cover
Contact Name
Yopie F. M. Buyung
Contact Email
yopiebuyung@gmail.com
Phone
+6285231318367
Journal Mail Official
saintpaulsreview@gmail.com
Editorial Address
Sekolah Tinggi Teologi Saint Paul Bandung Kampus Jl. Purbasari No.3, Cimahi Kampus 2: Jl. Baranangsiang, Kompleks ITC Kosambi Blok D3, Bandung
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Saint Paul's Review
ISSN : -     EISSN : 27975061     DOI : https://doi.org/10.56194/spr
Saint Pauls Review adalah jurnal ilmiah berkala yang diterbitkan dua kali setahun oleh Bagian Pusat Studi Sekolah Tinggi Teologi Saint Paul Bandung. Jurnal ini mengkaji isu-isu kontemporer yang ada di tengah-tengah masyarakat khususnya kaum milenial yang sedang mengalami perubahan yang begitu cepat demi berkontribusi dalam pelayanan Gereja di negara kesatuan Republik Indonesia. Penulisan dalam jurnal ini lebih berfokus pada bidang Teologi, Konseling, dan beberapa disiplin ilmu terkait seperti Psikologi, Sosial dan Antropologi. Jurnal ini ditulis oleh para teolog Kristen, para dosen dan mahasiswa, para pendeta dan rohaniawan serta orang awam yang menaruh perhatian terhadap pergumulan masyarakat pluralisme dalam gaya penulisan yang dapat dicerna oleh masyarakat Kristen. Saint Pauls Review adalah jurnal open access yang menerbitkan artikel penelitian dalam bidang teologi, misiologi, konseling pastoral, kepemimpinan Kristen, pendidikan Kristen, dan filsafat agama. Kriteria publikasi jurnal ini didasarkan pada standar etika yang tinggi dan kekakuan metodologi dan kesimpulan yang dilaporkan.
Articles 62 Documents
Filosofi Team Work dalam Pelayanan Paulus dan Barnabas Sostenis Nggebu
SAINT PAUL'S REVIEW Vol. 5 No. 2 (2025): December
Publisher : STT Saint Paul Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56194/spr.v5i2.132

Abstract

This article examines the philosophical value of teamwork in the ministry of the Apostles Paul and Barnabas, especially in the first period of evangelistic missions (Acts 13-14). Paul and Barnabas point to an example of effective and impactful cooperation in church ministry, focusing on outreach to Gentiles without imposing Jewish tradition. This study uses the study method of theological literature to analyze the dynamics of their teamwork and its relevance to the church in the postmodern era. The results of the study show that teamwork is not only a method, but an important foundation in church ministry. Effective cooperation increases efficiency, expands reach, and builds strong communities, while reflecting the essence of the church as the body of Christ. The philosophical values of Paul and Barnabas' teamwork, such as synergy, unity in diversity, and focus on mission, remain relevant and applicable to improve the quality of church service today.
Keadilan Sosial Dalam Kitab Amos: Analisis Eksegetis-Kontekstual dan Relevansinya Bagi Masyarakat Indonesia Kontemporer Iman Halawa
SAINT PAUL'S REVIEW Vol. 5 No. 2 (2025): December
Publisher : STT Saint Paul Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56194/spr.v5i2.120

Abstract

Abstrak Kitab Amos merupakan salah satu teks profetik Perjanjian Lama yang menekankan keadilan sosial sebagai inti dari kesetiaan umat kepada Allah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pesan keadilan sosial dalam kitab Amos melalui pendekatan eksegetis-kontekstual, sekaligus menyingkap relevansinya bagi Indonesia kontemporer yang masih bergumul dengan kesenjangan sosial, korupsi, diskriminasi hukum, dan ketidakadilan struktural. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan eksegesis biblika serta analisis kontekstual terhadap kondisi sosial Indonesia. Hasil kajian menunjukkan bahwa Amos menolak pemisahan antara ibadah liturgis dan tanggung jawab sosial; iman sejati harus diwujudkan dalam praksis keadilan. Pesan Amos menemukan relevansi kuat dengan cita-cita Pancasila, khususnya sila kelima tentang “Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.” Kebaruan penelitian ini terletak pada upaya menjembatani studi eksegesis dengan refleksi sosial-politik Indonesia masa kini, sehingga memperlihatkan peran teks biblika sebagai sumber kritik profetik sekaligus inspirasi transformatif bagi masyarakat modern.
Tinjauan Teologis Terhadap Tradisi Paper Dalam Pernikahan Adat Dayak Benuaq Ladi Prawati; Bimo Setyo Utomo
SAINT PAUL'S REVIEW Vol. 5 No. 2 (2025): December
Publisher : STT Saint Paul Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56194/spr.v5i2.123

Abstract

Suku Dayak Benuaq memiliki tradisi yang diwariskan dari leluhur mereka dan masih dilaksanakan hingga saat ini dalam upacara pernikahan, yaitu tradisi paper. Tradisi ini merupakan ritual yang wajib dilakukan oleh pasangan yang akan menikah untuk memperoleh restu dari roh leluhur, sehingga mereka dapat memperoleh hal-hal baik. Tujuan penelitian ini adalah untuk melakukan kajian teologis terhadap tradisi paper agar masyarakat memiliki pemahaman tentang prinsip pernikahan yang benar berdasarkan iman Kristen. Firman Tuhan harus menjadi pedoman bagi setiap orang percaya untuk mengevaluasi, menentukan dan menyikapi apa yang benar mengenai pernikahan berdasarkan iman Kristen. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Hasil penelitian ini akan menghasilkan tiga prinsip dalam pernikahan: Alkitab melarang untuk menduakan Tuhan, Alkitab melarang pemujaan terhadap roh leluhur, dan Alkitab mengajarkan bahwa Allah adalah sumber berkat dalam pernikahan.
Integrasi Iman, Pendidikan Moral Dan Ilmu Pengetahuan Dalam Perspektif Kristen: Sebuah Studi Teologi Filsafat Pendidikan Mikhail Mabaha; Aska Aprilano Pattinaja
SAINT PAUL'S REVIEW Vol. 5 No. 2 (2025): December
Publisher : STT Saint Paul Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56194/spr.v5i2.135

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keterkaitan antara pendidikan moral dan ilmu pengetahuan dalam perspektif Kristen, dengan menekankan peran iman, nilai Alkitabiah, dan pembentukan karakter sebagai landasan integrasi pengetahuan. Kesenjangan penelitian yang ditemukan adalah masih dominannya paradigma pendidikan sekuler yang memisahkan aspek kognitif dan moral, sehingga kurang memperhatikan prinsip integratif iman–pengetahuan yang Alkitab tawarkan. Berdasarkan metode penelitian kajian literatur kualitatif dengan pendekatan teologis-biblis, filsafat pendidikan Kristen, serta analisis terhadap teori pendidikan moral kontemporer, maka hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan Kristen tidak hanya berorientasi pada transfer pengetahuan, tetapi juga pada transformasi karakter melalui internalisasi nilai-nilai Injil, sehingga pengetahuan dipahami bukan sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai sarana untuk hidup berkenan kepada Allah dan berguna bagi sesama. Implikasi penelitian ini menegaskan perlunya tranformasi kurikulum pendidikan Kristen yang menempatkan moralitas Injili sebagai inti, sinergi pembentukan karakter dan menjawab tantangan era digital sehingga menghasilkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara spiritual dan etis dalam menghadapi tantangan zaman. This study aims to analyze the relationship between moral education and science from a Christian perspective, emphasizing the role of faith, Biblical values, and character building as the foundation of knowledge integration. The research gap found is the dominant secular education paradigm that separates cognitive and moral aspects, thus paying less attention to the integrative principle of faith-knowledge that the Bible offers. Based on the qualitative literature review research method with a biblical-theological approach, Christian education philosophy, and analysis of contemporary moral education theories, the results show that Christian education is not only oriented to the transfer of knowledge, but also to character transformation through the internalization of gospel values, so that knowledge is understood not as an end in itself, but as a means to live pleasing to God and useful to others. The implications of this research emphasize the need for curriculum transformation in Christian education that places evangelical morality at the core, synergizing character building and answering the challenges of the digital era so as to produce a generation that is not only intellectually intelligent, but also spiritually and ethically mature in facing the challenges of the times.
Teologi Konstruktif Soal Deliberasi Soal Kehendak Para Pelaku Penyaliban Yesus Robin Simanjuntak
SAINT PAUL'S REVIEW Vol. 5 No. 2 (2025): December
Publisher : STT Saint Paul Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56194/spr.v5i2.136

Abstract

Artikel ini akan membahas persoalan yang menjadi perdebatan perihal kehendak siapa Yudas menghianati Yesus, pertanyaannya Adalah apakah karena kehendak diri sendiri, kehendak iblis, atau kehendak Allah?. Dari kalangan Kristen timbul usaha menegasikan Allah sebagai penyebab yang mempengaruhi kehendak dalam diri Yudas pada peristiwa penyaliban Yesus. Yudas dipercaya telah dihasut oleh iblis yang menjadi penyebab utama Yudas menghianati Sang Guru. Negasi ini menimbulkan polemik, sebab di satu sisi bermaksud membela Allah dan membebaskan Allah dari tanggung-jawab rencana besar-Nya sendiri sebagai final cause. Di sisi lain menempatkan iblis sebagai final cause dalam peristiwa penyaliban Yesus padahal iblis sesungguhnya sama seperti Yudas. Penulis akan memaparkan bahwa dalam peristiwa penyaliban, baik Yudas sebagai agen pelaku penangkapan Yesus maupun iblis sebagai kuasa yang merasuki pikiran Yudas untuk menghianati Yesus memiliki peran sebab efisien (efficiens cause) yang sama. oni kehendak dari rencana Allah yang kekal berkaitan keselamatan manusia.
Konsep Waktu Dalam Teologi Agustinus Menurut Telaah Atas Confessions dan City of God Bildath Imanuel Bili; Tjiauw Thuan Alias Hali
SAINT PAUL'S REVIEW Vol. 5 No. 2 (2025): December
Publisher : STT Saint Paul Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56194/spr.v5i2.137

Abstract

This paper specifically explores Augustine’s thought on the concept of time. Drawing on his two major works, Confessions and City of God, the discussion focuses on four main aspects: Augustine’s understanding of time, the theological origin of time, the relationship between God and time, and the human condition as beings who live within time. The discussion will conclude with the author’s analysis and reflection based on Augustine’s formulation of the concept of time. The method employed is the qualitative method, which done by historical methodology. This research is done by exploring two Augustine’s works that explicitly address the notion of time. The results of the study show the relationship between time and God and the relationship between time and humans. God transcends and overcomes time where time only began to exist after God created it as He also created other creatures. Humans live in time and space, so humans should live their days with full responsibility as if they only lived today or now.
Manusia dalam Proyek Kekekalan: Sebuah Studi Teologis tentang Rencana Ilahi, Pembentukan Karakter, dan Arah Eskatologis Peiter Jeckson Tomasoa; Daud Manno
SAINT PAUL'S REVIEW Vol. 6 No. 1 (2026): June
Publisher : STT Saint Paul Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56194/spr.v6i1.127

Abstract

This article explores the theological interconnection between divine providence, character formation, and eschatological orientation in the life of believers. Employing a systematic theological and thematic synthesis approach, the study asserts that Christian character is inseparable from God's eternal project. Character is not merely moral behavior, but a spiritual response to divine providence and preparation for eternal life. By placing Jesus Christ as the model and standard of perfect character, the study demonstrates that character formation is a transformational process shaped by Scripture, the Holy Spirit, suffering, and hope in the world to come. The study contributes to the development of spiritual theology, faith formation policy, and character-based ministry in society.
Saling Menanggung Beban: Model Kesehatan Mental Eklesial dalam Pencegahan Bunuh Diri Donald Siwabessy
SAINT PAUL'S REVIEW Vol. 6 No. 1 (2026): June
Publisher : STT Saint Paul Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56194/spr.v6i1.176

Abstract

Suicide is a complex global public health issue that cannot be adequately addressed through an individualistic approach alone. This article aims to develop an Ecclesial Mental Health Model for suicide prevention grounded in the theological principle of “bearing one another’s burdens” (Galatians 6:2). The study employs a qualitative approach using a literature review method, drawing on theological, pastoral, and contemporary mental health sources. The findings indicate that this principle possesses both normative and therapeutic dimensions, enabling a paradigm shift from an individual-centered pastoral approach toward a community-based model. The proposed model comprises six main components: a relational theological foundation, community structures as support networks, sustained pastoral functions, preventive mechanisms through education and early detection, spiritual practices, and the creation of stigma-free safe spaces. Overall, this model affirms that the church, as a relational community, holds a strategic role in fostering resilience, reducing social isolation, and strengthening holistic and integrative suicide prevention efforts.
Etika Kerajaan Allah dalam Khotbah di Bukit sebagai Dasar Teologi Pendamaian Dunia Grace Pasila
SAINT PAUL'S REVIEW Vol. 6 No. 1 (2026): June
Publisher : STT Saint Paul Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56194/spr.v6i1.169

Abstract

Article history: Submit: May 15, 2026 Revised: Accepted: Published: Keywords: Ethics of the Kingdom, Sermon on the Mount, Theology of Reconciliation, Matthew 5-7, Conflict Kata kunci: Etika Kerajaan Allah, Khotbah di Bukit, Teologi Pendamaian, Matius 5-7, Konflik Abstract Conflict is an inevitable part of human life. Today’s world is faced with the emergence of various conflicts, such as social injustice, humanitarian crises, and international wars, making global peace difficult to achieve. This study seeks to examine the ethical values of the Kingdom of God in the Sermon on the Mount in Matthew 5–7 as the foundation for a theology of world peace. The study employs a qualitative method with an exegetical approach to the text of the Sermon on the Mount in Matthew 5–7 to identify the ethical values of the Kingdom of God that are relevant to human life. Biblical and systematic theological approaches are used to situate the exegetical findings within a broader theological framework. Data were obtained through a literature review, with the Bible as the primary source, as well as various theological literature discussing the ethics of the Kingdom of God and the concept of reconciliation. The research findings indicate that the Sermon on the Mount contains the ethical values of the Kingdom of God—such as love, forgiveness, justice, and peace—which are relevant as a foundation for peace amidst the various conflicts the world faces today. These values are transformative, not only in the structural realm but also in the personal realm, and they encourage Christians to actively become agents of peace in the world. Abstrak Konflik adalah hal yang tidak dapat dihindari dalam kehidupan umat manusia. Dunia sekarang ini diperhadapkan dengan munculnya berbagai konflik, seperti ketidakadilan sosial, krisis kemanusiaan, dan perang antarbangsa, sehingga pendamaian dunia masih sulit untuk diwujudkan. Penelitian ini berupaya mengkaji nilai-nilai etika Kerajaan Allah dalam Khotbah di Bukit dalam Matius 5–7 sebagai dasar Teologi pendamaian dunia. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan eksegesis pada teks Khotbah di Bukit dalam Matius 5–7 untuk menemukan nilai-nilai etika Kerajaan Allah yang relevan bagi kehidupan manusia. Pendekatan Teologi biblika dan sistematis digunakan untuk menempatkan hasil eksegesis dalam kerangka Teologi yang luas. Data diperoleh melalui studi kepustakaan dengan Alkitab sebagai sumber utama, serta berbagai literatur teologi yang membahas mengenai etika Kerajaan Allah dan konsep pendamaian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Khotbah di Bukit memuat nilai-nilai etika Kerajaan Allah seperti kasih, pengampunan, keadilan, dan perdamaian, yang relevan untuk menjadi dasar perdamaian di tengah berbagai konflik yang dialami dunia sekarang ini. Nilai-nilai tersebut bersifat transformatif, tidak hanya pada ranah struktural tetapi juga pada ranah pribadi, serta mendorong umat Kristiani untuk secara aktif menjadi agen perdamaian di dunia.
Teologi Konstruktif Soal Deliberasi Soal Kehendak Para Pelaku Penyaliban Yesus    Robin Simanjuntak
SAINT PAUL'S REVIEW Vol. 6 No. 1 (2026): June
Publisher : STT Saint Paul Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56194/spr.v6i1.152

Abstract

Artikel ini akan membahas persoalan yang menjadi perdebatan perihal kehendak siapa Yudas menghianati Yesus, pertanyaannya adalah apakah karena kehendak diri sendiri, kehendak iblis, atau kehendak Allah ? Dari kalangan Kristen timbul usaha menegasikan Allah sebagai penyebab yang mempengaruhi kehendak dalam diri Yudas pada peristiwa penyaliban Yesus. Yudas dipercaya telah dihasut oleh iblis yang menjadi penyebab utama Yudas menghianati Sang Guru. Negasi ini menimbulkan polemik, sebab di satu sisi bermaksud membela Allah dan membebaskan Allah dari tanggung-jawab rencana besar-Nya sendiri sebagai final cause. Di sisi lain menempatkan iblis sebagai final cause dalam peristiwa penyaliban Yesus padahal iblis sesungguhnya bukan penyebab final sama seperti Yudas. Penulis akan memaparkan bahwa dalam peristiwa penyaliban, baik Yudas sebagai agen pelaku penangkapan Yesus maupun iblis sebagai kuasa yang merasuki pikiran Yudas untuk menghianati Yesus memiliki peran sebab efisien (efficiens cause) yang sama. Allah sendiri adalah penyebab final penghianatan Yudas.