cover
Contact Name
Nanda Novziransyah
Contact Email
jurnal.ibnunafis@fk.uisu.ac.id
Phone
+6281397312555
Journal Mail Official
jurnal.ibnunafis@fk.uisu.ac.id
Editorial Address
Jl. STM no.77 Kelurahaan Suka Maju Kecamatan Medan Johor Medan 20146 Sumatera Utara
Location
Kota medan,
Sumatera utara
INDONESIA
Jurnal Kedokteran Ibnu Nafis
ISSN : 22526870     EISSN : 26139359     DOI : https://doi.org/10.30743/ibnunafis
Core Subject : Health, Science,
Jurnal Kedokteran Ibnu Nafis merupakan jurnal yang diterbitkan oleh Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara. Jurnal ini diterbitkan setiap 6 bulan yaitu pada bulan Juni dan Desember yang menerima dan menerbitkan artikel penelitian, tinjauan pustaka dan laporan kasus di bidang kedokteran dan kesehatan. Jurnal ini terbit pertama sekali pada bulan Juni 2012. Naskah yang masuk akan diterima oleh editor untuk kemudian akan dilakukan pemeriksaan kemiripan naskah dengan aplikasi Plagiarism Checker. Proses review dilakukan dengan menggunakan metode double blind peer review. Jurnal Kedokteran Ibnu Nafis merupakan jurnal yang memiliki cakupan keilmuan di bidang kedokteran, terutama kedokteran klinis.
Articles 156 Documents
KOMPLIKASI MENINGOENCEPHALITIS PADA OTITIS MEDIA SUPURATIF KRONIS DENGAN KOLESTEATOMA: LAPORAN KASUS: COMPLICATIONS OF MENINGOENCEPHALITIS IN CHRONIC SUPPURATIVE OTITIS MEDIA WITH CHOLESTEATOMA: A CASE REPORT Fifin Pradina Duhitatrissari; Edi Handoko
Jurnal Kedokteran Ibnu Nafis Vol. 15 No. 2 (2026): Desember 2026
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30743/jkin.v15i2.1141

Abstract

Meningoencephalitis merupakan salah satu komplikasi intrakranial pada otitis media supuratif kronis (OMSK) dengan kolesteatoma yang sudah jarang dijumpai. Prevalensi meningitis otogenik dilaporkan antara 19-51% pada kasus meningitis bakterial akut. Diperlukan diagnosis dan tindakan yang cepat dan tepat untuk menghindari kematian. Diagnosis ditegakkan dari anamnesa, pemeriksaan fisik serta pemeriksaan penunjang. Penanganan kasus ini adalah secara konservatif dan pembedahan. Di RSSA pada tahun 2014 penderita OMSK dengan kolesteatoma yang dilakukan tindakan operatif berjumlah 18 pasien dan hanya 1 pasien yang mengalami komplikasi intrakranial. Studi ini bertujuan melaporkan satu kasus komplikasi meningoencephalitis pada otitis media supuratif kronis dengan kolesteatoma. Perempuan usia 28 tahun dengan komplikasi meningoencephalitis pada OMSK dengan kolesteatoma. Dari anamnesa dan pemeriksaan fisik didapatkan sakit kepala, kaku kuduk, muntah, perubahan dari status mental atau kesadaran menurun, otore, otalgia, gangguan pendengaran, dan vertigo. CT scan didapatkan hasil Subdural empyema pada tentorium cerebeli bilateral. Pasien ini teratasi dengan mastoidektomi radikal untuk eradikasi sumber infeksi dan pemberian antibiotika selama 44 hari.
STANDAR MINIMUM KELENGKAPAN REKAM MEDIS GIGI UNTUK IDENTIFIKASI FORENSIK : MINIMUM COMPLETENESS STANDARD OF DENTAL RECORDS FOR FORENSIC IDENTIFICATION Fery Setiawan; Basma Rosandi Prakosa; Eko Prastyo; Rahmad Darmawan
Jurnal Kedokteran Ibnu Nafis Vol. 15 No. 2 (2026): Desember 2026
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30743/jkin.v15i2.1214

Abstract

Rekam medis gigi memiliki peran penting dalam identifikasi forensik, terutama dalam proses pencocokan data antemortem dan postmortem pada kasus bencana massal, investigasi kriminal, maupun jenazah tanpa identitas. Meskipun manfaatnya telah diakui secara luas dalam pedoman internasional, hingga saat ini belum terdapat standar universal yang secara eksplisit mendefinisikan komponen minimum rekam medis gigi yang layak digunakan untuk kepentingan forensik. Variasi praktik dokumentasi klinis menyebabkan ketidakkonsistenan kualitas data, yang pada akhirnya dapat menghambat proses identifikasi. Tinjauan naratif ini bertujuan merumuskan kerangka konseptual mengenai standar minimum kelengkapan rekam medis gigi yang dapat diterapkan secara pragmatis dalam praktik klinik umum. Literatur ditelaah secara naratif dengan mengacu pada pedoman internasional, publikasi odontologi forensik, serta praktik dokumentasi klinis yang relevan. Hasil sintesis menunjukkan bahwa tiga komponen utama dapat dikategorikan sebagai ambang minimum, yaitu identitas pasien terverifikasi (nama, tanggal lahir, jenis kelamin), odontogram yang jelas, bertanggal dan ditandatangani, serta minimal satu radiograf diagnostik berupa panoramik atau periapikal. Komponen tambahan seperti CBCT, foto intraoral, dan catatan restorasi memiliki nilai forensik tambahan namun tidak termasuk dalam standar minimum universal karena keterbatasan ketersediaan. Kerangka ini menawarkan pendekatan yang menyeimbangkan kekuatan pembuktian forensik dan keterlaksanaan klinis, serta berpotensi meningkatkan kesiapan forensik dalam praktik kedokteran gigi sehari-hari.
ANALISIS FAKTOR – FAKTOR RISIKO YANG BERHUBUNGAN DENGAN JENIS STROKE DI RUMAH SAKIT BHAYANGKARA TK II MEDAN TAHUN 2023 – 2025: ANALYSIS OF RISK FACTORS THROUGH STROKE TYPES AT RS BHAYANGKARA TK II MEDAN 2023-2025 Kholisa Mahda; Tri Makmur; Nondang Purnama Siregar; Ichwan Alamsyah Lubis; Aulia Novasyra
Jurnal Kedokteran Ibnu Nafis Vol. 15 No. 2 (2026): Desember 2026
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30743/jkin.v15i2.1229

Abstract

Stroke merupakan kondisi kematian jaringan otak secara mendadak akibat gangguan suplai darah dan oksigen ke otak. Kejadian stroke dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti usia, jenis kelamin, tekanan darah, kadar glukosa darah, dan kadar lemak darah. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan faktor-faktor tersebut dengan jenis stroke pada pasien rawat inap di Rumah Sakit Bhayangkara Tingkat II Medan tahun 2023–2025. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional retrospektif menggunakan data rekam medis. Dari 140 rekam medis pasien stroke, sebanyak 58 rekam medis memenuhi kriteria penelitian dan dianalisis. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan Fisher’s Exact Test dengan tingkat kemaknaan p<0,05. Sebagian besar pasien mengalami stroke iskemik, yaitu 49 pasien (84,5%), sedangkan sembilan pasien (15,5%) mengalami stroke hemoragik. Terdapat hubungan yang signifikan antara kategori tekanan darah (p=0,015; OR=0,111) dan kadar lemak darah (p<0,001; OR=0,012) dengan jenis stroke. Usia (p=0,060), jenis kelamin (p=0,067), dan kadar glukosa darah (p=0,110) tidak menunjukkan hubungan yang signifikan dengan jenis stroke. Kategori tekanan darah dan kadar lemak darah berhubungan dengan jenis stroke pada pasien rawat inap di Rumah Sakit Bhayangkara Tingkat II Medan.
GANGGUAN STRES PASCATRAUMA AKIBAT PAPARAN BERULANG TERHADAP KEMATIAN DI LINGKUNGAN MASYARAKAT SELAMA PANDEMI COVID-19: POST-TRAUMATIC STRESS DISORDER RESULTING FROM REPEATED EXPOSURE TO DEATH IN THE COMMUNITY SETTING DURING THE COVID-19 PANDEMIC Adinda Izzatul Afida; Era Catur Prasetya
Jurnal Kedokteran Ibnu Nafis Vol. 15 No. 2 (2026): Desember 2026
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30743/jkin.v15i2.1257

Abstract

Gangguan stres pascatrauma (PTSD) merupakan gangguan psikiatri yang dapat terjadi setelah paparan peristiwa traumatis, baik secara langsung maupun tidak langsung. Pandemi COVID-19 meningkatkan risiko terjadinya PTSD akibat tingginya angka kematian serta paparan berulang terhadap kematian di lingkungan masyarakat. Dilaporkan kasus seorang perempuan berusia 43 tahun dengan keluhan kecemasan persisten, nyeri kepala, mimpi buruk, serta bayangan berulang terkait kematian. Gejala tersebut timbul setelah mengalami paparan berulang terhadap kematian selama pandemi COVID-19, berupa menyaksikan beberapa kematian secara langsung dan sering menerima berita kematian dari masyarakat sekitarnya. Gejala juga disertai perilaku menghindar terhadap aktivitas sosial dan pemicu yang berkaitan dengan kematian. Diagnosis ditegakkan berdasarkan kriteria Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, Fifth Edition (DSM-5) sebagai PTSD. Pasien mendapatkan terapi farmakologis berupa fluoksetin dan diazepam, serta intervensi psikososial berupa psikoedukasi dan dukungan keluarga. Perbaikan klinis dicapai setelah terapi, meskipun sempat terjadi kekambuhan akibat ketidakpatuhan pengobatan.
HUBUNGAN PERAWATAN KAKI DENGAN RISIKO ULKUS KAKI DIABETIK PADA PASIEN DIABETES MELITUS DI KOTA BEKASI: ASSOCIATION BETWEEN FOOT CARE AND DIABETIC FOOT ULCER RISK AMONG PATIENTS WITH DIABETES MELLITUS IN BEKASI CITY Eska Riyanti Kariman; Nurdahlia; Tri Endah Pangestuti; Fazwah Firdayanti
Jurnal Kedokteran Ibnu Nafis Vol. 15 No. 1 (2026): Juni 2026
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30743/jkin.v15i1.1282

Abstract

Diabetes melitus merupakan penyakit tidak menular yang dapat menimbulkan komplikasi ulkus kaki diabetik. Perawatan kaki menjadi salah satu upaya penting untuk menurunkan risiko komplikasi tersebut. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan perilaku perawatan kaki dengan risiko ulkus kaki diabetik pada pasien diabetes melitus di Puskesmas Jatiluhur Kota Bekasi. Penelitian menggunakan desain kuantitatif deskriptif korelasional dengan pendekatan cross-sectional. Sampel berjumlah 88 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Perilaku perawatan kaki diukur menggunakan Nottingham Assessment of Functional Footcare, sedangkan risiko ulkus kaki diabetik dinilai berdasarkan sistem stratifikasi risiko International Working Group on the Diabetic Foot. Analisis data dilakukan menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar responden memiliki perilaku perawatan kaki baik sebanyak 49 responden (55,7%) dan risiko ulkus kaki diabetik rendah sebanyak 68 responden (77,3%). Hasil uji chi-square menunjukkan terdapat hubungan signifikan antara perilaku perawatan kaki dan risiko ulkus kaki diabetik dengan p-value <0,001 dan OR 20,143. Penelitian ini menunjukkan bahwa perilaku perawatan kaki berasosiasi dengan risiko ulkus kaki diabetik. Edukasi perawatan kaki dan skrining kaki diabetik berkala perlu diperkuat di pelayanan kesehatan primer.
URETROLITHIASIS POSTERIOR DENGAN KOMPLIKASI FOURNIER GANGRENE DAN SYOK SEPSIS: LAPORAN KASUS: POSTERIOR URETHROLITHIASIS WITH FOURNIER GANGRENE COMPLICATION AND SEPSIS SHOCK: A CASE REPORT Nizar Fakhri Idrus; M. Arief Hidayat
Jurnal Kedokteran Ibnu Nafis Vol. 15 No. 1 (2026): Juni 2026
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30743/jkin.v15i1.1286

Abstract

Batu uretra merupakan manifestasi klinis yang cukup langka dari urolithiasis, namun dapat memicu komplikasi kegawatdaruratan urologi yang fatal jika tidak ditangani dengan cepat. Obstruksi uretra yang diabaikan dapat memicu infeksi jaringan lunak progresif seperti Fournier's Gangrene (FG), yang dapat berujung pada syok sepsis dengan angka mortalitas yang sangat tinggi. Pria berusia 54 tahun datang dengan uretrolithiasis posterior yang berkomplikasi menjadi Fournier's Gangrene dan syok sepsis. Obstruksi mekanik dari batu uretra menyebabkan stasis urin dan cedera mukosa, yang menciptakan jalur masuk bagi infeksi polimikroba. Infeksi tersebut dapat menyebar dengan cepat melalui bidang fasia di area perineum dan genitalia. Kehadiran komorbiditas penyerta pada pasien semakin memperburuk respons imun, memicu kondisi sepsis yang fulminan. Penatalaksanaan utama pada kasus ini memerlukan pendekatan multidisiplin yang agresif, mencakup resusitasi cairan dan hemodinamik untuk mengatasi syok sepsis, pemberian antibiotik spektrum luas, debridemen bedah darurat pada jaringan nekrotik, diversi urin, serta ekstraksi batu. Batu uretra yang terabaikan dapat memicu Fournier's Gangrene dan syok sepsis yang mengancam jiwa. Kecurigaan klinis yang tinggi serta intervensi medis dan bedah multimodal yang dilakukan secara cepat adalah kunci utama untuk mencegah mortalitas pada pasien.
MENINGKATKAN PEMAHAMAN HIPERTENSI PADA LANSIA MELALUI PENYULUHAN DI POSYANDU INTEGRASI LAYANAN PRIMER (ILP) DESA CINTA RAKYAT KECAMATAN PERCUT SEI TUAN KABUPATEN DELI SERDANG: IMPROVING UNDERSTANDING OF HYPERTENSION IN THE ELDERLY THROUGH COUNSELING AT POSYANDU INTEGRATED PRIMARY CARE (ILP) CINTA RAKYAT VILLAGE, PERCUT SEI TUAN DISTRICT Dewi Yanti Handayani; Anna Yusria; Saadatur Rizqillah; Fikri Andifa; Muhammad Thariq Alkadrie; Dwiky Bhayangkara; Riska Putri Safira; Winda Asni; Amirah Nur Haniyah; Maya Junita Siregar; A.Rinni Hafizah Pulungan; Selvia Berfi Br Ginting; Odet Puri Mukti Wilutomo
Jurnal Kedokteran Ibnu Nafis Vol. 15 No. 1 (2026): Juni 2026
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30743/jkin.v15i1.1315

Abstract

Kegiatan Kuliah Kerja Nyata Tematik Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara tahun 2024 dilaksanakan di Desa Cinta Rakyat, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang, bertujuan mengidentifikasi masalah kesehatan masyarakat. Berdasarkan hasil observasi diperoleh salah satu masalah kesehatan yang ditemukan di desa ini adalah kurangnya kepedulian dan pengetahuan lansia tentang hipertensi. Dari pengamatan kami, masih banyak masyarakat yang kurang memahami pentingnya memantau tekanan darah secara rutin dan menjalani pola hidup sehat, yang berpotensi menyebabkan komplikasi serius jika hipertensi tidak dikelola dengan baik. Dalam hal penyelesaian masalah dilakukan penyuluhan mengenai hipertensi yang bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran lansia tentang hipertensi. Hasil kegiatan ini menunjukkan adanya respon yang baik dari lansia tentang hipertensi. Lansia dapat mengetahui penyebab, dampak dan cara mengatasi hipertensi. Respon yang baik akan berdampak pada perubahan sikap yang dapat dilihat dari kunjungan lansia ke posyandu lansia untuk melakukan pemeriksaan tekanan darah secara rutin dan menjalani pola hidup sehat.
PENGARUH EDUKASI VIDEO ANIMASI TERHADAP PENINGKATAN PENGETAHUAN DAN SIKAP REMAJA TENTANG PENTINGNYA SARAPAN PAGI: THE EFFECT OF ANIMATED VIDEO EDUCATION ON IMPROVING TEENAGERS' KNOWLEDGE AND ATTITUDES ABOUT THE IMPORTANCE OF BREAKFAST Rosidawati; Eros Siti Suryati; Siti Masitoh; Aan Nurhasanah; Syakira Khonsa Adzkiya
Jurnal Kedokteran Ibnu Nafis Vol. 15 No. 1 (2026): Juni 2026
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30743/jkin.v15i1.1339

Abstract

Masa remaja merupakan fase pertumbuhan yang membutuhkan pemenuhan gizi optimal, termasuk kebiasaan sarapan pagi. Edukasi gizi dengan media yang menarik diperlukan untuk meningkatkan pemahaman remaja mengenai pentingnya sarapan. Penelitian ini bertujuan menilai perbedaan skor pengetahuan dan sikap remaja sebelum dan sesudah edukasi menggunakan video animasi tentang pentingnya sarapan pagi. Penelitian ini menggunakan desain pra-eksperimental dengan pendekatan one group pre-test–post-test. Sampel berjumlah 76 siswa kelas X jurusan keperawatan di SMK Persada Husada Indonesia yang dipilih menggunakan total sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner pengetahuan dan sikap, kemudian dianalisis menggunakan Wilcoxon Signed Rank Test. Rata-rata skor pengetahuan meningkat dari 13,08 menjadi 14,83, sedangkan rata-rata skor sikap meningkat dari 44,89 menjadi 49,67. Hasil uji Wilcoxon menunjukkan terdapat perbedaan bermakna pada skor pengetahuan dan sikap sebelum dan sesudah edukasi dengan nilai p<0,001. Edukasi video animasi diikuti oleh peningkatan skor pengetahuan dan sikap remaja tentang pentingnya sarapan pagi. Penelitian lanjutan dengan kelompok kontrol dan pengukuran jangka panjang diperlukan untuk menilai keberlanjutan hasil edukasi.
KETERKAITAN IMT DAN KEJADIAN PREEKLAMSIA RSUD SAYANG CIANJUR : THE ASSOCIATION BETWEEN BMI AND THE INCIDENCE OF PREECLAMPSIA AT SAYANG CIANJUR REGIONAL GENERAL HOSPITAL Rizkykha Bella Mugniya; Ricky Susanto
Jurnal Kedokteran Ibnu Nafis Vol. 15 No. 1 (2026): Juni 2026
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30743/jkin.v15i1.1346

Abstract

Preeklamsia tergolong gangguan khusus pada masa kehamilan yang diidentifikasi dengan hipertensi dan proteinuria dengan umur kehamilan lebih dari 20 minggu. Setiap tahun sekitar 5-7% preeklamsia menjadi salah satu kondisi hipertensi paling berbahaya yang memengaruhi kehamilan dan menyebabkan tingginya angka kematian hingga 700.000 ibu dan 500.000 bayi. Ibu hamil yang memiliki nilai Indeks Massa Tubuh (IMT) tinggi menguasai risiko lebih tinggi untuk mengghadapi berbagai komplikasi seperti preeklamsia, eklamsia, persalinan induksi, dan diabetes gestasional. Tujuan penelitian ini berorientasi mengerti hubungan Indeks Massa Tubuh (IMT) dan fenomena preekklamsia pada ibu hamil. Data yang telah dihimpun dari rekam medis sebanyak 160 mengaplikasikan desain studi observasional analitik dan mengoperasikan desain studi cross sectional dengan analisis bivariat menggunakan Chi-square. Hasil dari riset ini ditemukan mayoritas Indeks Massa Tubuh (IMT) klasifikasi risiko tinggi sejumlah 123 orang (76,9%). Kejadian preeklamsia sejumlah 109 orang (68,1%). Ditemukan korelasi antara ibu hamil yang memiliki Indeks Massa Tubuh (IMT) dengan risiko tinggi dan kejadian preeklamsia, pada hasil uji statistik dengan nilai p=0,001. Diintrepetasikan bahwasannya Indeks Massa Tubuh (IMT) memiliki hubungan bersama fenomena preeklamsia pada ibu hamil. Ibu hamil direkomendasikan mengawasi tekanan darah secara rutin pada masa kehamilan, serta menjaga berat badan ideal untuk menurunkan kejadian preeklamsia. Preeclampsia is a specific disorder of pregnancy characterized by hypertension and proteinuria at a gestational age of more than 20 weeks. Each year, approximately 5–7% of cases of preeclampsia represent one of the most dangerous hypertensive conditions affecting pregnancy, resulting in high mortality rates of up to 700,000 mothers and 500,000 infants. Pregnant women with a high Body Mass Index (BMI) face a higher risk of experiencing various complications such as preeclampsia, eclampsia, induced labor, and gestational diabetes. The objective of this study is to understand the relationship between Body Mass Index (BMI) and the occurrence of preeclampsia in pregnant women. Data collected from medical records of 160 participants utilized an analytical observational study design and employed a cross-sectional approach. Bivariate analysis was performed using the Chi-square test. Among the pregnant women in this study, the majority were classified as having a high-risk Body Mass Index (BMI), totaling 123 individuals (76.9%). The incidence of preeclampsia was 109 cases (68.1%). A correlation was found between pregnant women with a high-risk Body Mass Index (BMI) and the incidence of preeclampsia, as indicated by statistical test results with a p-value of 0.001. It has been found that Body Mass Index (BMI) is associated with preeclampsia in pregnant women. Pregnant women are advised to monitor their blood pressure regularly during pregnancy and maintain a healthy weight to reduce the risk of preeclampsia.
PENGALAMAN PASIEN ABSES PARU PASCA PEMBEDAHAN DALAM MANAJEMEN NYERI DAN PROSES PEMULIHAN FUNGSIONAL: POST-SURGICAL EXPERIENCES OF LUNG ABSCESS PATIENTS REGARDING PAIN MANAGEMENT AND THE FUNCTIONAL RECOVERY PROCESS Hapsah; Donal Anjar Simanjuntak
Jurnal Kedokteran Ibnu Nafis Vol. 15 No. 2 (2026): Desember 2026
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30743/jkin.v15i2.1377

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi pengalaman pasien abses paru pasca torakotomi dalam manajemen nyeri dan pemulihan fungsional di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan. Menggunakan pendekatan kualitatif naratif pada 10 partisipan, penelitian menemukan bahwa nyeri sedang hingga berat (NRS 4-6) dialami 60% pasien, dengan batuk dan napas dalam sebagai pencetus utama. Strategi non-farmakologis seperti dukungan spiritual dan keluarga dinilai sangat membantu, melebihi kepuasan terhadap analgesik opioid. Pemulihan fungsional meningkat bertahap hingga minggu ke-8, namun kepatuhan latihan napas mandiri menurun setelah pasien pulang. Kesimpulannya, pengalaman nyeri pasca bedah paru bersifat multidimensional. Integrasi dukungan spiritual, keluarga, dan program rehabilitasi berkelanjutan sangat diperlukan untuk mengoptimalkan pemulihan.