cover
Contact Name
Mulyanto
Contact Email
widyaparwa@gmail.com
Phone
+6281243805661
Journal Mail Official
widyaparwa@gmail.com
Editorial Address
https://widyaparwa.kemdikbud.go.id/index.php/widyaparwa/about/editorialTeam
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Widyaparwa
Jurnal Widyaparwa memublikasi artikel hasil penelitian, juga gagasan ilmiah penelitian (prapenelitian) yang terkait dengan isu-isu di bidang kebahasaan dan kesastraan Indonesia dan daerah.
Articles 17 Documents
Search results for , issue "Vol 48, No 2 (2020)" : 17 Documents clear
TINDAK TUTUR EKSPRESIF MUDIK LEBARAN Edi Setiyanto
Widyaparwa Vol 48, No 2 (2020)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (252.495 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v48i2.649

Abstract

This study discusses the speech acts expressive of Eid Mubarak homecoming. This study proposes to describe the psychological atmosphere of homecoming travelers until they choose homecoming even though they have to experience discomfort during the trip. This study utilizes speech act theory, especially the types of expressive speech acts. This study is descriptive qualitative. The data is utterances written on posters or placards attached to luggage or transportation mode of the travelers. The data are obtained by observing method, downloading technique, followed by copying technique. The data are taken from the website or Facebook. The obtained data are 36 utterances. The data are analyzed using the marker reading method, inserting technique, and the equivalent method, namely the pragmatic equivalent. The study found out that there are seven types of homecoming expressive speech acts. The seven types of homecoming expressive speech acts are (1) apologizing, (2) stating gratitude, (3) implementing determination, (4) joking, (5) reasoning, (6) complaining, and (7) describing indecision. The seven types of expressive speech acts describe the psychological atmosphere of people during a homecoming trip or why they must choose homecoming.Kajian ini membahas tindak tutur ekspresif mudik lebaran. Kajian ini bertujuan menggambarkan suasana psikologis pemudik sehingga tetap memilih mudik meski harus mengalami ketidaknyamanan perjalanan. Kajian ini memanfaatkan teori tindak tutur, terutama jenis-jenis tindak tutur ekspresif. Kajian ini bersifat deskriptif kualitatif. Data kajian berupa tuturan yang dituliskan pada poster atau plakat yang ditempelkan pada barang bawaan atau moda transportasi yang digunakan pemudik. Data diperoleh dengan metode simak, teknik unduh, yang dilanjutkan dengan teknik salin. Data diambil dari laman atau Facebook. Data yang diperoleh berjumlah 36. Data dianalisis menggunakan metode baca markah, teknik sisip, dan padan pragmatik bergantung sifat permasalahan. Kajian menemukan tujuh jenis tindak tutur ekspresif mudik. Tujuh jenis tindak tutur ekspresif itu ialah (1) meminta maaf, (2) mengungkapkan syukur, (3) melaksanakan tekad, (4) melucu, (5) mengungkapkan alasan, (6) mengeluh, dan (7) menggambarkan kebimbangan. Tujuh jenis tindak tutur ekspresif itu menggambarkan kondisi psikologis pemudik saat melakukan mudik atau mengapa melaksanakan mudik.
KAJIAN KEBAHASAAN PADA IKLAN CETAK DI MASA PANDEMI COVID-19 Vilya Lakstian Catra Mulia
Widyaparwa Vol 48, No 2 (2020)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (362.71 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v48i2.600

Abstract

Covid-19 epidemic attacked Indonesia so that the government decided policy to have to stay at home which started in the middle of March 2020. People had to adapt to the situation. This moment attracts the attention of service and product providers to conform. The researcher uses printed advertisements as the data source in the form of a multimodal document and find various businesses respond to the condition. They support the government’s policy while remaining motivating customers to use their products and services. The research is done in a qualitative paradigm towards words, phrases, clauses, sentences, and pictures as the data to answer the research topic. The data source was taken from the daily newspaper Kompas at the beginning of staying at home policy implementation by the government. The data collection was done by criterion-based sampling. Supported by the multimodal analysis approach, this research observes how linguistic and visual image components simultaneously convey intentions of the advertisements in the pandemic outbreaks. Readers are directed to know various terms raised by the advertisement to campaign the government’s policy while remain promoting. The researcher finds kinds of text genres working harmoniously with visual images to articulate meanings. This research is able to show that offered products and services by providers in their pandemic-time advertisement are part of the solution towards customers’ needs while physical and social distancings were enforced. Linguistic analysis in this research gives new findings of the benefit of text and visual images to express meanings in various ways for the same goal.Wabah Covid-19 melanda Indonesia sehingga pemerintah menetapkan kebijakan untuk beraktivitas di rumah saja mulai pertengahan bulan Maret 2020. Masyarakat harus bisa beradaptasi dengan situasi. Momen ini turut menarik perhatian penyedia layanan jasa dan produk untuk menyesuaikan diri. Peneliti menggunakan iklan cetak sebagai sumber data berupa dokumen multimodal dan menemukan beragam perusahaanturut merespon keadaan ini. Mereka mendukung kebijakan pemerintahsambil tetap mendorong konsumen untuk  menggunakan produk dan jasa yang dimiliki. Penelitian dilakukan dengan paradigma kualitatif terhadap kata, frasa, klausa, kalimat, dan gambar sebagai data untuk menjawab topik penelitian. Sumber data diperoleh dari koran harian Kompas pada awal masa berlakunya kebijakan aktivitas di rumah oleh pemerintah. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik sampling berbasis kriteria. Didukung dengan pendekatan analisis dokumen multimodal, penelitian ini mengamati bagaimana komponen linguistik dan visual secara simultan menyampaikan maksud dari beragam iklan tersebut di saat pandemi. Pembaca diarahkan untuk mengetahui beragam istilah yang diangkat oleh iklan-iklan itu untuk mengampanyekan kebijakan pemerintah sambil tetap promosi. Peneliti menemukan macam-macamgenreteks yang berjalan harmonis dengan tampilan visual untuk mengartikulasikan makna. Penelitian ini mampu menunjukkan bahwa produk dan jasa yang ditawarkan perusahan pada iklan di masa pandemi merupakan bagian dari solusi terhadap kebutuhan konsumen saat jarak fisik dan sosial diberlakukan. Analisis kebahasaan dalam penelitian ini memberikan temuan baru tentang manfaat teks dan tampilan visual untuk menyuarakan maksud dengan beragam cara untuk tujuan yang sama.
TEKS “NAH INI DIA” DI POSTKOTA NEWS: KAJIAN PADA STRUKTUR DAN GAYA BAHASA Restu Sukesti
Widyaparwa Vol 48, No 2 (2020)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (226.577 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v48i2.648

Abstract

This study is a discourse analysis of the "Nah Ini Dia" text, the daily text uploaded on online Poskota News. The text is a news text reported a household problem containing "infidelity or the existence of a third party". This study uses a qualitative descriptive discourse analysis approach. The discourse structure, the language style, and the pragmatic aspects are discussed in this study.  In data collection, the recording method is used, in the analysis micro text and macro text analysis methods are used. Micro-text is used to analyze the language style of vocabulary and sentence; macro-text is used to analyze the text discourse structure and the text pragmatic aspects. The research findings are as follows. The schematic structure of the text is the opening of the text (the main/summary of the story, an overview), the content of the text (the beginning of the story, the beginning of the conflict, the peak of the conflict, the climax of the story), and the closing (the author's comments). The language style of the text "Nah Ini Dia" is humorous that makes the stories that are reported neat, interesting, and funny. In fact, the sense of humor that arise can close the irony in it. For this reason, it seems that the humor has become the icon for the text "Nah Ini Dia". The pragmatic aspect of the text "Nah Ini Dia" is the social satire (disputes and hostility between humans) on events that occur in the household, as the smallest form of social society.Kajian ini merupakan analisis wacana pada teks “Nah Ini Dia”, teks muat harian yang terdapat pada Poskota News berbasis daring. Teks tersebut merupakan teks berita dengan yang memberitakan kisah masalah rumah tangga yang berbau “perselingkuhan atau adanya pihak ketiga”. Kajian ini menggunakan pendekatan analisis wacana secara deskriptif kualitatif. Yang dikaji ialah struktur wacana, gaya bahasa, dan aspek pragmatik pada teks tersebut. Dalam pengambilan data digunakan metode catat, dalam penganalisisan digunakan metode analisis mikroteks dan makroteks. Mikroteks digunakan untuk menganalisis gaya bahasa kosakata dan kalimat; makroteks digunakan untuk menganalisis struktur wacana teks dan aspek pragmatik teks. Hasil kajiannya ialah sebagai berikut. Skema struktur teks ialah pembuka teks (inti/ringkasan berita cerita, gambaran umum), isi teks (awal cerita, awal konflik, puncak konflik, klimaks cerita), dan penutup (komentar penulis). Gaya bahasa teks “Nah Ini Dia” ialah gaya kejenakaan yang menjadikan cerita yang diberitakan itu apik, menarik, dan lucu. Bahkan, kejenakaan yang timbul mampu menutup cerita ironi di dalamnya. Untuk itu, tampaknya kejenakaan itu yang menjadi ikon teks “Nah Ini Dia”. Aspek pragmatik yang ditimbulkan dari teks “Nah Ini Dia” ialah sindiran sosial (pertikaian dan permusuhan antarmanusia) atas peristiwa yang terjadi di rumah tangga, sebagai bentuk masyarakat sosial terkecil.
KATA PENGANTAR SEURI ‘TERTAWA’ DALAM BAHASA SUNDA Emma Maemunah
Widyaparwa Vol 48, No 2 (2020)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (196.149 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v48i2.582

Abstract

Sundanese is one of the languages that have interface words. Almost all Sundanese verbs have interface words which serve as an introduction to an activity. One of them is the verb seuri 'laugh' which has a lot of interface words. This study aims to describe the components of interface words of seuri 'laugh' in Sundanese and explain the semantic function of those interface words. The data interface words were obtained from the Sundanese dictionary and short stories written in Sundanese. This descriptive-qualitative study used paraphrasing and classification techniques. The results show that there are 18 lexemes of  seuri 'laugh' in Sundanese, they are barakatak, belengéh, bélényeh,cakakak, calakatak, cengir, ceukeukeuk, ceuleukeuteuk, cikikik, éléngéh, gakgak, gelenyu,  ger, gikgik, irihil, key, nyéh, dan séréngéh. The function of semantic interface words of seuri 'laugh' is to show happiness, show indulgence, endure shame, nervousness, awkwardness, pain, disgust, smell something bad, and laugh at something while joking and to show the nature of people who always smile.Bahasa Sunda merupakan salah satu bahasa yang memiliki kata pengantar. Hampir semua verba bahasa Sunda memiliki kata pengantar yang berfungsi sebagai pengantar suatu kegiatan. Salah satunya verba seuri ‘tertawa’ yang memiliki banyak sekali kata pengantar. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan komponen makna kata pengantar seuri ‘tertawa’ dalam bahasa Sunda dan menjelaskan fungsi semantis medan makna kata pengantarseuri ‘tertawa’ tersebut. Data kata pengantar diperoleh dari kamus dan cerita-cerita pendek berbahasa Sunda. Penelitian deskriptif-kualitatif ini menggunakan teknik parafrase dan pengklasifikasian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 18 leksemkata pengantar seuri ‘tertawa’ dalam bahasa Sunda, yaitu barakatak, belengéh, bélényeh, cakakak, calakatak, cengir, ceukeukeuk, ceuleukeuteuk, cikikik, éléngéh, gakgak, gelenyu,  ger, gikgik, irihil,  key, nyéh, dan séréngéh. Fungsi semantis kata pengantarseuri ‘tertawa’ adalah untuk menunjukkan kebahagiaan, menunjukkan kemanjaan, menahan rasa malu, gugup, canggung, sakit, jijik, mencium bau tidak enak, atau, menertawakan sesuatu sambil bersenda gurau serta menunjukkan sifat orang yang murah senyum.
KULINER INDONESIA DALAM PEMBELAJARAN BIPA SEBAGAI PENINGKATAN PENGETAHUAN DAN KETERAMPILAN BERBAHASA BERDASARKAN PERSEPSI PEMELAJAR NFN Defina
Widyaparwa Vol 48, No 2 (2020)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (242.399 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v48i2.545

Abstract

Language learning is closely related to cultural understanding. Culinary is one of the cultures in learning the target language. Culinary practice and culinary tasting are a form of meaningful, authentic learning. Research objectives 1) describe the results of Indonesian culinary practices; 2) student assessment of cultural material by increasing knowledge and language skills; 3) learner advice for culinary teaching materials. Qualitative and quantitative research methods. Data collection techniques through questionnaires, observations, and interviews. Observations and interviews are carried out during culinary practices and when culinary materials are in class, while the survey is distributed after the course ends. There were 10 KNB student respondents. The research was conducted at IPB in December 2018-January, 2019. As a result, with the existence of cultural practices, they were able to share their experiences. In culinary tasting, they express the things that are in their minds. In conclusion, Indonesia's introduction and culinary practices can increase awareness and improve students' language skills.Pembelajaran bahasa berkaitan erat dengan pembelajaran budaya. Kuliner merupakan salah satu budaya dalam pembelajaran bahasa target. Praktik kuliner dan mencicipi kuliner merupakan salah satu bentuk pembelajaran otentik yang bermakna.Tujuan penelitian adalah 1) mendeskripsikan hasil praktik kuliner Indonesia; 2) memberikan penilaian pemelajar terhadap materi kuliner dengan peningkatan pengetahuan dan keterampilan berbahasa; 3) memberikan saran pemelajar untuk materi ajar kuliner. Metode penelitian kualitatif dan kuantitatif. Teknik pengumpulan data melalui kuesioner, pengamatan, dan wawancara. Pengamatan dan wawancara dilakukan saat praktik kuliner dan saat materi kuliner di kelas, sedangkan kuesioner disebarkan setelah kursus berakhir. Responden mahasiswa KNB sebanyak 10 orang. Penelitian dilaksanakan di IPB pada Desember 2018-Januari 2019. Hasilnya, dengan adanya praktik kuliner, mereka dapat menceritakan pengalamannya. Pada pencicipan kuliner, mereka mengungkapkan hal yang ada dalam pikirannya. Simpulannya adalah pengenalan dan praktik kuliner Indonesia mampu menambah pengetahuan dan meningkatkan keterampilan berbahasa pemelajar.
Indeks penulis 48 NFN Widyaparwa
Widyaparwa Vol 48, No 2 (2020)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (83.325 KB)

Abstract

MEMBACA JATISABA: MENELISIK MEMORI, TRAUMA, DAN JALAN PULANG Ahmad Zamzuri
Widyaparwa Vol 48, No 2 (2020)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (195.093 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v48i2.629

Abstract

This study aims to describe the construction of memory and trauma in Ramayda Akmal’s Jatisaba using memory and trauma perspectives. This research went through four stages. Those are determining the material (source of data) and the formal object of the research, collecting data, analyzing data, and conclusions. Ramayda Akmal’s Jatisaba is the source of data. Meanwhile, memory and trauma are determined as the formal object of research. In collecting data, an intensive reading process is the next step for understanding the elements of the story. Then classifying words, phrases, sentences, and paragraphs based on the concepts of a traumatic event, loss, and melancholy. All the data were analyzed through memory and trauma concepts. The results of the analysis show that, first, the memory constructed in the Jatisaba is related to traumatic memories triggered by a sense of homelessness and traumatic events when Mae became a migrant worker. Second, Mae becomes a traumatic subject (melancholia). Third, Gao becomes a reconstruction of “undeniably home” for Mae’s soul. Fourth, the reconstruction of memory in Jatisaba is an effort to complement the author's longing for a homeland.Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan konstruksi memori dan trauma dalam Jatisaba karya Ramayda Akmal dengan menggunakan perspektif memori dan trauma. Penelitian ini melalui empat tahapan, antara lain penentuan objek material (sumber data) dan objek formal penelitian, pengumpulan data, analisis data, dan simpulan. Novel Jatisaba karya Ramayda Akmal adalah objek material (sumber data). Sedangkan memori dan trauma merupakan objek formal penelitian. Dalam pengumpulan data, proses membaca intensif merupakan langkah selanjutnya untuk memahami unsur-unsur cerita. Kemudian, pengklasifikasian kata, frasa, kalimat, dan paragraf berdasarkan konsep peristiwa traumatis (traumatic event), kehilangan, dan melankolis. Data dianalisis melalui konsep memori dan trauma. Hasil analisis menunjukkan bahwa, pertama, memori pada novel Jatisaba berkaitan dengan memori traumatis yang dipicu oleh rasa kehilangan dan peristiwa traumatis saat Mae menjadi buruh migran. Kedua, Mae merupakan subjek traumatis (melankolia). Ketiga, Gao merupakan rekonstruksi “rumah” bagi jiwa Mae. Keempat, rekonstruksi memori pada novel Jatisaba sebenarnya merupakan upaya pulang pengarang untuk melengkapi kerinduan pada kampung halaman.
INTERTEKSTUALITAS SAJAK “KAMPUNG” DAN CERPEN “DILARANG MENYANYI DI KAMAR MANDI” DALAM PERSPEKTIF POSMODERNISME Suyono Suyatno; Dina Amalia Susamto
Widyaparwa Vol 48, No 2 (2020)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (222.753 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v48i2.429

Abstract

This study aims to discover the intertextuality of the poem "Kampung" by Subagio Sastrowardojo and the short story "Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi" by Seno Gumira Ajidarma. The problem discussed is the realization of the short story text of "Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi" as a postmodernist work seen in its aesthetic tool. The theoretical framework applied in this paper is intertextuality and postmodernism, while the method used is a qualitative method with a hermeneutic approach. The result of this study shows that "Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi" in fact substantially confirms the hypnogram,  the problem of the individual conflict with the social environment. However, in a postmodernist style "Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi" demonstrates resistance to the former aesthetics or its hypogram and utilizes intertextuality by means of pastiche, kitsch, schizophrenia, and parody to express the poetic. In addition, the short story has also shifted the perspective differently than its hypogram by displaying the female protagonist as a victim of gender bias thus, it  has a feminist atmosphere, while the hypogram represents lyrical characters identical to men. The last point is appropriate with the postmodernist obsession to voice the minorities and oppressed, including those who are marginalized.Penelitian ini bertujuan mengungkap intertekstualitas sajak “Kampung” karya Subagio Sastrowardojo dan cerpen “Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi” karya Seno Gumira Ajidarma. Masalah yang dibahas ialah bagaimana cerpen “Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi” sebagai cerpen posmodernis merealisasikan intertekstualitas sebagai puitika/sarana estetika posmodernis? Teori yang digunakan dalam penelitian ini ialah teori intertekstualitas dan posmodernisme. Metode yang digunakan ialah metode kualitatif dengan pendekatan hermeneutik. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa cerpen “Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi”, dari sisi substansi mengukuhkan hipogramnya, yakni masalah konflik individu dengan lingkungan sosialnya. Namun, sebagai cerpen posmodernis, “Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi” melakukan “perlawanan” terhadap estetika hipogramnya dan memanfaatkan intertekstualitas dengan sarana pastiche, kitsch, skizofrenia, dan parodi untuk mewujudkan puitikanya. Selain itu, cerpen tersebut juga telah melakukan pergeseran perspektif terhadap hipogramnya dengan menampilkan protagonis perempuan sebagai seorang korban bias gender sehingga cerpen ini beratmosfer feminis, sementara hipogramnya merepresentasikan tokoh lirik yang identik dengan laki-laki.  Hal terakhir ini sejalan dengan obsesi kaum posmodernis untuk menyuarakan pembelaan terhadap kaum minoritas dan tertindas, termasuk mereka yang tersisih secara gender.
MODEL KESANTUNAN BERBAHASA SISWA TIONGHOA DI SEKOLAH PAH TSUNG JAKARTA: KAJIAN ETNOGRAFI KOMUNIKASI Muhammad Yusuf Saputro; Wini Tarmini; Ade Hikmat
Widyaparwa Vol 48, No 2 (2020)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (277.517 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v48i2.646

Abstract

This research is aimed to know and describe further detail about how the politeness in the language of Chinese students at Pah Tsung School Jakarta, by looking at the forms of politeness used by Chinese students in speaking. The research approach used was a qualitative approach with an ethnographic study of communication methods. The researcher collected research data using literature/documentation methods, records, interviews, direct observation, and FGD with language and language politeness experts. Then, the data were analyzed using the content analysis method equipped with analysis tables. The data of this research are in the form of students’ and teachers’ speeches both written and oral. According to that, it was discovered that ten forms of politenesses of Leech (2014) were implemented, namely generosity maxim of 5.3%, tact maxim of 12.4%, approbation maxim of 6.2%, modesty maxim of 0.9%, obligation S to O maxim of 18.6%, obligation O to S maxim of 8,8%, agreement maxim of 19,5%, opinion reticence maxim of 20,4%, sympathy maxim of 5,3%, and feeling reticence maxim of 2,7%. Based on these results, the forms of Chinese students’ politeness language at Pah Tsung School are dominated by the opinion reticence maxim, the agreement maxim, and the obligation S to O maxim. The lingual forms in speaking also have unique characteristics in each maxim.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan secara mendalam model kesantunan berbahasa siswa Tionghoa di Sekolah Pah Tsung Jakarta dengan melihat wujud-wujud kesantunan berbahasa yang dipergunakan siswa Tionghoa dalam bertutur. Pendekatan penelitian yang digunakan yakni pendekatan kualitatif dengan metode etnografi komunikasi. Peneliti mengumpulkan data penelitian dengan metode pustaka/dokumentasi, rekam, wawancara, observasi langsung, dan FGD dengan pakar bahasa dan kesantunan berbahasa. Pengolahan data menggunakan metode analisis isi yang dilengkapi dengan tabel analisis. Data penelitian ini berupa tuturan siswa dan guru, baik secara lisan maupun tulis. Pada tuturan tersebut, diperoleh hasil sebagai berikut: penerapan wujud dari sepuluh kesantunan Leech (2014), yaitu generosity maxim 5,3%, tact maxim 12,4%, approbation maxim 6,2%, modesty maxim 0,9%, obligation S to O maxim 18,6%, obligation O to S maxim 8,8%, agreement maxim 19,5%, opinion reticence maxim 20,4%, sympathy maxim 5,3%, dan  feeling reticence maxim 2,7%. Berdasarkan hasil tersebut model kesantunan berbahasa siswa Tionghoa di Sekolah Pah Tsung didominasi oleh opinion reticence maxim, agreement maxim, dan obligation S to O maxim. Penanda lingual yang digunakan dalam petuturan pun memiliki karakteristik yang khas pada setiap maksimnya.
KESESUAIAN BAHAN BACAAN LITERASI EMERGEN DENGAN PEMBACA SASARAN Umar Sidik
Widyaparwa Vol 48, No 2 (2020)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (310.76 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v48i2.609

Abstract

The problem of this study departs from a lot of reading material that is suspected to be incompatible with the target audience (emergent literacy). Readings that are labeled for pre-reading, but the content does not suit the target audience. In this connection, the purpose of this study is to find the incongruity of reading material with the target audience for emergency literacy based on reading gap standards. This study refers to the standardization of non-text reading material set by the Ministry of Education and Culture (2018). The data source is determined by purposive sampling technique. Data collection is done by listening, reading, and note / record techniques. The analysis is carried out by means of interpreting and interpreting the data to obtain inference in accordance with the research objectives. The results showed that the literacy reading materials emegen circulating in the majority of the community did not match (match) with the target reader (emergency literacy). Many readings put forward or give priority to the message content of the narrative story. Pictures / illustrations are more oriented to support the narrative of the story. There is almost no process of introducing the beginning of writing, from the alphabetical or phonological as early as learning literacy literacy.Permasalahan penelitian ini berangkat dari banyak bahan bacaan yang ditengarai tidak sesuai dengan pembaca sasaran (literasi emergen). Bacaan yang dilabeli untuk pramembaca, tetapi isinya tidak sesuai dengan pembaca sasarannya. Sehubungan dengan itu, tujuan penelitian ini ialah untuk menemukan ketidaksesuaian bahan bacaan dengan pembaca sasaran literasi emergen berdasarkan standar penjenjangan bacaan. Penelitian ini mengacu pada standar penjenjangan bahan bacaan nonteks yang ditetapkan oleh Kemendikbud (2018). Sumber data ditentukan dengan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik simak, baca, dan catat/rekam. Analisis dilakukan dengan cara penginterpretasian dan pemaknaan data untuk memperoleh inferensi sesuai dengan tujuan penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahan bacaan literasi emergen yang beredar di masyarakat mayoritas tidak sesuai (matching) dengan pembaca sasarannya (literasi emergen). Banyak bacaan yang mengedepankan atau mengutamakan pesan isi dari narasi cerita. Gambar/ilustrasi lebih diorientasikan untuk mendukung narasi cerita. Hampir tidak ada proses pengenalan awal terhadap tulisan, dari alfabetik atau fonologis sebagi awal membelajarkan literasi baca-tulis.

Page 1 of 2 | Total Record : 17