cover
Contact Name
Yusran
Contact Email
iqt.fuf@uin-alauddin.ac.id
Phone
+6282136764704
Journal Mail Official
iqt.fuf@uin-alauddin.ac.id
Editorial Address
Jalan H.M.Yasin Limpo No.36, Romang Polong, Somba Opu, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Kode Pos 92118
Location
Kab. gowa,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Jurnal Tafsere
ISSN : 23552255     EISSN : 29628474     DOI : -
Core Subject : Religion,
Tafsere is a peer-reviewed journal dedicated to publishing the scholarly study of the Quran from many different perspectives. Particular attention is paid to the works dealing with Quranic Studies, Qur’anic sciences, Living Quran, Quranic Studies across different areas in the world, Methodology of the Quran, and Tafsir studies. Tafsere was published by the Department of Quranic and Tafsir Studies, Faculty of Ushuluddin and Philosophy, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar, Indonesia.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 149 Documents
RAGAM RIWAYAT DAN TAFSIR KISAH SULAIMAN DALAM AL-DAKHIL FI AL-TAFSIR Masilaturrohmah Masilaturrohmah; Moh Jufriyadi Sholeh
Jurnal Tafsere Vol 8 No 2 (2020)
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1217.155 KB)

Abstract

Banyak riwayat Israi’liyat yang masuk dalam dunia tafsir, khususnya dalam ayat-ayat yang menjelaskan tentang kisah-kisah para Nabi. Kisah Nabi Sulaiman As adalah salah satu kisah yang ada dalam al-Qur’an yang dalam penafsirannya dirasuki kisah Isra’iliyat sehingga menodai penafsiran terhadap ayat-ayat kisah tersebut. Dari sanalah peneliti tertarik menelusuri penyimpangan-penyimpangan tersebut untuk memurnikan penafsiran agar menjadi jelas antara al-ashil dan al-dakhil dalam tafsir kisah Nabi Sulaiman As. Dengan mengkaji Q.S an-Naml: 44, Q.S Saba’: 34, dan ayat-ayat yang dijadikan bukti Negeri Saba’ di Indonesia oleh Fahmi Basya, maka artikel ini menghasilkan dua poin kesimpulan. Pertama, kisah yang mengandung riwayat Isra’iliyat terdapat pada kisah Nabi Sulaiman As dan ratu Balqis serta Kisah Nabi Sulaiman As yang diuji dengan kekuasaannya. Kedua, penafsiran Negeri Saba’ bertentangan dengan fakta-fakta ilmiah dari para arkeolog sehingga kisah tersebut menjadi bagian dari al-dakhil dalam tafsir al-Qur’an.   Kata kunci: Riwayat, kisah, Nabi Sulaiman, al-dakhil.
ETIKA PENGELOLAAN HUTAN DALAM PERSPEKTIF AL QUR’AN Radhie Munadi; kaslam kaslam
Jurnal Tafsere Vol 8 No 2 (2020)
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1033.557 KB)

Abstract

Hutan merupakan kawasan di muka bumi yang memiliki peran yang sangat penting bagi manusia. Faktanya, telah terjadi kerusakan yang amat parah diakibatkan oleh ulah manusia dalam mengeksploitasi untuk memenuhi kebutuhannya. Dampak dari kerusakan hutan multidimensi bagi keberlangsungan hidup di bumi. Tulisan ini mengkaji nash - nash yang terdapat dalam Al Qur’an terkait etika dalam pengelolaan hutan. Dengan menggunakan metode tafsir tematik, Al Qur’an banyak menyinggung tentang pengelolaan lingkungan hidup khususnya hutan. Peran manusia sebagai khalifatul ardh, menisbatkan pengelolaan lingkungan hidup yang bertanggung jawab. Konsep kekhalifahan bersifat transenden yang mengamanahkan pengelolaan hutan kepada manusia dan kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Oleh karena itu hutan harus dikelola dengan baik, tidak melakukan pengrusakan dan eksploitasi yang berlebihan serta mempertahankan habitat asli atau melakukan konservasi terhadap hutan yang telah rusak. Dengan demikian, hutan dapat terjaga dan lestari sebagai warisan kepada generasi selanjutnya. Kata Kunci: Pengeloaan Hutan, etika lingkungan hidup, Konsep Khalifah
ANALISIS SURAT AL-ANFAL AYAT 17: UPAYA MENGUNGKAP SISI TRANSENDENTAL HERMENEUTIKA DOUBLE MOVEMENT Miatul Qudsia; Muhammad Faishal Haq
Jurnal Tafsere Vol 8 No 2 (2020)
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1006.13 KB)

Abstract

Kajian terhadap Alquran dengan sudut pandang kontesktual kian terus berkembang. Salah satu tawaran yang hingga ini terus ditelaah dan diaplikasikan adalah teori double movement yang digagas oleh Fazlur Rahman, dan dikembangkan oleh Abdullah Saeed. Teori double movement sangat menitikberatkan konteks sosio-historis Alquran dan masa sekarang. Untuk menjembatani antara dua masa tersebut, maka seorang peneliti harus secara peka mengambil makna dari ayat yang dikaji atau yang disebut dengan ideal moral. Dengan demikian, makna dari tujuan diturunkannya ayat Alquran tersebut akan tetap tersampaikan hingga kapanpun. Obyek dari pengaplikasian double movement memang ayat-ayat hukum, sehingga menghasilkan ideal moral yang sifatnya nyata atau konkret. Namun, dalam penelitian ini, peneliti menemukan bahwa double movement tidak hanya menghasilkan ideal moral yang sifat konkret tapi juga transendental. Ayat yang dikaji adalah ayat perang, surat al-Anfal ayat 17. Sehingga, dihasilkan bahwa Ideal moral yan bersifat konkret dari ayat ini adalah dibolehkan bahkan diharuskan mengambil jalur peperangan jika sudah dalam keadaan darurat dan tertekan. Seperti, adanya tekanan, pendiskriminasian dan lain sebagainya yang menyebabkan ketersiksaan. Dan, ideal moral yang bersifat transendental adalah harus adanya sikap tawakal dan ikhtiar dari setiap muslim. Bahwa Allah dapat menjadikan nyata setiap apa yang dianggap mustahil oleh manusia. Kata Kunci: Badar, Double Movement, Ideal Moral, Konkret, Transendental
KONSEP PENCIPTAAN BUMI DALAM ALQURAN (STUDI TERHADAP QS. AL-ANBIYA’[21]: 30) MENURUT HAMKA DALAM TAFSIR AL-AZHAR Mersi Hendra
Jurnal Tafsere Vol 8 No 2 (2020)
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1175.429 KB)

Abstract

Kajian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana konsep penciptaan bumi dalam Alquran (studi terhadap Qs. Al-Anbiya’[21]: 30) menurut Hamka dalam Tafsir Al-Azhar. Konsep penciptaan bumi selalu mengalami perkembangan dari masa kemasa. Pada abad ke-20 terdapat beberapa konsep penciptaan bumi yang dikemukakan oleh para ahli astronomi yaitu, yang dimulai dari pemikiran yang bersifat spekulatif yang mengembangkan gagasan bahwa alam semesta mengikuti hukum-hukum yang bersifat kuantitatif. Kemudian muncul teori big bang (ledakan besar), setelah itu muncul teori osilasi (ekspansi) yang lahir akibat perbedaan pendapat antara model alam semesta statis dan big bang yang menyatakan alam semesta mengembang lalu mengerut, lalu mengembang lagi dan seterusnya. Sedangkan Alquran telah lama menginformasikan tentang penciptaan bumi, salah satunya terdapat dalam Qs. Al-Anbiya’[21]: 30. Ayat inilah yang menjadi fokus penulis dalam penelitian ini, karena ayat ini menggambarkan sejumlah fakta yang telah dibuktikan dengan sains dan teknologi tentang adanya ledakan yang memisahkan langit dan bumi. Selanjutnya ayat ini dihubungkan dengan teori big bang, karena terdapat kemiripan antara ayat Alquran dengan teori big bang tersebut. Penelitian ini hanya membahas bagaimana penafsiran Hamka terhadap Qs. Al-Anbiya’[21]: 30, dan bagaimana relevansi penafsirannya dengan teori big bang.Hamka dalam tafsirnya menjelaskan mengenai Qs. Al-Anbiya’[21]: 30 yaitu pada awalnya alam semesta ini merupakan satu kesatuan yang berpadu satu, kemudian Allah memisahkan antara langit dan bumi, setelah peristiwa pemisahan tersebut maka langit itu berupa asap atau gas. Setelah peristiwa pemisahan tadi, maka langit dan bumi terus-menerus mengembang dan bergerak. Mengenai proses pemisahan tersebut Hamka tidak menjelaskan secara detail di penelitian ini penulis menguraikan pendapat mufassir lain untuk menjelaskan proses pemisahan tersebut. Sedangkan awal penciptaan bumi dalam teori big bang dijelaskan bahwa seluruh ruang angkasa terjadi dari satu ledakan raksasa. Jadi, awal penciptaan yang dimaksud Hamka disini sejalan dengan awal penciptaan bumi yang terdapat dalam teori big bang, yaitu alam ini terjadi setelah ledakan raksasa (big bang). Dari ledakan tersebut tercipta lah planet-planet salah satunya planet bumi. Kemudian Allah menciptakan segala sesuatu yang hidup dari air, dan seterusnya. Kata Kunci: Konsep Penciptaan, Hamka, Big bang
Analisis Surat al-Anfal Ayat 17: Upaya Mengungkap Sisi Transendental Hermeneutika Double Movement Miatul Qudsia
Jurnal Tafsere Vol 9 No 1 (2021)
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1258.374 KB)

Abstract

Kajian terhadap Al-Quran dengan sudut pandang kontesktual kian terus berkembang. Salah satu tawaran yang hingga ini terus ditelaah dan diaplikasikan adalah teori double movement yang digagas oleh Fazlur Rahman, dan dikembangkan oleh Abdullah Saeed. Teori double movement sangat menitikberatkan konteks sosio-historis Al-Quran dan masa sekarang. Untuk menjembatani antara dua masa tersebut, maka seorang peneliti harus secara peka mengambil makna dari ayat yang dikaji atau yang disebut dengan ideal moral. Dengan demikian, makna dari tujuan diturunkannya ayat Al-Quran tersebut akan tetap tersampaikan hingga kapanpun. Obyek dari pengaplikasian double movement memang ayat-ayat hukum, sehingga menghasilkan ideal moral yang sifatnya nyata atau konkret. Namun, dalam penelitian ini, peneliti menemukan bahwa double movement tidak hanya menghasilkan ideal moral yang sifat konkret tapi juga transendental. Ayat yang dikaji adalah ayat perang, surat al-Anfal ayat 17. Sehingga, dihasilkan bahwa Ideal moral yan bersifat konkret dari ayat ini adalah dibolehkan bahkan diharuskan mengambil jalur peperangan jika sudah dalam keadaan darurat dan tertekan. Seperti, adanya tekanan, pendiskriminasian dan lain sebagainya yang menyebabkan ketersiksaan. Dan, ideal moral yang bersifat transendental adalah harus adanya sikap tawakal dan ikhtiar dari setiap muslim. Bahwa Allah dapat menjadikan nyata setiap apa yang dianggap mustahil oleh manusia.
Ayat-ayat Tentang Moderasi Beragama (Suatu Kajian Terhadap Tafsir al-Qur’an al-Azhim Karya Ibnu Katsir) Andi Abdul Hamzah; Muhammad Arfain
Jurnal Tafsere Vol 9 No 1 (2021)
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1288.529 KB)

Abstract

Dalam Istilah syariat Islam tidak dikenal yang namanya sikap ekstrem bgitupun juga denga sikap menyepelekan tuntunan maupun aturan syariat. Sifat wasath sangatlah jelas diperlukan diberbagai aspek dan bidang bagi keperluan manusia, baik dalam hal ibadah maupun muamalah. Moderasi beragama sesungguhnya merupakan kunci terciptanya toleransi dan kerukunan, secara umum. Dalam penelitian penulis membahas bagaimana Ayat-ayat tentang Moderasi Beragama dengan melakukan pengkajian terhadap tafsir al-Qur’an al-Adzhim. dengan menggunakan pendekatan tafsir. Peneliian ini merupakan library research (penelitian kepustakaan), dengan mengumpulkan data dengan cara mengutip, mengikhtisarkan, dan menyadur data-data kualitatif dari berbagai sumber literatur yaitu terhadap kata wasath dalam al-Qur’an. Kata wasth dalam berbagai bentuknya dalam al-Qur’an disebut sebanyak lima kali, masing-masing dalam QS. al-Baqarah/2: 143 dan 238, QS. al-Maidah/5: 89, QS. al-Qalam/68: 28, serta dalam QS. al-Adiyat/100: 5. Pada dasarnya penggunaan istilah wasth dalam ayat-ayat tersebut dapat merujuk pada pengertian “tengah, adil dan pilihan”.
Etika Komunikasi Krisis Pemerintah di Media Sosial Terhadap Penanganan Covid-19 Perspektif al-Qur’an Siti Ulfa Khoiriyah
Jurnal Tafsere Vol 9 No 1 (2021)
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1404.116 KB)

Abstract

Wabah Covid-19 telah menjangkit publik khususnya warga negara Indonesia. Managemen komunikasi krisis sangat diperlukan oleh pemerintah. Sumber data yang peneliti dari twitter akun @Jokowi dan situs resmi pemerintah (Covid19.go.id). Pertama, peneliti menemukan data terkait informasi yang dipublikasikan oleh pemerintah dilakukan secara cepat serta efisien sehingga publik dapat mengetahui tindakan apa yang harus dilakukan terkait penangangan Covid-19. Informasi dipublikasikan secara transparan (terbuka), data tersebut murni niat idealis pemerintah dalam menangani Covid-19 tanpa adanya niat pragmatis dalam artian pemerintah mempunyai niat terselubung yang beresensi menguntungkan pihak pemerintah sendiri. Informasi dipublikasikan secara konsisten antara pemerintah satu dengan yang lain. Kedua, etika komunikasi krisis pemerintah di media sosial relevan dengan indikator terminologi term qaulan dalam al-Qur’an. Terdapat indikator term qaulan sadidan bahwa data yang peneliti paparkan menginterpretasikan perkataan yang benar, jujur, tranparan dan konsisten. Qaulan balighan pemerintah memberikan informasi yang membekas di hati publik, sehingga publik lebih memperketat serta mematuhi protokol kesehatan sehingga meminimalisir terjadinya krisis baru. Term qaulan ma’rufan, qaulan kariman, qaulan layyinan bahwa semua data dalam akun @Jokowi dan situs resmi memerintah dalam hal kebaikan dan mencegah hal-hal yang berdampak negatif. Adapun indikator terminologi terakhir yakni qaulan maysuran pemerintah memberikan empati, simpati serta bantuan moril maupun materiil terhadap publik yang terdampak wabah Covid-19.
Etika Pengelolaan Hutan dalam Perspektif al-Qur’an Radhie Munadi; Kaslam Kaslam
Jurnal Tafsere Vol 9 No 1 (2021)
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1316.546 KB)

Abstract

Hutan merupakan kawasan di muka bumi yang memiliki peran yang sangat penting bagi manusia. Faktanya, telah terjadi kerusakan yang amat parah diakibatkan oleh ulah manusia dalam mengeksploitasi untuk memenuhi kebutuhannya. Dampak dari kerusakan hutan multidimensi bagi keberlangsungan hidup di bumi. Tulisan ini mengkaji nash - nash yang terdapat dalam Al Qur’an terkait etika dalam pengelolaan hutan. Dengan menggunakan metode tafsir tematik, Al Qur’an banyak menyinggung tentang pengelolaan lingkungan hidup khususnya hutan. Peran manusia sebagai khalifatul ardh, menisbatkan pengelolaan lingkungan hidup yang bertanggung jawab. Konsep kekhalifahan bersifat transenden yang mengamanahkan pengelolaan hutan kepada manusia dan kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Oleh karena itu hutan harus dikelola dengan baik, tidak melakukan pengrusakan dan eksploitasi yang berlebihan serta mempertahankan habitat asli atau melakukan konservasi terhadap hutan yang telah rusak. Dengan demikian, hutan dapat terjaga dan lestari sebagai warisan kepada generasi selanjutnya.
Konsep Penciptaan Bumi dalam al-Qur’an (Studi Terhadap QS. al-Anbiya’ [21]: 30) Menurut Hamka dalam Tafsir al-Azhar Mersi Hendra; Muhamad Rezi
Jurnal Tafsere Vol 9 No 1 (2021)
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1210.501 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana konsep penciptaan bumi dalam al-Qur’an (studi terhadap QS. al-Anbiya’[21]: 30) menurut Hamka dalam Tafsir al-Azhar. Konsep penciptaan bumi selalu mengalami perkembangan dari masa kemasa. Pada abad ke-20 terdapat beberapa konsep penciptaan bumi yang dikemukakan oleh para ahli astronomi yaitu, yang dimulai dari pemikiran yang bersifat spekulatif yang mengembangkan gagasan bahwa alam semesta mengikuti hukum-hukum yang bersifat kuantitatif. Kemudian muncul teori big bang (ledakan besar), setelah itu muncul teori osilasi (ekspansi) yang lahir akibat perbedaan pendapat antara model alam semesta statis dan big bang yang menyatakan alam semesta mengembang lalu mengerut, lalu mengembang lagi dan seterusnya. Sedangkan al-Qur’an telah lama menginformasikan tentang penciptaan bumi, salah satunya terdapat dalam QS. al-Anbiya’[21]: 30. Ayat inilah yang menjadi fokus penulis dalam penelitian ini, karena ayat ini menggambarkan sejumlah fakta yang telah dibuktikan dengan sains dan teknologi tentang adanya ledakan yang memisahkan langit dan bumi. Selanjutnya ayat ini dihubungkan dengan teori big bang, karena terdapat kemiripan antara ayat al-Qur’an dengan teori big bang tersebut. Penelitian ini hanya membahas bagaimana penafsiran Hamka terhadap QS. al-Anbiya’[21]: 30, dan bagaimana relevansi penafsirannya dengan teori big bang. Hamka dalam tafsirnya menjelaskan mengenai QS. Al-Anbiya’[21]: 30 yaitu pada awalnya alam semesta ini merupakan satu kesatuan yang berpadu satu, kemudian Allah memisahkan antara langit dan bumi, setelah peristiwa pemisahan tersebut maka langit itu berupa asap atau gas. Setelah peristiwa pemisahan tadi, maka langit dan bumi terus-menerus mengembang dan bergerak. Mengenai proses pemisahan tersebut Hamka tidak menjelaskan secara detail di penelitian ini penulis menguraikan pendapat mufassir lain untuk menjelaskan proses pemisahan tersebut. Sedangkan awal penciptaan bumi dalam teori big bang dijelaskan bahwa seluruh ruang angkasa terjadi dari satu ledakan raksasa. Jadi, awal penciptaan yang dimaksud Hamka disini sejalan dengan awal penciptaan bumi yang terdapat dalam teori big bang, yaitu alam ini terjadi setelah ledakan raksasa (big bang). Dari ledakan tersebut tercipta lah planet-planet salah satunya planet bumi. Kemudian Allah menciptakan segala sesuatu yang hidup dari air, dan seterusnya.
Tafsir Qs. An-Nur 24:32 Tentang Anjuran Menikah (Studi Analisis Hermeneutika Ma’na Cum Maghza) Winceh Herlena; Muhammad Muads Hasri
Jurnal Tafsere Vol 9 No 1 (2021)
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1202.138 KB)

Abstract

Pada era sekarang, modal bisa dikatakan sebagai syarat utama untuk membangun rumah tangga. Namun Al-Qur’an berkata lain, Al-Qur’an menyerukan untuk menikah meskipun dalam keadaan fakir. Hal ini tentu saja mengalami kontradiksi dengan konteks sekarang yang mengharuskan modal sebelum pernikahan. Oleh karena itu, tulisan ini bertujuan untuk menggali lebih lanjut anjuran menikah dalam QS. An-Nur 24:32 dengan beberapa pertanyaan. Apa maksud dan tujuan QS. An-Nur 24:32 memerintahkan menikah meskipun dalam keadaan fakir?, kemudian bagaimana signifikansi dari QS. An-Nur 24:32 diimplementasikan dalam konteks sekarang?. Untuk menjawab rumusan masalah di atas, penelitian ini akan menggunakan teori hermeneutika ma’na cum maghza yang dipopulerkan oleh Sahiron Syamsuddin. Dari penelitian yang dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa anjuran menikah dalam keadaan fakir bukanlah maksud dan tujuan utama dari QS. An-Nur 24:32, melainkan sebagai pembebas bagi para budak dan hamba sahaya, anjuran untuk lebih menghargai orang-orang yang tidak mampu, serta anjuran menikah bagi yang telah mampu.

Page 10 of 15 | Total Record : 149