cover
Contact Name
Suci Prasita Dewi
Contact Email
suciprasita@ipdn.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalkonstituen@ipdn.ac.id
Editorial Address
Fakultas Perlindungan Masyarakat Kampus IPDN Jatinangor, Jalan Raya Ir. Soekarno Km. 20 Jatinangor, Sumedang Jawa Barat
Location
Kab. sumedang,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Konstituen
ISSN : 26562383     EISSN : 26560925     DOI : https://doi.org/10.33701/jk.v4i2
Core Subject : Education, Social,
Fokus Jurnal Konstituen adalah Dinamika Penyelenggaraan Pemerintahan, Administrasi Kependudukan serta Pelayanan Publik Pencatatan Sipil, Penegakkan Regulasi pada konteks Praktek Perpolisian Pamong Praja dan Manajemen Keamanan dan Keselamatan Publik dalam Kajian Kebencanaan
Articles 103 Documents
Analisis Tren Penelitian Pengurangan Risiko Bencana di Indonesia Agung Nurrahman; Eem Nurnawati
Jurnal Konstituen Vol 7 No 1 (2025): Jurnal Konstituen
Publisher : Institut Pemerintahan Dalam Negeri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33701/jk.v7i1.5267

Abstract

Bencana alam yang terjadi di Indonesia mengalami peningkatan dari tahun 2023 ke tahun 2024. Berdasarkan amanat dari Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 Pasal 35 menyebutkan bahwa salah satu aspek yang dapat dilakukan pada penanggulangan bencana dalam situasi tidak terjadi bencana, adalah adanya aspek/kegiatan pengurangan risiko bencana (disaster risk reduction). Namun, belum banyak publikasi yang mengkaji tren penelitian dengan topik pengurangan risiko bencana di Indonesia. Sementara itu analisis tren penelitian tersebut menjadi penting untuk dilakukan untuk memahami perkembangan penelitian, dan menentukan arah penelitian di masa depan khususnya yang berkaitan dengan topik pengurangan risiko bencana di Indonesia. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis tren penelitian terkait Pengurangan Risiko Bencana (Disaster Risk Reduction) di Indonesia. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan bibliometrik, dan teknik analisis data dibantu menggunakan R studio untuk membuka biblioshiny. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Penelitian tentang pengurangan risiko bencana di Indonesia menunjukkan fluktuasi publikasi, dengan puncak pada tahun 2021, didominasi oleh kata kunci seperti “Indonesia”, “disasters”, dan “disaster risk reductions”, serta kontribusi signifikan dari Universitas Indonesia dan afiliasi internasional. Tren tersebut mencerminkan kolaborasi akademik global dan membuka peluang untuk penelitian lebih lanjut terkait teknologi, partisipasi masyarakat, serta aspek yang kurang dibahas seperti persepsi risiko, tata guna lahan, dan mitigasi bencana di daerah di Pulau Jawa, Sulawesi, dan Papua. Kesimpulannya, melalui visualisasi tren penelitian “pengurangan risiko bencana di Indonesia” menunjukkan berbagai peluang penelitian masa depan yang dapat dilakukan oleh peneliti yang membidangi kebencanaan.   Kata Kunci: Pengurangan Risiko Bencana, Manajemen Bencana, Bibliometrik, Biblioshiny.
PENCAPAIAN TARGET NASIONAL PADA BIDANG ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DI DINAS KEPENDUDUKAN DAN PENCATATAN SIPIL KOTA TIDORE KEPULAUAN Wiwik Roso Sri Rejeki; imelda hutasoit; indramayu
Jurnal Konstituen Vol 7 No 1 (2025): Jurnal Konstituen
Publisher : Institut Pemerintahan Dalam Negeri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33701/jk.v7i1.5389

Abstract

Abstract The Directorate General of Population and Civil Registration of the Ministry of Home Affairs has set performance achievement targets for 2024 for the Population and Civil Registration Offices at the regency/city level, as outlined in the Minister of Home Affairs Decree Number 100.4.6-635 Dukcapil of 2024. Accordingly, the Population and Civil Registration Offices are implementing various efforts and strategies to improve performance targets that are still relatively low, namely electronic ID card (KTP-el) recording (92.24%), Child Identity Card (KIA) ownership (33.32%), and the implementation of Digital Population Identity (IKD) (8.9%). However, these efforts and strategies have not been fully effective due to several obstacles, such as geographical conditions, limited telecommunications infrastructure, budget constraints, and shortages of KTP-el blanks. This research focuses on strategies to enhance the achievement of national targets, aiming to identify and analyze existing obstacles through SWOT analysis. This research is descriptive qualitative, with informants selected using purposive and snowball sampling techniques. Data analysis was conducted using qualitative methods, including organizing and preparing data for analysis, reading all data, coding data, identifying themes, developing interpretations, further analysis using analytical frameworks, and presenting and interpreting the research findings. The results indicate that, based on the SWOT analysis, achieving the performance targets requires extensive socialization efforts through social media platforms such as TikTok, Instagram, Facebook, and others. It is also necessary to establish collaborations with related agencies and user institutions to optimize the utilization of population data and documents. Keywords: Performance Target, SWOT Analysis, Population Documents
COLLABORATIVE GOVERNANCE DALAM PENANGGULANGAN BENCANA BANJIR DI LINGKUNGAN LEBAK KELURAHAN TUKANGKAYU KABUPATEN BANYUWANGI Sulthon Rohmadin; Dea Apsari Pramudana Putri; Yusi Eva Batubara
Jurnal Konstituen Vol 7 No 1 (2025): Jurnal Konstituen
Publisher : Institut Pemerintahan Dalam Negeri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33701/jk.v7i1.5390

Abstract

The Lebak neighborhood is a residential area in Banyuwangi Regency which is always hit by annual floods. The densely populated condition of the area and the lack of public awareness about not throwing rubbish into the river is a challenge in itself. For this reason, collaboration between related parties is needed to run the flood disaster management process well. This research aims to find out, analyze, and describe how Collaborative Governance is implemented between the government, the business world, and community groups in the Lebak Environment, Tukangkayu Village, Banyuwangi District, Banyuwangi Regency in managing flood disasters. This research uses a qualitative descriptive method using primary and secondary data sources. This research relies on data collection techniques through interviews, observation, and documentation to obtain the required data. The research results show that collaboration between the government, the business world, and community groups has been implemented but is not yet optimal, so maximizing the role at the preventive and monitoring stages is necessary. The government still tends to be more dominant than the business world and community groups. This collaborative process resulted in two permanent water pumping machines, river cleaning, a river normalization program, and the implementation of a disaster task force consisting of all stakeholders. In implementing this collaboration, there are several obstacles, such as a lack of public awareness of the importance of not throwing rubbish or waste into the river, difficulty in accessing heavy equipment in the form of excavators to the river, problems with the operation of water pump machines, the conversion of plantation crop commodities in upstream areas, and the very low condition of the Lebak area. Based on the problems faced, efforts are needed to maximize the role of each party involved at each stage of disaster management as well as innovation related to solving the problems being experienced. Keywords: Flood, Collaborative Governance, Disaster Management
Desentralisasi Pelayanan Publik Melalui Representasi UPTD Dukcapil untuk Meningkatkan Aksesibilitas di Wilayah Terpencil Muhammad Helvanza; Suci Prasita Dewi
Jurnal Konstituen Vol 7 No 2 (2025): Jurnal Konstituen
Publisher : Institut Pemerintahan Dalam Negeri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33701/jk.v7i2.5590

Abstract

This study analyzes the implementation of public service decentralization through the representation of the Population and Civil Registration Technical Implementation Unit (UPTD Dukcapil) in improving the accessibility of civil registration services in remote areas. Using a qualitative case study approach at the UPTD Dukcapil of Merlung Subdistrict, Tanjung Jabung Barat Regency, data were collected through interviews, observations, and documentation, and analyzed using Miles and Huberman interactive model. The findings show that the reactivation of the UPTD after the deactivation of the Machine to Machine (M2M) network significantly increased public access to civil registration services, recording 133 services in three operational days, dominated by e-ID card (e-KTP) registrations. Merlung’s strategic location positions it as a service hub for surrounding and neighboring districts. However, challenges persist, including logistical shortages, power outages, and limited local authority due to the unit’s subordination to the regency’s civil registration office. The study concludes that decentralization through UPTD effectively reduces spatial barriers and service disparities but requires stronger resource support, institutional coordination, and a balanced policy between national standardization and local responsiveness.
Kajian Risiko Bencana Kekeringan di Kabupaten Indramayu Dimas Okhy Wiranta; Alpriyanto Situmorang
Jurnal Konstituen Vol 7 No 2 (2025): Jurnal Konstituen
Publisher : Institut Pemerintahan Dalam Negeri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33701/jk.v7i2.5628

Abstract

Perubahan iklim global telah meningkatkan frekuensi dan intensitas kejadian iklim ekstrem, termasuk kekeringan yang berdampak signifikan terhadap sektor pertanian dan ketersediaan air di wilayah pesisir utara Jawa Barat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat bahaya, kerentanan, dan risiko bencana kekeringan di Kabupaten Indramayu, serta memproyeksikan kondisi tahun 2031 berdasarkan model iklim MIROC6 dengan dua skenario, yaitu SSP2-4.5 dan SSP5-8.5. Metode yang digunakan adalah pendekatan deskriptif kuantitatif dengan dukungan analisis spasial berbasis Sistem Informasi Geografis (SIG), yang mengintegrasikan parameter curah hujan, suhu udara, jenis tanah, penggunaan lahan, kelerengan, kepadatan penduduk, kebutuhan air, serta kapasitas adaptasi wilayah. Hasil analisis menunjukkan bahwa pada kondisi proyeksi terjadi pergeseran kelas risiko kekeringan, ditandai dengan berkurangnya wilayah berisiko tinggi dan meningkatnya wilayah berisiko rendah hingga menengah, terutama pada skenario SSP5-8.5. Meskipun demikian, beberapa kecamatan seperti Gantar, Haurgeulis, Sindang, Anjatan, dan Indramayu tetap menjadi hotspot kekeringan akibat tingginya kebutuhan air dan keterbatasan kapasitas adaptasi. Penurunan sensitivitas wilayah dan peningkatan kapasitas adaptasi menunjukkan adanya pengaruh positif dari kebijakan pengelolaan sumber daya air daerah, meskipun masih terjadi ketimpangan antarwilayah. Temuan ini menegaskan perlunya strategi adaptasi yang lebih terarah dan berbasis data, penguatan kapasitas kelembagaan, serta kolaborasi lintas sektor untuk memperkuat ketahanan wilayah terhadap ancaman kekeringan di masa depan.
Collaborative Governance for Waste Management in Maintaining Public Order in Kudus Regency Central Java Province Destia Monika Pramesti; Maris Gunawan Rukmana
Jurnal Konstituen Vol 7 No 2 (2025): Jurnal Konstituen
Publisher : Institut Pemerintahan Dalam Negeri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33701/jk.v7i2.5711

Abstract

Waste management has become a critical issue in Kudus Regency, Central Java, particularly due to the overcapacity at the Tanjungrejo Final Disposal Site (TPA), which negatively impacts public order and environmental quality. This study aims to analyze the implementation of collaborative governance in waste management in Kudus Regency. The analysis is based on the Collaborative Governance Theory by Ansell and Gash, which includes key elements such as starting conditions, institutional design, facilitative leadership, and the collaborative process. Qualitative Descriptive Method Case Study of Governance in Waste Management in Kudus Regency, the private sector (PT. Djarum), and the community through initives such as waste banks and public seducation programs. Additionally, the Penta Helix Theory is employed as a complementary framework, involvingfive key actors: government, academia, business, community, and media. The author conduced an analysis of both theories by identifying the aligment between theoretical elements and empirical confitions in the field usding triangulations techniques. The results show that the implementation of collaborative governance in waste management has not yet been fully effective. This is evidenced by ongoing public protests and widespread illegal dumping. These issues reflect weakness in stakeholder coordinastion and a low level of public awareness regartding the importance of proper waste sorting and sustainable waste management.
KESIAPSIAGAAN DINAS KESEHATAN DALAM PENANGGULANGAN KRISIS KESEHATAN AKIBAT BENCANA ALAM DI KOTA KENDARI PROVINSI SULAWESI TENGGARA Muhammad Ravi Paembonan; Ida Yunari Ristiani; Agus Supriatna
Jurnal Konstituen Vol 7 No 2 (2025): Jurnal Konstituen
Publisher : Institut Pemerintahan Dalam Negeri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33701/jk.v7i2.5723

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kesiapsiagaan Dinas Kesehatan Kota Kendari dalam penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana alam. Pendekatan yang digunakan adalah deskriptif kualitatif, dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara dan studi dokumentasi. Analisis data menggunakan kerangka Six Building Blocks of Health System dari World Health Organization (WHO), dengan fokus pada dimensi sumber daya manusia kesehatan, pelayanan kesehatan, dan pembiayaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesiapsiagaan Dinas Kesehatan Kota Kendari masih belum optimal. Meskipun telah dibentuk tim tanggap darurat seperti Emergency Medical Team (EMT) dan Public Health Rapid Response Team (PHRRT), koordinasi lintas sektor belum berjalan efektif. Selain itu, pelayanan kesehatan darurat masih terbatas dan belum tersedia alokasi anggaran khusus untuk mendukung program kesiapsiagaan, seperti pelatihan, simulasi, dan penguatan sistem peringatan dini. Kesimpulan dari penelitian ini menegaskan perlunya penyusunan SOP yang baku, penguatan koordinasi lintas sektor, peningkatan kapasitas SDM kesehatan, serta pengadaan anggaran khusus dalam penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana alam di Kota Kendari.
Melampaui Penanggulangan Kebakaran: Tantangan dalam Standarisasi Keselamatan Operasional untuk Tanggap Darurat Non-Kebakaran Febyanti Rachman; Arwanto Harimas Ginting
Jurnal Konstituen Vol 7 No 2 (2025): Jurnal Konstituen
Publisher : Institut Pemerintahan Dalam Negeri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33701/jk.v7i2.5749

Abstract

Paradigma layanan darurat global telah meluas mencakup respons bahaya biologis dan evakuasi satwa urban, namun evolusi fungsi tersebut belum diimbangi dengan standar keselamatan yang memadai bagi personel. Ketimpangan protokol keselamatan terlihat nyata pada UPT Dinas Pemadam Kebakaran Kota Malang, di mana tingginya intensitas penyelamatan hewan tidak berbanding lurus dengan ketersediaan pedoman operasional baku, sehingga memicu urgensi analisis risiko berbasis standar NFPA 1500. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif melalui analisis konten terhadap literatur akademis, standar NFPA 1500, serta teori keselamatan David Goetsch dan Frank Bird, tanpa melibatkan observasi lapangan langsung namun berfokus pada sintesis kritis sumber teoretis. Analisis mendalam menyoroti tiga kegagalan sistemik utama, yakni ketidaksesuaian kompetensi tatkala personel terlatih bahaya fisik menghadapi ancaman biologis, penggunaan alat pelindung panas yang memicu kelelahan, serta budaya "kepahlawanan intuitif" yang menormalisasi risiko lantaran absennya protokol tertulis. Fenomena tersebut secara tidak langsung membentuk persepsi publik yang keliru mengenai kapasitas beban kerja pemadam kebakaran yang seolah tanpa batas. Adopsi indikator NFPA 1500 meliputi pelatihan kompetensi dan manajemen risiko lantas menjadi prasyarat mutlak guna mengubah pola penyelamatan dari aksi nekat menjadi operasi profesional yang aman, sekaligus menegaskan batasan tanggung jawab institusi demi menjamin keselamatan personel jangka panjang.
Kerangka Konseptual Penerapan Genetic Algorithm dalam Penguatan Manajemen Risiko Bencana Pergerakan Tanah di Desa Gemulung, Kecamatan Greged, Kabupaten Cirebon Mohammad Rezza Fahlevvi; Ikhbaluddin; Abdurohim; Muhammad Ditra Madyatama
Jurnal Konstituen Vol 8 No 1 (2026): Jurnal Konstituen
Publisher : Institut Pemerintahan Dalam Negeri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33701/jk.v8i1.6153

Abstract

Bencana pergerakan tanah merupakan ancaman serius yang berulang di Desa Gumulung Lebak dan Gumulung Tonggoh, Kecamatan Greged, Kabupaten Cirebon, mengancam permukiman padat dan lahan pertanian produktif. Kapasitas pemerintah desa dalam manajemen risiko bencana masih sangat terbatas, terutama pada aspek identifikasi zona risiko, perencanaan jalur evakuasi, dan alokasi sumber daya darurat. Penelitian ini bertujuan mengusulkan kerangka penerapan Genetic Algorithm (GA) sebagai instrumen optimasi dalam sistem manajemen risiko bencana pergerakan tanah berbasis kapasitas pemerintah desa. Metode penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan analisis konten terhadap literatur akademis, standar BNPB, serta kajian teoritis algoritma genetika. Hasil kajian menunjukkan bahwa GA mampu mengoptimalkan tiga komponen utama yakni pemetaan zona risiko berbasis data geospasial, penentuan jalur evakuasi optimal dengan meminimalkan jarak dan waktu tempuh, serta distribusi sumber daya darurat yang efisien. Model konseptual yang diusulkan mengintegrasikan GA dalam empat tahapan siklus manajemen bencana: mitigasi, kesiapsiagaan, respons, dan pemulihan. Faktor penghambat implementasi meliputi keterbatasan infrastruktur digital di tingkat desa, ketersediaan data geospasial yang akurat, serta kapasitas sumber daya manusia. Penelitian ini merekomendasikan kolaborasi pentahelix antara pemerintah desa, pemerintah kabupaten, perguruan tinggi, sektor swasta, dan masyarakat sebagai prasyarat keberhasilan adopsi teknologi GA dalam tata kelola bencana lokal.
Analisis Kerentanan Ekonomi Petani Akibat Perubahan Iklim di Kabupaten Indramayu: Pendekatan dengan Kerangka DPSIR Dimas Okhy Wiranta; Alpriyanto Situmorang
Jurnal Konstituen Vol 8 No 1 (2026): Jurnal Konstituen
Publisher : Institut Pemerintahan Dalam Negeri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33701/jk.v8i1.6181

Abstract

Perubahan iklim meningkatkan kerentanan sektor pertanian, khususnya pada aspek ekonomi rumah tangga petani. Ketidakpastian musim tanam, keterbatasan air, serta kelemahan tata kelola memperburuk stabilitas produksi dan kesejahteraan petani. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kerentanan ekonomi petani akibat perubahan iklim di Kabupaten Indramayu secara terintegrasi. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan dukungan data kuantitatif. Data dikumpulkan melalui kuesioner, wawancara, observasi, dan studi dokumentasi, dengan melibatkan petani dan pemangku kepentingan terkait. Analisis dilakukan menggunakan kerangka Drivers–Pressures–State–Impact–Response (DPSIR). Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabilitas iklim, dinamika hazard, dan keterbatasan implementasi kebijakan menjadi faktor pendorong utama yang memicu tekanan terhadap sistem pertanian, terutama dalam bentuk keterbatasan air, kerusakan irigasi, dan meningkatnya biaya produksi. Dampaknya adalah meningkatnya kerentanan ekonomi petani yang ditandai oleh ketidakseimbangan antara pendapatan dan pengeluaran serta tingginya ketergantungan terhadap pinjaman yang ditunjukkan oleh sekitar 78% petani bergantung pada pembiayaan eksternal. Temuan ini menegaskan bahwa kerentanan ekonomi petani bersifat sistemik dan memerlukan intervensi kebijakan yang terintegrasi melalui penguatan tata kelola irigasi, kelembagaan, dan praktik pertanian guna meningkatkan ketahanan sistem secara berkelanjutan.

Page 10 of 11 | Total Record : 103