cover
Contact Name
Desy Ayu Irma Permatasari
Contact Email
desyayu_permatasari@udb.ac.id
Phone
+6282226572949
Journal Mail Official
dutapharma@udb.ac.id
Editorial Address
Prodi S1-Farmasi, Fakultas Ilmu Kesehatan Jl. KH Samanhudi, No.93 Sondakan, Laweyan, Surakarta, Jawa Tengah. Kode Pos 57145. Telp : (0271) 712826
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Duta Pharma Journal
ISSN : 28307054     EISSN : 2829811X     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Duta Pharma Journal berisikan hasil penelitian di bidang Farmasi sebagai upaya untuk memberikan informasi mengenai perkembangan ilmu farnasi yang didasarkan pada bukti. Penelitian dalam jurnal ini mencakup berbagai aspek ilmu farmasi, yang bermanfaat untuk meningkatkan pengetahuan bagi masyarakat, sejawat tenaga kesehatan dan membantu memecahkan masalah serta memberikan inovasi terbaru di dunia farmasi dalam mewujudkan kualitas pelayanan kesehatan yang lebih baik. Duta Pharma Journal merupakan kumpulan jurnal publikasi dari berbagai aspek ilmu Farmasi,seperti Ekstrak dan Standarisasi Herbal, Teknologi dan Formulasi Sediaan Farmasi, Analisis Farmasi, Kimia Farmasi, Mikrobiologi Farmasi, Penentuan aktivitas Farmakologis dari Natural Product serta Farmasi Klinis dan Komunitas.
Articles 92 Documents
UJI MUTU FISIK DAN OPTIMASI SEDIAAN KRIM EKSTRAK ETANOL DAUN KIRINYUH (CHROMOLAENA ODORATA L.) MENGGUNAKAN METODE SIMPLEX LATTICE DESIGN Fitriawati, Anna; Olga Nordeka, Marcela
Duta Pharma Journal Vol. 4 No. 1 (2024): DUTA PHARMA JOURNAL
Publisher : Universitas Duta Bangsa Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Daun kirinyuh (Chromolaena odorata L.) mengandung senyawa aktif seperti flavonoid, tanin, dan saponin yang memiliki potensi sebagai antiinflamasi dan antimikroba. Untuk meningkatkan stabilitas dan efektivitasnya, ekstrak etanol daun kirinyuh diformulasikan dalam bentuk krim. Sediaan krim memiliki keuntungan berupa kemudahan aplikasi, pelepasan bahan aktif yang terkontrol, serta kemampuan memberikan hidrasi pada kulit. Namun, formulasi sediaan krim memerlukan optimasi untuk menghasilkan produk dengan mutu fisik yang baik. Formulasi optimal krim ini ditentukan menggunakan metode Simplex Lattice Design (SLD). Metode penelitian ini mencakup ekstraksi etanol daun kirinyuh menggunakan metode maserasi, formulasi sediaan krim dengan bahan dasar Asam stearat, setil alkohol, sorbitol, propilen glikol, trietanolamin, methyl paraben, parfum, Optimasi formulasi menggunakan SLD (Simplek Lattice Design) dengan membandingkan dua variabel antara asam stearat dan trietanolamin yang berfungsi sebagai pengemulsi. Uji mutu fisik dilakukan untuk parameter viskositas, pH, daya sebar, daya lekat, dan stabilitas selama penyimpanan 28 hari. Hasil yang didapatkan dari kombinasi formulasi optimal terdiri dari asam stearat 18% dan TEA 2%, menghasilkan krim dengan viskositas 2.48334 cp, pH 7,15, daya sebar 5,38 cm, daya lekat 5,716 detik, dan stabilitas baik tanpa perubahan signifikan dalam warna, bau, atau viskositas. Kirinyuh leaves (Chromolaena odorata L.) contain active compounds such as flavonoids, tannins, and saponins that have the potential as anti-inflammatory and antimicrobial. To increase its stability and effectiveness, ethanol extract of kirinyuh leaves is formulated in the form of a cream. Cream preparations have the advantages of ease of application, controlled release of active ingredients, and the ability to provide hydration to the skin. However, the formulation of cream preparations requires optimization to produce products with good physical quality. The optimal formulation of this cream is determined using the Simplex Lattice Design (SLD) method. This research method includes ethanol extraction of kirinyuh leaves using the maceration method, formulation of cream preparations with basic ingredients of stearic acid, cetyl alcohol, sorbitol, propylene glycol, triethanolamine, methyl paraben, perfume, Optimization of formulation using SLD (Simplex Lattice Design) by comparing two variables between stearic acid and triethanolamine which function as emulsifiers. Physical quality tests were conducted for viscosity, pH, spreadability, adhesion, and stability parameters during 28 days of storage. The results obtained from the optimal formulation combination consisted of 18% stearic acid and 2% TEA, producing a cream with a viscosity of 2.48334 cp, pH 7,15, spreadability of 5.38 cm, adhesion of 5,716 seconds, and good stability without significant changes in color, odor, or viscosity.
UJI TERATOGENIK JAMU BROTOWALI (Tinospora Crispa) DAN DAUN PEPAYA (Carica Papaya) TERHADAP FETUS MENCIT PUTIH (Mus Musculus) : UJI TERATOGENIK JAMU BROTOWALI (Tinospora Crispa) DAN DAUN PEPAYA (Carica Papaya) TERHADAP FETUS MENCIT PUTIH (Mus Musculus) bagas ardiyantoro; Fitriana, Mona
Duta Pharma Journal Vol. 4 No. 1 (2024): DUTA PHARMA JOURNAL
Publisher : Universitas Duta Bangsa Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jamu brotowali dan daun pepaya merupakan ramuan tradisional yang umum dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia. Namun, informasi terkait potensi efek teratogenik dari konsumsi jamu ini masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dampak teratogenik dari pemberian jamu brotowali dan daun pepaya pada mencit hamil (Mus musculus). Sebanyak 35 ekor mencit putih dibagi ke dalam lima kelompok perlakuan. Kelompok pertama diberi aquadest sebagai kontrol normal, sedangkan kelompok kedua diberi injeksi intravena cyclophosphamide dengan dosis 50 mg/kg berat badan. Kelompok ketiga, keempat, dan kelima menerima jamu brotowali dan daun pepaya dengan dosis masing-masing 0,26; 0,52; dan 1,04 ml/kg berat badan. Pemberian jamu dilakukan selama periode organogenesis, dan pada hari ke-18 kehamilan, mencit dibedah secara laparotomi untuk mengambil janin. Pengamatan meliputi analisis biometrik, morfologi makroskopis, dan kelainan kerangka untuk menilai efek teratogenik. Hasil menunjukkan bahwa jamu brotowali dan daun pepaya memiliki potensi teratogenik, terutama pada dosis lebih dari 1,04 ml/kg berat badan.
UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL, FRAKSI N-HEKSAN, FRAKSI ETIL ASETAT, FRAKSI AIR DAUN RAMBUTAN (Nephelium lappaceum L.) TERHADAP BAKTERI Propionibacterium acnes ATCC 6919 Rizki Utami, Tiara; Jayak Pratama, Kharisma; Rahmatillah, Annie
Duta Pharma Journal Vol. 5 No. 2 (2025): Duta Pharma Journal
Publisher : Universitas Duta Bangsa Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47701/f5yn2258

Abstract

Latar belakang: Infeksi kulit umumnya disebabkan bakteri Propionibacterium acnes. Meningkatnya kasus resistensi antibiotik, menjadikan para peneliti mulai menggunakan tanaman sebagai alternatif pengobatan. Daun rambutan mengandung senyawa aktif tanin, alkaloid, saponin dan flavonoid yang berperan sebagai antibakteri. Tujuan: penelitian ini untuk mengetahui kemampuan daya hambat antibakteri ekstrak etanol dan fraksi dari daun rambutan. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen laboratorium. Metode: ekstraksi yang digunakan yaitu maserasi dengan pelarut etanol 70%. Ekstrak yang diperoleh difraksinasi menggunakan pelarut n-heksan, etil asetat, dan air. Ekstrak dan fraksi dilarutkan dengan DMSO 5% dengan konsentrasi 30%, 40%, 50% dan diuji aktivitas antibakterinya dengan metode disc diffusion untuk melihat zona hambatnya. Kontrol positif menggunakan disk clindamycin, sedangkan kontrol negatif menggunakan DMSO 5%. Hasil: penelitian menunjukkan zona hambat daun rambutan terhadap pertumbuhan Propionibacterium acnes ATCC 6919 diurutkan dari yang paling besar fraksi etil asetat konsentrasi tertinggi 50% rata-rata 8,36 mm, ekstrak etanol konsentrasi tertinggi 50% yaitu 5,3 mm, fraksi n-heksan konsentrasi tertinggi 50% rata-rata 3,00 mm, dan fraksi air konsentrasi tinggi 50% rata-rata 1,06 mm. Data dianalisis menggunakan SPSS 23 dengan metode ANOVA. Kesimpulan: signifikansi ANOVA menunjukkan nilai 0,00 yang berarti p < 0,05. Hal ini mengindikasikan terdapat perbedaan yang signifikan dalam diameter zona hambat antar kelompok sampel yang diuji.
PERBEDAAN KADAR VITAMIN C (ASCORBIC ACID) PADA URINE PRIA DAN WANITA SEHAT SETELAH MENGKONSUMSI TABLET VITAMIN C MENGGUNAKAN METODE SPEKTROFOTOMETRI UV-VIS Novitasari, Anik Eko; Khoirun Nisa, Kholifatul
Duta Pharma Journal Vol. 5 No. 2 (2025): Duta Pharma Journal
Publisher : Universitas Duta Bangsa Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47701/pcrxf895

Abstract

Latar belakang : Vitamin C dibutuhkan sebagai antioksidan, dan efektif melawan zat radikal bebas.  Berdasarkan AKG Kemenkes RI konsumsi vitamin C bagi pria dianjurkan 90 mg dan wanita 75 mg setiap harinya. Tujuan : penelitian untuk mengetahui perbedaan kadar vitamin C dalam urine pria dan wanita sehat. Metode : Sampel yang digunakan adalah urine pria dan wanita yang mengonsumsi tablet penambah vitamin C dengan dosis 500 mg, yang terdiri dari 16 pria dan 16 wanita. Rancangan penelitian ini adalah dengan observasional komparatif. Analisis kadar vitamin C dalam urine dilakukan dengan cara preparasi sampel menggunakan  campuran urine dan TCA 6% dengan perbandingan (1:4). Metode analisis yang digunakan adalah spektrofotometri uv vis dengan panjang gelombang maksimum 295 nm. Hasil : sampel pria didapatkan jumlah rata-rata kadar vitamin C dalam urine adalah 144,60 mg/L sedangkan pada wanita diperoleh jumlah rata-rata 68,90 mg/L. Data  kadar vitamin C dalam urine pria dan wanita dilakukan uji statistik Independent Sample T-Test, diperoleh hasil (p < 0,05). Kesimpulan : Perbedaan kadar vitamin C dalam urine pria dan wanita pasca suplementasi mengindikasikan adanya variasi ekskresi berbasis jenis kelamin yang bermakna secara statistik, yang berimplikasi pada pentingnya konseling suplementasi rasional, kewaspadaan interpretasi hasil urinalisis pada pengguna vitamin C dosis tinggi, serta potensi pengembangan strategi pemantauan status vitamin C melalui urine.
PENENTUAN NILAI SUN PROTECTIVE FACTOR (SPF) EKSTRAK DAN FRAKSI n-HEKSAN, ETIL ASETAT, AIR DAUN BINAHONG (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis) MENGGUNAKAN SPEKTROFOTOMETER UV-VIS Istiqomah Ulfa; Siwi Artini, Kusumaningtyas; Siska Wardani, Tatiana
Duta Pharma Journal Vol. 5 No. 2 (2025): Duta Pharma Journal
Publisher : Universitas Duta Bangsa Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47701/3ex4f603

Abstract

Latar Belakang : Indonesia merupakan negara beriklim tropis dengan intensitas sinar matahari cukup tinggi. Untuk mengurangi dampak negatif dari paparan sinar ultraviolet dapat menggunakan tabir surya (Karina, 2015). Tabir surya alami dapat dapat diperoleh dari tanaman yang mengandung flavonoid. Tujuan : penelitian ini adalah mengetahui nilai SPF dan keefektifan dari ekstrak dan fraksi daun binahong (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis). Metode : Ekstraksi daun binahong (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis) dilakukan dengan maserasi menggunakan pelarut etanol 96%. Kemudian dilanjutkan proses fraksinasi. Penelitian dilakukan secara in vitro menggunakan Spektrofotometri UV-Vis. Absorbansi ekstrak dan fraksi daun binahong (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis) diukur pada panjang gelombang 290-320 nm. Penentuan nilai SPF didasarkan pada persamaan Mansur. Hasil :  Nilai SPF pada konsentrasi 50 ppm, 100 ppm, 200 ppm, 400 ppm, 800 ppm berturut turut yaitu ekstrak daun binahong (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis) 1,61; 3,11; 6,73; 13,21; 14,32. Fraksi n-Heksan 0,31±0,03; 0,34±0,05; 1,47±0,29; 6,31±0,02; 6,89±0,07. Fraksi etil asetat 3,20±0,38; 7,78±0,14; 9,77±0,47; 19,72±0,52; 32,30±0,58. Fraksi air 0,44±0,06; 0,82±0,02; 1,37±0,51; 6,53±0,12; 7,26±0,35. Kesimpulan : Nilai SPF tertinggi terdapat pada fraksi etil asetat konsentrai 800 ppm yaitu 32,30±0,58 dengan efektivitas kategori perlindungan ultra mampu melindungi kulit lebih lama dari paparan sinar matahari selama 5 jam 23 menit.
PROFIL PENGGUNAAN ANALGESIK NON OPIOID PADA PASIEN GINGIVITIS DI KLINIK GIGI MD Saputri, Ika Sutra Perwirahayu Aji
Duta Pharma Journal Vol. 5 No. 2 (2025): Duta Pharma Journal
Publisher : Universitas Duta Bangsa Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47701/9430f742

Abstract

Latar belakang: Gingivitis merupakan salah satu masalah kesehatan gigi dan mulut dengan prevalensi tinggi di Indonesia dan sering disertai keluhan nyeri. Penanganan nyeri pada pasien gingivitis umumnya dilakukan dengan pemberian analgesik, terutama analgesik non opioid, yang perlu dievaluasi penggunaannya untuk menjamin terapi yang rasional dan aman. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi profil penggunaan analgesik non opioid pada pasien gingivitis di Klinik Gigi MD. Metode: Penelitian ini menggunakan desain deskriptif non-eksperimental dengan pendekatan retrospektif. Data diperoleh dari rekam medis pasien gingivitis yang berkunjung ke Klinik Gigi MD selama periode Januari–Desember 2024. Sampel sebanyak 200 pasien dipilih menggunakan rumus Slovin. Variabel yang dianalisis meliputi jenis kelamin, usia, dan jenis analgesik non opioid yang diresepkan. Data dianalisis secara deskriptif dalam bentuk persentase. Hasil: Dari 200 pasien, mayoritas berjenis kelamin perempuan yaitu 106 pasien (53%), dan kelompok usia terbanyak adalah 26–35 tahun sebanyak 72 pasien (36%). Analgesik non opioid yang paling banyak diresepkan adalah parasetamol 500 mg sebanyak 65 pasien (32,5%), diikuti ibuprofen 61 pasien (30,5%), natrium diklofenak 41 pasien (20,5%), dan asam mefenamat 33 pasien (16,5%). Kesimpulan: Penggunaan analgesik non opioid pada pasien gingivitis di Klinik Gigi MD didominasi oleh parasetamol 500 mg sebagai pilihan utama dalam penanganan nyeri. Pola peresepan ini menunjukkan kecenderungan yang sesuai dengan pedoman terapi nyeri, dengan penggunaan analgesik non opioid yang relatif rasional dan aman untuk pasien gingivitis.
FORMULASI DAN UJI EFEKTIVITAS SEDIAAN LOTION EKSTRAK HERBA TIMI (Thymus vulgaris L.) SEBAGAI TABIR SURYA Suhesti, Iin; Eka Pangesti, Diaz; Andini, Priska; Oktaviyana Aswandari, Syalva
Duta Pharma Journal Vol. 5 No. 2 (2025): Duta Pharma Journal
Publisher : Universitas Duta Bangsa Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47701/n6vgnd31

Abstract

Latar belakang: Paparan sinar ultraviolet (UV) yang tinggi dapat menyebabkan berbagai gangguan kulit, sehingga diperlukan tabir surya yang aman dan efektif. Herba timi (Thymus vulgaris L.) diketahui mengandung flavonoid dengan aktivitas antioksidan yang berpotensi sebagai bahan aktif tabir surya alami. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk memformulasi sediaan lotion ekstrak etanol herba timi serta mengevaluasi mutu fisik dan efektivitasnya sebagai tabir surya berdasarkan nilai Sun Protection Factor (SPF). Metode: Ekstrak herba timi diperoleh melalui metode maserasi menggunakan etanol 96%. Lotion diformulasikan dalam tiga variasi konsentrasi ekstrak, yaitu 0,5% (F1), 0,75% (F2), dan 1% (F3). Evaluasi mutu fisik meliputi uji organoleptis, homogenitas, daya lekat, daya sebar, viskositas, pH, dan uji hedonik. Efektivitas tabir surya ditentukan secara in vitro menggunakan spektrofotometer UV-Vis dengan metode Mansur untuk menghitung nilai SPF, baik pada ekstrak maupun sediaan lotion. Hasil: Ekstrak etanol herba timi memiliki nilai SPF sangat tinggi dengan kategori proteksi ultra (36,02–36,51). Seluruh formula lotion menunjukkan karakteristik organoleptis yang baik, homogen, nilai pH sesuai standar, serta viskositas dan daya sebar yang memenuhi persyaratan. Variasi konsentrasi ekstrak tidak memberikan perbedaan signifikan terhadap daya lekat dan viskositas, namun meningkatkan nilai daya sebar dan SPF. Nilai SPF sediaan lotion berturut-turut adalah 1,93±0,03 (minimal) untuk F1, 3,42±0,64 (minimal) untuk F2, dan 5,04±0,60 (sedang) untuk F3. Uji hedonik menunjukkan bahwa formula F3 paling disukai panelis. Kesimpulan: Lotion ekstrak etanol herba timi berpotensi dikembangkan sebagai tabir surya alami, dengan konsentrasi 1% memberikan karakteristik fisik terbaik dan efektivitas perlindungan sinar UV paling optimal dibandingkan formula lainnya.
ANALISIS KUALITATIF DAN KUANTITATIF ZAT WARNA RHODAMIN B PADA SEDIAAN LIPSTIK DI WILAYAH REMBANG Rianti, Rini; Purwanjani, Wahyu; Saraswati, Maulita
Duta Pharma Journal Vol. 5 No. 2 (2025): Duta Pharma Journal
Publisher : Universitas Duta Bangsa Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47701/fqxv7659

Abstract

Latar Belakang: Rhodamin B merupakan pewarna sintetis yang bersifat toksik dan karsinogenik serta dilarang penggunaannya dalam produk kosmetik. Namun, masih ditemukan lipstik berharga murah dengan warna mencolok yang diduga mengandung bahan tersebut, termasuk di wilayah Rembang. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran terhadap keamanan kosmetik yang beredar di masyarakat. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kandungan Rhodamin B secara kualitatif dan kuantitatif pada sediaan lipstik yang beredar di wilayah Rembang. Metode: Penelitian menggunakan metode Kromatografi Lapis Tipis (KLT) untuk analisis kualitatif dan Spektrofotometri UV-Vis untuk analisis kuantitatif. Validitas dan perbandingan data diuji menggunakan ANOVA, sedangkan uji Kruskal–Wallis digunakan sebagai analisis nonparametrik pendukung. Lima sampel lipstik dipilih dengan teknik purposive sampling berdasarkan warna mencolok, merek yang tidak dikenal secara nasional, serta harga Rp 5.000-Rp 20.000. Hasil: Analisis kualitatif menunjukkan bahwa tiga dari lima sampel positif mengandung Rhodamin B, dengan nilai Rf masing-masing R1 0,60; R2 0,45; dan R4 0,46. Analisis kuantitatif menunjukkan kadar Rhodamin B berturut-turut: R1 3,477 mg/kg; R2 0,495 mg/kg; R3 0,207 mg/kg; R4 0,688 mg/kg; dan R5 0,147 mg/kg, dengan sampel R1 memiliki kadar tertinggi. Uji Kruskal–Wallis menghasilkan nilai Asymp. Sig 0,009 (<0,05), yang menunjukkan adanya perbedaan kadar Rhodamin B yang signifikan antar sampel. Kesimpulan: Sebagian sampel lipstik yang beredar di wilayah Rembang terbukti mengandung Rhodamin B, dengan kadar yang bervariasi dan beberapa di antaranya melebihi batas keamanan. Temuan ini menegaskan perlunya pengawasan ketat terhadap peredaran kosmetik dan peningkatan edukasi kepada masyarakat mengenai risiko penggunaan produk berbahaya.
FORMULASI DAN UJI SIFAT FISIK EKSTRAK ETANOL DAUN JATI (Tectona grandis L.,f.) PADA SEDIAAN LIP BALM Parmadi, Anom; Hastuti, Siwi; Ary Pratama, Bangkit
Duta Pharma Journal Vol. 5 No. 2 (2025): Duta Pharma Journal
Publisher : Universitas Duta Bangsa Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47701/a8m5dy13

Abstract

Latar Belakang: Bahan alam banyak dimanfaatkan dalam industri kosmetik, salah satunya daun jati yang mengandung berbagai senyawa bioaktif seperti saponin, flavonoid, alkaloid, tanin, dan pigmen antosianin. Antosianin berperan sebagai pewarna alami sekaligus antioksidan sehingga berpotensi dikembangkan sebagai sediaan lip balm. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh ekstrak daun jati sebagai sumber zat warna antosianin serta mengevaluasi karakteristik fisik dan preferensi panelis terhadap sediaan lip balm yang diformulasikan dengan variasi basis. Metode: Penelitian dilakukan secara eksperimental. Ekstraksi daun jati dilakukan melalui proses maserasi menggunakan pelarut etanol 70%, menghasilkan rendemen sebesar 14,47% b/b. Ekstrak kemudian diformulasikan menjadi lip balm dengan variasi basis, kemudian diuji sifat fisiknya meliputi homogenitas, bentuk, warna, aroma, pH, daya lekat, dan daya sebar. Evaluasi preferensi dilakukan menggunakan uji hedonik. Analisis statistik pada daya lekat dan daya sebar menggunakan uji ANOVA. Hasil: Sediaan lip balm yang dihasilkan memiliki bentuk semi padat, homogen, berwarna oranye, beraroma aromatik, pH rata-rata 5, dan tidak menyebabkan iritasi. Uji preferensi menunjukkan bahwa Formula 2 merupakan yang paling disukai panelis. Uji statistik menunjukkan bahwa variasi basis memberikan pengaruh signifikan terhadap daya lekat (p = 0,001 < 0,05) dan daya sebar (p = 0,000 < 0,05). Formula 2 dengan komposisi basis cera flava 5% dan lanolin 50% memenuhi seluruh parameter evaluasi fisik dan memiliki tingkat penerimaan panelis tertinggi. Kesimpulan: Ekstrak daun jati dapat digunakan sebagai sumber zat warna antosianin untuk sediaan lip balm. Formula 2 merupakan formula terbaik berdasarkan hasil evaluasi sifat fisik dan preferensi panelis.
PENETAPAN KADAR ALKALOID TOTAL PADA EKSTRAK DAUN INSULIN (Smallanthus sonchifolius) DENGAN PELARUT N-HEKSANA, ETIL ASETAT, DAN ETANOL 96% SECARA KUALITATIF DAN KUANTITATIF Dwi, Yenita; Kenanga Sari, Gigih; Purwanjani, Wahyu
Duta Pharma Journal Vol. 5 No. 2 (2025): Duta Pharma Journal
Publisher : Universitas Duta Bangsa Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47701/5qnt9q68

Abstract

Latar belakang: Daun insulin (Smallanthus sonchifolius) merupakan tanaman obat yang banyak dimanfaatkan secara tradisional dan diketahui mengandung berbagai senyawa bioaktif, salah satunya alkaloid yang memiliki aktivitas farmakologis penting. Informasi mengenai kadar alkaloid total daun insulin masih terbatas, terutama terkait pengaruh perbedaan polaritas pelarut dalam proses ekstraksi. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi keberadaan senyawa alkaloid serta menentukan kadar alkaloid total ekstrak daun insulin menggunakan pelarut n-heksana, etil asetat, dan etanol 96%, serta menentukan pelarut yang paling efektif. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan pendekatan deskriptif dan kuantitatif. Ekstraksi dilakukan menggunakan metode maserasi. Uji kualitatif alkaloid dilakukan dengan pereaksi Dragendorff, Mayer, dan Wagner. Penetapan kadar alkaloid total dilakukan secara spektrofotometri UV-Vis menggunakan standar kafein pada panjang gelombang maksimum 286 nm. Data dianalisis menggunakan uji One Way ANOVA. Hasil: Seluruh ekstrak menunjukkan hasil positif mengandung alkaloid. Kadar alkaloid total tertinggi diperoleh pada ekstrak n-heksana sebesar 6,263%, diikuti etil asetat sebesar 4,492% dan etanol 96% sebesar 4,1%. Analisis statistik menunjukkan adanya perbedaan kadar alkaloid yang signifikan antar pelarut (p < 0,05). Kesimpulan: Variasi pelarut berpengaruh signifikan terhadap kadar alkaloid total daun insulin. Pelarut n-heksana merupakan pelarut paling efektif dalam mengekstraksi alkaloid dari daun insulin dibandingkan etil asetat dan etanol 96%.

Page 9 of 10 | Total Record : 92