAN ANAK USIA DINI Umar Sidik
Widyaparwa Vol 38, No 1 (2010)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (934.28 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v38i1.10

Abstract

Tulisan ini menjawab pertanyaan mengapa penilaian pembelajaran sastra dalam PAUD perlu dilakukan. Bagaimana teknik dan prosedur penilaian yang dapat dilakukan oleh guru dan atau orang tua. Pembahasan dilakukan dengan teknik mengurai, membandingkan (diskusi dan argumentasi), dan menyimpulkan ke dalam hal yang terkait dengan permasalahan penilaian terhadap kemampuan bersastra dalam pendidikan anak usia dini (PAUD). Hasil pembahasan menunjukkan bahwa kemampuan bersastra anak terkait dengan perkembangan kognitif, afektif, kepribadian, keindahan, dan bahasa yang dimilki oleh anak. Teknik penilaian dapat dilakukan dengan merekam berbagai kejadian alami dan otentik yang dituangkan ke dalam berbagai perangkat, seperti catatan kejadian khusus (anecdotal record), catatan berkesinambungan (running record), catatan rinci berdasarkan waktu (time sampling record), event sampling recor, rating scale, daftar cek (check list). Kata kunci: penilaian, sastra anak, PAUDAbstractThis writing responded to the question on why literary teaching valuing in PAUD was needed tobe performed. How the eichnique and procedure of valuing that could be performed by teacher or students' parents. The discussion was performed by description, comparison (discussion and argumentation) and resuming technique into the associated things to the valuing problems to the literary capability in children education of Pre School Age (PALID). The result shows that the literary capability of children is dealing with children-'s cognitve, affective, personality, beauty and language development. Valuing technique could be performed by recording any natural and authentic occurrencis that was applied to various equipments like anecdotal record, running record, time sampling record, event sampling record, rating scale and check list. Key word: valuing, literary children, pre school age (PAUD)
ELEGI BUAT AGAMEMNON: TAFSIR SEMIOTIK SAJAK Y.S. AGUS SUSENO Jamal T. Suryanata
Widyaparwa Vol 38, No 1 (2010)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1748.591 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v38i1.5

Abstract

Berdasarkan perspektif semiotik, puisi merupakan bentuk aktivitas bahasa dan berfungsi sebagai sistem tanda. Puisi "Elegi Buat Agamemnon" yang ditulis oleh Y.S. Agus Suseno dianalisis menggunakan pendekatan semiotik yang mempunyai dua proses pembacaary yaitu heuritstik dan hermeneutik seperti dikemukakan oleh Michael Riffaterre. Pendekatan semiotik tersebut menguak arti/makna hermeneutik dalam menemukan pola pikir penulis tentang filsafat. Based on semiotics perspective, poetry is one of language activity forms and functions as a meaningfull signs systems. Poetry "Elegi Buat Agamemnon" written by Y.S. Agus Suseno was analyzed by semiotics approach that had two reading process, namely heuristic and hermeneutic reading by Michale Riffaiterre. The semiotic approach had revealed the hermeneutic meaning in finding philosophical thinking of the writer.
TES UJI KEMAHTRAN BERBAHASA INDONESTA (UKBI) SEBAGAI ARENA RISET LINGUISTIK Maryanto Maryanto
Widyaparwa Vol 38, No 1 (2010)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1321.866 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v38i1.11

Abstract

Malakah ini bertujuan meninjau sebuah tes bahasa yang disebut Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI) sebagai arena riset linguistik. Studi penelitian linguistik selalu memiliki dua pendulum paradigma, yaitu paradigma teori dan terapan. Paradigma riset linguistik teori umumnya berorientasi pada hakikat bahasa. Sementara itu, orientasi linguistik terapan lebih populer dikaitkan dengan pengajaran bahasa. Pembahasan makalah ini difokuskan pada kasus tes UKBI dan dampak kehadiran tes bahasa ini bagi pengajaran bahasa Indonesia di sekolah, terutama sekolah menengah kejuruan, serta dampaknya bagi penelitian bahasa yang mencari pembaruan teori bahasa. Menurut tinjauan atas kasus tes UKBI ini, perubahan paradigma baik dalam teori bahasa maupun pengajaran bahasa dimungkinkan karena kehadiran tes bahasa sebagai arena riset linguistik.This paper aims at observing the language test which is called Uji Kemahiran Berbalutsa lndonesia (UKBI) or Indonesian Language Proficiency Test as an arena of linguistic research. ln linguistic studies, there are two paradigms of research: theoretical linguistic and applied linguistic studies. A theoretical linguistic study generally investigates the essence of language. Meanwhile, applied linguistic studies are more popular to be related to language teaching. The discussion of the paper is focusing on the case of the UKBI test and the impacts of the UKBI test for Indonesian language teaching, particularly the language teaching at vocational schools, as well as the impacts for linguistic studies researching a new theory about language. ln this observation for the case of the UKBI test, a change in the paradigms of both theoretical and applied linguistics is likely due to the presence of a language test as the arena of linguistic research.Key word: UKBl test; linguistic research; language teaching
KONSEP KESOPANAN BERBICARA OLEH WANITA DALAM BUDAYA JAWA Siti Sudartini
Widyaparwa Vol 38, No 1 (2010)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (707.633 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v38i1.6

Abstract

Kajian ini mencoba menelaah secara kritis konsep kesopanan berbicara wanita dalam budaya Jawa yang terkait realisasi atau wujud kesopanan wanita Jawa dalam berbicara dengan orang lain dan faktor-faktor apa saja yang mungkin melatar-belakangi konsep yang diyakini tersebut. Metode yang digunakan untuk mengkaji topik ini adalah dengan menggunakan deskripsi permasalahan yang disandarkan pada konsep kesopanan dari Foley, yang berupa dua jenis kesopanan secara umum yakni positive and negative politeness. Hasil kajian ini dapat dinyatakan sebagai berikut. Pertama, secara umum wanita Jawa lebih sering menggunakan strategi kesopanan positif daripada strategi kesopanan negatif ketika berbicara. Hal itu pula yang menyebabkan seorang wanita akan lebih cepat akrab dengan wanita lain ataupun dengan lawan jenis yang baru saja dikenalnya dibandingkan laki-laki. Strategi kesopanan negatif, banyak digunakan wanita Jawa dalam ungkapan permintaan maaf ketika berbicara. Kedua, dalam kajian ini juga teridentifikasi faktor-faktor yang melatarbelakangi konsep kesopanan tersebut, di faktor itu ialah adanya stereotipe dalam masyarakat Jawa yang mendudukkan wanita sebagai second sex setelah laki-laki dan juga adanya sikap kurang percaya diri wanita untuk mengungkapkan ide ataupun gagasan sebagai akibat stereotipe di masyarakat The research tries to critically explore polite concepts of women communication in Javanese culture relating realization or manifestation of Javanese woman communication with other and to investigate which factors that possibly underpin the conceivable concept. The method employed to investigate the topic is problem description based on politeness concept proposed by Foley, which is generally realized in two types of politeness that are positive and negative politeness. The result of the research shows some findings as follow. First, generally Javanese woman more often uses positive politeness strategy that negative politeness strategy when she communicates. Because of that strategy, compare to Javanese man, Javanese woman is more familiar with other woman or oposite sex whom just meets. Negative politeness strategy is more often used by Javanese woman in expressing apology. Second, the reseach also identifies factors that underpin the concept of politeness. The concept reveals the existance of stereotype in Javanese society which places woman as second sex after man and the woman's unconfidence to express idea or opinion as a result of that stereotype.
POLA TINDAK TUTUR KOMISIF BERJANJI BAHASA JAWA Paina Partana
Widyaparwa Vol 38, No 1 (2010)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (859.363 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v38i1.12

Abstract

Ekspresi dalam wujud tindakan berbicara atau mengeluarkan ujaran (kalimat, frasa, klausa, atau kata) dianggap sebagai tindakan bertutur. Istilah yang lazim dipakai untuk mengacu tindakan itu ialah tindak tutur. Dengan kata lain, tindak tutur adalah tindakan yang diwujudkan dalam bentuk ujaran atau tuturan. Salah satu bentuk tindak tutur itu ialah tindak tutur komisif. Tindak tutur komisif selalu didasarkan pada subjek, verba, dan isi tuturan yang berupa janji dengan pola yang ajek. Tindak tutur komisif selalu menyiratkan nilai keuntungan atau kerugian pada partisipan tertentu. Pada bahasa Jawa, tindak tutur komisif berjanji juga tidak meninggalkan prinsip santun berbahasa. Expression in form of speaking or expelling a statement (sentence, phrase, clause, or word) is considered as an action to speak. The common term refers to this action is speech act. ln other word, speech act is an action, which is realized in form statement or utterance. One of speech acts is commissive speech act. The commissive speech act is always based on subject, verb, and content of the speech in form of promising by using constant pattern. Commissive speech act always implies advantage or disadvantage value for certain participants. ln Javanese language, commissive speech act also regards politeness principle.Key words: speech act, commissiae speech nct, promising, politeness principle
BAHASA MENUNJUKKAN BANGSA STU DI KASUS XENOGLOSOFILIA DALAM DAFTAR MENU Tamam Ruji Harahap
Widyaparwa Vol 38, No 1 (2010)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1495.806 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v38i1.8

Abstract

Tulisan ini adalah sebuah pengamatan kecil terhadap praktik xenoglosofilia sebagaimana sekarang ini luas digunakan dalam ranah sosial kedai kopi atau kafe di wilayah Yogyakarta. Lewat medium daftar menu praktik sosial penggunaan bahasa telah menjadi gelaja patologi sosial di mana identitas dan penghargaan diri semakin termarginalkan dan terabaikan, sementara penggunaan bahasa asing semakin luas dipraktikkan. Tujuan penelitian kecil ini adalah untuk membuat ikhtisar tentang bagaimana penggunaan bahasa asing ini telah menancapkan dominasinya pada banyak komunitas di Indonesia. Dengan menggunakan kerangka analisis wacana kritis Fairclough, tulisan ini akan mengamati dan membahas praktik xenoglosofilia sebagaimana ditemukan dalam menu kedai kopi dan kafe EarthCafe dan kafe Aqeela. Analisis akan berfokus pada kosakata dan idiom dan akan mengabaikan properti-properti linguistik lainnya. Dengan menggunakan analisis wacana kritis, tulisan ini akan berupaya menjawab pertanyaan: mengapa praktik xenoglosofilia semakin luas dan banyak digunakan dalam daftar menu kafe di Yogyakarta? Pengamatan ini mengkonfirmasi bahwa praktik xenoglosofilia merupakan hasil dari dominasi ideologi pasar bahasa Inggris terhadap praktik kultural lokal bahasa Indonesia.This paper is a smalt investigation on the practice of xenoglossophilia as it is now widely used within the social sphere of coffee-stall and cefin region of Yogyakarta. Through the medium of the menu, the social practice of language use has become such a symptom of "social pathology" in which self-identity and selfregard are getting increasingly marginalized and disregarded, whereas the use of foreign language is practiced more and more.The main objective of this small research is to overview how this use of foreign language has pledged its domination strongly in the considerable part of lndonesian community. By using Fairclough's framaaork of citical discourse analysis, this paper will investigate and discuss the practice of xenoglossophilia as it is found in the menu of coffee-stall and cafEarthCafe and cafAqeela. The analysis will focus on the vocabularies and idioms and will disregard the other linguistic properties. By using the critical discourse analysis, this paper would try to answer the question: why is the practice of xenoglossophilia widely and increasingly used in the menu of cafes in Yogyakarta? The investigation confirms that the practice of xenoglossophilia results from the domination of the market ideology of English language against the locally cultural practice of lndonesian language.
TUTUR SAPA BAHASA INGGRIS-AMERIKA DALAM ASPEK SOSIOLINGUISTIS, PRAGMATIS, DAN PSIKOLOGIS Arie Andrasyah lsa
Widyaparwa Vol 38, No 1 (2010)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1388.313 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v38i1.9

Abstract

Tutur sapa di dalam bahasa Inggris-Amerika masih meninggalkan kerumpangan di dalam penggunaannya. Atas dasar itu, muncul masalah di dalam penggunaannya: (1) kategori dan bentuk tutur sapa apa yang terdapat di dalam novel dan (2) bagaimana penggunaannya di dalam aspek sosiolinguistis, pragmatis, dan psikologis yang harus diselidiki untuk menemukan jawabannya. Teori yang digunakan adalah Biber et al. (1999); Wardhaugh (2000), dan Holmes (2001). Dari penelitian ini ditemukan bahwa (1) secara sosiolinguistis tutur sapa digunakan berdasarkan hubungan sosial, status sosial, situasi resmi dan takresmi; (2) secara pragmatis tutur sapa terjadi karena aspek kesantunan dan tindak ilokusi; dan (3) secara psikologis tutur sapa digunakan menurut keadaan emosional penyapa (P1). Di dalam penelitian ini ditemukan 23 kategori tutur sapa dalam bahasa Inggris-Amerika (cf. Biber et al. 1999).American English address forms still remain the recess in their uses. On the basis of this, there are two questions (1) what categories and kinds of address forms occur in novel and (2) how are they used in sociolinguistic, pragmatic, and phsycological aspects - that must be investigated to find out the answers. The theories used in this study are Biber et al. (1999); Wardhaugh (2000), and Holmes (2001). The findings of this study are (1) in sociolinguistic aspects, the address forms are used on the basis of social relationship, social status, formal and informal situations; (2) in pragmatic aspects they occur because of politeness and illocutionary acts; and (3) in phsycological aspects they are used according to emotional situations of P1.ln this study it is found that there are 23 categories of American-English address forms (cf. Biber et al. 1999).Key words: address form, sociolinguistic, pragmatic, phsychology, social status, social relationship, formal situation, informal situation, emotional situation

Page 1 of 1 | Total Record : 8