cover
Contact Name
Mulyanto
Contact Email
widyaparwa@gmail.com
Phone
+6281243805661
Journal Mail Official
widyaparwa@gmail.com
Editorial Address
https://widyaparwa.kemdikbud.go.id/index.php/widyaparwa/about/editorialTeam
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Widyaparwa
Jurnal Widyaparwa memublikasi artikel hasil penelitian, juga gagasan ilmiah penelitian (prapenelitian) yang terkait dengan isu-isu di bidang kebahasaan dan kesastraan Indonesia dan daerah.
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 40, No 2 (2012)" : 8 Documents clear
DIALEKTOLOGI BAHASA MELAYU DI PESISIR KABUPATEN PONTIANAK Patriantoro Patriantoro
Widyaparwa Vol 40, No 2 (2012)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2525.519 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v40i2.56

Abstract

Penelitian ini mengkaji dialektologi bahasa Melayu di Pesisir Kabupaten Pontianak, terutama di hilir sungai Mempawah. Bahasa Melayu ini digunakan oleh sebagian besar penduduk yang tinggal di pesisir pantai. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Pengumpulan data menggunakan metode percakapan, teknik pancing dengan menunjukkan gambar, benda, atau aktivitas. Metode yang digunakan dalam analisis data, yaitu komparatif sinkronis untuk analisis dialektologi dan komparatif diakronis untuk analisis rekontruksi bahasa. Rumus dialektometri digunakan untuk menghitung jarak unsur-unsur kebahasaan dalam persentase. Teknik rekonstruksi dari atas ke bawah (top down reconstruction) digunakan untuk menemukan retensi dan inovasi. Penghitungan bed4 leksikon antartitik pengamatan menggunakan segi tiga antardesa dan segi banyak. Berdasarkan analisis diketahui, hanya titik pengamatan 1-3 (yang mencapai 23%) dianggap beda wicara 'aksen'. Titik pengamatan 1-2, 2-3, 2-4, 3-4 (di bawah 21%) dianggap tidak ada perbedaan. Di daerah penelitian masih ditemukan adanya leksikon proto, inovasi, dan pinjaman. The research discusses the dialectology of Malay used by the people in the coastal area of Pontianak, particularly those who live in the downstream area of the river. Malay has been used by a great number of people who reside in the coastal area. This research employs quantitative as well as qualitative research methods. The data collected through the use of in-depth interview method and elicitation technique by directly showing the pictures, pointing the areal objects, or explaining the intended activities. The synchronic comparative method is used to analyze the dialectology of Malay and the diachronic comparative method is used to help with the analysis of the language construction. The dialectometry is used to figure the percentage of lexicon differences between the research areas. The top down reconstruction technique serves as the way to analyze the data to find the retention and innovation forms. The lexicon differences in different areas are calculated by applying the triangular or polygones de thiessen. The result of the data analysis shows that area 1-3 hold 23% of lexicon different which indicates that they are areas with different wicara, but still share same dialect. However areas L-2,2-3, 2-4, 3-4 hold under 21% of lexicon differences which indicates that they share the same and not different. In the areas where the research is conducted, some of the relic from of the proto-language are still found, as well as the innovation forms the borrowing.
PENANDA JAMAK INFLEKSI DALAM BAHASA SUNDA Riani Riani
Widyaparwa Vol 40, No 2 (2012)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2241.69 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v40i2.57

Abstract

Inti Sari Penelitian ini memerikan afiks-afiks infleksi penanda jamak serta proses infleksi afiksasi penanda jamak pada nomina, adjektiva, dan verba dalam bahasa Sunda dengan menggunakan teori Word-and-Paradigm yang dikemukakan oleh Booij (2005). Konstruksi Word-and-Paradigm dapat memberikan gambaran proses terjadinya infleksi, yaitu proses afiksasi yang tidak mengubah kelas kata dan memberikan paradigma tambahan berupa penanda jamak. Metode dalam penelitian ini ialah metode intropeksi dan observasi terhadap empat buku tata bahasa Sunda karangan Coolsma (1985), Robins (1983), Rusyana (1978), dan Kats, J dan Soeriadiradja (1982). Data dianalisis dengan menggunakan metode formal, distributional dan teknik parafrase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hanya ditemui sedikit afiks dan reduplikasi yang dapat dikategorikan sebagai pembentuk kata infleksi. Afiks pembentuk infleksi karena bahasa Sunda termasuk ke dalam bahasa aglutinatif. The research describes some afixes that form inflection plural markers and plural marker afixation of inflection process on noun, adjective, and verb in Sundanese language by using Word-and-Paradigm proposed by Booij (2005). Word-and-Paradigm construction can be used to illustrate inflection process, which is afixation process that does not change word class and gives plural paradigm addition. The method in the research is intropection on Sundanese native speaker and observation on four Sundanese grammar books written by Coolsma (1985), Robins (1.983), Rusyana (1978), dan Kats, I and Soeriadiradja (1.982). The data is analyzed by using formal method, distribution, and pharafrase technique. The research result shows that there are small numbers of afixxes and reduplications categorized as inflectional word formation. The small number of inflectional affixes indicate that Sundanese language is clasified as aglunitative language.
SASTRA PROPAGANDA: SEBUAH STUDI KASUS TEMBANG MACAPAT PADA ERA ORDE BARU DI KMD KANDHA RAHARJA Dhanu Priyo Probowo
Widyaparwa Vol 40, No 2 (2012)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3131.032 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v40i2.53

Abstract

Kehadiran sastra sebagai bagian dari ekspresi masyarakat dapat memanifestasikan fenomena kehidupan dalam kelembagaan karya. Sastra sebagai lembaga sosial yang memuat gambaran kehidupan realitas manusia dapat digunakan sebagai media penyebaran suatu kebudayaan. Sebagai karya bertendens, tembang macapat di KMD Kandha Raharja dipakai untuk menanamkan hegemoni. Hegemoni ditujukan untuk mempertahankan kekuasaan dan sebagai sarana pembentuk kebudayaan dan tradisi masyarakat. Tembang macapat yang dimuat di KMD Kandha Raharja berhasil menjadi media hegemoni pemerintah atas karya sastra. Dilihat dari estetika konvensi dasar penyusunan telah memenuhi syarat, tetapi tembang-tembang macapat itu tidak memperhatitan faktor-faktor filosofi/isi yang kontemplatif. Pada Zaman Orde Baru, propaganda politik lewat kesusastraan dilakukan lewat media massa/surat kabar/majalah. Media massa ditempatkan sebagai ujung tombak Orde Baru dalam rangka mewujudkan cita-citanya dalam membangun bangsa. KMD Kandha Rahardja diterbitkan masyarakat pedesaan. KMD Kandha Raharja menjadi sastra propaganda dari rezim Orde Baru. Dalam tulisan ini, dipergunakan teori hegemoni sastra untuk mengungkapkan persoalan sastra (tembang macapat) proganda. Penelitian sastra bersifat penelitian kepustakaan. Oleh karena itu, dalam pengumpulan data, penelitian ini menggunakan metode kepustakaan. Literature existence as social expression part could manifest living phenomena in works institution. Literature as social institution that portrays human reality life is functionable as cultural spreading media. Tembang Macapat KMD Kandha Raharja, as tendentious works, is made use to establish hegemony to defend authority and as means to form social tradition and culture. Tembang Macapat in KMD Kandha Raharja his successfully become hegemony media over literary works. The Tembang Macapat had been appropriate to basic convention aesthetics, but it was still incoutious to contemplative philosophy factors philosophy factor. In New Order Era, political propaganda through literature was carried out through mass media/newspapers/magazines. Mass media was placed as Ney Order Era pioneer in realize its nation building idealism. KMD Kanda Raharja was published by village dweller. KMD Kandha Raharja became propaganda literature of New Order Era regime. This paper uses hegemony theory to reveal propaganda literature problem (Tembang Macapat). This research is a library research, therefore it uses library method in collecting data.
MENERJEMAHKAN KALIMAT BERSUBJEK IT IMPERSONAL: KASUS INGGRIS - INDONESIA Tamam Ruji Harahap
Widyaparwa Vol 40, No 2 (2012)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3692.115 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v40i2.58

Abstract

Penelitian kecil ini merupakan kajian penerjemahan. Penelitian memiliki tiga tujuan; yatu (a) memaparkan fakta-fakta praktik penerjemahan kalimat-kalimat bahasa Inggris bersubjek it impersonal ke dalam bahasa Indonesia dengan cara membandingkan dua teks terjemahan, (b) menguraikan kesenjangan antara teori dan praktik dalam penerjemahan teks bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia, dan (c) menawarkan rumusan prosedur penerjemahan demi hasil terjemahan yang baik, terutama berkaitan dengan tata cara menerjemahkan kalimat-kalimat bahasa Inggris bersubjek itimpersonal ke dalam bahasa Indonesia. Penelitian ini ialah penelitian kualitatif yang menggunakan metode perbandingan tekstual. Data penelitian bersumber dari dua buku dengan teks berpasangan, masing-masing dengan teks orisinal dan teks terjemahannya (LP dan LSP). Analisis memperlihatkan bahwa sebagian terjemahan (LP) masih tergolong sebagai terjemahan yang tidak bailg terutama karena gagal memahami jurang perbedaan struktur antara bahasa Inggris dan bahasa Indonesia. Sementara itu, sebagian terjemahan lain (LSP) tampaknya sudah menggunakan teknik transposisi, modulasi, dan ekuivalensi sehingga menghasilkan terjemahan yang baik. Selain itu, penelitian ini menyadarkan bahwa demi terjemahan yang baik, terutama dalam kasus kalimat-kalimat bersubjek itimpersonal, kegiatan penerjemahan mensyaratkan pengetahuan yang kuat atas bahasa sumber dan bahasa sasaran, yang mencakup aspek-aspek linguistik dan konteks dari teks yang diterjemahkan. This small research is a translation study. This aims at three purposes; i.e. (a) to give facts about the practice of translation of English sentence whose subject is impersonal it, into Indonesian language by means of comparing two related texts, (b) to figure out the gap between the theory and the practice of English-Indonesian translation, and (c) to propose a formulaic procedure of translation in the name of a good translation, specifically in relation with how to translate English sentence whose subject is impersonal it into Indonesian This is a qualitative research which is based on textual comparison. The data derives from two paired books, each of which are both the original and the translated versions (LP and LSP). The analysis shows that part of the translated texts falls within a not-good translation, mainly due to its failure to perceive the structural gap between English and lndonesian. Meanwhile, the other translation (LSP) process to be a good translation in that it seems to have applied the techniques of translation, such transposition, modulation, and equivalence. Finally, this research proposes that, to be a good translation, the activity of translation requires a skillful knowledge of the source and target languages, involving both linguistic and contextual aspects of the translated texts.
SASTRA MULTIKULTURAL: STUDI KASUS SASTRA DI YOGYAKARTA Imam Budi Utomo
Widyaparwa Vol 40, No 2 (2012)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1960.213 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v40i2.54

Abstract

Tulisan ini bertujuan menemukan sebab-musabab dan dimensi kemultikulturalan sastra di Yogyakarta. Untuk melihat dimensi kemultikulturan tersebut digunakan kerangka berpikir multikultural. Adapun metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif. Sementara itu, pengumpulan data dilakukan melalui studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ditemukan minimal dua sebab terjadinya kemultikulturalan sastra di Yogyakarta, yaitu hidup dan berkembangnya berbagai kultur dan banyaknya pendatang pelajar/mahasiswa dari berbagai penjuru Tanah Air ke Yogyakarta. Sementara itu, terdapat dua dimensi kemultikulturalan sastra di Yogyakarta, yakni dimensi sastrawan (salah satu aspek ekstenal karya sastra) dan dimensi karya sastra (aspek internal karya sastra). Beragam kultur yang ditampilkan dalam karya sastra di Yogyakarta itu menunjukkan wajah yang multikultural (kultur yang beragam, tidak hanya terdiri atas satu kultur). Dalam konteks keIndonesiaan, pertumbuhan sastra multikultural, antara lairn, dapat menjadi sebuah sarana refleksi diri dan dapat bermanfaat sebagai alat pemersatu bangsa yang rawan terkoyak. This paper aims to find out causative and multicultural dimension on literature in Yogyakarta. Multicultural framework is used to view the multicultural dimension and, additionaly, qualitative method is used to perform research. Library research is performed to collect data. The result shows that literary multicultural in Yogyakarta occurs in the life and development of cultural complexity and the arrival of students from all over lndonesia to Yogyakarta. The two literary multicultural in Yogyakarta emerge on men of letters (one of the literary external aspects) and literary works dimension (literary internal aspect). Cultural variety performed in literary works in Yogyakarta shows multicultural face (various cultures, not only one culture). Growth of multicultural literature, in lndonesian context, inter-alia, is able to be a means of self-reflection and be beneficial to be unifying means of fragile nation.
JENIS DAN ORIENTASI KRITIK SASTRA INDONESIA PADA SURAT KABAR DI KOTA SURABAVA Yulitin Sungkowati
Widyaparwa Vol 40, No 2 (2012)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3421.114 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v40i2.59

Abstract

Tulisan ini bertujuan mendeskripsikan jenis dan orientasi kritik sastra Indonesia pada dua surat kabar di kota Surabaya dengan pendekatan kritik sastra. Sumber data penelitian ini adalah surat kabar Surabaya Post dan larua Pos tahun 2001-2010. Data penelitian berupa data tulis. Pengumpulan datanya dilakukan dengan metode studi pustaka yang bertumpu pada teknik baca dan catat. Analisis data dilakukan secara deduktif-induktif-deduktif. Penelitian ini menghasilkan temuan sebagai berikut. Pertama, berdasarkan jenisnya, kritik sastra di surat kabar Surabaya Post dan Jawa Pos adalah kritik impresionistik atau kritik nonilmiah dan kritik judisial atau kritik ilmiah dengan kecenderungan kritik impresionistik lebih dominan. Kedua, berdasarkan orientasinya, kritik sastra di Surabaya Post dan Jawa Pos dapat dikelompokkan menjadi empat, yaitu kritik mimetik, kritik ekspresif, kritik objektif, dan kritik pragmatik. Kritik yang paling dominan adalah kritik yang berorientasi pada karya sastra atau kritik objektif. This paper aims to describe kind and orientation of Indonesian literary critic in newspapers in Surabaya city using literary critic approach. Written data source were taken from Surabaya Post and Jawa Pos newspapers during 2001-201.0 and were analyzed using library research with reading and recording technique. The data was performed deductive-inductive-deductive analysis. The result shows; first, literary critic in Surabaya Post and Jawa Post newspapers, based on type, is impressionistic or non-scientific and judicial or scientific critics. lt means the impressionistic critics is more dominant. Second, literary critic in Surabaya Post and Jawa Pos newspapers, based on orientation, is classified into four; mimetic, expressive, objective, and pragmatic critics. The most dominant critic is critic that is oriented to literary works or objective critics.
ANALISIS WACANA PERCAKAPAN BERBAHASA JAWA Dl JEJARING SOSIAL FACEBOOK: KAJIAN KOHESI Joko Sukoyo
Widyaparwa Vol 40, No 2 (2012)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1927.625 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v40i2.55

Abstract

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif yang bertujuan untuk menganalisis dan menjelaskan penggunaan kohesi leksikal dan gramatikal dalam percakapan berbahasa Jawa di jejaring sosial facebook. Subjek penelitian ini ialah seluruh percakapan berbahasa Jawa di dinding facebook peneliti, sedangkan objek penelitian yaitu kohesi leksikal dan gramatikalnya. Untuk menganalisis hal tersebut digunakan teori Halliday dan Hassan (1992). Dalam pengumpulan data digunakan teknik simak dan catat. Selanjutnya, data dianalisis dengan menggunakan metode distribusional dan teknik bagi unsur langsung. Hasilnya dapat disimpulkan bahwa keutuhan wacana ditandai oleh unsur-unsur kohesi gramatikal dan leksikal. Kohesi gramatikal meliputi (1) pengacuan 53,7%, (2) penyulihan 4,8%, (3) pelepasan 12,2%, dan (4) perangkaian 29,3 %. Sedangkan kohesi leksikal meliputi (1) repetisi 42,1%, (2) sinonim 70,5 %, (3) antonim 10,5 %, (4) kolokasi 31,6 %, dan (5) ekuivalensi 5,3%. This study is a descriptive qualitative one which aims at analyzing and describing the use of lexical and grammatical cohesions in Javanese conversation on facebook social network. The subject of the research is all Javanese conversation displayed on the researcher's facebook wall, while the objects of the research are lexical and grammatical cohesions of Javanese conversation discourse on facebook social network. To analysis use Halliday and Hassan theory (1,992). The data collection technique used in this research are listening and writing techniques. The data is then analyzed by using distribution method and direct element division technique. Based on the analysis of Javanese conversation discourse on facebook social network, it can be concluded that there are elements of grammatical and lexical cohesions in the Javanese conversion discourse on facebook social network. The grammatical cohesion includes (1) reference 53.7%, (2) substitution 4.8%, G) ellipsis 12.2%, and (4) conjunction 29.3%, whereas the lexical cohesion includes (1) repetition 42.1%, (2) synonym 10.5%, (3) antonym 10.5%, (4) collocation 31.6%, and (5) equivalence 5.3%.
BENTUK DAN FUNGSI SINTAKSIS LOKATIF DALAM BAHASA BALI lda Ayu Putu Aridawati
Widyaparwa Vol 40, No 2 (2012)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2579.011 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v40i2.60

Abstract

Lokatif merupakan salah satu peran sintaksis, yaitu fungsi semantik yang diberikan kepada konstituen yang secara intrinsik bermakna tempat. Teori yang diterapkan dalam penelitian ini adalah teori linguistik struktural. Selain itu, digunakan juga teori tagmemik yang dikemukakan oleh Kenneth L. Pike dan Evellm G. Pike (1982). Dalam pengumpulan data dipergunakan metode lapangan dan metode pustaka, dibantu dengan teknik elisitasi, catat rekam, dan terjemahan. Dalam analisis data digunakan metode padan refrensial dan metode distribusional. Teknik lanjutan berupa teknik hubung banding menyamakan (HBS), teknik hubung banding membedakan (HBB), teknik ganti dan teknik perluas. Bahasan dalam tulisan ini meliputi dua hal, yaitu (1) bentuk lokatif dalam bahasa Bali dan (2) fungsi sintaksis lokatif dalam bahasa Bali. Secara bentuk, peran lokatif diisi oleh kata, frasa, dan klausa. Berdasarkan fungsi sintaksisnya, peran lokatif dapat menempati fungsi sintaksis subjek, objek, dan keterangan. Locative is one role of syntactic, semantic functions namely the content provided to constituents who are intrinsically semantically meaningful place. The theory is applied in this study is the theory of structural linguistics. ln addition, also used tagmemik theory proposed by Kenneth L. Pike and Evelyn G. Pike (198D. ln the field of data collection methods used and the method of literature reoieus, assisted with elicitation techniques, record, and translation. In the analysis of the data used and the method of equivalent refrensial distributional methods. The method advanced techniques such as circuit techniques appeal to equate (HBS) and circuit techniques to distinguish appeal (HBB), engineering change (substitution) and techniques expand (expansion). The discussion in this paper covers two things: (1) locative forms in Balinese and (2) the syntactic functions of locative in Balinese. ln this form, the role of locative filled by words, phrases, and clauses. Based on the function syntax, locative des can occupy the subject syntactic functions, objects, and information.

Page 1 of 1 | Total Record : 8