cover
Contact Name
Mulyanto
Contact Email
widyaparwa@gmail.com
Phone
+6281243805661
Journal Mail Official
widyaparwa@gmail.com
Editorial Address
https://widyaparwa.kemdikbud.go.id/index.php/widyaparwa/about/editorialTeam
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Widyaparwa
Jurnal Widyaparwa memublikasi artikel hasil penelitian, juga gagasan ilmiah penelitian (prapenelitian) yang terkait dengan isu-isu di bidang kebahasaan dan kesastraan Indonesia dan daerah.
Articles 21 Documents
Search results for , issue "Vol 51, No 2 (2023)" : 21 Documents clear
TOKOH PANAKAWAN SEBAGAI SARANA PEMBANGUN WACANA KRITIK SOSIAL PADA PERTUNJUKAN WAYANG KULIT DI MEDIA YOUTUBE Prakoso, Imam
Widyaparwa Vol 51, No 2 (2023)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/wdprw.v51i2.1179

Abstract

The presence of panakawan in the shadow puppet show with its own dynamics. Now they are no longer limited as complementary instruments in the dramatic structure of wayang performances. Panakawan is now also interpreted as a reformer in wayang presentation, such as the use of characters who are naive, witty, and sometimes talk as they are. The identification of his figure which is interpreted as a small people also provides a new color for the development of wayang kulit performances. This study discusses the discourse of social criticism that is built from the language style of the panakawan figures. The style of language that is seen is from the use of figure of speech, the strategy of sentence structure, and the selection of diction. The results of this study indicate that there is social criticism that discusses problems in the realm of development, education, law, dirty political behavior of public officials, culture, and morals. The criticism is conveyed both explicitly and implicitly through the use of figure of speech, scrutinizing sentence structure, and choice of diction. All these criticisms were conveyed by panakawan who were represented as small people against other figures such as kings or gods who were represented as leaders or public officials.Kehadiran panakawan di dalam pertunjukan wayang kulit diwarnai dengan dinamikanya tersendiri. Kini mereka tidak lagi sebatas instrumen pelengkap di dalam struktur dramatik pertunjukan wayang. Panakawan kini juga dimaknai sebagai sosok pembaharu dalam sajian wayang, seperti pe-manfaatan karakter yang lugu, jenaka, dan terkadang berbicara apa adanya. Identifikasi terhadap sosoknya yang dimaknai sebagai rakyat kecil juga memberikan warna baru bagi perkembangan pertunjukan wayang kulit. Penelitian ini membahas tentang wacana kritik sosial yang dibangun dari gaya bahasa pada tokoh panakawan. Adapun gaya bahasa yang dilihat yaitu dari pemanfaatan majas, penyiasatan struktur kalimat, serta pemilihan diksi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat kritik sosial yang membahas permasalahan dalam ranah pembangunan, pendidikan, hukum, perilaku politik kotor para pejabat publik, budaya, serta moral. Kritik tersebut disampaikan baik secara eksplisit maupun implisit melalui pemanfaatan majas, penyiasatan struktur kalimat, serta pilihan diksi. Seluruh kritik tersebut disampaikan oleh panakawan yang direpresentasikan sebagai rakyat kecil terhadap tokoh lain, seperti raja atau dewa yang direpresentasikan sebagai pe-mimpin atau pejabat publik.
PARALELISME TOKOH RASUS DAN PAMBUDI DALAM DUA KARYA AHMAD TOHARI RONGGENG DUKUH PARUK DAN DI KAKI BUKIT CIBALAK Nirmalawati, Widya; Fauzan, Akhmad; Khristianto, NFN
Widyaparwa Vol 51, No 2 (2023)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/wdprw.v51i2.1135

Abstract

 This study aims to describe the parallelism of the male characters Rasus in the novel Ronggeng Dukuh Paruk and Pambudi in the novel Di Kaki Bukit Cibalak by Ahmad Tohari. The method used in this research is textual research, which uses text in the novel to understand and interpret the text to connect the text to a broader social, political, and cultural. The results of the study, both male characters, Rasus and Pambudi, moved from a traditional environment to a more modern one, namely the city. Mobility became the driving force for transformation into a new individual. However, each of the stories' male protagonists' indecisiveness turns out to be a weakness. Rasus struggles with his "love" for Srinthil and his "longing" for Biyung. Pambudi was hesitant to alter Sanis and Mulyani. Indecisiveness serves as a framework for the two protagonists as well as an implicit call to action for readers (males) to dare to make choices and dare to leave their community in order to forge themselves into tough individuals.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis paralelisme tokoh Rasus dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk dan Pambudi dalam novel Di Kaki Bukit Cibalak karya Ahmad Tohari. Untuk mengungkap pola paralelisme  dalam kedua novel penelitian ini digunakan teori strukturalisme dari Levi Strauss. Metode yang digunakan adalah penelitian tekstual yaitu menggunakan data teks dalam novel untuk memahami dan memaknai teks dengan konteks sosial dan budaya yang melingkupinya. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa kedua tokoh, Rasus dan Pambudi, melakukan mobilitas dari lingkungan tradisional desa ke kancah yang lebih modern yaitu kota. Mobilitas menjadi motor penggerak untuk bertransformasi menjadi pribadi yang baru. Meskipun demikian, “kegamangan” menjadi tema dari dua tokoh laki-laki dalam kedua cerita tersebut. Rasus memiliki kegamangan dalam menghadapi “cinta” pada Srintil dan “kerinduan” pada Biyung. Sementara Pambudi gamang untuk menyunting Sanis dan Mulyani. Kegamangan menjadi bingkai bagi kedua tokoh sekaligus menjadi pesan tersirat bagi pembaca (laki-laki) supaya berani mengambil keputusan dan berani keluar meninggalkan komunitasnya dalam rangka menempa diri menjadi tangguh.
KEHADIRAN MOTIF CERITA MADAME BOVARY (1856) KARYA GUSTAVE FLAUBERT DALAM HIKAYAT SITI MARIAH (1910--1912) KARYA HADJI MOEKTI: KAJIAN SASTRA BANDINGAN Susanto, Dwi
Widyaparwa Vol 51, No 2 (2023)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/wdprw.v51i2.1133

Abstract

The presence of Madame Bovary's story motif (1856) in Indonesian literature, especially Hikayat Siti Mariah (1910--1912) provides evidence that there is a reception of similar between French and Dutch colonial or Indonesian. This paper aims to (1) find out the ideas of the two texts in displaying similar story motif, (2) the form of respons from Madame Bovary (1856) in the Hikayat Siti Mariah (1910--1912), and (3) the significance of Madame Bovary's presence (1856) in the Hikayat Siti Mariah (1910--1912) as a social response. This paper uses a comparative literary point of view by considering the social context as a response. The objects are Madame Bovary (1856) by Gustave Flaubert and Hikayat Siti Mariah (1910--1912) by Hadji Moekti and the significance of the presence of Madame Bovary in Indonesian literature. The research data consists of the content or ideas of the two texts, the spirit of age, and the social context. Data interpretation is done by comparing the content or ideas of the two texts by considering the social context of each text. The results obtained are (1) the two texts present ideas against the bourgeois class resistance by using symbols of women and sexuality, (2) the Hikayat Siti Mariah (1910--1912) takes the motive of the story to attack the Dutch capitalists and liberal groups who construct the identities of the colonized subjects, and (3) the presence of the text of Madame Bovary (1856) in Indonesian literature shows a global anti-colonial spirit. Kehadiran motif cerita Madame Bovary (1856) dalam sastra Indonesia terutama Hikayat Siti Mariah (1910--1912) memberikan bukti terdapat resepsi atas semangat dan persoalan yang serupa antara masyarakat Prancis dan tanah jajahan Belanda atau Indonesia. Tulisan ini bertujuan untuk (1) mengetahui gagasan kedua teks tersebut dalam menampilkan motif cerita yang serupa, (2) mengetahui wujud sambutan dari Madame Bovary (1856) dalam teks Hikayat Siti Mariah (1910--1912), dan (3) mengetahui makna kehadiran Madame Bovary (1856) dalam teks Hikayat Siti Mariah (1910--1912) sebagai satu respon sosial. Tulisan ini mengunakan sudut pandang sastra bandingan dengan mempertimbangkan konteks sosial sebagai satu respon. Objek tulisan ini adalah Madame Bovary (1856) karya Gustave Flaubert dan Hikayat Siti Mariah (1910--1912) karya Hadji Moekti dan  makna kehadiran teks Madame Bovary dalam sastra Indonesia. Data penelitian ini terdiri atas isi atau gagasan dari kedua teks, semangat zaman, dan konteks sosial. Interpretasi data dilakukan dengan membandingkan isi atau gagasan kedua teks dengan mempertimbangkan konteks sosial masing-masing teks. Hasil yang diperoleh adalah (1) kedua teks menghadirkan gagasan terhadap perlawanan kelas borjuis dengan memanfaatkan simbol perempuan dan seksualitas, (2) teks Hikayat Siti Mariah (1910--1912) mengambil motif cerita untuk menyerang kaum kapitalis dan golongan liberal Belanda yang mengkonstruksi identitas  subjek terjajah, dan (3) kehadiran teks Madame Bovary (1856) dalam sastra Indonesia menunjukan semangat anti penjajahan yang mengglobal terutama kolonialisme. 
FENOMENA SOSIAL DALAM LAGU-LAGU KARYA NURBAYAN: ANALISIS WACANA KRITIS TEUN A. VAN DIJK Saragupita, Angela Tanjung; Triyono, Sulis
Widyaparwa Vol 51, No 2 (2023)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/wdprw.v51i2.1404

Abstract

Nurbayan's songs, such as Mangku Purel, Oplosan, Pokoke Joget, and Doremi, contain an education for the listeners. This research aims to reveal the meaning of the four songs that Nurbayan wanted to convey as the song's creator, based on library studies to deepen lyrics with qualitative descriptive methods through critical discourse analysis approaches from Teun A. van Dijk's theory. The research studies the analysis of text dimensions, which consists of macro (thematic), superstructure (schematic), and micro-structure (semantic, syntactical, stylistic, and rhetorical), social cognitive analysis, and social context analysis. The lyrics are obtained from the YouTube platform of the DC. Production channel. The data analysis, lyrics from four songs are read and associated with each component of Teun A. van Dijk's critical discourse analysis theory. The results of this research explain that the four songs of Nurbayan's creation are seen from the macro (thematic) structure to the social phenomena of night entertainment, alcohol, to gambling. Then from the microstructure there is a special explanation related to the semantics, syntax, stylistics, and rhetorical lyrics of the song. The social cognitive analysis of the lyrics of the four songs explains how Nurbayan as the song's creator provides a comedy-packed education so as not to offend any party. In terms of the social context, Nurbayan wants to illustrate how such negative and controversial actions have no benefit for mankind. Nurbayan invited through his song to self-awareness and to do positive activities for the good of the personal and also the wider community. Lagu-lagu berbahasa Jawa ciptaan Nurbayan seperti Mangku Purel, Oplosan, Pokoke Joget, dan Doremi sekilas dipandang sebagai lagu yang tidak ada artinya. Namun ternyata di dalamnya mengandung nasihat-nasihat yang mengedukasi para pendengarnya. Tujuan dari penelitian ini adalah mengungkap makna dari empat lagu yang ingin disampaikan oleh Nurbayan sebagai pencipta lagu. Penelitian ini berbasis studi kepustakaan untuk mendalami lirik dengan metode deskriptif kualitatif melalui pendekatan analisis wacana kritis dari teori Teun A. van Dijk. Penelitian mengkaji dimensi teks, yang terdiri atas struktur makro (tematik), superstruktur (skematik), dan struktur mikro (semantik, sintaksis, stilistik, dan retoris), analisis kognisi sosial, serta analisis konteks sosial. Pengumpulan data terkait lirik lagu didapat dari platform Youtube dari saluran DC. Production. Pada tahap analisis data, lirik dari empat lagu dibaca dan dikaitkan dengan setiap komponen teori analisis wacana kritis Teun A. van Dijk. Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa empat lagu ciptaan Nurbayan dilihat dari struktur makro (tematik) menceritakan fenomena sosial hiburan malam, alkohol, hingga judi. Kemudian struktur mikro terdapat penjelasan khusus terkait semantik, sintaksis, stilistik, dan retoris lirik lagu tersebut. Analisis kognisi sosial pada lirik empat lagu tersebut menjelaskan bagaimana Nurbayan sebagai pencipta lagu memberikan edukasi yang dikemas secara komedi agar tidak menyinggung pihak mana pun. Pada segi konteks sosial, Nurbayan ingin mencitrakan bagaimana tindakan negatif dan kontroversial tersebut dapat menyesatkan diri dan tidak memiliki manfaat bagi manusia. Nurbayan mengajak melalui lagunya untuk sadar diri dan melakukan kegiatan positif demi kebaikan pribadi dan juga masyarakat luas.
TIPOLOGI KLAUSA RELATIF BAHASA JAWA RAGAM KRAMA DIALEK SURAKARTA Azizah, Nurul
Widyaparwa Vol 51, No 2 (2023)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/wdprw.v51i2.1350

Abstract

This study reveals the typology of relative clauses of the Javanese language variety of Surakarta dialect in terms of the theory of relative clauses of Keenan & Comrie (1977). This type of research is descriptive qualitative with three stages of research, namely data collection, data analysis, and presentation of the results of data analysis. Data collection was carried out using an introspective method based on the researcher's knowledge as a Javanese native speaker. Data analysis uses the distribution method. Presentation of data analysis using informal methods. The theory used is the theory of grammatical relations, namely the relative clause (Keenan & Comrie, 1977). The results of this research show that the Javanese krama (BJK) corresponds to the universality of the relative clauses of Keenan & Comrie (1977) which classifies Javanese as a relative subject language (SU). If in a language there is only one relative constituent, that constituent is the subject. This statement is also in accordance with BJK which can only relativize SU. As for relativization in a non-subject position, it is achieved passively. This study investigated the relativization of beneficial, locative, instrumental, and patient SU. Based on the study, the results show that each SU has implications for the presence/absence of dipun words and affixes –aken or –ake. Relation with actors I, II, III also has its own characteristics, especially in relation to the presence of the word dipun and affixes –aken or –ake.Penelitian ini mengungkap tipologi klausa relatif bahasa Jawa ragam krama dialek Surakarta ditinjau dari teori klausa relatif Keenan & Comrie (1977). Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan tiga tahap penelitian, yakni pengumpulan data, analisis data, dan penyajian hasil analisis data. Pengumpulan data dilakukan dengan metode introspektif berdasarkan pengetahuan peneliti sebagai penutur jati bahasa Jawa. Analisis data menggunakan metode distribusional atau disebut juga dengan metode agih. Penyajian hasil analisis data menggunakan metode informal. Teori yang digunakan adalah teori grammatical relations, yakni relative clause (Keenan & Comrie, 1977). Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahasa Jawa krama (BJK) sesuai dengan keuniversalan klausa relatif Keenan & Comrie (1977) yang mengelompokkan bahasa Jawa sebagai bahasa perelatif subjek (SU). Jika dalam sebuah bahasa hanya terdapat satu konstituen yang direlatifkan, konstituen tersebut adalah subjek. Pernyataan itu sesuai juga dengan BJK yang hanya dapat merelatifkan SU. Adapun perelatifan pada posisi non-subjek ditempuh dengan pemasifan. Penelitian ini mengamati perelatifan SU benefaktif, lokatif, instrumental, dan pasien. Berdasarkan kajian, diperoleh hasil bahwa masing-masing SU berimplikasi pada hadir/tidaknya kata dipun dan afiks –aken atau –ake. Perelatifan dengan aktor I, II, III juga memiliki karakteristik tersendiri terutama dalam kaitannya dengan kehadiran kata dipun dan afiks –aken atau –ake.
SYMPTOMS AND HEALING PRINCIPLES OF PTSD DEPICTED IN THE MOVIE “REDEEMING LOVE” Murtasia, Siti; Novitasari, Nine Febrie; Firdaus, Ahmad Yusuf
Widyaparwa Vol 51, No 2 (2023)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/wdprw.v51i2.1359

Abstract

Nowadays, many psychological cases have occurred in Indonesia and are spread out almost every day on social media such as sexual abuse, rape, and sexual harassment. Those make people aware and put a concern about their trauma-related issues. People who suffer traumatic events in long-term memory are called experiencing Post Traumatic Stress Disorder (PTSD). Analyzing people with PTSD in movies is one example of how to get familiarized with the symptoms and how to cure PTSD, as we know that as a literary work, movies represent human’s life. This descriptive research studied the symptoms and healing principles undergone by Angel in the movie “Redeeming Love” (2022). The data analysis was done by referring to Kring et. al’s theory (2012) to analyze the symptoms of PTSD and Schiraldi’s (2009) theory to analyze the healing principles of PTSD. The result of this research reveals that the symptoms occurring are intrusive, avoidance, negative mood changes, and arousal. Angel managed the symptoms through some healing principles, they are: manage symptoms, integrated memories, confronting avoidance, feeling safety, intact boundaries, and acceptance feeling. Saat ini, banyak kasus psikologis-traumatis yang terjadi di Indonesia yang tersebar hampir setiap hari di media sosial seperti pelecehan seksual, dan pemerkosaan. Dari peristiwa tersebut, manusia mulai waspada dan peduli tentang hal-hal yang berkaitan dengan trauma. Orang yang mengalami kejadian traumatis dalam ingatan jangka panjang disebut mengalami Post Traumatic Stress Disorder (PTSD). Mempelajari orang dengan PTSD dalam film adalah salah stau cara untuk mengetahui lebih dekat bagaimana gejala dan cara penyembuhannya karena kita tahu bahwa sebagai suatu bentuk karya sastra, film merepresentasikan kehidupan manusia. Penelitian deskriptif ini menganalisis gejala dan prinsip penyembuhan PTSD oleh Angel dalam film Redeeming Love (2022). Proses analisis data yang dilakukan mengacu pada teori Kring dkk (2012) tentang gejala PTSD dan teori Schiraldi (2009) tentang prinsip penyembuhan PTSD. Dari penelitian ini ditemukan bahwa gejala PTSD yang muncul pada Angel adalah intrusive, penghindaran, perubahan mood dan kognisi negatif, dan arousal. Angel menyembuhkan gejala PTSD yang dialaminya dengan beberapa prinsip penyembuhan yaitu mengelola gejala, menyatukan ingatan, menghadapi penghindaran, merasakan kemananan, batasan yang utuh, dan perasaan menerima.
KEMANFAATAN DAN MAKNA KOSAKATA JAWA KUNO/SANSKERTA DI RUANG PUBLIK Nardiati, Sri; Riani, NFN
Widyaparwa Vol 51, No 2 (2023)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/wdprw.v51i2.1338

Abstract

Currently, the Javanese Kuno or Sanskrit language has been used to name several government buildings in the Special Region of Yogyakarta. However, the vocabulary is no longer used in daily communication because it is pressed by the use of Javanese, Indonesian, and foreign languages. In fact, the Kuno Javanese language is a cultural heritage that needs to be preserved. For this reason, this study aims to describe the categories, structure, and meaning of Javanese Kuno vocabulary as the name of an institution or institution in DIY. Research data in the form of names of institution/ institutions in the DIY area. Data is collected by photographing and then transliterated. Structural theory with its qualitative approach, distribution method, and technique for direct elements (BUL) is used to analyze data. Based on the results of the analysis, it is known that all names of institutions with elements of classical vocabulary (Javanese, Kuno, and Sanskrit) are categorized as nominal phrases. Elements that are positioned on the far left have the status of being explained, elements that are in the order on the right have the status of explaining, for example Grha Wana Bhakti Yasa. Names in public spaces that use classical vocabulary add at least two elements, such as Sabha Pramana, while the most complex number six elements, such as Kunda Niti Mandala and Tata Sasana. There are three elemental meaning relationships, namely the function meaning relationship, the hope meaning relationship, and the identity meaning relationship. The results of this study can be used as material for determining self-naming policies, implementing conservation, and revitalizing the Kuno Javanese language.Saat ini bahasa Jawa Kuno atau Sanskerta telah dimanfaatkan untuk menamai beberapa gedung pemerintahan di Daerah Istimewa Yogyakarta. Namun, kosakata tersebut tidak lagi digunakan dalam komunikasi sehari-hari karena terdesak oleh penggunaan bahasa Jawa, bahasa Indonesia, dan bahasa asing. Padahal, bahasa Jawa Kuno merupakan warisan budaya yang perlu dilestarikan. Untuk itu, penelitian ini bertujuan mendeskripsikan kategori, struktur, unsur, dan hubungan makna antarunsur  kosakata Jawa Kuno sebagai nama Lembaga atau institusi  di DIY. Data penelitian berupa nama-nama lembaga/institusi di wilayah DIY. Data dikumpulkan dengan cara difoto kemudian ditransliterasikan. Teori struktural dengan pendekatan kualitatif, metode agih, dan teknik bagi unsur langsung (BUL) digunakan untuk menganalisis data. Berdasarkan hasil analisis diketahui bahwa semua nama lembaga yang berunsur kosakata klasik (bahasa Jawa Kuno dan Sanskerta) berkategori frasa nominal. Unsur yang berposisi di urutan paling kiri berstatus diterangkan, unsur yang berada di urutan sebelah kanan berstatus menerangkan, misalnya Grha Wana Bhakti Yasa. Nama di ruang publik yang menggunakan kosakata klasik sekurang-kurangnya berjumlah dua unsur, misalnya Sabha Pramana, sedangkan yang paling kompleks berjumlah enam unsur, misalnya Kunda Niti Mandala sarta Tata Sasana. Hubungan makna unsurnya ada tiga, yaitu hubungan makna fungsi, hubungan makna harapan, dan hubungan makna identitas. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan penentuan kebijakan pemberian nama diri, pelaksanaan konservasi, dan revitalisasi bahasa Jawa Kuno.
JAVENGLISH (WHEN JAVANESE SPEAK ENGLISH WITH A JAVANESE ACCENT): AN ANALYSIS OF SOCIAL MEDIA POSTS Fitria, Tira Nur
Widyaparwa Vol 51, No 2 (2023)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/wdprw.v51i2.1189

Abstract

An accent is a way of pronouncing something unique in a particular language, and specific to a country, region, or social class. Recently, the 'Javanese accent' trend has been buzzing on social media. The viral Java accent began when a content creator from Surabaya, East Java, made a video that featured Javanese accents in several words. This research investigates the phenomenon of Javenglish which occurs when Javanese people speak English with a Javanese accent in Instagram Reels @natkenira. This research employs a descriptive qualitative approach. The analysis shows that 60 English words from 7 Reels videos are pronounced with a Javanese accent. Indonesian speakers of English can be influenced by the accent/dialect of their mother tongue when speaking English. This causes variations of letter sounds, both consonants and vowels. Javanese style in speaking English is sometimes related to the “medok” accent as the most recognizable characteristic of the Javanese language. This character may be difficult to remove because of genetic inheritance. An accent is a characteristic form distinctive by pronunciation, style, and features of a certain language often linked with certain social groups, usually, people hope members and groups of this social language use style or speech characteristics. There are 60 words with Javenglish pronunciation in the social media content of Instagram Reels @natkenira. Similar research is still possible to conduct and can provide input for this research. In further research, the number of research subjects can be added to get maximum results. Baru-baru ini, tren 'aksen Jawa' sedang ramai di media sosial. Awal mula viralnya aksen Jawa adalah ketika seorang content creator asal Surabaya, Jawa Timur membuat video yang menampilkan aksen Jawa dalam beberapa kata. Penelitian ini menyelidiki fenomena Javenglish (ketika orang Jawa berbicara bahasa Inggris dengan Aksen Jawa) di Reels Instagram @natkenira. Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif. Analisis menunjukkan bahwa 60 kata bahasa Inggris dari 7 video Reels diucapkan dengan aksen Jawa. Penutur bahasa Inggris Indonesia dapat dipengaruhi oleh aksen/dialek bahasa ibu mereka dalam berbicara bahasa Inggris. Hal ini menyebabkan variasi bunyi huruf baik konsonan maupun vokal. Gaya bahasa Jawa dalam berbicara bahasa Inggris terkadang dikaitkan dengan aksen “medok” sebagai ciri khas bahasa Jawa yang paling mudah dikenali. Karakter ini mungkin sulit dihilangkan karena pewarisan genetik. Aksen adalah suatu bentuk ciri yang khas melalui pelafalan, gaya, dan ciri-ciri bahasa tertentu yang sering dikaitkan dengan kelompok kelompok sosial tertentu, biasanya orang berharap anggota dan kelompok sosial ini menggunakan gaya atau ciri tutur. Aksen sebagai cara mengucapkan sesuatu yang unik dalam bahasa tertentu, dan khusus untuk suatu negara, wilayah, atau kelas sosial. Terdapat 60 kata yang mengandung Javenglish di media sosial Reels Instagram @natkenira. Penelitian serupa masih dimungkinkan untuk menambah dan memberikan masukan bagi penelitian ini. Pada penelitian selanjutnya, jumlah subjek penelitian dapat ditambah untuk mendapatkan hasil yang maksimal.
NOSTALGIA, JATI DIRI, DAN SIMBOL SAKRAL EMPAT PUISI PADI DALAM PERSPEKTIF EKOKRITIK Dewi, Novita
Widyaparwa Vol 51, No 2 (2023)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/wdprw.v51i2.1157

Abstract

 This qualitative-interpretative research aims to uncover the imagination and meaning of rice in four poems from Southeast and East Asian countries: Vietnam, Singapore, Indonesia, and Korea. Rice is an essential part of Asian culture. It has become a significant and spiritual symbol for the people in this region, serving as more than simply a basic meal. The study seeks to investigate whether the cultural and spiritual values of rice have resonance and dynamics with the current world concerns, such as the deterioration of social life and the devastation of the natural environment. The data in the form of words from the following poems, i.e., “The Poem I Can’t Yet Name” by Nguyễn Phan Quế Mai, Eileen Chong’s “Burning Rice”, “Padi yang Tak Berputik” by Ni Wayan Kristina, and “Spoonful of Rice” by Hi-Dong Chai are procured from both printed and internet sources. The analysis is carried out using techniques that are commonly employed in poetry analysis, i.e., reading, inferring, and interpreting. Insights from ecocritical perspectives are also taken into account in the analysis. The results showed that (1) Locality colored each poem in accordance with the different backgrounds of the poets; (2) Rice emerges as nostalgia, identity, and a symbol of sacred culture. Even if it may be diminished with time, modernity, and environmental damage, the varied imaginations and meaning-making of rice are still treasured here.Penelitian kualitatif-interpretatif ini bertujuan menguak imajinasi dan makna padi dalam puisi dari empat negara di Asia Tenggara dan Asia Timur, yakni Vietnam, Singapura, Indonesia, dan Korea. Padi menjadi bagian penting dalam kehidupan bangsa Asia. Lebih dari sekadar sumber makanan pokok, padi menjadi simbol yang hakiki dan suci bagi masyarakat di kawasan ini. Kajian ini hendak melihat apakah nilai-nilai kultural dan spiritual padi relevan dan berdinamika dengan tantangan global saat ini, antara lain rusaknya lingkungan alam dan merosotnya kehidupan sosial. Data penelitian yang dipakai adalah larik-larik puisi berikut yang diambil dari sumber cetak dan internet: “The Poem I Can’t Yet Name” [Puisi Tanpa Nama] karya Nguyễn Phan Quế Mai, “Burning Rice” [Nasi Gosong] oleh Eileen Chong, “Padi yang Tak Berputik” karya Ni Wayan Kristina, dan “Spoonful of Rice” [Sesendok Nasi] karya Hi-Dong Chai. Analisis data dilakukan melalui metode yang lazim dipakai dalam mengkaji puisi, yakni pembacaan, penafsiran, dan pemaknaan. Perspektif teori ekokritik juga dipakai dalam analisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Lokalitas mewarnai setiap puisi sesuai dengan latar belakang masing-masing penyair; (2) Padi direpresentasikan dan dimaknai sebagai nostalgia, identitas, dan penanda kultural yang sakral. Beragam imaginasi dan pemaknaan tentang padi ini tetap dirawat meskipun mungkin melesap bersama waktu, modernitas, dan kerusakan lingkungan.
VOKAL NASAL BAHASA ACEH DALAM KAMUS KEMARITIMAN ACEH-INDONESIA Rusli, Herman; Wildan, NFN; Nuthihar, Rahmad; Mukhlis, NFN
Widyaparwa Vol 51, No 2 (2023)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/wdprw.v51i2.1242

Abstract

 This article discussed the distribution of nasal vowels in the Acehnese language in the Maritime Dictionary of Aceh-Indonesia. The nasal vowels included were /ã/, /ĩ/, /ũ/, /ɛ/̃, /ɔ̃/, /ʌ/̃, and /ɯ̃/. The data source for this research was the Aceh-Indonesia Dictionary, published by the Aceh Provincial Language Center, Ministry of Education and Culture Research and Technology, in 2021. This study employed a phonological approach with the theory of distinctive features. The research detailed the distribution of nasal vowels, including their frequency of occurrence and syllable positions. To achieve high accuracy in terms of nasal vowel occurrence frequency and syllable positions, the data was processed using the Antconc software. The research findings showed that maritime domain nasal vowels in the Acehnese language consisted of noun (n) and verb (v) word classes. There were eight nasal vowels in the noun class and two nasal vowels in the verb class. Among all nasal vowels in the Acehnese language, the vowels /ɛ/, /ɔ̃/, and /ɯ̃/ were not found in the Maritime Dictionary of Aceh-Indonesia. The research results also demonstrated that some nasal vowels were formed due to reduplication and onomatopoeia. In terms of syllable position, Acehnese nasal vowels were only found in the middle and at the end of syllables. Nasal vowels in the initial syllable position of the Acehnese language could not form words related to maritime matters. Consequently, it could be concluded that nasal vowels were not productive in the maritime vocabulary of the Acehnese la-nguage.Artikel ini membahas distribusi vokal nasal bahasa Aceh dalam Kamus Kemaritiman Aceh-Indonesia. Vokal nasal dimaksud meliputi /ã/, /ĩ/, /ũ/, /ɛ/̃, /ɔ̃/, /ʌ/̃, dan /ɯ̃/. Sumber data penelitian ini adalah Kamus Aceh-Indonesia yang diterbitkan oleh Balai Bahasa Provinsi Aceh, Kemdikbudristek, tahun 2021. Penelitian ini menggunakan pendekatan fonologi dengan teori fitur distingtif. Penelitian ini menjabarkan distribusi vokal nasal yang meliputi frekuensi kemunculan vokal nasal dan melihat posisi silabel. Untuk memperoleh hasil keakuratan yang tinggi terkait frekuensi kemunculan vokal nasal dan posisi silabel, data diolah dengan perangkat lunak Antconc. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa vokal nasal bidang kemaritiman dalam bahasa Aceh terdiri atas kelas kata nomina (n) dan verba (v). Terdapat delapan vokal nasal pada kelas nomina dan dua vokal nasal pada kelas verba. Dari semua vokal nasal dalam bahasa Aceh, vokal /ɛ/, /ɔ̃/, dan /ɯ̃/ tidak ditemukan dalam Kamus Kemaritiman Aceh-Indonesia. Hasil penelitian ini juga memperlihatkan bahwa beberapa vokal nasal terbentuk akibat reduplikasi dan onomatope. Ditinjau dari posisi silabel, vokal nasal bahasa Aceh hanya berada di tengah silabel dan di akhir silabel. Vokal nasal pada posisi awal silabel bahasa Aceh tidak dapat membentuk kata yang berkaitan dengan kemaritiman. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa vokal nasal tidak produktif dalam perbendaharaan kosakata bahasa Aceh bidang maritim.

Page 1 of 3 | Total Record : 21