cover
Contact Name
Ira Cinta Lestari
Contact Email
jurnal.ibnusina@fk.uisu.ac.id
Phone
+628196029417
Journal Mail Official
jurnal.ibnusina@fk.uisu.ac.id
Editorial Address
Jalan STM No. 77, Medan Johor, Medan, Sumatera Utara, Indonesia 20146
Location
Kota medan,
Sumatera utara
INDONESIA
Ibnu Sina: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan - Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara
ISSN : 14119986     EISSN : 26142996     DOI : https://doi.org/10.30743/ibnusina
Core Subject : Humanities, Health,
Ibnu Sina: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan-Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara merupakan jurnal yang memiliki cakupan keilmuan dalam bidang kedokteran, kesehatan masyarakat, dan ilmu perilaku dan terbit 2 kali dalam setahun yaitu pada bulan Januari dan Juli. Terbitan pertama adalah bulan Januari 2020. Naskah yang masuk akan diterima oleh editor untuk kemudian kan dilakukan pemeriksaan kemiripan naskah dengan aplikasi Plagiarism Checker. Proses review dilakukan dengan menggunakan peer review. Ibnu Sina: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan menerima naskah dengan topik bidang kedokteran, kesehatan masyarakat, ilmu perilaku, dan topik lainnya yang relevan.
Articles 194 Documents
PREVALENCE AND CLINICAL CHARACTERISTICS OF ALLERGIC RHINITIS AMONG ASTHMATIC PATIENTS IN THE EMERGENCY DEPARTMENT OF A BHAYANGKARA BRIMOB HOSPITAL IN INDONESIA: PREVALENSI DAN KARAKTERISTIK KLINIS RINITIS ALERGI PADA PASIEN ASMA DI INSTALASI GAWAT DARURAT RUMAH SAKIT BHAYANGKARA BRIMOB DI INDONESIA Winugroho, Mohammad Lukmanul Hakim; Kemuning, Asri Ragil; Rusmajati, Jetty; Desdiani
Ibnu Sina: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan - Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara Vol. 24 No. 2 (2025): Juli 2025
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Islam Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30743/ibnusina.v24i2.930

Abstract

Introduction: Asthma and allergic rhinitis frequently coexist. Objective: This study aims to characterize adult asthma patients who visited the emergency department (ED) and had allergic rhinitis between June 2023 and December 2024 at Bhayangkara Hospital, Depok City, West Java. Methods: This retrospective study analyzed 144 asthma patients who visited the ED during the specified period. The cohort included 89 females and 55 males. Diagnoses of bronchial Asthma and allergic rhinitis were confirmed through clinical history and physical examination by the attending physician, and all data is obtained from the patient's medical records. Results: Among the study population, 66.66% had coexisting asthma and allergic rhinitis. The majority were female and aged between 18 and 44 years. Chest X-rays revealed no significant abnormalities. Asthma prevalence was higher in females (61.8%) than males (38.19%), with a mean age of 32.53 years. A history of atopy, encompassing conditions like eczema, food allergies, and eye inflammation, was prevalent among 46.52% of patients. Smoking habits varied, with 74.3% being ex-smokers or non-smokers, while 25.69% were current smokers. Passive smoke exposure was noted in 37.5%, and 7.63% had exposure to biomass fuel. About 88.19% of emergency patients visits were classified as moderate asthma attacks, with 66.93% of these patients also having allergic rhinitis. Severe asthma attacks occurred in 11.8% of cases, with 58.82% of these patients also suffering from allergic rhinitis. Conclusions: The high prevalence of allergic rhinitis among asthma patients emphasizes the necessity of early diagnosis and good management to optimize patient outcomes.
HUBUNGAN ANTARA GEJALA KLINIS DENGAN JENIS HISTOPATOLOGI KARSINOMA NASOFARING DI RSUD WALED PERIODE TAHUN 2019-2023: CORRELATION BETWEEN CLINICAL SYMPTOMS AND HISTOPATHOLOGICAL TYPES OF NASOPHARYNGEAL CARCINOMA AT RSUD WALED DURING 2019–2023 Syaekhu, Muhammad Akromusy; Cahyadi, Ismi; Permata, Yukke Nilla
Ibnu Sina: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan - Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara Vol. 24 No. 2 (2025): Juli 2025
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Islam Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30743/ibnusina.v24i2.728

Abstract

Karsinoma nasofaring (KNF) merupakan salah satu jenis kanker yang umum terjadi di Indonesia, dengan angka kejadian yang terus meningkat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara gejala klinis dan jenis histopatologi KNF di RSUD Waled dalam periode 2019–2023. Metode yang digunakan adalah studi cross-sectional dengan pengumpulan data dari 62 rekam medis pasien. Analisis dilakukan menggunakan uji korelasi Spearman untuk menilai hubungan antara variabel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gejala klinis paling umum adalah pembesaran kelenjar getah bening (51,6%), sementara 77,4% pasien didiagnosis dengan karsinoma sel nonkeratinisasi yang tidak berdiferensiasi. Tidak ditemukan korelasi signifikan antara gejala klinis dan jenis histopatologi (p = 0,677). Kesimpulannya, gejala klinis tidak berhubungan secara signifikan dengan jenis histopatologi karsinoma nasofaring di RSUD Waled.
HUBUNGAN FAKTOR MATERNAL DAN SOSIAL EKONOMI DENGAN JUMLAH SERIAL CASTING PONSETI PADA PASIEN CLUBFOOT: RELATIONSHIP OF MATERNAL AND SOCIOECONOMIC FACTORS WITH SERIAL PONSETI CASTING NUMBER IN CLUBFOOT PATIENTS Sutanto, Nico; Siregar, Otman; Winanto, Iman Dwi
Ibnu Sina: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan - Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara Vol. 24 No. 2 (2025): Juli 2025
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Islam Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30743/ibnusina.v24i2.912

Abstract

Clubfoot adalah kelainan kongenital yang dapat menyebabkan disabilitas jika tidak ditangani. Metode Ponseti merupakan terapi utama yang efektif, tetapi jumlah serial casting yang dibutuhkan bervariasi, dipengaruhi oleh faktor maternal dan sosioekonomi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi jumlah serial casting Ponseti pada pasien clubfoot di RSUP H. Adam Malik Medan. Studi ini menggunakan desain penelitian cross-sectional dengan 80 subjek yang didiagnosis clubfoot. Analisa menggunakan uji Fisher exact. Data dikumpulkan melalui wawancara dan rekam medis, kemudian dianalisis menggunakan uji chi-square dan regresi logistik. Rerata usia subjek penelitian adalah 29,05±35,11 bulan, dengan 57,5% laki-laki. Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa jenis transportasi yang digunakan pasien berhubungan signifikan dengan jumlah serial casting Ponseti (p=0,020). Analisis multivariat menunjukkan bahwa faktor transportasi (p=0,011, PR=3,662) dan keluarga perokok (p=0,047, PR=2,774) merupakan faktor dominan yang memengaruhi jumlah serial casting Ponseti. Sementara itu, faktor lain seperti jenis kelamin, pekerjaan orang tua, tingkat pendidikan, dan kondisi ekonomi tidak menunjukkan hubungan yang bermakna. Faktor lingkungan, terutama akses transportasi dan kebiasaan merokok dalam keluarga, berperan dalam menentukan jumlah serial casting Ponseti. Penelitian selanjutnya disarankan menggunakan desain prospektif multicenter dengan variasi demografi yang lebih luas serta analisis lebih mendalam terhadap faktor transportasi dan kebiasaan merokok.
HUBUNGAN DURASI KOMPLEKS QRS DENGAN KADAR NATRIUM DAN KALIUM PASIEN HEMODIALISIS: RELATIONSHIP BETWEEN QRS COMPLEX DURATION WITH SODIUM AND POTASSIUM LEVELS IN HEMODIALYSIS PATIENTS Nur'amin, Hendra Wana; Apriliana, Andhita; Mazaya, Farhanaqilah; Nisa, Hijratun
Ibnu Sina: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan - Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara Vol. 24 No. 2 (2025): Juli 2025
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Islam Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30743/ibnusina.v24i2.973

Abstract

Durasi kompleks QRS pada elektrokardiogram (EKG) mencerminkan kecepatan depolarisasi ventrikel dan dapat memanjang pada kondisi patologis seperti gangguan konduksi intraventrikular. Pasien penyakit ginjal kronik stadium akhir (PGK5D) yang menjalani hemodialisis memiliki risiko tinggi terhadap kelainan elektrolit dan komplikasi kardiovaskular. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara durasi kompleks QRS dengan kadar natrium dan kalium pada pasien hemodialisis di RSUD Ulin Banjarmasin. Studi observasional ini melibatkan 304 pasien dengan data EKG dan elektrolit lengkap. Hasil menunjukkan 25 pasien (8,2%) memiliki durasi QRS ≥120 ms. Pasien dengan QRS memanjang memiliki usia lebih tua (p = 0,013) dan kadar kalium lebih tinggi (median 5,5 mEq/L, p < 0,001). Uji regresi logistik menunjukkan peningkatan risiko hiperkalemia lebih dari 5 kali (Prevalence odds ratio (POR) 5,63; IK 95%: 2,42–13,14) pada pasien dengan QRS ≥120 ms. Tidak ditemukan perbedaan bermakna kadar natrium (p = 0,29), meskipun cenderung lebih rendah pada kelompok dengan QRS memanjang. Temuan ini menegaskan pentingnya pemantauan EKG dan kadar elektrolit secara berkala sebagai skrining awal gangguan konduksi jantung pada pasien hemodialisis.