cover
Contact Name
Ikhwannur Adha
Contact Email
ikhwannur.adha@upnyk.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jigpangea@upnyk.ac.id
Editorial Address
Jurusan Teknik Geologi Jl. Padjajaran, Sleman, Yogyakarta, Indonesia. 55283
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Ilmiah Geologi pangea
ISSN : 2356024X     EISSN : 2987100X     DOI : https://doi.org/10.31315
Jurnal Ilmiah Geologi Pangea (JIG Pangea) is an Indonesian scientific journal published by the Geological Engineering Department, Faculty of Mineral and Technology, UPN "Veteran" Yogyakarta. The journal receives Indonesian or English articles. Those articles are selected and reviewed by our professional editors and peer reviewers. The published article in JIG Pangea covers all geoscience and technology fields including Geology, Geophysics, Petroleum, Mining, and Geography. The subject covers a variety of topics including : geodynamics, sedimentology and stratigraphy, volcanology, engineering geology, environmental geology, hydrogeology, geo-hazard and mitigation, mineral resources, energy resources, medical geology, geo-archaeology, applied geophysics and geodesy.
Articles 219 Documents
Geologi Daerah Jatinegara dan Sekitarnya, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal, Provinsi Jawa Tengah Oki Kurniawan; Dani Mardiati; Favian Avila Restiko
Jurnal Ilmiah Geologi PANGEA Vol 10, No 2 (2023): Jurnal Ilmiah Geologi Pangea
Publisher : PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL UPN VETERAN YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/jigp.v10i2.11208

Abstract

Abstrak – Daerah penelitian secara administratif termasuk ke Kecamatan Jatinegara, Kecamatan Randudongkal, Kecamatan Moga, Kabupaten Tegal, Provinsi Jawa Tengah. Secara geografis daerah penelitian terletak pada koordinat 109° 12' 40” BT sampai 109° 17' 40” BT dan 7° 00' 7” LS sampai 7° 05' 7” LS. Sebagian besar dari daerah penelitian berupa perbukitan yang didominasi oleh batuan-batuan sedimen yang telah mengalami deformasi dan mengalami perlipatan dan penyesaran. Geomorfologi daerah penelitian dapat dibedakan menjadi tiga satuan; yaitu satuan geomorfologi pedataran rendah struktural, satuan geomorfologi perbukitan rendah struktural dan satuan geomorfologi perbukitan tinggi vulkanik. Berdasarkan aspek litostratigrafinya, daerah penelitian ini terbagi menjadi tiga satuan batuan, dengan urutan dari yang berumur paling tua sampai berumur paling muda yaitu satuan batulempung (Tmbl), satuan batupasir (Tmbp) dan satuan breksi vulkanik (Qbv). Dilihat dari hasil penafsiran data DEM dan Landsat, pola kelurusan sungai, dan data lapangan, dapat diketahui struktur geologi yang berkembang pada daerah penelitian yaitu kekar, lipatan dan sesar, dimana terdapat Sesar Mendatar Sinistral Igir Nangka. Sejarah Geologi dimulai pada kala Miosen Tengah dimana terjadi proses sedimentasi menghasilkan satuan batulempung(Tmbl), lalu pada kala Miosen Tengah – Miosen Akhir terjadi proses sedimentasi yang menghasilkan satuan batupasir (Tmbp) yang menindih secara selaras satuan batulempung. Proses tektonik Miosen – Pliosen membentuk lipatan dan sesar berupa Sesar Mendatar Sinistral Igir Nangka. Pada kala plistosen terjadi aktivitas vulkanik yang menyebabkan terendapkannya satuan breksi vulkanik (Qbv). Proses erosi pada daerah penelitian membentuk relief seperti saat ini. Potensi sumberdaya geologi dimanfaatkan oleh penduduk di daerah penelitian yaitu bahan galian berupa penambangan pasir. Sedangkan potensi kebencanaan yang mungkin terjadi di daerah penelitian adalah tanah longsor. Kata Kunci: Pemetaan Geologi, Potensi Geologi, Tegal. Abstract – The administrative research area includes the Jatinegara District, Randudongkal District, Moga District, Tegal Regency, Central Java Province. Geographically, the research area is located at coordinates 109° 12' 40” E to 109° 17' 40” E and 7° 00' 7” S to 7° 05' 7” S. Most of the research area consists of hills dominated by sedimentary rocks that have undergone deformation and folding. The geomorphology of the research area can be divided into three units: the structural lowland geomorphology unit, the structural lowland hill geomorphology unit, and the volcanic highland hill geomorphology unit. Based on lithostratigraphic aspects, the research area is divided into three rock units, in order from the oldest to the youngest: claystone unit (Tmbl), sandstone unit (Tmbp), and volcanic breccia unit (Qbv). From the interpretation of DEM and Landsat data, river patterns, and field data, the geological structures in the research area are identified as faults, folds, and thrust faults, including the Sinistral Strike-slip Fault Igir Nangka. The geological history begins in the Middle Miocene, where sedimentation processes resulted in the claystone unit (Tmbl). Then, in the Middle Miocene to Late Miocene, sedimentation processes led to the sandstone unit (Tmbp), which overlies the claystone unit in a conformable manner. Tectonic processes during the Miocene to Pliocene formed folds and faults, including the Sinistral Strike-slip Fault Igir Nangka. During the Pliocene, volcanic activity deposited the volcanic breccia unit (Qbv). Erosion processes in the research area have shaped the current landscape. The local population utilizes the geological resources in the research area for sand mining. Meanwhile, the potential hazards that may occur in the research area are landslides.  Keywords: Geological Mapping, Geology Potential, Tegal
Analisis Kestabilan Lereng pada Desa Sambirejo, Prambanan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta Ghaly Yana Putra
Jurnal Ilmiah Geologi PANGEA Vol 10, No 2 (2023): Jurnal Ilmiah Geologi Pangea
Publisher : PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL UPN VETERAN YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/jigp.v10i2.10063

Abstract

Banyaknya objek wisata pada Daerah Sambirejo merupakan matapencaharian yang sangat menguntungkan bagi masyarakat, tetapi daerah ini memiliki resiko kebencanaan longsor karena banyaknya lereng terjal di sekitar objek wisata. Hal ini dapat membahayakan masyarakat sekaligus wisatawan yang berkunjung ke daerah ini. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis salah satu lereng yang berada di daerah ini untuk mengetahui kualitas dan kestabilannya agar menjadi pertimbangan untuk pembangunan dan startegi mitigasi bencana. Penelitian ini dilakukan pada lereng batuan pada koordinat 446573mE, 9138703mS. Penelitian dilakukan dengan mengakuisisi data menggunakan metode scanline dan pembobotan RMR sehingga didapatkan geometri lereng, nilai, RQD dan RMR yang berikutnya digunakan untuk analisis stereografis dan menghitung nilai SMR. Lereng ini memiliki RQD 99,75%, RMR 85.08%, SMR 67, dan tipe longsoran membajji. Berdasarkan hasil penelitian, kedua lereng memiliki potensi yang kecil untuk terjadi longsor, tetapi diperlukan beberapa upaya mitigasi pada lereng atas tanah, yakni pelandaian lereng dan membangun tembok penahan.
Tinjauan Geologi dan Pemodelan Fasies 3D, Lapangan “Glory”, Formasi Talang Akar, Cekungan Sumatra Selatan Angela Hotmaida Rosalline; M. Ocky Bayu Nugroho; Aga Rizky
Jurnal Ilmiah Geologi PANGEA Vol 10, No 2 (2023): Jurnal Ilmiah Geologi Pangea
Publisher : PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL UPN VETERAN YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/jigp.v10i2.11216

Abstract

Abstrak - Cekungan Sumatera Selatan menempati peringkat kedua produksi hidrokarbon di Indonesia setelah Cekungan Kutai jika dihitung dari total produksinya. Cekungan Sumatera Selatan,  terutama pada Formasi Talang Akar merupakan sumber hidrokarbon komersial yang dominan. Namun Cekungan Sumatera Selatan, yang sebagian besar merupakan ladang-ladang tua, memiliki tingkat produksi yang rendah karena faktor pemulihan yang rendah. Akumulasi produksi minyak yang terdapat pada Cekungan Sumatera Selatan  sebesar 2,3 BBO (Billion Barrels of Oil) dari nilai cadangan awal sebesar 3,1 BBO. Optimalisasi produksi dapat dilakukan dengan berbagai cara untuk mendukung eksplorasi dan produksi cadangan hidrokarbon. Kajian analisis fasies dan pengendapan bawah permukaan dapat dijadikan acuan untuk menentukan reservoar mana yang berpotensi untuk melanjutkan pengembangannya. Metode yang digunakan dalam pemodelan fasies menggunakan kombinasi metode Truncated Gaussian Simulasi (TGS) dengan Trend and Sequential Indicator Simulasi (SIS), dan pemodelan dilakukan pada 3 zona reservoar. Analisis fasies dan lingkungan pengendapan pada daerah penelitian membentuk lingkungan pasang surut-muara dengan asosiasi fasies Tidal Sand Bar, Tidal Sand Flat, Sand-Sheet, Tidal Mixed Flat, dan Tidal Mud Flat. Hasil pemodelan menunjukkan sebaran reservoir relatif timur laut-barat daya dengan endapan yang berpotensi sebagai batuan reservoir dan diendapkan pada asosiasi fasies Tidal Sand Bar. Kata kunci: Formasi Talang Akar, Fasies model, Sand-sheet, Tidal Sand Bar, Tidal Sand Flat Abstract - The South Sumatra Basin is ranked second for hydrocarbon production in Indonesia after the Kutai Basin is calculated from its total production. In the South Sumatra Basin, the Talang Akar Formation is the dominant source of commercial hydrocarbons. Still, the South Sumatra Basin, with mostly old fields, has a low production rate from a low recovery factor. In the South Sumatra Basin, accumulated oil production is 2.3 BBO (Billion Barrels of Oil) from the initial reserve value of 3.1 BBO. Production optimization can be done in various ways to support the exploration and production of hydrocarbon reserves. Facies and subsurface deposition analysis studies can be used as a reference to determine which reservoirs have the potential to continue their development. The method used in facies modeling uses a combination method of Truncated Gaussian Simulation (TGS) with Trend and Sequential Indicator Simulation (SIS), and modeling is carried out in 3 reservoir zones. Facies analysis and depositional environment in the study area formed a tide dominate-estuary environment with facies associations Tidal Sand Bar, Tidal Sand Flat, Sand-Sheet, Tidal Mixed Flat, and Tidal Mud Flat. The modeling results show that the distribution of reservoirs is relatively northeast-southwest with deposits that have the potential as reservoir rocks and are deposited in the Tidal Sand Bar facies association. Keywords: Talang Akar Formation, Facies Modelling, Sand-sheet, Tidal Sand Bar, Tidal Sand Flat
Analisis Bibliometrik Perkembangan Penelitian Intrusi Air Laut: Tren dan Pertumbuhan (1972-2023) Adam Raka Ekasara; Daniel Radityo; Thema Arrisaldi; Hasan Tri Atmojo
Jurnal Ilmiah Geologi PANGEA Vol 10, No 2 (2023): Jurnal Ilmiah Geologi Pangea
Publisher : PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL UPN VETERAN YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/jigp.v10i2.11163

Abstract

Abstrak – Intrusi air laut merupakan fenomena geologis yang memiliki implikasi signifikan terhadap wilayah pesisir dan sumber daya air tanah. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan analisis bibliometrik tentang penelitian intrusi air laut dan mengungkapkan tren dan temuan penting dalam literatur ilmiah yang terkait. Metodologi penelitian mencakup pengumpulan data hingga analisis dan interpretasi. Data diperoleh melalui identifikasi dan pengumpulan artikel dari sumber data, seperti jurnal ilmiah dan prosiding dengan menggunakan database Scopus. Kriteria seleksi yang jelas diterapkan untuk memilih artikel yang relevan, termasuk pembatasan jenis publikasi, bahasa, dan kriteria topik. Analisis bibliometrik dilakukan dengan menggunakan aplikasi Bibliometrix berbasis R, yang melibatkan analisis jumlah publikasi per tahun, produktivitas penulis, jurnal yang paling sering mempublikasikan penelitian, serta analisis kata kunci dan sitasi. Hasil analisis mengungkapkan pertumbuhan yang signifikan dalam penelitian intrusi air laut selama periode tertentu, dengan tingkat pertumbuhan tahunan sebesar 11,03%.  Hasil analisis mengidentifikasi empat kelompok tema yang relevan untuk arah penelitian dan kolaborasi dalam bidang ini. Kata Kunci: Intrusi air laut, Analisis bibliometrik, Tren penelitian Abstract –Seawater Intrusion is a geological phenomenon with significant implications for coastal regions and groundwater resources. This research aims to conduct a bibliometric analysis of seawater intrusion research and unveil key trends and findings within the relevant academic literature. The research methodology encompasses data collection, analysis, and interpretation. Data is gathered through the identification and collection of articles from sources such as scientific journals and proceedings using the Scopus database. Clear selection criteria are applied to choose pertinent articles, including constraints on publication type, language, and topic criteria. The bibliometric analysis is executed employing the Bibliometrix application based on the R platform. This analysis encompasses the examination of the number of publications per year, author productivity, the most prolific journals in publishing research in this domain, as well as the analysis of keywords and citations. The results of this analysis disclose a substantial growth in seawater intrusion research during a specific period, with an annual growth rate of 11.03%. Furthermore, the analysis identifies four distinct thematic groups that are pertinent to the research direction and collaboration within this field. Keywords: Seawater Intrusion, Bibliometric Analysis, Research Trends
Geologi dan Studi Potensi Batugamping Formasi Sepingtiang Daerah Sukajadi Dan Sekitarnya, Kecamatan Pseksu, Kabupaten Lahat, Provinsi Sumatera Selatan Bayu Rahmanto; Alfathony Krisnabudhi; Sutanto Sutanto; Achmad Subandrio
Jurnal Ilmiah Geologi PANGEA Vol 10, No 2 (2023): Jurnal Ilmiah Geologi Pangea
Publisher : PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL UPN VETERAN YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/jigp.v10i2.11218

Abstract

Abstrak - Daerah penelitian secara administratif berada di Desa Sukajadi, Kecamatan Pseksu, Kabupaten Lahat, Provinsi Sumatera Selatan. Secara geografis daerah penelitian berada pada koordinat 307500 mE – 311500 mE dan 9579000 mN – 9583000 mN UTM (Universal Transverse Mercator WGS 1948 Zona 48 S. Daerah penelitian memiliki luas 20 km2 dengan panjang 5 km dan lebar 4 km yang dibuat dengan skala 1 : 12.500. Geomorfologi daerah penelitian terbagi menjadi enam satuan bentuklahan yaitu : perbukitan karst (K1), perbukitan sesar (S1), lembah homoklin (S2), dataran bergelombang (D1), dataran aluvial (F1) dan tubuh sungai (F2). Stratigrafi daerah penelitian terbagi menjadi enam satuan batuan yaitu: satuan lava andesit Saling (Jura Akhir – Kapur Awal), satuan batugamping Sepingtiang (Kapur Awal), intrusi adamelit (Kapus Akhir), satuan batugamping Baturaja (Miosen Awal), satuan batulempung Airbenakat (Miosen Tengah – Akhir) dan endapaan aluvial (Holosen). Struktur geologi yang berkembang pada daerah penelitian berupa sesar mendatar dan kekar. Sesar pada daerah penelitian terdiri dari Sesar Payang Lintang 1, Sesar Payang Kasap (Sesar Mendatar Kanan), Sesar Payang Lintang 2, Sesar Limau, dan Sesar Sungai Tenang (Sesar Mendatar Kiri). Berdasarkan hasil interpretasi penampang dipole – dipole pada satuan batugamping Sepingtiang diketahui ketebalannya yaitu >284,75 m. Hasil pengujian sifat fisik batuan diketahui dari 5 sampel yang diuji memiliki nilai porositas 0,20 – 2,18 %, dan nilai void ratio 0 – 0,02. Nilai kuat tekan batuan berkisar antara 42,145 – 68,432 Mpa. Berdasarkan hasil perhitungan menggunakan metode profilling diketahui volume total satuan batugamping Sepingtiang yaitu 672.806.166 m3 dan jumlah estimasi cadangan yang ada pada satuan batugamping Sepingtiang adalah sebesar 1.605.988.320 Ton. Kata kunci: Batugamping, Formasi Sepingtiang, Lahat The research area is administratively located in Sukajadi Village, Pseksu District, Lahat Regency, South Sumatra Province. Geographically, the research area is situated at coordinates 307500 mE - 311500 mE and 9579000 mN - 9583000 mN in the UTM (Universal Transverse Mercator) WGS 1948 Zone 48 S. The research area covers an area of 20 km² with dimensions of 5 km in length and 4 km in width, constructed at a scale of 1:12,500. The geomorphology of the research area is divided into six landform units: karst hills (K1), faulted hills (S1), homocline valleys (S2), undulating plains (D1), alluvial plains (F1), and river bodies (F2). The stratigraphy of the research area comprises six rock units: andesitic lava unit of Saling (Late Jurassic - Early Cretaceous), Sepingtiang limestone unit (Early Cretaceous), adamelite intrusion unit (Late Cretaceous), Baturaja limestone unit (Early Miocene), Airbenakat claystone unit (Middle to Late Miocene), and alluvial deposit unit (Holocene). The geological structure prevalent in the research area consists of horizontal and faulted structures. The fault system in the research area includes Payang Lintang 1 Fault, Payang Kasap Fault (Right-lateral fault), Payang Lintang 2 Fault, Limau Fault, and Sungai Tenang Fault (Left-lateral fault). Based on dipole-dipole cross-section interpretation, it is known that the thickness of the Sepingtiang limestone unit is greater than 284.75 meters. The physical properties of the rock samples tested indicate a porosity range of 0.20% to 2.18% and a void ratio range of 0 to 0.02. The compressive strength of the rocks ranges from 42.145 to 68.432 MPa. Based on profiling methods, the total volume of the Sepingtiang limestone unit is determined to be 672,806,166 cubic meters, and the estimated reserve within the Sepingtiang limestone unit is approximately 1,605,988,320 metric tons. Keywords: Limestone, Sepingtiang Formation, Lahat
Persebaran Pola Struktur Geologi Melalui Pendekatan Topografi dan Morfologi Daerah Tancep dan Sekitarnya, Gunungkidul, Yogyakarta Adha, Ikhwannur; Mardiati, Dani; Kurniawan, Oki; Utama, Peter Pratistha; Rachman, Muhammad Gazali; Krisnabudhi, Alfathony
Jurnal Ilmiah Geologi PANGEA Vol 11, No 1 (2024): Jurnal Ilmiah Geologi Pangea
Publisher : PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL UPN VETERAN YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/jigp.v11i1.12752

Abstract

Tancep merupakan desa yang berada di tenggara Bayat dan perbatasan antara Klaten dan Gunungkidul. Tancep dan sekitarnya memiliki struktur geologi yang cukup kompleks sebagaimana area yang berdekatan dengan Bayat. Penelitian terdahulu menyatakan bahwa struktur geologi yang berkembang pada lokasi ini cukup kompleks terutama sesar yang terbentuk. Namun, dari penelitian terdahulu tersebut kurang menggambarkan bagaimana persebaran pola struktur geologinya. Kajian pendahuluan ini dilakukan untuk menunjukkan persebaran pola struktur geologi yang berkembang di daerah Tancep dan sekitarnya melalui pendekatan topografi dan morfologi. Kajian ini dilakukan dengan harapan dapat memberikan gambaran awal untuk memetakan secara detil struktur geologi di lokasi tersebut. Penelitian dilakukan dengan pendekatan topografi dan morfologi serta interpretasi berdasarkan penelitian terdahulu. Analisis pada penelitian ini dilakukan dengan menggunakan analisis kelurusan topografi dan morfologi baik kelurusan punggungan bukit, kelurusan lembah, maupun kelurusan sungai. Kelurusan tersebut digambarkan dalam peta fault fracture density yang kemudian diinterpretasikan pola persebaran struktur geologi di daerah penelitian. Tancep dan sekitarnya secara umum memiliki tiga arah umum kelurusan topografi dan morfologi yaitu berarah barat daya-timur laut, barat laut-tenggara, dan utara-selatan. Pola kelurusan ini diinterpretasikan sebagai pola struktur geologi yang berkembang dan mengontrol topografi dan morfologi daerah penelitian. Pola struktur geologi berarah barat daya-timur laut merupakan pola utama yang berkembang di daerah penelitian. Sedangkan pola struktur geologi berarah barat laut-tenggara dan utara-selatan merupakan pola struktur geologi penyerta yang terbentuknya dapat terjadi karena beberapa kemungkinan.Kata Kunci: Tancep, Pola Struktur Geologi, Kelurusan.
Lithofacies, Facies Association, and Depositional Environment of 34-1, 33-6, and 33-4 Sandstone, Wida Field, Gita Member, Talang Akar Formation, Asri Basin, Offshore Southeast Sumatra Saputra, Adi Danu; Surjono, Sugeng Sapto; Winardi, Sarju; Setyadi, Abdul Latif; Ralanarko, Dwandari
Jurnal Ilmiah Geologi PANGEA Vol 11, No 1 (2024): Jurnal Ilmiah Geologi Pangea
Publisher : PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL UPN VETERAN YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/jigp.v11i1.12011

Abstract

Three Gita Member reservoirs 34-1, 33-6, and 33-4 produce from solution gas drive with rapid pressure decline and low recovery factor. After successful oil production enhancements through waterflooding injections prompt the need for a reservoir model in further field development. Before such models were built reservoir characterization was carried out to determine facies and depositional environment for facies modeling. The study integrated core, wireline log, petrophysical logs, seismic attribute, petrography, etc. Next, well correlation was carried out to distribute stratigraphic markers. Finally, seismic attribute and well correlation were integrated to construct pie chart and depositional environment map. External geometry from seismic attribute revealed distributary channel with point bars which act as reservoir and consist of medium-fine grained planar tabular cross bedding sandstone, mud drapes sandstone, and ripple-wavy lamination sandstone. The wireline log showed fining-upward pattern and core displayed abundant channel rip up clasts, sharp or erosional contact with underlying lithology. Frequent mud drapes found within channel sandstone indicate tidal influence in proximity to marine environment probably in lower delta plain. Channels are trending west-east (34-1) and north-south (33-6 and 33-4). Other facies associations are shallow marine, swamp, interdistributary bay, and tidally influenced interdistributary bay. Shallow marine FA consists of skeletal limestone (Lm), calcareous mudstone, and calcareous sandstone (Sc). Rootlet mudstone (Fb) and interlamination of carbonaceous mudstone with very fine-grain sandstone (Fl) formed interdistributary bay FA. Swamp FA consists of coal and coaly mudstone. Tidally influenced interdistributary bay FA consists of carbonaceous laminated mudstone high in carbon (Flb), intensely bioturbated carbonaceous mudstone (Flb), very finely laminated mudstone-very fine grain sandstone (Fl) and black fissile shale (Fm).
Analisis Kestabilan Lereng Berdasarkan Mohr-Coulomb dan Generalized Hoek-Brown pada Tambang Terbuka Batubara, Desa Tegalrejo dan sekitarnya, Kabupaten Muara Enim, Provinsi Sumatra Selatan Siswanda, Faiza Melati; Riswandi, Herry
Jurnal Ilmiah Geologi PANGEA Vol 11, No 1 (2024): Jurnal Ilmiah Geologi Pangea
Publisher : PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL UPN VETERAN YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak – Pemilihan penggunaan kriteria keruntuhan yang tepat dalam analisis kestabilan lereng dapat mengurangi ketidaktepatan hasil analisis dalam memperoleh nilai Faktor Keamanan (FK) dari desain lereng yang dibuat, sehingga dibutuhkan dasar dalam pemilihan penggunaan kriteria keruntuhan yang tepat. Limit Equilibrium Methods (LEM) dan Morgenstren-Price merupakan metode yang digunakan dalam analisis ini. Klasifikasi massa batuan yang digunakan yaitu Rock Mass Rating (RMR) dan dari hasil analisisnya tergolong sedang hingga baik. Hasil perbandingan kriteria keruntuhan Generalized Hoek-Brown dengan maupun tanpa damage region menunjukkan nilai FK yang lebih kecil dibandingkan pada kriteria keruntuhan Mohr-Coulomb. Nilai FK pada Mohr-Coulomb berkisar dari 1,463-1,830 sedangkan nilai FK pada Generalized Hoek-Brown tanpa damage region sebesar 1,024-1,438 nilai FK pada Generalized Hoek-Brown dengan damage region sebesar 1,110-1,875. Hasil nilai Probabilitas Kelongsoran (PK) menunjukkan nilai yang sama yaitu 0%. Nilai FK Generalized Hoek-Brown dengan maupun tanpa damage region yang lebih kecil dibandingkan Mohr-Coulomb dipengaruhi oleh variabel pada litologi seperti struktur dan kondisi bidang diskontinuitas serta nilai disturbance factor (D) sebagai dampak dari aktivitas penggalian dan peledakan yang mereduksi nilai FK sehingga lebih memvisualisasi kondisi aktual di lapangan sedangkan kriteria keruntuhan Mohr-Coloumb tidak dipengaruhi oleh kondisi tersebut dan secara sederhana hanya melibatkan nilai material properties dari batuan itu sendiri. Kata Kunci: Generalized Hoek-Brown, kestabilan lereng, klasifikasi massa batuan, Mohr-Coulomb, Muara Enim Abstract – Determining the appropriate use of failure criteria in slope stability analysis can reduce the inaccuracy of analysis results in obtaining the Safety Factor (SF) value from the slope design created so that a basis is needed for determining the appropriate use of failure criteria. Limit Equilibrium Methods (LEM) and Morgenstren-Price are the methods used in this analysis. The rock mass classification used is Rock Mass Rating (RMR) and the analysis results are classified as moderate to good. The comparasion result of the Generalized Hoek-Brown failure criteria with and without damage region show a smaller SF value compared to the Mohr-Coulomb failure criteria. The SF value on Mohr-Coulomb ranges from 1,463-1,830 while the SF value on Generalized Hoek-Brown without damage region is 1,024-1,438 and the SF value on Generalized Hoek-Brown with damage region is 1,110-1,875. The results of the Probability of Failure (PoF) value show the same value 0%. The SF value of Generalized Hoek-Brown with and without damage ragion is smaller than the Mohr-Coloumb are influenced by variables in lithology such as the structure and condition of discontinuity as well as the disturbance factor (D) value as the impact of excavation and blasting activities which reduces the SF value and it can better visualizes the actual conditions in the field. Meanwhile, the Mohr-Columb failure criteria are not influenced by those conditions and simply involve the value of the material properties of the rock itself. Keywords: Generalized Hoek-Brown, safety factor, rock mass rating, Mohr-Coulomb, Muara Enim
Pengaruh Kehadiran Airtanah Terhadap Kerentanan Gerakan Massa di Daerah Kenalan dan Sekitarnya, Jawa Tengah Siahaan, Boi Haris; Kusumayudha, Sari Bahagiarti; Purwanto, Heru Sigit
Jurnal Ilmiah Geologi PANGEA Vol 11, No 1 (2024): Jurnal Ilmiah Geologi Pangea
Publisher : PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL UPN VETERAN YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/jigp.v11i1.11228

Abstract

Daerah penelitian termasuk dalam wilayah desa Kenalan, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, berada pada koordinat 110o11’05”-110o14’15” BT dan 7o37’45”-7o40’05”LS, morfologi lereng datar hingga curam, sehingga rawan terhadap bencana gerakan massa. Batuan tersusun atas Satuan breksi andesit Kaligesing, Satuan lava andesit Kaligesing, Satuan batugamping Jonggrangan, Satuan endapan koluvium, dan Satuan endapan alluvial. Tujuan penelitian adalah melakukan analisis pengaruh keberadaan airtanah terhadap kejadian gerakan massa, menentukan faktor meamanan lereng yang berpotensi longsor, dan menyusun peta kerentaan gerakan massa di daerah penelitian. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif, kuantitatif, dan survey lapangan.  Analisis kestabilan lereng dilakukan terhadap 6 lereng, dengan hasil 3 lereng stabil, dan 3 lereng labil. Dari zonasi kerentanan gerakan massa, didapatkan 3 zona kerentanan. Zona dengan tingkat kerentanan rendah menempati 30% lokasi penelitian dengan muka airtanah berada pada kedalaman >20, dan terdapat 6 kejadian longsor. Tingkat kerentanan sedang menempati 45% lokasi penelitian dengan muka airtanah berada pada kedalaman 7-25m, dan terdapat 21 kejadian longsor. Tingkat kerentanan tinggi menempati 25% lokasi penelitan dengan kedalaman muka airtanah berada pada kedalaman <7m, dan terdapat 38 kejadian longsor. Muka airtanah berperan besar dalam menurunkan nilai faktor keamanan lereng. Proporsi kejadian longsor banyak terjadi pada daerah dengan muka airtanah rendah/dangkal dan pada sistem akuifer antar butir.
Simulasi Respon Airtanah terhadap Kegiatan Dewatering pada Lokasi Penggalian Stasiun Bawah Tanah MRT A dan B di Kota Jakarta Pusat Absari, Hirundini Rustica; Widodo, Lilik Eko; Sadisun, Imam Achmad
Jurnal Ilmiah Geologi PANGEA Vol 11, No 1 (2024): Jurnal Ilmiah Geologi Pangea
Publisher : PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL UPN VETERAN YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/jigp.v11i1.12703

Abstract

Kegiatan penggalian dan dewatering yang dilakukan di kawasan perkotaan menghadapi tantangan akibat keberadaan airtanah. Airtanah yang tidak dikontrol dapat mengganggu kestabilan bangunan-bangunan bersejarah dan penting yang berada di sekitar lokasi penggalian. Lokasi kegiatan penggalian dan dewatering berada di Kota Jakarta Pusat, Provinsi DKI Jakarta, yang dilakukan untuk konstruksi dua stasiun bawah tanah MRT yang berjarak 800 m. Lokasi ini berada di Cekungan Airtanah Jakarta dengan litologi penyusun berupa endapan kipas aluvium dengan material butir berukuran lempung hingga pasir sendang berumur Kuarter. Kegiatan dewatering dilakukan dengan menggunakan sumur pelepasan tekanan (pressure relief well) sebanyak 46 sumur di Stasiun Bawah Tanah A dan 29 sumur di Stasiun Bawah Tanah B dengan kapasitas 4,15 m³/s per sumur . Simulasi airtanah dilakukan menggunakan Softwater Visual Modflow dengan metode numerik beda hingga berdasarkan beberapa asumsi untuk menyederhanakan pembuatan model airtanah. Pemantauan respon airtanah dilakukan dengan pengamatan terhadap perubahan head dan drawdown selama 1186 hari. Pada lokasi Stasiun Bawah Tanah A, terjadi penurunan head (drawdown) sebesar 3,1 m, sedangkan pada Stasiun Bawah Tanah B terjadi drawdown sebesar 5,5 m. Pengaruh dewatering dapat terlihat hingga jarak 550 m dengan drawdown sebesar 1- 8 cm.