cover
Contact Name
Yopie F. M. Buyung
Contact Email
yopiebuyung@gmail.com
Phone
+6285231318367
Journal Mail Official
saintpaulsreview@gmail.com
Editorial Address
Sekolah Tinggi Teologi Saint Paul Bandung Kampus Jl. Purbasari No.3, Cimahi Kampus 2: Jl. Baranangsiang, Kompleks ITC Kosambi Blok D3, Bandung
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Saint Paul's Review
ISSN : -     EISSN : 27975061     DOI : https://doi.org/10.56194/spr
Saint Pauls Review adalah jurnal ilmiah berkala yang diterbitkan dua kali setahun oleh Bagian Pusat Studi Sekolah Tinggi Teologi Saint Paul Bandung. Jurnal ini mengkaji isu-isu kontemporer yang ada di tengah-tengah masyarakat khususnya kaum milenial yang sedang mengalami perubahan yang begitu cepat demi berkontribusi dalam pelayanan Gereja di negara kesatuan Republik Indonesia. Penulisan dalam jurnal ini lebih berfokus pada bidang Teologi, Konseling, dan beberapa disiplin ilmu terkait seperti Psikologi, Sosial dan Antropologi. Jurnal ini ditulis oleh para teolog Kristen, para dosen dan mahasiswa, para pendeta dan rohaniawan serta orang awam yang menaruh perhatian terhadap pergumulan masyarakat pluralisme dalam gaya penulisan yang dapat dicerna oleh masyarakat Kristen. Saint Pauls Review adalah jurnal open access yang menerbitkan artikel penelitian dalam bidang teologi, misiologi, konseling pastoral, kepemimpinan Kristen, pendidikan Kristen, dan filsafat agama. Kriteria publikasi jurnal ini didasarkan pada standar etika yang tinggi dan kekakuan metodologi dan kesimpulan yang dilaporkan.
Articles 62 Documents
Doa Syafaat Yesus dalam Yohanes 17: Fondasi Teologi Persatuan Gereja Elvin Paende; Sherly Mudak
SAINT PAUL'S REVIEW Vol. 6 No. 1 (2026): June
Publisher : STT Saint Paul Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56194/spr.v6i1.153

Abstract

Church unity is a central theme in New Testament theology, but it is often narrowed down to issues of organization or denominational uniformity. John 17 offers a different perspective through Jesus' intercessory prayer, which places unity at the heart of God's mission for the world. This study aims to explore the theological meaning of Jesus’ intercessory prayer, focusing on church unity as a declaration of mission rooted in the Trinitarian relationship of love. A research gap is identified in the tendency of previous literature to separate discussions of unity from the ontological and missiological dimensions of this prayer. The novelty of this article lies in interpreting unity not merely as Jesus’ petition but as a declaration of the church’s mission rooted in perichoresis; the participation of the faithful in the unity of the Father and the Son’s love. Using qualitative methods and a literature review approach, this study examines the structure of the prayer (John 17:1–26), the meaning of “being one” in the Trinitarian relationship, and the theological and practical implications for the church today. The results of the study show that: (1) unity is the climax of Jesus' intercessory prayer, (2) unity reflects the love and glory of the Trinity, (3) unity functions as a mission statement to convince the world of Christ's commission, and (4) True unity requires a shift from structural unity to relational unity that is alive with God's love. This article asserts that church unity is not merely social ethics, but a divine reality that serves as a means of God's revelation to the world.
Merenungkan Firman sebagai Disiplin Formasi Rohani: Rekonstruksi Teologis Yosua 1:8 dalam Konteks Spiritualitas Kristen Kontemporer Ricky E. Tumbelaka; Andris Kiamani; Yohanes T. Rompon
SAINT PAUL'S REVIEW Vol. 6 No. 1 (2026): June
Publisher : STT Saint Paul Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56194/spr.v6i1.166

Abstract

Penelitian ini berangkat dari krisis spiritualitas Kristen kontemporer yang ditandai meningkatnya aktivitas keagamaan, namun melemahnya praktik perenungan Firman sebagai disiplin formasi rohani. Penelitian ini bertujuan menganalisis secara teologis makna merenungkan Firman dalam Yosua 1:8 serta merekonstruksi relevansinya bagi spiritualitas Kristen masa kini. Permasalahan utama penelitian ini adalah adanya kesenjangan antara kajian eksegetis Yosua 1:8 dan penerapannya terhadap krisis spiritualitas performatif kontemporer. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan eksegesis biblika integratif melalui analisis struktural, literal, dan leksikal-semantik terhadap kata h?g?h, dilaksanakan melalui tahapan studi teks, perbandingan terjemahan, analisis leksikal, integrasi teologis, dan refleksi aplikatif. Hasil penelitian menunjukkan pola teologis Firman-meditasi-ketaatan-keberhasilan sebagai paradigma formasi rohani. Sehingga dapat diketahui bahwa meditasi Firman merupakan disiplin transformatif yang menopang ketaatan dan keberhasilan teologis. Kontribusi penelitian ini terletak pada sintesis eksegesis dan teologi spiritual serta pembacaan integratif Yosua 1:8 bagi konteks kontemporer.