cover
Contact Name
Nanda Novziransyah
Contact Email
jurnal.ibnunafis@fk.uisu.ac.id
Phone
+6281397312555
Journal Mail Official
jurnal.ibnunafis@fk.uisu.ac.id
Editorial Address
Jl. STM no.77 Kelurahaan Suka Maju Kecamatan Medan Johor Medan 20146 Sumatera Utara
Location
Kota medan,
Sumatera utara
INDONESIA
Jurnal Kedokteran Ibnu Nafis
ISSN : 22526870     EISSN : 26139359     DOI : https://doi.org/10.30743/ibnunafis
Core Subject : Health, Science,
Jurnal Kedokteran Ibnu Nafis merupakan jurnal yang diterbitkan oleh Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara. Jurnal ini diterbitkan setiap 6 bulan yaitu pada bulan Juni dan Desember yang menerima dan menerbitkan artikel penelitian, tinjauan pustaka dan laporan kasus di bidang kedokteran dan kesehatan. Jurnal ini terbit pertama sekali pada bulan Juni 2012. Naskah yang masuk akan diterima oleh editor untuk kemudian akan dilakukan pemeriksaan kemiripan naskah dengan aplikasi Plagiarism Checker. Proses review dilakukan dengan menggunakan metode double blind peer review. Jurnal Kedokteran Ibnu Nafis merupakan jurnal yang memiliki cakupan keilmuan di bidang kedokteran, terutama kedokteran klinis.
Articles 156 Documents
PERSEPSI PASIEN ASPERGILOSIS PARU TERHADAP KUALITAS HIDUP DAN DUKUNGAN KELUARGA DI KOMUNITAS PEDESAAN: PERCEPTIONS OF QUALITY OF LIFE AND FAMILY SUPPORT AMONG PATIENTS WITH PULMONARY ASPERGILLOSIS IN A RURAL COMMUNITY Ikhfana Syafina; Sri Rezeki Arbaningsih
Jurnal Kedokteran Ibnu Nafis Vol. 15 No. 2 (2026): Desember 2026
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30743/jkin.v15i2.1378

Abstract

Aspergilosis paru merupakan infeksi jamur kronis yang sering diabaikan di pedesaan, terutama sebagai sekuela tuberkulosis. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi persepsi pasien terhadap kualitas hidup dan dukungan keluarga di Kecamatan Namorambe, Sumatera Utara. Metode kualitatif fenomenologi digunakan pada 12 pasien melalui wawancara mendalam dan observasi. Hasil menunjukkan sebagian besar pasien adalah perempuan (58,3%), berusia 51–65 tahun (50%), berpendidikan rendah (75% SD ke bawah), dan memiliki riwayat TB (75%). Kualitas hidup dinilai buruk pada domain fisik (83,3%), psikologis (66,7%), hubungan sosial (50%), dan lingkungan (91,7%). Dukungan keluarga paling kurang pada aspek informatif (83,3%) dan emosional (66,7%), sedangkan dukungan instrumental relatif lebih baik. Kesimpulan: diperlukan intervensi psikoedukasi keluarga dan peningkatan akses layanan kesehatan di pedesaan.
PERSEPSI TENAGA KESEHATAN TERHADAP PENANGANAN KASUS HIV/AIDS DI FASILITAS KESEHATAN PRIMER: STUDI ETNOGRAFI TENTANG HAMBATAN KOMUNIKASI DAN KONSELING: HEALTHCARE WORKERS' PERCEPTIONS OF HIV/AIDS CASE MANAGEMENT IN PRIMARY HEALTH CARE FACILITIES: AN ETHNOGRAPHIC STUDY ON COMMUNICATION AND COUNSELING BARRIERS Juliyanti
Jurnal Kedokteran Ibnu Nafis Vol. 15 No. 2 (2026): Desember 2026
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30743/jkin.v15i2.1379

Abstract

Penelitian ini mengeksplorasi persepsi tenaga kesehatan terhadap penanganan kasus HIV/AIDS di fasilitas kesehatan primer, dengan fokus pada hambatan komunikasi dan konseling. Menggunakan pendekatan etnografi selama empat bulan di tiga puskesmas di Jawa Barat, data dikumpulkan melalui observasi partisipan (120 jam), wawancara mendalam dengan 24 tenaga kesehatan, dan analisis dokumen. Hasil penelitian menunjukkan tiga hambatan utama: (1) kecanggungan komunikasi tentang perilaku berisiko (83,3% tenaga kesehatan merasa canggung), (2) konseling pasca-tes yang dangkal (80% hanya memberikan rujukan tanpa dukungan emosional), dan (3) stigma multidimensi yang meliputi stigma interaksional (54% menghindari kontak mata), struktural (100% puskesmas tidak memiliki ruang konseling privat), dan internal (41,7% merasa tidak pantas merawat ODHIV). Hambatan-hambatan ini membentuk lingkaran setan yang menyebabkan tingginya angka loss to follow-up (47%). Penelitian ini menyimpulkan bahwa hambatan komunikasi dan konseling bukanlah masalah teknis semata, melainkan masalah kultural dan struktural yang membutuhkan intervensi pelatihan berbasis etnografi, penyediaan infrastruktur, serta dukungan psikologis bagi tenaga kesehatan.
PENGALAMAN PENGGUNAAN PRODUK ESTETIKA BERBAHAN DASAR HERBAL: STUDI ETNOGRAFI PADA KOMUNITAS PERAWATAN KULIT TRADISIONAL: USER EXPERIENCE OF HERBAL-BASED AESTHETIC PRODUCTS: AN ETHNOGRAPHIC STUDY OF A TRADITIONAL SKINCARE COMMUNITY Nita Andrini
Jurnal Kedokteran Ibnu Nafis Vol. 15 No. 2 (2026): Desember 2026
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30743/jkin.v15i2.1380

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi pengalaman subjektif anggota komunitas perawatan kulit tradisional dalam menggunakan produk estetika berbahan dasar herbal. Pendekatan kualitatif dengan metode etnografi virtual (netnografi) diterapkan selama lima bulan pada dua komunitas daring, melibatkan 22 partisipan melalui wawancara mendalam dan observasi partisipan. Hasil penelitian menunjukkan tiga tema utama. Pertama, motif peralihan dari produk konvensional ke herbal didominasi oleh reaksi kulit sensitif (81,8%), tradisi keluarga (68,2%), dan kesadaran lingkungan (63,6%). Kedua, ritual penggunaan herbal melibatkan enam tahapan dengan durasi 15-30 menit, menghadirkan pengalaman multi-sensori yang bersifat meditatif dan membangkitkan memori otobiografis. Ketiga, komunitas ini tidak meninggalkan rasionalitas ilmiah; 86,4% partisipan secara aktif memvalidasi pengetahuan tradisional melalui jurnal penelitian, menciptakan epistemik hibrida di mana warisan leluhur dan sains modern saling menguatkan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penggunaan produk herbal merupakan praktik budaya kompleks yang menggabungkan ingatan kolektif, ritual sensorik, dan negosiasi pengetahuan. Implikasi praktisnya, pengembangan produk lokal berbasis herbal perlu mempertimbangkan makna ritualistik dan nilai kultural, bukan hanya aspek fungsional. Pelestarian pengetahuan tradisional yang adaptif terhadap validasi ilmiah direkomendasikan untuk menjaga keberlanjutan kearifan lokal.
MAKNA ESTETIKA KULIT BAGI REMAJA PERKOTAAN:ANALISIS WACANA KRITIS TENTANG STANDAR KECANTIKAN DAN PENGGUNAAN KOSMETIK: THE AESTHETIC SIGNIFICANCE OF SKIN FOR URBAN ADOLESCENTS: A CRITICAL DISCOURSE ANALYSIS OF BEAUTY STANDARDS AND COSMETIC USE Riri Arisanty Syafrin Lubis
Jurnal Kedokteran Ibnu Nafis Vol. 15 No. 2 (2026): Desember 2026
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30743/jkin.v15i2.1381

Abstract

Penelitian ini menganalisis makna estetika kulit bagi remaja perkotaan di Kota Medan dengan menggunakan pendekatan Analisis Wacana Kritis model Norman Fairclough. Melalui wawancara mendalam terhadap 15 remaja perempuan, observasi partisipatif, dan dokumentasi media sosial, penelitian mengungkap bahwa standar kecantikan kulit remaja Medan didominasi oleh media sosial (93,3%) dan beauty influencer (80%), dengan ideal kulit putih (80%) dan glass skin (73,3%) sebagai konstruksi hegemonik. Praktik konsumsi kosmetik bersifat konsumtif (46,7% membeli 3-4 produk per bulan) dan sarat makna simbolik sebagai peningkat kepercayaan diri (86,7%) dan penanda status sosial. Dampak psikologis yang ditimbulkan meliputi tekanan lingkungan (80%), perbandingan sosial (73,3%), kecemasan berlebihan (60%), dan body shaming (53,3%). Namun demikian, ditemukan pula strategi negosiasi seperti pemilihan produk terdaftar BPOM (46,7%) dan pembatasan konsumsi media sosial (33,3%). Penelitian ini menyimpulkan bahwa estetika kulit remaja Medan merupakan medan pertarungan simbolik antara hegemoni industri kecantikan digital dan upaya remaja mempertahankan agensi serta penerimaan diri.
PENGALAMAN IBU POSTPARTUM DENGAN DEPRESI PASCA MELAHIRKAN: STUDI FENOMENOLOGI TENTANG DUKUNGAN KELUARGA DAN HAMBATAN PERAWATAN KESEHATAN MENTAL: EXPERIENCES OF POSTPARTUM MOTHERS WITH POSTPARTUM DEPRESSION: A PHENOMENOLOGICAL STUDY ON FAMILY SUPPORT AND BARRIERS TO MENTAL HEALTH CARE Dona Wirniaty
Jurnal Kedokteran Ibnu Nafis Vol. 15 No. 2 (2026): Desember 2026
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30743/jkin.v15i2.1382

Abstract

Depresi pascamelahirkan merupakan gangguan mental serius yang sering tidak terdeteksi dan tidak tertangani, terutama karena kompleksitas dukungan keluarga dan hambatan akses layanan kesehatan mental. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi secara mendalam pengalaman ibu postpartum dengan depresi pascamelahirkan, khususnya terkait peran dukungan keluarga serta hambatan yang dihadapi dalam mengakses perawatan. Desain penelitian menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologi interpretatif. Sebanyak 12 ibu postpartum dengan skor EPDS ≥10 diwawancara secara mendalam. Hasil penelitian mengidentifikasi tiga tema utama: (1) pengalaman depresi pascamelahirkan yang ditandai kesedihan terpinggirkan, ketidakberdayaan, dan beban perubahan peran; (2) dinamika dukungan keluarga sebagai pedang bermata dua yang dapat menjadi pelindung sekaligus pemicu stres; (3) hambatan akses layanan mencakup stigma (91,7%), minimnya pengetahuan (83,3%), serta hambatan struktural seperti biaya dan transportasi (75%). Seluruh partisipan mengembangkan strategi koping alternatif namun tidak menggantikan intervensi profesional. Simpulan penelitian menegaskan perlunya edukasi kesehatan mental yang terintegrasi bagi keluarga, penguatan sistem rujukan yang terjangkau, serta pendekatan holistik yang berpusat pada kebutuhan ibu.
KETERKAITAN STATUS GIZI IBU HAMIL DAN MENYUSUI DENGAN PERSEPSI ‘ASI KURANG’ : ASSOCIATION OF MATERNAL NUTRITIONAL STATUS DURING PREGNANCY AND BREASTFEEDING WITH PERCEIVED ‘INSUFFICIENT BREAST MILK’ Siti Alvira Fadhillah; Wiyarni Pambudi
Jurnal Kedokteran Ibnu Nafis Vol. 15 No. 2 (2026): Desember 2026
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30743/jkin.v15i2.1385

Abstract

Salah satu kendala terbesar dalam pemberian ASI eksklusif yang efektif ialah keyakinan bahwa ASI tidak mencukupi. Pandangan ini diyakini dipengaruhi oleh status gizi ibu selama kehamilan dan masa menyusui. Tujuan penelitian ini ialah untuk mencari tahu apakah keyakinan ibu bahwa ASI tidak mencukupi berkaitan dengan status gizinya selama kehamilan dan masa menyusui. Penelitian ini mengadopsi desain cross-sectional dengan sample sebanyak 40 ibu hamil juga menyusui yang dipilih menggunakan metode convenience sampling di Puskesmas Kecamatan Grogol Petamburan, Jakarta Barat. Pengumpulan datanya dilakukan dari wawancara menggunakan kuesioner yang terstruktur dan di analisis secara statistik. Hasil penelitian memperlihatkan bahwasanya tidak ditemukannya korelasi yang signifikan di antara status gizi pada masa kehamilan dan menyusui dengan persepsi suplai ASI rendah (p = 0,663., PR = 1,11), ataupun antara keselarasan kenaikan berat badan pada masa kehamilan merujuk dari rekomendasi Institute of Medicine (IOM) dengan persepsi bahwasanya produksi ASI kurang (p= 0,162., PR = 1,39). Walaupun terdapat predisposisi bahwa ibu yang status gizinya tidak memenuhi kriteria lebih sering beranggapan pasokan ASI tidak memadai, temuan tersebut tidak bermakna secara statistik. Temuan ini menunjukkan bahwa faktor lain, termasuk rasa percaya diri, pengetahuan, dan dukungan sosial, memiliki pengaruh yang lebih besar terhadap persepsi kecukupan ASI. Alhasil, edukasi menyusui beserta konseling laktasi tetap perlu diberikan kepada seluruh ibu hamil dan menyusui tanpa mempertimbangkan status gizinya.