cover
Contact Name
Ikhwannur Adha
Contact Email
ikhwannur.adha@upnyk.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jigpangea@upnyk.ac.id
Editorial Address
Jurusan Teknik Geologi Jl. Padjajaran, Sleman, Yogyakarta, Indonesia. 55283
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Ilmiah Geologi pangea
ISSN : 2356024X     EISSN : 2987100X     DOI : https://doi.org/10.31315
Jurnal Ilmiah Geologi Pangea (JIG Pangea) is an Indonesian scientific journal published by the Geological Engineering Department, Faculty of Mineral and Technology, UPN "Veteran" Yogyakarta. The journal receives Indonesian or English articles. Those articles are selected and reviewed by our professional editors and peer reviewers. The published article in JIG Pangea covers all geoscience and technology fields including Geology, Geophysics, Petroleum, Mining, and Geography. The subject covers a variety of topics including : geodynamics, sedimentology and stratigraphy, volcanology, engineering geology, environmental geology, hydrogeology, geo-hazard and mitigation, mineral resources, energy resources, medical geology, geo-archaeology, applied geophysics and geodesy.
Articles 219 Documents
Analisis Nilai Kuat Tekan Uniaksial Batugamping Menggunakan Sayatan Tipis Hakim Erlangga Bernado Sakti; Heru Dwiriawan Sutoyo; Helmiati Lapuna; Dwi Herniti
Jurnal Ilmiah Geologi PANGEA Vol 10, No 1 (2023): Jurnal Ilmiah Geologi PANGEA
Publisher : PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL UPN VETERAN YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/jigp.v10i1.9985

Abstract

UCS merupakan salah satu dari parameter geologi teknik yang banyak digunakan secara luas pada berbagai rekayasa batuan. Peneliti-peneliti terdahulu telah mengungkapkan bahwa terdapat korelasi antara tekstur dan komposisi mineral batugamping terhadap karakteristik geologi tekniknya. Tujuan penelitian ini memprediksi nilai UCS Batugamping Formasi Wonosari menggunakan data sayatan tipis. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode kualitatif serta kuantitatif. Metode kualitatif digunakan untuk mendapatkan dan menganalisis sayatan tipis sampel batugamping. Adapun metode kuantitatif digunakan untuk menganalisis nilai UCS berdasarkan data sayatan tipis. Sampel yang digunakan pada pengujian berasal dari sampel batugamping Formasi Wonosari yang diambil pada salah satu kuari batugamping di Kabupaten Gunung Kidul. Persamaan empiris yang digunakan yaitu persamaan empiris (Shinawi dkk., 2020). Hasil pengamatan sayatan tipis diperoleh material penyusun batugamping di lokasi penelitian yaitu grain sebesar 54% dan mud sebesar 46%. Hasil prediksi nilai UCS batugamping di lokasi penelitian menggunakan persamaan (1) sebesar 20,476 MPa dengan selisih nilai UCS sebesar 4,946 MPa. Adapun prediksi nilai UCS menggunakan persamaan (2) sebesar 35,072 MPa dengan selisih nilai UCS 19,542 MPa.
ALTERASI DAN KARAKTERISTIK URAT TEMBAGA BERDASARKAN METODE ANACONDA MAPPING TUNNEL X KABUPATEN PACITAN JAWA TIMUR Hadi Prayoga; Amara Nugraheni Nugrahini; Herning Dyah Kusuma Wijayanti
Jurnal Ilmiah Geologi PANGEA Vol 10, No 1 (2023): Jurnal Ilmiah Geologi PANGEA
Publisher : PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL UPN VETERAN YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/jigp.v10i1.9685

Abstract

Endapan epitermal merupakan hasil aktivitas larutan hidrotermal yang berkaitan dengan vulkanisme dan intrusi dengan kedalaman berkisar 1 - 1,5km dan suhu 50℃-300℃. Kabupaten Pacitan, Jawa Timur memiliki sistem vulkanisme yang kompleks ditinjau dengan adanya multi-intrusi pada kala Oligosen - Miosen. Hal ini dipicu karena tektonik Pulau Jawa yang mengalami setidaknya 4 proses tektonik yang menyebabkan terbentuknya endapan logam berharga (precious metal deposits). Alterasi hidrotermal memiliki manifestasi keberadaan precious metal salah satunya deposit tembaga, metode anaconda mapping merupakan metode eksplorasi guna meningkatkan resources deposit logam di Indonesia. Hasil analisis terraspektral mendeteksi kehadiran mineral alterasi pirofilit, analisis petrografi serisitic dan interpretasi sampel handspeciment kaolin – smectite – illite – serisit merupakan tipe alterasi advance argilic – argilic terubah secara pervasif. Kehadiran mineral sulfida berdasarkan analisis mineragrafi terdiri dari kalkosit – enargit – pirit – kovelit – tetrahidrit – tenantit – sfalerit – kalkopirit dan mineral oxide supergene hematit – gutit – malasit – azurit dan jerosit. Jenis vein terdiri dari Vein Massive Sulfide En – Ten – Tetr – Ccp – Cov – Sph – Azr – Mlc – Hem + Goe ; Vein Pyrite; Vein Pyrite + Qz ; Vein Qz with black sulfide on centerlie (Cu basemetal) / Vein AB ; Vein Hematite; Vein Py + Black Sulfide (Cu basemetal). Vein memiliki karakteristik pola dominan Baratlaut –Tenggara dan trend dominan Timurlaut – Baratdaya. 
Carbonate Facies and Depositional Environment of Pre-Parigi Carbonate in Ardjuna Sub-basin: Application of Core-facies Coding and Electro-facies Muhammad Virgiawan Agustin; Salahuddin Husein; Jarot Setyowiyoto; Rahmat Rahmat
Jurnal Ilmiah Geologi PANGEA Vol 10, No 1 (2023): Jurnal Ilmiah Geologi PANGEA
Publisher : PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL UPN VETERAN YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/jigp.v10i1.10053

Abstract

The Pre-Parigi Formation is one of the formations in the West Java Basin North as a potential reservoir. However, the carbonate rocks of the Pre-Parigi Formation are considered to have high heterogeneity due to rock and depositional processes its diagenesis, so an appropriate approach is needed to understand its reservoir distribution. Therefore, in this study, interpretation of the facies distribution of the Pre-Parigi Formation was carried out using the integration of core data and well logs. On the core data, facies coding and clustering is performed to interpret the facies association. Then, the identified facies associations are integrated with the characters so that facies interpretation can be carried out for all intervals and all wells. The end result is an interpretation of the distribution of the facies of Pre-Parigi Carbonate. Based on the analysis results, the Pre-Parigi Carbonate in the study area is composed of five facies associations, such as deep shelf (FA 1), fore-slope (FA 2), near-reef lagoon (FA 3), lagoon (FA 4), and restricted circulation shelf – tidal flat (FA 5). FA 1 is characterized by a very high value, slightly serrated gamma-ray character. FA 2 is characterized by a high gamma-ray, serrated, intercalated with a fining-upward low gamma-ray layer, FA 3 is characterized by a low value and blocky gamma-ray, FA 4 is also characterized by a gamma-ray with a fairly low value, but has a pattern that tends to be serrated, and then FA 5 is characterized by a serrated gamma-ray character with a slightly higher value than FA 4. Based on the integration of all interpretations, the Pre-Parigi Carbonate in the study area can be divided into three depositional sequences (DS), where DS-1 develops in all area as a reef-initiation, DS-2 developed in the MVA-1 and MVA-3 wells, and did not develop in the MVA-6 well (had a give-up phase), and then DS-3 only developed in the MVA-3 well. In general, facies interpretation using the core-facies coding and electro-facies characterizing methods tends to be effective and provides more confidence interpretation. Keywords: Pre-Parigi Carbonate, Carbonate facies, Core-facies coding, Arjuna Sub-basin
Geologi Dan Studi Hubungan Stratigrafi Satuan Batupasir Kasar Muarasoma Dengan Satuan Batulempung Jambor Baru,Mandailing Natal, Sumatra Utara Dedy Indrawan Daulay; Hermansyah Betra
Jurnal Ilmiah Geologi PANGEA Vol 10, No 1 (2023): Jurnal Ilmiah Geologi PANGEA
Publisher : PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL UPN VETERAN YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/jigp.v10i1.9797

Abstract

Abstrak Daerah telitian dibagi menjadi 2 satuan bentuk asal, yaitu Bentuk asal Struktural yang terdiri dari : Perbukitan homoklin Bergelombang Sedang (S21), Bentuk Asal Denudasional yang terdiri dari : Dataran Terkikis (D14), Bukit Terisolir (D4). Pola pengaliran yang berkembang pada daerah telitian yaitu subpararel yang merupakan pola ubahan dari pola pararel yang terjadi karena pengaruh dari topografi maupun struktur geologi pada suatu daerah. dengan panjang 3 km dan lebar 2 km. Stratigrafi daerah telitian berdasarkan ciri-ciri litologi dapat dikelompokkan menjadi 2 Satuan Batuan dari tua ke muda, yaitu satuan batupasir kasar Muarasoma terdiri dari dominasi batupasir, dengan perselingan batulempung, rijang, batuserpih dan disebut satuan batupasir kasar muarasoma. Satuan batuan diendapkan pada lingkungan laut dalam Smooth Subprafan lobes on Midle Fan, Walker (1978). Satuan batulempung Jambor Baru terdiri dari dominasi batulempung, dengan perselingan batupasir, batupasir tuffan, dan disebut satuan batulempung jambor baru. Satuan batuan diendapkan pada lingkungan laut dalam Lower fan, Walker (1978). Pada Jambor Baru terdapat batugamping yang diinterpretasikan sebagai blok-blok yang berumur lebih tua. Kata kunci: bentuk asal, pola pengaliran, laut dalam. AbstractThe study area is divided into 2 original form units, namely Structural original form consisting of: Moderate Wavy Homoclinal Hills (S21), Denudational Original Forms consisting of: Eroded Plains (D14), Isolated Hills (D4). The drainage pattern that develops in the research area is subparallel which is a pattern of changes from parallel patterns that occur due to the influence of topography and geological structures in an area. with a length of 3 km and a width of 2 km. The stratigraphy of the study area based on lithological features can be collected into 2 rock units from old to young, namely the Muarasoma coarse sandstone unit consisting of sandstone predominance, with alternating claystone, chert, shale and is called the Muarasoma coarse sandstone unit. The rock unit was deposited in a marine environment in Smooth Subprafan lobes on Middle Fan, Walker (1978). The New Jambor claystone unit consists of claystone dominance, with alternating sandstones, tuffan sandstones, and is called the new Jambor claystone unit. Rock units deposited in the marine environment in the Lower fan, Walker (1978). At Jambor Baru there are limestones which are interpreted as older blocks. Keywords: original form, drainage pattern, deep sea 
Integrasi Data Geomorfologi dan Data Geospasial untuk Pemetaan Kawasan Rawan Pergerakan Tanah Wilayah Kecamatan Balikpapan Utara iwan prabowo; Jamaluddin Jamaluddin; Fathony Akbar Pratikno
Jurnal Ilmiah Geologi PANGEA Vol 10, No 1 (2023): Jurnal Ilmiah Geologi PANGEA
Publisher : PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL UPN VETERAN YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/jigp.v10i1.9998

Abstract

Kecamatan Balikpapan Utara merupakan daerah yang memiliki wilayah berupa dataran – daerah perbukitan. Terdapat beberapa titik yang mengalami pergerakan tanah yang menimbulkan kerugian harta benda diwilayah lokasi daerah Balikpapan Utara. Sebagai kawasan yang relatif cukup cepat dalam penambahan penduduk serta aktifitas kegiatan manusia, sehingga mengetahui daerah rawan pergerakan tanah merupakan suatu keharusan, agar masyarakat memahami potensi pergerakan tanah yang ada di lokasi daerah masing – masing. Penelitian ini menggunakan metode integrasi data – data geomorfologi berupa kelerengan, interpretasi kontur, dengan data geospasial untuk menghasilkan peta kerentanan pergerakan tanah di daerah penelitian. Interpretasi data geomorfologi sangat penting yang bisa membantu dalam mendeskripsikan secara genetis bentuklahan dan proses – proses yang terjadi di masa lampau maupun sekarang dan hubungannya dengan bentuklahan dalam susunan keruangan. Hal ini dimaksudkan agar pembangunan dan pengembangan wilayah daerah penelitian dapat berjalan secara efisien. Sedangkan metode analisis data geospasial membantu dalam memberikan output berupa peta kerentanan pergerakan tanah. Hasil penelitian, daerah penilitian termasuk kedalam wilayah dengan potensi kerentanan pergerakan tanah rendah – tinggi. Kawasan yang termasuk dalam kawasan dengan potensi rendah berada pada daerah yang memiliki kontur cukup rata, yang tersebar di bagian barat daya dan tenggara daerah penelitian sementara daerah berkontur curam seperti daerah barat laut daerah penelitian, memiliki kerentanan sedang-sangat tinggi.
Pengaruh Struktur Geologi Terhadap Pembentukan Geomorfologi Karst, Desa Gambong, Kecamatan Ponjong, Kabupaten Gunung Kidul Muhammad Gazali Rachman, S.T., M.T.; Eko Wibowo; Athaariq Yudivra
Jurnal Ilmiah Geologi PANGEA Vol 10, No 2 (2023): Jurnal Ilmiah Geologi Pangea
Publisher : PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL UPN VETERAN YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/jigp.v10i2.11165

Abstract

Abstrak – Karst Gunungsewu terletak di Kabupaten Gunung Kidul Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Karst Guunungsewu dicirikan oleh bentangalam khas dari suatu daerah dengan dominasi batu kapur yang terbentuk pada lingkungan tropis lembab. Bentangalam ini ditandai dengan bukit-bukit yang memiliki puncak yang seragam dan tinggi yang terbentuk melalui proses pelarutan dan erosi yang relatif lebih cepat. Selain itu, bukit-bukit ini memiliki konfigurasi berbentuk sinuous hingga berbentuk kerucut. Aliran air permukaan sangat sedikit dibandingkan dengan aliran air bawah tanah, kehadiran sungai permukaan yang tidak menerus dan persebaran bukit karst searah dengan pola retakan yang erat hubungannya dengan arah kompresi regional Pulau Jawa. Morfologi karst gunung kidul dikaitkan dengan fracture dan patahan, yang menunjukkan hubungan genetik dengan orientasi stres geologis regional (Tjia, 2013). Kaitan kehadiran struktur geologi dengan pembentukan geomorfologi karst Gunungsewu menjadi pembahasan detil pada penelitian ini. Pada Desa Gambong, Kecamatan Ponjong, Kabupaten Gunung Kidul dapat diamati bentuk khas morfologi conical bukit karst yang dipisahkan oleh lembah antara satu dan yang lain. Variasi litologi menunjukkan adanya perbedaan batuan pada bukit dan lembah karst. Bukit karst didominasi oleh batugamping non-klastik sedangkan lembah karst didominasi oleh batugamping klastik. Pengamatan struktur geologi pada daerah penelitian menunjukkan pola struktur dominan berarah relatif Utara-Selatan dengan pergerakan mendatar, selain itu terdapat pula pola struktur berarah barat-timur. Variasi litologi dan pola patahan merupakan faktor utama pembentuk morfologi pada daerah penelitian. Kata Kunci: Karst, Gunungsewu, Wonosari, Fault, Fracture Abstract – The Gunungsewu Karst is situated in the Gunung Kidul Regency of the Special Region of Yogyakarta Province. It is characterized by the distinctive topography of a region dominated by limestone formations within a humid tropical environment. This terrain is marked by hills with uniform and elevated peaks, which have been shaped by relatively rapid processes of dissolution and erosion. Additionally, these hills exhibit sinuous to conical configurations. Surface water flow is minimal in comparison to underground water movement, with discontinuous surface rivers and the spatial distribution of karst hills aligning with fracture patterns that are closely related to the regional compression direction of Java Island. The morphology of the Gunung Kidul karst is associated with geological fractures and faults, indicating a genetic connection to the regional geological stress orientation (Tjia, 2013). The correlation between the presence of geological structures and the formation of Gunungsewu Karst geomorphology is a detailed focus of this research. In the village of Gambong, Ponjong District, Gunung Kidul Regency, one can observe the characteristic morphology of conical karst hills separated by valleys. Lithological variations indicate differences in rock types between the karst hills and valleys. The karst hills are dominated by non-clastic limestone, while the karst valleys are characterized by clastic limestone. Geological structure observations in the research area reveal a dominant North-South-oriented structural pattern with strike-slip movements, alongside a West-East-oriented structural pattern. Lithological variations and fracture patterns are the primary factors shaping the morphology in the study area. Keywords: Karst, Gunungsewu, Wonosari, Fault, Fracture
Analisis Sedimentologi dan Potensi Reservoir pada Formasi Air Benakat Cekungan Sumatra Selatan Wahyuni Annisa Humairoh; Hardian Dwi Lakstianto
Jurnal Ilmiah Geologi PANGEA Vol 10, No 2 (2023): Jurnal Ilmiah Geologi Pangea
Publisher : PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL UPN VETERAN YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/jigp.v10i2.11181

Abstract

ABSTRAKFormasi Air Benakat memiliki potensi sebagai reservoir yang baik di Cekungan Sumatra Selatan, selain itu Formasi Air Benakat berada pada posisi yang dangkal. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui lingkungan pengendapan yang berkembang pada Formasi Air Benakat dan potensi reservoirnya. Metode yang digunakan berupa integrasi data core, data petrografi dan paleontologi pada kedalaman 3117 ft hingga 3137 ft dari sumur X. Berdasarkan hasil deskripsi core lingkungan pengendapan Formasi Air Benakat di lokasi penelitian berupa lingkungan laut dangkal hingga transisi dengan facies middle shoreface hingga foreshore. Hasil analisis core tiga sampel menunjukkan porositas sebesar 17% - 24%, namun memiliki nilai permeabilitas yang berbeda. Sampel 1 pada bagian atas memiliki permeabilitas yang sangat rendah sebesar 0.21 mD dibandingkan sampel 2 dan 3 yang berada dibagian bawah. Nilai permeabilitas sampel 2 dan 3 sebesar 694 mD dan 13.2 mD. Nilai ini dipengaruhi oleh struktur sedimen dan kandungan lempung. Sampel 2 memiliki nilai permeabilitas terbesar karena kandungan lempung paling sedikit dan ukuran butir yang besar (batupasir kasar). Sampel 1 dan 3 merupakan batupasir sangat halus dan batupasir halus. Kata kunci: Sedimentologi, Air Benakat, Reservoir, Lingkungan Pengendapan. ABSTRACTThe Air Benakat Formation has the potential to be a good reservoir in the South Sumatra Basin, apart from that, the Air Benakat Formation is in a shallow position. This research aims to determine the depositional environment that developed in the Air Benakat Formation and its reservoir potential. The method used is the integration of core data, petrographic, and paleontological data at a depth of 3117 ft to 3137 ft (X well). Based on the results of the core description, the depositional environment of the Air Benakat Formation at the research location is a shallow marine to transitional environment with middle shoreface to foreshore facies. The core analysis results of the three samples show a 17% - 24% porosity but have different permeability values. Sample 1 at the top has a very low permeability of 0.21 mD compared to samples 2 and 3 which are at the bottom. The permeability values for samples 2 and 3 are 694 mD and 13.2 mD. This value is influenced by the sedimentary structure and clay content. Sample 2 has the largest permeability value because it contains the least clay and a large grain size (coarse sandstone). Samples 1 and 3 are very fine sandstone and fine sandstone. Keywords: Sedimentology, Air Benakat, Reservoir, Depositional Environment.
Identification and Analysis of Geoheritage Potential in Paser Regency as Supporter of the Geotourism Development in East Kalimantan Ikhwannur Adha; Peter Pratistha Utama; Maulana Ichsan Eriyanto; Ahmad Saukani Burhan; Jasmine Yosha Opang; Andi Ibnu Taslim; Arnoldus Yansen Rhendo
Jurnal Ilmiah Geologi PANGEA Vol 10, No 2 (2023): Jurnal Ilmiah Geologi Pangea
Publisher : PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL UPN VETERAN YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/jigp.v10i2.11183

Abstract

Abstrak – Kabupaten Paser merupakan bagian dari Provinsi Kalimantan Timur, Indonesia, yang berada di selatan provinsi tersebut. Secara geologi, Kabupaten ini termasuk bagian dari Pegunungan Meratus yang merupakan hasil kolisi Sundaland dengan Mikrokontinen Paternoster. Oleh karena itu, Kabupaten Paser memiliki kondisi geologi, baik geomorfologi, litologi, maupun struktur geologi, serta kondisi alam yang beragam dan unik yang berpotensi sebagai geoheritage. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis beberapa lokasi yang ada di Kabupaten Paser yang berpotensi sebagai lokasi geoheritage sehingga dapat mendukung dalam pengembangan geowisata di Kalimantan Timur. Metode deskriptif dilakukan dalam pengambilan data lapangan. Analisis geomorfologi dan petrologi dilakukan untuk mengetahui karakteristik geologi yang nantinya akan menjadi ciri khas unik lokasi-lokasi yang berpotensi sebagai geoheritage. Analisis kuantitatif dengan metode Kubalikova dilakukan untuk memberikan penilaian terhadap lokasi yang berpotensi sebagai geoheritage yang meliputi aspek nilai intrinsik dan keilmuan, nilai pendidikan, nilai ekonomi, nilai konservasi, dan nilai tambahan. Terdapat 9 lokasi yang berpotensi sebagai geoheritage yaitu Air Panas Danum Layong, Air Terjun Doyam Seriam, Embung Muru, Air Terjun Gunung Rambutan, Goa Loyang, Goa Tengkorak, Goa Losan, Gunung Boga, dan Air Terjun Lempesu. Lokasi tersebut memiliki kondisi geologi dan wisata yang cukup baik untuk dikembangkan menjadi lokasi geoheritage. Analisis kuantitatif menggunakan pembobotan Kubalikova (2013) juga menunjukkan lokasi tersebut sesuai untuk dikembangkan menjadi geoheritage dengan penilaian diatas 50%. Perlu dilakukan peningkatan baik dalam infrastruktur dan pengelolaan yang dilakukan secara berkesinambungan sehingga dapat menarik wisatawan dan mendukung geowisata di Kalimantan Timur. Kata Kunci: Geoheritage, Geowisata, Kabupaten Paser. Abstract – Paser Regency is part of East Kalimantan Province, Indonesia, which is in the south of the province. Geologically, this district is part of the Meratus Mountains which is the result of the Sundaland-Paternoster Microcontinent collision. Therefore, Paser Regency has geological conditions, both geomorphology, lithology and geological structures, as well as diverse and unique natural conditions that have the potential to become geoheritage. This research aims to identify and analyze several locations in Paser Regency that have the potential to become geoheritage locations so that they can support the development of geotourism in East Kalimantan. Descriptive methods were used in collecting field data. Geomorphological and petrological analysis is carried out to determine geological characteristics which will later become unique characteristics of locations that have the potential to become geoheritage. Quantitative analysis using the Kubalikova method was carried out to provide an assessment of locations that have potential as geoheritage which includes aspects of intrinsic and scientific value, educational value, economic value, conservation value, and additional value. There are 9 locations that have potential as geoheritage, namely Danum Layong Hot Water, Doyam Seriam Waterfall, Embung Muru, Mount Rambutan Waterfall, Loyang Cave, Tengkorak Cave, Losan Cave, Mount Boga, and Lempesu Waterfall. This location has geological and tourism conditions that are good enough to be developed into geoheritage. Quantitative analysis using Kubalikova's (2013) assessment also indicates that these locations are suitable for development as geoheritage, with assessments exceeding 50%. Improvements in infrastructure and management need to be made on an ongoing basis so that they can attract tourists and support geotourism in East Kalimantan.  Keywords: Geoheritage, Geotourism, Paser Regency
Studi Hidrogeologi dan Distribusi Salinitas Airtanah di Daerah Pesisir Kecamatan Ambal Kabupaten Kebumen Jawa Tengah Ra Mauldy Pabhayita Noval; Septyo Uji Pratomo; Thema Arrisaldi
Jurnal Ilmiah Geologi PANGEA Vol 10, No 2 (2023): Jurnal Ilmiah Geologi Pangea
Publisher : PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL UPN VETERAN YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/jigp.v10i2.11182

Abstract

Abstrak – Air tanah yang telah mengalami peningkatan salinitas dapat dipengaruhi salah satunya oleh kegiatan manusia, terutama di area pesisir. Penurunan ketersediaan air tanah yang disebabkan oleh peningkatan aktivitas manusia di di area pesisir mengakibatkan masuknya air sungai (muara) atau bahkan air laut ke dalamnya sehingga mempengaruhi air tanah yang berubah menjadi asin. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan distribusi salinitas air tanah di wilayah pesisir Kecamatan Ambal, Kabupaten Kebumen yang mencakup 11 desa. Analisis data dilakukan menggunakan data utama, dengan melakukan pengukuran langsung pada sumur penduduk di Kecamatan Ambal, Kabupaten Kebumen. Pengukuran mencakup data suhu, pH, Total Dissolved Solids (TDS), dan konduktivitas listrik (EC) dari 43 sampel air sumur, serta pengujian kadar klorida (Cl-) dari 6 sampel air sumur penduduk. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di Kecamatan Ambal, Kabupaten Kebumen, pH berada dalam kisaran 5,00 hingga 6,14, EC berkisar antara 168 µS/cm hingga 1.287,33 µS/cm, TDS berkisar dari 84 ppm hingga 640,33 ppm, dan salinitas air berkisar antara 0,0134458‰ hingga 0,1740686‰. Salinitas air tanah tertinggi terdapat di bagian utara wilayah penelitian, dengan kandungan TDS mencapai 1.287,33 ppm. Berdasarkan analisis dan interpretasi data lapangan, dapat disimpulkan bahwa kondisi salinitas air tanah di area pesisir Kecamatan Ambal berada dalam rentang kadar salinitas air tawar dan tidak dipengaruhi oleh intrusi air laut. Kata Kunci: salinitas, air tanah, Ambal, Kebumen Abstract – Groundwater that has experienced increased salinity can be influenced by human activities, especially in coastal areas. The decreased groundwater availability caused by increased human activity in coastal areas results in the entry of river water (estuaries) or even seawater, causing the groundwater to turn salty. This research aims to determine groundwater salinity distribution in the coastal area of Ambal District, Kebumen Regency, which includes 11 villages. Data analysis was carried out using primary data by taking direct measurements on residents' wells in Ambal District, Kebumen Regency. Measurements include data on temperature, pH, Total Dissolved Solids (TDS), and electrical conductivity (EC) from 43 well water samples, as well as testing chloride (Cl-) levels from 6 resident well water samples. The results showed that in Ambal District, Kebumen Regency, pH was in the range of 5.00 to 6.14, EC ranged from 168 µS/cm to 1,287.33 µS/cm, TDS ranged from 84 ppm to 640.33 ppm, and water salinity ranges from 0,0134458‰ to 0.1740686‰. The highest groundwater salinity is found in the northern part of the research area, with TDS content reaching 1,287.33 ppm. Based on the analysis and interpretation of field data, it can be concluded that the groundwater salinity conditions in the coastal area of Ambal District are within the range of freshwater salinity levels and did not influenced by sea water intrusion. Keywords: salinity, groundwater, Ambal, Kebumen
Tinjauan Literatur dan Analisis Hubungan Kerapatan Kontur terhadap Resistensi Batuan Daerah Watukumpul, Kabupaten Pemalang, Provinsi Jawa Tengah Daniel Radityo; Adam Raka Ekasara; Hasan Tri Atmojo; Thema Arrisaldi; Dwi Rachmawati
Jurnal Ilmiah Geologi PANGEA Vol 10, No 2 (2023): Jurnal Ilmiah Geologi Pangea
Publisher : PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL UPN VETERAN YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/jigp.v10i2.11189

Abstract

ABSTRAK - Daerah penelitian berada di Kecamatan Watukumpul, Kabupaten Pemalang, Provinsi Jawa Tengah secara administratif, dan terletak di dalam Zona Pegunungan Serayu Utara dan sedikit Gunungapi Kuarter menurut pembagian fisiografi Jawa Tengah oleh Van Bemmelen (1949). Berdasarkan jenis dan keterdapatan batuannya, litologi daerah penelitian dapat dibagi menjadi empat satuan batuan, yang terurut dari tua ke muda yaitu satuan batulempung, satuan batupasir, satuan breksi vulkanik dan intrusi diorit. Struktur geologi yang berkembang umumnya terjadi pada periode tektonik Miosen tengah, berupa struktur lipatan Antiklin Tlagasana dan kekar. Struktur kekar terdiri kekar gerus dan kekar tarik. Geomorfologi dearah penelitian dapat dibedakan menjadi lima satuan yaitu satuan geomorfologi perbukitan struktural agak curam, satuan geomorfologi perbukitan struktural curam, satuan geomorfologi perbukitan denudasional agak curam, satuan geomorfologi perbukitan vulkanik curam, satuan geomorfologi perbukitan intrusi agak curam. Kajian penelitian berupa tinjauan literatur yang menghubungkan antara kerapatan lereng Van Zuidam (1985) terhadap resistensi batuan dalam hal ini berupa kekuatan batuan Price (2009). Kata kunci: geologi teknik, resisten, kuat tekan, geomorfologi, kontur. ABSTRACT - The research area is located administratively in the Watukumpul District, Pemalang Regency, Central Java Province, and falls within the Northern Serayu Mountain Zone and the Kuarter Volcanic Quarter according to the physiographic division of Central Java by Van Bemmelen (1949). Based on the type and distribution of rock formations, lithology of the research area can be divided into four rock units, arranged from oldest to youngest, namely the claystone unit, sandstone unit, volcanic breccia unit, and diorite intrusion. Geological structures in the area primarily developed during the middle Miocene tectonic period, consisting of the Anticlinic Tlagasana folding structure and various types of fractures, including shear fractures and tension fractures. The geomorphology of the research area can be distinguished into five units, which are the structural hilly geomorphology with moderately steep slopes, steep structural hilly geomorphology, moderately steep denudational hilly geomorphology, steep volcanic hilly geomorphology, and moderately steep intrusive hilly geomorphology units. The research study involves a literature review that connects the relationship between slope density as proposed by Van Zuidam (1985) and rock resistance, specifically in terms of rock strength as described by Price (2009). Keywords: engineering geology, resistance, compressive strength, geomorphology, contour.