cover
Contact Name
Wahyudin
Contact Email
mandalaofhealth.journal@gmail.com
Phone
+6281343880797
Journal Mail Official
mandalaofhealth.journal@gmail.com
Editorial Address
Jl. Dr. Gumbreg, Medical Street, Mersi, Purwokerto Central Java 53122 Telp. (0281) 622022, Fax. (0281) 624990
Location
Kab. banyumas,
Jawa tengah
INDONESIA
Mandala of Health : A Scientific Journal
ISSN : -     EISSN : 26156954     DOI : https://doi.org/10.20884/1.mandala
Core Subject : Health,
Mandala of Health : A Scientific Journal is a medical scientific journal with open access published by the Faculty of Medicine, Jenderal Soedirman University, containing research articles, systematic reviews, and case reports in all areas of basic medical science, clinical medicine, biomedical science, medical biotechnology, and public health.
Articles 131 Documents
KESESUAIAN CT SCAN LEHER DENGAN HASIL BIOPSI ASPIRASI JARUM HALUS DALAM MENGIDENTIFIKASI KEGANASAN LIMFADENOPATI LEHER Nurintan Kasmin Ginano; Mirna Muis; Bachtiar Murtala
Mandala Of Health Vol 11 No 2 (2018): Mandala Of Health
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (297.966 KB) | DOI: 10.20884/1.mandala.2018.11.2.1264

Abstract

Limfadenopati dapat disebabkan oleh berbagai kondisi mulai dari keganasan, infeksi, autoimun, dan iatrogenik. Limfadenopati pada usia anak dan dewasa yang ukurannya tidak bertambah besar dalam kurun waktu kurang dari dua minggu atau lebih dari 12 bulan tidak bersifat neoplastik. Penelitian ini bertujuan mengetahui kesesuaian gambaran CT Scan leher dengan hasil biopsi aspirasi jarum halus (BAJAH) untuk membedakan limfadenopati leher yang jinak dan ganas. Penelitian ini dilaksanakan di Departemen Radiologi RS. Dr. Wahidin Sudirohusodo dan RS Universitas Hasanuddin Makassar mulai bulan Desember 2017 sampai Mei 2018. Sampel sebanyak 61 orang dengan rentang usia 4 - 82 tahun. Metode yang digunakan adalah observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Hasil penelitian menunjukkan gambaran keganasan limfadenopati leher pada CT Scan yang sesuai dengan BAJAH yaitu penyebaran ekstrakapsular, nekrosis sentral, bentuk bulat/lobulated dan margin irregular, sedangkan kalsifikasi dan ukuran tidak sesuai. Gambaran CT Scan limfadenopati leher yang jinak sesuai dengan hasil BAJAH yaitu tidak ada penyebaran ekstrakapsular, tidak ada nekrosis sentral, bentuk oval dan margin regular, sedangkan kalsifikasi dan ukuran tidak sesuai. Lymphadenopathy can be caused by various conditions that were malignancy, infection, autoimmunity, and iatrogenic. In adults and children, lymphadenopathy whose duration is less than two weeks or more than 12 months but its size does not increase, that is not a neoplastic. The study aims to determine the relationship between CT Scan of neck image and the result of fine needle aspiration biopsy (FNAB) in distinguishing benign and malignant cervical lymphadenopathies. The research was conducted in Radiology Department of Dr. Wahidin Sudirohusodo and Universitas Hasanuddin Hospital Makassar from December to May 2018. The sample were 61 people aged form 4 – 82 years old. The observational analytic with cross sectional analytic were used in this study. The result revealed that image of malignant lymphadenopathies in CT Scan of neck were significantly related with FNAB results; extracapsular spread; central necrosis, lobulated or rounded forms with irregular margin, while calcification and size were not related. The image of benign lymphadenopathies in CT Scan of neck was related with FNAB results; no extracapsular spread, no central necrosis, oval formed with regular margin, while calcification and size were not related.
NILAI DIAGNOSTIK USG COLOR DOPPLER DAN ELASTOGRAFI DIBANDINGKAN DENGAN HASIL BIOPSI ASPIRASI JARUM HALUS DALAM MENENTUKAN LIMFADENOPATI LEHER JINAK DAN GANAS Ulfiawaty Ulfiawaty; Bachtiar Murtala; Mirna Muis
Mandala Of Health Vol 12 No 1 (2019): Mandala Of Health
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (325.795 KB) | DOI: 10.20884/1.mandala.2019.12.1.1266

Abstract

Limfadenopati didefinisikan sebagai sebuah abnormalitas ukuran dan konsistensi dari limfonodus yang bisa terjadi akibat proses infeksi dan inflamasi lainnya. Penelitian ini bertujuan menjelaskan nilai diagnostik USG color Doppler dan Elastografi dalam menentukan limfadenopati leher jinak dan ganas dibandingkan dengan hasil Bajah. Penelitian ini dilaksanakan di Bagian Radiologi RS Universitas Hasanuddin, Makassar yang dimulai pada bulan Februari-Maret 2018. Desain penelitian menggunakan uji diagnostik. Sebanyak 50 sampel dengan klinis limfadenopati leher. Dilakukan pemeriksaan ultrasonografi color Doppler untuk melihat pola, lokasi vascular serta nilai resistive index, kemudian dilakukan elastografi untuk menentukan elastisitas jaringan. Dilanjutkan dengan melakukan pemeriksaan Bajah untuk menentukan limfadenopati leher jinak dan ganas sete. Analisis data menggunakan statistik melalui uji diagnostik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari uji diagnostik, didapatkan pola vaskuler memiliki sensitivitas 72%, spesifitas 92%, akurasi 84%, NPP 88%, NPN 81%. Lokasi vaskuler memiliki sensitivitas 59%, spesifitas 86%, akurasi 80%, NPP 92%, NPN 75%. Nilai resistive indeks didapatkan cut 0ff 0,795 dengan nilai sensitivitas 95,5%, spesifitas 75%, akurasu 84%, NPP 75% dan NPN 95,5%. Apabila dibandingkan dengan USG color Doppler dan elastografi, maka elastografi jauh lebih unggul dalam menentukan limfadenopati leher jinak dan ganas dengan sensitivitas 95,4%, spesifitas 96,4%, akurasi 96%, nilai prediksi positif 95,4% dan nilai prediksi negatif 96,4%. Lymphadenopathy is defined as an abnormality in the size and consistency of the lymph nodes that can occur due to other infections and inflammatory processes. This study aimed to determine the diagnostic value of ultrasound color Doppler and Elastography in determining the benign and malignant cervical lymphadenopathy compared with the results of the elephant Research method. This research was conducted in Radiology Department of Hasanuddin University Hospital, Makassar which started in February-March 2018. The research design used the diagnostic test. A total of 50 samples with clinical cervical lymphadenopathy. The color Doppler ultrasound examination was conducted to find out the pattern, vascular location and resistive index value, then the elastography was performed to determine the elasticity of the tissue. After that, a FNA examination was done to determine benign and malignant cervical lymphadenopathy. The data analysis used the statistic through the diagnostic tests. The research results indicated that the diagnostic test revealed the vascular pattern of 72% sensitivity, 92% specificity, 84% accuracy, NPP 88%, NPN 81%. The vascular site had a sensitivity of 59%, specificity 96%, accuracy of 80%, NPP of 92%, NPN of 75%. The resistive values index obtained 0ff 0.795 with 95.5% sensitivity, 75% specificity, 84% accuracy, 75% NPP, and 95.5% NPN. When compared with Doppler ultrasound and elastography, the elastography was superior in determining benign and malignant cervical lymphadenopathy with 95.4% sensitivity, 96.4% specificity, 96% accuracy, 95.4% NPP and NPN of 96.4 %. Thus, Doppler ultrasound and elastography had high diagnostic values, which could be used to determine both benign and malignant cervical lymphadenopathy.
KORELASI UKURAN KETEBALAN KORTEKS DAN RESISTIVE INDEX GINJAL BERDASARKAN PEMERIKSAAN ULTRASONOGRAFI PADA PASIEN HIDRONEFROSIS Ferawati Dakio; Nurlaily Idris; Mirna Muis; Andi Alfian; Hasyim Kasim; Bachtiar Murtala
Mandala Of Health Vol 12 No 2 (2019): Mandala Of Health
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (411.328 KB) | DOI: 10.20884/1.mandala.2019.12.2.1279

Abstract

Hidronefrosis dapat terjadi pada satu atau kedua ginjal yang menyebabkan aliran urine menjadi lemah dan mengganggu fungsi dari ginjal itu sendiri.Penelitian ini bertujuan mengetahui korelasi ketebalan korteks ginjal dan resistive index ginjal berdasarkan pemeriksaan ultrasonografi pada pasien hidronefrosis. Penelitian ini dilakukan di bagian Radiologi Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar dari Mei sampai dengan Agustus 2018. Desain penelitian yang digunakan adalah observasional dengan rancangan potong lintang.Sampel penelitian sebanyak empat puluh orang yang memiliki klinis hidronefrosis. Pemeriksaan ultrasonografi grayscale terhadap pasien dilakukan untuk mengukur ketebalan korteks ginjal yang dilakukan di bagian tengah ginjal pada potongan longitudinal dan diukur dari puncak piramid tegak lurus ke arah kapsul, kemudian dilanjutkan pemeriksaan ultrasonografi doppler di arteri interlobar atau arcuata pada pole superior, median, dan inferior ginjal untuk menilai renal resistiveindex. Data dianalisis dengan analisis statistik melalui uji korelasi Spearman dan Pearson.Hasil penelitian menunjukkan bahwa rerata sampel penelitian mengalami hidronefrosis derajat ringan. Mean tebal korteks ginjal kanan pada penelitian ini 0,9 cm (0,26-1,79cm) dan ginjal kiri 0,84 cm (0,22-1,57cm). Terdapat korelasi yang bermakna antara derajat hidronefrosis dengan ketebalan korteks ginjal kanan dan kiri dengan arah korelasi negatif (p=0,0001). Kecenderungan peningkatan derajat hidronefrosis, meningkatkan nilai resistive index meskipun secara statistik tidak bermakna. Tidak terdapat korelasi antara ketebalan korteks dan resistive index ginjal berdasarkan pemeriksaan ultrasonografi. Hydronephrosis can occur in one or both kidneys which causes the flow of urine to become weak and interfere with the function of the kidney. This research aimed to investigate the correlation between the cortex thickness and the resistive index of kidney based on the ultrasonography examination in hydronephrosis patients. The research was conducted in Radiology Department of Dr. Wahidin Sudirohusodo General Hospital, Makassar from May through August 2018. The research design used was observational using the cross sectional design. The total samples comprised 40 samples with clinical hydronephrosis. The examination of ultrasonography grayscale was carried out in order to measure the cortex thickness of the kidneys in the central parts of kidneys and the longitudinal cut was measured from the pyramid top straight down the capsule, then it was continued with the Doppler ultrasonography examination in the interlobare artery or arcute at superior pole, median and inferior kidney in order to evaluate the renal resistive index. The data were analyzed using the statistical analysis through the correlation tests of Spearman and Pearson. The research results indicated that the mean research samples had experienced the light hydronephrosis. The mean cortex thickness of the right kidney was 0.9 cm (0.26 - 1.79 cm), and that of the left kidnet was 0.84 cm (0.22 - 1.57 cm). There was a significant correlation between the degree of hydronephrosis and the cortex thickness of the right and the left kidneys, with the direction of the negative correlation (p=0.0001). There was a tendency of the increase of hydronephrosis degree to increase the value of resistive index, though statistically it was insignificant. There was no correlation between the cortex thickness and the resistive index of kidney based on the ultrasonogrphy examination.
KESESUAIAN RENAL RESISTIVE INDEX DENGAN ESTIMATED GLOMELULAR FILTRATION RATE (eGFR) PADA PENYAKIT GINJAL KRONIK hantoro anggara
Mandala Of Health Vol 14 No 2 (2021): Mandala Of Health
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (183.788 KB) | DOI: 10.20884/1.mandala.2021.14.2.1280

Abstract

Penyakit ginjal kronik adalah abnormalitas dari struktur atau fungsi ginjal selama lebih 3 bulan,berdasarkan adanya penyebab, kategori GFR dan albuminuria. Diagnosis gagal ginjal dapat diperiksa secara langsung dan tidak langsung. Pemeriksaan secara langsung dapat dilakukan dengan pemeriksaan biopsi ginjal. Pemeriksaan tidak langsung yaitu dengan pemeriksaan radiologi. Pemeriksaan ultrasonography (USG) adalah salah satu modalitas pemeriksaan radiologi yang sering digunakan untuk pemeriksaan, evaluasi ginjal pada pasien penyakit ginjal kronik (PGK). Pemeriksaan doppler renal resistive index (RRI) dapat menilai kelainan vaskuler yang terjadi pada ginjal. Penelitian ini bertujuan mengetahui adanya kesesuaian resistive index ginjal dengan estimated glomelular fitration rate (e-GFR) pada penyakit ginjal kronik berdasarkan pemeriksaan USG doppler ginjal. Penelitian ini dilakukan di Bagian Radiologi RS Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar selama Juni-Agustus 2018. Jumlah sampel penelitian sebanyak 32 orang (laki—laki 23 dan perempuan 9 orang dengan rentang umur 18—70 tahun). Rancangan penelitian ini menggunakan kajian potong lintang. Pertama dilakukan perhitungan e-GFR MDRD, kemudian pemeriksaan u!trasonografi Doppler ginjal. rentang nilai resistive index kedua ginjal 0,58-0,80 dengan nilai rerata 0,72. Rentang nilai e-GFR MDRD 2,43—55,43 ml/mnt/1, 73m2. Data dianalisis dengan uji korelasi Spearman. Hasil penelitian menunjukkan terdapat kesesuaian dengan arah korelasi negatif antara nilai rerata resistive index dengan e-GFR (r=-0,603; p=0,000)
NILAI DIAGNOSTIK ULTRASONOGRAFI DOPPLER DALAM MENENTUKAN KEGANASAN TUMOR OVARIUM DIBANDINGKAN HASIL HISTOPATOLOGI Nurhayati Nurhayati; Mirna Muis; Muhammad Ilyas
Mandala Of Health Vol 12 No 2 (2019): Mandala Of Health
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (226.114 KB) | DOI: 10.20884/1.mandala.2019.12.2.1291

Abstract

Kanker ovarium merupakan keganasan organ viseral dan paling mematikan serta dianggap silent killer. Kanker ini umumnya baru menimbulkan keluhan bila telah menyebar ke rongga peritoneum atau organ visera lainnya. Pada tingkat ini penyakit telah mencapai stadium lanjut sehingga tindakan pembedahan dan terapi adjuvan seringkali tidak menolong. Kurangnya gejala awal maupun sensitifitas skrining serta teknik deteksi dini merupakan alasan keterlambatan dalam diagnosis. Pengenalan dini kanker ovarium stadium awal berdasarkan pemeriksaan fisik saja tidak cukup sehingga perlu dilengkapi pemeriksaan radiologi seperti Ultrasonografi (USG), Computted Tomography Scan, Magnetic Resonance Imaging (MRI). USG Doppler adalah teknik pencitraan yang sering digunakan, noninvasif, biaya relatif murah, dan ditoleransi dengan baik. Penggunaan USG Doppler dimungkinkan untuk menilai vaskularisasi tumor dan nilai resistive index. Penelitian ini bertujuan mengetahui nilai diagnostik USG Doppler dalam menentukan keganasan tumor ovarium dibandingkan hasil histopatologi. Penelitian ini dilaksanakan di Bagian Radiologi RS. Dr. Wahidin Sudirohusodo dan RS. Universitas Hasanuddin, Makassar dimulai pada bulan Juni-Agustus 2018. Desain penelitian menggunakan uji diagnostik. Sebanyak 55 sampel dengan klinis tumor ovarium umur 14-67 tahun dilakukan pemeriksaan USG Doppler untuk menilai distribusi vaskuler, jumlah vaskuler, dan nilai resistive index, dilanjutkan sistem kategori untuk menentukan sifat tumor jinak atau ganas. Ganas, jika terdapat ≥ 2 kriteria Doppler ganas, dan jinak jika terdapat < 2 kriteria Doppler ganas. Hasil diagnosis USG Doppler dibandingkan dengan hasil histopatologi. Data dianalisis secara statistik berdasarkan uji diagnostik. Hasil penelitian menunjukkan USG Doppler memiliki nilai diagnostik yang cukup tinggi dalam menilai keganasan tumor ovarium dengan sensitivitas 94,7%, spesifisitas 70,6%, nilai prediksi posistif 87,8%, nilai prediksi negatif 85,7% dan akurasi 87,2%. Ovarian cancer is a visceral organ malignancy that is lethal and is considered as “silent killer”. This cancer typically cause complaint if it has spread to peritoneum cavity or other visceral organ where the disease reached late stage, thus, surgical or adjuvant therapy is not beneficial anymore. The lack of early manifestation, screening sensitivity and difficulty in early detection technique are reasons for delay diagnosis. Early detection of ovarian cancer based on physical examination is not sufficient, and should be completed with imaging studies such as USG, CT scan, MRI and nuclear medicine. Doppler US is a technique that is non-invasive, relatively cheap and well-tolerated. This examination may assessed tumor vascularization and resistive index. This study aimed to investigate the diagnostic values of Doppler Ultrasound in determining the malignancy of ovarian tumor compared with result of histopathology. This study was conducted in Radiology Department of Dr.Wahidin Sudirohusodo Hospital and Hasanuddin University Hospital, Makassar from June through August 2018. Design of the study was diagnostic test. Doppler Ultrasound examination was carried on 55 samples with clinical sign of ovarian tumor aged between 14-67 years to evaluate the vascular distribution, number of vascular, and values of resistive index; followed by categorical system to determine the characteristics of benign or malignant ovarian tumor. The lesion is considered malignant if two or more Doppler malignant criteria were found, and benign if less than two criteria were found. The result of Doppler was compared to the result of histopathology. Data were analyzed statistically based on diagnostic test. This study result showed that Doppler Ultrasound had diagnostic value which was high enough to evaluate tumor malignancy with sensitivity of 94.7%, specificity of 70.6%, positive predictive value of 87.8%, negative predictive value of 85.7%, and the accuracy of 87.2%.
Hubungan Lingkar Pinggang Dengan Kejadian Herniasi Nukleus Pulposus (HNP) di RSUD Margono Soekarjo Purwokerto fatiha sri utami tamad; Mohamad Faqih; Massita dwi yuliani
Mandala Of Health Vol 14 No 2 (2021): Mandala Of Health
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (238.663 KB) | DOI: 10.20884/1.mandala.2021.14.2.1298

Abstract

Latar Belakang : Angka obesitas di beberapa kota di Indonesia mengalami peningkatan sehingga berdampak serius terhadap pembangunan bangsa Indonesiadi bidang kesehatan. Terdapat dua jenis obesitas, yakni obesitas umum dan obesitas sentral. Obesitas sentral dianggap sebagai faktor risiko yang berkaitan erat dengan beberapa penyakit kronis. Cara mengukurnya dengan menggunakan ukuran lingkar pinggang (LP). Dikatakan abnormal jika laki-laki memiliki lingkar pinggang >90 cm, atau perempuan dengan lingkar pinggang >80 cm. Jika seseorang mengalami obesitas sentral maka kelebihan berat badan berpusat di daerah pinggang yang menambah beban vertebra segmen lumbal dan tekanan pada diskus interertebralis sehingga rentan terjadi herniasi pada daerah tersebut. Tujuan Penelitian : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan lingkar pinggang dengan kejadian Herniasi Nukleus Pulposus (HNP) di RSUD Margono Soekarjo Purwokerto. Metode : Desain penelitian ini adalah observasional analitik dengan pendekatan kasus kontrol. Diagnosis HNP ditegakkan oleh dokter ahli berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang (MRI). Hasil penelitian dianalisis dengan Chi Square. Hasil : Hasil penelitian dengan analisis Chi Square menunjukkan terdapat hubungan lingkar pinggang dengan kejadian Herniasi Nukleus Pulposus (HNP) di RSUD Margono Soekarjo Purwokerto (OR: 0,153; 95% CI:0,071-0,332 : p=0,000) Kesimpulan : Berdasarkan hasil penelitian, dapat dinyatakan bahwa terdapat hubungan lingkar pinggang dengan kejadian Herniasi Nukleus Pulposus (HNP) di RSUD Margono Soekarjo Purwokerto.
UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI DAN FITOKIMIA KULIT BAWANG MERAH (Allium cepa L.) HASIL EKSTRAKSI METODE Microwave Assisted Extraction (MAE) Fitria Dewi Sulistiyono; Trirakhma Sofihidayati; Bina Lohitasari
Mandala Of Health Vol 11 No 2 (2018): Mandala Of Health
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (308.066 KB) | DOI: 10.20884/1.mandala.2018.11.2.1316

Abstract

Ekstrak kulit bawang merah mengandung flavonoid, polifenol, saponin, terpenoid dan alkaloid. Metode ekstraksi modern dengan memanfaatkan radiasi gelombang mikro yang disebut dengan MAE (Microwave Assisted Extraction) belum banyak dilakukan. Metode MAE terbukti lebih efektif karena pemanasan pelarut secara cepat dan efisien dibandingkan metode ekstraksi secara konvensional. Tujuan penelitan ini adalah mengetahui senyawa fitokimia dan aktivitas ekstrak kulit bawang merah dengan metode MAE pada Staphylococcus aureus. Deteksi senyawa fitokimia dilakukan dengan metode kualitatif, yaitu ada tidaknya senyawa flavonoid, saponin, alkaloid dan tanin. Aktivitas ekstrak kulit bawang merah terhadap S.aureus dilakukan dengan metode kertas cakram dengan melihat zona bening/hambat yang dihasilkan. Konsentrasi ekstrak yang digunakan adalah 5, 10, 15, 20 dan 25% (b/v). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ektrak kulit bawang merah mempunyai senyawa flavonoid, saponin dan tanin. Ekstrak kulit bawang merah dapat menghambat pertumbuhan S.aureus ditunjukkan dengan adanya zona bening dari kosentrasi 5, 10, 15, 20 dan 25% (b/v) adalah 14; 15,5; 16; 19; 19,5 mm. Hasil tersebut menunjukan bahwa MAE lebih efektif daripada metode konvensional (maserasi) dalam menghambat S. aureus. Berdasarkan hasil aktivitas antibakteri, ekstrak kulit bawang merah dapat dimanfaatkan dalam dunia industri sebagai salah satu komponen produk pencegahan infeksi bakteri. Onion skin extract containing flavonoid , catakin , saponin , terpenoid and alkaloid . Microwave Assisted Extraction (MAE) is modern method with microwave radiation. MAE have proven more effective because a solvent warming quickly and more efficient compared other methode (maseration). This study aims to explore the phytochemical activity presenced in onion skin extract. that was obtained by the Microwave Assited Extraction (MAE) method and to evaluate the antibacterial activity against Staphilococcus aureus. The phytochemical screening of onion skin extracted by using MAE revealed the presence of alkaloids, saponins, tannins and flavonoids. The antibacterial activity of onion skin extract was carried out against S. aureus by measuring the diameter of bacterial growth inhibition zones through the diffusion method. The results of qualitative phytochemical screening tests on onion skin extract shows that the positive sample contains alkaloids, saponins, tannins and flavonoids. Range of onion skin extract concentration used in this research were 5, 10, 15, 20, and 25% w/v. The inhibition zone of extract at concentration 5, 10, 15, 20, and 25% w/v were 14.00; 15.50; 16.00; 19.00; and 19.50 mm respectively. Base on antibacterial result, onion skin extract can be used as one ingredient in the manufacture of antibacterial products.
HUBUNGAN PERILAKU KEBERSIHAN PERORANGAN DENGAN KECACINGAN PADA SISWA SD SUSUKAN KECAMATAN SUMBANG KABUPATEN BANYUMAS Octavia Permata Sari; Tutik Ida Rosanti; Lieza Dwianasari Susiawan
Mandala Of Health Vol 12 No 1 (2019): Mandala Of Health
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (374.36 KB) | DOI: 10.20884/1.mandala.2019.12.1.1454

Abstract

Kecacingan merupakan salah satu penyebab infeksi yang sering dijumpai di negara tropis, seperti Indonesia. Gejala kecacingan yang tidak khas menyebabkan keberadaan cacing di dalam tubuh penderita tidak diketahui dan sering diabaikan. Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas merupakan salah satu daerah yang memiliki faktor risiko infeksi kecacingan khususnya Soil Transmitted Helmiths (STHs) pada anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi kecacingan dan hubungan perilaku kebersihan perorangan dengan kejadian kecacingan pada siswa SD Susukan, Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas. Identifikasi telur cacing parasit usus dilakukan menggunakan pemeriksaan feses metode apung. Uji Chi square dilakukan untuk melihat adanya hubungan antara variabel perilaku kebersihan perorangan siswa SD Susukan dengan kejadian infeksi kecacingan. Prevalensi kecacingan di SD Susukan, Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas adalah sebesar 6,8% dengan spesies yang ditemukan adalah A. lumbricoides dan Hymenolepis sp. Tidak terdapat hubungan antara variabel perilaku kebersihan perorangan siswa SD dengan kejadian infeksi kecacingan (p=0,197).
DETEKSI VIRUS DENGUE SEROTIPE-3 DAN PERAN SPERMATEKA DALAM PENULARAN SECARA TRANSVENEREAL PADA NYAMUK Aedes aegypti BETINA Devita Febriani Putri; Tusy Triwahyuni
Mandala Of Health Vol 12 No 1 (2019): Mandala Of Health
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (404.817 KB) | DOI: 10.20884/1.mandala.2019.12.1.1513

Abstract

Penularan transvenereal berpotensi menyebarkan virus dengue melalui perilaku kawin. Pengendalian vektor Demam Berdarah Dengue (DBD) dengan strategi perilaku kawin nyamuk secara alami telah diterapkan untuk menurunkan perluasan daerah endemis DBD. Dengan dasar tersebut, pemahaman perilaku kawin nyamuk Ae. aegypti penting untuk diketahui. Penelitian ini bertujuan untuk mendeteksi virus dengue serotipe 3 (DENV-3) pada organ spermateka nyamuk Ae. aegypti betina yang telah terinfeksi DENV-3 secara transvenereal di laboratorium. Pembedahan organ spermateka pada nyamuk betina dilakukan setelah nyamuk Ae. aegypti betina kawin dengan nyamuk Ae. aegypti jantan yang positif DENV-3. Keberadaan DENV-3 pada organ spermateka nyamuk betina dilakukan dengan melakukan pengujian pooling sampel menggunakan metode One-Step RT-PCR untuk screening virus dengue (profil pita DNA spesifik 511 bp). Sampel yang hasil pengujiannya positif virus dengue, dilanjutkan dengan metode Semi-Nested PCR untuk serotyping DENV-3 (profil pita DNA spesifik 290 bp). Hasil penelitian dari 7 sampel pooling organ spermateka dari nyamuk betina positif DENV-3 hasil penularan transvenereal nyamuk jantan positif DENV-3 secara intratorakal menunjukkan tidak ada satupun sampel yang terdeteksi adanya DENV-3. Tidak ditemukan virus DENV-3 pada organ spermateka nyamuk Ae. aegypti betina yang telah terinfeksi DENV-3 secara transvenereal pada 7 sampel yang digunakan. Perlu pengujian lebih lanjut pada organ ovarium nyamuk betina untuk memastikan mekanisme terjadinya penularan transvenereal virus dengue pada Ae. aegypti dalam upaya mencari strategi baru dalam pengendalian vektor DBD
CORRELATION OF PAIN INTENSITY AND HEALTH-RELATED QUALITY OF LIFE IN LUMBAR HERNIATED NUCLEUS PULPOSUS IN RSUD PROF. DR. MARGONO SOEKARJO Raditya Bagas Wicaksono
Mandala Of Health Vol 14 No 2 (2021): Mandala Of Health
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (424.448 KB) | DOI: 10.20884/1.mandala.2021.14.2.1591

Abstract

Low back pain (LBP) was a health problem that disturbed clinically, socially, and economically. There was a worldwide and national increase of LBP every year. Both LBP and ischialgia were specific symptoms of herniated nucleus pulposus (HNP). Location of HNP mostly happened at L4-L5 and L5-S1 level. Chronic pain which existed in HNP patients could affect health-related quality of life. The aim of this study was to analyze correlation of pain intensity and quality of life in HNP patients in RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo in 2011-2013. This was a cross-sectional study with 26 subjects. Bivariable analysis was done by using Pearson correlation test with stratification based on body mass index. This study was approved by the Research Ethics Committee of FK Unsoed.. There was a significant correlation of pain intensity and quality of life (p<0,01) with negative direction and very strong correlation (r=-0,908) in normoweight respondents, and also strong correlation (r=-0,794) in obese respondents. There was also a significant correlation (p<0,001) with negative direction and very strong correlation (r=-0,852) in all respondents. Pain intensity has the strongest correlation with physical disability domain (r=-0,853). Higher pain intensity strongly impacts on the lower quality of life in lumbar HNP patients of RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo, and vice-versa.

Page 2 of 14 | Total Record : 131