cover
Contact Name
Mulyanto
Contact Email
widyaparwa@gmail.com
Phone
+6281243805661
Journal Mail Official
widyaparwa@gmail.com
Editorial Address
https://widyaparwa.kemdikbud.go.id/index.php/widyaparwa/about/editorialTeam
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Widyaparwa
Jurnal Widyaparwa memublikasi artikel hasil penelitian, juga gagasan ilmiah penelitian (prapenelitian) yang terkait dengan isu-isu di bidang kebahasaan dan kesastraan Indonesia dan daerah.
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 45, No 1 (2017)" : 7 Documents clear
BUNYI CEMPALA YANG KEHILANGAN GAUNG (PEMAHAMAN GENERASI MUDA JAWA ATAS RAGAM PANGGUNG BAHASA JAWA) (THE LOST OF CEMPALA REVERBERATION (UNDERSTANDING OF JAVANESE YOUNG SPEAKERS IN A PERFORMANCE VARIANT OF JAVANESE)) Wahyu Widodo; Dany Ardhian; Muhamad Fatoni Rohman
Widyaparwa Vol 45, No 1 (2017)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (569.05 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v45i1.141

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap pemahaman generasi muda Jawa atas ragam panggung bahasa Jawa (RPBJ). Instrumen yang dibuat untuk penelitian ini berupa pertunjukan wayang kulit dalam dua adegan. Adegan pertama menggambarkan deskripsi pertapaan (kandha) dan adegan kedua memuat pemberian wejangan Dewa Ruci kepada Werkudara (ginem). Kedua adegan tersebut diperagakan oleh dalang Ki Purbo Asmara. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif. Responden penelitian sejumlah 100 responden, yang diambil dari dua kampus: mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya (FIB-UB) dan mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang (FS-UM), yang tentu saja memenuhi kriteria sebagai responden penelitian. Teknik wawancara mendalam dilakukan untuk mengungkap keinginan dan tanggapan generasi muda Jawa atas RPBJ. Selain itu, digunakan juga dua responden yang mampu menguasai RPBJ dengan baik, sebagai contoh ideal penggunaan RPBJ (bench-mark). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemahaman generasi muda Jawa atas RPBJ: kategori baik 2%, kategori cukup 7%, kategori kurang 5%, dan kategori sangat kurang sejumlah 86%. Hasil tersebut mengisyaratkan bahwa RPBJ sangat asing bagi generasi muda Jawa dan keadaan ini akan menuntun RPBJ mengalami status keterancaman bahasa, yakni berpotensi rawan punah (Seriously endangered). Keadaan seperti itu mendesak untuk dilakukan revitalisasi bahasa melalui serangkaian program rekayasa kebijakan bahasa. This research aims to reveal the understanding of Javanese young speakers in a performance variant of Javanese (PVJ). A research instrument are two performance scenes of Javanese shadow puppet. The first scene portrays hermitage (pertapan) (kandha) and the second scene describes pontificate of Dewa Ruci to Werkudara (ginem) performed by Ki Purba Asmara as shadow puppeteer (dalang). This research uses quantitative descriptive methods. The respondents of this research are 100 undergraduate students taken from two Universities: faculty of cultural science from Brawijaya University and faculty of letters from state university of Malang. They are selected based on some of criteria. In-depth interview techniques is employed to reveal aspiration and response of Javanese young speakers on PVJ. Furthermore, two respondents who master the performance variant of Javanese (PJV) well are chosen as ideal model or bench-mark of PVJ. The finding shows that Javanese young speakers understanding on PJV as follows: good criteria amounted to 2%, sufficient criteria amounted to 7%, poor criteria amounted to 7%, and very poor amounted to 86%. This result indicates that Javanese young speakers is very unfamiliar with PJV and this situation leads to vulnerability of language, which is going to seriously endangered. Such circumstance is urgent to revitalize the language through a series of language policy engineering program.
PRINSIP KELAKAR DAN PRINSIP DAYA TARIK DALAM WACANA CAKCUK (JOKE AND ATTRACTION PRINCIPLES IN CAKCUK DISCOURSE) Foriyani Subiyatningsih
Widyaparwa Vol 45, No 1 (2017)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (307.668 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v45i1.146

Abstract

Masalah penelitian ini ialah bagaimanakah penerapan prinsip kelakar dan prinsip daya tarik pada karya desain CakCuk. Kajian ini bertujuan mendeskripsikan penerapan prinsip kelakar dan prinsip daya tarik dalam karya desain CakCuk. Sesuai tujuan dan masalah itu, kajian ini menggunakan teori pragmatik yang berkaitan dengan prinsip kelakar dan prinsip daya tarik. Kajian ini bersifat deskriptif kualitatif. Sumber data berupa suvenir CakCuk yang memuat adanya pemakaian bahasa. Data diperoleh dengan menggunakan metode simak. Analisis data menggunakan metode agih, komparasi, dan padan kontekstual. Hasil kajian ini, pertama, penerapan prinsip kelakar dalam wacana CakCuk. Prinsip kelakar, yakni berupa tumpuan simpulan dibuat tidak benar dan simpulan juga dibuat tidak benar; pelanggaran terhadap maksim-maksim dari prinsip-prinsip sopan santun secara sengaja; dan pengungkapan hal-hal tabu di dalam tuturan. Kedua, penerapan prinsip daya tarik dalam wacana CakCuk. Prinsip daya tarik memiliki dua komponen, yaitu stilistik teks dan pesan teks. Stilistik teks dibangun melalui tuturan harafiah berupa bentuk metafora dan plesetan. Pesan teks, menyangkut keadaan dan perilaku sosial yang buruk di dalam masyarakat, heroisme dan patriotisme, budaya, serta kuliner. Research problem is how to apply jokes and attraction principle on CakCuk design. Objective of the research is to describe application of joke and attraction principle on CakCuk design. According to the objective and the problem, the research uses pragmatic theory relating to joke and attraction principle. The research is qualitative descriptive. The data source comes from CakCuk souvenir which contains language usage. Data are collected by using scrutinize method. Data analysis uses distributional, comparison, and contextual equation. This research result as follows. Firstly, joke principle has been applied on CakCuk discourse. Joke principles, namely conclusion base and conclusion are made incorrect. Violence of maxims on politeness principles are used intentionally. Utilization of taboo are delivered. Secondly, attraction principle on CakCuk discourse has been applied. Attractiveness principle has two components, namely stylistic text and message text. Stylistic text is arranged by using literal words in form of metaphor and spoof. Message text represents bad situation and social behavior in society, heroism and patriotism, culture, and culinary.
SEMANGAT AGRARIS DALAM ANTOLOGI GEGURITAN ALAM SAWEGUNG KARYA SUDI YATMANA (AGRARIAN SPIRIT IN ALAM SAWEGUNG GEGURITAN ANTOLOGY WORKS BY SUDI YATMANA) Dhanu Priyo Prabowo
Widyaparwa Vol 45, No 1 (2017)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (379.857 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v45i1.142

Abstract

Penelitian ini difokuskan pada geguritan-geguritan di dalam buku antologi berjudul Alam Sawegung (2010) karya Sudi Yatmana. Geguritan-geguritan yang dipilih dari antologi tersebut berupa tiga geguritan berjudul Paman Tani Jawa Purwa (Paman Tani Jawa Kuna), Nandur Pari Jero (Menanam Padi Jero), dan Panen (Panen). Dari hasil kajian pustaka yang relevan dengan penelitian ini, ketiga geguritan itu sama sekali belum pernah dilakukan. Puisi-puisi itu diteliti karena memiliki kekuatan dan keunikan di dalam mengungkapkan masalah kejawaan yang berkaitan dengan budaya dunia pertanian (padi) di Jawa. Dalam realitas kehidupan masa kini, budaya tani tersebut mengalami tantangan berupa pergeseran orientasi akibat perkembangan zaman. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan mengungkapkan gambaran perubahan orientasi dunia petani Jawa di tengah arus perkembangan zaman melalui tiga geguritan tersebut. Teori yang digunakan adalah teori semitiok dari Riffaterre yang memandang puisi dari makna (signifiacane) dan arti (meaning) dan teori ekokritik ecocriticism yang memandang puisi sebagai representasi dari kesadaran terhadap lingkungan dan budaya. Penelitian sastra adalah riset pustaka. Oleh karena itu, metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini sejajar dengan teori yang dipilih untuk mengungkapkan makna dan arti ketiga geguritan tersebut sehingga diketahui bahwa geguritan-geguritan yang diteliti sebagai ruang mental/kebudayaan. Dengan langkah tersebut, dapat ditemukan jawabahan dari tujuan penelitian ini.This study focuses on geguritans in the anthology titled Alam Sawegung (2010), by Sudi Yatmana. Geguritans are selected from three anthologies titled "Paman Tani Jawa Purwa" (Old Javanese Uncle Farmer), "Nandur Pari Jero" (Planting Rice Jero), and "Panen" (Harvest). The result of relevant literature review to this study shows that a study of three geguritans has not done yet.The poems are studied because they have strength and uniqueness in revealing Javanese issues related to agriculture culture (rice) in Java. In today life reality, the peasant culture faces challenge of orientation shift due to era changing. Therefore, this research aims to reveal the picture of Javanese farmers orientation changing world in the midst of the times in the three geguritans. Riffaterre semiotics theory viewing poetry of significance and meaning is used in this research. Ecocriticism theory of literature viewing poetry as representation of envirionmental and cultural conciosness is also used in this study. The study of literature is a research library. The research method used is parallel to the chosen theory in order to express meaning and significance of the three geguritans. Therefore, it can be found out that geguritans as a mental space / culture. Through these steps, the answer of research aim can be fulfilled.
LANGKAH AWAL PENGKAJIAN PERKEMBANGAN BAHASA PADA NOVEL INDONESIA: KEKHASAN BENTUK KALIMAT DALAM NOVEL SITI NURBAJA (A PRELIMINARY STEP IN LANGUAGE DEVELOPMENT STUDY IN INDONESIA NOVEL: THE UNIQUENESS OF SENTENCE FORM IN SITI NURBAJA NOVEL) Restu Sukesti
Widyaparwa Vol 45, No 1 (2017)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (253.326 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v45i1.147

Abstract

Karya sastra Indonesia, khususnya novel, mengalami perkembangan dan perubahan kekhasannya sehingga muncul periodisasi sastra. Seiring dengan itu pula, bahasa Indonesia yang digunakan pun mengalami perkembangan yang signifikan yang dapat mencerminkan kekhasan. Untuk itu, kajian perkembangan bahasa pada karya sastra, khususnya novel perlu dilakukan dengan tidak untuk melawan atau mengubah periodisasi satra yang sudah ada, tetapi untuk memberikan pendampingan warna kekhasan periodisasi sastra (novel) Indonesia. Untuk itu, sebagai langkah awal, dalam makalah ini, dengan metode deskriptif kualitatif dan dengan teori perubahan bahasa disajikan pemakaian bahasa Indonesia dalam novel Siti Nurbaja, dengan aspek kajian pada pemakaian bentuk kalimat. Pengkajian bentuk kalimat itu difokuskan pada kalimat inversi, kalimat pasif, kalimat majemuk, serta kesejajaran intrakalimat yang semuanya dianggap dominan dalam novel Siti Nurbaja dan dianggap menjadi kekhasan dalam novel tersebut. Selain itu, pada pembahasan ini juga dilihat perbandingannya dengan novel sesudahnya agar tampak ada perkembangan yang signifikan meskipun kajian ini bukan perbandingan bahasa. Hasilnya ialah ada signifikansi perbedaan yang menjadi kekhasan novel Siti Nurbaja. Dengan itu, kajian seperti ini dapat digunakan sebagai penyumbang aspek periodisasi sastra Indonesia. Indonesian literary works, especially novels, have evolved and changed their peculiarities so that the period of literature arise. Along with that, Indonesian language use also experienced a significant development that can reflect uniqueness. Therefore, the study of language development in literary works, especially novels, is necessary to be done by not to "fight" or change the existing of Indonesian literary periodization, but to provide "accompaniment" of the uniqueness of Indonesian literary periodization. For that, as the first step, this paper, with qualitative descriptive method and theory of language change, is presented the use of Indonesian language in Siti Nurbaja novel, with aspects of study on use of sentence form. The study of sentence form is focused on inversion sentence, passive sentence, compound sentence, and intra-sentence parallelism which are considered dominant in Siti Nurbaja novel and it is considered as uniqueness of the novel. In addition, the discussion is also seen its comparison with afterwards novel in order to come up the existence of significant development. Although, this study is not a comparison of language. The result shows there are significance differences that become the peculiarities of Siti Nurbaja novel. Thus, such studies can be used as contributors to the aspect of Indonesian literary periodization.
MAKIAN DALAM BAHASA MELAYU DIALEK SELIMBAU KAPUAS HULU (SWEARING IN MALAY LANGUAGE OF SELIMBAU KAPUAS HULU DIALECT) Wahyu Damayanti
Widyaparwa Vol 45, No 1 (2017)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (432.481 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v45i1.143

Abstract

Fenomena makian di setiap daerah merupakan hal tabu. Makian di setiap daerah memiliki keunikan dan kecirikhasan tersendiri. Ungkapan makian merupakan bentuk pelampiasan perasaan yang terpendam dalam hati karena situasi yang tidak menyenangkan. Bahasa Melayu dialek Selimbau Kapuas Hulu juga memiliki ung-kapan makian yang unik dan berciri khas tersendiri. Tujuan penelitian ini mendeskripsikan bentuk makian bahasa Melayu dialek Selimbau Kapuas Hulu dan mendeskripsikan referensi makian. Metode dalam penelitian ini ialah metode kualitatif deskriptif. Tahap penelitian meliputi (1) penyediaan data; (2) penganalisisan data, dan (3) penyajian hasil analisis data. Data diperoleh melalui teknik pustaka dan wawancara langsung dengan teknik libat cakap catat. Data diklasifikasikan berdasarkan permasalahan yang ada. Data diperoleh dari beberapa informan bahasa Melayu dialek Selimbau, Kapuas Hulu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk makian bahasa Melayu dialek Selimbau Kapuas Hulu adalah makian berbentuk kata (kata dasar dan kata jadian), frasa, dan klausa. Referensi makian yang ditemukan mengacu pada keadaan, binatang, makhluk halus, bagian tubuh, kekerabatan, aktivitas, dan profesi. The phenomenon of swearing in each region is taboo, in fact swearing in each region has its own uniqueness and characteristic. Swearing expression is a form of impingement that is hidden in the heart because of an unpleasant situation. The Malay dialect Selimbau Kapuas Hulu also has a unique and distinctive swearing expression. The objective of the study is to describe the form and reference of Malay dialect Selimbau Kapuas Hulu dialect swearing. The method in this research is descriptive qualitative method. The research process covers (1) data collection; (2) data analysis, and (3) data presentation of data analysis result. Data are obtained through library technique and direct interview with participation and noting technique. Data are recorded and classified based on existing problems. The data are obtained from several Malay language informants in Selimbau dialect, Kapuas Hulu. The result shows that the swearing form of Malay dialect Selimbau Kapuas Hulu dialect is word (base word and derivative word), phrase, and clause. Swearing references found in the data refer to state, animal, spirit, body part, kinship, activity, and profession.
MORFOFONEMIK DALAM AFIKSASI BAHASA MORONENE (MORPHOPHONEMIC IN AFFIXATION OF MORONENE LANGUAGE) Firman A.D.
Widyaparwa Vol 45, No 1 (2017)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (544 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v45i1.144

Abstract

Penelitian ini mengangkat masalah morfofonemik dalam afiksasi bahasa Moronene. Tujuan penelitian ini ialah untuk mendeskripsikan proses morfofonemik bahasa Moronene sehingga dapat diuraikan beberapa alomorf yang muncul dalam afiksasi. Penelitian ini bersifat kualitatif deskriptif yang menguraikan berbagai perubahan dan variasi bentuk yang terjadi dalam proses morfofonemik afiksasi. Dalam melakukan analisis data digunakan teknik perluas dan teknik baca markah melalui pemilahan atau pengklasifikasian berdasarkan ciri, sifat, dan gambaran data. Bukti-bukti morfofenemik dalam afiksasi didefinisikan dan dibandingkan untuk melihat pola-polanya sehingga dapat dikategorikan variasi bentuk afiks. Berdasarkan hasil analisis data, morfofonemis afiksasi bahasa Moronene hanya terjadi pada proses prefiks dan afiks rangkap. Alomorf dari {moN-}: {mo}, {mo?-}, {mon-}, {moG-}, dan {mom-}. Alomorf dari {poN-}: {po}, {po?-}, {pon-}, {poG-}, dan {pom-}. Alomorf dari {te-} yaitu {te?-}. Variasi dari {poN-...-i}: {po...-i}, {po?-...-ri}, {po?-...- ?i}, {po...-ti}, {pon-...-ni}, {po...- hi}, {pon-...-ri}, {poG-...-ri}, {po...-ni}, {po...-si}, {poG-...-hi}, {pon-...-hi}, {pon-...-wi}, {pon-...-hi}, dan {pon-...-mi}. Alomorf dari {poN-...-a}: {po-...-?a}, {po?-...- ?a}, {po...-ya}, {po?-...-ya}, {po...-wa}, {poG-...-?a}, {poG-...-ya}, {pon-...-?a}, {pon-...-wa}, {pon-...-ya}, {pon-...-?a}, {pom-...-ya}, {pom-...-wa}, {po...-ha}, {po?-...-ha}, {pon-...-ha}, dan {poG-...-ha}. Variasi dari {pe-...-a}: {pe-...-?a}, {pe?-...- ?a}, {pe-...-wa}, {pe-...-ya}, {po?-...-ha}, {pe-...-ha}, {po?-...-ra}, {pe-...-kiya}, dan {pe-...-?iya}. The problem of this research is morphophonemic in Moronene language affixation. This research is aimed to describe morphophonemic process that can explain some allomorphs appeared in affixation. This research is qualitative descriptive that expounds various forms and changes occured in affixation morphophonemic process. Data analysis uses expansion and read-marker technique through sorting or classification based on features, characteristics, and description of the data. The morphophenemic evidences in affixation are defined and compared to see their pattern so that can be categorized into affix form variation. According to the data analysis, morphophonemic in Moronene language affixation only occurs in prefix and affix combination process. Alomorph of {moN-}: {mo}, {mo?-}, {mon-}, {moG-}, and {mom-}. Alomorph of {poN-}: {po}, {po?-}, {pon-}, {poG-}, and {pom-}. Alomorph of {te-} is {te?-}. Variation of {poN-...-i}: {po...-i}, {po?-...-ri}, {po?-...- ?i}, {po...-ti}, {pon-...-ni}, {po...- hi}, {pon-...-ri}, {poG-...-ri}, {po...-ni}, {po...-si}, {poG-...-hi}, {pon-...-hi}, {pon-...-wi}, {pon-...-hi}, and {pon-...-mi}. Alomorph of {poN-...-a}: {po...-?a}, {po?-...- ?a}, {po...-ya}, {po?-...-ya}, {po...-wa}, {poG-...-?a}, {poG-...-ya}, {pon-...-?a}, {pon-...-wa}, {pon-...-ya}, {pon-...-?a}, {pom-...-ya}, {pom-...-wa}, {po...-ha}, {po?-...-ha}, {pon-...-ha}, and {poG-...-ha}. Variation of {pe-...-a}: {pe-...-?a}, {pe?-...- ?a}, {pe-...-wa}, {pe-...-ya}, {po?-...-ha}, {pe-...-ha}, {po?-...-ra}, {pe-...-kiya}, and {pe-...-?iya}.
KEDWIBAHASAAN DALAM NOVEL KENANGA KARYA OKA RUSMINI (THE BILINGUALISM IN KENANGA NOVEL BY OKA RUSMINI) Lustantini Septiningsih
Widyaparwa Vol 45, No 1 (2017)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (196.977 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v45i1.145

Abstract

Penggunaan bahasa daerah dalam karya sastra tidak selalu mengganggu pemahaman pembaca atas suatu karya. Hal itu bergantung pada bagaimana pengarang mengeks-presikan bahasa daerah itu. Kenanga karya Oka Rusmini merupakan novel dwibahasa karena adanya penggunaan bahasa Indonesia dan bahasa daerah. Masalah dalam penelitian ini ialah bagaimana dwibahasa itu digunakan pengarang akan dikaji. Tujuannya ialah mendiskripsikan dwibahasa yang digunakan dalam novel tersebut. Penelitian ini termasuk penelitian kualitatif. Pendekatan yang akan dilakukan dengan cara menganalisis karya sastra dari aspek bahasa dan masyarakat. Metode penelitian ini ialah metode diskriptif, yaitu penelitian dilakukan atas dasar fakta. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan dwibahasa dalam Kenanga berkaitan dengan faktor nonkebahasaan. Faktor nonkebahsaan itu ialah kehidupan tokoh yang berkasta Brahmana dan yang berkasta Sudra, adat yang ada di Bali, dan agama Hindu yang dianut tokohnya. Faktor nonkebahasaan itu memengaruhi pengungkapan gagasan, pikiran, dan perasaan tokohnya. Untuk memudahkan pemaham atas penggunanan bahasa Bali, pengarang memberikan kata bahasa Indonesianya, baik di dekatnya maupun di catatan kaki. Dengan demikian, pembaca tidak mengalami banyak kesulitan untuk memahami novel Kenanga. The use of local language in literary is not an obstacle for readers to understand a piece of literary works. It depends on how the author expresses the local language into his work. Kenanga novel by Oka Rusmini is a bilingual novel because it uses Indonesian and local language. The research problem is how bilingualism is used by the author. The research aims to describe the bilingualism used in the novel. This research is a qualitative research. The approach used in the research is by analyzing language and society aspect of the novel. This research uses descriptive method, i.e. a research is carried out on the basis of facts. The results of this study indicate that bilingualism in Kenanga relating to non-linguistic factors. Non-linguistic factors are life of Brahmin and Sudra caste, custom of Bali, Hinduism adhered by the characters. Non-linguistics factors influence characters expression of ideas, thoughts, and feelings. To ease understanding of Balinese language, the author gives the Indonesian language word, either nearby the Balinese word or in footnotes. Therefore, readers do not find much difficulty in understanding Kenanga novel.

Page 1 of 1 | Total Record : 7