cover
Contact Name
Amran
Contact Email
amran.sejaro@gmail.com
Phone
+6285216499989
Journal Mail Official
amran.sejaro@gmail.com
Editorial Address
Jl. Lapangan Bola No.34i, RT.4/RW.10, Kb. Jeruk, Kec. Kb. Jeruk, Kota Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11450
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
TEMISIEN: Jurnal Teologi, Misi, dan Entrepreneurship
ISSN : 27758842     EISSN : 2775720x     DOI : -
TEMISIEN merupakan jurnal online yang mempublikasi hasil penelitian para dosen, baik di lingkungan Sekolah Tinggi Teologi Injili Indonesia (STTII) Jakarta, maupun institusi lain yang memiliki kajian serupa di bidang Teologi, Misi, dan Entrepreneurship. TEMISIEN dikelola oleh Sekolah Tinggi Teologi Injili Indonesia (STTII) Jakarta, yang terbit dua kali dalam setahun, yakni setiap Maret dan September. TEMISIEN menerima naskah hasil penelitian dari setiap dosen, dengan Focus dan Scope pada bidang: 1. Teologi 2. Misiologi 3. Entrepreneurship Biblikal Naskah yang diserahkan akan diproses dengan menggunakan sistem double-blind review.
Articles 30 Documents
KARAKTERISTIK παραπεσόντας DALAM SURAT IBRANI (STUDI EKSEGESE IBRANI 6:4-6) Heri Lim
TEMISIEN: Jurnal Teologi, Misi, dan Entrepreneurship Vol 2, No 1 (2022): Maret 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injili Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (761.019 KB)

Abstract

This paper attempts to explain the characteristics of παραπεσόντας. The interpretation of Hebrews 6:4-6 is one of the topics in New Testament biblical discussion which deals with the dangers of apostasy. The difficulty faced in this discussion is how to harmonize the description in Heb 6:4–5 with the statements in Heb 6:6 about they who have fallen away and no longer to be restored to repentance. This article is explained by looking at the sentence structure, lexicon, grammar, context, as well as the opinion of the New Testament scholars.Keywords:        Apostasy, Warning, Hebrews, Participle Abstrak: Tulisan ini mencoba menjelaskan karakteristik παραπεσόντας. Penafsiran Ibrani 6:4-6 adalah salah satu topik dalam diskusi Alkitab Perjanjian Baru yang berhubungan dengan bahaya kemurtadan. Kesulitan yang dihadapi dalam pembahasan ini adalah bagaimana menyelaraskan uraian dalam Ibr 6:4–5 dengan pernyataan dalam Ibr 6:6 tentang mereka yang telah murtad dan tidak lagi akan dipulihkan kepada pertobatan. Artikel ini dijelaskan dengan melihat struktur kalimat, leksikon, tata bahasa, konteks, serta pendapat para ahli Perjanjian Baru.. Kata kunci: Kemurtadan, Peringatan, Ibrani, Partisip.
Iman Dan Perbuatan Dalam Teologi Paulus Dan Yakobus: Sebuah Eksegesis Surat Roma 3:28, Efesus 2:8-10 dan Yakobus 2:24 Heri Lim
TEMISIEN: Jurnal Teologi, Misi, dan Entrepreneurship Vol 1, No 2: September 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injili Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (454.068 KB)

Abstract

One of the most heated discussions in Christianity is the discussion about faith and works which are contradictory in the theology of James and Paul. This article has the position that Paul and James are not contradicting one another, even their perspective is important to complete the Christian perspective as a whole when discussing faith and works in the doctrine of salvation. Within the framework of this article, the author will briefly examine the context of these letters, then exegesis some of the passages that become theological debate, and have implications for the lives of believers.
Yesus Kristus sebagai Imam Besar dan Implementasinya Menurut Ibrani 7:24-28 Markus Taihuttu
TEMISIEN: Jurnal Teologi, Misi, dan Entrepreneurship Vol 1, No 1: Maret 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injili Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (450.035 KB)

Abstract

This article is an attempt to prove the authenticity of the priesthood of Jesus Christ as the High Priest, which needs to investigate and explain the concept based on biblical data and facts. A strong reference to the priesthood of Jesus Christ is described in Hebrews 7: 24-28. In the Hebrews it is fully explained about the priesthood of Jesus Christ (Heb 6-9), compared to the rest of the Bible. Jesus Christ fulfilled the criteria as the High Priest even though it belonged to the tribe of Judah. Even his priesthood exceeds all the high priests of the old covenant. This is due to His eternal condition so that His priesthood is eternal as well. As for the Old Testament priests, everything is temporary. All the old high priests of the Old Testament are actually images of the priesthood of Jesus Christ as the true High Priest. AbstrakArtikel ini merupakan upaya pembuktian keabsahan keimamatan Yesus Kristus sebagai Imam Besar Agung, dimana perlu penyelidikan dan penjelasan konsep tersebut berdasarkan data dan fakta Alkitab.  Referensi yang kuat tentang keimamatan Yesus Kristus dijelaskan dalam surat Ibrani 7:24-28.  Dalam surat Ibrani dijelaskan secara lengkap tentang keimamatan Yesus Kristus (Ibr. 6-9), dibandingkan dengan bagian lain di seluruh Alkitab. Yesus Kristus memenuhi kriteria sebagai Imam Besar walaupun berasal dari suku Yehuda.  Bahkan keimamatan-Nya jauh melebihi semua imam besar pada masa perjanjian lama.  Hal ini disebabkan oleh keadaan-Nya yang bersifat kekal sehingga keimamatan-Nya bersifat kekal pula.  Sedangkan para imam Perjanjian Lama, semuanya bersifat sementara.  Semua imam besar perjanjian lama sebenarnya merupakan gamba-ran dari keimamatan Yesus Kristus sebagai Imam Besar yang sesungguhnya. 
Peran Teolog dalam Membangun Humanisasi Peradaban Era Society 5.0 Joni Manumpak Parulian Gultom
TEMISIEN: Jurnal Teologi, Misi, dan Entrepreneurship Vol 2, No 2 (2022): September 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injili Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (359.719 KB)

Abstract

Pasca Revolusi Industry 4.0 telah menunjukkan perkembangan mutakhir dalam seluruh aspek kehidupan manusia. Bersamaan kehadiran Internet of Things dan Artificial Intelligent justru meninggalkan dampak negative kualitas peradaban kemanusiaan normal maupun religius yang tergerus. Komunikasi verbal, komunitas manusia  berbudaya dan kehidupan fisik religious beralih kepada ruang maya, komunikasi virtual dan aplikasi. Namun ada harapan baru dalam era Society 5.0 yang berfokus kepada sinergisitas manusia dan teknologi. Tetapi para teolog dalam Gereja, Sekolah Tinggi Teologi dan institusi lainnya terkesan lambat dan kurang sensitive melakukan suatu terobosan, khususnya berkaitan dengan humanisasi peradaban kekinian. Tujuan penulisan ini menjelaskan peran dan langkah teolog dalam praktek ruang untuk memberi dasar Alkitabiah dalam humanisasi peradaban era society 5.0. Metode penelitian adalah kualitatif deskripstif dengan pendekatan study literature. Konstruksinya adalah teolog berperan dalam; [1] Pengajaran dan praktek Alkitabiah yang fundamental tentang humanisasi peradaban. [2] Antisipasi teori humanisasi peradaban global yang menekan. [3] Pembangunan profetik kepemimpinan humanis generasi digital [4] Pembangunan manusia seutuhnya secara lokal dan global. Kesimpulan bahwa peran dan langkah teolog berpengaruh besar dalam Pengajaran dasar tentang peradaban kemanusiaan Alkitabiah di tengah peradaban baru era society 5.0. Selain itu teolog harus mampu menggunakan ruang hybrid dan mix method dalam metode pelayanan dan kotbah pengajaran secara simultan atau partial. Sarannya adalah komunitas para teolog senior maupun muda secara kontinyu mempresentasikan theology humanisasi dalam seminar dan pelatihan untuk mengantisipasi peradaban dunia yang berubah. Hal paling terpenting adalah para teolog harus sensitive dan menjadi bagian dalam kegerakan humanisasi peradaban khususnya di kalangan generasi milenial
METODE MENTORING PAULUS DALAM PELAYANAN PEMURIDAN MENURUT 2 TIMOTIUS 2:1-13 Frits Octavianus Tatilu; Ana Susanti
TEMISIEN: Jurnal Teologi, Misi, dan Entrepreneurship Vol 2, No 1 (2022): Maret 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injili Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (641.966 KB)

Abstract

Artikel yang berjudul “Metode Mentoring Paulus Dalam Pelayanan Pemuridan Menurut 2 Timotius 2:1-13” ini akan fokus kepada metode dan strategi pelayanan pemuridan Rasul Paulus. Mentoring menjadi salah satu metode terpenting yang dipakai Paulus di dalam memuridkan orang-orang yang dilayaninya. Sehingga kekristenan sangat berkembang dengan pesat ke seluruh dunia. Artikel ini mencoba menggali prinsip-prinsip yang dipakai oleh Rasul Paulus di dalam pola pemuridannya. Prinsip-prinsip ini akan coba diaplikasikan dalam kondisi gereja pada saat ini. Harapannya semakin banyak murid Kristus yang mampu mengubah dunia dengan karakter Injil yang dibagikan melalui hidup mereka dan bermultiplikasi dalam pemuridan.
Pengajaran Pemimpin Gereja Tentang Penyebutan Nama Yahweh Di Indonesia Rinawaty Rinawaty
TEMISIEN: Jurnal Teologi, Misi, dan Entrepreneurship Vol 1, No 2: September 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injili Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (369.627 KB)

Abstract

Teaching about the mention of Yahweh's name in Indonesia became a trending topic that very potential unsettling the Christian doctrinal order, so it needs Biblical theological analysis so that God's people can have a correct understanding and implement it well. It takes a qualified exegesis study to be accepted academically to be used as a reference or grip.Teaching church leaders about the mention of Yahweh's name is instruction or coaching from a spiritual mentor who has faith in Jesus Christ related to the calling, calling the God- respectful person with respect to Jesus Christ (Yahweh) and worshiped as the Savior, consisting of 5 (five) traits, namely: (1) The name YHWH is referred to as sacred in holy Places, (2) The name YHWH is referred to as the accompanying person, (3) The name YHWH is referred to as the god of Israel, (4) The name YHWH is mentioned in of worship, (5) The name YHWH is referred to as life giver.This research is conducted in Indonesia which is divided into three areas, namely: Western Indonesia, Eastern Indonesia and central Indonesia, starting from June 2018 until December 2019. The type of research used is an exportation of surveys and confirmatories. The population includes churches in Indonesia consisting of: Pastor/Shepherd, Assembly / Elders / deacons / head of departments, activist / coapers / volunteers, and the congregation, who assess spiritual leaders in the church. The type of sampling technique used is probability sampling, while the sampling technique utilizes stratified random sampling proposionate. Data collection technique used poll method, with Model Likert scale.The study found there were three hypotheses. The first hypothesis, church leaders tend to have taught maximally the mention of Yahweh’s name (Y) significantly at α0.05. The second hypothesis, the indicator of the name YHWH called Sacred in Holy Places (y1) is the most dominant indicator of forming church leaders ‘ teaching on the mention of Yahweh’s name (Y) significantly at α0.05. The third hypothesis, an indicator of the background category of respondents most dominant form the teaching of the church leaders on the mention of Yahweh’s name (Y) significantly at α0.05.
Studi Analisis 1 Yohanes 5:16-17 mengenai “Dosa yang tidak Mendatangkan Maut” Heri Lim
TEMISIEN: Jurnal Teologi, Misi, dan Entrepreneurship Vol 1, No 1: Maret 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injili Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (426.277 KB)

Abstract

The phrase 1 John 5:16-17 concerning "sin which brings death (ἁμαρτίαν πρὸς θάνατον)" and "does not bring death (ἁμαρτίαν μὴ πρὸς θάνατον)," has caused debate in the teachings of Christianity. The difficulties in this verse are found at least on three levels of debate. The first level is related to literary studies. The second level is related to its interpretation (hermeneutics), namely how to interpret sin that brings death and does not bring death. The third level of difficulty in this verse concerns the theological implications, namely how this verse influences the Christian life. Therefore this article aims to provide a perspective on how to understand the verse by elaborating on literary studies, looking at the options of interpretation that exist and their implications for the life of Christianity. AbstrakFrasa 1 Yohanes 5:16-17 mengenai “dosa yang mendatangkan maut (ἁμαρτίαν πρὸς θάνατον)” dan “tidak mendatangkan maut (ἁμαρτίαν μὴ πρὸς θάνατον),” telah menimbulkan perdebatan dalam ajaran kekristenan. Kesulitan dalam ayat ini ditemukan setidaknya pada tiga tingkat perdebatan. Tingkat pertama adalah terkait dengan kajian sastranya. Tingkat kedua adalah terkait dengan penafsirannya (hermeneutics), yakni bagaimana menafsirkan dosa yang mendatangkan maut dan tidak mendatangkan maut. Tingkat kesulitan ketiga dalam ayat ini menyangkut implikasi teologisnya, yaitu bagaimana pengaruh ayat ini kepada kehidupan kekristenan. Oleh karenanya artikel ini bermakud untuk memberi sudut pandang tentang bagaimana memahami ayat tersebut dengan cara mengelaborasi kajian sastranya, mencermati opsi penafsiran yang ada dan implikasinya bagi kehidupan kekristenan.
Spiritualitas Homo Digitalis: Memperjumpakan Injil dengan Masyarakat Siber di Era Postmodern David Eko Setiawan
TEMISIEN: Jurnal Teologi, Misi, dan Entrepreneurship Vol 2, No 2 (2022): September 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injili Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (877.383 KB)

Abstract

ABSTRAK: Semakin pesatnya perkembangan teknologi digital di abad ini telah memunculkan sosok Homo Digitalis. Ia adalah makhluk yang dikendalikan oleh media, berfungsi sebagai media serta mampu mengadaptasi iklim teknologi digital. Sebagai bagian dari masyarakat siber yang hidup di era postmodern, ia juga perlu berjumpa dengan berita Injil yang menyelamatkan, karena akibat dosa sosok ini pun tak luput dari penghakiman Allah dan kesuraman hidup. Meskipun Homo Digitalis terjebak dalam pusaran teknologi dan postmodernisme, ia tetaplah merupakan Homo Spiritus yang memiliki kerinduan untuk memenuhi kebutuhan spiritualnya, khususnya keselamatan dari penghukuman Allah dan kesuraman hidup. Berdasarkan latar belakang tersebut maka penelitian ini berusaha menjawab masalah berikut; Bagaimanakah memperjumpakan Injil dengan masyarakat siber di era postmodern dengan mempertimbangkan spiritualitas Homo Digitalis? Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk menemukan serta menjelaskan jembatan pewartaan Injil kepada masyarakat siber di era postmodern dengan mempertimbangan spiritualitas homo digitalis. Metode yang digunakan adalah menggunakan library research. Sedangkan hasil yang ditemukan dalam penelitian ini adalah pertama, kerinduan Homo Digitalis untuk selalu terkoneksi dengan yang lain dapat menjadi titik temu untuk memperjumpakannya dengan The Real Connection, yaitu pemulihan hubungan yang intim dengan Allah melalui karya penebusan Tuhan Yesus Kristus. Kedua, ziarah digital sebagai wujud kerinduan Homo Digitalis dalam memenuhi kebutuhan dan aspirasi spiritualnya dapat juga menjadi titik temu untuk memperjumpakan pesan Injil dalam bentuk konten-konten digital yang menarik, interaktif dan inovatif. Ketiga, kecenderungan Homo Digitalis untuk mengaburkan kebenaran perlu diperjumpakan dengan Sang Kebenaran yaitu Yesus Kristus melalui produk-produk digital yang dapat menjadi “magnet” baginya untuk mengenal Kebenaran Sejati.
EVALUASI PENGARUH TEOLOGI KEMAKMURAN DALAM MEMAHAMI DOKTRIN PEMELIHARAAN ALLAH BERDASARKAN SEJARAH UMAT ISRAEL Made Nopen Supriadi; Iman Kristina Halawa; Waharman Waharman
TEMISIEN: Jurnal Teologi, Misi, dan Entrepreneurship Vol 2, No 1 (2022): Maret 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injili Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (337.783 KB)

Abstract

Doktrin pemeliharaan Allah adalah bagian penting dalam pemahaman iman Kristen. Melalui doktrin pemeliharaan Allah manusia mendapatkan sebuah konsep kepastian kehidupan dalam menghadapi penderitaan di dunia. Namun pemahaman tentang doktrin pemeliharaan Allah telah mengalami distorsi oleh teologi kemakmuran. Pengaruh tersebut memberikan sebuah konsep yang mengabaikan realitas penderitaan dalam pemeliharaan Allah. Melalui analisis teologis terhadap sejarah umat Israel telah dihasilkan sebuah konsep tentang realitas pemeliharaan Allah yang penting dalam memahami adanya fakta penderitaan dalam kehidupan manusia sekalipun Allah memelihara.
Konsep Creatio Ex Nihilo Pada Dinding Mural di Kehidupan 4.0 Sang Imago Dei Maria Patricia Tjasmadi
TEMISIEN: Jurnal Teologi, Misi, dan Entrepreneurship Vol 1, No 2: September 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injili Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (726.138 KB)

Abstract

The Latin phrase ex nihilo has the meaning "from nothing". In religious science, this phrase usually appears together with the concept of creation. Therefore, creatio ex nihilo can be interpreted as "creation that emerged from nothing". This concept is important for Christian educators in schools and churches. Through the Self-Development course, it is known that 80% of students are not convinced by the appearance of the picture of their life in the 4.0 era. Therefore, by researching literacy data and the Bible, this concept is expected to be a compass in achieving students' learning goals so that they are able to see the magnitude of God's power and ready to paint it on this digital wall of life. The wall of life that was originally empty must be filled with a picture of a person with the title Imago Dei. A picture that now and in the future will be enjoyed by relatives, students, children, and grandchildren, entrusted by God. Can a picture life displayed on social media becomes an example for the next generation?

Page 2 of 3 | Total Record : 30