cover
Contact Name
Siti Nurul Rofiqo Irwan
Contact Email
rofiqoirwan@ugm.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
vegetalika.faperta@ugm.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Vegetalika
ISSN : 23024054     EISSN : 26227452     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Vegetalika ISSN (Cetak): 2302-4054 dan ISSN (Online): 2622-7452 adalah open access jurnal yang mempublikasikan artikel-artikel ilmiah berupa gagasan dan hasil penelitian. Topik publikasi berkaitan dengan disiplin ilmu Agronomi mencakup Manajemen dan Produksi Tanaman, Hortikultura, Ekologi Tanaman, Fisiologi Tanaman, Genetika dan Pemuliaan, Teknologi Benih, Bioteknologi Tanaman, dan Biostatistika.
Arjuna Subject : -
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol 7, No 2 (2018)" : 9 Documents clear
Yield Stability and Resistance of Five Melon Genotypes (Cucumis melo L.) Cultivated On Three Altitude Areas Muhammad Iqbal
Vegetalika Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/veg.33166

Abstract

The study was conducted to determine the yield stabilities of five melon varieties tested at three altitude areas and to obtain a variety of melon whose yield and stability exceed at three altitude areas. The study examined five melon varieties, namely 'Golden Aroma', 'Ladika', King Melon, Bravo, and M19 at three altitudes, namely Jombang (lowland 52 m dpl), Jiput (mediumland 460 m dpl), and Bojong (highland 776 m dpl) using a complete randomized block design (RAKL) with four replicates (blocks). The study was conducted during the rainy season in October 2016-January 2017 (in Jombang), November 2016-February 2017 (in Jiput), and March 2017-June 2017 (in Bojong). The results showed that the varieties that had yield per hectare and genotype resistance to the environment exceeded the general average were the varieties of King Melon and Bravo, although both of them were unstable at three altitude areas. Average yield per hectare for King Melon (19.33 ton/ha) and Bravo (18.21 ton/ha) and genotype resistance to the environment for King Melon (65.42%) and Bravo (56.25%) were superior to the commercial varieties of 'Golden Aroma' and 'Ladika' and able to compete with national melon yields in 2013 (17.71 ton/ha) and 2014 (18.37 ton/ha).
Effects of Stem Cutting Time and Height on Yield Components and Yield of Rice Ratun System (Oryza sativa L.) Vicky Silvia Nuzul
Vegetalika Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/veg.34148

Abstract

Ratun is the ability of the rice plant to regenerate new tillers after harvest, so it can be increased rice productivity. The aim of this research was to compare the yield components and yield between rice ratun with the parent rice, to analyze influence of stem cutting time and height on yield components and yield of rice ratun system and also to determine optimum cutting time and height for the yield components and yield of rice ratun. This research was heald in Pusat Inovasi Agroteknologi (PIAT) of  Gadjah Mada University, Kalitirto, Berbah, Sleman, Yogyakarta on March to June 2017.  The experiment used split-plot design with cutting time as the main plot and cutting height as sub plot with 3 blocks as replication. The cutting time consisted of 3 levels i.e. at harvest time, 7 days after harvest time, and 14 days after harvest time.  Meanwhile, cutting height consisted of 4 levels i.e. 3 cm, 13 cm, 23 cm, and 33 cm above the ground.The research showed that the yield components and yield of rice ratun lower than the parent rice. Cutting time at harvest time, 7, 14 days after harvest time with the cutting height close to the ground increase yield component and yield of rice ratun but delay the generative phase. The highest yield components and yield of rice ratun achieved at harvest time cutting time with cutting height 3 cm above the ground.
Tanggapan Dua Kultivar Kedelai (Glycine max L.) Terhadap Empat Aras Salinitas Mahmud Ismail
Vegetalika Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/veg.34288

Abstract

Salinitas merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi hampir semua pertumbuhan tanaman kedelai pada fase vegetatif dan generatif. Pengaruh salin pada berbagai varietas tanaman kedelai berbeda-beda tergantung pada tingkat kepekaan varietas tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian empat kadar salin terhadap pertumbuhan dan hasil dua varietas kedelai. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap dengan dua faktor (CRD Faktorial) faktor pertama adalah varietas kedelai Grobogan dan varietas kedelai Malika. Faktor kedua adalah kadar salinitas: N0= kontrol, 1,17 dS/m, 2,34 dS/m, dan 3,51 dS/m. Data hasil pengamatan dianalisis menggunakan analisis varian dilanjutkan dengan uji jarak Duncan Multiple Range Test(DMRT) dengan tingkat kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dua varietas kedelai mampu bertahan pada kadar salin 1,17 dS/m pengukuran variabel: tinggi tanaman, luas perakaran, luas daun, klorofil a, bobot segar tajuk, bobot kering tajuk, panjang akar pada varietas Malika, bobot segar akar, bobot kering akar, laju pertumbuhan nisbi tajuk dan akar, laju asimilasi bersih, jumlah polong pertanaman dan jumlah biji pertanaman. Dua varietas kedelai menunjukkan penurunan hasil pada pemberian kadar salin 3,51 dS/m. Penurunan hasil pada varietas kedelai Malika adalah 23% jumlah polong pertanaman, 31% jumlah biji pertanaman, 39% berat kering biji , dan 20% berat 100 biji. Sedangkan pada varietas Grobogan adalah 18% jumlah polong pertanaman, 17% jumlah biji pertanaman, 26% berat kering biji , dan 11% berat 100 biji.
Evaluasi Tipe Pemanfaatan Lahan Pertanian dalam Upaya Mitigasi Kerusakan Lahan Di Desa Giritirta, Kecamatan Pejawaran, Kabupaten Banjarnegara Bayu Setiawan
Vegetalika Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/veg.34344

Abstract

Tanaman sayur-sayuran dan bunga-bungaan banyak dihasilkan di tanah andisol dan alfisol dengan elevasi berkisar antara 350-1500 m di atas permukaan laut (dpl). Kentang di Indonesia merupakan tanaman yang memiliki nilai ekonomis cukup menjanjikan, sehingga petani berlomba-lomba untuk menanam tanaman tersebut. Lahan pegunungan yang sudah dimanfaatkan menjadi lahan pertanian perlu dilakukan evaluasi tipe pemanfaatan lahan guna mengetahui potensi produksi dan dampak kerusakan lahan yang timbul. Penelitian ini dilakukan di desa Giritirta, kecamatan Pejawaran, kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah yang dilaksanakan pada bulan Juli 2017 - November 2017. Metode yang digunakan adalah penelitian survei terhadap kualitas lahan dengan pengamatan langsung di lapangan, dan mengumpulkan data-data dari instansi terkait, serta survei terhadap respon petani yang dilakukan dengan wawancara. Data primer yang diambil adalah data yang diperoleh secara langsung dari objek penelitian melalui kegiatan observasi, wawancara dan/atau kuisioner, sedangkan data sekunder adalah data yang diperoleh peneliti dari sumber yang sudah ada. Pemanfaatan lahan pertanian di lokasi penelitian berupa budidaya tanaman semusim dengan komoditas utama kentang (Solanum tuberosum L.) dengan teknik penanaman searah lereng serta minim tindakan konservasi lahan. Tingkat bahaya erosi tergolong dalam klas sangat berat di semua satuan lahan yang menyebabkan potensi kerusakan lahan tinggi dalam kurun waktu yang singkat. Cara mitigasi kerusakan lahan yang cocok untuk dilaksanakan yaitu dengan penanaman kopi arabika dan teh pada kelerengan curam (26%-40%) serta tanaman kina pada kelerengan sangat curam (>40%). Perbaikan lahan yang dilakukan dengan pembuatan dan perbaikan teras, penanaman strip rumput, serta pembuatan rorak
Evaluasi Tipe Pemanfaatan Lahan Pertanian dalam Upaya Mitigasi Kerusakan Lahan Di Desa Giritirta, Kecamatan Pejawaran, Kabupaten Banjarnegara Bayu Setiawan; Prapto Yudono; Sriyanto Waluyo
Vegetalika Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (759.7 KB) | DOI: 10.22146/veg.35769

Abstract

Tanaman sayur-sayuran dan bunga-bungaan banyak dihasilkan di tanah andisol dan alfisol dengan elevasi berkisar antara 350-1500 m di atas permukaan laut (dpl). Kentang di Indonesia merupakan tanaman yang memiliki nilai ekonomis cukup menjanjikan, sehingga petani berlomba-lomba untuk menanam tanaman tersebut. Lahan pegunungan yang sudah dimanfaatkan menjadi lahan pertanian perlu dilakukan evaluasi tipe pemanfaatan lahan guna mengetahui potensi produksi dan dampak kerusakan lahan yang timbul. Penelitian ini dilakukan di desa Giritirta, kecamatan Pejawaran, kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah yang dilaksanakan pada bulan Juli 2017-November 2017. Metode yang digunakan adalah penelitian survei terhadap kualitas lahan dengan pengamatan langsung di lapangan, dan mengumpulkan data-data dari instansi terkait, serta survei terhadap respons petani yang dilakukan dengan wawancara. Data primer yang diambil adalah data yang diperoleh secara langsung dari objek penelitian melalui kegiatan observasi, wawancara dan/atau kuisioner. Data sekunder adalah data yang diperoleh peneliti dari sumber yang sudah ada. Pemanfaatan lahan pertanian di lokasi penelitian berupa budidaya tanaman semusim dengan komoditas utama kentang (Solanum tuberosum L.) dengan teknik penanaman searah lereng serta minim tindakan konservasi lahan. Tingkat bahaya erosi tergolong dalam klas sangat berat di semua satuan lahan yang menyebabkan potensi kerusakan lahan tinggi dalam kurun waktu yang singkat. Cara mitigasi kerusakan lahan yang cocok untuk dilaksanakan yaitu dengan penanaman kopi arabika dan teh pada kelerengan curam (26%-40%) serta tanaman kina pada kelerengan sangat curam (>40%). Perbaikan lahan yang dilakukan dengan pembuatan dan perbaikan teras, penanaman strip rumput, serta pembuatan rorak
Tanggapan Dua Kultivar Kedelai (Glycine max L.) terhadap Empat Aras Salinitas Mahmud Ismail; Prapto Yudono; Sriyanto Waluyo
Vegetalika Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (641.825 KB) | DOI: 10.22146/veg.35770

Abstract

Salinitas merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi hampir semua pertumbuhan tanaman kedelai pada fase vegetatif dan generatif. Pengaruh salin pada berbagai varietas tanaman kedelai berbeda-beda tergantung pada tingkat kepekaan varietas tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian empat kadar salin terhadap pertumbuhan dan hasil dua varietas kedelai. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap dengan dua faktor (CRD Faktorial) faktor pertama adalah varietas kedelai Grobogan dan varietas kedelai Malika. Faktor kedua adalah kadar salinitas: N0= 0 dS/m, N1=1,17 dS/m, N2=2,34 dS/m, dan N3=3,51 dS/m. Data hasil pengamatan dianalisis menggunakan analisis varian dilanjutkan dengan uji jarak Duncan Multiple Range Test(DMRT) dengan tingkat kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dua varietas kedelai mampu bertahan pada kadar salin 1,17 dS/m pengukuran variabel: tinggi tanaman, luas perakaran, luas daun, panjang akar pada varietas Malika, bobot segar daun, bobot kering daun, jumlah polong pertanaman dan jumlah biji pertanaman. Dua varietas kedelai menunjukkan penurunan hasil tertinggi pada pemberian kadar salin 3,51 dS/m. Penurunan hasil pada varietas kedelai Malika adalah 23% jumlah polong pertanaman, 31% jumlah biji pertanaman, 39% berat kering biji , dan 20% berat 100 biji. Sedangkan pada varietas Grobogan terjadi penurunan 18% jumlah polong pertanaman, 17% jumlah biji pertanaman, 26% berat kering biji , dan 11% berat 100 biji.
Stabilitas Hasil dan Ketahanan Lima Genotipe Melon (Cucumis melo L.) yang Dibudidayakan di Tiga Ketinggian Tempat Muhammad Iqbal; Erlina Ambarwati; Suyadi Mitrowihardjo
Vegetalika Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (251.003 KB) | DOI: 10.22146/veg.35771

Abstract

Penelitian dilakukan untuk mengetahui stabilitas hasil lima varietas melon yang diuji di tiga ketinggian tempat dan untuk mendapatkan varietas harapan melon yang hasil dan stabilitasnya unggul di berbagai ketinggian tempat tanam. Penelitian yang menguji lima varietas melon, yaitu ‘Golden Aroma’ dan ‘Ladika’ (varietas pembanding), King Melon, Bravo dan M19 (varietas harapan) di tiga ketinggian tempat, yaitu Jombang (dataran rendah 52 m dpl), Jiput (dataran sedang 460 m dpl), dan Bojong (dataran tinggi 776 m dpl) menggunakan rancangan acak kelompok lengkap (RAKL) dengan empat ulangan (blok). Penelitian ini dilakukan selama musim hujan di bulan Oktober 2016-Januari 2017 (di Jombang), November 2016-Februari 2017 (di Jiput), dan Maret 2017-Juni 2017 (di Bojong). Hasil penelitian menunjukkan bahwa varietas yang memiliki daya hasil per hektar dan ketahanan genotipe terhadap lingkungan melebihi rerata umumnya adalah varietas harapan King Melon dan Bravo, meski hasil keduanya tidak  stabil  di  tiga  ketinggian  tempat.  Rerata  daya  hasil per hektar untuk King Melon (19,33 ton/ha) dan Bravo (18,21 ton/ha) dan ketahanan genotipe terhadap lingkungan untuk King Melon (65,42%) dan Bravo (56,25%) lebih unggul dari varietas pembanding ‘Golden Aroma’ dan ‘Ladika’ serta mampu berkompetisi dengan hasil melon tingkat nasional tahun 2013 (17,71 ton/ha) dan tahun 2014 (18,37 ton/ha).
Identifikasi Genotipe Padi (Oryza sativa L.) Hemat Air Rossy Hening Pratiwi; Supriyanta Supriyanta; Budiastuti Kurniasih
Vegetalika Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (303.417 KB) | DOI: 10.22146/veg.35772

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi genotipe padi yang berpotensi dikembangkan sebagai varietas padi hemat air. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Tridharma, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada di Banguntapan, Bantul pada bulan Mei 2016 sampai Desember 2016. Percobaan pot menggunakan rancangan petak terbagi faktorial 2 faktor dengan 3 ulangan. Faktor pertama berupa varietas padi dengan menggunakan 11 varietas yaitu Widas, Inpari 29, Menthik Wangi, Inpago 9, Inpari 23, Lumbu Kuning, Segreng, Inpari 25, IR 64, Situ Bagendit, dan Ciherang. Faktor kedua yaitu sistem pengairan dengan 3 aras, sawah, macak-macak, dan gogo sehingga terdapat 33 kombinasi perlakuan. Pengamatan difokuskan pada karakter agronomi dan karakter komponen hasil. Hasil analisis varian digunakan untuk menduga nilai ragam genetik dan heritabilitas arti luas. Data hasil pengamatan juga digunakan untuk menghitung indeks respon tanaman terhadap perlakuan. Hasil percobaan menunjukkan adanya interaksi antara sistem pengairan dan varietas pada karakter kepadatan malai. Faktor sistem pengairan mempengaruhi karakter jumlah anakan total, volume akar, dan persentase gabah hampa. Karakter tinggi tanaman, umur berbunga, umur panen, jumlah anakan produktif, panjang malai, jumlah gabah per malai, hasil per rumpun, dan indeks panen hanya dipengaruhi oleh perbedaan genotipe tanaman. Berdasarkan nilai indeks respon, pada karakter komponen hasil, varietas Widas, Menthik Wangi, Inpago 9, Inpari 23, Inpari 25, dan Ciherang dapat dikembangkan sebagai varietas padi hemat air.
Pengaruh Waktu dan Tinggi Pemotongan Tunggul terhadap Komponen Hasil dan Hasil Padi (Oryza sativa L.) Ratun Vicky Silvia Nuzul; Didik Indradewa; Dody Kastono
Vegetalika Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (354.725 KB) | DOI: 10.22146/veg.35773

Abstract

Ratun adalah tunas tanaman padi yang tumbuh dari tunggul yang telah dipanen, sehingga dapat memberikan tambahan produksi. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan membandingkan komponen hasil dan hasil padi ratun dengan padi induk, mempelajari pengaruh waktu dan tinggi pemotongan tunggul terhadap komponen hasil dan hasil padi ratun serta menentukan waktu dan tinggi pemotongan yang optimal bagi komponen hasil dan hasil padi ratun. Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret-Juni 2017 di lahan penelitian Pusat Inovasi Agroteknologi (PIAT) Universitas Gadjah Mada Kalitirto, Berbah, Sleman, D. I. Yogyakarta. Rancangan yang digunakan adalah rancangan petak terbagi (split plot) dengan waktu pemotongan sebagai faktor utama dan tinggi pemotongan sebagai anak petak dengan 3 blok sebagai ulangan. Waktu pemotongan terdiri dari 3 aras yaitu saat panen, 7 hari setelah panen, dan 14 hari setelah panen. Tinggi pemotongan terdiri dari 4 aras yaitu 3 cm, 13 cm, 23 cm, dan 33 cm di atas permukaan tanah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komponen hasil dan hasil padi ratun lebih rendah dibandingkan padi induk. Pemotongan yang dilakukan pada saat panen, 7, 14 hsp dengan ketinggian pemotongan dekat dengan permukaan tanah akan memperlambat fase generatif, meningkatkan komponen hasil dan hasil padi ratun. Komponen hasil dan hasil padi ratun tertinggi dicapai pada pemotongan yang dilakukan saat panen dengan ketinggian 3 cm di atas permukaan tanah dengan hasil gabah 3,54 ton/ha.

Page 1 of 1 | Total Record : 9